Kamis, 27 September 2007

[psikologi_transformatif] Re: Dialog Jung - Philemon

Dear Friends,

Sebelum saya jawab pertanyaan Mas Harez, perkenankanlah saya
mengucapkan A LOT OF THANKS to MBAK SWASTINIKA yang pernah gave me a
chance to clarify my thoughts about INTUITION AND INSTINCT sometime
ago. Well, she gave me a chance even though, I believe, she didn't
even realize that she was part of a whole bunch of SYNCHRONICITY
taking place at that time and continuing until now. So much for that.

Now, for Jung's sop-called HIGHER SPIRIT called Philemon, I don't
have any other explanation or excuses to hold my personal view any
other than refering to many other people living in the past and even
today who CLAIM to have had SUCH SPIRITS. They claim that the
SPIRITS living in their own CONSCIOUSNESS as separate, clearly
identifiable in matters such as personality, vocabulary, and even
MOOD and other traits common to "fill" a living person.

Itu banyak, bahkan di Indonesia banyak yang klaim bahwa ada ROH
LELUHUR, JIN, atau bahkan MALAIKAI yang hidup di dalam dirinya,
memberikan BIMBINGAN dengan SUARA2 yang jelas dan berbeda dengan
yang dimiliki orang orang itu sendiri. Terkadang, si "Higher Self"
itu cuma muncul ketika orangnya sedang "Trance", terkadang bisa juga
muncul dalam keadaan Kontemplatif, terkadang bisa muncul anytime
tanpa ada aneh2. Banyak variasinya dan, nampaknya, yang cukup umum
adalah KLAIM bahwa yang ada di "dalam" diri itu adalah suatu
kepribadian yang berbeda dan, biasanya, memiliki KEARIFAN LEBIH
TINGGI dan KEKUATAN ROHANI LEBIH BESAR daripada yang dimiliki oleh
orang itu. Hmmm.... itu menurut yang aku amati.

So, to STATE IT POSITIVELY bahwa itu adalah bagian dari diri, dan
selayaknya disebut sebagai HIGHER SELF mungkin juga merupakan
suatu "klaim" yang masih perlu dibuktikan pula. So what ? Tapi
jangan aku yang buktiin deh, aku kan praktisi, dan bisanya cuma
bantu orang dengan memakai TERMINOLOGI yang as neutral as possible.
Biasanya aku lihat2 juga kok, kalo orangnya bisa menerima, aku
memakai istilah "Higher Self" tapi, kalo orangnya agak kental budaya
spesifiknya, aku akan pakai term yang diterima di budayanya itu.
Namun, lucunya, di Indonesia sekarang banyak juga orang yang
budayanya mixed (seperti aku juga). Jadi, mereka terkadang gak pasti
harus merujuk ITU sebagai apa. Sebagai JIN, sebagai SPIRIT, sebagai
HIGHER SELF, atau MALAIKAT ?

Teyus gimanah ? Teyus yang PRACTICAL AJA deh. Yang paling suka
istilah mana ? As long as the person is COMFORTABLE with a specific
term, I'll use it for THAT PERSON. And that person only.

Begini neh, cara pandang seorang praktisi. Abis gimana lageeh ?

Yours,
Leo

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "swastinika"
<swastinika@...> wrote:
>
>
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "sinagahp"
> <sinagahp@> wrote:
>
> Swas, jangan cuma duduk-duduk manis dong ah .... ha...ha...ha...
>
> Yee.. si Abang (kan gak mau dipanggil Pakde ;)), kunci jawabannya
udah
> dikeluarkan oleh Bang Harez, saya mau jawab apa lagi dong ;)?
>
> Anyway.. dulu saya juga sempat ragu, bener gak sih Philemon itu
> "spirit"? Jangan2 itu bagian dari diri sendiri (higher self?
conscience?
> atau apa?). Atau malah mungkin lebih parah lagi: jangan2 Jung
> berhalusinasi seperti John Nash
>
> Yang jadi patokan saya persis sama dengan yang sudah dikutip oleh
Bang
> Harez (maaf, saya nggak bawa bukunya ke kantor, jadi nggak ingat
edisi
> tahun berapa yang saya punya dan halaman berapa. Tapi yang saya
ingat
> tentang paragrafnya adalah seperti yang dikutip SHP):
>
> Philemon and other figures of my fantasies brought home to me the
> crucial insight that there are things in the psyche which I do not
> produce, but which produce themselves and have their own life.
Philemon
> represented a force which was not myself. In my fantasies I held
> conversations with him, and he said things which I had not
consciously
> thought. For I observed clearly that it was he who spoke, not
I. . .
> .Psychologically, Philemon represented superior insight. He was a
> mysterious figure to me. At times he seemed to me quite real, as if
> hewere a living personality. I went walking up and down the garden
with
> him, and to me he was what the Indians call a guru
>
> (versi online kutipannya ada di:
> http://www.psychoheresy-aware.org/jungleg.html
> <http://www.psychoheresy-aware.org/jungleg.html> )
>
> Yang saya tangkap adalah: Philemon itu mungkin sekali merupakan
fantasi
> Jung, tapi.. ia adalah fantasi dari sesuatu nyata yang tidak dapat
> benar2 dilihat oleh Jung. Jung benar2 punya "teman diskusi", yang
tidak
> bisa dia jelaskan, tapi bisa dia fantasikan. Fantasi ini yang
kemudian
> dinamakan Philemon, walaupun mungkin aslinya namanya bukan
Philemon :)
>
> Sebagai muslim saya percaya bahwa alam ruh itu terbagi 3, yaitu
> malaikat, ruh (manusia & hewan), serta jin. Dan seperti yang
disebutkan
> dalam Al Jinn (surat ke 72 dalam Al Quran), jin ini tidak identik
dengan
> setan. Jin ini seperti manusia saja layaknya; ada yang sholeh dan
ada
> yang tidak sholeh. Yang tidak sholeh itu yang (seperti juga setan)
> menggoda manusia. Tapi.. jin yang sholeh bisa saja "berteman"
dengan
> manusia to some degree, karena pada hakikatnya manusia bisa saja
> berkomunikasi dengan jin.
>
> Yang terbayang oleh saja: selalu ada kemungkinan bahwa Jung
sebenarnya
> punya "teman diskusi" seorang jin. Sebagai entitas yang berbeda,
sangat
> mungkin sekali jin ini mengajukan pertanyaan2 pada Jung yang
menajamkan
> teorinya. Pertanyaan2 yang tidak pernah terpikir atau tidak mungkin
> diproduksi oleh Jung sendiri. Namun.. sebagai seorang akademisi,
> pemikir yang hebat, mungkin susah juga bagi dirinya untuk
menterjemahkan
> "siapa" temannya. Oleh sebab itulah, walaupun he honestly said that
> Philemon is a force which was not himself, he referred to his
discussion
> with Philemon as "in my fantasies I held discussion.."
>
> Kenapa jin, bukan higher self? Well, menurut saya Jung cukup pintar
> untuk membedakan mana yang asalnya dari dia sendiri, dan mana yang
> bukan. Jadi saya positif thinking aja deh: kalau Jung bilang not
> himself, ya saya percaya.. hehehe.. Toh memang ada kemungkinan
lain dan
> masih bisa dijelaskan sebagai jin :)
>
> Dan terus terang.. saya agak khawatir akan kesehatan jiwa Jung
jika dia
> tidak bisa mengenali higher self-nya sendiri ;)
>
> Salam,
>
>
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "sinagahp"
> <sinagahp@> wrote:
> >
> > Mas Leo,
> >
> > Menurut anda adakah kemungkinan bahwa dialog yang DIANGGAP
terjadi
> > antara diri dengan "higher self" atau dengan roh yang berbeda di
dalam
> > diri itu sebenarnya dialog antara diri sendiri dengan sesuatu
> "entitas"
> > yang sebenarnya terpisah tetapi selalu berada (menempel) dekat-
dekat
> > (atau bahkan sangat dekat) dengan seseorang.
> >
> > Maksud saya, itu sesuatu yang sebenarnya sesuatu yang "berbeda",
jadi
> > "roh" lain bisa dipisahkan tetapi tidak menyebabkan kematian (roh
> sejati
> > manusia ybs tetap melekat dengan tubuh fisiknya). Dalam tradisi
> > keagamaan maupun budaya, kan ada tuh prosedur-prosedur pengusiran
> > roh-roh jahat dalam diri seseorang. Bahkan ada prosedur
memindahkan
> "roh
> > jahat" tersebut ke binatang misalnya (Babi di Alkitab, atau
kambing di
> > Bekasi).
> >
> > Mungkinkah yang mas anggap sebagai "higher self" itu adalah "roh
lain"
> > bukan "roh manusia ybs itu sendiri?
> >
> > salam,
> > harez
> >
> >
> >
> > --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "leonardo_rimba"
> > leonardo_rimba@ wrote:
> > >
> > > Dear Mas Harez and Other Friends,
> > >
> > > Memang Carl Gustav Jung itu seorang akademisi yang VERY HONEST.
> > > Menurut aku, si PHILEMON itu adalah HIGHER SELF darinya,
walaupun ia
> > > tidak mengatakannya sebagai "Higher Self". Apakah higher self
bisa
> > > diajak komunikasi ? Bisa aja, dan BANYAK YANG MENGALAMINYA.
Lalu,
> > > apakah "Higher Self" itu bisa "berwujud" macam-macam di dalam
Psyche
> > > orang yang "memilikinya", ya BISA SAJA.
> > >
> > > Banyak yang seperti itu mas,... bahkan banyak sekali ORANG
INDONESIA
> > > yang mengaku memiliki ROH BERBEDA yang berada di dalam
KESADARANNYA,
> > > dan bisa diajak BERKOMUNIKASI.
> > >
> > > So, apa bedanya dengan Mbah CG Jung ? Podo wae kan ? ---Saya
> sendiri,
> > > berbeda dengan kebanyakan orang, cenderung untuk melihat ROH DI
> DALAM
> > > PSYCHE seperti yang dinamakan Philemon oleh Mbah Jung itu
sebagai
> > > ARCHETYPE. Ho ho ho,,, archetype kan istilah yang dibuat oleh
Jung
> > > sendiri, tapi kok aku jadi gemar pake istilah itu. Hmm,..
mungkin
> > > Jung sendiri tidak realized bahwa konsep Archetype itu LUAR
BIASA
> > > KEGUNAANNYA. Archetype itu SUMBER ENERGI. Archetype itu
INDEPENDEN.
> > > Archetype itu seperti PETA JIWA yang menuntun manusianya untuk
> > > menapaki JALAN SPIRITUALITAS, BERTRANSFORMASI, menjadi MANUSIA
YANG
> > > LEBIH MANUSIAWI. That's the end and GOAL OF TRANSFORMATION.
> > >
> > > Semoga bisa nangkep what I mean yah, nulisnya cepet neh, gak
pake
> > > mikir, spontan aja,... jebret2, sepuluh jari en, I hope, nyang
> muncul
> > > itu INTUISI juga. Kalo bener kan OK tuh, langcung dayi alam
bawah
> > > saday, dibawa keluay seeyyyy seeeyyyy seeyyyyyy
> > >
> > > Yours,
> > > Leo
> > >
> > >
> > > --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "sinagahp"
> > > sinagahp@ wrote:
> > > >
> > > > Mas Leo,
> > > >
> > > > Pertama, saya ingin mengatakan bahwa saya sangat menghargai
> > > keterbukaan
> > > > anda dalam mengemukakan apa yang ada pada diri anda.
> > > >
> > > > Kedua, perkembangan dan perjalanan spiritual dan keimanan
bagi
> > > > sayabagaikan sebuah "misteri". Ada orang Islam, yang kemudian
> > > > menjadiKristen. Ada orang Kristen, yang kemudian menjadi
mualaf
> > > (Islam).
> > > > Adaorang Islam, yang kemudian menjadi Budha (pak Hudoyo kalau
> tidak
> > > > salah termasuk kategori yang ini). Ada yang Budha, kemudian
> menjadi
> > > > Islam.Ada Kristen yang menjadi Budha (Richard Gere kalau
tidak
> salah
> > > > termasuk kategori yang ini), dan sebaliknya. Seakan-akan
> > > > mengisyaratkan"panggilan" Sang Khalik berbeda dari seseorang
> dengan
> > > > orang yang lain. Fakta-fakta itulah yang menyebabkan saya
> menganggap
> > > > bahwa perkembangan dan perjalanan spiritual dan keimanan
bagaikan
> > > sebuah
> > > > "misteri".
> > > >
> > > > Ketiga, saya rasa memang kita (Mas Leo, saya, maupun rekan-
rekan
> > > yang
> > > > lain), tidak harus selalu sama. Pada satu hal mungkin kita
> > > sependapat,
> > > > pada lain hal mungkin berbeda atau bahkan bertentangan. Bagi
saya,
> > > > perbedaan tidak menjadi soal. Keberbedaan terkadang bisa
menjadi
> > > > kekuatan/kelebihan tersendiri. Yang tampaknya diperlukan
adalah
> > > kemauan
> > > > dan kemampuan untuk bisa saling menghargai perbedaan-
perbedaan
> yang
> > > ada.
> > > >
> > > > Saya sering merasa trenyuh, kalau ada orang menuding orang
lain
> > > > "berdosa, kotor, ... dsb", terus ujungnya mengatakan "anda
tidak
> > > akan
> > > > masuk surga, pasti tempatnya dineraka ...". Jangankan antar
umat
> > > > beragama, antar umat seagama pun hal itu cukup sering
terjadi.
> Yang
> > > satu
> > > > menuding dan menghakimi yang lain, dan kemudian mengambil
posisi
> > > > (he...he...he..., jangan ueneggg ya [;)] ) atau peran sebagai
> > > Tuhan,
> > > > menentukan siapa yang masuk "surga", siapa yang
masuk "neraka".
> > > > He...he...he... :)
> > > >
> > > > Saya merasa ketiga butir itu perlu saya kemukakan terlebih
dahulu,
> > > > sebelum kita melanjutkan diskusi kita tentang Jung dan
Philemon.
> > > > Mudah-mudahan apa yang saya kemukakan pada ketiga butir
tersebut,
> > > dapat
> > > > lebih menunjang pemahaman terhadap dasar-dasar pemikiran dan
> > > pendapat
> > > > saya.
> > > >
> > > > Baik Mas, saya rasa sudah cukup penjelasan saya. Mari kita
> lanjutkan
> > > > diskusi tentang Jung dan Philemon.
> > > >
> > > > leo:
> > > > > Menurut aku "Philemon" itu the Higher Spirit dari Carl
Gustav
> > > Jung.
> > > > > Satu sosok yang barangkali pernah muncul dalam KESADARAN
> > > > > (CONSCIOUSNESS) Jung di kala muda dan, konon, pernah
dilukiskan
> > > oleh
> > > > > Jung sendiri sebagai satu sosok orang tua yang bersayap.
Saya
> > > pernah
> > > > > melihat foto lukisannya itu. Jung sendiri yang membuatnya.
Di
> situ
> > > > > dilukiskan seorang tua yang berwajah tirus, berjenggot,
> berjubah,
> > > > > dan bersayap lengkap dengan bulu2 persis seperti gambar
malaikat
> > > > > dengan sayap ala burung garuda pancasila itu. Archaic ?
Well,
> yes,
> > > > > mao dibilang apa lagi. Gambaran yang muncul di mimpinya
Jung itu
> > > > > memang archaic dan rasanya dia ingin melukiskan sedapat
mungkin.
> > > > >
> > > > > So, what shall we deduce from that ? Deduksinya adalah
bahwa
> > > memang
> > > > > semua orang bermimpi. Bahkan Carl Gustav Jung itu
bermimpi, dan
> > > > > bahwa mimpi2 itu memang memiliki SIMBOL2, dan simbol2 itu
> > > bentuknya
> > > > > tidak seperti benda2 luxurious yang dipajang di mall2,
tetapi
> > > > > bentuknya ANTIK, UNIK, dan MENARIK. Kalau harus muncul
malaikat,
> > > ya
> > > > > muncullah. Dan kalau kemudian "malaikat" itu dinamakan si
> Philemon
> > > > > oleh orang yang memperoleh mimpi itu, so jadilah.
> > > >
> > > > harez:
> > > > Wah... anda benar-benar pengagum Jung rupanya. Pemahaman saya
> > > terhadap
> > > > Philemon agak berbeda dengan anda. Pada halaman depan situs
> yayasan
> > > > Philemon
> > > > ( http://www.philemonfoundation.org/index_flash.html ),
antara
> lain
> > > > dikutip perkataan Jung sebagai berikut:
> > > >
> > > > "Philemonand other figures of my fantasies brought home to
me the
> > > > crucialinsight that there are things in the psyche which i
do not
> > > > produce, butwhich produce themselves and have their own
life."
> > > >
> > > > Pada buku Memories, Dreams, Reflections (terjemahan Inggris
tahun
> > > 1963 -
> > > > Pantheon), pada halaman 183 antara lain Jung mengatakan:
> > > >
> > > > Philemonand other figures of my fantasies brought home to me
the
> > > > crucialinsight that there are things in the psyche which I
do not
> > > > produce,but which produce themselves and have their own life.
> > > > Philemonrepresented a force which was not myself. In my
fantasies
> I
> > > > heldconversations with him, and he said things which I had
not
> > > > consciouslythought. For I observed clearly that it was he who
> > > spoke, not
> > > > I. . . .Psychologically, Philemon represented superior
insight. He
> > > was
> > > > amysterious figure to me. At times he seemed to me quite
real, as
> if
> > > > hewere a living personality. I went walking up and down the
garden
> > > > withhim, and to me he was what the Indians call a guru.
> > > >
> > > > Dari perkataan tersebut, ada dua hal yang saya perhatikan,
yakni
> > > > perkataan "which i do not produce" dan pernyataan "and to me
he
> > > waswhat
> > > > the Indians call a guru". Dari kedua pernyataan tersebut,
secara
> > > > sepintas, saya mengintepretasikan bahwa Philemon jelas bukan
> fantasi
> > > > (karena tidak dibawah kontrol Jung), dan juga bukan "higher
self "
> > > di
> > > > dalam dirinya, melainkan sesuatu "di luar dirinya". Apakah
yang
> > > disebut
> > > > "guru" di kalangan orang India adalah sesuatu yang berada di
dalam
> > > diri?
> > > > Dalam pemahaman awam saya, guru adalah entitas yang berada
di luar
> > > diri
> > > > seseorang. :)
> > > >
> > > > Apakah memang benar demikian? Mohon penjelasan (kalau tidak
salah
> > > anda
> > > > kurang suka dengan istilah pencerahan), khususnya yang
berkaitan
> > > tentang
> > > > konsep guru caittya (Paramatman) dan kerabatnya. Apakah
memang
> tipe
> > > guru
> > > > demikian yang dimaksud oleh Jung ?
> > > >
> > > > Apakah guru yang demikian dapat diperoleh dengan proses
imajinasi
> > > aktif
> > > > (active imagination) Pertanyaan ini saya ajukan, karena saya
> pernah
> > > > membaca bahwa imajinasi aktifnya Jung bukanlah hipnosis,
> kontemplasi
> > > > maupun meditasi.
> > > >
> > > > Mohon penjelasan Mas. Terima kasih sebelumnya.
> > > >
> > > > salam,
> > > > harez
> > > >
> > > > NB:
> > > >
> > > > * Pembahasan uraian lainnya (Kabalah, dll), nanti ya Mas,
supaya
> > > > postingannya tidak panjang-panjang.
> > > > * Masukan dan partisipasi dari Swastinika maupun rekan-rekan
> > > yang
> > > > lain tentunya sangat diharapkan. Siapa tahu versi bukunya
lebih
> > > baru.
> > > > Swas, jangan cuma duduk-duduk manis dong ah ....
ha...ha...ha...
> > > [:p]
> > > >
> > >
> >
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Group get-together

Host a free online

conference on IM.

Yahoo! Groups

Your one stop

for beauty & fashion

tips and advice.

Endurance Zone

A Yahoo! Group

Learn how to

increase endurance.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Seven-of-Nine (was Re: Foto Nala)--thanks swastinika


Waah.. Pak Manneke Trekies juga? Hehehe..

Saya sudah nonton ST Voyager sampai tamat, beli box set-nya sampai final
season. Kebetulan dari semua serinya Star Trek, ST Voyager yang saya
paling suka. "Girls rule" banget.. hehehe.. Posisi "kunci" dipegang
perempuan semua: Captain Janeway, Chief Engineer B'Elanna Torres, sampai
Seven-of-Nine yang unofficial advisor :). Oops.. bukan gender issue,
tapi mungkin memang jadi "beda" penanganan dan penyelesaian konfliknya
dibandingkan seri yang lain.

Terakhir2 memang banyak episode lucu yang melibatkan The Doctor dan
Seven-of-Nine. Udah nonton sampai mana, Pak?

Salam,

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, pradita@... wrote:
>
> Wooo, iya, Swastinika betul. Rupanya ada yang lebih fanatik Star Tretk
daripada
> saya :)) Memang kalo yang pake TWO itu adalah R2D2 di Star Wars ya.
Tengkyu
> buat koreksinya. Btw, sudah liat belum episode yang ada si dokter
hologram
> masuk ke dalam badan seven-of-nine? Kocak banget deh.
>
> manneke

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Instant smiles

Share photos while

you IM friends.

Cat Fanatics

on Yahoo! Groups

Find people who are

crazy about cats.

Yahoo! Groups

Real Food Group

Share recipes

and favorite meals.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Surat Keberatan Media Watch > Kesannya terlalu "sensi" nih ... :)

Lho? Komentar saya itu juga ditujukan untuk mengetahui reaksi Anda.
Kesimpulannya sama: Ternyata begitu ya reaksinya ... :) [;)]

Wah, Ratna berutang budi kepada Anda dong. Eh, yang bikin saya makin gak abis
pikir, ngakunya "tergolong penghormat perempuan" tapi kok bisa punya pikiran
seperti yang tertuang dalam isu Pro XL ini ya?

Ah, mestinya saya tak usah bingung. Kan cuma mau mancing reaksi orang. Bisa
berguna ya buat riset psikologi? Semoga.

manneke

Quoting sinagahp <sinagahp@yahoo.com>:

> Ha...ha...ha.... :)
>
> Wah ... memang benar kalau anda ini ..... sejati :)
>
> Mohon maaf apabila ada kata-kata yang tidak berkenan.
>
> Komentar saya itu memang ditujukan untuk mengetahui bagaimana reaksi
> anda dan rekan-rekan. Ternyata begitu ya reaksinya .... :) [;)]
>
> Sejatinya, saya merasa saya tergolong penghormat perempuan. Boleh
> ditanya di psikologi ui, siapa yang mengkader dan mendukung Ratna jadi
> ketua senat mahasiswa, menembus tradisi. Boleh tanya Bu De Tih tuh ...
> :) Atau tanya Ipoet (E. Kristi Poerwandari) juga boleh ... :)
>
> Jangan jadi berang begitu ah ... :)
>
> salam,
> harez
>
>
>
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, pradita@... wrote:
> >
> > Sensitif? Atau situ yang gak punya kepekaan? Kalo yang bikin iklan itu
> di
> > otaknya gak menyamakan tubuh perempuan dengan pulsa murahan, kenapa
> pakai figue
> > perempuan dengan tulisan Rp 1/detik di dadanya? Kok gak pake kucing
> aja? Atau
> > bunga mawar?
> >
> > Harusnya angka berapa? Ini pertanyaan supertolol. Emang tubuh manusia
> bisa
> > dihargai dengan Rupiah?
> >
> > Soal iklan yang pakai model laki-laki, ya situ aja yang ngerasa
> laki-laki yang
> > protes. Kalo kau tak mau protes, yah salah kau sendirilah. Tapi kalo
> ada
> > perempuan protes soal iklan dengan citra negatif tentang perempuan, ya
> kau tak
> > usah sewotlah. Mbok yang agak sensitif dikit gitu!
> >
> > manneke
> >
> >
> > Quoting sinagahp sinagahp@...:
> >
> > >
> > > > Citraan ini sangat merendahkan perempuan, memberi kesan tubuh
> > > > perempuan tersebut sama dengan seharga Rp 1 / per detik. Bahwa
> iklan
> > > > ini menunjukkan citraan penjualan seorang perempuan, atau ide dari
> > > > bisnis hotline.
> > >
> > > harez:
> > >
> > > Harusnya angkanya berapa per detik? seribu, sepuluh ribu, sejuta ?
> > > Kesannya siapa ? :)
> > >
> > > Kalau dilihat-lihat dan direnung-renung koq kesannya "sensitif"
> banget
> > > sih? Masa iya, orang berpikir tubuh perempuan sama ama pulsa
> murahan?
> > > Sejam 3600 perak, hampir sama ama chicki snacknya anak kecil. Yang
> betul
> > > aja ... Terlalu sensi nih .... :)
> > >
> > > Lagian, kalau ngomongin soal diskriminasi, koq iklan apa tuh (LMen
> ...?)
> > > atau iklannya AXE koq nggak diprotes? Kan itu nunjukin "udel"nya
> > > laki-laki? Atau malah menikmati .... ha...ha...ha... :)
> > >
> > > Kalau menurut saya, yang harus diprotes lebih keras itu malah
> > > iklan-iklan dan jasa hotline itu malah. Itu jelas-jelas menjual
> wanita,
> > > mulai dari suara dan seterusnya .... he...he...he... ada-ada aja :)
> > >
> > >
> > > salam,
> > > harez
> > >
> > >
> > > --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "adindatitiana"
> > > adindatitiana@ wrote:
> > > >
> > > > MEDIA WATCH
> > > > Jl.Bangka Raya No 43 ,Jakarta Selatan 12770
> > > > Telp: 021-7192627 Fax:021-7192523
> > > > Email: pemantau_media@
> > > >
> > > > No : 001/E/MW/SK/IX/07
> > > > Lamp : 1 buah foto contoh iklan
> > > > Hal : Surat Keberatan
> > > >
> > > > Jakarta, 26 September 2007
> > > >
> > > > Kepada Yth.
> > > > Pimpinan Perusahaan
> > > > Kartu Seluler XL
> > > > di tempat
> > > >
> > > > Dengan hormat,
> > > > Kami bermaksud menyampaikan surat keberatan kami atas iklan XL
> versi
> > > > perempuan dengan menggunakan kaos bertuliskan Rp 1/detik
> > > > Dari cara mempromosikan iklan tersebut menunjukkan citra yang
> > > > melecehkan perempuan, karena :
> > > >
> > > > Model yang diperagakan adalah seorang perempuan dewasa berdiri dan
> > > > dibagian perut serta sekitar payudara bertuliskan Rp 1 / per
> detik.
> > > >
> > > > Citraan ini sangat merendahkan perempuan, memberi kesan tubuh
> > > > perempuan tersebut sama dengan seharga Rp 1 / per detik. Bahwa
> iklan
> > > > ini menunjukkan citraan penjualan seorang perempuan, atau ide dari
> > > > bisnis hotline.
> > > >
> > > > Dengan ini kami sangat keberatan sekali iklan tersebut terus
> menerus
> > > > ditayangkan dan diterbitkan di media-media sampai sekarang yang
> dapat
> > > > dilihat oleh semua orang. Masih banyak iklan XL lain sebelumnya
> yang
> > > > terlihat lebih kreatif tanpa mencitrakan perempuan seperti itu.
> > > >
> > > > Negara Indonesia sudah sepakat untuk menghapuskan semua bentuk
> > > > diskriminasi terhadap perempuan baik langsung maupun tidak
> langsung
> > > > (UU No. 7 Tahun 1984) salah satunya peran media massa (termasuk
> iklan)
> > > >
> > > > Semoga masukan dari kami ini sangat bermanfaat bagi perusahaan
> Anda.
> > > >
> > > > Kami sangat terbuka untuk berdialog dengan pihak XL mengenai
> keberatan
> > > > kami ini. Agar terjadi pengertian masyarakat dan untuk selanjutnya
> > > > silahkan menghubungi Dinda di 08151609391 atau email kami di
> > > > pemantau_media@ bila tertarik untuk merencanakan pertemuan.
> > > >
> > > > Media Watch akan terus memantau tayangan televisi yang memiliki
> > > > tayangan yang membuat citraan perempuan menjadi negatif. Tujuannya
> > > > bukan untuk memberangus media industri, tetapi memberi 'masukan
> lebih'
> > > > segala hal yang berhubungan dengan prinsip hak asasi manusia. Di
> > > > negara lain metode ini sudah diterapkan, diantaranya di Filipina.
> > > >
> > > > Atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.
> > > > Hormat kami,
> > > >
> > > > Mariana Amiruddin
> > > > Koordinator Umum
> > > >
> > > > CC:
> > > > 1.Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan
> > > > 2.Komisi Penyiaran Indonesia
> > > >
> > >
> > >
> >
>
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Green Groups

on Yahoo! Groups

share your passion

for the planet.

Y! Messenger

Send pics quick

Share photos while

you IM friends.

Real Food Group

Share recipes,

restaurant ratings

and favorite meals.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Dialog Jung - Philemon

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "sinagahp" <sinagahp@...> wrote:

Swas, jangan cuma duduk-duduk manis dong ah .... ha...ha...ha...

Yee.. si Abang (kan gak mau dipanggil Pakde ;)), kunci jawabannya udah dikeluarkan oleh Bang Harez, saya mau jawab apa lagi dong ;)?

Anyway.. dulu saya juga sempat ragu, bener gak sih Philemon itu "spirit"? Jangan2 itu bagian dari diri sendiri (higher self? conscience? atau apa?). Atau malah mungkin lebih parah lagi: jangan2 Jung berhalusinasi seperti John Nash

Yang jadi patokan saya persis sama dengan yang sudah dikutip oleh Bang Harez (maaf, saya nggak bawa bukunya ke kantor, jadi nggak ingat edisi tahun berapa yang saya punya dan halaman berapa. Tapi yang saya ingat tentang paragrafnya adalah seperti yang dikutip SHP):  

Philemon and other figures of my fantasies brought home to me the crucial insight that there are things in the psyche which I do not produce, but which produce themselves and have their own life. Philemon represented a force which was not myself. In my fantasies I held conversations with him, and he said things which I had not consciously thought. For I observed clearly that it was he who spoke, not I. . . .Psychologically, Philemon represented superior insight. He was  a mysterious figure to me. At times he seemed to me quite real, as if hewere a living personality. I went walking up and down the garden with him, and to me he was what the Indians call a guru

(versi online kutipannya ada di: http://www.psychoheresy-aware.org/jungleg.html)

Yang saya tangkap adalah: Philemon itu mungkin sekali merupakan fantasi Jung, tapi.. ia adalah fantasi dari sesuatu nyata yang tidak dapat benar2 dilihat oleh Jung. Jung benar2 punya "teman diskusi", yang tidak bisa dia jelaskan, tapi bisa dia fantasikan. Fantasi ini yang kemudian dinamakan Philemon, walaupun mungkin aslinya namanya bukan Philemon :)

Sebagai muslim saya percaya bahwa alam ruh itu terbagi 3, yaitu malaikat, ruh (manusia & hewan), serta jin. Dan seperti yang disebutkan dalam Al Jinn (surat ke 72 dalam Al Quran), jin ini tidak identik dengan setan. Jin ini seperti manusia saja layaknya; ada yang sholeh dan ada yang tidak sholeh. Yang tidak sholeh itu yang (seperti juga setan) menggoda manusia. Tapi.. jin yang sholeh bisa saja "berteman" dengan manusia to some degree, karena pada hakikatnya manusia bisa saja berkomunikasi dengan jin.

Yang terbayang oleh saja: selalu ada kemungkinan bahwa Jung sebenarnya punya "teman diskusi" seorang jin. Sebagai entitas yang berbeda, sangat mungkin sekali jin ini mengajukan pertanyaan2 pada Jung yang menajamkan teorinya. Pertanyaan2 yang tidak pernah terpikir atau tidak mungkin diproduksi oleh Jung sendiri.  Namun.. sebagai seorang akademisi, pemikir yang hebat, mungkin susah juga bagi dirinya untuk menterjemahkan "siapa" temannya. Oleh sebab itulah, walaupun he honestly said that Philemon is a force which was not himself, he referred to his discussion with Philemon as "in my fantasies I held discussion.."

Kenapa jin, bukan higher self? Well, menurut saya Jung cukup pintar untuk membedakan mana yang asalnya dari dia sendiri, dan mana yang bukan. Jadi saya positif thinking aja deh: kalau Jung bilang not himself, ya saya percaya.. hehehe.. Toh memang ada kemungkinan lain dan masih bisa dijelaskan sebagai jin :)

Dan terus terang.. saya agak khawatir akan kesehatan jiwa Jung jika dia tidak bisa mengenali higher self-nya sendiri ;)

Salam,


--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "sinagahp" <sinagahp@...> wrote:
>
> Mas Leo,
>
> Menurut anda adakah kemungkinan bahwa dialog yang DIANGGAP terjadi
> antara diri dengan "higher self" atau dengan roh yang berbeda di dalam
> diri itu sebenarnya dialog antara diri sendiri dengan sesuatu "entitas"
> yang sebenarnya terpisah tetapi selalu berada (menempel) dekat-dekat
> (atau bahkan sangat dekat) dengan seseorang.
>
> Maksud saya, itu sesuatu yang sebenarnya sesuatu yang "berbeda", jadi
> "roh" lain bisa dipisahkan tetapi tidak menyebabkan kematian (roh sejati
> manusia ybs tetap melekat dengan tubuh fisiknya). Dalam tradisi
> keagamaan maupun budaya, kan ada tuh prosedur-prosedur pengusiran
> roh-roh jahat dalam diri seseorang. Bahkan ada prosedur memindahkan "roh
> jahat" tersebut ke binatang misalnya (Babi di Alkitab, atau kambing di
> Bekasi).
>
> Mungkinkah yang mas anggap sebagai "higher self" itu adalah "roh lain"
> bukan "roh manusia ybs itu sendiri?
>
> salam,
> harez
>
>
>
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "leonardo_rimba"
> leonardo_rimba@ wrote:
> >
> > Dear Mas Harez and Other Friends,
> >
> > Memang Carl Gustav Jung itu seorang akademisi yang VERY HONEST.
> > Menurut aku, si PHILEMON itu adalah HIGHER SELF darinya, walaupun ia
> > tidak mengatakannya sebagai "Higher Self". Apakah higher self bisa
> > diajak komunikasi ? Bisa aja, dan BANYAK YANG MENGALAMINYA. Lalu,
> > apakah "Higher Self" itu bisa "berwujud" macam-macam di dalam Psyche
> > orang yang "memilikinya", ya BISA SAJA.
> >
> > Banyak yang seperti itu mas,... bahkan banyak sekali ORANG INDONESIA
> > yang mengaku memiliki ROH BERBEDA yang berada di dalam KESADARANNYA,
> > dan bisa diajak BERKOMUNIKASI.
> >
> > So, apa bedanya dengan Mbah CG Jung ? Podo wae kan ? ---Saya sendiri,
> > berbeda dengan kebanyakan orang, cenderung untuk melihat ROH DI DALAM
> > PSYCHE seperti yang dinamakan Philemon oleh Mbah Jung itu sebagai
> > ARCHETYPE. Ho ho ho,,, archetype kan istilah yang dibuat oleh Jung
> > sendiri, tapi kok aku jadi gemar pake istilah itu. Hmm,.. mungkin
> > Jung sendiri tidak realized bahwa konsep Archetype itu LUAR BIASA
> > KEGUNAANNYA. Archetype itu SUMBER ENERGI. Archetype itu INDEPENDEN.
> > Archetype itu seperti PETA JIWA yang menuntun manusianya untuk
> > menapaki JALAN SPIRITUALITAS, BERTRANSFORMASI, menjadi MANUSIA YANG
> > LEBIH MANUSIAWI. That's the end and GOAL OF TRANSFORMATION.
> >
> > Semoga bisa nangkep what I mean yah, nulisnya cepet neh, gak pake
> > mikir, spontan aja,... jebret2, sepuluh jari en, I hope, nyang muncul
> > itu INTUISI juga. Kalo bener kan OK tuh, langcung dayi alam bawah
> > saday, dibawa keluay seeyyyy seeeyyyy seeyyyyyy
> >
> > Yours,
> > Leo
> >
> >
> > --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "sinagahp"
> > sinagahp@ wrote:
> > >
> > > Mas Leo,
> > >
> > > Pertama, saya ingin mengatakan bahwa saya sangat menghargai
> > keterbukaan
> > > anda dalam mengemukakan apa yang ada pada diri anda.
> > >
> > > Kedua, perkembangan dan perjalanan spiritual dan keimanan bagi
> > > sayabagaikan sebuah "misteri". Ada orang Islam, yang kemudian
> > > menjadiKristen. Ada orang Kristen, yang kemudian menjadi mualaf
> > (Islam).
> > > Adaorang Islam, yang kemudian menjadi Budha (pak Hudoyo kalau tidak
> > > salah termasuk kategori yang ini). Ada yang Budha, kemudian menjadi
> > > Islam.Ada Kristen yang menjadi Budha (Richard Gere kalau tidak salah
> > > termasuk kategori yang ini), dan sebaliknya. Seakan-akan
> > > mengisyaratkan"panggilan" Sang Khalik berbeda dari seseorang dengan
> > > orang yang lain. Fakta-fakta itulah yang menyebabkan saya menganggap
> > > bahwa perkembangan dan perjalanan spiritual dan keimanan bagaikan
> > sebuah
> > > "misteri".
> > >
> > > Ketiga, saya rasa memang kita (Mas Leo, saya, maupun rekan-rekan
> > yang
> > > lain), tidak harus selalu sama. Pada satu hal mungkin kita
> > sependapat,
> > > pada lain hal mungkin berbeda atau bahkan bertentangan. Bagi saya,
> > > perbedaan tidak menjadi soal. Keberbedaan terkadang bisa menjadi
> > > kekuatan/kelebihan tersendiri. Yang tampaknya diperlukan adalah
> > kemauan
> > > dan kemampuan untuk bisa saling menghargai perbedaan-perbedaan yang
> > ada.
> > >
> > > Saya sering merasa trenyuh, kalau ada orang menuding orang lain
> > > "berdosa, kotor, ... dsb", terus ujungnya mengatakan "anda tidak
> > akan
> > > masuk surga, pasti tempatnya dineraka ...". Jangankan antar umat
> > > beragama, antar umat seagama pun hal itu cukup sering terjadi. Yang
> > satu
> > > menuding dan menghakimi yang lain, dan kemudian mengambil posisi
> > > (he...he...he..., jangan ueneggg ya [;)] ) atau peran sebagai
> > Tuhan,
> > > menentukan siapa yang masuk "surga", siapa yang masuk "neraka".
> > > He...he...he... :)
> > >
> > > Saya merasa ketiga butir itu perlu saya kemukakan terlebih dahulu,
> > > sebelum kita melanjutkan diskusi kita tentang Jung dan Philemon.
> > > Mudah-mudahan apa yang saya kemukakan pada ketiga butir tersebut,
> > dapat
> > > lebih menunjang pemahaman terhadap dasar-dasar pemikiran dan
> > pendapat
> > > saya.
> > >
> > > Baik Mas, saya rasa sudah cukup penjelasan saya. Mari kita lanjutkan
> > > diskusi tentang Jung dan Philemon.
> > >
> > > leo:
> > > > Menurut aku "Philemon" itu the Higher Spirit dari Carl Gustav
> > Jung.
> > > > Satu sosok yang barangkali pernah muncul dalam KESADARAN
> > > > (CONSCIOUSNESS) Jung di kala muda dan, konon, pernah dilukiskan
> > oleh
> > > > Jung sendiri sebagai satu sosok orang tua yang bersayap. Saya
> > pernah
> > > > melihat foto lukisannya itu. Jung sendiri yang membuatnya. Di situ
> > > > dilukiskan seorang tua yang berwajah tirus, berjenggot, berjubah,
> > > > dan bersayap lengkap dengan bulu2 persis seperti gambar malaikat
> > > > dengan sayap ala burung garuda pancasila itu. Archaic ? Well, yes,
> > > > mao dibilang apa lagi. Gambaran yang muncul di mimpinya Jung itu
> > > > memang archaic dan rasanya dia ingin melukiskan sedapat mungkin.
> > > >
> > > > So, what shall we deduce from that ? Deduksinya adalah bahwa
> > memang
> > > > semua orang bermimpi. Bahkan Carl Gustav Jung itu bermimpi, dan
> > > > bahwa mimpi2 itu memang memiliki SIMBOL2, dan simbol2 itu
> > bentuknya
> > > > tidak seperti benda2 luxurious yang dipajang di mall2, tetapi
> > > > bentuknya ANTIK, UNIK, dan MENARIK. Kalau harus muncul malaikat,
> > ya
> > > > muncullah. Dan kalau kemudian "malaikat" itu dinamakan si Philemon
> > > > oleh orang yang memperoleh mimpi itu, so jadilah.
> > >
> > > harez:
> > > Wah... anda benar-benar pengagum Jung rupanya. Pemahaman saya
> > terhadap
> > > Philemon agak berbeda dengan anda. Pada halaman depan situs yayasan
> > > Philemon
> > > ( http://www.philemonfoundation.org/index_flash.html ), antara lain
> > > dikutip perkataan Jung sebagai berikut:
> > >
> > > "Philemonand other figures of my fantasies brought home to me the
> > > crucialinsight that there are things in the psyche which i do not
> > > produce, butwhich produce themselves and have their own life."
> > >
> > > Pada buku Memories, Dreams, Reflections (terjemahan Inggris tahun
> > 1963 -
> > > Pantheon), pada halaman 183 antara lain Jung mengatakan:
> > >
> > > Philemonand other figures of my fantasies brought home to me the
> > > crucialinsight that there are things in the psyche which I do not
> > > produce,but which produce themselves and have their own life.
> > > Philemonrepresented a force which was not myself. In my fantasies I
> > > heldconversations with him, and he said things which I had not
> > > consciouslythought. For I observed clearly that it was he who
> > spoke, not
> > > I. . . .Psychologically, Philemon represented superior insight. He
> > was
> > > amysterious figure to me. At times he seemed to me quite real, as if
> > > hewere a living personality. I went walking up and down the garden
> > > withhim, and to me he was what the Indians call a guru.
> > >
> > > Dari perkataan tersebut, ada dua hal yang saya perhatikan, yakni
> > > perkataan "which i do not produce" dan pernyataan "and to me he
> > waswhat
> > > the Indians call a guru". Dari kedua pernyataan tersebut, secara
> > > sepintas, saya mengintepretasikan bahwa Philemon jelas bukan fantasi
> > > (karena tidak dibawah kontrol Jung), dan juga bukan "higher self "
> > di
> > > dalam dirinya, melainkan sesuatu "di luar dirinya". Apakah yang
> > disebut
> > > "guru" di kalangan orang India adalah sesuatu yang berada di dalam
> > diri?
> > > Dalam pemahaman awam saya, guru adalah entitas yang berada di luar
> > diri
> > > seseorang. :)
> > >
> > > Apakah memang benar demikian? Mohon penjelasan (kalau tidak salah
> > anda
> > > kurang suka dengan istilah pencerahan), khususnya yang berkaitan
> > tentang
> > > konsep guru caittya (Paramatman) dan kerabatnya. Apakah memang tipe
> > guru
> > > demikian yang dimaksud oleh Jung ?
> > >
> > > Apakah guru yang demikian dapat diperoleh dengan proses imajinasi
> > aktif
> > > (active imagination) Pertanyaan ini saya ajukan, karena saya pernah
> > > membaca bahwa imajinasi aktifnya Jung bukanlah hipnosis, kontemplasi
> > > maupun meditasi.
> > >
> > > Mohon penjelasan Mas. Terima kasih sebelumnya.
> > >
> > > salam,
> > > harez
> > >
> > > NB:
> > >
> > > * Pembahasan uraian lainnya (Kabalah, dll), nanti ya Mas, supaya
> > > postingannya tidak panjang-panjang.
> > > * Masukan dan partisipasi dari Swastinika maupun rekan-rekan
> > yang
> > > lain tentunya sangat diharapkan. Siapa tahu versi bukunya lebih
> > baru.
> > > Swas, jangan cuma duduk-duduk manis dong ah .... ha...ha...ha...
> > [:p]
> > >
> >
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Group get-together

Host a free online

conference on IM.

Real Food Group

Share recipes,

restaurant ratings

and favorite meals.

Yahoo! Groups

Get info and support

on Samsung HDTVs

and devices.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Surat Keberatan Media Watch > Kesannya terlalu "sensi" nih ... :)


Uaammpuunnnn ...... uaammpunnnn..... Jeng .... :)

salam,
harez


--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "ratih ibrahim" <personalgrowth@...> wrote:
>
> kucingnya jenis kelaminnya apa?
> kenapa kok kucing?
> kenapa bukan kodok?
>
> kenapa kok yang diperlihatkan udel?
> kenapa?
> kenapa?
>
> *tetep sensi*
>
>
> On 9/28/07, sinagahp sinagahp@... wrote:
> >
> > Ha...ha...ha.... :)
> >
> > Wah ... memang benar kalau anda ini ..... sejati :)
> >
> > Mohon maaf apabila ada kata-kata yang tidak berkenan.
> >
> > Komentar saya itu memang ditujukan untuk mengetahui bagaimana reaksi anda
> > dan rekan-rekan. Ternyata begitu ya reaksinya .... :) [image: ;)]
> >
> > Sejatinya, saya merasa saya tergolong penghormat perempuan. Boleh ditanya
> > di psikologi ui, siapa yang mengkader dan mendukung Ratna jadi ketua senat
> > mahasiswa, menembus tradisi. Boleh tanya Bu De Tih tuh ... :) Atau tanya
> > Ipoet (E. Kristi Poerwandari) juga boleh ... :)
> >
> > Jangan jadi berang begitu ah ... :)
> >
> > salam,
> > harez
> >
> >
> >
> > --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, pradita@ wrote:
> > >
> > > Sensitif? Atau situ yang gak punya kepekaan? Kalo yang bikin iklan itu
> > di
> > > otaknya gak menyamakan tubuh perempuan dengan pulsa murahan, kenapa
> > pakai figue
> > > perempuan dengan tulisan Rp 1/detik di dadanya? Kok gak pake kucing aja?
> > Atau
> > > bunga mawar?
> > >
> > > Harusnya angka berapa? Ini pertanyaan supertolol. Emang tubuh manusia
> > bisa
> > > dihargai dengan Rupiah?
> > >
> > > Soal iklan yang pakai model laki-laki, ya situ aja yang ngerasa
> > laki-laki yang
> > > protes. Kalo kau tak mau protes, yah salah kau sendirilah. Tapi kalo ada
> >
> > > perempuan protes soal iklan dengan citra negatif tentang perempuan, ya
> > kau tak
> > > usah sewotlah. Mbok yang agak sensitif dikit gitu!
> > >
> > > manneke
> > >
> > >
> > > Quoting sinagahp sinagahp@:
> > >
> > > >
> > > > > Citraan ini sangat merendahkan perempuan, memberi kesan tubuh
> > > > > perempuan tersebut sama dengan seharga Rp 1 / per detik. Bahwa iklan
> > > > > ini menunjukkan citraan penjualan seorang perempuan, atau ide dari
> > > > > bisnis hotline.
> > > >
> > > > harez:
> > > >
> > > > Harusnya angkanya berapa per detik? seribu, sepuluh ribu, sejuta ?
> > > > Kesannya siapa ? :)
> > > >
> > > > Kalau dilihat-lihat dan direnung-renung koq kesannya "sensitif" banget
> > > > sih? Masa iya, orang berpikir tubuh perempuan sama ama pulsa murahan?
> > > > Sejam 3600 perak, hampir sama ama chicki snacknya anak kecil. Yang
> > betul
> > > > aja ... Terlalu sensi nih .... :)
> > > >
> > > > Lagian, kalau ngomongin soal diskriminasi, koq iklan apa tuh (LMen
> > ...?)
> > > > atau iklannya AXE koq nggak diprotes? Kan itu nunjukin "udel"nya
> > > > laki-laki? Atau malah menikmati .... ha...ha...ha... :)
> > > >
> > > > Kalau menurut saya, yang harus diprotes lebih keras itu malah
> > > > iklan-iklan dan jasa hotline itu malah. Itu jelas-jelas menjual
> > wanita,
> > > > mulai dari suara dan seterusnya .... he...he...he... ada-ada aja :)
> > > >
> > > >
> > > > salam,
> > > > harez
> > > >
> > > >
> > > > --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "adindatitiana"
> > > > adindatitiana@ wrote:
> > > > >
> > > > > MEDIA WATCH
> > > > > Jl.Bangka Raya No 43 ,Jakarta Selatan 12770
> > > > > Telp: 021-7192627 Fax:021-7192523
> > > > > Email: pemantau_media@
> > > > >
> > > > > No : 001/E/MW/SK/IX/07
> > > > > Lamp : 1 buah foto contoh iklan
> > > > > Hal : Surat Keberatan
> > > > >
> > > > > Jakarta, 26 September 2007
> > > > >
> > > > > Kepada Yth.
> > > > > Pimpinan Perusahaan
> > > > > Kartu Seluler XL
> > > > > di tempat
> > > > >
> > > > > Dengan hormat,
> > > > > Kami bermaksud menyampaikan surat keberatan kami atas iklan XL versi
> > > > > perempuan dengan menggunakan kaos bertuliskan Rp 1/detik
> > > > > Dari cara mempromosikan iklan tersebut menunjukkan citra yang
> > > > > melecehkan perempuan, karena :
> > > > >
> > > > > Model yang diperagakan adalah seorang perempuan dewasa berdiri dan
> > > > > dibagian perut serta sekitar payudara bertuliskan Rp 1 / per detik.
> > > > >
> > > > > Citraan ini sangat merendahkan perempuan, memberi kesan tubuh
> > > > > perempuan tersebut sama dengan seharga Rp 1 / per detik. Bahwa iklan
> > > > > ini menunjukkan citraan penjualan seorang perempuan, atau ide dari
> > > > > bisnis hotline.
> > > > >
> > > > > Dengan ini kami sangat keberatan sekali iklan tersebut terus menerus
> > > > > ditayangkan dan diterbitkan di media-media sampai sekarang yang
> > dapat
> > > > > dilihat oleh semua orang. Masih banyak iklan XL lain sebelumnya yang
> > > > > terlihat lebih kreatif tanpa mencitrakan perempuan seperti itu.
> > > > >
> > > > > Negara Indonesia sudah sepakat untuk menghapuskan semua bentuk
> > > > > diskriminasi terhadap perempuan baik langsung maupun tidak langsung
> > > > > (UU No. 7 Tahun 1984) salah satunya peran media massa (termasuk
> > iklan)
> > > > >
> > > > > Semoga masukan dari kami ini sangat bermanfaat bagi perusahaan Anda.
> > > > >
> > > > > Kami sangat terbuka untuk berdialog dengan pihak XL mengenai
> > keberatan
> > > > > kami ini. Agar terjadi pengertian masyarakat dan untuk selanjutnya
> > > > > silahkan menghubungi Dinda di 08151609391 atau email kami di
> > > > > pemantau_media@ bila tertarik untuk merencanakan pertemuan.
> > > > >
> > > > > Media Watch akan terus memantau tayangan televisi yang memiliki
> > > > > tayangan yang membuat citraan perempuan menjadi negatif. Tujuannya
> > > > > bukan untuk memberangus media industri, tetapi memberi 'masukan
> > lebih'
> > > > > segala hal yang berhubungan dengan prinsip hak asasi manusia. Di
> > > > > negara lain metode ini sudah diterapkan, diantaranya di Filipina.
> > > > >
> > > > > Atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.
> > > > > Hormat kami,
> > > > >
> > > > > Mariana Amiruddin
> > > > > Koordinator Umum
> > > > >
> > > > > CC:
> > > > > 1.Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan
> > > > > 2.Komisi Penyiaran Indonesia
> > > > >
> > > >
> > > >
> > >
> >
> >
> >
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
SPONSORED LINKS
Yahoo! Groups

Join a Health

& Fitness Group

or create your own.

Yahoo! Groups

Real Food Group

Share recipes

and favorite meals.

Green Y! Groups

Environment Groups

Find them here

connect with others.

.

__,_._,___