Jumat, 14 September 2007

Re: [psikologi_transformatif] [SELISIK] Berakhlak atau Beragama



saya hanya bisa berkomentar tulisan ini sangat bagus
saya sudah baca buku Kang Jalal, tapi krn sambil lalu saya tidak memahami sedalam ini.
 
kalau menurut saya, terkadang seseorang -katakanlah saya sendri- tidak bisa membedakan antara agama dan pemahaman dia terhadap agama, antara pesan wahyu dan interpretasi dia terhadap wahyu tersebut. seringx seseorang mengabsolutkan sebuah interpretasi sama dgn absolutx sebuah teks suci. Qur`an memang absolut tapi pemahaman terhadapx tetap relatif.  
 
ketika interpretasi yang berbeda2 terhadapt maksud sebuah teks suci, masing2 menggunakan hasil interpretasix untuk menyerang dan kadang mengkafirkan kelompok lain yg memiliki interpretasi berbeda. lebih koyo lagi jika pembelaan terhadap interpretasi tsb dianggap sebagai perjuangan suci, jihad fi sabilillah,menegakkan kebenaran, membela agama Allah, dsb.
 
maka munculah sikap fanatisme kelompok dimana hanay kelompoknyalah yg menjadi pembela kebenaran, ujung1x hanya kelompoknyalah yang berhak masuk surga.
 
Jadi yang perlu disosialisasikan agar beragama tidak jadi bumerang, hendaknya umat diajarkan memilah antara pesan agama dan pemahaman terhadap pesan agama. yg pertama absolut dan sementara yg kedua tetap relatif sampai kapanpun.
 
 

Anwar Holid <wartax@yahoo.com> wrote:
Republika, Minggu, 9 September 2007

[SELISIK]

Berakhlak atau Beragama
-----------------------
---Anwar Holid

Boleh jadi Jalaluddin Rakhmat dan Arvan Pradiansyah belum pernah
tampil berhadap-hadapan, tapi lewat buku masing-masing mereka
ternyata bisa berbagi topik serupa. Secara kebetulan buku tersebut
terbit berdekatan menjelang bulan Ramadhan. Dua penulis ini jelas
berbeda karakter. Yang pertama dikenal luas sebagai cendekiawan
Muslim cum pakar komunikasi; yang kedua dikenal sebagai pembicara
publik dan fasilitator pengembangan SDM. Persamaannya mereka berdua
pandai berkomunikasi dan sukses menulis buku-buku yang mempengaruhi
massa karena terbukti bestseller.

Topik yang mereka bagi bersama itu ialah keprihatinan menyaksikan
fenomena orang beragama ternyata banyak juga yang berwatak buruk.
Jalaluddin mengangkat semangat topik ini dalam buku yang ia juduli
Dahulukan Akhlak di Atas Fiqih (Mizan, 2007). Sementara dalam
Cherish Every Moment (Elexmedia, 2007) Arvan mengusung topik itu
sebagai bab yang menantang: "Orang Beragama atau Orang Baik?"

Topik ini terasa klise namun setiap kali dibahas selalu menimbulkan
kontroversi, terlebih-lebih bila mengingat kita merupakan bangsa
dengan jumlah warga negara beragama terbesar di dunia. Di negara
yang dipenuhi orang beragama ini alangkah janggal justru terjadi
tindakan pelanggaran HAM, ketidakadilan, kerusuhan massal,
penindasan struktural, kemiskinan moral, maupun tindakan-tindakan
antikemanusiaan. Apa arti hukum agama bila gagal mencegah pemeluknya
dari perbuatan yang merugikan sesama manusia? Ada banyak kasus
membuktikan orang beragama ternyata jahat dan tega merendah-
rendahkan atau menyerang orang lain dengan membabi buta. Menurut
Jalaluddin, itu terjadi karena orang lebih mendahulukan fiqih (tata
cara hukum) daripada akhlak; sedangkan menurut Arvan salah satu
sebabnya karena orang gagal memahami esensi agama. Orang seperti itu
mudah mengatasnamakan keyakinan agama atau dogma, padahal dirinya
sama sekali tak tercelup oleh inti ajaran agama tersebut. Orang
seperti itu jadi fanatik; toleransinya pada pihak lain nol. Mereka
mengutamakan hukum di atas segala-galanya sampai rela menyerang
pihak lain yang berbeda. Mereka menganggap kesalehan itu diukur dari
kesetiaan terhadap fiqih. Menurut Arvan, kenapa orang beragama gagal
jadi orang baik karena orang tersebut menganggap agama merupakan
seperangkat peraturan yang membatasi, mengikat, menyusahkan, hitam-
putih. Di atas berbagai kepentingan, Nabi Muhammad
menyatakan: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak."
Hadis riwayat Al-Thabrani menyatakan: sesungguhnya seorang hamba
mencapai derajat tinggi di hari akhirat dan kedudukan yang mulia
karena akhlaknya yang baik, walaupun ia lemah beribadah.

Bukan semata-mata menjelang Ramadhan maka kedua buku tersebut lantas
jadi menarik untuk diperbincangkan; keduanya mengingatkan kita tanpa
akhlak yang baik terhadap sesama manusia dan alam, kehidupan
beragama jadi sejenis omong kosong tentang Tuhan. Robert T. Pirsig
di buku legendarisnya, Zen and the Art of Motorcycle Maintenance,
menyatakan: Orang bisa secara fanatik membaktikan hidupnya pada
politik atau keyakinan agama atau segala bentuk dogma maupun tujuan
lain karena dogma atau tujuan tersebut meragukan.

Tentu penulis dari dua generasi berbeda cukup jauh ini juga bukan
hendak mengampanyekan pendapat bahwa beragama itu sia-sia atau
mengikuti fiqih itu nihil; melainkan para pemeluk agama harus
mencamkan dalam dirinya ada sesuatu yang lebih luhur daripada
sekadar formalitas atau rutinitas agama. Karena senantiasa
menjanjikan hal yang paling luhur, paling mulia, agama mendidik
pemeluknya menemukan hakikat ajaran. Jalaluddin menyarankan agar
kaum Muslim mengubah cara pandang dari berparadigma fiqih lama-
kelamaan jadi berparadigma akhlak. Sedangkan Arvan dengan ungkapan
lain membidik maksud serupa, yaitu agar orang menemukan esensi
agama, yaitu "kasih." Mengasihi orang lain merupakan kunci agar
orang lain bisa dikatakan telah beriman (Cherish, hal. 149).
Jalaluddin menarik banyak ibadah ujung-ujungnya merupakan latihan
membentuk akhlak, baik shalat, puasa, zakat, dan haji. Shalat sudah
jelas mestinya dapat mencegah kekejian dan kemungkaran. Puasa
merupakan latihan agar orang bertakwa; orang bertakwa ialah orang
yang menginfakkan harta dalam suka dan duka, mampu menahan amarah,
memaafkan orang lain, dan berbuat baik.

Menarik membaca dua pendapat saling menguatkan tentang pentingnya
berakhlak baik dan berlomba-lomba memberi manfaat bagi kehidupan.
Orang pertama secara eksplisit memanfaatkan teks-teks khazanah
Islam, orang kedua lebih implisit menggunakan pendekatan berdasar
prinsip spiritualitas-universal, demi menjalani hidup agar indah
setiap saat. Manfaatnya sama: bila konsisten dipraktikkan, kedua
cara itu mampu mengubah orang jadi tahu betapa berharga kehidupan
dan ia akan menjaga agar kehadirannya penuh makna. Arvan
mengampanyekan agar setiap saat orang bisa sama-sama menghargai
semua momen dalam kehidupan. Ini merupakan ajakan ambisius, apalagi
bila mengingat betapa orang dikejar-kejar waktu, mengalami peristiwa
buruk, dan kerap menjalani sesuatu secara terpaksa. Kuncinya orang
harus menghargai dan menemukan sendiri keindahan dalam kehidupan
tersebut. Jalaluddin menyebut empat ciri utama orang yang
menganut 'paradigma akhlak', yaitu (1) ia mengakui adanya kebenaran
jamak (multiple reality); (2) ia bisa ikhlas meninggalkan fiqih demi
persaudaraan; (3) melihat ikhtilaf sebagai peluang untuk memberikan
kemudahan menjalankan agama; (4) mengukur kemuliaan seseorang dari
akhlaknya (Dahulukan…, hal. 62).

Mumpung Ramadhan, pertama-tama saya mengajak diri sendiri, mari
menghargai waktu yang persis kita miliki sekarang dan memenuhinya
dengan kemuliaan.[]

NB: Awalnya kolom ini berjudul 'Berbagi Topik Serupa.' Karena
pertimbangan biar lebih tegas dan sesuai maksud, saya ubah jadi
seperti di atas.



Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.


Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news, photos more.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Quick file sharing

Send up to 1GB of

files in an IM.

HDTV Support

The official Samsung

Y! Group for HDTVs

and devices.

Beauty & Fashion

on Yahoo! Groups

Share style tips

and advice.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Mereka pikir mereka tahu apa yang baik untuk manusia--VCL

Hmm...menarik. Tak kalah menarik adalah mengetahui apa kata Kompatiologi
tentang "tanggung jawab"? Apa kaitan antara "tanggung jawab" dan konsep
Kompatiologi tentang "belief system"? Mohon pencerahan, Vincent.

manneke

Quoting x69xx96x <x69xx96x@yahoo.com>:

> Hidup yang tidak ilusi adalah hidup dengan masih berkaitan dengan
> tanggungjawab atas hal-hal yang ada di kehidupan sehari-hari di
> sekitar kita. Entah itu keluarga, kelompok atau negara, entah agama,
> ideology atau suatu sudutpandang aliran tertentu. Tidak masalah mana
> yang paling benar tetapi kita bertanggungjawab pada apa yang kita hadapi.
>
> Entah jargonnya kebebasan, melampaui sesuatu, kenal dengan tuhan, dlsb
> kalau tidak berkaitan dengan tanggungjawab tsb di atas atau malah
> sengaja melepaskan diri dari tanggungjawab tsb maka sebutan yang cocok
> tentang apapun namanya yang mereka muliakan dan tinggikan adalah satu:
> ILUSI atau IMAJINASI.
>
> Jadi tidak sekedar ber-ILUSI atau ber-IMAJINASI itu sifatnya
> individual karena tiap orang bisa membuat jargon keidealannya
> masing-masing tetapi apakah dirinya bertanggungjawab?! Itu urusan
> pribadi masing-masing.
>
>
> Ttd,
> x69xx96x <x69xx96x@yahoo.com>
>
>
>
> email sebelumnya...
> http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/30827
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "lusimayangsari"
> <lusimayangsari@...> wrote:
> >
> > Pak Hudoyo Yth,
> > Teorinya mungkin mudah ya pak, kalau saya tidak memiliki hubungan
> > secara psikologis dengan segala sesuatu dan bisa lepas dari masa
> > lampau, saya mungkin bisa berada dalam kondisi tidak menerima dan
> > tidak menolak.
> > Masalahnya kan saya ini terotorisasi oleh pengalaman hidup hingga
> > saya akan menerima atau menolak sesuai dengan pengetahuan yang saya
> > miliki, walau saya tau bahwa apapun pendapat saya sesungguhnya itu
> > bukan pendapat saya melainkan hanya kesimpulan atau cuplikan dari
> > sana sini atas seluruh pengetahuan saya.
> > Tapi, bila saya melepaskan seluruh otoritas sebagaimana K bilang,
> > bukahkah itu berarti saya terotorisasi oleh K?
> >
> > salam,
> > lusi
> >
> >
> > --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, Hudoyo Hupudio
> > <hudoyo@> wrote:
> > >
> > > MEREKA PIKIR MEREKA TAHU APA YANG BAIK UNTUK MANUSIA
> > >
> > > Tampaknya seluruh dunia bertekad untuk membelenggu batin manusia.
> > Kita telah menciptakan dunia psikologis hubungan, dunia di mana kita
> > hidup, dan pada gilirannya dunia itu mengendalikan kita, membentuk
> > pikiran kita, kegiatan kita, keberadaan psikologis kita. Anda akan
> > mendapati bahwa setiap organisasi politik dan agama memburu batin
> > manusia--memburu dalam arti ingin menangkapnya, membentuknya menurut
> > suatu pola tertentu. Pihak yang berkuasa di dunia komunis terang-
> > terangan mengkondisikan batin manusia ke setiap arah, dan ini juga
> > berlaku dalam hal agama-agama terorganisir di seluruh dunia, yang
> > selama berabad-abad telah mencoba mencetak pikiran manusia. Setiap
> > kelompok khusus, entah religius, sekuler, atau politis, berjuang
> > untuk menarik dan mengikat manusia di dalam pola yang buku-bukunya,
> > para pemimpinnya, segelintir orang yang berkuasa mengira baik
> > baginya. Mereka mengira mereka tahu akan masa depan; mereka mengira
> > mereka tahu apa kebaikan tertinggi bagi manusia. Para pendeta, dengan
> > apa yang dinamakan otoritas religius mereka, sebagaimana kekuasaan-
> > kekuasaan duniawi--entah di Roma, di Moskow, di Amerika, atau di lain
> > tempat--semuanya mencoba mengendalikan proses berpikir manusia--
> > bukan? Dan kebanyakan dari kita menerima dengan bersemangat sejenis
> > otoritas tertentu dan mematuhinya. Sangat sedikit orang yang
> > melepaskan diri dari cengkeraman pengendalian secara terorganisir
> > terhadap manusia dan pikirannya ini.
> > >
> > > The Collected Works, Vol. X - 98
> > > Dari: JKrishnamurti.org - Daily Quote
> > >
> > > HUDOYO:
> > >
> > > Orang yang pertama kali menyadari hal ini masih mudah tergelincir
> > pada pola berpikir yang sebaliknya, yakni MENOLAK semua otoritas,
> > yang tidak lain adalah keterbelengguan sebaliknya, keterbelengguan
> > negatif! Sadarkah teman-teman peminat Krishnamurti? Jadi,
> > bagaimanakah "tidak menerima dan tidak menolak" itu?
> > >
> > > ==================================================
> > > Untuk mendapatkan posting-posting selanjutnya, silakan menulis ke:
> > > <mailto:meditasi-mengenal-diri-subscribe%40yahoogroups.com>meditasi-
> > mengenal-diri-subscribe@yahoogroups.com
> > > ==================================================
> > >
> >
>
>
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
SPONSORED LINKS
Y! Messenger

Files to share?

Send up to 1GB of

files in an IM.

Endurance Zone

on Yahoo! Groups

Communities about

higher endurance.

HDTV Support

The official Samsung

Y! Group for HDTVs

and devices.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Bagi yang membutuhkan bahan2 mengenai Kompatiologi...

Bagi yang membutuhkan bahan2 mengenai Kompatiologi silahkan kirim
email ke vincentliong@yahoo.co.nz untuk minta bahan2 mengenai
Kompatiologi.

Bahan2 tsb berupa file2 akan dikirim ke email anda paling lambat 2x24 jam.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Group get-together

Host a free online

conference on IM.

Yahoo! Groups HD

The official Samsung

Y! Group for HDTVs

and devices.

Dog Fanatics

on Yahoo! Groups

Find people who are

crazy about dogs.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: KRISHNAMURTI (070913): Mereka pikir mereka tahu apa yang baik untuk manusia

Hidup yang tidak ilusi adalah hidup dengan masih berkaitan dengan
tanggungjawab atas hal-hal yang ada di kehidupan sehari-hari di
sekitar kita. Entah itu keluarga, kelompok atau negara, entah agama,
ideology atau suatu sudutpandang aliran tertentu. Tidak masalah mana
yang paling benar tetapi kita bertanggungjawab pada apa yang kita hadapi.

Entah jargonnya kebebasan, melampaui sesuatu, kenal dengan tuhan, dlsb
kalau tidak berkaitan dengan tanggungjawab tsb di atas atau malah
sengaja melepaskan diri dari tanggungjawab tsb maka sebutan yang cocok
tentang apapun namanya yang mereka muliakan dan tinggikan adalah satu:
ILUSI atau IMAJINASI.

Jadi tidak sekedar ber-ILUSI atau ber-IMAJINASI itu sifatnya
individual karena tiap orang bisa membuat jargon keidealannya
masing-masing tetapi apakah dirinya bertanggungjawab?! Itu urusan
pribadi masing-masing.

Ttd,
x69xx96x <x69xx96x@yahoo.com>

email sebelumnya...
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/30827
--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "lusimayangsari"
<lusimayangsari@...> wrote:
>
> Pak Hudoyo Yth,
> Teorinya mungkin mudah ya pak, kalau saya tidak memiliki hubungan
> secara psikologis dengan segala sesuatu dan bisa lepas dari masa
> lampau, saya mungkin bisa berada dalam kondisi tidak menerima dan
> tidak menolak.
> Masalahnya kan saya ini terotorisasi oleh pengalaman hidup hingga
> saya akan menerima atau menolak sesuai dengan pengetahuan yang saya
> miliki, walau saya tau bahwa apapun pendapat saya sesungguhnya itu
> bukan pendapat saya melainkan hanya kesimpulan atau cuplikan dari
> sana sini atas seluruh pengetahuan saya.
> Tapi, bila saya melepaskan seluruh otoritas sebagaimana K bilang,
> bukahkah itu berarti saya terotorisasi oleh K?
>
> salam,
> lusi
>
>
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, Hudoyo Hupudio
> <hudoyo@> wrote:
> >
> > MEREKA PIKIR MEREKA TAHU APA YANG BAIK UNTUK MANUSIA
> >
> > Tampaknya seluruh dunia bertekad untuk membelenggu batin manusia.
> Kita telah menciptakan dunia psikologis hubungan, dunia di mana kita
> hidup, dan pada gilirannya dunia itu mengendalikan kita, membentuk
> pikiran kita, kegiatan kita, keberadaan psikologis kita. Anda akan
> mendapati bahwa setiap organisasi politik dan agama memburu batin
> manusia--memburu dalam arti ingin menangkapnya, membentuknya menurut
> suatu pola tertentu. Pihak yang berkuasa di dunia komunis terang-
> terangan mengkondisikan batin manusia ke setiap arah, dan ini juga
> berlaku dalam hal agama-agama terorganisir di seluruh dunia, yang
> selama berabad-abad telah mencoba mencetak pikiran manusia. Setiap
> kelompok khusus, entah religius, sekuler, atau politis, berjuang
> untuk menarik dan mengikat manusia di dalam pola yang buku-bukunya,
> para pemimpinnya, segelintir orang yang berkuasa mengira baik
> baginya. Mereka mengira mereka tahu akan masa depan; mereka mengira
> mereka tahu apa kebaikan tertinggi bagi manusia. Para pendeta, dengan
> apa yang dinamakan otoritas religius mereka, sebagaimana kekuasaan-
> kekuasaan duniawi--entah di Roma, di Moskow, di Amerika, atau di lain
> tempat--semuanya mencoba mengendalikan proses berpikir manusia--
> bukan? Dan kebanyakan dari kita menerima dengan bersemangat sejenis
> otoritas tertentu dan mematuhinya. Sangat sedikit orang yang
> melepaskan diri dari cengkeraman pengendalian secara terorganisir
> terhadap manusia dan pikirannya ini.
> >
> > The Collected Works, Vol. X - 98
> > Dari: JKrishnamurti.org - Daily Quote
> >
> > HUDOYO:
> >
> > Orang yang pertama kali menyadari hal ini masih mudah tergelincir
> pada pola berpikir yang sebaliknya, yakni MENOLAK semua otoritas,
> yang tidak lain adalah keterbelengguan sebaliknya, keterbelengguan
> negatif! Sadarkah teman-teman peminat Krishnamurti? Jadi,
> bagaimanakah "tidak menerima dan tidak menolak" itu?
> >
> > ==================================================
> > Untuk mendapatkan posting-posting selanjutnya, silakan menulis ke:
> > <mailto:meditasi-mengenal-diri-subscribe%40yahoogroups.com>meditasi-
> mengenal-diri-subscribe@yahoogroups.com
> > ==================================================
> >
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Instant hello

Chat in real-time

with your friends.

Best of Y! Groups

Discover groups

that are the best

of their class.

Yahoo! Groups

Health & Fitness

Find and share

weight loss tips.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Audifax dan Leo itu lulusan terbaik Kompatiologi ( dan Salam Kenal)

Usaha untuk saling menghancurkan antara dua pribadi tidak layak
disandingkan dengan judul `transformatif'. Audifax memang banyak
membuat tema yang berjudul atau menggunakan kata "melampaui":

* Permainan bernama "Hidup"
"jauh melampaui jamannya"
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/30737
* Resensi: "Semiotika Tuhan"di Kompas
" Setidaknya, Tuhan adalah suatu daya (energi) yang mahakuat sampai
melampaui batas keterbatasan manusia."
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/30735
* SKIZOANALISIS: MEMBACA ULANG [melampaui] MODERNISME
"skizoanalisis justru mengenali batasan-batasan bukan untuk berhenti
melainkan untuk melampauinya."
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/30492
* Melampaui, Mentransformasi
"Aku mengajarkan kepada kalian mengenai manusia-manusia atas. Manusia
adalah sesuatu yang seharusnya dilampaui"
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/30115
* PERANG, KEMATIAN DAN PARA KSATRIA
"manusia selalu dapat untuk tetap tegak, menantang para dewa, bahkan
melampaui Sang Nasib"
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/26604
* Tuhan (Fana) Yang Berdarah Daging
"dan manusia yang menatap melampaui manusianya"
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/23609
* Ksatria Penjelajah Waktu
"Manusia yang menatap melampaui manusianya yang sejatinya fana."
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/22882
* TRANSFORMASI (PENGETAHUAN) DIRI
"Mengenali diri kita, berarti juga berdisiplin atas diri kita sendiri,
menaklukkan diri kita, mampu melampaui diri kita, dan tak terjebak
hanya soal kenyamanan hidup, sex dan kekuasaan."
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/22462

Melampaui di sini menjadi suatu imajinasi baru tentang suatu berhala
yang lebih tinggi. Tetapi apakaha yang bisa dibanggakan ketika dua
orang gladiator harus "melampaui" dengan saling membunuh teori, lalu
saling mengacau keluarga, lalu saling menyantet, dlsb tsb… Bagi saya
membahas ini semua sebagai stau keindahan adalah onani bagi yang tidak
menjalani hidup saja.

Ini tidak ada hubunganya dengan postmoderen, the author is dead, or
not, dlsb… Sebab ini hanya sekedar dua binatang yang membunuh, dimulai
seekor Audifax yang melampaui merasa harus melampaui semuanya
sendirian. Untuk melampaui harus ada tema yaitu memberantas Vincent
Liong hingga habis. Lalu ketika Vincent Liong sudah habis atau sudah
tidak bisa dibuat ulah lagi maka melampaui ini menjadi kehilangan
arti, bentuk bahkan keberadaannya sendiri karena ini semua ada bukan
karena suatu contain yang berbentuk seperti misalnya cinta ideology,
cinta keluarga, cinta negara, dlsb melainkan ego untuk melampaui
musuhnya yang harus terus diada-adakan.

Psikologi_Transformatif akan hidup selama Vincent Liong belum mati.
Setelah Vincent Liong mati atau tidak bisa dibunuh lagi maka semangat
Psikologi_Transformatif juga mati begitu saja.

Suatu transformasi, melampaui, dlsb yang ada bentuknya at least ada
sesuatu yang diperjuangkan, dibela, dicintai, dilindungi… Bukan
sekedar seperti masuk ke sebuah konser dan berteriak-teriak
melampiaskan emosi tanpa tujuan yang ditinggikan dengan nama yang
indah-indah. Bumi tidak hidup oleh seseorang yang sekedar
berteriak-teriak tanpa tujuan.

Ttd,
x69xx96x <x69xx96x@yahoo.com>

Email sebelumnya...
e-link:
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/30873
"ayodolan" <ayodolan@...> wrote:

Salam Kenal Mas2 dan Mba2,
Saya baru di sini. Semoga berkenan dan mohon restunya.

Untuk perkenalan ijinkan saya mencantumkan postingan pertama saya di
sini. Maafkan kalau jadinya tampak seperti 'ngrusuhi'. Ini milis
memang transformatif. Saya baru liat-liat sedikit sudah merasa
bertransformasi (walau saya tak tahu pasti apa artinya itu..). Paling
tidak, sekarang saya jadi semakin yakin kalau Barthes itu salah waktu
dia menyimpulkan bahwa kita sekarang hidup di dunia di mana 'The
Author Is Dead'. Melihat begitu sepenuh hatinya argumentasi2 yang
saling melayang antara Vincent dan Audifax, saya jadi yakin kalau
sebenarnya 'The Author' is not really dead. Dying, perhaps, but
certainly not dead.

Saya jadi teringat Derrida dan Searle, kalo melihat apa yang terjadi
di sini antara Vincent dan Audifax: bukan isi perdebatannya, tapi
tingkat kegetolannya dalam mempertahankan argumentasi masing-masing.
Sungguh, The Author is not Dead! Coz, somebody got hurt there, and
isn't hurt, or pain, a sign of life?

Saya jadi mikir: kalau 'the Author Is Not Dead', kenapa ada saja
pribadi-pribadi yang bilang dan bahkan percaya banget kalau 'the
Author Is Dead' (seperti Barthes dan sedikit Kristeva dan kaum
postmodern/poststructural/post-post- yang lain pada umumnya)? Apa ada
semacam gejala 'scizophrenia' di sini? Mungkin.

Mungkin mereka bilang "the Author Is Dead" sebagai semacam proklamasi
kemerdekaan. Kemerdekaan dari apa? Ya..ngga tahu juga saya. Mungkin
kemerdekaan dari sesuatu yang selama itu membuat mereka merasa tidak
merdeka, tidak bebas. Proklamasi the Death of the Author menandai
mulainya sebuah pesta, sebuah perayaan, yang di dalamnya menyusul
pula seruan-seruan seperti the Death of the Signified, the Death of
the Meaning, dan akhirnya the Death of Man. Sebuah perayaan kebebasan
dari kebebasan, hari jadi tekstualitas, intertekstualitas, writing,
signifiers-signifiers, dst, dll, dsb... (you are free to name it for
more and more!)

Tapi...gimana ya, manusia itu ya manusia, walau mau dibilang apa, dan
walau manusia itu sendiri mau bilang apa tentang dirinya sendiri.
Sakit hati ya tetep sakit hati dan ya tetap sakit rasanya. Waktu
Searle bilang sama Derrida 'lu ngaco', ya sakitlah hati Derrida
sehingga dia bales bilang ama si Searle 'lu yang salah baca tulisan
gua' dan sampai segitu sajalah makna 'the Author Is Dead' buat
Derrida (The Author is Dead, but not Derrida!!)

Buat saya sendiri, apa yang terjadi antara Vincent dan Audifax
(sejauh yang saya tahu lewat milis ini) memberi saya pencerahan
tentang sejauh apa keabsahan beberapa prinsip postmodernisme.
Postmodernism is not that post- enough.

Salut untuk Vincent dan Audifax karena mereka pribadi-pribadi yang
jelas, tegas, dan berada tanpa tedeng aling-aling. 'Perseteruan' yang
ada sekarang, bagi saya, adalah sebuah komunikasi yang manusiawi,
sebuah perjalanan yang seru dan adventurous menuju kebenaran di sana.
Sip! Top! Dan, sekali lagi, salut!!

Salam Kenal dan Damai untuk Semua

Ivan.

NB: ijinkan saya mencantumkan imannuelivan.blogdrive.com untuk semua
yang mau kenal lebih jauh dengan saya.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

All together now

Host a free online

conference on IM.

Real Food Group

Share recipes,

restaurant ratings

and favorite meals.

Yahoo! Groups

Endurance Zone

b/c every athlete

needs an edge.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Audifax dan Leo itu lulusan terbaik Kompatiologi ( dan Salam Kenal)

Usaha untuk saling menghancurkan antara dua pribadi tidak layak
disandingkan dengan judul `transformatif'. Audifax memang banyak
membuat tema yang berjudul atau menggunakan kata "melampaui":

* Permainan bernama "Hidup"
"jauh melampaui jamannya"
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/30737
* Resensi: "Semiotika Tuhan"di Kompas
" Setidaknya, Tuhan adalah suatu daya (energi) yang mahakuat sampai
melampaui batas keterbatasan manusia."
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/30735
* SKIZOANALISIS: MEMBACA ULANG [melampaui] MODERNISME
"skizoanalisis justru mengenali batasan-batasan bukan untuk berhenti
melainkan untuk melampauinya."
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/30492
* Melampaui, Mentransformasi
"Aku mengajarkan kepada kalian mengenai manusia-manusia atas. Manusia
adalah sesuatu yang seharusnya dilampaui"
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/30115
* PERANG, KEMATIAN DAN PARA KSATRIA
"manusia selalu dapat untuk tetap tegak, menantang para dewa, bahkan
melampaui Sang Nasib"
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/26604
* Tuhan (Fana) Yang Berdarah Daging
"dan manusia yang menatap melampaui manusianya"
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/23609
* Ksatria Penjelajah Waktu
"Manusia yang menatap melampaui manusianya yang sejatinya fana."
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/22882
* TRANSFORMASI (PENGETAHUAN) DIRI
"Mengenali diri kita, berarti juga berdisiplin atas diri kita sendiri,
menaklukkan diri kita, mampu melampaui diri kita, dan tak terjebak
hanya soal kenyamanan hidup, sex dan kekuasaan."
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/22462

Melampaui di sini menjadi suatu imajinasi baru tentang suatu berhala
yang lebih tinggi. Tetapi apakaha yang bisa dibanggakan ketika dua
orang gladiator harus "melampaui" dengan saling membunuh teori, lalu
saling mengacau keluarga, lalu saling menyantet, dlsb tsb… Bagi saya
membahas ini semua sebagai stau keindahan adalah onani bagi yang tidak
menjalani hidup saja.

Ini tidak ada hubunganya dengan postmoderen, the author is dead, or
not, dlsb… Sebab ini hanya sekedar dua binatang yang membunuh, dimulai
seekor Audifax yang melampaui merasa harus melampaui semuanya
sendirian. Untuk melampaui harus ada tema yaitu memberantas Vincent
Liong hingga habis. Lalu ketika Vincent Liong sudah habis atau sudah
tidak bisa dibuat ulah lagi maka melampaui ini menjadi kehilangan
arti, bentuk bahkan keberadaannya sendiri karena ini semua ada bukan
karena suatu contain yang berbentuk seperti misalnya cinta ideology,
cinta keluarga, cinta negara, dlsb melainkan ego untuk melampaui
musuhnya yang harus terus diada-adakan.

Psikologi_Transformatif akan hidup selama Vincent Liong belum mati.
Setelah Vincent Liong mati atau tidak bisa dibunuh lagi maka semangat
Psikologi_Transformatif juga mati begitu saja.

Suatu transformasi, melampaui, dlsb yang ada bentuknya at least ada
sesuatu yang diperjuangkan, dibela, dicintai, dilindungi… Bukan
sekedar seperti masuk ke sebuah konser dan berteriak-teriak
melampiaskan emosi tanpa tujuan yang ditinggikan dengan nama yang
indah-indah. Bumi tidak hidup oleh seseorang yang sekedar
berteriak-teriak tanpa tujuan.

Ttd,
x69xx96x <x69xx96x@yahoo.com>

Email sebelumnya...
e-link:
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/30873
"ayodolan" <ayodolan@...> wrote:

Salam Kenal Mas2 dan Mba2,
Saya baru di sini. Semoga berkenan dan mohon restunya.

Untuk perkenalan ijinkan saya mencantumkan postingan pertama saya di
sini. Maafkan kalau jadinya tampak seperti 'ngrusuhi'. Ini milis
memang transformatif. Saya baru liat-liat sedikit sudah merasa
bertransformasi (walau saya tak tahu pasti apa artinya itu..). Paling
tidak, sekarang saya jadi semakin yakin kalau Barthes itu salah waktu
dia menyimpulkan bahwa kita sekarang hidup di dunia di mana 'The
Author Is Dead'. Melihat begitu sepenuh hatinya argumentasi2 yang
saling melayang antara Vincent dan Audifax, saya jadi yakin kalau
sebenarnya 'The Author' is not really dead. Dying, perhaps, but
certainly not dead.

Saya jadi teringat Derrida dan Searle, kalo melihat apa yang terjadi
di sini antara Vincent dan Audifax: bukan isi perdebatannya, tapi
tingkat kegetolannya dalam mempertahankan argumentasi masing-masing.
Sungguh, The Author is not Dead! Coz, somebody got hurt there, and
isn't hurt, or pain, a sign of life?

Saya jadi mikir: kalau 'the Author Is Not Dead', kenapa ada saja
pribadi-pribadi yang bilang dan bahkan percaya banget kalau 'the
Author Is Dead' (seperti Barthes dan sedikit Kristeva dan kaum
postmodern/poststructural/post-post- yang lain pada umumnya)? Apa ada
semacam gejala 'scizophrenia' di sini? Mungkin.

Mungkin mereka bilang "the Author Is Dead" sebagai semacam proklamasi
kemerdekaan. Kemerdekaan dari apa? Ya..ngga tahu juga saya. Mungkin
kemerdekaan dari sesuatu yang selama itu membuat mereka merasa tidak
merdeka, tidak bebas. Proklamasi the Death of the Author menandai
mulainya sebuah pesta, sebuah perayaan, yang di dalamnya menyusul
pula seruan-seruan seperti the Death of the Signified, the Death of
the Meaning, dan akhirnya the Death of Man. Sebuah perayaan kebebasan
dari kebebasan, hari jadi tekstualitas, intertekstualitas, writing,
signifiers-signifiers, dst, dll, dsb... (you are free to name it for
more and more!)

Tapi...gimana ya, manusia itu ya manusia, walau mau dibilang apa, dan
walau manusia itu sendiri mau bilang apa tentang dirinya sendiri.
Sakit hati ya tetep sakit hati dan ya tetap sakit rasanya. Waktu
Searle bilang sama Derrida 'lu ngaco', ya sakitlah hati Derrida
sehingga dia bales bilang ama si Searle 'lu yang salah baca tulisan
gua' dan sampai segitu sajalah makna 'the Author Is Dead' buat
Derrida (The Author is Dead, but not Derrida!!)

Buat saya sendiri, apa yang terjadi antara Vincent dan Audifax
(sejauh yang saya tahu lewat milis ini) memberi saya pencerahan
tentang sejauh apa keabsahan beberapa prinsip postmodernisme.
Postmodernism is not that post- enough.

Salut untuk Vincent dan Audifax karena mereka pribadi-pribadi yang
jelas, tegas, dan berada tanpa tedeng aling-aling. 'Perseteruan' yang
ada sekarang, bagi saya, adalah sebuah komunikasi yang manusiawi,
sebuah perjalanan yang seru dan adventurous menuju kebenaran di sana.
Sip! Top! Dan, sekali lagi, salut!!

Salam Kenal dan Damai untuk Semua

Ivan.

NB: ijinkan saya mencantumkan imannuelivan.blogdrive.com untuk semua
yang mau kenal lebih jauh dengan saya.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
SPONSORED LINKS
Official Samsung

Yahoo! Group for

supporting your

HDTVs and devices.

Y! Messenger

Instant hello

Chat over IM with

group members.

Yahoo! Groups

Real Food Group

Share recipes

and favorite meals.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Audifax dan Leo itu lulusan terbaik Kompatiologi -- ayodolan

Tergantung apa makna "author" dalam benak Anda. Kaum posmois, termasuk Barthes,
bisa jadi punya bayangan berbeda di benak mereka ketika bicara tentang matinya
sang "author" daripada yang ada dalam bayangan Anda.

Kedua, juga tergantung bagaimana Anda memaknai statement "the author is dead"
atau frasa "the death of the author." Jangan-jangan para posmois itu
memaksudkan ungkapan itu sebagai metafora. Bisa jadi, artinya adalah
bahwa "author" tak lagi punya kuasa atas tulisan yang dihasilkannya setelah
dilepas ke publik. Publik pembaca bisa memaknainya semau-maunya, seperti yang
sekarng kita sedang lakukan dengan memaknai "author" dan "the death of the
author" dengan semau kita?

Salam kenal...

manneke

Quoting ayodolan <ayodolan@yahoo.com>:

> Salam Kenal Mas2 dan Mba2,
> Saya baru di sini. Semoga berkenan dan mohon restunya.
>
> Untuk perkenalan ijinkan saya mencantumkan postingan pertama saya di
> sini. Maafkan kalau jadinya tampak seperti 'ngrusuhi'. Ini milis
> memang transformatif. Saya baru liat-liat sedikit sudah merasa
> bertransformasi (walau saya tak tahu pasti apa artinya itu..). Paling
> tidak, sekarang saya jadi semakin yakin kalau Barthes itu salah waktu
> dia menyimpulkan bahwa kita sekarang hidup di dunia di mana 'The
> Author Is Dead'. Melihat begitu sepenuh hatinya argumentasi2 yang
> saling melayang antara Vincent dan Audifax, saya jadi yakin kalau
> sebenarnya 'The Author' is not really dead. Dying, perhaps, but
> certainly not dead.
>
> Saya jadi teringat Derrida dan Searle, kalo melihat apa yang terjadi
> di sini antara Vincent dan Audifax: bukan isi perdebatannya, tapi
> tingkat kegetolannya dalam mempertahankan argumentasi masing-masing.
> Sungguh, The Author is not Dead! Coz, somebody got hurt there, and
> isn't hurt, or pain, a sign of life?
>
> Saya jadi mikir: kalau 'the Author Is Not Dead', kenapa ada saja
> pribadi-pribadi yang bilang dan bahkan percaya banget kalau 'the
> Author Is Dead' (seperti Barthes dan sedikit Kristeva dan kaum
> postmodern/poststructural/post-post- yang lain pada umumnya)? Apa ada
> semacam gejala 'scizophrenia' di sini? Mungkin.
>
> Mungkin mereka bilang "the Author Is Dead" sebagai semacam proklamasi
> kemerdekaan. Kemerdekaan dari apa? Ya..ngga tahu juga saya. Mungkin
> kemerdekaan dari sesuatu yang selama itu membuat mereka merasa tidak
> merdeka, tidak bebas. Proklamasi the Death of the Author menandai
> mulainya sebuah pesta, sebuah perayaan, yang di dalamnya menyusul
> pula seruan-seruan seperti the Death of the Signified, the Death of
> the Meaning, dan akhirnya the Death of Man. Sebuah perayaan kebebasan
> dari kebebasan, hari jadi tekstualitas, intertekstualitas, writing,
> signifiers-signifiers, dst, dll, dsb... (you are free to name it for
> more and more!)
>
> Tapi...gimana ya, manusia itu ya manusia, walau mau dibilang apa, dan
> walau manusia itu sendiri mau bilang apa tentang dirinya sendiri.
> Sakit hati ya tetep sakit hati dan ya tetap sakit rasanya. Waktu
> Searle bilang sama Derrida 'lu ngaco', ya sakitlah hati Derrida
> sehingga dia bales bilang ama si Searle 'lu yang salah baca tulisan
> gua' dan sampai segitu sajalah makna 'the Author Is Dead' buat
> Derrida (The Author is Dead, but not Derrida!!)
>
> Buat saya sendiri, apa yang terjadi antara Vincent dan Audifax
> (sejauh yang saya tahu lewat milis ini) memberi saya pencerahan
> tentang sejauh apa keabsahan beberapa prinsip postmodernisme.
> Postmodernism is not that post- enough.
>
> Salut untuk Vincent dan Audifax karena mereka pribadi-pribadi yang
> jelas, tegas, dan berada tanpa tedeng aling-aling. 'Perseteruan' yang
> ada sekarang, bagi saya, adalah sebuah komunikasi yang manusiawi,
> sebuah perjalanan yang seru dan adventurous menuju kebenaran di sana.
> Sip! Top! Dan, sekali lagi, salut!!
>
> Salam Kenal dan Damai untuk Semua
>
> Ivan.
>
> NB: ijinkan saya mencantumkan imannuelivan.blogdrive.com untuk semua
> yang mau kenal lebih jauh dengan saya.
>
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "nalaratih"
> <nalaratih@...> wrote:
> >
> > Nala ikut....
> > Nala ikut.....
> > jadi pengembira aja tapi...karena suka semyum
> >
> > smile with me forever
> > nala
> >
> >
> > --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "lusimayangsari"
> > <lusimayangsari@> wrote:
> > >
> > > Hayoo siapa lagi yang mo ngipasin?
> > > Ayooo.. ada lagi yang mo nyemplung dikubangan nafsu?
> > > Ayoooo.. Siapa lagi yang ngerasa paling benar?
> > > Ada lagi? ayo mas, ayo mbak, dikipasin biar tambah panas..
> > >
> > >
> > > --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "tan" <tancnen@>
> > > wrote:
> > > >
> > > > Vincent, menurut saya Audifax dan Leo itu lulusan terbaik
> > > > Kompatiologi, mereka berhasil dgn baik meng-copy paste ilmu
> > kamu,
> > > yg
> > > > gak pake moral dan etika itu dan yg bisa di-customize sesuai
> > > > kepentingan dari pemakainya. Nah sekarang ilmu itu dipakai
> untuk
> > > > hadapin kamu. Coba deh, kalo gak percaya, bandingkan tulisan2
> > > mereka
> > > > sebelum dan sesudah didekon.
> > > >
> > > > Bagi saya "Penghianatan" mereka sekedar memenuhi keinginan kamu
> > > > sendiri. Kamu ingat gak, pernah menghimbau murid2 kamu untuk
> > > > meghianati kamu, yg kamu sampaikan di milis ini sekitar 1 thn
> yg
> > > > lalu. Pada saat itu Mang Iyus merespon dengan tulisan "Kill And
> > > > Destroy Kim Il Sen !"
> > > >
> > http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/8994
> > > > tulisan yg terasa dibuat2. Sekarang ada 2 murid anda yg menulis
> > dgn
> > > > tajam, kamu kelabakkan sendiri. Seharusnya kamu itu bangga sama
> > > > mereka, mereka mampu menyerap ilmu kamu dgn sempurna. Dari ilmu
> > > > menjelek2an ilmu orang lain sampai ilmu muka badak hati beku
> > alias
> > > > ilmu si Raja Tega, biar uda tinggal 2 x 2 minggu dirumah plus
> > uang
> > > > saku dari ngajar kompatiologi masih tega juga berhianat.
> > > >
> > > > Nah sekarang rasain deh lo, ini namanya senjata makan tuan...
> > > >
> > > > Akhir kata semoga kamu bisa belajar dari kejadian ini. Nasehat
> > > saya,
> > > > bubarin Kompatiologi sebelum semakin banyak menelurkan orang2
> > yg
> > > > mempunyai hati SI RAJA TEGA!
> > > >
> > > > salam,
> > > > tan
> > >
> >
>
>
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
SPONSORED LINKS
Y! Messenger

Instant hello

Chat over IM with

group members.

Endurance Zone

A Yahoo! Group

Learn how to

increase endurance.

Official Samsung

Yahoo! Group for

supporting your

HDTVs and devices.

.

__,_._,___