Minggu, 28 Oktober 2007

Re: [psikologi_transformatif] Re: Psikolog Spesialis Praktik Hukum Negative Reinforcement


Per FGD berapa orang dan berapa lama Mbak May ?
Total-total kira-kira butuh berapa kali FGD ?


On 10/29/07, was_swas < was_swas@yahoo.com> wrote:

HAHAHAHA.. ralat dulu:

  1. Maya Notodisurjo = IBUNYA Swastinika ;) Ini harus diperjelas, karena Swastinika (yang asli) sudah protes ibunya masih suka pakai ID lama yang dibikin jaman dia belum lahir ;)
  2. Maya Notodisurjo = spesialis consumer insight dan brand development ;)

Coba ya, lain kali kalau jadi intel mbok ya yang total.. hehehe.. jangan cuma bisa copy paste tulisan Audifax yang sudah setahun itu.. HAHAHAHA.. :) Udah cuma copy paste, butuh waktu lamaaaaaaa banget untuk menemukan arsipnya ;).

Hmm.. jadi ngundang orang2 untuk nonton di sini ya? Bagus deh.. semoga makin banyak yang nonton dan bisa membuktikan sendiri bahwa saya nggak pernah mengucapkan kata2 kasar, memalsukan kuesioner, dan segala yang dituduhkan itu :). Malah saya dengan baik hati sudah pernah menawarkan untuk melakukan penelitian serius dengan metode FGD, supaya hasil yang didapat bisa lebih dalam :).

Eh.. soal nawarin bikin penelitian yang serius, itu saya serius lho.. :)  Kalau pakai jasa kantor saya, saya kasih introductory rate deh.. Rp 12,000,000/FGD. Kalau cuma mau minta tolong saya jadi moderator, tarifnya Rp 2,000,000/FGD. Harga teman ;). Ohya, harga2 tersebut di luar PPn 10% ya :) Kalau 2jt kemahalan, saya bisa rekomendasikan yang lebih murah. Tapi.. semurah2nya well-experienced moderator, nggak ada yang di bawah Rp 1,250,000 per FGD ;)

Salam,


__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Instant hello

Chat over IM with

group members.

Yahoo! Groups

Cat Zone

Connect w/ others

who love cats.

Wellness Spot

Embrace Change

Break the Yo-Yo

weight loss cycle.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Psikolog Spesialis Praktik Hukum Negative Reinforcement

HAHAHAHA.. ralat dulu:

  1. Maya Notodisurjo = IBUNYA Swastinika ;) Ini harus diperjelas, karena Swastinika (yang asli) sudah protes ibunya masih suka pakai ID lama yang dibikin jaman dia belum lahir ;)
  2. Maya Notodisurjo = spesialis consumer insight dan brand development ;)

Coba ya, lain kali kalau jadi intel mbok ya yang total.. hehehe.. jangan cuma bisa copy paste tulisan Audifax yang sudah setahun itu.. HAHAHAHA.. :) Udah cuma copy paste, butuh waktu lamaaaaaaa banget untuk menemukan arsipnya ;).

Hmm.. jadi ngundang orang2 untuk nonton di sini ya? Bagus deh.. semoga makin banyak yang nonton dan bisa membuktikan sendiri bahwa saya nggak pernah mengucapkan kata2 kasar, memalsukan kuesioner, dan segala yang dituduhkan itu :). Malah saya dengan baik hati sudah pernah menawarkan untuk melakukan penelitian serius dengan metode FGD, supaya hasil yang didapat bisa lebih dalam :).

Eh.. soal nawarin bikin penelitian yang serius, itu saya serius lho.. :)  Kalau pakai jasa kantor saya, saya kasih introductory rate deh.. Rp 12,000,000/FGD. Kalau cuma mau minta tolong saya jadi moderator, tarifnya Rp 2,000,000/FGD. Harga teman ;). Ohya, harga2 tersebut di luar PPn 10% ya :) Kalau 2jt kemahalan, saya bisa rekomendasikan yang lebih murah. Tapi.. semurah2nya well-experienced moderator, nggak ada yang di bawah Rp 1,250,000 per FGD ;)

Salam,

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Groups

Real Food Group

Share recipes

and favorite meals.

Cat Groups

on Yahoo! Groups

Share pictures &

stories about cats.

Yahoo! Groups

Special K Challenge

Learn how others are

shedding the pounds.

.

__,_._,___

[beasiswa] (Info) TOTAL Scholarship 2008

///Moderator's Note///
Kelihatannya info ini HANYA untuk internal ITB. Apakah beasiswa ini ditawarkan juga ke Universitas lain, mohon ditanyakan langsung ke bagian kemahasiswaan atau kerjasama di rektorat masing-masing.
Dhany Arifianto
==========================================================

Sekedar meneruskan dari milis yang lain. Untuk formulirnya saya forwardkan untuk ke admin (Bang Togap). Terimakasih.

Atar
.................................................
Nomor : 3179/K01.03.17/LN/2007
Perihal : TOTAL Scholarship 2008


Kepada Yth.
1. Ketua Prodi Teknik Perminyakan
2. Ketua Prodi Teknik Geologi
3. Ketua Prodi Teknik Kimia
4. Ketua Prodi Teknik Industri
5. Ketua Prodi Teknik Elektro
6. Ketua Prodi Matematika
7. Ketua Prodi Teknik Metalurgi
8. Ketua Prodi Teknik Material
Institut Teknologi Bandung

Bersama ini kami sampaikan dengan hormat informasi mengenai program TOTAL Scholarship bagi Sarjana baru ITB untuk mengambil program Master di Perancis untuk periode 2008. Adapun persyaratan yang harus dipenuhi adalah :
1. Peserta : Sarjana baru pada tahun 2007, lulusan terakhir bulan Oktober 2007.
2. Program Studi : Teknik Perminyakan, Teknik Geologi, Teknik Kimia, Teknik Industri, Teknik Elektro, Matematika, Teknik Metalurgi, dan Teknik Material
3. Prestasi akademik : Lulusan terbaik dari masing-masing program studi, dengan IPK minimal 3.00
4. Nilai TOEFL min 550 atau mempunyai DELF diploma
5. Aktif dalam organisasi, mempunyai jiwa kepemimpinan
6. Diprediksi dapat menduduki posisi penting dalam 10 tahun ke depan dalam pemerintahan

Adapun dokumen yang harus dilengkapi adalah sebagai berikut:
1. Curriculum Vitae
2. Transkrip nilai terakhir
3. Mengisi Formulir Motivasi (terlampir)
4. Referensi mengenai kegiatan atau pelatihan yang pernah diikuti

Sehubungan dengan hal ini, kami mohon bantuan Bapak/Ibu untuk dapat menyebarluaskan informasi ini di lingkungan yang Bapak/Ibu pimpin. Bagi mahasiswa yang berminat dapat langsung menyerahkan berkas aplikasi ke International Student Office (ISO) ITB di Gedung Labtek VI Lt. 1, Jl. Ganesha 10 Bandung paling lambat tgl. 5 November 2007.

Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya kami haturkan terima kasih.

Kepala Kantor Urusan International,


Dr. Ir. Edwan Kardena


Tembusan:
WR Bidang Riset, Inovasi dan Kemitraan ITB (sebagai laporan)


INFO, TIPS BEASISWA, FAQ - ADS
Hanya ada di http://www.milisbeasiswa.com/

===============================

CARI KERJA?
Gabung dengan milis vacancy. Kirim email kosong ke vacancy-subscribe@yahoogroups.com.
http://www.groups.yahoo.com/group/vacancy

===============================

INGIN KELUAR DARI MILIS BEASISWA?
Kirim email kosong ke beasiswa-unsubscribe@yahoogroups.com
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:

http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:

http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/join

(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:beasiswa-digest@yahoogroups.com
mailto:beasiswa-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
beasiswa-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

http://docs.yahoo.com/info/terms/

[psikologi_transformatif] Re: Psikologi ala Pak Jusuf Sutanto - Bagian 2

Pak Jusuf, senang bisa sampai kesimpulan ini:

> Saya berangkat dari tuntutan publik saat sekarang ini.
> Sedangkan anda melihat dari betapa sulitnya mendidik mahasiswa psikologi dengan input SMU yang sdh demikian.
> Kalau standarnya ditinggikan, maka takut pada kabur ; kalau standarnya que sera-sera ya tentu ada konsekuensinya.
> Pareto anda dengan saya berbeda, tapi karena saya rasa sepakat mau menyelesaikan persoalan bangsa ini, mengankat martabatnya di tengah pergaulan bangsa, maka di sinilah landasan untuk kerjasama, sehingga kita tidak perlu ikut2 an main timpuk2an.

Memang ini masalah awalnya :) Saya sangat setuju bahwa banyak yang harus dibenahi dalam sistem pendidikan saat ini supaya "anak-anak bangsa" lebih siap melayani publik. Salah satunya memang sistem pendidikan di fakultas psikologi. Dan saya banyak setujunya dengan Bapak jika meninjau dari kebutuhan publik yang ideal.

Hanya saja, saya memang juga melihatnya dari sisi institusi pendidikan formal tersebut. Sulit jika dimulai hanya dari pendidikan tinggi, apalagi jika hanya diterapkan di salah satu jenis pendidikan tinggi tertentu. Selain kebutuhan publik yang ideal, ada kebutuhan para calon mahasiswa atau orang tua calon mahasiswa, ada juga kesulitan institusi untuk mendidik secara masal dan umum. Itu yang akan selalu bertentangan dengan kebutuhan ideal, dan harus dicari titik temunya.

Yang berikutnya mungkin belum bisa dikomentari karena masih bersambung. Jadi saya tunggu sambungannya dulu :) Tapi mungkin saya komentari pertanyaan Bapak yang terbawah dulu:

> Tapi kalau manager produksi, pemasaran, utility, keuangan mempunyai Job Spec yang jelas sehingga prestasinya bisa diukur, maka kepala HCD ini masih serba kabur : apakah mengurus sistem penggajian, membuat KKB, mengorganisir training dsb sudah cukup untuk menilai kinerjanya ? Inilah yang sampai saat ini belum jelas. Sementara itu taken for granted posisi ini hrs dipimpin oleh psikolog.

> Inilah mutu lulusan perguruan tinggi kita. Masalah belum terasa ketika dia bekerja di perusahaan kecil /menengah dimana pemiliknya ikut aktif sehari-hari. Tapi menjadi masalah serius bagi perusahaan besar yang punya cabang dimana-mana.
> Alih2 mensukseskan program perusahaan, yang terjadi direksinya malah sibuk mengurus orang berkelahi.
> Terjadilah office politics yang saling menjegal.
> Pertanyaannya dapatkah pimpinan HCD yang psikolog itu mengatasi soal ini ?
> Pendidikan yang bagaimana yang diperlukan untuk menghasilkan pimpinan HCD yang cakap ?

Pertama2, job spec Kepala HCD sangat bisa diukur dengan analisa jabatan. Job spec Kepala HCD sangat bisa bervariasi dan berbeda2 antar perusahaan. Di perusaaan tertentu, titik beratnya masih mengurus soal penggajian. Di perusahaan lain bisa dititikberatkan pada training. Di perusahaan lain titik beratnya bisa menangani buruh/pekerja honorer dan menjadi jembatan antar mereka dgn pihak manajemen. Jadi, pada dasarnya, job spec Kepala HCD adalah sesuatu yang sangat bisa diukur dan sifatnya berbeda tergantung sifat perusahaannya :)

Kedua, saya belum pernah mendengar bahwa Kepala HCD taken for granted HARUS dipimpin oleh psikolog. Banyak teman2 psikologi yang mengeluh bahwa Kepala HCD-nya bukan psikolog dan tidak mengerti psikologi.

Ketiga, saya belum pernah juga mendengar seorang fresh graduate menjadi Kepala HCD (kecuali kalau perusahaannya milik bapaknya, mungkin ;)). Semua yang menjadi Kepala HCD berangkat dari bawah: masuk HCD sebagai staf dan meniti karir hingga ke puncak.

Jadi.. kalau pertanyaan Bapak adalah: "Pendidikan yang bagaimana yang diperlukan untuk menghasilkan pimpinan HCD yang cakap?", terus terang itu tidak bisa dijawab dan dibebankan pada institusi pendidikan :) Tujuan pendidikan psikologi bukan secara spesifik menghasilkan pimpinan HCD yang cakap. In fact, tidak semua lulusan pendidikan psikologi diharapkan (apalagi diharuskan) mampu menjadi pimpinan HCD yang cakap. HCD hanya merupakan salah satu bagian kecil dari psikologi.. yang mampu dan mau bergerak di bidang itu, silakan memperdalam pengetahuan di bidang itu. Yang tidak mau dan mau memilih jalur yang lain, tidak harus menguasai HCD.

Sistem pendidikan psikologi yang sekarang mengajarkan beberapa aspek yang dapat digunakan untuk "menjual diri" masuk ke bidang HCD. Untuk menjadi staf HCD yang cakap, apalagi agar karirnya naik menjadi Kepala HCD, seseorang perlu belajar lagi dan lagi.

Dan untuk pertanyaan ini: "Pertanyaannya dapatkah pimpinan HCD yang psikolog itu mengatasi soal ini?", jawaban saya adalah:  bisa, jika memang kemampuan, pengetahuan, dan usahanya diarahkan ke bidang ini, serta kebijakan/budaya perusahaan mendukung dia sepenuhnya :) Yang sering terjadi adalah: pimpinan HCD-nya merupakan psikolog industri yang handal, namun tidak didukung oleh kebijakan perusahaan :) Ini terutama saya amati terjadi pada perusahaan besar, dimana pekerja dianggap tidak lebih dari sekrup dari sebuah mesin besar; yang jika rusak satu sangat replaceable :)

Tidak semua psikolog yang baik mampu menjadi seorang pimpinan HCD yang baik, karena psikologi lebih luas daripada sekedar HCD :) Jadi, janganlah kita kotak2kan atau kita reduksi menjadi sekedar HCD.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

PC-to-PC calls

Call your friends

worldwide - free!

HDTV Support

The official Samsung

Y! Group for HDTVs

and devices.

Women of Curves

on Yahoo! Groups

A positive group

to discuss Curves.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Maya Notodisurjo : Psikolog Spesialis Praktik Hukum Negative Reinforcement

HAHAHA...milis ini sudah memenuhi syarat atau belum ya unutk masuk
MURI?

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "goenardjoadi"
<goenardjoadi@...> wrote:
>
> vincent, vincent....
>
> mbok belajar dulu bahasa Indonesia..
>
> sangsi = ragu
> sanksi = hukuman, penalti
>
> orang penyandang disleksia [apa ya yang gak bisa spelling benar?],
> kok mau ngajak ngomong psikolog asli, piye?
>
> mbok belajar sama papa Liong, apa itu budi pekerti? nanti saya
kasih
> sangsi, lho, sangsi nya banyak, ada sangsi ahli, ada mbak sangsi,
>
> salam,
> goen
>
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "intel.psitrans"
> <intel.psitrans@> wrote:
> >
> > Maya Notodisurjo : Psikolog Spesialis Praktik Hukum Negative
> Reinforcement
> > (Baca email terlampir: Data Swastinika = Maya Notodisurjo)
> >
> >
> >
> > Pengantar
> >
> > Negative Reinforcement (stimulus negatif) secara sah / legal /
> resmi /
> > boleh dilakukan siapa saja bertitel Psikolog terhadap siapapun
> orang
> > non-psikologi yang ingin dijadikan target korban. Sebagai
psikolog
> > maka memiliki hak untuk mengatur nasib psikologis orang lain,
> bilamana
> > tidak menurut hukum psikologi maka siapapun dapat diberi sangsi
> tegas
> > di dunia maya dan dunia nyata. Silahkan baca dialog-dialog dengan
> > Psikolog Maya Notodisurjo di bawah ini tentang sangsi yang boleh
> > secara tegas diberikan kepada pihak-pihak yang dianggap bersalah
> dalam
> > hukum Psikologi di Indonesia.
> >
> > Sangsi-sangsi ala Psikologi tsb diantaranya berupa:
> > * Teror kepada anggota keluarga dengan sita jaminan.
> > * Cacimaki dengan bahasa kotor ala Psikologi kepada subject dan
> > keluarga subject.
> > * Pemalsuan dan penyebarluasan data kepribadian korban.
> > * Pemalsuan bukti korban dan pemalsuan kuesioner.
> > * Usaha pemerasan, penangkapan dan pemenjaraan melalui jalur
hukum.
> >
> > Untuk mengamati penerapan hukum ala Psikologi yang berlaku di
> > Indonesia dengan contoh praktikalnya dapat diamati prilaku para
> > psikolog kondang kita seperti misalnya Audifax, Ratih Ibrahim
> (sering
> > muncul di televisi dan majalah), Sinaga Harez Posma, dan di Maya
> > Notodisurjo di:
> > http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/messages .
> >
> >
> >
> >
> >
> > Subject: Psikologi ala Pak Jusuf Sutanto (was Re: Yuk kita rame2)
> > From: "monde78100" <monde78100@>
> > D/D/T:Wed Oct 24, 2007 2:48 pm
> > e-link:
> >
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/33233
> > "swastinika" <swastinika@> wrote:
> >
> >
> > Swastinika menulis :
> > Kenapa Negative Reinforcement ini muncul? Sejauh yang saya amati,
> > karena pendekatan dengan mazhab psikologi yang lebih positif
sudah
> > dilakukan,tapi tidak berhasil.
> >
> > Monde : Mbak Swas, dari mana muncul penilaian tidak berhasil?
> Bukankah
> > justru kita seharusnya terus berusaha untuk menggunakan mazhab
> > psikologi yang positif dibandingkan menyerah dengan Negative
> > Reinforcement? Sebaiknya tidak ada alasan untuk membenarkan
> munculnya
> > Negative Reinforcement. Mungkin saja Negative Reinforcemet
memiliki
> > daya supaya setiap pelakunya akhirnya dapat mengambil hikmahnya.
> Tapi
> > bukan sebagai saran atau toleransi untuk memicu/membenarkan
> Negative
> > Reinforcement tersebut. Justru kita harus mengambil sikap tidak
> > mendukungnya.
> >
> > Swastinika menulis :
> > Subyek tetap tidak menyadari bahwa dirinya bermasalah, dan..
> > significant others-nya juga tetap tidak mendukung subyek untuk
> > menyadari masalahnya.
> >
> > Monde : Ini adalah pengamatan sepihak mbak Swas. Bermasalah atau
> tidak
> > bermasalahnya seseorang tergantung dari sudut kepentingan para
> > pengamatnya. Kalau mau melihatnya dengan sungguh-sungguh inilah
> yang
> > terjadi pada fenomena kompatiologi. Vcl dianggap bermasalah atau
> tidak
> > tergantung dari kepentingan terhadap kompatiologi ataupun
> > pertemanannya dengan Vcl. Jadi itu sangat subyektif sifatnya.
Jadi
> > tetap tidak bisa dipukul-rata Vcl sudah pasti bermasalah untuk
> > membenarkan munculnya Negative Reinforcement karena teman-
temannya
> > sudah tidak sanggup. Mbak Swas jangan terburu-buru memberikan cap
> > penilaian kalau kenal dengan Vcl dan teman-temannya saja cuma
dari
> milis.
> >
> > Swastinika menulis :
> > Padahal, dalam psikologi, semua "remedy" itu asalnya dari diri
> sendiri
> > dan/atau dukungan lingkungan. Integrasi antara keduanya. Kalau
> subyek
> > tidak menyadari dirinya bermasalah, apalagi lingkungan mendukung
> > konsep diri seperti itu, setahu saya pendekatan psikologi yang
> paling
> > positif pun tidak akan membawa perubahan :)
> >
> > Monde : Sekali lagi apa yang dikatakan oleh mbak Swas sendiri
> justru
> > menunjukkan kerelatifan suatu perilaku seseorang. Bukankah
> bermasalah
> > atau tidaknya seseorang sangat tergantung dari penilaian
> > lingkungannya? Nah kalau lingkungannya sudah mendukung, apa
> masalahnya
> > kalau begitu? Vcl bermasalah bagi mbak Swas itu sih urusan
> kepentingan
> > mbak Swas. Sekali-lagi tidak bisa dipukul-rata kalau mbak Swas
> sudah
> > memberikan penilaian Vcl bermasalah maka dianggap bagi seluruh
> > lingkungan lainnya pasti menilai juga Vcl bermasalah sekaligus
> > menganggap lingkungan lain adalah buta jika tidak melihatnya. Vcl
> > memiliki kekurangan iya. Kita semua pun memiliki kekurangan. Tapi
> > apakah kekurangan (yang lagi-lagi relatif) itu bermasalah bagi
> > lingkungannya itu soal lain.
> >
> > Swastinika menulis:
> > Kembali ke konsep Mamamia: mau pakai pendekatan apa pun, kalau
> Ajeng,
> > Fiersha, dll tidak menyadari dirinya perlu menjadi lebih baik,
> tidak
> > akan pernah berhasil mereka berubah :)
> >
> > Monde : Setuju!
> >
> > Mbak Swas mau beli Mondenya? Pliiissss
> >
> >
> >
> >
> >
> > Email sebelumnya:
> > Subject: Psikologi ala Pak Jusuf Sutanto (was Re: Yuk kita rame2)
> > From: Swastinika / Maya Notodisurjo
> > D/D/T: Wed Oct 24, 2007 10:58 am
> > e-link:
> >
>
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/33216
> > "swastinika" <swastinika@> wrote:
> >
> >
> > Pak Jusuf yth,
> >
> > Sejak kemarin ingin mengomentari tulisan Bapak, namun baru sempat
> > memformulasikannya sekarang :) Moga2 tidak menyinggung Bapak :)
> >
> > Pembahasan Bapak mengenai Mamamia menarik, tapi.. menurut hemat
> saya,
> > Bapak justru melupakan satu faktor penting dalam perubahan yang
> > terjadi dalam acara tersebut :) Yang mengubah diri si anak
> jalanan, si
> > tuna netra, si ibu rumah tangga ADALAH mereka sendiri. Niat
mereka
> > sendiri, usaha mereka sendiri. Psikologi bisa membantu mengenali
> > kebutuhan mereka, memotivasi mereka untuk berubah, tapi.. yang
bisa
> > menentukan berubah atau tidak adalah diri mereka sendiri.
Psikologi
> > das Sollen bertujuan untuk membuat si penguasa ilmunya mampu
> mengenali
> > dan memediasi pencapaian kebutuhan orang. Psikologi das Sein,
> menurut
> > saya, sudah cukup melakukan hal itu walaupun tentu masih harus
> terus
> > berkembang. Salah satu perkembangan yang dibutuhkan agar
Psikologi
> das
> > Sein makin sesuai dengan khitahnya (Psikologi das Sollen) adalah:
> > penerimaan orang2 terhadap psikologi sebagai psikologi (baik
> > mainstream maupun perkembangannya yang sesuai).
> >
> > Apa yang terjadi sekarang? Psikologi kerap kali dirancukan dengan
> > "perkembangan" yang tidak sesuai. Apa yang sebenarnya masuk ke
> tataran
> > astrologi, kebatinan, dan entah apa lagi, semuanya "dirancukan"
> > sebagai bagian dari psikologi - dengan alasan bahwa semua adalah
> > mengenai manusia sebagai individu. Dengan kerancuan2 seperti ini,
> > makin sulit orang percaya pada psikologi, apalagi melibatkannya
> dalam
> > porsi yang tepat :). Siapa yang mau melibatkan ilmu psikologi
dalam
> > pembuatan program, jika baik/buruknya program dinilai dari
rating
> dan
> > jumlah keuntungan material (yang tidak ada sangkut pautnya dengan
> > psikologi)?
> >
> > Kesalahan siapakah hal ini? Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian
> > psikolog memang tidak perduli pada hal2 ini, kurang
memperjuangkan
> hal
> > ini. Tapi.. terus terang, menurut saya, hal ini juga diperparah
> oleh
> > "awam" yang memposisikan dirinya sebagai ahli psikologi.
Bayangkan,
> > sudah psikologinya sendiri belum jelas di mata awam, tiba2 ada
awam
> > yang memposisikan diri sebagai ahli.. bagaimana awam yang lain
bisa
> > membedakan mana yang psikologi beneran mana yang psikologi
> gadungan ;)?
> >
> > Akan halnya "debat (kusir?)" atau yang Bapak sebut "pepesan
kosong"
> > itu, menurut hemat saya, justru sedikit banyak menunjukkan ciri2
> > psikologi. Mungkin bukan mazhab Psikologi Positif, atau Psikologi
> > Humanistik, atau mazhab2 lain yang percaya pada kemampuan
manusia,
> > tapi.. saya melihatnya mencirikan salah satu mazhab klasik
> psikologi:
> > Behavioristik. Beberapa kasus mengingatkan saya pada percobaan
> tentang
> > Negative Reinforcement: dimana ketidakmunculan perilaku positif
> akan
> > mengakibatkan munculnya penguatan negatif. Memang tidak sempurna,
> > karena tidak ada fixed ratio, interval ratio, dll, tapi moga2
bisa
> > membantu shaping behavior.
> >
> > Kenapa Negative Reinforcement ini muncul? Sejauh yang saya amati,
> > karena pendekatan dengan mazhab psikologi yang lebih positif
sudah
> > dilakukan, tapi tidak berhasil. Subyek tetap tidak menyadari
bahwa
> > dirinya bermasalah, dan.. significant others-nya juga tetap tidak
> > mendukung subyek untuk menyadari masalahnya. Padahal, dalam
> psikologi,
> > semua "remedy" itu asalnya dari diri sendiri dan/atau dukungan
> > lingkungan. Integrasi antara keduanya. Kalau subyek tidak
menyadari
> > dirinya bermasalah, apalagi lingkungan mendukung konsep diri
> seperti
> > itu, setahu saya pendekatan psikologi yang paling positif pun
tidak
> > akan membawa perubahan :) Kembali ke konsep Mamamia: mau pakai
> > pendekatan apa pun, kalau Ajeng, Fiersha, dll tidak menyadari
> dirinya
> > perlu menjadi lebih baik, tidak akan pernah berhasil mereka
> berubah :)
> >
> > Jadi.. kalau sekarang Bapak bertanya: "Boro-boro ini yang
dibahas,
> > malahan urusan dekon mendekon, lalu ngapain dilayani ?
> > Tapi kalau yang muncul menjadi seperti itu, lalu masyarakat
> bertanya
> > dan mempertanyakan apakah anaknya akan didorong untuk belajar
> > psikologi", maka jawaban saya adalah demikian:
> >
> > Jika masyarakat masih melihat psikologi seperti Bapak melihat
> > psikologi, maka besar kemungkinan anaknya tidak akan didorong
untuk
> > belajar psikologi. Tapi.. jika masyarakat melihat psikologi
sebagai
> > psikologi, maka mungkin justru mereka akan mendorong anaknya
> belajar
> > psikologi.
> >
> > Mohon maaf, Pak Jusuf, saya menghargai Anda sebagai orang yang
> lebih
> > tua dan jelas sangat pandai serta arif. Saya juga pernah
mendengar
> > Bapak diminta mengajar di beberapa fakultas psikologi (kalau saya
> > tidak salah). Namun, mengenai psikologi ini, saya merasa Anda
> > mencampuradukkan psikologi dengan entah apa. Di satu sisi, hal
ini
> > mungkin memperkaya psikologi. Saya yakin pendapat2 Bapak
memperkaya
> > mazhab psikologi positif. Namun.. di sisi lain, seperti dalam
kasus
> > yang lebih dekat dengan mazhab klasik, membuat Bapak alpa
melihat
> apa
> > yang sebenarnya sangat psikologis :)
> >
> > Semoga tidak menyingung Bapak, ini hanya sekedar pendapat
seorang
> awam
> > yang tak berilmu :)
> >
> > Salam,
> >
> >
> >
> >
> >
> > LAMPIRAN fakta "Swastinika" = "Maya Notodisurjo"
> > Subject: 2 - Data: Swastinika = Maya Notodisurjo
> > From: "Audifax"<audifacx@>
> > D/D/T: Tue Nov 28, 2006 8:58 am
> >
>
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/12867
> >
>
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/12862
> > <audifacx@> wrote:
> >
> >
> > 2 Data Swastinika = Maya Notodisurjo
> >
> > Pembaca yang kebetulan menjadi member milis Psikologi
Transformatif
> > mungkin menyaksikan perdebatan antara saya dan seseorang dengan
ID:
> > Swastinika. Salah satu poin yang diperdebatkan di situ adalah
> mengenai
> > DATA vs INTERPRETASI. Saya selalu menunjukkan bahwa sejumlah
klaim
> > yang dikemukakan Swastinika adalah INTERPRETASI-nya semata,
> sebaliknya
> > Swastinika juga berkali-kali mendebat saya dengan mengatakan
bahwa
> apa
> > yang saya sebut sebagai DATA tak lebih dari INTERPRETASI saya.
> >
> > Walau ini hanyalah perdebatan antara Audifax dan Swastinika,
tetapi
> > saya tertarik untuk mengangkat sebagai satu bab pembahasan
> tersendiri,
> > karena perdebatan semacam itu bukan barang baru dalam ilmu
> > pengetahuan, setidaknya itu saya lihat dengan jelas di psikologi,
> > sebuah ranah ilmu yang selain bermain dengan DATA juga bermain
> dengan
> > INTERPRETASI. Maka dari itu, menjadi menarik bagi saya untuk
> > mengangkat dan menelaah lebih dalam polemik DATA vs INTERPRETASI
> > sehingga kita bisa belajar membedakan mana yang DATA dan mana
yang
> > INTERPRETASI.
> >
> > DATA secara umum bisa didefinisikan suatu hal yang kita ambil
pada
> > moment tertentu. Suatu yang terjadi di suatu tempat, di suatu
> waktu,
> > sehingga untuk verifikasinya bisa dirunut kembali sesuatu tempat,
> > waktu atau sumbernya. Dengan demikian, seberapa sesuatu memiliki
> > kemerujukan terhadap realitas itulah yang bisa disebut `Data'.
Hal
> ini
> > jelas tidak tampak pada klaim Swastinika berikut (tambahan bold
> dari
> > saya untuk memperjelas siapa/apa yang dirujuk oleh kata ganti
yang
> > digunakan dalam kalimat tersebut]:
> >
> > Well, let's say I know your (Audifax) story with those mailing
> lists
> > (Milis Psikologi Transformatif) ;) Anda dkk cukup terkenal, Audi-
> boy,
> > dan bukan karena skripsi Anda (Audifax) yg dibukukan itu ;)
> >
> > Pertama, sudah jelas bahwa SKRIPSI SAYA [AUDIFAX] TIDAK PERNAH
> > DIBUKUKAN. Jadi pernyataan "skripsi saya [Audifax] yang
dibukukan"
> itu
> > tak lebih dari interpretasi seenak udel dari Swastinika. Jika
yang
> > dimaksud adalah buku "Mite Harry Potter", maka makin jelas bahwa
> apa
> > yang disebut skripsi disitu adalah INTERPRETASI yang diletakkan
> secara
> > sembarangan. Siapapun boleh melakukan cross-check DATA yang saya
> > berikan, yaitu: SKRIPSI SAYA [AUDIFAX] TIDAK PERNAH DIBUKUKAN
> dengan
> > merujuk:
> >
> > 1. Fakultas Psikologi Universitas Surabaya atau perpustakaan
> > Universitas Surabaya. Atau siapapun yang kebetulan tahu
skripsinya
> > Audifax. Dari sini, anda akan dapat DATA bahwa skripsinya Audifax
> > bukan "Mite Harry Potter" sebagaimana diterbitkan oleh Jalasutra
> > melainkan "Konsep Perilaku Profesional [Profesionalisme] pada
> Tenaga
> > Kreatif di Biro Iklan – Studi Eksplanatif berdasar Teori
Grounded
> pada
> > Biro Iklan Surabaya"
> > 2. Di-cross-check ke pihak penerbit Jalasutra, apakah memang
> > Audifax pernah mempublikasikan atau mengabarkan bahwa naskah yang
> > ditawarkan dan kemudian terbit adalah skripsinya. Anda bisa
> melakukan
> > e-mail pada: redaksi_bdg@
> > 3. Cross check ke toko buku, jika ditemukan bahwa "Konsep
> Perilaku
> > Profesional [Profesionalisme] pada Tenaga Kreatif di Biro Iklan –
> > Studi Eksplanatif berdasar Teori Grounded pada Biro Iklan
Surabaya"
> > karya Audifax ternyata sudah terbit dalam bentuk buku, maka
klaim
> saya
> > bahwa SKRIPSI SAYA [AUDIFAX] TIDAK PERNAH DIBUKUKAN otomatis
gugur.
> >
> > Di sinilah baru kita bisa bicara data, setelah melihat dan
> > kemerujukannya pada tempat, waktu, peristiwa tertentu yang bisa
> > diakses untuk verifikasinya. Dan siapapun yang mengakses, akan
> > mendapat hasil yang sama.
> >
> > Kedua, perkataan Swastinika berikut: "let's say I know your
> (Audifax)
> > story with those mailing lists (Milis Psikologi
Transformatif) ;)"
> > juga adalah interpretasi, karena saya ketika mendirikan milis
> > Psikologi Transformatif, sama sekali tidak pernah mengenal atau
ada
> > orang di sekeliling saya bernama Swastinika [atau Maya
> Notodisurjo].
> > Jadi perkataan "I know your story with those mailing list" itu
sama
> > sekali bukan data, melainkan kesoktahuan yang diwujudkan dalam
> > interpretasi. Mungkin Swastinika ini anggota PERKEMI, "Persatuan
> > Kemeruh Indonesia" [Kemeruh= basa Jawa untuk Sok Tahu].
> >
> > Jadi kesoktahuan ini jelas sama sekali bukan data..lha wong tidak
> > pernah ketemu dan Cuma modal nggosip kok berani-beraninya
bilang "I
> > know"? Apa bukan takabur dan seenak udel namanya? Apalagi
dikaitkan
> > dengan ide awal membentuk mailing list ini, bukankah ini Cuma
> bentuk
> > perilaku TAK TAHU MALU DARI SEORANG MAYA NOTODISURJO DI HADAPAN
> > REALITAS YANG SAMA SEKALI TAK DIKETAHUINYA?
> >
> > Pada titik ini, saya akan mengutip kembali apa yang ditulis Maya
> > ketika saya mengatakan bahwa dia "Sok Tahu":
> >
> > Ah.. sebuah tuduhan baru: sok tahu ;). Mungkin sebentar lagi TV
> bisa
> > bikin acara baru: Gemar Menuduh asuhan Audifax. Seperti acara
Gemar
> > Menggambar asuhan Pak Tino Sidin dulu ;)
> >
> > Dengan paparan saya di atas, jelas bukan sebuah tuduhan, tetapi
> > sesuatu yang berdasarkan data. Apalagi yang lebih tepat untuk
> > menggambarkan orang yang merasa tahu apa yang sebenarnya tidak
> > diketahuinya, selain "Sok Tahu"? Justru yang paling pas
diusulkan
> pada
> > stasiun televisi di sini adalah acara "Gemar Sok Tahu" asuhan
Maya
> > Notodisurjo, lulusan Psikologi Universitas Indonesia dan
Peneliti
> di
> > PROMPT Research.
> >
> > Lalu, mari di sini kita praktekkan langsung apa itu data dan
> bagaimana
> > mencari data yang benar. Bukan itu saja, pada latihan kali ini,
> saya
> > akan tunjukkan sebuah data yang bisa diverifikasi dan dirujuk
siapa
> > saja yang kebetulan tengah membaca tulisan ini secara online.
> >
> > Ketika saya menanyakan: "Anda sendiri masuk kategori yang
> mana? "Yang
> > pernah belajar psikologi" atau "Yang belum pernah belajar
> psikologi?"
> >
> > Swastinika tidak mau menjawab pertanyaan saya tersebut melainkan
> > menjawab demikian:
> >
> > Menurut Anda ;)? It's for you to judge ;)
> >
> > Mari kita ikuti langkah-langkah berikut untuk melihat siapa yang
> > terbiasa melakukan judge.
> >
> > Langkah 1
> > Swastinika pernah menulis dengan menyebut-nyebut PSIINDONESIA,
> > terutama ketika ia membandingkan bahwa di sana milisnya bersifat
> > tertutup. Maka saya meletakkan `hipotesa' bahwa swastinika adalah
> > member milis PSIINDONESIA. Saya berharap memeroleh sesuatu yang
> bisa
> > menghantar untuk memberi gambaran secara akurat [dalam bentuk
data]
> > mengenai Swastinika.
> >
> > Jika anda member PSIINDONESIA atau mempunyai akses ke milis
> tersebut
> > melalui e-mail teman, silahkan melakukan pencarian dengan kata
> kunci
> > "Swastinika" pada fasilitas search di milis PSIINDONESIA, di
sana
> anda
> > akan menemukan dua posting di link:
> > http://groups.yahoo.com/group/psiindonesia/message/3017 dan
> > http://groups.yahoo.com/group/psiindonesia/message/3665 inilah
> > lengkapnya tampilan hasil pencarian:
> >
> > 3665 Re: TtgRajudariNONPSIKOLOG
> > Kemarin Pak Wisnu menulis sebagai berikut: Message: 7 Date: Tue,
7
> Mar
> > 2006 14:02:04 +0700 From: "Wisnubroto" <wisnu@ Subject: Re:
> > TtgRajudariNONPSIKOLOG Hari ini ( 7 februari 2006 ) di Kompas ada
> > berita tentang Raju, dengan judul "Yang hilang mengenai ... Maya
> > Notodisurjo
> > mayanoto@
> > swastinika
> > Mar 7, 2006
> >
> > 8:01 pm 3017 RE: s.psi. jadi tukang tes
> > Mengenai S.Psi jadi tukang tes ini, saya punya "cerita" yg agak
> > mengkhawatirkan. Beberapa bulan lalu, sepupu saya, ibu dari
seorang
> > anak berusia 4 thn, menelepon saya dengan panik. Katanya, hasil
> > pemeriksaan tes psikologis anaknya menunjukkan gejala2 ... Maya
> > Notodisurjo
> > mayanoto@
> > swastinika
> > Oct 11, 2005
> > 12:08 am
> >
> > Baik pada tulisan yang mereply kasus Raju maupun S. Psi jadi
tukang
> > tes, di bagian bawahnya tertulis DATA sebagai berikut:
> >
> > Best Regards,
> > MAYA NOTODISURJO (Psi 91)
> >
> > "Maya Notodisurjo" <mayanoto@> swastinika
> >
> > Sampai di sini, saya sudah punya `Data' bahwa Swastinika adalah
> > termasuk golongan "Yang pernah belajar psikologi" dan itu bukan
> judge,
> > karena ditulis oleh Swastinika atau Maya Notodisurjo sendiri,
yaitu
> > "Psi 91".
> >
> > Tetapi apakah cukup `data' dari milis PSIINDONESIA saja? Tentu
> tidak.
> > Dalam mencari data kita harus melihat bahwa ada kemungkinan data
> itu
> > salah. Kemungkinannya di sini adalah Maya Notodisurjo yang
memakai
> ID
> > Swastinika di milis PSIINDONESIA berbeda dengan Swastinika yang
> tengah
> > berdebat dengan Audifax di milis Psikologi Transformatif, maka
saya
> > harus menguji data tersebut.
> >
> > Langkah ke 2
> > Saya cari di Google, setelah terlebih dulu men-setting pencarian
> hanya
> > dalam bahasa Indonesia. Pencarian dilakukan dengan menggunakan
> > pertama: hanya kata kunci "Swastinika", kedua: hanya kata
> kunci "Maya
> > Notodisurjo" dan ketiga: menggabungkan kata kunci "Swastinika"
dan
> > "Maya Notodisurjo". Ternyata di link:
> > http://groups.yahoo.com/group/kritik-iklan/message/23924 saya
> temukan:
> >
> > MAYA NOTODISURJO
> >
> > PROMPT Research
> >
> > Century Tower 5th Floor, # 501
> >
> > Jl. HR Rasuna Said Kav. X2 no. 4
> >
> > Jakarta 12950
> >
> > Pada blog dari Maya Notodisurjo [link:
> > http://smritacharita.blogspot.com/2006/11/siren-is-gold.html]
saya
> > temukan tulisan dari Maya Notodisurjo berjudul: "Siren is Gold"
> yang
> > menceritakan perdebatan di milis Psikologi Transformatif.
> >
> > Sampai pada langkah ini, barulah bisa dikatakan bahwa Data
> > "Swastinika=Maya Notodisurjo" telah ditriangulasi kebenarannya.
> >
> > Bahkan didapat data lain seperti:
> >
> > Maya Notodisurjo Graduated from University of Indonesia majoring
on
> > psychology in 1997. Her career in marketing research was started
at
> > DEKA Marketing Research right after her graduation. She left
DEKA
> to
> > joint NFO Consensus/ MBL in early 2001. She joins Prompt since
> early
> > 2002. Specialized in Qualitative Research, she has handled
> hundreds of
> > projects using both Focus Group Discussions and In-Depth
Interviews
> > for various products; consumer goods, advertising, cigarettes,
> > banking/insurance products, etc. She has a lot of experience with
> > motivational studies especially among mothers and kids research
> [link:
> > http://www.researchinfo.com/noindex/directory/details.cfm?
ID=1923 ]
> >
> > Di link: http://forum.researchinfo.com/member.php?u=734 terdapat
> data
> >
> > Date of Birth:June 18, 1972
> > Age:34
> > First Name:Maya
> > Last Name:Notodisurjo
> > Title:Research Manager
> > Company:PROMPT Research
> > Location:Jakarta, Indonesia
> > Research Role:Supplier Side
> > Gender:Female
> > Biography:
> > I start working in marketing research in July 1997, just a week
> after
> > my graduation from Faculty of Interests:
> > reading, philosophy, art
> >
> > di link: http://beta.blogger.com/profile/12852344001407144142
> terdapat
> > data:
> >
> > Age: 34 Gender: Female Astrological Sign: Gemini Zodiac Year: Rat
> > Industry: Marketing Occupation: Researcher Location: Jakarta :
> Indonesia
> >
> > Dari hasil pencarian masih bisa ditemukan beberapa blog dan
posting
> > pada milis, salah satu data lain yang bisa saya dapat adalah Maya
> > Notodisurjo memiliki putri bernama Swastinika Naima Moertadho,
yang
> > lahir di Jakarta tahun 1999. Jadi di sini kita juga bisa tahu
bahwa
> > `Swastinika' merujuk pada nama putri dari Maya Notodisurjo.
> >
> > Sampai di sini pembaca sudah bisa membedakan mana yang DATA dan
> mana
> > yang INTERPRETASI pada contoh yang saya tunjukkkan di atas. Jadi,
> > penilaian pada mana yang DATA dan INTERPRETASI saya serahkan
saja
> pada
> > pembaca.
> >
> > © Audifax – 28 November2006
> >
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Groups

Be a Better Planet

Share with others

Help the Planet.

Y! Messenger

Instant smiles

Share photos while

you IM friends.

Yahoo! Groups

Endurance Zone

b/c every athlete

needs an edge.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] kompas hari ini

Hasil penelitian Departemen Kesehatan dan Universitas Indonesia di
Jawa Barat (2002) menemukan, 36 persen pasien yang berobat ke
puskesmas mengalami gangguan kesehatan jiwa. Hal ini bisa mewakili
kondisi masyarakat secara umum. Gangguan yang umum terjadi adalah
gangguan afektif atau gangguan mood, yaitu kecemasan, depresi, dan
mania.

Menurut pembicara lain, dokter ahli jiwa Evalina Asnawi Hutagalung,
anxiety atau kecemasan adalah perasaan tidak menyenangkan, tidak
menentu dan kabur tentang sesuatu yang akan terjadi. Perasaan itu
disertai beberapa reaksi tubuh yang khas dan datang berulang, seperti
rasa kosong di perut, dada sesak, jantung berdebar, keringat
berlebihan, sakit kepala, dan rasa ingin buang air kecil ataupun
besar. Perasaan ini disertai rasa ingin bergerak dan gelisah.

Gejala psikologis yang terasa antara lain berupa ketegangan,
kekhawatiran, panik, perasaan tidak nyata, takut mati, takut gila,
dan
takut kehilangan kontrol. Jenis gangguan kecemasan adalah gangguan
panik, gangguan fobia, gangguan obsesif kompulsif, stres pascatrauma,
gangguan stres akut, dan gangguan kecemasan menyeluruh.

Adapun gejala pokok depresi, menurut R Surya Widya, dokter ahli jiwa
dari Rumah Sakit Jiwa Dr Soeharto Heerdjan Jakarta, adalah perasaan
sedih dan kehilangan minat terhadap segala sesuatu. Pasien merasa
murung, tidak memiliki harapan, terbuang, dan tidak berharga. Sekitar
66 persen penderita depresi memikirkan untuk bunuh diri, tetapi hanya
10-15 persen yang melakukan.

Sementara apa yang disebut dengan mania, menurut Hidayat, adalah
suasana perasaan yang meningkat disertai peningkatan jumlah dan
kecepatan aktivitas fisik dan mental dalam berbagai derajat
keparahan.
Gejalanya berupa rasa senang berlebihan, energi bertambah, timbul
hiperaktif, kebutuhan tidur berkurang, dan psikomotilitas meningkat,
seperti banyak bicara dan merasa sangat optimistis. (atk)

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Fitness Edge

A Yahoo! Group

about sharing fitness

and endurance goals.

Official Samsung

Yahoo! Group for

supporting your

HDTVs and devices.

Real Food Group

Share recipes

and favorite meals

w/ Real Food lovers.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Maya Notodisurjo : Psikolog Spesialis Praktik Hukum Negative Reinforcement

sesama anjing dilarang saling "guk guk guk!!!!"

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "Alexander"
<alexanderkhoe@...> wrote:
>
> ANJING MILIS INI LAGI BERAKSI
> ARENA SIRKUS INI LUCU SETENGAH MATI
> MEMBUAT DAKU TERTAWA HOHOHO HAHAHA HIHIHI
>
> MARI KELUARKAN TONGKAT KITA
> TUK GEBUK ANJING GILA
>
>
>
>
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "intel.psitrans"
> <intel.psitrans@> wrote:
> >
> > Maya Notodisurjo : Psikolog Spesialis Praktik Hukum Negative
> Reinforcement
> > (Baca email terlampir: Data Swastinika = Maya Notodisurjo)
> >
> >
> >
> > Pengantar
> >
> > Negative Reinforcement (stimulus negatif) secara sah / legal /
> resmi /
> > boleh dilakukan siapa saja bertitel Psikolog terhadap siapapun
orang
> > non-psikologi yang ingin dijadikan target korban. Sebagai
psikolog
> > maka memiliki hak untuk mengatur nasib psikologis orang lain,
> bilamana
> > tidak menurut hukum psikologi maka siapapun dapat diberi sangsi
> tegas
> > di dunia maya dan dunia nyata. Silahkan baca dialog-dialog dengan
> > Psikolog Maya Notodisurjo di bawah ini tentang sangsi yang boleh
> > secara tegas diberikan kepada pihak-pihak yang dianggap bersalah
> dalam
> > hukum Psikologi di Indonesia.
> >
> > Sangsi-sangsi ala Psikologi tsb diantaranya berupa:
> > * Teror kepada anggota keluarga dengan sita jaminan.
> > * Cacimaki dengan bahasa kotor ala Psikologi kepada subject dan
> > keluarga subject.
> > * Pemalsuan dan penyebarluasan data kepribadian korban.
> > * Pemalsuan bukti korban dan pemalsuan kuesioner.
> > * Usaha pemerasan, penangkapan dan pemenjaraan melalui jalur
hukum.
> >
> > Untuk mengamati penerapan hukum ala Psikologi yang berlaku di
> > Indonesia dengan contoh praktikalnya dapat diamati prilaku para
> > psikolog kondang kita seperti misalnya Audifax, Ratih Ibrahim
> (sering
> > muncul di televisi dan majalah), Sinaga Harez Posma, dan di Maya
> > Notodisurjo di:
> > http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/messages .
> >
> >
> >
> >
> >
> > Subject: Psikologi ala Pak Jusuf Sutanto (was Re: Yuk kita rame2)
> > From: "monde78100" <monde78100@>
> > D/D/T:Wed Oct 24, 2007 2:48 pm
> > e-link:
> >
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/33233
> > "swastinika" <swastinika@> wrote:
> >
> >
> > Swastinika menulis :
> > Kenapa Negative Reinforcement ini muncul? Sejauh yang saya amati,
> > karena pendekatan dengan mazhab psikologi yang lebih positif
sudah
> > dilakukan,tapi tidak berhasil.
> >
> > Monde : Mbak Swas, dari mana muncul penilaian tidak berhasil?
> Bukankah
> > justru kita seharusnya terus berusaha untuk menggunakan mazhab
> > psikologi yang positif dibandingkan menyerah dengan Negative
> > Reinforcement? Sebaiknya tidak ada alasan untuk membenarkan
> munculnya
> > Negative Reinforcement. Mungkin saja Negative Reinforcemet
memiliki
> > daya supaya setiap pelakunya akhirnya dapat mengambil hikmahnya.
> Tapi
> > bukan sebagai saran atau toleransi untuk memicu/membenarkan
Negative
> > Reinforcement tersebut. Justru kita harus mengambil sikap tidak
> > mendukungnya.
> >
> > Swastinika menulis :
> > Subyek tetap tidak menyadari bahwa dirinya bermasalah, dan..
> > significant others-nya juga tetap tidak mendukung subyek untuk
> > menyadari masalahnya.
> >
> > Monde : Ini adalah pengamatan sepihak mbak Swas. Bermasalah atau
> tidak
> > bermasalahnya seseorang tergantung dari sudut kepentingan para
> > pengamatnya. Kalau mau melihatnya dengan sungguh-sungguh inilah
yang
> > terjadi pada fenomena kompatiologi. Vcl dianggap bermasalah atau
> tidak
> > tergantung dari kepentingan terhadap kompatiologi ataupun
> > pertemanannya dengan Vcl. Jadi itu sangat subyektif sifatnya.
Jadi
> > tetap tidak bisa dipukul-rata Vcl sudah pasti bermasalah untuk
> > membenarkan munculnya Negative Reinforcement karena teman-
temannya
> > sudah tidak sanggup. Mbak Swas jangan terburu-buru memberikan cap
> > penilaian kalau kenal dengan Vcl dan teman-temannya saja cuma
dari
> milis.
> >
> > Swastinika menulis :
> > Padahal, dalam psikologi, semua "remedy" itu asalnya dari diri
> sendiri
> > dan/atau dukungan lingkungan. Integrasi antara keduanya. Kalau
> subyek
> > tidak menyadari dirinya bermasalah, apalagi lingkungan mendukung
> > konsep diri seperti itu, setahu saya pendekatan psikologi yang
> paling
> > positif pun tidak akan membawa perubahan :)
> >
> > Monde : Sekali lagi apa yang dikatakan oleh mbak Swas sendiri
justru
> > menunjukkan kerelatifan suatu perilaku seseorang. Bukankah
> bermasalah
> > atau tidaknya seseorang sangat tergantung dari penilaian
> > lingkungannya? Nah kalau lingkungannya sudah mendukung, apa
> masalahnya
> > kalau begitu? Vcl bermasalah bagi mbak Swas itu sih urusan
> kepentingan
> > mbak Swas. Sekali-lagi tidak bisa dipukul-rata kalau mbak Swas
sudah
> > memberikan penilaian Vcl bermasalah maka dianggap bagi seluruh
> > lingkungan lainnya pasti menilai juga Vcl bermasalah sekaligus
> > menganggap lingkungan lain adalah buta jika tidak melihatnya. Vcl
> > memiliki kekurangan iya. Kita semua pun memiliki kekurangan. Tapi
> > apakah kekurangan (yang lagi-lagi relatif) itu bermasalah bagi
> > lingkungannya itu soal lain.
> >
> > Swastinika menulis:
> > Kembali ke konsep Mamamia: mau pakai pendekatan apa pun, kalau
> Ajeng,
> > Fiersha, dll tidak menyadari dirinya perlu menjadi lebih baik,
tidak
> > akan pernah berhasil mereka berubah :)
> >
> > Monde : Setuju!
> >
> > Mbak Swas mau beli Mondenya? Pliiissss
> >
> >
> >
> >
> >
> > Email sebelumnya:
> > Subject: Psikologi ala Pak Jusuf Sutanto (was Re: Yuk kita rame2)
> > From: Swastinika / Maya Notodisurjo
> > D/D/T: Wed Oct 24, 2007 10:58 am
> > e-link:
> >
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/33216
> > "swastinika" <swastinika@> wrote:
> >
> >
> > Pak Jusuf yth,
> >
> > Sejak kemarin ingin mengomentari tulisan Bapak, namun baru sempat
> > memformulasikannya sekarang :) Moga2 tidak menyinggung Bapak :)
> >
> > Pembahasan Bapak mengenai Mamamia menarik, tapi.. menurut hemat
> saya,
> > Bapak justru melupakan satu faktor penting dalam perubahan yang
> > terjadi dalam acara tersebut :) Yang mengubah diri si anak
jalanan,
> si
> > tuna netra, si ibu rumah tangga ADALAH mereka sendiri. Niat
mereka
> > sendiri, usaha mereka sendiri. Psikologi bisa membantu mengenali
> > kebutuhan mereka, memotivasi mereka untuk berubah, tapi.. yang
bisa
> > menentukan berubah atau tidak adalah diri mereka sendiri.
Psikologi
> > das Sollen bertujuan untuk membuat si penguasa ilmunya mampu
> mengenali
> > dan memediasi pencapaian kebutuhan orang. Psikologi das Sein,
> menurut
> > saya, sudah cukup melakukan hal itu walaupun tentu masih harus
terus
> > berkembang. Salah satu perkembangan yang dibutuhkan agar
Psikologi
> das
> > Sein makin sesuai dengan khitahnya (Psikologi das Sollen) adalah:
> > penerimaan orang2 terhadap psikologi sebagai psikologi (baik
> > mainstream maupun perkembangannya yang sesuai).
> >
> > Apa yang terjadi sekarang? Psikologi kerap kali dirancukan dengan
> > "perkembangan" yang tidak sesuai. Apa yang sebenarnya masuk ke
> tataran
> > astrologi, kebatinan, dan entah apa lagi, semuanya "dirancukan"
> > sebagai bagian dari psikologi - dengan alasan bahwa semua adalah
> > mengenai manusia sebagai individu. Dengan kerancuan2 seperti ini,
> > makin sulit orang percaya pada psikologi, apalagi melibatkannya
> dalam
> > porsi yang tepat :). Siapa yang mau melibatkan ilmu psikologi
dalam
> > pembuatan program, jika baik/buruknya program dinilai dari
rating
> dan
> > jumlah keuntungan material (yang tidak ada sangkut pautnya dengan
> > psikologi)?
> >
> > Kesalahan siapakah hal ini? Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian
> > psikolog memang tidak perduli pada hal2 ini, kurang
memperjuangkan
> hal
> > ini. Tapi.. terus terang, menurut saya, hal ini juga diperparah
oleh
> > "awam" yang memposisikan dirinya sebagai ahli psikologi.
Bayangkan,
> > sudah psikologinya sendiri belum jelas di mata awam, tiba2 ada
awam
> > yang memposisikan diri sebagai ahli.. bagaimana awam yang lain
bisa
> > membedakan mana yang psikologi beneran mana yang psikologi
> gadungan ;)?
> >
> > Akan halnya "debat (kusir?)" atau yang Bapak sebut "pepesan
kosong"
> > itu, menurut hemat saya, justru sedikit banyak menunjukkan ciri2
> > psikologi. Mungkin bukan mazhab Psikologi Positif, atau Psikologi
> > Humanistik, atau mazhab2 lain yang percaya pada kemampuan
manusia,
> > tapi.. saya melihatnya mencirikan salah satu mazhab klasik
> psikologi:
> > Behavioristik. Beberapa kasus mengingatkan saya pada percobaan
> tentang
> > Negative Reinforcement: dimana ketidakmunculan perilaku positif
akan
> > mengakibatkan munculnya penguatan negatif. Memang tidak sempurna,
> > karena tidak ada fixed ratio, interval ratio, dll, tapi moga2
bisa
> > membantu shaping behavior.
> >
> > Kenapa Negative Reinforcement ini muncul? Sejauh yang saya amati,
> > karena pendekatan dengan mazhab psikologi yang lebih positif
sudah
> > dilakukan, tapi tidak berhasil. Subyek tetap tidak menyadari
bahwa
> > dirinya bermasalah, dan.. significant others-nya juga tetap tidak
> > mendukung subyek untuk menyadari masalahnya. Padahal, dalam
> psikologi,
> > semua "remedy" itu asalnya dari diri sendiri dan/atau dukungan
> > lingkungan. Integrasi antara keduanya. Kalau subyek tidak
menyadari
> > dirinya bermasalah, apalagi lingkungan mendukung konsep diri
seperti
> > itu, setahu saya pendekatan psikologi yang paling positif pun
tidak
> > akan membawa perubahan :) Kembali ke konsep Mamamia: mau pakai
> > pendekatan apa pun, kalau Ajeng, Fiersha, dll tidak menyadari
> dirinya
> > perlu menjadi lebih baik, tidak akan pernah berhasil mereka
> berubah :)
> >
> > Jadi.. kalau sekarang Bapak bertanya: "Boro-boro ini yang
dibahas,
> > malahan urusan dekon mendekon, lalu ngapain dilayani ?
> > Tapi kalau yang muncul menjadi seperti itu, lalu masyarakat
> bertanya
> > dan mempertanyakan apakah anaknya akan didorong untuk belajar
> > psikologi", maka jawaban saya adalah demikian:
> >
> > Jika masyarakat masih melihat psikologi seperti Bapak melihat
> > psikologi, maka besar kemungkinan anaknya tidak akan didorong
untuk
> > belajar psikologi. Tapi.. jika masyarakat melihat psikologi
sebagai
> > psikologi, maka mungkin justru mereka akan mendorong anaknya
belajar
> > psikologi.
> >
> > Mohon maaf, Pak Jusuf, saya menghargai Anda sebagai orang yang
lebih
> > tua dan jelas sangat pandai serta arif. Saya juga pernah
mendengar
> > Bapak diminta mengajar di beberapa fakultas psikologi (kalau saya
> > tidak salah). Namun, mengenai psikologi ini, saya merasa Anda
> > mencampuradukkan psikologi dengan entah apa. Di satu sisi, hal
ini
> > mungkin memperkaya psikologi. Saya yakin pendapat2 Bapak
memperkaya
> > mazhab psikologi positif. Namun.. di sisi lain, seperti dalam
kasus
> > yang lebih dekat dengan mazhab klasik, membuat Bapak alpa
melihat
> apa
> > yang sebenarnya sangat psikologis :)
> >
> > Semoga tidak menyingung Bapak, ini hanya sekedar pendapat
seorang
> awam
> > yang tak berilmu :)
> >
> > Salam,
> >
> >
> >
> >
> >
> > LAMPIRAN fakta "Swastinika" = "Maya Notodisurjo"
> > Subject: 2 - Data: Swastinika = Maya Notodisurjo
> > From: "Audifax"<audifacx@>
> > D/D/T: Tue Nov 28, 2006 8:58 am
> >
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/12867
> >
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/12862
> > <audifacx@> wrote:
> >
> >
> > 2 Data Swastinika = Maya Notodisurjo
> >
> > Pembaca yang kebetulan menjadi member milis Psikologi
Transformatif
> > mungkin menyaksikan perdebatan antara saya dan seseorang dengan
ID:
> > Swastinika. Salah satu poin yang diperdebatkan di situ adalah
> mengenai
> > DATA vs INTERPRETASI. Saya selalu menunjukkan bahwa sejumlah
klaim
> > yang dikemukakan Swastinika adalah INTERPRETASI-nya semata,
> sebaliknya
> > Swastinika juga berkali-kali mendebat saya dengan mengatakan
bahwa
> apa
> > yang saya sebut sebagai DATA tak lebih dari INTERPRETASI saya.
> >
> > Walau ini hanyalah perdebatan antara Audifax dan Swastinika,
tetapi
> > saya tertarik untuk mengangkat sebagai satu bab pembahasan
> tersendiri,
> > karena perdebatan semacam itu bukan barang baru dalam ilmu
> > pengetahuan, setidaknya itu saya lihat dengan jelas di psikologi,
> > sebuah ranah ilmu yang selain bermain dengan DATA juga bermain
> dengan
> > INTERPRETASI. Maka dari itu, menjadi menarik bagi saya untuk
> > mengangkat dan menelaah lebih dalam polemik DATA vs INTERPRETASI
> > sehingga kita bisa belajar membedakan mana yang DATA dan mana
yang
> > INTERPRETASI.
> >
> > DATA secara umum bisa didefinisikan suatu hal yang kita ambil
pada
> > moment tertentu. Suatu yang terjadi di suatu tempat, di suatu
waktu,
> > sehingga untuk verifikasinya bisa dirunut kembali sesuatu tempat,
> > waktu atau sumbernya. Dengan demikian, seberapa sesuatu memiliki
> > kemerujukan terhadap realitas itulah yang bisa disebut `Data'.
Hal
> ini
> > jelas tidak tampak pada klaim Swastinika berikut (tambahan bold
dari
> > saya untuk memperjelas siapa/apa yang dirujuk oleh kata ganti
yang
> > digunakan dalam kalimat tersebut]:
> >
> > Well, let's say I know your (Audifax) story with those mailing
lists
> > (Milis Psikologi Transformatif) ;) Anda dkk cukup terkenal, Audi-
> boy,
> > dan bukan karena skripsi Anda (Audifax) yg dibukukan itu ;)
> >
> > Pertama, sudah jelas bahwa SKRIPSI SAYA [AUDIFAX] TIDAK PERNAH
> > DIBUKUKAN. Jadi pernyataan "skripsi saya [Audifax] yang
dibukukan"
> itu
> > tak lebih dari interpretasi seenak udel dari Swastinika. Jika
yang
> > dimaksud adalah buku "Mite Harry Potter", maka makin jelas bahwa
apa
> > yang disebut skripsi disitu adalah INTERPRETASI yang diletakkan
> secara
> > sembarangan. Siapapun boleh melakukan cross-check DATA yang saya
> > berikan, yaitu: SKRIPSI SAYA [AUDIFAX] TIDAK PERNAH DIBUKUKAN
dengan
> > merujuk:
> >
> > 1. Fakultas Psikologi Universitas Surabaya atau perpustakaan
> > Universitas Surabaya. Atau siapapun yang kebetulan tahu
skripsinya
> > Audifax. Dari sini, anda akan dapat DATA bahwa skripsinya Audifax
> > bukan "Mite Harry Potter" sebagaimana diterbitkan oleh Jalasutra
> > melainkan "Konsep Perilaku Profesional [Profesionalisme] pada
Tenaga
> > Kreatif di Biro Iklan – Studi Eksplanatif berdasar Teori
Grounded
> pada
> > Biro Iklan Surabaya"
> > 2. Di-cross-check ke pihak penerbit Jalasutra, apakah memang
> > Audifax pernah mempublikasikan atau mengabarkan bahwa naskah yang
> > ditawarkan dan kemudian terbit adalah skripsinya. Anda bisa
> melakukan
> > e-mail pada: redaksi_bdg@
> > 3. Cross check ke toko buku, jika ditemukan bahwa "Konsep
> Perilaku
> > Profesional [Profesionalisme] pada Tenaga Kreatif di Biro Iklan –
> > Studi Eksplanatif berdasar Teori Grounded pada Biro Iklan
Surabaya"
> > karya Audifax ternyata sudah terbit dalam bentuk buku, maka
klaim
> saya
> > bahwa SKRIPSI SAYA [AUDIFAX] TIDAK PERNAH DIBUKUKAN otomatis
gugur.
> >
> > Di sinilah baru kita bisa bicara data, setelah melihat dan
> > kemerujukannya pada tempat, waktu, peristiwa tertentu yang bisa
> > diakses untuk verifikasinya. Dan siapapun yang mengakses, akan
> > mendapat hasil yang sama.
> >
> > Kedua, perkataan Swastinika berikut: "let's say I know your
> (Audifax)
> > story with those mailing lists (Milis Psikologi
Transformatif) ;)"
> > juga adalah interpretasi, karena saya ketika mendirikan milis
> > Psikologi Transformatif, sama sekali tidak pernah mengenal atau
ada
> > orang di sekeliling saya bernama Swastinika [atau Maya
Notodisurjo].
> > Jadi perkataan "I know your story with those mailing list" itu
sama
> > sekali bukan data, melainkan kesoktahuan yang diwujudkan dalam
> > interpretasi. Mungkin Swastinika ini anggota PERKEMI, "Persatuan
> > Kemeruh Indonesia" [Kemeruh= basa Jawa untuk Sok Tahu].
> >
> > Jadi kesoktahuan ini jelas sama sekali bukan data..lha wong tidak
> > pernah ketemu dan Cuma modal nggosip kok berani-beraninya
bilang "I
> > know"? Apa bukan takabur dan seenak udel namanya? Apalagi
dikaitkan
> > dengan ide awal membentuk mailing list ini, bukankah ini Cuma
bentuk
> > perilaku TAK TAHU MALU DARI SEORANG MAYA NOTODISURJO DI HADAPAN
> > REALITAS YANG SAMA SEKALI TAK DIKETAHUINYA?
> >
> > Pada titik ini, saya akan mengutip kembali apa yang ditulis Maya
> > ketika saya mengatakan bahwa dia "Sok Tahu":
> >
> > Ah.. sebuah tuduhan baru: sok tahu ;). Mungkin sebentar lagi TV
bisa
> > bikin acara baru: Gemar Menuduh asuhan Audifax. Seperti acara
Gemar
> > Menggambar asuhan Pak Tino Sidin dulu ;)
> >
> > Dengan paparan saya di atas, jelas bukan sebuah tuduhan, tetapi
> > sesuatu yang berdasarkan data. Apalagi yang lebih tepat untuk
> > menggambarkan orang yang merasa tahu apa yang sebenarnya tidak
> > diketahuinya, selain "Sok Tahu"? Justru yang paling pas
diusulkan
> pada
> > stasiun televisi di sini adalah acara "Gemar Sok Tahu" asuhan
Maya
> > Notodisurjo, lulusan Psikologi Universitas Indonesia dan
Peneliti di
> > PROMPT Research.
> >
> > Lalu, mari di sini kita praktekkan langsung apa itu data dan
> bagaimana
> > mencari data yang benar. Bukan itu saja, pada latihan kali ini,
saya
> > akan tunjukkan sebuah data yang bisa diverifikasi dan dirujuk
siapa
> > saja yang kebetulan tengah membaca tulisan ini secara online.
> >
> > Ketika saya menanyakan: "Anda sendiri masuk kategori yang
> mana? "Yang
> > pernah belajar psikologi" atau "Yang belum pernah belajar
> psikologi?"
> >
> > Swastinika tidak mau menjawab pertanyaan saya tersebut melainkan
> > menjawab demikian:
> >
> > Menurut Anda ;)? It's for you to judge ;)
> >
> > Mari kita ikuti langkah-langkah berikut untuk melihat siapa yang
> > terbiasa melakukan judge.
> >
> > Langkah 1
> > Swastinika pernah menulis dengan menyebut-nyebut PSIINDONESIA,
> > terutama ketika ia membandingkan bahwa di sana milisnya bersifat
> > tertutup. Maka saya meletakkan `hipotesa' bahwa swastinika adalah
> > member milis PSIINDONESIA. Saya berharap memeroleh sesuatu yang
bisa
> > menghantar untuk memberi gambaran secara akurat [dalam bentuk
data]
> > mengenai Swastinika.
> >
> > Jika anda member PSIINDONESIA atau mempunyai akses ke milis
tersebut
> > melalui e-mail teman, silahkan melakukan pencarian dengan kata
kunci
> > "Swastinika" pada fasilitas search di milis PSIINDONESIA, di
sana
> anda
> > akan menemukan dua posting di link:
> > http://groups.yahoo.com/group/psiindonesia/message/3017 dan
> > http://groups.yahoo.com/group/psiindonesia/message/3665 inilah
> > lengkapnya tampilan hasil pencarian:
> >
> > 3665 Re: TtgRajudariNONPSIKOLOG
> > Kemarin Pak Wisnu menulis sebagai berikut: Message: 7 Date: Tue,
7
> Mar
> > 2006 14:02:04 +0700 From: "Wisnubroto" <wisnu@ Subject: Re:
> > TtgRajudariNONPSIKOLOG Hari ini ( 7 februari 2006 ) di Kompas ada
> > berita tentang Raju, dengan judul "Yang hilang mengenai ... Maya
> > Notodisurjo
> > mayanoto@
> > swastinika
> > Mar 7, 2006
> >
> > 8:01 pm 3017 RE: s.psi. jadi tukang tes
> > Mengenai S.Psi jadi tukang tes ini, saya punya "cerita" yg agak
> > mengkhawatirkan. Beberapa bulan lalu, sepupu saya, ibu dari
seorang
> > anak berusia 4 thn, menelepon saya dengan panik. Katanya, hasil
> > pemeriksaan tes psikologis anaknya menunjukkan gejala2 ... Maya
> > Notodisurjo
> > mayanoto@
> > swastinika
> > Oct 11, 2005
> > 12:08 am
> >
> > Baik pada tulisan yang mereply kasus Raju maupun S. Psi jadi
tukang
> > tes, di bagian bawahnya tertulis DATA sebagai berikut:
> >
> > Best Regards,
> > MAYA NOTODISURJO (Psi 91)
> >
> > "Maya Notodisurjo" <mayanoto@> swastinika
> >
> > Sampai di sini, saya sudah punya `Data' bahwa Swastinika adalah
> > termasuk golongan "Yang pernah belajar psikologi" dan itu bukan
> judge,
> > karena ditulis oleh Swastinika atau Maya Notodisurjo sendiri,
yaitu
> > "Psi 91".
> >
> > Tetapi apakah cukup `data' dari milis PSIINDONESIA saja? Tentu
> tidak.
> > Dalam mencari data kita harus melihat bahwa ada kemungkinan data
itu
> > salah. Kemungkinannya di sini adalah Maya Notodisurjo yang
memakai
> ID
> > Swastinika di milis PSIINDONESIA berbeda dengan Swastinika yang
> tengah
> > berdebat dengan Audifax di milis Psikologi Transformatif, maka
saya
> > harus menguji data tersebut.
> >
> > Langkah ke 2
> > Saya cari di Google, setelah terlebih dulu men-setting pencarian
> hanya
> > dalam bahasa Indonesia. Pencarian dilakukan dengan menggunakan
> > pertama: hanya kata kunci "Swastinika", kedua: hanya kata
> kunci "Maya
> > Notodisurjo" dan ketiga: menggabungkan kata kunci "Swastinika"
dan
> > "Maya Notodisurjo". Ternyata di link:
> > http://groups.yahoo.com/group/kritik-iklan/message/23924 saya
> temukan:
> >
> > MAYA NOTODISURJO
> >
> > PROMPT Research
> >
> > Century Tower 5th Floor, # 501
> >
> > Jl. HR Rasuna Said Kav. X2 no. 4
> >
> > Jakarta 12950
> >
> > Pada blog dari Maya Notodisurjo [link:
> > http://smritacharita.blogspot.com/2006/11/siren-is-gold.html]
saya
> > temukan tulisan dari Maya Notodisurjo berjudul: "Siren is Gold"
yang
> > menceritakan perdebatan di milis Psikologi Transformatif.
> >
> > Sampai pada langkah ini, barulah bisa dikatakan bahwa Data
> > "Swastinika=Maya Notodisurjo" telah ditriangulasi kebenarannya.
> >
> > Bahkan didapat data lain seperti:
> >
> > Maya Notodisurjo Graduated from University of Indonesia majoring
on
> > psychology in 1997. Her career in marketing research was started
at
> > DEKA Marketing Research right after her graduation. She left
DEKA to
> > joint NFO Consensus/ MBL in early 2001. She joins Prompt since
early
> > 2002. Specialized in Qualitative Research, she has handled
hundreds
> of
> > projects using both Focus Group Discussions and In-Depth
Interviews
> > for various products; consumer goods, advertising, cigarettes,
> > banking/insurance products, etc. She has a lot of experience with
> > motivational studies especially among mothers and kids research
> [link:
> > http://www.researchinfo.com/noindex/directory/details.cfm?
ID=1923 ]
> >
> > Di link: http://forum.researchinfo.com/member.php?u=734 terdapat
> data
> >
> > Date of Birth:June 18, 1972
> > Age:34
> > First Name:Maya
> > Last Name:Notodisurjo
> > Title:Research Manager
> > Company:PROMPT Research
> > Location:Jakarta, Indonesia
> > Research Role:Supplier Side
> > Gender:Female
> > Biography:
> > I start working in marketing research in July 1997, just a week
> after
> > my graduation from Faculty of Interests:
> > reading, philosophy, art
> >
> > di link: http://beta.blogger.com/profile/12852344001407144142
> terdapat
> > data:
> >
> > Age: 34 Gender: Female Astrological Sign: Gemini Zodiac Year: Rat
> > Industry: Marketing Occupation: Researcher Location: Jakarta :
> Indonesia
> >
> > Dari hasil pencarian masih bisa ditemukan beberapa blog dan
posting
> > pada milis, salah satu data lain yang bisa saya dapat adalah Maya
> > Notodisurjo memiliki putri bernama Swastinika Naima Moertadho,
yang
> > lahir di Jakarta tahun 1999. Jadi di sini kita juga bisa tahu
bahwa
> > `Swastinika' merujuk pada nama putri dari Maya Notodisurjo.
> >
> > Sampai di sini pembaca sudah bisa membedakan mana yang DATA dan
mana
> > yang INTERPRETASI pada contoh yang saya tunjukkkan di atas. Jadi,
> > penilaian pada mana yang DATA dan INTERPRETASI saya serahkan
saja
> pada
> > pembaca.
> >
> > © Audifax – 28 November2006
> >
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Cat Groups

on Yahoo! Groups

Share pictures &

stories about cats.

Yahoo! Groups

Get info and support

on Samsung HDTVs

and devices.

Fitness Zone

on Yahoo! Groups

Find Groups all

about healthy living.

.

__,_._,___