Sabtu, 15 Desember 2007

[psikologi_transformatif] Islam menurut Kang Jalal

Dari milis sebelah (bukan milis Islam)....

Dengar apa kata 'guru'-nya Hendrik tentang Islam. Beda banget sama yang gemar
dicitrakan oleh si Hendrik nabi palsu.

Ha ha ha...ha ha ha...ha ha ha...ha ha ha...ha ha ha...

manneke

Perjalanan Kesadaran Gamal Al Bana (Adik Kandung Hasan Al Bana)*
**
*Pluralisme dalam Al-Quran*
Jalaluddin Rakhmat

*Mereka berkata: Tidak masuk surga kecuali Yahudi atau Nashara. Itulah
angan-angan hampa mereka. Katakan: Tunjukkan buktimu, jika kalian
benar. *

*Sungguh, orang yang pasrah sepenuhnya kepada Allah sambil berbuat
baik,
maka baginya pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut bagi mereka
dan
tidaklah mereka berdukacita. *

*Berkata Yahudi: Nashara tidak akan mendapatkan apa-apa. Berkata
Nashara:
Yahudi tidak mendapatkan apa-apa. Padahal mereka membaca. Seperti itu
juga
berkata orang-orang yang tidak mengerti, seperti pembicaraan mereka.
Maka
Allah akan menyelesaikan pada hari kiamat apa yang mereka
perselisihkan. *

(*Al-Baqarah 111-113*)

Gamal al-Banna adalah aktivis Muslim, anggota* al-Ikhwan al-Muslimun*.
Kita
mungkin menyebutnya fundamentalis dan anti-Barat. Ia berjuang untuk
menegakkan "negara tawhid", negara yang berdasarkan kalimat *La ilaha
Ilallah*. Perjalanan hidupnya, riwayat perjuangannya, dan kisah-kisah
kegagalannya mengantarkannya kepada sebuah refleksi yang mendalam. Ia
"mengunjungi kembali" pemikiran Islamnya. Di balik terali penjara,
dalam
ancaman penguasa (Muslim) yang tidak berperi kemanusiaan, di
tengah-tengah
hiruk pikuk Kairo yang menyesakkan, ia menemukan *epifani*. Ia melihat
dunia
dengan cara yang baru. Marilah kita ikuti permenungannya: Di
negara-negara
yang tidak memeluk Islam, masyarakatnya bekerja dengan gigih dan
ikhlas.
Mereka memiliki kejujuran dalam berkata, profesionalisme, menepati
janji dan
akhlak-akhlak baik lainnya. Mereka juga menganggap kebohongan pejabat
dalam
memberikan keterangan atas satu perkara di depan pengadilan atau
institusi
negara merupakan kejahatan besar yang tidak bisa diampuni kecuali
dengan
pemecatan. Contohnya adalah kasus yang menimpa Nixon yang menuduh musuh
politiknya melakukan tindakan mata-mata. Begitu juga dengan Clinton
yang
memiliki 'hubungan khusus' dengan salah seorang pegawai gedung putih.
Mereka
menerima celaan, cacian dan denda yang tidak sedikit. Sedangkan
sebagian
besar pemimpin di negara-negara muslim selalu melakukan kebohongan
publik
dan penyelewengan. Kerja mereka hanya menindas dan mengekang. Atas
dasar
alasan ini, maka masyarakat Eropa bisa jadi lebih dekat dengan Allah
dan
idealisme Islam dibanding banyak masyarakat yang mengaku sebagai
pemeluk
Islam.
Saya ingat masa ketika saya berada dalam tahanan di Tursina bersama
orang-orang ikhwanul Muslimin pada tahun 1948. Ketika itu tempat
tahanan
berada di tengah padang pasir yang di malam hari terang dengan berbagai
cahaya lampu yang dipasang untuk mempermudah penjagaan. Pemasangan
lampu itu
dilakukan oleh para tahanan yang memiliki keahlian dalam kelistrikan.
Mereka
juga menggunakan listrik untuk memanaskan air, mandi dan memasak. Saya
berkata kepada mereka bahwa Thomas Alfa Edison akan masuk surga karena
telah
menemukan lampu yang kemudian digunakan oleh manusia sebagai penerang.
Mendengar
ucapan saya, mereka menolak dengan keras, "Tidak, karena dia tidak
beriman
kepada Allah dan RasulNya." Mereka seolah menganggap bahwa Islam telah
dikenal di Amerika dan Rasulullah telah mengajak Edison kepada Islam.
Oleh
karena itu mereka menolak pendapat saya.
Saya membalas penolakan mereka dengan mengutip firman Allah,
*"Katakanlah, 'Andai kalian menguasai gudang-gudang rahmat Tuhanku,
kalian
pasti akan menahannya karena takut untukk berderma. Sesungguhnya
manusia
sangat kikir'." **(QS.Al-Isra: 100)*

Sudah saatnya bagi para dai Islam untuk mengetahui bahwa mereka tidak
dituntut untuk mengislamkan orang-orang yang beragama selain Islam.
Mereka
tidak berhak mengklaim bahwa selain orang Islam akan masuk neraka,
karena
kunci-kunci surga bukan di tangan mereka. Sikap seperti itu merupakan
pelanggaran keras terhadap wewenang Allah. Yang dituntut dari para dai,
setelah al-Quran mengatakan, *"Wahai orang-orang yang beriman, diri
kalian
adalah tanggung jawab kalian. Orang yang tersesat tidak akan
membahayakan
kalian ketika kalian mendapat petunjuk,"* *(QS. Al-Maidah:105) *adalah
menjadi 'saksi atas manusia". Para dai hanya bertugas memperkenalkan
Islam
kepada mereka kemudian menyerahkan segalanya kepada mereka. Urusan
konversi
agama tidak hanya menyangkut iman dan teori. Ini juga menyangkut
hubungan
sosial dan konsekuensi-konsekuensi selanjutnya. Hidayah hanya datang
dari
Allah, bukan dari seorang rasul
[1]<http://irfan/jalal-
center/ind/mambots/editors/fckeditor/editor/fckblank.html#_ftn1>
.

Gamal al-Banna berubah dari seorang eksklusif menjadi seorang pluralis.
Secara
sederhana, umat beragama yang eksklusif berpendapat bahwa hanya pemeluk
agamanya saja yang selamat dan masuk surga. Di luar lingkungan agama
kita,
semuanya masuk neraka. Dalam bahasa Gamal al-Banna, seorang ekslusivis
merasa "menguasai gudang-gudang rahmat Tuhan" dan menahannya hanya
untuk
kelompoknya saja. Rahmat Tuhan itu meliputi langit dan bumi, tetapi
kasih
sayang kaum ekslusivis terbatas pada rumahnya sendiri. Mereka berkata:
Yang
masuk surga hanya orang Islam saja. Sebagian lagi menyatakan: itu pun
tidak
semua orang Islam. Umat Islam akan pecah menjadi 73 golongan. Semua
masuk
neraka, kecuali golonganku. Lebih lanjut, dalam golonganku, semuanya
masuk
neraka keuali mereka yang ikut kepada Ustaz Fulan saja. Maka rahmat
Allah
yang meliputi langit dan bumi sekarang diselipkan di sudut surau yang
sempit.

Bertentangan dengan kaum eksklusivis adalah kaum pluralis. Mereka
berkeyakinan bahwa semua pemeluk agama mempunyai peluang yang sama
untuk
memperoleh keselamatan dan masuk surga. Semua agama benar berdasarkan
kriteria masing-masing. *Each one is valid within its particular
culture*.
Mereka percaya rahmat Allah itu luas. "*Al-Khalqu 'iyâli*", firman
Tuhan
dalam hadis Qudsi. Semua makhluk itu keluarga besar Tuhan. Mereka tidak
mengerti mengapa ada manusia yang berani membatasi kasih sayang Tuhan.
Mereka heran mengapa ada orang yang mengambil alih wewenang Tuhan.
Al-Banna
bertanya:

"Keberanian yang luar biasa dalam merampas wewenang Allah! Apakah
mereka
yang memegang kunci-kunci neraka? Apakah mereka yang menenggelamkan
manusia
ke dalam neraka? Atas dasar apa mereka membangun kesimpulan itu?
Bagaimana
kesadaran mereka atas rahmat Allah yang tidak terbatas yang akan
membalas
satu kebaikan dengan tujuh ratus lipat kebaikan? Kasih sayang seorang
ibu
hanyalah satu dari seratus kasih sayang-Nya. Dia tidak akan
menenggelamkan
manusia ke dalam neraka, kecuali manusia-manusia pembangkang yang
berbuat
kerusakan dan kezaliman di muka bumi ini."
[2]<http://irfan/jalal-
center/ind/mambots/editors/fckeditor/editor/fckblank.html#_ftn2>

Pertanyaan Al-Banna adalah juga pertanyaanku sekian lama. Jawabanku
sama
seperti jawaban Al-Banna. Kasih sayang Tuhan jauh lebih luas dari kasih
sayang ibu kepada anak-anaknya. Tetapi apakah itu punya dasar dalam
Al-Quran? Dalam tulisan ini, saya ingin menunjukkan sebagian dari
dalil-dalil pluralisme dalam Al-Quran dan komentar para ahli tafsir
berkenaan dengannya. Saya memilih dua buah tafsir saja. Pertama,
Tafsir ,
yang ditulis oleh Sayyid Husseyn Fadhlullah, tokoh Hizbullah Lebanon,
mewakili mazhab Ahlul Bayt; kedua, Tafsir Al-Manar yang ditulis oleh
Sayyid
Rasyid Ridha, tokoh pembaharu Islam yang dikenal sebagai fundamentalis,
mewakili mazhab Ahlu al-Sunnah;

*Ayat-ayat Pluralisme*

Apakah orang-orang "kafir" –non-Muslim- menerima pahala amal salehnya?
Benar, menurut Al-Baqarah 62, yang diulang dengan redaksi yang agak
berbeda
pada Al-Maidah 69 dan Al-Hajj 17.

*Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang
Nashrani,
dan orang-orang Shabi-in
[3]<http://irfan/jalal-
center/ind/mambots/editors/fckeditor/editor/fckblank.html#_ftn3>,
siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari
kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan
mereka,
tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka
bersedih
hati. *

Sayyid Husseyn Fadhlullah dalam tafsirnya menjelaskan:

Makna ayat ini sangat jelas. Ayat ini menegaskan bahwa *keselamatan
pada
hari akhirat akan dicapai oleh semua kelompok agama ini*yang
berbeda-beda
dalam pemikiran dan pandangan agamanya berkenaan dengan akidah dan
kehidupan
dengan satu syarat: memenuhi kaidah iman kepada Allah, hari akhir, dan
amal
saleh (garis bawah dari penulis).

Ayat-ayat itu memang sangat jelas untuk mendukung pluralisme. Ayat-ayat
itu
tidak menjelaskan semua kelompok agama benar, atau semua kelompok agama
sama. Tidak! Ayat-ayat ini menegaskan bahwa semua golongan agama akan
selamat selama mereka beriman kepada Allah, hari akhir, dan beramal
saleh.
Sebagian mufasir yang eksklusif mengakui makna ayat-ayat itu
sebagaimana
dijelaskan oleh Husseyn Fadhlullah, tetapi mereka menganggap ayat-ayat
itu
dihapus ( *mansukh*) oleh Ali Imran 85: *Barangsiapa mencari agama
selain
agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima daripadanya, dan
dia di
akhirat termasuk orang-orang yang rugi. *Mereka bersandar pada hadis
–yang
lemah- dari Ibnu Abbas (Lihat, misalnya, *Tafsir Thabari*).

Menurut Sayyid Husseyn Fadhlullah, makna ayat ini tidaklah bertentangan
dengan ayat yang kita bicarakan. Karena itu, tidak ada ayat yang
dimansukh.
Islam pada Ali Imran 85 adalah Islam yang "umum, yang meliputi semua
risalah
langit, bukan Islam dalam arti istilah", bukan Islam dalam arti agama
Islam
yang dibawa Nabi Muhammad saw. Kesimpulan itu diambil Fadhlullah dari
konteks ayat itu. Pada Ali Imran 19, Tuhan berfirman: *Sesungguhnya
agama
itu di sisi Allah adalah Islam*. Menurut Al-Quran, semua agama itu
Islam.
Ini diperkuat dengan ayat-ayat yang lain: Ingatlah ketika Tuhannya
berkata
kepadanya (Ibrahim); Islamlah kamu. Ibrahim berkata: Aku Islam kepada
Tuhan
Pemelihara semesta Alam. Dan ketika Ibrahim dan Ya'qub berwasiat
dengannya
kepada anak-anaknya: Wahai anak-anaku, sesungguhnya Allah telah memilih
bagi
kamu agama, maka janganlah kamu mati kecuali kamu menjadi orang-orang
Islam
(Al-Baqarah 131-132).

Seperti Fadhlullah, saya pun berpendapat bahwa Islam dalam Ali Imran 85
adalah "kepasrahan total" (*untuk uraian yang lebih dalam tentang makna
"al-din" dan "al-islam" dapat dilihat pada buku *Islam dan Pluralisme*
karya
Jalaluddin Rakhmat* -peny). Lebih lanjut, Fadhlullah mengatakan bahwa
Al-Baqarah 62 dimaksudkan untuk menegaskan unsur asasi yang
mempersatukan
semua agama dan menjadi syarat untuk memperoleh pahala Allah. Ia
menyindir
orang yang merasa akan selamat hanya karena nama atau penampilan
lahiriah
saja. Keselamatan adalah berpegang teguh pada keimanan kepada Allah dan
amal
saleh. Dalam Al-Quran orang-orang yang berpegang pada keselamatan
karena
nama disindir sebagai bersandar pada angan-angan: *(Pahala dari Allah)
itu
bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut
angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya
akan
diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung
dan
tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah *(Al-Nisa
123)[4]<http://irfan/jalal-
center/ind/mambots/editors/fckeditor/editor/fckblank.html#_ftn4>
.

Ayat ini, Al-Nisa 123, juga disebut oleh Sayyid Rasyid Ridha
[5]<http://irfan/jalal-
center/ind/mambots/editors/fckeditor/editor/fckblank.html#_ftn5>ketika
menjelaskan Al-Baqarah 62:

Artinya: hukum Allah itu adil dan sama. Ia memperlakukan semua pemeluk
agama
dengan sunnah yang sama, tidak berpihak pada satu kelompok dan
menzalimi
kelompok yang lain. Ketetapan dari sunnah ini ialah bahwa bagi mereka
pahala
tertentu dengan janji Allah *melalui lisan Rasul mereka.*
* *
Ayat ini menjelaskan sunnah Allah swt dalam meperlakukan umat-umat baik
yang
terdahulu maupun yang kemudian sesuai dengan ketentuan Allah swt:
*(Pahala
dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak
(pula)
menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan,
niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak
mendapat
pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.
Barangsiapa
yang mengerjakan amal-amal saleh, baik ia laki-laki maupun perempuan
sedang
ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam sorga dan mereka
tidak
dianiaya walau sedikit pun. *(Al-Nisa 123-124).

Tidak ada masalah kalau tidak disyaratkan iman kepada Nabi saw. Ayat
ini
menjelaskan perlakuan Allah kepada setiap umat yang mempercayai Nabi
dan
wahyunya masing-masing, yang mengira bahwa kebahagiaan pada hari
akhirat
seakan-akan pasti akan tercapai hanya karena ia Muslim, Yahudi,
Nashara,
atau Shabiah, misalnya. *Padahal Allah berfirman bahwa keselamatan
bukan
karena kelompok keagamaan (jinsiyyah diniyyah). Keselamatan dicapai
dengan
iman yang benar yang menguasai jiwa dan amal yang memperbaiki
manusia.*Karena itu, tertolaklah anggapan bahwa keputusan Allah
bergantung pada
angan-angan orang Islam dan angan-angan Ahli Kitab. Sudah ditetapkan
bahwa
keputusan Allah bergantung pada amal baik dan iman yang benar.

Dikeluarkan oleh Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim dari Al-Suddi. Ia berkata:
Orang-orang Islam bertemu dengan orang-orang Yahudi dan Nashara. Orang
Yahudi berkata kepada orang Islam: Kami lebih baik dari kalian. Agama
kami
sebelum agama kalian dan Kitab kami sebelum kitab kalian. Nabi kami
sebelum
Nabi kalian. Kami mengikuti agama Ibrahim. Tidak akan masuk surga
kecuali
orang Yahudi. Berkata juga orang Nashara seperti itu. Maka berkatalah
orang
Islam: Kitab kami sesudah kitab kalian, Nabi kami sesudah Nabi kalian,
dan
agama kami sesudah agama kalian. Kalian telah diperintahkan untuk
mengikuti
kami dan meninggalkan urusan kalian. Kami lebih baik dari kalian.Kami
berada
pada agama Ibrahim, Ismail, dan Ishaq. Tidak akan masuk surga kecuali
orang
yang memeluk agama kami. Allah menolak perkataan mereka dan berfirman:
*Bukanlah
angan-angan kamu dan bukan juga angan-angan Ahli Kitab… *Seperti itu
juga
diriwayatkan dari Masruq dan Qatadah. Juga Al-Bukhari meriwayatkan
dalam
Al-Tarikh dari hadis Anas sampai kepada Nabi saw: Bukanlah iman dengan
angan-angan, tetapi dengan apa yang terhunjam dalam hati dan dibenarkan
oleh
amal.

Ada orang yang dilalaikan oleh angan-angan akan mendapat ampunan sampai
ia
keluar meninggalkan dunia tanpa kebaikan padanya. Mereka berkata: Kami
berbaik sangka kepada Allah. Mereka bohong. Kalau berbaik sangka kepada
Allah pasti mereka beramal baik. Pelajaran yang berharga dari Allah
adalah
kecamannya kepada orang-orang yang terbuai dengan punya hubungan dengan
agama walaupun secara lahiriah. Keterbuaian (bahwa orang akan selamat
hanya
karena menganut agama Islam –jalal) inilah yang memalingkan mereka dari
amal, sehingga merasa cukup dengan menisbahkan dirinya pada kelompok
agamanya.

Walhasil, menurut Ridha, orang yang merasa pasti akan selamat hanya
karena
dia Islam, Nasrani, atau Yahudi adalah orang yang terbuai atau tertipu
(*mughtarrin
*) dengan nama. Keselamatan, untuk mengulangi lagi yang sudah terlalu
jelas,
bergantung pada tiga syarat: keimanan kepada Allah, keimanan pada hari
pembalasan, dan amal saleh.

*Bantahan Kaum Eksklusivis*

Ada tiga cara untuk membantah ayat yang membenarkan pluralisme ini.
Pertama,
mereka mengatakan bahwa ayat ini sudah dimansukh dengan Ali Imran 85
(Sudah
dijawab Fadhlullah di atas). Kedua, ayat ini hanya berlaku untuk orang
Yahudi, Nashrani, dan Shabiin sebelum kedatangan Nabi saw. Jadi orang
Islam
pada zaman Islam, orang Nashrani, Yahudi, dan Shabiin pada zamannya
masing-masing akan memperoleh pahala dari amal salehnya. Zaman ini
zaman
Islam. Karena itu, selain Islam, semua agama kehilangan validitasnya,
sebagaimana kedatangan uang Republik menyebabkan uang Belanda tidak
berlaku.
Argumentasi berdasarkan analogi ini tidak punya dalil yang
memperkuatnya
dalam Al-Quran dan Sunnah. Sebuah ayat yang bermakna umum tidak boleh
diartikan khusus kecuali dengan keterangan yang kuat.

Ketiga, mereka menafsirkan "beriman kepada Allah" sebagai beriman
kepada
ajaran Islam, karena Allah adalah konsep khusus untuk Islam. Allah
adalah
Tuhan bagi orang islam. Kristus Tuhan bagi umat Kristiani. Wisnu Tuhan
bagi
orang Hindu. Dan sebagainya. Erat kaitannya dengan argumentasi ini
adalah
keimanan kepada hari akhir dan amal saleh. Hari akhir yang harus
diimani
adalah hari akhir menurut penjelasan syariat Islam. Amal saleh juga
adalah
amal yang berdasarkan syariat Islam. Dengan penafsiran seperti ini,
kita
melihat perubahan drastis dari ayat pluralis menjadi ayat eksklusivis.
Secara terperinci ayat ini berarti "Sesungguhnya orang-orang Islam,
orang
Yahudi, Nashrani dan Shabiin yang kemudian masuk Islam (dengan beriman
kepada Tuhan orang Islam, dan aqidah Islam serta beramal sesuai dengan
syariat Islam) akan memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka".

Lepas dari redundansi yang menggelikan dari segi bahasa, kita akan
membuktikan bahwa menurut Al-Quran Allah itu adalah Tuhan yang sama
seperti
yang diimani oleh Ahli Kitab bahkan orang musyrik. Simaklah ayat-ayat
Al-Quran di bawah ini:

*Al-Quran 29:46*
*Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara
yang
paling baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka,
dan
katakanlah: "Kami telah beriman pada (kitab-kitab) yang diturunkan
kepada
kami dan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhamu adalah satu. Dan kami hanya
kepadanya berserah diri. *

*Al-Quran 29:61*
*Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang
menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu
mereka
akan menjawab: "Allah", maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan dari
jalan
yang benar. *

*Al-Quran 43:87*
*Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang
menciptakan
mereka, niscaya mereka menjawab: "Allah". Maka bagaimanakah mereka
dapat
dipalingkan (dari menyembah Allah). *

*Mengapa Harus Ada Berbagai Agama?*
* *
*Kalau semua agama itu valid, kenapa Tuhan repot-repot bikin agama yang
bermacam-macam. *Kenapa tidak dijadikanNya semua agama itu satu saja?
Apa
tujuan penciptaan berbagai agama itu? Al-Quran menjawabnya dengan
indah:

*áößõáòø ÌóÚóáúäóÇ ãöäúßõãú ÔöÑúÚóÉð æóãöäúåóÇÌðÇ æóáóæú* ÔóÇÁó Çááóøåõ
áóÌóÚóáóßõãú ÃõãóøÉð æóÇÍöÏóÉð æóáóßöäú áöíóÈúáõæóßõãú Ýöí ãóÇ

ÂÊóÇßõãú *ÝóÇÓúÊóÈöÞõæÇ ÇáúÎóíúÑóÇÊö Åöáóì Çááóøåö ãóÑúÌöÚõßõãú
ÌóãöíÚð*Ç
ÝóíõäóÈöøÆõßõãú ÈöãóÇ ßõäúÊõãú Ýöíåö ÊóÎúÊóáöÝõæäó

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang
terang. Sekiranya Allah menghendaki niscaya kamu dijadikanNya satu umat
saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberiannya kepadamu,
maka
berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kembali kamu
semuanya. Lalu diberitahukannya kepadamu apa yang telah kamu
perselisihkan
itu (Al-Maidah 48).

Dari ayat ini kita menyimpulkan beberapa hal:

1. Agama itu berbeda-beda dari segi aturan hidupnya (syariat) dan
pandangan hidupnya (aqidah). Karena itu, pluralisme sama sekali tidak
berati
semua agama itu sama. Perbedaan sudah menjadi kenyataan.

2. Tuhan tidak menghendaki kamu semua menganut agama yang
tunggal.
Keragaman agama itu dimaksudkan untuk menguji kita semua. Ujiannnya
adalah
seberapa banyak kita memberikan kontribusi kebaikan kepada umat
manusia.
Setiap agama disuruh bersaing dengan agama yang lain dalam memberikan
kontribusi kepada kemanusiaan (al-khayrat).

3. Semua agama itu kembali kepada Allah. Islam, Hindu, Budha,
Nashrani, Yahudi kembalinya kepada Allah. Adalah tugas dan wewenang
Tuhan
untuk menyelesaikan perbedaan di antara berbagai agama. Kita tidak
boleh
mengambil alih Tuhan untuk menyelesaikan perbedaan agama dengan cara
apa
pun, termasuk dengan fatwa.

*Wallahu 'alam bi al-Shawab*

------------------------------
[1] Gamal al-Banna, *al-Ta'addudiyah fi al-Mujtama' al-Islamiy*.
Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Taufik Damas Lc, *Doktrin
Pluralisme dalam al-Quran* . Bekasi: Penerbit Menara, 2006, hal. 38-40
[2] *Ibid, *hal. 41
[3] Shabiin, berdasarkan kitab-kitab tafsir, bisa menunjuk pada
berbagai
agama selain Islam
[4] Sayyid Muhammad Huseyn Fadhlullah, *Tafsir Min Wahy al-Qur'an.
*Beyrut:
Dar al-Malak, 1998, hal. 70.
[5] Sayyid Rasyid Ridha, *Tafsir al-Manar*. Beyrut: Dar al-Ma'rifah,
tanpa

__._,_.___
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

new professional

network from Yahoo!.

Best of Y! Groups

Check it out

and nominate your

group to be featured.

HDTV Support

The official Samsung

Y! Group for HDTVs

and devices.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Santa Claus / Sinterklas

Sinterklas nama sebenarnya ialah Nicolaas lahir sekitar 280 sesudah
Masehi di Patara tidak jauh dari Myra (Demre) di negara Turki.
Ayahnya adalah orang Arab yang bernama Ephiphanius sedangkan Ibunya
bernama Nonna, jadi tidaklah salah kalau saya tulis bahwa Sinterklas
itu orang Arab, berdasarkan tempat kelahiran maupun berdasarkan
keturunannya.

Saya menulis Artikel ini sebab pada tanggal 6 Desember adalah hari
ulang tahunnya dari Sinterklas yang dirayakan diseluruh dunia,
terutama di negara2 Eropa, apalagi di Holland tempat dimana saya
tinggal pada saat ini.

Berdasarkan hasil survey di negara-negara Eropa maupun USA, ternyata
Sinterklas adalah orang ketiga paling beken setelah Tuhan Yesus dan
Bunda Maria, tetapi hanya sedikit sekali orang mengetahui siapa
sebenarnya Sinterklas ini dan bagaimana sejarahnya.

Sinterklas sangat beken bukan hanya di Holland saja, melainkan juga
di Italy, Yunani dan Rusia, sehingga banyak anak lelaki disana yang
diberi nama Nicolaas dan untuk perempuan menjadi Nicole atau
Nicolien. Disamping itu banyak lagi gereja-gereja di Rusia, maupun
Yunani yang diberi nama Nicolaas.

Aneh tapi nyata! Walaupun Sinterklas merupakan reklame dari seorang
uskup gereja Katolik, Paus tidak yakin akan kebenarannya, karena
kenyataannya lebih banyak dongeng atau khayalan yang dibuat mengenai
Sinterklas, bahkan yang digabung dengan kepercayaan orang-orang
kafir. Sehingga pada tahun 1970 Vatikan telah menghapus dan mencoret
nama Sinterklas dari kalender nama-nama orang-orang suci, tetapi
karena banyaknya protes yang berdatangan, sehingga Vatikan
memberikan kelonggaran dan kebebasan untuk memilih apakah Sinterklas
termasuk orang suci ataukah bukan teserah kepada diri masing-masing,
tetapi secara resmi Sinterklas bukan termasuk orang yang dianggap
suci lagi. Atau secara tidak langsung gelar maupun titel "Saint"nya
di copot!

Ibu dari Nicolaas tidak pernah punya anak sebelumnya, tetapi karena
ia selalu memohon dan berdoa kepada Tuhan, akhirnya permohonannya
dikabulkan. Ia melahirkan seorang anak lelaki yang diberi nama
Nicolaas. Menurut legenda pada saat masih bayipun Nicolaas sudah
melakukan puasa, seperti yang sering dilakukan oleh hamba Tuhan pada
saat tersebut, ialah tiap hari Rabu dan Jumat ia tidak mau minum asi
(air susu ibu) nya. Walaupun anak tersebut usianya belum 1 tahun.

Ia ditasbihkan menjadi pastor pada usia 18 tahun di katedral dari
pamannya, karena sifat belas kasihnya yang besar untuk membela umat
dan fakir miskin, akhirnya ia diangkat menjadi uskup.

Menurut legenda pada saat Nicolaas mengadakan perjalanan ketanah
suci dalam perjalanan kapalnya dilanda angin ribut, sehingga salah
satu tiang layarnya patah dan menimpa kepala dari seorang kelasi di
kapal tersebut. Yang mengakibatkan kematian dari kelasi tersebut.
Dengan doa akhirnya Nicolaas bisa meredakan angin ribut tersebut
bahkan ia bisa "menghidupkan" kembali kelasi yang telah meninggal
tersebut. Sejak saat itulah Sinterklas menjadi beken sebagai Saint
atau orang suci pelindung dari para pelaut dan semua kapal dagang.

Kepercayaan tersebut semakin besar dan semakin kuat sehingga
Sinterklas sudah bisa dianggap sebagai wakil Tuhan untuk melindungi
mereka oleh para pelaut Yunani maupun Italy pada saat tersebut.

Tepatnya pada tanggal 9 Mei 1087 para pemilik kapal dari Italy,
mengambil semua tulang2 dan semua sisa dari tubuh Sinterklas untuk
dipindahkan dari Turki ke Italy ke kota Bari. Dan disana dibuat satu
gereja besar yang diberi nama St Nicolaas Katedral. Oleh sebab itu
tiap tanggal 9. Mei orang Italy merayakan hari St Nicolaas sebagai
pelindung para pelaut.

Sebelumnya mayat Sinterklas di pindahkan ke Italy, orang Italy
percaya akan cerita mengenai seorang nenek sihir (witch) yang
bernama Befana. Ia mendapatkan tugas dari malaikat untuk memberikan
hadiah kepada Tuhan Yesus pada saat Tuhan Yesus dilahirkan, seperti
juga orang Majus, tetapi karena kelalaiannya ia datang terlambat.
Oleh sebab itu Befana mendapat hukuman tiap tahun sebelum kelahiran
Yesus, ia harus memberikan hadiah sebanyak mungkin kepada anak-anak
kecil yang tidak mampu.

Kepercayaan yang lebih bersifat animisme ini dianut oleh banyak
orang Italy, maka dari itu para pemuka agama di Italy mengambil
keputusan agar kepercayaan dari nenek sihir Befana ini dialihkan
saja kepada Sinterklas. Dengan mana bisa memulihkan citra dan nama
baik dari orang Katolik sekalian mengalihkan kepercayaan animisme
mereka, menjadi lebih percaya kepada Tuhan. Inilah awal dari
kepercayaan bahwa Sinterklas selalu memberi hadiah kepada anak-anak
pada saat hari ulang tahunnya. Bahkan pengalihan ini memberi efek
sampingan lainnya se-akan2 ada dua Sinterklas, yang satu sebagai
pelindung para pelaut sedangkan yang lain ialah pelindung dari anak-
anak dan dua-duanya berasal dari Myra (Turki).

Para pelaut jaman dahulu kebanyakan orang Spanyol, maka dari itu
orang Belanda percaya bahwa Sinterklas datang dari Spanyol dan tentu
datangnya dengan kapal laut, sebab dahulu belum ada pesawat terbang.
Kebanyakan kelasi dari para kapal dagang jaman dahulu adalah budak-
budak dari Afrika, maka dari itu jelas pembantu dari Sinterklas pun
seorang budak dari Afrika yang diberi nama Zwarte Piet (Piet Hitam).

Sinterklas selalu berusaha apabila ia memberi sesuatu, agar tidak di
lihat maupun diketahui oleh si penerima, sesuai dengan ajaran dari
Alkitab. Pada suatu hari ia berusaha untuk membantu seseorang dari
sebuah atap rumah dengan menjatuhkan sekantung uang melalui cerobong
asap. Dan kebeneran uang tersebut jatuh ke dalam kaos kaki yang
sedang digantungkan oleh anak sipemilik rumah untuk dikeringkan di
dekat api pemanas. Hal ini rupanya diketahui oleh sipemilik rumah.

Sejak saat itu timbul kepercayaan bahwa Sinterklas selalu dtg
melalui cerobong asap di waktu tengah malam dan memberi hadiah untuk
anak-anak di kaos kaki atau kantong di dekat ranjang atau dibawah
pohon Natal.

Berdasarkan hal tersebut diatas Sinterklas itu merupakan satu delima
yang membuat umat Katolik dan Paus menjadi risih, karena Sinterklas
ini merupakan campuran antara fakta sejarah, kepercayaan dan
tahayul. Agar bisa menghilangkan dan cepat melupakan Sinterklas dari
daftar nama orang suci, maka Paus Paulus memerintahkan agar sisa
mayat dari Sinterklas dipindahkan saja dari Italy ke Amerika. Dengan
mana orang Eropa akan bisa lebih cepat melupakan Sinterklas.
Tepatnya pada tanggal. 5.12.1972 sisa dari mayat Sinterklas sudah
dipindahkan ke gereja Sint Nicolaas - Flushing - di New York.

Santa Claus dan Sinterklas itu agak berlainan dari segi pakaian
maupun poster tubuh. Santa Claus adalah ciptaan dari Public Relation
Manager – Coca Cola walaupun asal-usulnya dari Sinterklas juga.
Untuk meningkatkan penjualan dari Coca Cola, mereka menciptakan
Santa Claus sebagai reklame figur mereka. Karena orang Amerika tidak
mau disebut rasis maka dari itu untuk Santa Claus di USA tidak boleh
ada Zwarte Piet pembantunya yang berkulit hitam.

Di Cina juga ada Sinterklas yang lebih lazim dipanggil sebagai Dun
Che Lao Ren, yang berarti Kakek Natal.

Mang Ucup

__._,_.___
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Find great recruits

for your company.

Official Samsung

Yahoo! Group for

supporting your

HDTVs and devices.

Yahoo! Groups

Dog Zone

Connect w/others

who love dogs.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Mohon dukungan : Protokol Rakyat Untuk Perubahan Iklim

mohon maaf untuk yang satu ini

Kawan-kawan berikut ini kami forwardkan surat pengantar untuk
dukungan protokol rakyat di
http://www.petitiononline.com/ppcc serta draft Protokol Rakyat untuk
Perubahan Iklim. Draft ini telah melalui beberapa workshop di
Indonesia dan akan terus berproses dan disempurnakan hingga Forum
Rakyat tingkat dunia menjelang Pertemuan Perubahan Iklim Copenhagen
2009.

Salam
Andreas Iswinarto
Sarekat Hijau Indonesia

NB.
- Segera kami susulkan Protokol Rakyat ini dalam bahasa Indonesia
- Untuk dukungan anda silah klik
http://www.petitiononline.com/ppcc

Dear Friends and Colleagues,

Climate change is an issue that requires the urgent collective
action from the civil society and marginalized sectors -especially
from the South- who will be most affected by climate change.

Below is the draft People's Protocol on Climate Change which
reflects the aspirations and demands of the people on how climate
change should be addressed. The draft People's Protocol on Climate
Change has already undergone a series of workshops in Indonesia. It
will be finalized and ratified through a grand People's Assembly
spearheaded by the Pesticide Action Network International (PAN
International), Coalition of Agricultural Workers International
(CAWI), People's Coalition on Food Sovereignty (PCFS) and the Asian
Peasant Coalition (APC) during the 2009 Copenhagen Climate Change
meetings.

We need your support. Please endorse the draft People's Protocol on
Climate Change by following the link
http://www.petitiononline.com/ppcc

Please circulate.

Thank you.

Regards,

Ava Danlog (IBON Foundation), Don K. Marut (INFID), Syamsul
Ardiansyah (INDIES), Flint Duxfield (Aid/Watch)

If you would like to comment on the petition, or otherwise
communicate directly with the petition author, you can contact the
author at:
Ava Danlog, adanlog@ibon.org

To: organizations, individuals

People's Protocol on Climate Change (draft)

Preamble

The planet is experiencing a climate crisis of catastrophic
proportions. Drastic action is required to reverse the situation.
Global temperatures have increased twice as fast in the last 50
years as over the last century and will rise even faster in the
coming decades. Eleven of the last twelve years (1995-2006) are
among the 12 warmest years on record. This is disrupting weather
patterns, severely damaging the environment, and destroying lives
and livelihoods - especially of the poorest and most vulnerable.

This dangerous climatic change is driven by the unprecedented
increase in human-generated greenhouse gases in the atmosphere. The
most dangerous increase is in CO2 emissions from the ever-mounting
burning of fossil fuels for industry, commerce, transport and
militarism. The planet's capacity to process these emissions has
also been crippled by widespread deforestation. As a result, the
concentration of CO2 in the atmosphere is now far higher than its
natural range over the last 650,000 years. Concentrations of methane
and nitrous oxide, again caused by human industry and agriculture
have also increased dramatically and are also implicated in causing
global warming.

Climate Change will be universally adverse for the world's people
with greater and more frequent extremes of heat and rainfall
patterns as well as tropical cyclones, typhoons and hurricanes.
Africa, Asia and Latin America face shorter growing seasons, lower
yields, lost or deteriorated agricultural land, decreased
agricultural production and freshwater shortages. Droughts in Africa
will bring widespread hunger and famine. Asia is already confronting
flooding, avalanches and landslides, which will increase illness and
death. In Latin America, higher temperatures and reduced
biodiversity in tropical forests will devastate indigenous
communities. Globally, rising sea levels will flood low-lying areas,
increased storm surges will threaten coastal communities, and warmer
sea waters will diminish fish stocks.

The last centuries have been heralded for great strides in
technology, production and human progress – but these advances have
precipitated global ecological and development disasters. On one
hand a privileged global elite engages in reckless profit-driven
production and grossly excessive consumption. On the other hand, the
mass of humanity is mired in underdevelopment and poverty with
merely survival and subsistence consumption, or even less. The
world's largest transnational corporations (TNCs) based mainly in
the Northern countries and with expanding operations in the South,
have long been at the forefront of these excesses. Indeed the
powerful industrialized nations of today were built on the severe
exploitation of the human and natural resources of the global South.
The pursuit of growth and profit is at the core of exploitation,
structural poverty and global warming.

There have already been high-profile schemes for concerted action
and co-operation to combat global warming. This includes the
landmark 1992 Framework Convention on Climate Change (FCCC) and the
succeeding Kyoto Agreement. Yet the problem has not been stemmed or
much less reversed, indeed it has worsened as the limited targets
and timelines set by the Kyoto Protocol have made no headway.
Importantly, the Kyoto Protocol does not decisively acknowledge the
real roots of climate change - globalization and the mad pursuit of
TNCs for profits. Instead, Kyoto has diminished responsibility and
accountability for the climate crisis through the marketization of
energy resources and supply. The offsets and emissions trading
system transfers adjustment costs from rich to poor, creates new
dependencies, rewards corporations for polluting and increases their
opportunities for profits. Northern TNCs and investors have
sustained and even increased their energy intensive operations
through relocation to Southern countries, capturing and co-opting
local elites into the destructive process of capitalist-dominated
production and consumption.

Significantly, the Kyoto Protocol does not truly involve grassroots
communities and peoples who are worst-affected, especially in the
South. It has grossly neglected the severe damage to their
livelihoods, well-being and welfare. It does not consistently and
coherently adhere to the vital developmental principles, especially
people's sovereignty over natural resources.

The gravity, scope and depth of the problem demand the greatest
collective effort and cooperation. No peoples or state can succeed
alone in addressing the root causes of the problem. At the same
time, stabilizing greenhouse gas emissions today will not
immediately impact on rising global temperatures since climate
processes involve-long time scales and a global responsibility must
be taken for the immediate and negative impacts that will be felt by
the poor and marginalized.

This declaration articulates the values and principles that should
guide international action and people's struggles against climate
change and its associated ecological and socioeconomic destruction.

Statement of values and principles

We, the people, are united behind certain core development values
and principles of social justice, democracy, equality and equity,
gender fairness, respect for human rights and dignity, respect for
the environment, sovereignty, freedom, liberation and self-
determination, stewardship, social solidarity, participation and
empowerment. This statement further articulates these principles in
the context of the global climate crisis.

1. Social Justice must be guaranteed, acknowledging the systemic
roots of the climate crisis, the disproportionate responsibility of
a narrow elite, the disproportionate vulnerability of the majority
to the adverse effects, the grossly uneven capacity to confront and
respond, and the legitimate aspirations to development of the people
apart from the crisis.

1.1 We emphasize that Climate Change must be understood not merely
as an environmental issue but as a question of social justice, its
causes are rooted in the current capitalist-dominated global economy
which is principally driven by the relentless drive for private
profits and accumulation.

1.2 We stress that the current global economic order, driven by the
Global North and their transnational corporations is the fundamental
origin of over-exploitation and depletion of resources, of the
gratuitous use of energy resources and the excessive release of
greenhouse gases into the atmosphere.

1.3 We thus condemn "free market" policies of "globalization", and
its aggressive and intrusive expansion into every sector of the
economy and into the global South, and the exploitation by TNCs of
the people and the planet.

1.4 We firmly believe that these neoliberal policies are imposed
particularly on the people of the global South by powerful foreign
governments wielding influence through multilateral, regional and
bilateral mechanisms such as World Trade Organization (WTO)
agreements, regional and bilateral free trade agreements (FTAs),
investment agreements and aid conditionalities.

1.5 We recognize that a very significant part of
supposedly "Southern" emissions actually result from the energy-
intensive operations of Northern TNCs located in the South for the
purposes of exploiting local labor and natural resources. We further
acknowledge that the severe deforestation across Latin America, Asia
and Africa is most of all due to Northern TNC-driven commercial
logging, plantation agriculture, mining activities and dam projects

2. Sovereignty means asserting the power of the people through their
social movements and genuinely participatory structures as the
foundation of the global response to the climate change issue.

2.1 We stress the vital importance and essential role of communities
and peoples that will be most adversely affected by climate change
in defining, guiding and determining the work of any and all major
conferences and summits in the economic, social and related fields
at the local, national, regional and global levels.

2.2 We commit to spare no efforts in strengthening civil society and
social movements and, especially, the people's organizations and
struggles that are the indispensable foundations and most dynamic
driving force of these. We affirm that people's sovereignty of
natural resources is indispensable to dealing with the problem of
climate change and that this must be won in struggle.

2.3 We are aware that people in both the global North and,
especially, the South are excluded from participation in governance
with the unfortunate result that powerful private elite and
corporate interests exert far greater influence over socioeconomic
policy-making.

3. Respect for the Environment means a rejection of market
mechanisms that impose the cash nexus on ecological priorities. The
needs of the planet and its people must take precedent over the push
for growth and profits.

3.1 We recognize that nature is vital for the survival of all and
that natural resources and their use are essential for sustained
economic growth, sustainable human development, and the elimination
of poverty, ill-health and hunger. We are committed to building
societies where the people enjoy all human rights and fundamental
freedoms, and in a way that the world we create does not unjustly
deny the same for future generations.

3.2 We assert that the needs of people and planet must be placed
above those of global capital and the wholesale pursuit of private
profits. The planet's resources must never be reduced to being
assigned property rights that can be bought, sold, accumulated and
monopolized by a few for the sake of private gain.

3.3 We believe that population growth increases humanity's demands
on nature but that the resources of the planet are sufficient to
meet these demands if only production, resource-use and consumption
are organized to meet the needs of the people for life and not of a
select few for profits.

4. Responsibility, expressed in the principle of common but
differentiated responsibilities, requires a mechanism for globally-
inclusive equity. Northern countries share a disproportionate
responsibility for historic emissions.

4.1. We acknowledge the greater vulnerability of poor and
marginalized communities to the adverse effects of climate change.

4.2. We recognize that there are elite segments of society whose
current levels of consumption are grossly excessive and cannot and
should not be maintained, even as those large populations globally
who are denied basic needs should have these met. These elite
segments of society must bear the greatest responsibility for the
climate crisis.

4.3 We recognize that there are large parts of humanity who are more
dependent for their survival on their access to and use of natural
resources, as well as on the state of the climate and the natural
environment. We then stress that the specific needs of farming
communities, indigenous peoples, coastal communities, fisherfolk,
and other marginalized, poor and rural producers need to be given
special attention in all adaptation efforts.

4.4 We acknowledge that adaptation is not acceptance of climate
change but is necessary to provide temporary relief from the initial
impacts of climate change until global mitigation efforts are
sufficiently developed to halt global warming.

Statement of goals and purposes

1. We acknowledge climate change as a multifaceted issue and that
the score of interlinked challenges and threats therefore need to be
confronted in an integrated and coordinated manner if any real
progress is to be achieved.

2. We declare our commitment to the significant and far-reaching
reduction of greenhouse gas emissions in line with our core values
and principles.

3. We further declare our willingness to work for and support any
international climate change agreement that is consistent with these
essential foundations.

4. We believe that the climate change crisis is not simply about
adaptation and mitigation, but changing the whole economic framework
into one of eco-sufficiency and sustainability.

5. We assert that Kyoto represents a false compromise and commit to
redressing the fundamental weaknesses of the Kyoto agreement in any
new protocol or post 2012 agreement.
a. We reject market-based mechanisms to address climate change as
diversionary and designed to perpetuate current levels of economic
activity and profits, if not brazen maneuvering by corporations to
pass on the burden of dealing with the negative effects of their
greenhouse gas emissions to the people of the global south.
b. We acknowledge that technological developments can play a role in
addressing the climate change issue but are conscious that
technological fixes in themselves are not just grossly insufficient
but even used to divert from the need to address root causes.

6. We are convinced that human progress and the defense of the
livelihoods, well-being and welfare of the people ultimately require
an economic system that is socially just, democratic and
ecologically sustainable. This includes people-oriented agricultural
and industrial development.

7. We declare that in order to address the climate crisis, the
people must have real stewardship, access and control over the
natural resources on which they depend rather than TNCs,
international financial institutions or even governments which
represent the narrow private interests of a global elite and their
local collaborators. In so-doing we assert people's sovereignty over
natural resources.

8. To this end, we shall work for:
a. National ownership over the nation's resources and productive
assets;
b. Community-level management and decision-making supported by
national-level authority or public-community partnership in the
utilization and conservation of these resources;
c. Transparency in decision-making and disposition of revenues
raised from the extraction, processing and sale of products derived
from nature;
d. A comprehensive national policy framework for economic
diversification and for meeting the collective needs of the present
and future generations, especially the poor and marginalized in
society;
e. A national program for research and development on sustainable
technologies including recycling methods, renewable energy and other
alternatives to unsustainable means of production;
f. Education on ecology and socially responsible consumption; and
g. Cooperative arrangements with other countries in the stewardship
of global commons or shared resources such as oceans, rivers,
forests and the climate.

9. We affirm the importance of grassroots education, organizing and
mobilizations to promote and realize our alternative vision and
program for social transformation. We retain our vigilance even
where governments have expressed support for a progressive agenda,
and hold them accountable through popular participation and
mobilization. We are ever critical of attempts to compromise the
interests of the majority and the marginalized.

10. We commit to building on the powerful networks of movements for
climate action that have emerged worldwide. Localized actions
against greenhouse gas emissions have spread across the globe and
deepened everyday development struggles.

11. We acknowledge the supportive role of adaptation funding for
Southern countries to help deal with the problem climate change,
affirm that the far greater responsibility of the North in the
current climate crisis means that it must bear a far greater
proportion of the funding responsibility. We decry the fiasco of the
supposed global adaptation fund which was allotted insignificant
funding, and criticize efforts such as those by the World Bank (WB)
to use adaptation funding to distract from the overriding need to
address the roots of the climate change problem. We stress that
adaptation funding must be over and above traditional allotments for
overseas development assistance (ODA).

12. We assert that restorative justice requires distribution of
responsibility according to historical per capita emissions, not
just on a by country basis but more significantly on a by polluter
basis. The greatest burden of adjustment must be on the Northern
countries and their TNCs (wherever these are located), as well as on
Southern elites, who have caused and benefited the most from the
damage. We further assert that this absolutely requires, at the very
minimum, Northern commitments and concrete practice to:
a. Drastically reduce overall energy use and increase energy
efficiency;
b. Increase unconditional financial compensation to directly address
the climate crisis in the South; and
c. Overhaul international trade and investment rules towards
sustainable development and improvements in the standard of living
in the South, including also an end to the real or effective
transfer of Northern polluting industries to the South.

13. We recognise the need for significant global GHG emissions
reductions in both the Northern and Southern countries. We assert
that action on climate change can only succeed if it addresses
southern emissions, and this requires mechanisms for large scale
compensatory financing from the global north to global south.
Specifically this should entail the creation of a global mitigation
fund, contributed to by the global north, and in particular northern
TNCs.

__._,_.___
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Be a career mentor

for undergrads.

Yahoo! Groups

Wellness Spot

A resource for Curves

and weight loss.

Yahoo! Groups HD

The official Samsung

Y! Group for HDTVs

and devices.

.

__,_._,___

Re: [beasiswa] [OOT - curhat] Ujian Negara SMU

On Nov 28, 2007 12:24 PM, iva mahadri <iva_mahadri@yahoo.com> wrote:
> Salam,
>
> Saat ini adik saya sedang duduk di kelas 3 SMU dan sebentar lagi akan menghadapi ujian negara. Orang tua saya sering kesal karena beliau tidak pernah melihatnya belajar. Pulang sekolah jam 4 sore, dia istirahat sebentar, main komputer, mendengarkan musik. Selepas maghrib kalau tidak main ke rumah teman, dia nonton TV, atau les di lembaga pendidikan seminggu 3x. Meski demikian, orang tua saya sering menganggapnya masih kurang banyak belajar.
>
> Sebagai kakak, saya cukup memahami kondisi adik saya (juga orang tua saya). Karena saya tinggal di kota yang berbeda, saya sering mengingatkannya untuk belajar via telepon/sms. Suatu hari, ketika saya pulang ke rumah ortu, adik saya banyak curhat tentang kejenuhannya belajar. Selain itu ia merasa stres karena tahun depan akan bertambah mata pelajaran yang diujikan. Sementara itu, dia merasa masih harus mengejar bahan pelajaran yang harus ia pelajari. Ketambahan lagi, dia (sepertinya) salah masuk jurusan. Ketika di kelas 2, dari hasil tes dia dinyatakan cocok masuk IPS. Sementara itu, selepas SMA ia ingin melanjutkan ke jurusan arsitektur/ desain komunikasi visual/ desain interior. Sehingga dia sering merasa enggan belajar, terutama mata pelajaran Ekonomi yang dirasanya terlalu sulit.
>
> Terus terang saya kasihan kepadanya karena dia merasa bebannya terlalu berat. Saya sudah berusaha membangkitkan semangatnya dan lumayan-lah sepertinya dia cukup termotivasi dengan cerita2 saya tentang rekan2 di milis & saya sendiri yang bisa mendapatkan beasiswa.
>
> Satu lagi mata pelajaran yang dirasa sulit bagi dia adalah bahasa inggris. Saya sudah membelikan beberapa buku latihan tes bahasa Inggris dan beberapa mata pelajaran lain. Oya, adakah rekan2 yang tahu buku2 latihan tes bahasa inggris untuk anak SMU (ujian negara) yang cukup baik?
>
> Terima kasih untuk tempat curhatnya. Mohon doa untuk adik saya semoga dia bisa menghadapi ujiannya kelak. Amin.
>

Salam,

Dulu saya mengalami hal yang mungkin bisa dibilang sama, dan
jawabannya baru ketemu pas semester tengah/akhir masa kuliah. Intinya
adalah bagaimana cara belajarnya.

Sedikit sharing aja, yang saya alami dahulu adalah orang diminta
sekolah, belajar, tapi tidak diberi gambaran bagaimana cara belajar
yang sesuai dengan kemampuan diri. Kita ngomongin cara belajarnya. Ya,
seperti naek sepeda, kita diajari dasar-dasar naek sepeda. Kalau
belajar / sekolah, kita seyogyanya juga diajari bagaimana sih cara
belajar yang baik dan benar sesuai dengan kemampuan masing-masing
individu.

Ada orang yang lebih cenderung ke arah visual ( semacam saya ), jadi
catetannya model sketsa dan diagram dengan garis dan panah
kemana-mana. Ada juga yang cenderung lebih gampang menerima ilmu kalau
diceritain, nha orang model ini mungkin lebih cocok kalau belajar
dengan cara mendengarkan materi yang sudah direkam. Ada juga yang
modelnya lebih mudah menerima kalau udah nulis duluan, orang2 kayak
gini biasanya belajar dengan cara mencatat dan mengulang-ulang. dan
masih banyak lagi metode lainnya.

Saya pernah coba beberapa metode diatas, yang paling sesuai untuk saya
masih model visual + catatan dalam bentuk skema. Kecuali untuk
perhitungan ya mau ga mau harus sering latihan.

Suasana juga sangat mendukung, berhubung rumah saya terbilang rame,
saya baru bisa belajar tenang kalo diatas jam 9 - 10 malem. Dan ga
bisa belajar kalau di sekelilingnya ada orang lain. Jadi jarang ikut
belajar kelompok ( ini dulu kebanyakan biasanya endingnya malah maen
bareng :p )

Mungkin adeknya mbak ( maap kalo salah penyebutan gender ) Iva bisa
ditanya dan diarahkan mengenai metode pembelajaran yang paling sesuai
dengan karakter dia. Kalau pengalaman saya dulu, dengan metode yang
tepat, kualitas pembelajaran bisa jauuh lebih efisien terhadap
waktunya.

*just my cepek*

Cheers,
--
- D e e -

http://achmadi.net


INFO, TIPS BEASISWA, FAQ - ADS
Hanya ada di http://www.milisbeasiswa.com/

===============================

CARI KERJA?
Gabung dengan milis vacancy. Kirim email kosong ke vacancy-subscribe@yahoogroups.com.
http://www.groups.yahoo.com/group/vacancy

===============================

INGIN KELUAR DARI MILIS BEASISWA?
Kirim email kosong ke beasiswa-unsubscribe@yahoogroups.com
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:

http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:

http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/join

(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:beasiswa-digest@yahoogroups.com
mailto:beasiswa-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
beasiswa-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

http://docs.yahoo.com/info/terms/

Re: [psikologi_transformatif] Re: Sok Melampaui Kata

hahahah....hahahahah.....hahahah.... kalau kiamat, bagaimana bisa tai yesus bisa masuk kemulut gua padahal gue adalah makhluk (ciptaan) seperti musa dan bumi dan WC...??? kalau kiamat khan maka yg namanya mahkluk pasti binasa dan yg tersisa hanyalah tuhan saja...??? jadi menurut kristen yg ada cuma bapa, roh kudus, dan yesus... apakah org kristen mau menerima jika yesus yg manusia (punya anus) mengeluarkan tai yg masuk kemulut bapa dan roh kudus..???.. atau kembali lagi masuk ke lobang pantat yesus sehingga teciptalah "sistem" yg mau adanya "keluar masuk"...??? ya seperti menyerupai seorang gay yg merasakan kenikmatan dari pantatnya melaui proses "keluar masuk".... hahahahaha....hahahaha.....hahahahaha..... betul kagak...??? haahhaaha....hahaahha....hahahah..... jadi jawaban bu pradita gimana...???
 
"tidak ada paksaan dalam agama telah jelaslah jalan yg benar dari yang sesat" (alquran)  

pradita@telus.net wrote:
Enggak, Ndrik, tai yesus gak kembali ke mulut yesus tapi masuk ke mulutmu.
Kabarnya kamu doyan makan tai orang lain sih, jadi yesus demen aja kasih tainya
ke kamu. Kan dia maha 'pengasih'. Ha ha ha...ha ha ha...ha ha ha...ha ha
ha...ha ha ha...ha ha ha...

manneke

Quoting hendrik bakrie <henrik12syiah@yahoo.com>:

> hahaha...hahahah....hahahah.... ngapiin harus keperpustakaan.. tanya aja pada
> anak SD kelas 1 yg udah bisa menulis dan membaca.. maka saya yakin dia akan
> jawab.. walaupun dia hanya bisa berkata "pedas" atau menulis "pedas".. dalam
> akal sehat dan logika tentu aja itu disebut penjelasan atau jawaban juga...
> asal jangan ditanya pada patung.. kalau si anak sudah jawab "pedas"... maka
> jangan dong, yg tau rasa pedas menganggap maksud anak itu "manis".....
>
> hahahah...hahahah....hahahah.... khan aneh kalau kita menerima dan
> mengetahui kalau tuhan "maha kuasa" tetapi meyakini dan mengajarkan tuhan itu
> "jadi yesus" tetapi kagak jadi "bakteri yesus, tai yesus yg dihinggapi lalat,
> bau mulut yesus yg dirasakan oleh yudas ketika berbicara, dll... ngomong2,
> kalau kiamat nanti apakah tai yesus kembali kemulut yesus...???.. sebab
> tempat pembuangannya sudah hancur... jadi tahi yesus itu tuhan juga ya..????
> hahahah....hahahahah....hahahah.....
>
> hahahaha....hahahhaha......hahahahaha...... jadi apakah yesus dan para paus
> itu sudah pernah merasakan "sex"...??? sebab saya khawatir, jangan2 "sex"
> adalah bagian dari spirtual juga... selain itu, mungkin juga sidharta gautama
> bisa menjadi budha (menemukan apa yg dia cari) diakibatkan oleh doa istrinya
> yg merindukan "sex lagi" dengan suaminya....
> hahahah.....hahahahaha.....hahahahah......
>
> hahahaha....hahhahhaah......hahhhahahah...... seharusnya tuhan di kristen
> kalau mau punya anak kagak usah melibatkan roh kudus, sebab kalau ada roh
> kudus maka tuhan tidak bisa merasakan "sex" dengan maria yg perawan...
> kecuali roh kudus adalah kontol tuhan.. tetapi sperma tuhan siapa
> ya...???????
>
> "dan akan kami perlihatkan tanda2 kekuasaan kami disegala ufuk dan dalam
> dirimu sendiri sehingga jelaslah bahwa alquran itu benar" (alquran)
>
> Jusuf Sutanto <jusuf_sw@yahoo.co.id> wrote:
> Coba cari ke perpusatakaan dan orang2 berpengalaman diseluruh
> dunia, supaya mereka menuturkan melalui bahasa lisan dan tulisan tentang rasa
> pedasnya cabe.
> Dengan adanya email dan internet mudah sekali bukan ?
> Apakah mereka bisa mengungkapkan sepenuhnya ?
> Kalau ada yang bisa, maka dia patut dapat hadiah Nobel.
> Nah sekarang kalau masih penasaran, silahkan coba sendiri.
> Setelah itu, tuliskan apa yang dirasakan.
> Apakah sdh bisa mengungkapkan kebenaran ?
>
>
> ----- Pesan Asli ----
> Dari: Angga Wijaya <anggaji@yahoo.com>
> Kepada: psikologi_transformatif@yahoogroups.com;
> vincentliong@yahoogroups.com
> Terkirim: Jumat, 14 Desember, 2007 1:43:32
> Topik: [psikologi_transformatif] Sok Melampaui Kata
>
> Ada yang sok melampaui kata. Kata dia, kata-kata tak bisa menjelaskan
> Kebenaran. Seakan-akan kebenaran itu merupakan sesuatu yang keramat, suci,
> sacred, melangit, tak tersentuh.
>
> Karena tak terjelaskan kata-kata itulah Kebenaran mudah dimanipulasi, mudah
> dijual oleh calo-calo agama. Hanya aku yang paham Kebenaran, hanya aku yang
> bisa menjelaskan Kebenaran, kata mereka.
>
>
> Pada mulanya adalah Kata.
>
>
> Angga.
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it
> now.
>
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
> Answers
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.



Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Reconnect with

college alumni.

HDTV Support

on Yahoo! Groups

Help with Samsung

HDTVs and devices

Y! Messenger

Instant smiles

Share photos while

you IM friends.

.

__,_._,___