Jumat, 28 Desember 2007

[psikologi_transformatif] Re: Salah satu alasan kenapa Kompatiologi berhasil??

Rasa itu bukan ada di lidah, bukan pula di makanan atau di minuman.

Rasa itu ghoib. he..he..he..

Kalau Rosa itu penyanyi.

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, tinta negatif
<tinta_negatif@...> wrote:
>
> Salah satu alasan kenapa Kompatiologi berhasil??
>
> "Karena bermain di wilayah rasa dari lidah. Dan sesungguhnya lidah
mengirim data-data yang subjektif.. yang terlepas dari benar salah,
baik buruk, surga neraka.."
>
> ha ha ha!

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Your school could

win a $25K donation.

Real Food Group

on Yahoo! Groups

What does real food

mean to you?

Yahoo! Groups

Wellness Spot

A resource for living

the Curves lifestyle.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Jawabannya udah dateng duluan

SETELAH SINDROM KUNDALINI LEWAT

D = Dina
L = Leo

D = Mas.. ga OL ya? (offline message)

L = Baru online, tapi invisible kayak hantu. Hmmm hmmm
hmmm...

D = Mas, boleh tanya tanya ya, ini Dina.

L = Boleh aja mbak, please do.

D = Gini mas... dulu aku pernah cerita tentang mimpi
di dalam mimpi kan lewat email ke Mas Leo. Di mimpi
itu yg paling ga ngenakkin sebenernya sensasi
fisiknya, badanku rasanya lagi diremukkin dari dalam.

L = Ya, biasa kayak gitu. Hmmm hmmm hmmm...

D = Sebelum mimpi pun sering berasa aneh... kalo
lagi tidur2 ayam suka rasanya ada yg getar di tulang
belakang.

L = Kalo yang itu energi kundalini. Berrrr berrr
berrrr....

D = Setelah mimpi selesai... lama-lama sakit2 badan
berkurang,... gantinya cakra ajna saya aktif tiba2
(selama ini ga berasa aktif)... sampe sekarang jadi
suka pusing, apalagi kalo lagi ngobrol sama orang yg
emosian.

L = Ya, cuma sensasi sesaat. Benernya sensasi itu
BUKAN di tubuh fisik, tapi di tubuh etherik.
Maksudnya, di counterpart tubuh fisik kita yang adanya
di Dimensi Astral. Dimensi Non Fisik. Something like
that.

D = Pertanyaannya.. aku kena sindrom-nya kundalini ya
mas?

L = Well, aku rasa sindrom kundalininya itu UDAH
LEWAT. Sekarang cuma tinggal cari cara yang paling pas
buat jalan terus.

D = Iya mas.. aku bingung sakit apa.. kok aneh bgt
di badan rasanya.. Belum lagi kalo lagi solat jadi
geter2 sendiri badannya..

L = Aku sih merasa sindrom kundalininya itu UDAH
LEWAT, jadi sekarang tinggal gimana mau jalan terus;
tinggal gimana mau terima sebagai normal2 aja kalo
tiba2 bisa berasa ada yang "jalan2" di tangan, di
wajah, di kepala, dsb.

Kalo ada orang ngomong, memang bisa langsung berasa di
BADAN KITA tentang apa yang diomongin itu. Kalo yang
diomongin enak, langsung bisa berasa enak. Kalo yang
diomongin itu gak enak (gak bener), itu juga bisa
langsung berasa.

Ujung2nya kan akhirnya MAO GAK MAO menjadi diri
sendiri. Kalo emang jelek, bilanglah jelek. Kalo
bagus, bilanglah bagus. Well, ada juga KOMPROMI
sedikit2, tapi mostly menjadi diri sendiri.

Harus ketemu cara yang paling pas to live with
yourself. Memang ADA YANG BERUBAH di diri kita.
Energi2 yang terbuka itu mau gak mau akan mengharuskan
kita mengubah diri kita. Bukan hanya cara pandang
saja, melainkan juga kebiasaan2 (habits). So,
jalanin aja, so what?

D = Jadi aku pasrahin aja ya mas? emang ga nyaman
rasanya... orang lain pada cuek tiba2 aku pusing2
sendiri.

L = Kalo pusing minum paramex aja. Aku ini langganan
minum paramex, hmmm hmmm hmmm...

D = Iya iya... jadi jelas skr... aku tuh tadinya
bingung kenapa tiba2 badan rasanya nge-drop melulu,
but somehow berasa kalo ini bukan sakit di fisik.

L = Ya,.. aku bilang istilahnya itu di tubuh etherik.
Di jasad non fisik kita.

D = Yup yup... oke deh mas.. thanks ya, berarti
sekarang tinggal cari mau digimanain energi yg
seabrek2 ini..

L = Ya, you might want to experiment. Cobain aja buat
bantu orang2 yang lagi sakit. Caranya pake yang paling
gampang, yang langsung masuk ke kepala saat itu.
Eksperimen aja,... terus liat hasilnya gimana. Hmmm
hmmm hmmm...

D = Iya.. baru-baru ini tiba2 bisa kasih tau orang
lain mereka harus ngapain supaya masalahnya kelar.

L = Good, nah itu kan FIRST STEP. Nanti ada Second
Step. Third Step. Jalannya memang begitu, one step at
a time. Lama2 kan panjangggg.... juga.

Aku kan jalannnya juga begitu, selangkah demi
selangkah. Aku kalo mulai jalan gak tahu ujungnya itu
seperti apa, bahkan tengahnya itu kayak apa juga gak
tahu. Tapi aku jalanin aja. I KNOW that it works.
Contohnya, nanti malem taon baru aku kan bakal jadi
pembicara di talk show di Star Radio (107,3 FM). LIVE.

Orang2 akan pada telpon, boleh nanya apa aja, dan aku
LANGSUNG jawab saat itu juga.

Nah, even sampe sekarang, aku GAK TAU nanti itu mau
ngomong apa. Ngapain dipikirin? Hmmm hmmm hmmm...

D = Iya... makasih ya mas... So far itu aja dulu..
nanti kalo aku mandek lagi boleh tanya2 lagi ya !

L = Sure, nice talking with you today, take care, bay
bay !!

D = Take care mas ... bye...!

+++++++++++++

NEED HELP

Dear Mas Leo, Perkenalkan, nama saya Deni. Saya
beberapa waktu yg lalu baca email2 mas Leo yg dikirim
ke milis. Saya dah punya niat mau "ngobrol2" dng Mas
Leo, tapi mengingat keraguan saya akan hal2 "magic"
maka saya urungkan. Mumpung mendekati akhir tahun,
saya mau tanya. Ada orang yg punya hutang ke saya.
Setiap ditagih, dia selalu mengelak. Bicaranya selalu
manis. Seringkali saya mau marah, tapi ketika
berhadapan dng dia, baik itu secara langsung maupun
per telpon, niatan marah dan niatan menagih menjadi
sirna. Selidik punya selidik, dia konon memakai ilmu
"belut putih" warisan sang kakek. Boleh cerita ttg
ilmu "belut putih" tsb, dan bgmn melawannya supaya dia
membayar hutangnya ke saya.

Pertanyaan lain (sekedar intermezzo), waktu itu ada
komen ttg Mas Leo dari orang yg namanya Wuryanano
dimana menurut dia bahwa Mas Leo adalah seorang aliran
"gelap", dan e-mailnya dia dikirim ke milis. Koq Mas
Leo tidak mengkomen ttg emailnya dia dan malah
"menghilang" untuk sesaat.

Sekian dulu e-mail saya. terima kasih untuk waktunya
Salam, (Deni)

+++++++++++++

JAWABAN SAYA: TANYA AJA LANGSUNG KE ORANGNYA

Dear Mas Deni, Thanks for your question, hmmm hmmm
hmmm... Ilmu "Belut Putih" ya? Hmmm hmmm hmmm... masa
sih? Emang ada belut yang warnanya putih? Setahu aku
belut itu warnanya item, hmmm hmmm hmmm... Anyway,
PENAWAR dari "ilmu" semacam itu juga ada, tapi cuma
satu, dan itu harus anda sendiri yang melakukannya.
Caranya: TANYA SAJA. Tanya saja LANGSUNG sama orangnya
apakah dia punya ilmu itu, dan jelaskan juga sebab
anda itu merasa bahwa setiap kali mau menagih hutang
ke dia akhirnya jadi luluh sendiri, akhirnya gak jadi
nagih hutang, jadinya malah ngalor ngidul. Hmmm hmmm
hmmm... itu PENAWARNYA. Jadi, anda HARUS BERTANYA. Dan
bertanya itu LANGSUNG KE ORANGNYA. Tanya aja apa bener
dia itu memiliki ilmu "belut putih". Nah, setelah anda
bertanya itu, biarkan saja dia berbicara: blah blah
blah, blah blah blah... Apapun yang akan diucapkannya
itu tidak akan menjadi masalah. Dia bisa bilang ya,
bisa bilang tidak, bisa juga cuma tertawa saja, dan
itu semua TIDAK akan menjadi masalah. Yang penting
anda sudah tanya. Karena anda sudah tanyakan itu,
"ilmu" orang itu sudah rontok. Sudah tidak bisa lagi
digunakan. So, good luck !

Kalau tentang Wuryanano, saya sudah tulis langsung di
posting hari berikutnya bahwa dia itu seorang manusia
yang PALSU. Seorang motivator kok palsu? Hmmm hmmm
hmmm... biarin aja. Itu kan pilihan pribadi dia
sendiri. Nah, aku memang menarik diri dari beberapa
milis motivasional yang ternyata takut dan merasa
terancam dengan postingan2 aku yang apa adanya saja
seperti ini. Sebagian orang2 motivasional itu mau
bicara yang bagus2 saja, tapi kemunafikan itu tetap
saja ada di hati mereka. Mereka bisa bohong dengan
muka tertawa, hmmm hmmm hmmm... Kan katanya memberikan
"motivasi", jadi harus "positif", begitu kan jalan
pikirannya. Well, menurut aku itu munafik. Dan aku
tidak mengajarkan cara2 munafik seperti itu, termasuk
dengan mengaku-ngaku seperti yang dilakukan oleh
Wuryanano itu. Ngakunya "penulis best seller", tapi
ternyata dia itu orang yang bisa ngibul seenaknya.
Biarin aja, urusan dia sendiri. (Leo)

+++++++++++++

APAKAH BISA MENGATUR PERGERAKAN PRANA?

Salam Mas Leo.... belakangan ini saya sangat down baik
fisik maupun rohani saya. Apakah hanya ke perasaan
saja saya nggak ngerti....... Hampir dua minggu saya
coba blank perasaan saya, terus seperti ada yang
menekan, jadi seperti orang linglung...... Dan hal ini
terus akan saya jalankan (nggak mundur lagi). Akhir
minggu kedua saya melepaskan semuanya. Jalankan saja.
Memang terasa sedikit plong, tapi perasaan tertekan
itu masih terus datang lagi..... Pada malam saya
pasrah, dari cakra pusat ada naik (seperti jalan di
dalam tubuh) dan berhenti tepat di ulu hati.
Pertanyaaan saya, apakah kita bisa mengatur pergerakan
prana tersebut sesuai dgn ke inginan kita. Thks berat,
(Wisesa)

+++++++++++++

JAWABAN SAYA: JAWABANNYA UDAH DATENG DULUAN

Dear Mas Wisesa, Hmmm hmmm hmmm... jawabannya itu udah
DATENG DULUAN berupa tulisan dari Mas B di milis SI
<http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>
yang berjudul MENYELAM DALAM.

Hmmm hmmm hmmm... I KNOW what you mean. Aku juga
merasakan seperti itu, ada yang bilang istilahnya
SPIRITUAL DEPRESSION. Depressi spiritual.

Hmmm hmmm hmmm... Emangnya spiritualitas bisa depressi
juga ? maybe akan ada yang nanya begitu yang bakal aku
jawab, ya bisa. Dan itu memang normal. Semua nabi2 itu
mengalami depressi. Nabi Ibrahim, Nabi Yakub, Nabi
Yusuf, Nabi Musa,... Nabi Ellia, Nabi Daniel, Nabi
Daud,... bahkan Yesus (Isa). Semuanya itu mengalami,
sahabatku. Nabi2 itu kan MANUSIA BIASA, makanya bisa
depressi juga. Dan karena berasal dari pergulatan
batin (spiritual), makanya bisa juga disebut Depressi
Spiritual. Dan rasanya itu emang kayak mau mati aja.

Hmmm hmmm hmmm... Rasanya seperti ada yang narik2
terus ke bagian bawah,... biasanya memang ke BAGIAN
DADA. Rasanya kok gak tega sama yang ini. Rasanya kok
kasihan sama yang itu. Rasanya kok saya begini2 aja.
Dan itu semua tarikan KE ARAH BAWAH. Terasa di bagian
dada. Seperti ada yang menyesak di bagian dada.

Hmmm hmmm hmmm... Terus solusinya gimana? Solusinya,
seperti kata Mas B: kalau menyelam, menyelamlah LEBIH
DALAM. Dan kalau terbang, terbanglah LEBIH TINGGI.

Itu bahasa simbol,... maksudnya bertekunlah. Dan
tariklah terus ke bagian atas. Pusatkan di titik
antara kedua mata itu ketika meditasi. Ikhlas dan
Pasrah saja. Berserah saja,... relakan saja. Apapun
yang terjadi, terjadilah. Dan tadahkanlah diri kita di
TITIK itu. Itu titik dimana roh kita bertemu dengan
Roh Tuhan (All that Is, Al Khalik,... Allah, Acynthia,
God, Jehovah, Thian), dan cuma seperti itulah caranya.

Nanti kita akan merasakan seperti ada yang MENARIK KE
ATAS. Kita akan tertarik ke atas lagi sehingga
akhirnya menjadi seimbang (balanced). Hmmm hmmm
hmmm... seimbang untuk sementara sampai datang lagi
"cobaan" berikutnya ketika kita merasa ada yang
menarik ke arah bawah lagi.

Dan kita akan meditasi lagi dengan lebih tekun, lebih
ikhlas dan pasrah sampai merasakan ada yang MENARIK KE
ATAS lagi. Dan akhirnya kita akan berusaha untuk tetap
di atas itu. Akan bergantung terus disitu.

Hmmm hmmm hmmm... itu caranya. Semakin lama kita akan
semakin fasih. Jadi, ketika ada gejala ada yang
menarik ke arah bawah, secepat itu pula kita akan
langsung berusaha untuk BERPEGANG pada TITIK yang ada
di diri kita itu. Di Mata Ketiga atau Mata Batin itu.
Itu caranya. Aku juga begitu.

Setelah itu berjalan berkali-kali,... tanpa terasa
kita akan semakin fasih. Kita sendiri TIDAK merasakan.
Tetapi orang lain akan mengucap sesuatu tentang diri
kita, seolah-olah ada sesuatu yang membuat kita itu
beda dari orang2 yang tidak kultivasi Mata Ketiga. Ya,
memang beda.

Kalau orang duniawi itu akan panik dan kalut ketika
depressi datang. Kita itu TIDAK panik dan kalut. Kita
justru akan MENYELAM LEBIH DALAM. Justru akan TERBANG
LEBIH TINGGI. Yours, (Leo)

+++++++++++++

[Leo seorang praktisi PSIKOLOGI TRANSPERSONAL. HP No:
0818-183-615. E-mail: <leonardo_rimba@yahoo.com>.
Untuk bergabung dengan milis SI, please click:
<http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia/join>.
NOTE: Except mine, all names used in the YM / email
conversations are PSEUDONYMS.]

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Find great recruits

for your company.

Y! Messenger

PC-to-PC calls

Call your friends

worldwide - free!

Yahoo! Groups

Going Green

Share your passion

for the planet.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Salah satu alasan kenapa Kompatiologi berhasil??


Orang yang tidak mampu melihat atau buta masih bisa bertahan hidup
begitu juga dengan orang yang kurang dalam hal pendengaran atau istilahnya
tuli.

tapi bagaimana dengan orang yang tidak memiliki lidah atau sesuatu yang
digunakan untuk mengunyah, menelan, atau untuk 'merasa'?

salah satu alasan kenapa kompatiologi berhasil.. karena kompatiologi
menitikberatkan pada proses pengindraan melalui lidah.. yang untuk
merasakan minuman dari rasa manis, pahit, asem dan lain-lain.

saya berkali-kali ceramah pada orang bahwa kita ini hidup ini untuk
menunda mati. Kita makan karena lapar dan kelaparan salah satu
cara paling mudah untuk mati. begitu juga kita minum karena kita
haus, oleh karena kehausan dapat menyebabkan orang mati juga.

setiap hari kita makan. ada yang menunya sama setiap hari. ada
yang beda-beda. ada yang hanya makan sehari.. atau ada juga
makan tiga kali sehari.

"Hal ini dapat membuktikan bahwa orang bisa saling membunuh karena
perbedaan pendapat dan keyakinan. Tapi orang tidak akan membunuh
orang lain karena mengatakan.. bahwa nasi goreng ini tidak enak.. atau
ketoprak itu enak. Bahwa masakan ini kurang garam.. dimana yang lain
mengatakan keasinan."

"Hal yang paling subjektif adalah apa yang dirasakan oleh lidah!"

Dalam sesi pertama Dekon Kompatiologi.. adalah menebak rasa minuman
dan sensasinya.. dimana masing-masing orang wajib menjelaskan rasa suatu
minuman (yang dibeli di supermaket) dengan gayanya masing-masing. Dimana
hal-hal yang bersifat suci, pangkat tinggi, terhormat tidak terhormat, formal tidak
formal, kemapanan atau anti kemapanan.. bukanlah hal yang menentukan benar
atau salahnya pendapat orang tersebut. Mau setinggi apa pun derajatnya.. kalau
minuman itu rasanya pahit! dan orang lain mengatakan hambar atau kurang manis.. itu hanya pendapat-pendapat saja. Ia hanya mengatakan apa yang dirasakan terhadap minuman tersebut. Tidak ada benar-salah. Tidak ada terhormat-tidak hormat. Tidak ada darah biru atau pun darah coklat. Ketika berhubungan dengan rasa.. setiap orang punya pendapat.. dan rasanya masing-masing.

Kenapa demikian?

"Karena syarat hidup adalah makan. Dari kecil kita makan. Dan kita makan
untuk bertahan hidup, dimana kita bertahan.. yaa untuk menunda mati. Dan makan adalah suatu rutinitas yang kita lalui setiap hari. Mau kita manjakan lidah kita berbagai macam makanan yang berbeda setiap hari. atau makanan yang sama setiap hari (itu semua melihat kebutuhan dan keuangan). Ada orang yang prinsipnya kenyang enggak peduli cita rasa. Ada juga yang prinsipnya cita rasa tinggi.. kenyang hanya efek saja. Ada juga yang cita rasanya setengah.. kenyangnya juga setengah. Yaa semua kembali pada setiap manusia bagaimana memanjakan lidahnya."


nah, disinilah Kompatiologi.. berhasilnya... ketika semua orang yakin dengan semua rasa yang diminumnya.. atau sensasi yang timbul.. maka setiap orang
pada dasarnya memiliki sistem pengukuran sendiri. Apalagi dalam hal lidah..
yang esensial dan super penting, rutin dan sehari-hari.

ketika proses dekon terdekon menganalisa.. bahwa dari hal sederhana saja.. setiap individu memiliki pendapat dan interpretasi masing-masing.. apalagi sampai hal yang rumit.. bisa ada penambahan atau pengurangan.. terhadap kesimpulan realita-realita.. mau pun dogma-dogma yang pernah ia pahami.. dan itu semua untuk kepentingannya sendiri!

kekuatan karakter dari masing-masing individu terhadap rasa yang dirasakan.. pada akhirnya akan membuat terdekon berpikir.. bahwa keberagaman bukanlah keniscayaan.. dan bahwa keseragaman dan pembentukan pola pikir melalui cuci otak.. akan mudah dipatahkan... karena ketika berhubungan dengan rasa.. (yang rutin seperti lidah ketika makan) setiap orang adalah ahlinya. setiap orang memiliki pengukurannya masing-masing. mau itu enak atau tidak enak. pas atau tidak pas.

Kompatiologi berhasil karena menekankan pada indera yang dimanjakan setiap hari. Indera yang fungsinya paling vital yaitu untuk makan dan minum. Dimana kebutuhan paling dasar ketika orang bangun pagi.. atau terlalu larut begadang..
mereka butuh karbohidrat.. dan butuh tenaga. untuk mengembalikan kondisi tubuh..

Itulah kenapa Vincent mengatakan bahwa sesi ramal hanya keren-kerenan.. bukan sesuatu yang wah-wah.. atau dahsyat.. dimana sesi paling penting adalah ketika sesi pertama atau dekon menebak rasa dan sensasi dari suatu minuman.. dimana indera lidah (yang rutin sehari-hari, hukumnya wajib) yang kemudian diuji, dites, dan di.................. gitu deh.

kalau belum jelas...
yaa sudah
tapi para terdekon sepertinya paham apa yang aku maksud.

Salah satu alasan kenapa Kompatiologi berhasil??

"Karena bermain di wilayah rasa dari lidah. Dan sesungguhnya lidah mengirim data-data yang subjektif.. yang terlepas dari benar salah, baik buruk, surga neraka.."

ha ha ha!


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Find great recruits

for your company.

Y! Messenger

Want a quick chat?

Chat over IM with

group members.

Best of Y! Groups

Check out the best

of what Yahoo!

Groups has to offer.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] RE: mitos2 tentang perayaan natal bersama...

Hendrik goblok,

Di Kristen tak ada yang mempersoalkan kristen syria itu "asli" atau enggak, dan
gak ada yang mau repot-repot kasih label "sesat". Ini beda sama hobbymu itu.
Lucu bukan, orang kristen tak ada yang memperosalkan, sedangkan Muslim
pengangguran macem kamu ini yang malah ribut tiap hari sok jadi hakim atas
semuanya? Ha ha ha...ha ha ha...ha ha ha...ha ha ha...ha ha ha...

Mau natalan tanggal berapa kek, terserah aja. Mau natalan tiap hari juga boleh.
Wong yang dirayakan itu karunia Tuhan kok, bukan tanggalnya. Liat, manusia
goblok ini lagi-lagi terperangkap pada formalitas dan tak paham sama sekali
soal substansi. Makanya kalo menjalankan ajaran agama itu yang bener, jangan
cuma modal jubah dan sorban doang. Pake otakmu dan hatimu.

Ha ha ha..ha ha ha...ha ha ha...ha ha ha..., si hendrik bongkrek sibuk maen
spekulasi sendiri. Orang kristennya natalan dengan tenang, si nabi palsu ribut
sendiri soal kelompok kristen mana yang asli dan palsu. Dasar pengangguran!

Serah deh elo mau ngomong apa. EGP, he he he... emang orang kristen bakal rame-
rame pindah agama gara-gara pameran kegoblokan lu ini? Ngimpi kali yee... Mau
loe anggap Yesus nabi kek, tukang kayu kek, nelayan kek, bintang film kek,
bule, item, keling, melayu, so what gitu lhooooo.

Ha ha ha...ha ha ha...ha ha ha...ha ha ha...ha ha ha...ha ha ha.... Apes banget
umat Islam dapet muslim kaya si hendrik ini. Ini contoh mayoritas yang
bermental minoritas. Gak pede sama agamanya sendiri, sehingga harus sibuk
mendiskreditkan agama-agama lain. Gak nolong deh.

Ha ha ha...ha ha ha...ha ha ha...ha ha ha...ha ha ha...ha ha ha...

manneke

Quoting hendrik bakrie <henrik12syiah@yahoo.com>:

> hahahah.....hahahha..... saya hampir lupa.. kalau tidak salah, assiria adalah
> sebuah aliran kristen yg tidak mengakui ketuhanan yesus dan penyaliban yesus
> dan yesus sebagai anak tuhan... saya teringat pernah lihat salah satu VCD
> dimana berisi dialog yg melibatkan salah satu kelompok assiria (mungkin
> syiria kalau tidak salah) yg disampul VCD itu ada keterangan bahwa kelompok
> tersebut menentang tentang subtansi dari ajaran kristen yaitu "trinitas"..
> tapi sayang gue kagak beli waktu itu... jadi persoalannya, apakah org
> kristen yg sedang merayakan natal pada tanggal 25 Desember masih menganggap
> mereka (misalnya kelmpok assiria, nestorian dan ariusnisme) sebagai pengikut
> kristen juga...???? padahal mereka menentang itu....
>
> ngomong2 gereja itu natalan tanggal berapa ya...??? sebab ada kata
> "ortodoks" yg mungkin bisa membawa kita pada kata "ortodoks yunani" yg
> natalan bukan pada tanggal 25 desember... apalgi itu adalah kata "ortodoks
> assiria"......
>
> jadi sekali lagi "mungkin" kelompok itu adalah kelompok anti "trinitas"...
> kristen tetapi bukan kristen.. asli tapi palsu.....
> hahahahah....hahahaha......hahahah..... lihat aja kagak ada bangku, salib
> dinding, lukisan yesus dan maria....
>
> hahahhahah.....hahahahha......hahahah..... kalau diislam "ketauhidan" itu
> sudah harga mati.. apapun alirannya itu tetap dipersatukan oleh itu.... sebab
> "ketauhidan" adalah jiwa/ruh islam itu sendiri..
>
> tetapi dikristen.. mengapa ada yg anti "trinitas"....??? apakah trinitas
> itu berasal dari yesus atau kekurang ajaran terhadap ajaran yesus...??? jadi
> sudah saatnya org kristen harus berpikir,bertanya,dst kepada para pastur atau
> mungkin kardinal dan paus "ada apa dengan persidangan nicea itu...??? mengapa
> ada shadah nicea...??? dan mengapa hal itu ada ratusan tahun setelah kematian
> yesus...??? atas dasar apa sehingga persidangan itu dilakukan...????.. siapa
> dan ada apa dengan arius..??? mengapa ada nestrorian...???
>
> hati2 trinitas adalah jiwa/ruh kristen.. tetapi bagaimana jika jiwa/ruh
> agama ternyata "bukan kebenaran".....???? maka anda akan berada pada
> "kekafiran" dan harus mempertanggungjawabkan kelak....
>
> jadi kedatangan/pengutusan nabi Muhammad SAWW adalah "memperjelas" atau
> memberikan jawaban dari ALLAH SWT tentang status yesus/isa putra
> maryam/maria bagi para pencinta yesus/isa sendiri... sebab tidak mungkin anda
> akan bertanya kepada pendeta yahudi.. "apakah yesus itu tuhan sekaligus anak
> tuhan (seperti firaun) atau nabi saja (seperti musa as)"...???
>
> .. jadi dengan sendirinya nabi Muhammad SAWW telah menjadi "rahmat bagi
> pencinta al masih"..... tetapi sayang, setelah sang nabi itu mengatakan
> jawaban itu malah kalian menolak dan memilih kekafiran....
>
> "dan ALLAH SWT sebaik2 pemberi balasan" (alquran)
> "hai ahlil kitab marilah kita dialog sehingga tidak ada keraguan diantara
> kita (siapa itu tuhan,siapa itu ALLAH SWT, apakah yesus itu tuhan atau
> nabi,dll) sehingga kita bisa menemukan bahwa tidak ada tuhan selain ALLAH
> SWT" (alquran)
>
> mudah2an saya tidak salah menyangkut kelompok itu...
>
> Anwar Haryono <aharyono@klaras.co.id> wrote:
>
> Di Irak ada MUI (Majlis Ulama Irak) gak ya? ...…he…he
>
>
>
>
>
> Salam,
> Anwar
>
>
> ---------------------------------
>
> From: psikologi_transformatif@yahoogroups.com
> [mailto:psikologi_transformatif@yahoogroups.com] On Behalf Of hendrik bakrie
> Sent: Thursday, December 27, 2007 9:42 AM
> To: psikologi_transformatif@yahoogroups.com
> Subject: [psikologi_transformatif] mitos2 tentang perayaan natal bersama...
>
>
> Mitos-Mitos tentang Perayaan Natal Bersama
>
>
>
> Rabu, 26 Desember 2007
> Untuk tujuan 'kerukunan beragama' lahirnya mitos-mitos "idul fitri
> berama", "doa bersama" atau "Natal bersama". Ibnu Taimiyyah, menyebutnya
> bentuk 'munafik'
>
> (Kritik terhadap Pendapat Prof. Dr. Din Syamsuddin)
>
> Oleh: Adian Husaini *
>
> Pada tang! gal 25 Desember 2007, saat sedang berada di Palembang, saya
> menerima b anyak SMS yang bernada prihatin, bahwa Prof. Dr. Din Syamsuddin,
> selaku Ketua Umum PP Muhammadiyah, akan menghadiri acara Perayaan Natal
> Bersama (PNB) pada 27 Desember 2007. Selama di Palembang, saya tidak sempat
> mengecek kebenaran berita itu. Barulah pada Rabu (26 Desember 2007) pagi ini,
> saya sempat mengecek berita tersebut. Setelah menerima sebuah SMS tentang
> duduk cerita rencana kehadiran Din Syamsuddin dalam acara PNB tersebut, saya
> kemudian merasa perlu menulis artikel seputar PNB ini, untuk mengoreksi
> beberapa logika Din Syamsuddin. Sekitar tiga tahun lalu, pada 24 Desember
> 2004, saat tinggal di Kuala Lumpur, saya sudah menulis Catatan Akhir Pekan
> ke-83, dengan judul yang sama dengan artikel ini.
>
> Bagi saya pribadi, pernyataan dan pemikiran Din Syamsuddin tentang PNB
> memang agak mengejutkan. Artikel ini sama sekali tidak bermaksud meragukan
> keimanan Din Syamsuddin sebagai seorang Muslim. Saya kenal beliau sangat
> lama, dan sampai detik saya menulis artikel ini, saya masih percaya akan
> komitmen yang tinggi Din Syamsuddin sebagai seorang Muslim. Sekarang, saya
> juga duduk sebagai pengurus Majelis Tabligh PP Muhammadiyah dan di pengurus
> MUI Pusat. Tentu saya sebenarnya tidak ingin tulisan ini dibaca secara
> terbuka.
>
> Akan tetapi, karena Din Syamsuddin sudah mempublikasikan pemikirannya
> secara luas dan terbuka, maka menjadi kewajiban saya untuk menjawab
> logika-logika Din Syamsuddin secara terbuka pula. Sebab, ini sudah menyangkut
> urusan Islam, bukan hanya urusan Muhammadiyah atau MUI. Juga, logika seperti
> ini, sudah sering dikemukakan oleh berbagai pihak. Jadi, ini adalah bagian
> dari kewajiban untuk melakukan taushiyah antar sesama Muslim. Dan ini sangat
> penting, karena kekeliruan pemikiran seorang pemimpin agama – apalagi yang
> bergelar Prof. Dr. -- dapat berakibat fatal, karena dianggap sebagai rujukan
> kebenaran. Rasulullah saw bersabda bahwa "Mimmaa akhaafu 'alaa ummatiy
> zallatu 'aalimin wa jidaalu munaafiqin fil Quraani." (Termasuk diantara
> perkara yang aku khawatirkan menimpa umatku adalah tergelincirnya orang alim
> (dalam kesalahan) dan silat lidahnya orang munafik tentang Al-Quran." (HR
> Thabrani dan Ibn Hibban). Saya berpendapat, bahwa dalam soal PNB ini, Pak Din
> Syamsuddin
> sedang tergelincir pemikirannya, dan mudah-mudahan bersedia meluruskannya
> kembali.
>
> Situs www.detik.com, (24/12/2007 15:32 WIB), menulis berita berjudul "Din
> Tidak Larang Hadiri Perayaan &Ucapkan Selamat Natal". Ditulis dalam berita
> ini: "Bagi Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, menghadiri seremonial
> Natal tidak seharusnya dihindari. Demikian pula dengan memberikan ucapan
> selamat Natal kepada kaum Kristiani. "Saya pribadi berpendapat fatwa MUI
> sejak zaman Buya adalah larangan menghadiri upacara Natal yang berdimensi
> ibadah dan keyakinan karena itu wilayah keyakinan masing-masing. Tetapi yang
> berbentuk seremoni tidak seharusnya terhindari," kata Din.
>
> Hal ini disampaikan Din usai menerima kunjungan panitia Perayaan Natal
> Nasional 2007 di kantor PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat,
> Senin (24/12/2007). Din pun mengaku bersedia menghadiri perayaan Natal
> Nasional yang akan digelar pada 27 Desember 2007 mendatang.
>
> Juga diberitakan detik.com, bahwa dalam kesempatan itu, Ketua Umum
> Panitia Perayaan Natal Nasional, Mari Elka Pangestu mengharapkan Din hadir
> dalam acara tersebut. "Kita berharap perayaan Natal bisa mengatasi
> permasalahan yang dihadapi bangsa ini. Kita juga sudah menyampaikan berbagai
> bantu! an ke berbagai daerah seperti sembako di NTT dan penanaman 50 ribu
> pohon di Cipularang," ujarnya, seperti dikutip detik.com.
>
> Sebenarnya, di dalam Muhammadiyah sendiri, masalah "Perayaan Natal
> Bersama" dan soal "Mengucapkan Selamat Natal" sudah selesai dibahas. Di dalam
> buku Tanya Jawab Agama Jilid II, oleh Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjih, yang
> diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah (1991), hal. 238-240, sudah diterangkan,
> bahwa hukum menghadiri PNB adalah Haram. Muhammadiyah dalam hal ini juga
> mengacu kepada fatwa MUI.
>
> Adapun soal "Mengucapkan Selamat Hari Natal" dapat digolongkan sebagai
> perbuatan yang syubhat dan bisa terjerumus kepada haram, sehingga
> Muhammadiyah menganjurkan agar perbuatan ini tidak dilakukan.
>
> Fatwa yang Digugat
> Secara umum, kita akan mengupas logika yang menganjurkan perlunya PNB
> dalam paparan berikut ini. Seperti dikutip dalam berita itu, Mari Elka
> Pangestu berharap, Din Syamsuddin akan hadir dalam acara PNB, dan dia pun
> berharap, perayaan Natal bisa mengatasi permasalahan yang dihadapi bangsa
> ini. Kita maklum, selama ini tidak mudah mengajak tokoh Islam untuk hadir
> dalam PNB, karena terganjal oleh Fatwa MUI tentang PNB. Karena itulah, sejak
> diterbitakannya fatwa MUI tentang PNB, tahun 1981, fatwa itu sudah menuai
> kritik yang tiada habis-habisnya. Ada yang mengkritik secara terbuka dan ada
> juga yang tidak setuju secara diam-diam.
>
> Karena itu, kita perlu menelaah masalah PNB ini secara mendasar. Ketika
> fatwa itu dikeluarkan, saya sedang duduk di bangku kelas 1 SMA di Bojonegoro.
> Saya mengikuti perdebatan tentang fatwa itu dari kampung saya, Desa
> Kuncen-Padangan-Bojonegoro, melalui majalah Panji Masyarakat, yang dilanggan
> ayah saya (almarhum, seorang guru SD yang juga Pengurus Muhammadiyah
> Padangan). Dari majalah ini, hampir tidak pernah saya lewatkan membaca rubrik
> Dari Hati ke Hati asuhan Buya Hamka.
>
> Seperti kita ketahui, Hamka kemudian memilih untuk mengundurkan diri
> sebagai ketua MUI, ketimbang menarik kembali peredaran fatwa itu, sebagaimana
> diminta oleh Menteri Agama ketika itu Alamsyah R. Perwiranegara. Saya masih
> ingat, saya menitikkan air mata, ketika membaca tulisan Hamka tentang
> pengunduran dirinya sebagai Ketua Umum MUI. Ketika itu, saya berpikiran,
> "Beginilah seharusnya seorang ulama: luas ilmunya dan kokoh pendiriannya!" Di
> kalangan Muhamamdiy! ah sediri, Hamka sangat dihormati, sehingga namanya
> diabadikan menjadi sebuah Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, di
> Jakarta. Sayang sekali, akhir-akhir ini ada sejumlah buku dan artikel yang
> mencoba 'memelintir' pendapat-pendapat Hamka, sehingga seolah-olah Hamka
> adalah seorang penganut paham Pluralisme Agama.
>
> Maka, saya senantiasa merasa amat sangat sedih dan pilu, ketika ada
> diantara orang-orang Muhammadiyah atau MUI sendiri yang kemudian menggugat
> atau menyalahpahami fatwa ini. Jika gugatan atau kesalahpahaman terhadap
> fatwa PNB itu datang dari kaum liberal atau non-Muslim, masih bisa dipahami.
> Terakhir, misalnya, Luthfi Asyaukanie, yang menyebut dirinya sebagai
> 'Koordinator Jaringan Islam Liberal', dalam artikelnya yang berjudul "Sikap
> Negara terhadap Aliran Sesat" (Koran Tempo, 22 Desember 2007), menulis:
> "Majelis Ulama Indonesia berkali-kali meresahkan masyarakat dengan
> fatwa-fatwa mereka (fatwa menghadiri perayaan Natal, misalnya)."
>
> Jadi, fatwa PNB ini oleh kaum liberal senantiasa diposisikan sebagai
> fatwa yang meresahkan masyarakat. Dan seperti biasa, menjelang perayaan Hari
> Natal, 25 Desember, ada saja sebagian kalangan yang kembali menggugat fatwa
> MUI tentang "haramnya seorang Muslim hadir dalam Perayaan Natal Bersama." Ada
> yang menyatakan, bahwa yang melarang PNB atau yang tidak mau menghadiri PNB
> adalah orang yang tidak toleran, eksklusif, tidak menyadari pluralisme, tidak
> menghargai multikulturalisme, tidak mau berta'aruf, dan sebagainya. Padahal
> orang Islam disuruh melakukan ta'aruf (QS 49:13). Banyak yang kemudian
> berdebat tentang "boleh dan tidaknya" menghadiri PNB, tanpa menyadari, bahwa
> sebenarnya telah banyak diciptakan mitos-mitos seputar apa yang disebut PNB
> itu sendiri.
>
> Marilah kita telaah mitos-mitos tersebut:
>
> PERTAMA, mitos bahwa PNB adalah keharusan. Mitos ini seperti sudah begitu
> berurat berakar, bahwa PNB adalah enak dan perlu. Padahal, bisa
> dipertanyakan, dalam tataran kenegaraan, apa memang perlu diadakan PNB? Untuk
> apa? Jika PNB perlu, bahkan dilakukan pada skala nasional dan dijadikan acara
> resmi kenegaraan – yang mengharuskan Presiden menghadirinya -- maka perlukah
> juga diadakan WB (Waisak Bersama), NB (Nyepi Bersama), IFB (Idul Fithri
> Bersama), IAB (Idul Adha Bersama), MNB (Maulid Nabi Bersama), IMB (Isra'
> Mi'raj Bersama), IB (Imlek Bersama). Jika semua itu dilakukan, mungkin demi
> alasan efisiensi dan pluralisme beragama, akan ada yang usul, sebaiknya semua
> umat beragama merayakan HRB (Hari Raya Bersama), yang menggabungkan hari raya
> semua agama menjadi satu. Di situ diperingati bersama kelahiran Tuhan Yesus,
> peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw, dan kelahiran dewa-dewa tertentu, dan
> sebagainya.
>
> Keharusan PNB sebenarnya adalah sebuah mitos, khususnya kata "Bersama".
> Jika kaum Kristen merayakan Natal, mengapa mesti harus melibatkan kaum agama
> lain? Ketika itu mereka memperingati kelahiran Tuhan Yesus, maka mengapa
> mesti mendorong-dorong umat agama lain untuk mendengarkan cerita tentang
> Yesus dalam versi Kristen? Mengapa doktrin tentang Yesus sebagai juru selamat
> umat manusia itu tidak diyakini diantara pemeluk Kristen sendiri?
>
> Di sebuah negeri Muslim terbesar di dunia, seperti Indonesia, wacana
> tentang perlunya PNB adalah sebuah 'keanehan'. Kita tidak pernah mendengar
> bahwa kaum Kristen di AS, Inggris, Kanada, Australia, misalnya, mendiskusikan
> tentang perlunya dilaksanakan IFB (Idul Fithri Bersama), agar mereka disebut
> toleran. Bahkan, mereka tidak merasa perlu menetapkan Idul Fithri atau Idul
> Adha sebagai hari libur nasional. Padahal, di Inggris, Kanada, dan Australia,
> mereka menjadikan 26 Desember sebagai "Boxing Day" dan hari libur nasional.
> Selain Natal, hari Paskah diberikan libur sampai dua hari (Easter Sunday dan
> Esater Monday). Di Kanada dan Perancis, Hari Natal juga libur dua hari. Hari
> libur nasional di AS meliputi, New Year's Day (1 Januari), Martin Luther King
> Jr Birthday (17 Januari), Washingotn's Birthday (21 Februari), Memorial Day
> (30 Mei), Flag Day (14 Juni), Independence Day (4 Juli), Labour Day (5
> September), Columbus Day (10 Oktober), Veterans Day (11 November),
> Thanksgiving's Day (24 November), Christmas Day (25 Desember).
>
> KEDUA, mitos bahwa PNB bertujuan membina kerukunan umat beragama. Mitos
> ini begitu kuat dikampanyekan, bahwa salah satu cara membina kerukunan antar
> umat beragama adalah dengan menghadiri PNB, sehingga orang yang menolak untuk
> menghadiri PNB dipersepsikan sebagai orang yang tidak toleran dan tidak mau
> rukun. Padahal, dalam PNB biasanya dilakukan berbagai acara yang menegaskan
> keyakinan umat Kristen terhadap Yesus, bahwa Yesus adalah anak Allah yang
> tunggal, juru selamat umat manusia, yang wafat di kayu salib untuk menebus
> dosa umat manusia. Kalau mau selamat, manusia diharuskan percaya kepada
> doktrin itu. (Yohanes, 14:16). Dalam dokumen Konstitusi Dogmatik tentang
> Gereja (Lumen Gentium, 14) yang disahkan pada 21 November 1964, dalam Konsili
> Vatikan II, disebutkan: "Karena satu-satunya Perantara dan jalan keselamatan
> adalah Kristus, yang hadir di antara kita di dalam Tubuhnya yaitu Gereja...
> Oleh karenanya tidak dapat diselamatkan orang-orang itu, yang walaupun tahu
> bahwa Gereja Katolik didirikan oleh Allah dengan perantaraan Yesus Kristus,
> sebagai sesuatu yang diperlukan, toh tidak mau masuk ke dalamnya atau tidak
> mau bertahan di dalamnya." (Terjemah oleh Dr. J. Riberu, Dokpen MAWI, 1983).
>
> Sementara itu, dalam Islam, kepercayaan bahwa Yesus adalah Tuhan atau
> anak Tuhan dipandang sebagai satu kekeliruan yang amat sangat serius -- satu
> kepercayaan yang dikritik keras oleh Al-Quran. (QS 5:72-73, 157; 19:89-91,
> dsb). Dalam surat Maryam disebutkan, memberikan sifat bahwa Allah punya anak,
> adalah satu "Kejahatan besar" (syaian iddan). Dan Allah berfirman dalam
> Al-Quran: "Hampir-hampir langit runtuh dan bumi terbelah serta gunung-gunung
> hancur. Bahwasanya mereka mengklaim bahwa al-Rahman itu mempunyai anak." (QS
> 19:90-91).
>
> Prof. Hamka menyebut tradisi Perayaan Hari Besar Agama Bersama semacam
> itu bukan menyuburkan kerukunan umat beragama atau membangun toleransi,
> tetapi menyuburkan kemunafikan. Di akhir tahun 1960-an, Hamka menulis tentang
> usulan perlunya diadakan perayaan Natal dan Idul Fithri bersama, karena
> waktunya berdekatan:
>
> "Si orang Islam diharuskan dengan penuh khusyu' bahwa Tuhan Allah
> beranak, dan Yesus Kristus ialah Allah. Sebagaimana tadi orang-orang Kristen
> disuruh mendengar tentang Nabi Muhammad saw dengan tenang, padahal mereka
> diajarkan oleh pendetanya bahwa Nabi Muhammad bukanlah nabi, melainkan
> penjahat. Dan Al-Quran bukanlah kitab suci melainkan buku karangan Muhammad
> saja. Kedua belah pihak, baik orang Kristen yang disuruh tafakur mendengarkan
> Al-Quran, atau orang Islam yang disuruh mendengarkan bahwa Tuhan Allah itu
> ialah satu ditambah dua sama dengan satu, semuanya disuruh mendengarkan
> hal-hal yang tidak mereka percayai dan tidak dapat mereka terima… Pada
> hakekatnya mereka itu tidak ada yang toleransi. Mereka kedua belah pihak
> hanya menekan perasaan, mendengarkan ucapan-ucapan yang dimuntahkan oleh
> telinga mereka. Jiwa, raga, hati, sanubari, dan otak, tidak bisa menerima.
> Kalau keterangan orang Islam bahwa Nabi Muhammad saw adalah Nabi akhir zaman,
> penutup sekalian Rasul.
> Jiwa raga orang Kristen akan mengatakan bahwa keterangan orang Islam ini
> harus ditolak, sebab kalau diterima kita tidak Kristen lagi. Dalam hal
> kepercayaan tidak ada toleransi. Sementara sang pastor dan pendeta
> menerangkan bahwa dosa waris Nabi Adam, ditebus oleh Yesus Kristus di atas
> kayu palang, dan manusia ini dilahirkan dalam dosa, dan jalan selamat hanya
> percaya dan cinta dalam Yesus."
>
> Demikian kutipan tulisan Prof. Hamka yang ia beri judul: "Toleransi,
> Sekulerisme, atau Sinkretisme." (Lihat, buku Hamka, Dari Hati ke Hati,
> (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002).
>
> KETIGA, mitos bahwa dalam PNB orang Muslim hanya menghadiri acara
> non-ritual dan bukan acara ritual. Dalam ungkapan Din Syamsuddin: "Saya
> pribadi berpendapat fatwa MUI sejak zaman Buya adalah larangan menghadiri
> upacara Natal yang berdimensi ibadah dan keyakinan karena itu wilayah
> keyakinan masing-masing. Tetapi yang berbentuk seremoni tidak seharusnya
> terhindari."
>
> Kita patut bertanya, apa kriteria untuk menentukan bahwa suatu kegiatan
> dalam perayaan Natal adalah "ibadah" dan yang lain adalah "seremoni". Sebab,
> sebagaimana disebutkan oleh Prof. Huston Smith, "Christianity, is basically a
> historical religion. It is founded not in abstract principles, but in
> concrete events, actual historical happenings. (Lihat, Huston Smith, The
> World's Religions, (New York: Harper CollinsPubliser, 1991). Agama Kristen
> tidak memiliki sistem ibadah yang bersifat "revealed" yang sama untuk semua
> Kristen sebagaimana dalam Islam. Karena itulah, setiap sekte atau Gereja
> memiliki tata cara ibadah yang 'khas', yang berbeda satu dengan lainnya.
> Setiap Gereja, pada setiap zaman, dan setiap tempat, dalam membuat kreasi
> sendiri dalam "ibadah". Karena itu, dalam konsep Kristen, tidak mudah untuk
> menentukan, mana yang ibadah atau ritual, dan mana yang non-ritual atau yang
> seremoni. Misalnya, acara-acara KKR di berbagai hotel atau lapangan, apakah
> dikategorikan
> sebagai ibadah aau seremoni?
>
> Konsep kenabian (prophecy) dalam agama Kristen berbeda dengan konsep
> kenabian dan konsep uswah sebagaimana konsep kenabian Islam. Umat Islam
> memiliki tata cara ibadah yang satu, karena ada contohnya yang jelas, yaitu
> sunnah Nabi Muhammad saw. Ke mana pun umat Islam pergi dan dimana pun,
> kapanpun, orang Islam shalat dengan cara yang sama. Umat Islam takbir, ruku',
> sujud, dengan cara yang sama. Bahkan, sejumlah aliran yang disebut "sesat"
> dalam Islam masih memiliki ibadah yang sama. Dalam Islam sistem ibadah tidak
> berubah, sudah sempurna sejak awal, di zaman Nabi Muhammad saw. (QS 5:3).
> Karena itu, bagi umat Islam, mudah menentukan, mana yang ritual dan mana yang
> non-ritual. Shalat Idul Fithri adalah ritual, tetapi kunjungan ke rumah-rumah
> setelah shalat Id adalah tradisi, non-ritual. Karena itulah, dalam fatwa MUI
> tentang PNB yang dikeluarkan tanggal 7 Maret 1981 disebutkan bahwa "Perayaan
> Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan ibadah."
>
> Untuk menjernihkan masalah "ibadah" dan "seremoni" dalam Natal, bagus
> juga kita tengok sejarah peringatan Natal itu sendiri, dan sulitnya
> memisahkan antara yang ibadah dan yang seremoni. Sebab, tradisi ini tidak
> muncul di zaman Yesus dan tidak pernah diperintahkan oleh Yesus. Maka,
> bagaimana bisa ditentukan, mana yang ibadah dan mana yang seremoni? Remi
> Silado, seorang budayawan Kristen, menulis kolom di majalah Gatra, edisi 27
> Desember 2003. Judulnya "Gatal di Natal". Beberapa kutipan kolomnya kita
> petik di sini:
>
> (1) "Sebab, memang tradisi pesta ceria Natal, yang sekarang gandrung
> dinyanyikan bahasa kereseh-reseh Inggris, belum lagi terlembaga. Sapaan
> Natal, "Merry Christmas" --dari bahasa Inggris Lama, Christes Maesse, artinya
> "misa Kristus"-- baru terlembaga pada abad ke-16, dan perayaannya bukan pada
> 25 Desember, melainkan 6 Januari."
>
> (2) "Dengan gambaran ini, keramaian Natal sebagai perhitungan tahun
> Masehi memang berkaitan dengan leluri Barat, istiadat kafir, atau tradisi
> pagan, yang tidak berhubungan dengan Yesus sendiri sebagai sosok
> historis-antropologis bangsa Semit, lahir dari garis Ibrahim dan Daud, yang
> merupakan bangsa tangan pertama yang mengenal monoteisme absolut lewat
> Yehwah."
>
> (3) Saking gempitanya pesta Natal it! u, sebagaimana yang tampak saat
> ini, karuan nilai-nilai rohaninya tergeser dan kemudian yang menonjol adalah
> kecenderungan-kecenderungan duniawinya semata: antara lain di Manado orang
> mengatakan "makang riki puru polote en minung riki mabo" (makan sampai pecah
> perut dan minum sampai mabuk).
>
> (4) "Demikianlah, soal Natal sekali lagi merupakan gambaran pengaruh
> Barat, dan persisnya Barat yang kafir, yang dirayakan dengan keliru."
>
> Yang jelas-jelas tidak ritual adalah menghadirkan tokoh Santa Claus,
> karena ini adalah tokoh fiktif yang kehadirannya dalam peringatan Natal
> banyak dikritik oleh kalangan Kristen. Sebuah situs Kristen (www.sabda.org),
> menulis satu artikel berjudul: "Merayakan Natal dengan Sinterklas: Boleh atau
> Tidak?" Dikatakan, "Dalam artikelnya yang berjudul The Origin of Santa Claus
> and the Christian Response to Him (Asal-usul Sinterklas dan Tanggapan Orang
> Kristen Terhadapnya), Pastor Richard P. Bucher menjelaskan bahwa tokoh
> Sinterklas lebih merupakan hasil polesan cerita legenda dan mitos yang
> kemudian diperkuat serta dimanfaatkan pula oleh para pelaku bisnis.
> Sinterklas yang kita kenal saat ini diduga berasal dari cerita kehidupan
> seorang pastor dari Myra yang bernama Nicholas (350M). Cerita yang beredar
> (tidak ditunjang oleh catatan sejarah yang bisa dipercaya) mengatakan bahwa
> Nicholas dikenal sebagai ! pastor yang melakukan banyak perbuatan baik dengan
> menolong orang-orang
> yang membutuhkan. Setelah kematiannya, dia dinobatkan sebagai "orang suci"
> oleh gereja Katolik, dengan nama Santo Nicholas. Nilai-nilai yang ditanamkan
> oleh Sinterklas sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran iman Kristen… Akhirnya,
> sebagai guru Sekolah Minggu kita harus menyadari bahwa hal terpenting yang
> harus kita perhatikan adalah menjadikan Kristus sebagai berita utama dalam
> merayakan Natal -- Natal adalah Yesus."
>
> Karena itu, kita bertanya, bagaimana seandainya seorang Prof. Dr. Din
> Syamsuddin mengenakan busana ala Santa Claus, dengan alasan itu bukan
> termasuk ibadah? Tentulah, sulit diterima. Dan kita yakin, Pak Din Syamsuddin
> sendiri, tentu tidak akan bersedia melakukan tindakan tersebut.
>
> KEEMPAT, mitos bahwa tidak ada unsur misi Kristen dalam PNB. Melihat PNB
> hanya dari sisi kerukunan dan toleransi tidaklah tepat. Sebab, dalam PNB
> unsur misi Kristen juga perlu dijelaskan secara jujur. PNB adalah salah satu
> media yang baik untuk menyebarkan misi Kristen, agar umat manusia mengenal
> doktrin kepercayaan Kristen, bahwa dengan mempercayai Tuhan Yesus sebagai
> juru selamat, manusia akan selamat. Sebab, misi Kristen adalah tugas penting
> dari setiap individu dan Gereja Kristen.
>
> Dalam dokumen Konstitusi Dogmatik tentang Gereja (Lumen Gentium, 1) juga
> disebutkan: "Christ is the Light of nations. Because this is so, t! his
> Sacred Synod gathered together in the Holy Spirit eagerly desires, by
> proclaiming the Gospel to every creature, to bring the light of Christ to all
> men, a light brightly visible on the countenance of the Church." (Terjemahan
> oleh Dr. J. Riberu adalah: "Terang bangsa-bangsa adalah Kristus. Karena itu
> Konsili Suci ini, yang berhimpun dalam Roh Kudus, ingin sekali mewartakan
> Injil kepada segala makhluk (bdk Mk 16:15) dan menerangi semua manusia dengan
> cahaya Kristus, yang terpantul pada wajah Gereja).
>
> Dokumen Konsili Vatikan II, Ad Gentes, juga menugaskan, agar semua
> manusia harus dijadikan sasaran misi. Ad gentes juga menugaskan agar misi
> Kristen tetap dijalankan dan semua manusia harus dibaptis. Disebutkan, bahwa
> Gereja telah mendapatkan tugas suci untuk menjadi "sakramen universal
> penyelamatan umat manusia (the universal sacrament of salvation), dan untuk
> memaklumkan Injil kepada seluruh manusia (to proclaim the gospel to all men).
> Juga ditegaskan, semua manusia harus dikonversi kepada Tuhan Yesus, mengenal
> Tuhan Yesus melalui misi Kristen, dan semua manusia harus disatukan dalam
> Yesus dengan pembaptisan. (Therefore, all must be converted to Him, made
> known by the Church's preaching, and all must be incorporated into Him by
> baptism and into the Church which is His body).
>
> Tentu adalah hal yang normal, bahwa kaum Kristen ingin menyebarkan
> agamanya, dan memandang penyebaran misi Kristen sebagai tugas suci mereka.
> Namun, alangkah baiknya, jika hal itu dikatakan secara terus-terang, bahwa
> acara-acara seperti PNB memang merupakan bagian dari penyebaran misi Kristen.
> Paus Yohanes Paulus II, dalam Ensiklik-nya, Redemptor Hominis, (dikeluarkan 4
> Maret 1979) menyatakan, bahwa Gereja berkeinginan agar setiap orang dapat
> menemukan Kristus (The church wishes to serve this single end: that each
> person may be able to find Christ, so that Christ may walk with each one the
> path of life).
>
> Lebih jauh lagi ditegaskan dalam Dekrit Dominus Jesus: "The Lord Jesus,
> before ascending into heaven, commanded his disciples to proclaim the Gospel
> to the whole world and to baptize all nations: "Go into the whole world and
> proclaim the Gospel to every creature. He who believes and is baptized will
> be saved; he who does not believe will be condemned. (Mk 16:15-16); "All
> power in heaven and on earth has been given to me. Go therefore and teach all
> nations, baptizing them in the name of the Father, and of the Son, and of the
> Holy Spirit, teaching them to observe all that I have commanded you. And
> behold, I am with you always, until the end of the world?(Mt 28:18-20; cf. Lk
> 24:46-48; Jn 17:18,20,21; Acts 1:8).
>
> Sebagai Muslim, kita menghormati keyakinan dan tugas misi kaum Kristen
> tersebut. Karena itu adalah keyakinan mereka. Paus Yohanes Paulus II pun
> maklum akan perbedaan mendasar antara Kristen dengan Islam. Dalam sebuah
> wawancara, Paus mengatakan, bahwa Islam bukan agama penyelamatan. (Islam is
> not a religion of redemption). Dalam Islam, kata Paus, tidak ada ruang untuk
> Salib dan Kebangkitan Yesus (… in Islam, there is no room for the Cross and
> the Resurrection).
>
> Lebih jauh Paus menyatakan: "Jesus is mentioned, but only as a prophet
> who prepares for the last prophet, Muhammad. There is also mention of Mary,
> His Virgin Mother, but the tragedy of redemption is completely absent." "For
> this reason," Paus menyimpulkan, "not only the theology but also the
> anthropology of Islam is very distant from Christianity." (Lebih jauh tentang
> pernyataan Paus Yohanes Paulus II, lihat Vittorio Messori (ed.), Crossing The
> Threshold of Hope by His Holiness John Paul II, (New York: Alfred A. Knopf,
> 1994).
>
> Imbauan
>
> Dengan memahami hakekat Natal dan PNB, seyogyanya kaum non-Muslim
> bersedia menghormati fatwa Majelis Ulama Indonesia yang melarang umat Islam
> untuk menghadiri PNB. MUI sama sekali tidak melarang kaum Kristen merayakan
> Natal. Fatwa itu adalah untuk internal umat Islam, dan sama sekali tidak
> merugikan pemeluk Kristen. Fatwa itu dimaksudkan untuk menjaga kemurnian
> aqidah Islam dan menghormati pemeluk Kristen dalam merayakan Hari Natal.
> Mestinya, kaum non-Muslim menghormati keyakinan umat Islam ini, sebagaimana
> difatwakan oleh MUI. Fatwa itu dikeluarkan Komisi Fatwa MUI pada 7 Maret
> 1981, yang isinya antara lain menyatakan: (1) Mengikuti upacara Natal bersama
> bagi umat Islam hukumnya haram (2) agar umat Islam tidak terjerumus kepada
> syubhat dan larangan Allah SWT, dianjurkan untuk tidak mengikuti
> kegiatan-kegiatan Natal.
>
> Karena itu, kita menyesalkan jika kalangan Kristen banyak mengkritik
> fatwa tersebut. Menganggap fatwa MUI tentang PNB itu tidak sejalan dengan
> semangat kerukunan umat beragama, adalah penilaian yang berlebihan dan tidak
> mengormati keyakinan masing-masing agama. Lebih ajaib lagi, jika ada yang
> mengaku Muslim ikut-ikutan meributkan fatwa ini, seolah-olah merupakan
> musibah besar bagi bangsa Indonesia, jika PNB hanya dihadiri internal kaum
> Kristen saja.
>
> Kaum yang mengaku liberal ini seringkali aneh jalan pikirannya. Mereka
> mengaku liberal dan katanya punya misi untuk menanamkan pluralisme dan
> menghormati perbedaan. Tapi, mereka sendiri bersikap otoriter dan tidak
> mengormati pendapat dan fatwa MUI soal Natal Bersama. Harusnya mereka
> menghormati fatwa tersebut dan tidak mencaci maki serta menuduh fatwa itu
> meresahkan masarakat, dan sebagainya. Jika mereka sudah "kebelet" mau
> menghadiri PNB, ya silakan saja. Itu urusan mereka. Tidak perlu
> berteriak-teriak memaki-maki MUI. Dalam soal PNB ini, MUI hanya menyatakan,
> bahwa itu hukumnya haram. MUI tidak meminta polisi membubarkan PNB atau tidak
> meminta orang-orang yang hadir dalam PNB itu ditangkapi. MUI hanya
> berpendapat, tapi sudah dicaci maki. Karena itu, MUI juga tidak akan memaksa
> kaum liberal untuk mengikuti fatwa MUI. Jika mereka berpendapat bahwa
> menghadiri PNB adalah jalan untuk menggapai Ridho Ilahi dan halalan
> thayyiban, ya itu urusan mereka. Toh, nanti di akhirat
> tanggung jawabnya juga masing-masing. Wa laa taziru waaziratun wizra
> ukhraa.
>
> Dalam pandangan Islam, masalah peringatan Hari Besar Agama, sebenarnya
> sudah diberi contoh dan penjelasan yang jelas oleh Rasulullah saw, dan
> dicontohkan oleh para sahabat Rasul yang mulia. Sebaiknya hal ini dikaji
> secara ilmiah dari sudut ketentuan-ketentuan Islam. Untuk berijtihad,
> memutuskan mana yang halal dan mana yang haram, memerlukan kehati-hatian, dan
> menghindari kesembronoan. Sebab, tanggung jawab di hadapan Allah, sangatlah
> berat. Untuk masalah hukum-hukum seputar Hari Raya, misalnya, bisa dibaca
> Kitab "Iqtidha' as-Shirat al-Mustaqim Mukhalifata Ashhabil Jahim", karya
> Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah).
>
> Sejak awal mula, Islam sadar akan makna pluralitas dan kerukunan umat
> beragama. Islam hadir dengan mengakui hak hidup dan beragama bagi umat
> beragama lain, disaat kaum Kristen Eropa menyerukan membunuh kaum "heresy"
> karena berbeda agama. Karen Armstrong memuji tindakan Umar bin Khatab dalam
> memberikan perlindungan dan kebebasan beragama kepada kaum Kristen di
> Jerusalem. Umar r.a. adalah penguasa pertama yang menaklukkan Jerusalem tanpa
> pengrusakan dan pembantaian manusia, bahkan menandatangani perjanjian 'Iliya'
> dengan pemimpin Kristen Jerusalem. Secara tegas Armstrong memuji sikap Umar
> bin Khatab dan ketinggian sikap Islam dalam menaklukkan Jerusalem, yang belum
> pernah dilakukan para penguasa sebelumnya. Ia mencatat:
>
> "Umar juga mengekspresikan sikap ideal kasih sayang dari penganut (agama)
> monoteistik, dibandingkan dengan semua penakluk Jerusalem lainnya, dengan
> kemungkinan perkecualian pada Raja Daud. Ia memimpin satu penaklukan yang
> sangat damai dan tanpa tetesan darah, yang Kota itu belum pernah
> menyaksikannya sepanjang sejarahnya yang panjang dan sering tragis. Saat
> ketika kaum Kristen menyerah, tidak ada pembunuhan di sana, tidak ada
> penghancuran properti, tidak ada pembakaran simbol-simbol agama lain, tidak
> ada pengusiran atyau pengambialihan, dan tidak ada usaha untuk memaksa
> penduduk Jerusalem memeluk Islam. Jika sikap respek terhadap penduduk yang
> ditaklukkan dari Kota Jarusalem itu dijadikan sebagai tanda integritas
> kekuatan monoteistik, maka Islam telah memulainya untuk masa yang panjang di
> Jerusalem, dengan sangat baik tentunya. (Lihat, Karen Arsmtrong, A Histo ry
> of Jerusalem: One City, Three Faiths, (London: Harper Collins Publishers,
> 1997).
>
> Namun, kita bisa menyimak, dalam kitab Iqtidha' as-Shirat al-Mustaqim
> digambarkan, bagaimana ketegasan Umar bin Khatab dalam soal perayaan Hari
> Besar kaum Yahudi dan Kristen. Beliau meminta kaum Muslim untuk menjauhi Hari
> Besar agama mereka. Umar r.a. sama sekali tidak menganjurkan kaum Muslim
> untuk berboncong-bondong merayakan Natal Bersama.
>
> Peringatan Hari Raya Keagamaan, sebaiknya tetap dipertahankan sebagai hal
> yang eksklusif milik masing-masing umat beragama. Biarkanlah masing-masing
> pemeluk agama meyakini keyakinan agamanya, tanpa dipaksa untuk menjadi
> munafik, dengan mencampuradukkan urusan perayaan Hari Raya. Masih banyak cara
> dan jalan untuk membangun sikap untuk saling mengenal dan bekerjasama antar
> umat beragama, seperti bersama-sama melawan kezaliman global yang menindas
> umat manusia saat ini. Dan untuk itu tidak perlu menciptakan mitos-mitos yang
> menyesatkan, bahwa jika orang Islam mau menghadiri Perayaan Natal Bersama,
> atau orang Kristen mau menghadiri perayaan Idul Fithri Bersama, maka
> Indonesia akan menjadi negara yang rukun dan maju.
>
> Kita berharap, masing-masing agama bersedia menghormati keyakinan
> masing-masing dan tidak memaksa – secara halus atau terang-terangan – untuk
> melakukan suatu tindakan yang melanggar ajaran agamanya masing-masing. Tentu
> amat sangat tidak bijaksana, jika umat Islam juga mendesak pemeluk Kristen
> atau non-Muslim lainnya untuk menghadiri perayaan Idul Fithri. Karena itu,
> kita juga berharap, terutama kepada para tokoh dan cendekiawan dari kalangan
> Muslim, agar lebih berhati-hati dalam bersikap dan mengeluarkan pendapat.
> Wallahu a'lam. [Depok, 26 Desember 2007/www.hidayatullah.com]
>
> Penulis adalah Wakil Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Pusat
>
>
>
> ---------------------------------
>
> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Find great recruits

for your company.

Y! Messenger

Group get-together

Host a free online

conference on IM.

Fitness Zone

on Yahoo! Groups

Find Groups all

about healthy living.

.

__,_._,___