Kamis, 31 Januari 2008

Re: [psikologi_transformatif] Re: The Life in Organization

hahahahahhhh ......

komentar/tanggapan kan tergantung isi tulisan yang ditanggapi ......

hahahahahhhh ...... ah........ah........ah........

On 2/1/08, goenardjoadi <goenardjoadi@yahoo.com> wrote:
>
> tumben, biasanya ngeledek mulu
>
> salam,
> goen
>
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "info seimbang"
> <infoseimbang@...> wrote:
> >
> > Bagus sekali tulisannya pak Goen ....... mantap .........!
> >

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Be a career mentor

for undergrads.

Do-It-Yourselfers

on Yahoo! Groups

How-to ideas,

projects and more.

Weight Loss Group

on Yahoo! Groups

Get support and

make friends online.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: The Life in Organization

tumben, biasanya ngeledek mulu

salam,
goen

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "info seimbang"
<infoseimbang@...> wrote:
>
> Bagus sekali tulisannya pak Goen ....... mantap .........!
>
>
>
> On 2/1/08, Goenardjoadi Goenawan <goenardjoadi@...> wrote:
> >
> > Mr. Magorium adalah seorang pemilik sebuah toko mainan anak-
anak yang
> > ajaib / magic. Mengapa magic? Karena semua mainan di sana
hidup. Bisa
> > terbang, bisa bergerak, bisa interaktif bermain dengan anak-
anak. Ketika
> > Mr. Magorium ingin mewariskan tokonya kepada penerusnya dia
memberikan
> > sebuah Congreve cube, sebuah kubus kayu ukuran 20 x 20 cm.
> > Penerusnya bingung dan merasa tidak mampu karena tidak memiliki
Magic,
> > sehingga semua mainan di dalam toko menjadi mati, dan akhirnya
tokonya pun
> > menjadi sepi pembeli.
> > Dia sungguh bingung, apa yang harus dilakukan dengan sebuah
kubus kotak? Dia
> > sungguh merasa buntu, bagaimana caranya menemukan Magic?
> > Hingga akhirnya dia melihat bahwa kubus kayu itu bisa bergerak.
Bergulir
> > ke samping. Bergulir kembali. Dan dia tahu bahwa kubus
tersebut ternyata
> > bisa bergerak, bisa terbang! Maka toko mainannya menjadi hidup
kembali,
> > dan Magic bisa kembali datang.
> > Mr. Magorium pernah mengatakan:
> > *"Seseorang yang tidak bisa melihat kehidupan dalam hidup, maka
dia
> > sesungguhnya mati".*
> > Ternyata di dalam toko mainan bisa kita lihat kehidupan, bahwa
semua isi
> > toko mainan anak-anak tersebut hidup. Demikian pula dalam
organisasi. Ada
> > kehidupan dalam sebuah organisasi.
> > Bila kita tidak mampu melihat kehidupan dalam organisasi, maka
sebuah
> > bisnis hanyalah sebuah angka. Angka saja. Penjualan naik
sekian, profit
> > bertambah sekian. Sebuah angka saja.
> > Namun dibalik semua itu, sebuah organisasi adalah hidup. Di
dalamnya
> > diisi dengan cita-cita karyawan, masa depan karyawan, harapan
karyawan,
> > hasrat pemimpin, perhatian dari pemimpin, setiap hari memikirkan
kehidupan
> > dalam organisasi.
> > Setiap hari ada karyawan yang merasa putus asa, putus harapan.
Maka
> > ketika pemimpin membantu karyawan tersebut, maka dia memberi
kehidupan dalam
> > organisasi. Ketika pempimpin buta, tidak mengacuhkan harapan
karyawan
> > yang putus asa, maka sesungguhnya terjadi kematian dalam
organisasi
> > tersebut.
> > Semakin banyak kematian-kematian terjadi, maka akibatnya seluruh
> > organisasi menjadi terpuruk. Hasilnya menurun.
> > Sebaliknya bila kehidupannya bertumbuh, maka efeknya akan membawa
> > kehidupan, perkembangan dalam organisasi.
> > Bagaimana caranya mendeteksi kehidupan dalam organisasi?
> > Bagaimana caranya memimpin spirit organisasi?
> > Bagaimana caranya menjadi Spiritual Company, perusahaan yang
memiliki
> > spirit, semangat organisasi?
> > Dalam sebuah organisasi, pondasi utamanya adalah Compassion atau
rasa
> > kasihan. Itulah yang mengikat batin seluruh karyawan.
> > Yang terpenting bagi seorang Salesman bukanlah bagaimana caranya
memiliki
> > sebuah berlian, namun yang terpenting adalah uang bensin dan
uang makan,
> > sebab tanpa itu maka dia terpaksa harus hutang. Dan itu sungguh
> > menyakitkan.
> > Oleh karena itu, seorang pemimpin yang berbasis nurani tidak
akan memotong
> > hak karyawan.
> > Misalnya seorang Manajer memiliki hak bensin sebesar Rp
1,500,000 sebulan,
> > ketika dia dipotong uang bensinnya. Maka sesungguhnya batinnya
terluka,
> > bukan masalah uang berapa ratus ribu, namun batinnya terluka.
Harga
> > dirinya terluka.
> > Ketika seorang karyawan dimarahi tanpa alasan, dengan emosi yang
> > berlebihan, maka sesungguhnya batinnya terluka, karyawan tidak
hanya mencari
> > uang gaji untuk makan, namun sesungguhnnya ada yang lebih besar,
yaitu
> > mereka bekerja untuk menegakkan harga dirinya. Harkat hidupnya.
> > Maka ketika seorang pemimpin selalu marah, selalu mencela
bawahannya
> > sesungguhnya dia hanya mendapatkan keringat karyawan, bukan
hatinya.
> > Gaji hanya membayar untuk makan saja, namun *harapannya,
keyakinannya,
> > rasa kasih, cinta kepada perusahaan* tidak timbul hanya dari
haji, namun
> > dari pedoman dari sosok pemimpin.
> > Ketika pemimpin mampu memiliki pedoman kebenaran, maka seluruh
karyawan
> > seketika memiliki harapan, keyakinan dan rasa cinta kepada
perusahaan.
> > Pedoman kebenaran, itulah yang menerangi kegelapan yang
dirasakan seluruh
> > karyawan. Mereka sudah buntu hidup dari UMR. Gaji tidak
seberapa, biaya
> > hidup yang selalu meningkat. Pedoman akan kebenaran itulah yang
menerangi
> > kegelapan.
> > Seorang yang memiliki pedoman kebenaran tidak akan menyalahkan
yang benar,
> > dan membenarkan yang salah. Itu saja. Maka ketika pedoman
kebenaran
> > dimiliki seorang pemimpin, maka seluruh organisasinya menjadi
hidup,
> > memiliki:
> >
> > - *harapan *
> > - *keyakinan dan *
> > - *cinta kepada perusahaan.*
> >
> > Kadang kita hidup tidak dapat merasakan perasaan atau masalah
orang lain.
> > Misalnya, di Jakarta sering hujan, namun kalau kita masih di
dalam kantor*,
> > kita t*idak tahu bagaimana di luar hujan, banjir, dan bagaimana
anak-anak
> > sekolah bermain hujan-hujanan, tidak dapat sekolah. Bagaimana
kita tahu
> > keadaan luar? Dan ketika ada Salesman yang tidak masuk, kita
marah besar.
> > Padahal mungkin di rumah kita air banjir masuk rumah.
> > Ada teman lain yang menyetel musik keras-keras. Heran, musik
yang
> > seharusnya didengar pelan-pelan dan terdengar indah harus disetel
> > keras-keras. Telinganya seperti sudah tuli. Aneh, tanpa
terasa, sedikit
> > demi sedikit telinga kita menjadi kurang peka, dan agak seperti
tuli. Menyetel
> > musik harus keras-keras. Itulah, kita seolah-olah semakin lama
menjadi
> > semakin kurang peka dengan keadaan.
> > Di beberapa peruahaan menerapkan banyak peraturan. Ada klain
uang bensin,
> > uang harian, uang makan, uang pulsa, uang parkir, uang tol, uang
ini dan
> > itu. Ketika karyawan ijin tidak masuk kerja, gaji pokok pun
dipotong,
> > karena belum memiliki hak cuti. Aneh, namanya gaji pokok tapi
dipotong. Seolah
> > olah kita semakin tidak peka dengan penderitaan orang kecil.
Uang bensin
> > yang seharusnya dibayarkan tiap tanggal 15 bisa mundur,
alasannya pimpinan
> > lagi sibuk. Lalu salesman harus pinjam uang untuk bayar bensin,
karena
> > memang uangnya pas-pasan. Beberapa buku menyebutkan *jangan
memeras
> > penderitaan orang kecil demi keuntungan*, namun seolah olah kita
sudah
> > tuli. Rasanya pintu iba sudah tertutup rapat-rapat oleh nafsu
ego.
> > Di mobil kita terbiasa pakai AC, setel musik keras-keras,
bagaimana kita
> > tahu bagaimana perasaan pengemis di samping kita? Bagaimana
kita tahu
> > perasaan tukang parkir? Kita mau mengeluarkan mobil, terhalang
sedikit
> > sudah pencet klakson keras-keras. Kata tukang parkir:
> > *"Kalau mau lega, parkir saja di lantai 6 Ruko, naik helikopter"
*
> > Kita marah-marah kepada bawahan hingga bawahan mengatakan:
> > *"Mentang-mentang jadi Boss. Ngomong seenak sendiri, kebun
binatang
> > keluar"*
> > Janganlah kita sampai mengatakan nama-nama binatang. Kita
manusia,
> > bagaimanapun punya perasaan, masak kita disamakan dengan kebo,
kambing, dan
> > lain-lain. Itu sangat menyakitkan. Upah kerja tidak seberapa,
namun
> > tekanan perasaan sampai menusuk hati. Siapa yang bisa
mengontrol emosi? Kecuali
> > diri sendiri.
> > Kita sudah menjadi kepala divisi, sudah pakai mobil paling bagus
di
> > kantor. Tidak pernah kehujangan, kepanasan. Namun seolah-olah
ada
> > pikiran:
> > *"I give you the world, but The World is not enough"*
> > Bagaimana caranya mengidentifikasi perasaan orang lain dalam
organisasi?
> > Untuk itu dibutuhkan Conscience, atau Hati Nurani, jiwa kita.
Jiwa itu
> > lawannya Ego. Kalau Ego mementingkan diri sendiri, maka Jiwa
kita
> > mementingkan orang lain. Ketika kita mendekatkan diri pada hati
nurani,
> > maka kita akan diberkati suatu empati yang luar biasa besar.
Dia akan
> > tahu perasaan dan pikiran orang lain secara otomatis.
> > Oleh karena itu, seseorang yang telah mengenal jati dirinya,
jiwanya, maka
> > dia dibukakan, dia akan diberi tahu, dia akan langsung memiliki
akses kepada
> > Sang Pencipta, dia akan secara otomatis tahu mengenai perasaan
dan pikiran
> > orang lain. Dirinya menjadi Sangat peka kepada empati. Inilah
Magic
> > terbesar dalam hidup.
> > Seseorang yang mengenal jati dirinya, akan mengerti. Dia akan
mengerti
> > kebenaran. Dia akan menjadi obyektif. Dia memiliki rasa belas
kasih yang
> > luar biasa tinggi. Perasaannya peka akan penderitaan yang
tertindas.
> > Teman saya bertanya: bagaimana caranya kita mengenal jati
diri? Bagaimana
> > sifat-sifat jati diri? Jati diri itu adalah hati nurani,
Kalbu. Jati
> > diri bisa dikenal lewat keikhlasan. Mengapa ikhlas? Karena
bila kita
> > tidak ikhlas, tidak berserah, maka kita senantiasa memikirkan
keinginan
> > kita. Oleh karena itu, keinginan diri sendiri itulah Ego.
Ketika kita
> > ikhlas, maka kita akan mulai memikirkan orang lain. Memikirkan
orang lain
> > adalah empati, itulah pintu menuju hati nurani. Kita memikirkan
orang
> > lain, menemukan jati diri.
> > Kadang orang salah mengartikan jati diri dengan bebas menjadi
diri
> > sendiri, lalu ngomong keras-keras, teriak-teriak, seenak
sendiri, semau gue.
> > Itu bukan jati diri, itu tidak tahu malu.
> > Jati diri memiliki sifat-sifat:
> >
> > - belas kasih
> > - hati-hati
> > - mengerti
> > - asli, kita akan menggunakan kosa kata yang belum pernah
diucapkan
> > sebelumnya
> > - acceptance. Kita akan diterima secara langsung
> > - trust, dipercaya
> > - empati
> > - damai
> > - tenteram
> > - sentosa
> > - bebas
> > - kreatif
> >
> > Maka kalau ada orang yang mampu mencipta lagu, dia sudah dekat
dan
> > mengenal jati dirinya. Kemampuan berkreasi, mencipta adalah
sifat-sifat
> > jati diri. Orang yang mengenal jati diri akan mengerti. Dia
kan tahu. Entah
> > diberitahu, atau dia peka dan tahu sendiri akan hal-hal di
sekelilingnya.
> > Orang yang dekat dengan jati dirinya akan sadar. Sadar? Sadar
dari apa?
> > Banyak orang mabuk, entah mabuk cinta, mabuk janda, mabuk harta,
mabuk
> > kekuasaan. Ada yang mabuk belanja. Disebut mabuk karena tidak
sadar. Kalau
> > dia dekat dengan jati dirinya, maka dia tidak akan mabuk.
Heran, sudah
> > menjadi pangeran Republik Indonesia malah mengejar yang belum
ada. Akhirnya
> > istri diceraikan.
> > Orang yang dekat dengan jati dirinya akan menjadi pemimpin.
Semua orang
> > di dunia memiliki Kalbu. Ikatan jiwa, ikatan Kalbu itulah yang
membuat
> > semua orang mengikuti pemimpin. Orang bilang kharisma,
sesungguhnya itu
> > adalah ikatan Kalbu. Ikatan jiwa.
> > Banyak yang tidak mengerti bahwa ikatan Kalbu membuat seseorang
menjadi
> > pemimpin. Maka sesungguhnya, bonus bila kita dekat dengan jati
diri,
> > adalah kita mampu menjadi pemimpin, mampu mengendalikan orang
lain, dan oleh
> > karena itu, mampu mendapatkan kepercayaan orang lain, mampu
mendapatkan
> > rejeki. Karena rejeki datang bila mereka percaya kepada kita.
Rejeki
> > datang secara ikhlas, oleh karena itu harus didasari oleh
keikhlasan kita
> > sendiri.
> > Banyak yang salah mengartikan hati nurani, jiwa kita, Kalbu
kita, sebagai
> > naluri suara hati, seolah-olah kita mampu meramal kejadian. Itu
salah
> > kaprah. Naluri dilandasi oleh ego, sedangkan hati nurani
dilandasi oleh
> > compassion, belas kasih.
> >
> >
> > salam,
> > Goenardjoadi Goenawan
> > Talent Box
> > http://swa.co.id/swamajalah/tren/details.php?
cid=1&id=3195&pageNum=2
> > http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?
cid=1&id=5630&pageNum=2
> > Miliki Buku-buku karya Ir. Goenardjoadi Goenawan, MM. & Ir.
Stefanus
> > Indrayana, MBA.:
> > * The Secret of Better Life
> > * Best Life - Menjalani Hidup Bahagia Penuh Makna [terbit 31 Mei
2007]
> > * Manajemen Berbasis Nurani [terbit 1 Januari 2007]
> > Dan juga karya Ir. Goenardjoadi Goenawan, MM. lainnya:
> > * Memasarkan Dengan Hati [terbit 8 November 2006]
> > * Menjadi Kaya Dengan Hati Nurani * Mata Air Untuk Dahaga Jiwaku
> > * Pelangi Kehidupan Entrepreneur
> >
> > ------------------------------
> > Looking for last minute shopping deals? Find them fast with
Yahoo!
Search.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51734/*http://tools.search.yahoo.c
om/newsearch/category.php?category=shopping>
> >
> >
> >
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Reconnect with

college alumni.

Y! Messenger

Want a quick chat?

Chat over IM with

group members.

10 Day Club

on Yahoo! Groups

Share the benefits

of a high fiber diet.

.

__,_._,___

Re: [psikologi_transformatif] The Life in Organization


Bagus sekali tulisannya pak Goen ....... mantap .........!



On 2/1/08, Goenardjoadi Goenawan <goenardjoadi@yahoo.com> wrote:

Mr. Magorium adalah seorang pemilik sebuah toko mainan anak-anak yang ajaib / magic.  Mengapa magic?  Karena semua mainan di sana hidup.  Bisa terbang, bisa bergerak, bisa interaktif bermain dengan anak-anak.  Ketika Mr. Magorium ingin mewariskan tokonya kepada penerusnya dia memberikan sebuah Congreve cube, sebuah kubus kayu ukuran 20 x 20 cm.
Penerusnya bingung dan merasa tidak mampu karena tidak memiliki Magic, sehingga semua mainan di dalam toko menjadi mati, dan akhirnya tokonya pun menjadi sepi pembeli.
Dia sungguh bingung, apa yang harus dilakukan dengan sebuah kubus kotak?  Dia sungguh merasa buntu, bagaimana caranya menemukan Magic? 
Hingga akhirnya dia melihat bahwa kubus kayu itu bisa bergerak.  Bergulir ke samping.  Bergulir kembali.  Dan dia tahu bahwa kubus tersebut ternyata bisa bergerak, bisa terbang!  Maka toko mainannya menjadi hidup kembali, dan Magic bisa kembali datang.
Mr. Magorium pernah mengatakan:
"Seseorang yang tidak bisa melihat kehidupan dalam hidup, maka dia sesungguhnya mati".
Ternyata di dalam toko mainan bisa kita lihat kehidupan, bahwa semua isi toko mainan anak-anak tersebut hidup.  Demikian pula dalam organisasi.  Ada kehidupan dalam sebuah organisasi.
Bila kita tidak mampu melihat kehidupan dalam organisasi, maka sebuah bisnis hanyalah sebuah angka.  Angka saja.  Penjualan naik sekian, profit bertambah sekian.  Sebuah angka saja.
Namun dibalik semua itu, sebuah organisasi adalah hidup.  Di dalamnya diisi dengan cita-cita karyawan, masa depan karyawan, harapan karyawan, hasrat pemimpin, perhatian dari pemimpin, setiap hari memikirkan kehidupan dalam organisasi.
Setiap hari ada karyawan yang merasa putus asa, putus harapan.  Maka ketika pemimpin membantu karyawan tersebut, maka dia memberi kehidupan dalam organisasi.  Ketika pempimpin buta, tidak mengacuhkan harapan karyawan yang putus asa, maka sesungguhnya terjadi kematian dalam organisasi tersebut.
Semakin banyak kematian-kematian terjadi, maka akibatnya seluruh organisasi menjadi terpuruk.  Hasilnya menurun.
Sebaliknya bila kehidupannya bertumbuh, maka efeknya akan membawa kehidupan, perkembangan dalam organisasi.
Bagaimana caranya mendeteksi kehidupan dalam organisasi?
Bagaimana caranya memimpin spirit organisasi?
Bagaimana caranya menjadi Spiritual Company, perusahaan yang memiliki spirit, semangat organisasi?
Dalam sebuah organisasi, pondasi utamanya adalah Compassion atau rasa kasihan.  Itulah yang mengikat batin seluruh karyawan.
Yang terpenting bagi seorang Salesman bukanlah bagaimana caranya memiliki sebuah berlian, namun yang terpenting adalah uang bensin dan uang makan, sebab tanpa itu maka dia terpaksa harus hutang.  Dan itu sungguh menyakitkan. 
Oleh karena itu, seorang pemimpin yang berbasis nurani tidak akan memotong hak karyawan.
Misalnya seorang Manajer memiliki hak bensin sebesar Rp 1,500,000 sebulan, ketika dia dipotong uang bensinnya. Maka sesungguhnya batinnya terluka, bukan masalah uang berapa ratus ribu, namun batinnya terluka.  Harga dirinya terluka.
Ketika seorang karyawan dimarahi tanpa alasan, dengan emosi yang berlebihan, maka sesungguhnya batinnya terluka, karyawan tidak hanya mencari uang gaji untuk makan, namun sesungguhnnya ada yang lebih besar, yaitu mereka bekerja untuk menegakkan harga dirinya.  Harkat hidupnya.
Maka ketika seorang pemimpin selalu marah, selalu mencela bawahannya sesungguhnya dia hanya mendapatkan keringat karyawan, bukan hatinya.
Gaji hanya membayar untuk makan saja, namun harapannya, keyakinannya, rasa kasih, cinta kepada perusahaan tidak timbul hanya dari haji, namun dari pedoman dari sosok pemimpin.
Ketika pemimpin mampu memiliki pedoman kebenaran, maka seluruh karyawan seketika memiliki harapan, keyakinan dan rasa cinta kepada perusahaan.
Pedoman kebenaran, itulah yang menerangi kegelapan yang dirasakan seluruh karyawan.  Mereka sudah buntu hidup dari UMR.  Gaji tidak seberapa, biaya hidup yang selalu meningkat.  Pedoman akan kebenaran itulah yang menerangi kegelapan.
Seorang yang memiliki pedoman kebenaran tidak akan menyalahkan yang benar, dan membenarkan yang salah.  Itu saja.  Maka ketika pedoman kebenaran dimiliki seorang pemimpin, maka seluruh organisasinya menjadi hidup, memiliki:
  • harapan
  • keyakinan dan
  • cinta kepada perusahaan.
Kadang kita hidup tidak dapat merasakan perasaan atau masalah orang lain.  Misalnya, di Jakarta sering hujan, namun kalau kita masih di dalam kantor, kita tidak tahu bagaimana di luar hujan, banjir, dan bagaimana anak-anak sekolah bermain hujan-hujanan, tidak dapat sekolah.  Bagaimana kita tahu keadaan luar?  Dan ketika ada Salesman yang tidak masuk, kita marah besar.  Padahal mungkin di rumah kita air banjir masuk rumah.
Ada teman lain yang menyetel musik keras-keras.  Heran, musik yang seharusnya didengar pelan-pelan dan terdengar indah harus disetel keras-keras.  Telinganya seperti sudah tuli.  Aneh, tanpa terasa, sedikit demi sedikit telinga kita menjadi kurang peka, dan agak seperti tuli.  Menyetel musik harus keras-keras.  Itulah, kita seolah-olah semakin lama menjadi semakin kurang peka dengan keadaan.
Di beberapa peruahaan menerapkan banyak peraturan.  Ada klain uang bensin, uang harian, uang makan, uang pulsa, uang parkir, uang tol, uang ini dan itu.  Ketika karyawan ijin tidak masuk kerja, gaji pokok pun dipotong, karena belum memiliki hak cuti.  Aneh, namanya gaji pokok tapi dipotong.  Seolah olah kita semakin tidak peka dengan penderitaan orang kecil.  Uang bensin yang seharusnya dibayarkan tiap tanggal 15 bisa mundur, alasannya pimpinan lagi sibuk.  Lalu salesman harus pinjam uang untuk bayar bensin, karena memang uangnya pas-pasan.  Beberapa buku menyebutkan jangan memeras penderitaan orang kecil demi keuntungan, namun seolah olah kita sudah tuli.  Rasanya pintu iba sudah tertutup rapat-rapat oleh nafsu ego.
Di mobil kita terbiasa pakai AC, setel musik keras-keras, bagaimana kita tahu bagaimana perasaan pengemis di samping kita?  Bagaimana kita tahu perasaan tukang parkir?  Kita mau mengeluarkan mobil, terhalang sedikit sudah pencet klakson keras-keras.  Kata tukang parkir:
"Kalau mau lega, parkir saja di lantai 6 Ruko, naik helikopter"
Kita marah-marah kepada bawahan hingga bawahan mengatakan:
"Mentang-mentang jadi Boss.  Ngomong seenak sendiri, kebun binatang keluar"
Janganlah kita sampai mengatakan nama-nama binatang.  Kita manusia, bagaimanapun punya perasaan, masak kita disamakan dengan kebo, kambing, dan lain-lain.  Itu sangat menyakitkan.  Upah kerja tidak seberapa, namun tekanan perasaan sampai menusuk hati.  Siapa yang bisa mengontrol emosi?  Kecuali diri sendiri.
Kita sudah menjadi kepala divisi, sudah pakai mobil paling bagus di kantor.  Tidak pernah kehujangan, kepanasan.  Namun seolah-olah ada pikiran:
"I give you the world, but The World is not enough"
Bagaimana caranya mengidentifikasi perasaan orang lain dalam organisasi?
Untuk itu dibutuhkan Conscience, atau Hati Nurani, jiwa kita.  Jiwa itu lawannya Ego.  Kalau Ego mementingkan diri sendiri, maka Jiwa kita mementingkan orang lain.  Ketika kita mendekatkan diri pada hati nurani, maka kita akan diberkati suatu empati yang luar biasa besar.  Dia akan tahu perasaan dan pikiran orang lain secara otomatis.
Oleh karena itu, seseorang yang telah mengenal jati dirinya, jiwanya, maka dia dibukakan, dia akan diberi tahu, dia akan langsung memiliki akses kepada Sang Pencipta, dia akan secara otomatis tahu mengenai perasaan dan pikiran orang lain.  Dirinya menjadi Sangat peka kepada empati.  Inilah Magic terbesar dalam hidup. 
Seseorang yang mengenal jati dirinya, akan mengerti.  Dia akan mengerti kebenaran.  Dia akan menjadi obyektif.  Dia memiliki rasa belas kasih yang luar biasa tinggi.  Perasaannya peka akan penderitaan yang tertindas.
Teman saya bertanya:  bagaimana caranya kita mengenal jati diri?  Bagaimana sifat-sifat jati diri?  Jati diri itu adalah hati nurani, Kalbu.  Jati diri bisa dikenal lewat keikhlasan.  Mengapa ikhlas?  Karena bila kita tidak ikhlas, tidak berserah, maka kita senantiasa memikirkan keinginan kita.  Oleh karena itu, keinginan diri sendiri itulah Ego.  Ketika kita ikhlas, maka kita akan mulai memikirkan orang lain.  Memikirkan orang lain adalah empati, itulah pintu menuju hati nurani.  Kita memikirkan orang lain, menemukan jati diri. 
Kadang orang salah mengartikan jati diri dengan bebas menjadi diri sendiri, lalu ngomong keras-keras, teriak-teriak, seenak sendiri, semau gue.  Itu bukan jati diri, itu tidak tahu malu.
Jati diri memiliki sifat-sifat:
  • belas kasih
  • hati-hati
  • mengerti
  • asli, kita akan menggunakan kosa kata yang belum pernah diucapkan sebelumnya
  • acceptance.  Kita akan diterima secara langsung
  • trust, dipercaya
  • empati
  • damai
  • tenteram
  • sentosa
  • bebas
  • kreatif
Maka kalau ada orang yang mampu mencipta lagu, dia sudah dekat dan mengenal jati dirinya.  Kemampuan berkreasi, mencipta adalah sifat-sifat jati diri.  Orang yang mengenal jati diri akan mengerti.  Dia kan tahu.  Entah diberitahu, atau dia peka dan tahu sendiri akan hal-hal di sekelilingnya.
Orang yang dekat dengan jati dirinya akan sadar.  Sadar?  Sadar dari apa?  Banyak orang mabuk, entah mabuk cinta, mabuk janda, mabuk harta, mabuk kekuasaan.  Ada yang mabuk belanja.  Disebut mabuk karena tidak sadar.  Kalau dia dekat dengan jati dirinya, maka dia tidak akan mabuk.  Heran, sudah menjadi pangeran Republik Indonesia malah mengejar yang belum ada.  Akhirnya istri diceraikan.
Orang yang dekat dengan jati dirinya akan menjadi pemimpin.  Semua orang di dunia memiliki Kalbu.  Ikatan jiwa, ikatan Kalbu itulah yang membuat semua orang mengikuti pemimpin.  Orang bilang kharisma, sesungguhnya itu adalah ikatan Kalbu.  Ikatan jiwa.
Banyak yang tidak mengerti bahwa ikatan Kalbu membuat seseorang menjadi pemimpin.  Maka sesungguhnya, bonus bila kita dekat dengan jati diri, adalah kita mampu menjadi pemimpin, mampu mengendalikan orang lain, dan oleh karena itu, mampu mendapatkan kepercayaan orang lain, mampu mendapatkan rejeki.  Karena rejeki datang bila mereka percaya kepada kita.  Rejeki datang secara ikhlas, oleh karena itu harus didasari oleh keikhlasan kita sendiri.
Banyak yang salah mengartikan hati nurani, jiwa kita, Kalbu kita, sebagai naluri suara hati, seolah-olah kita mampu meramal kejadian.  Itu salah kaprah.  Naluri dilandasi oleh ego, sedangkan hati nurani dilandasi oleh compassion, belas kasih.
 
 
salam,
Goenardjoadi Goenawan 
Talent Box 
Miliki Buku-buku karya Ir. Goenardjoadi Goenawan, MM. & Ir. Stefanus Indrayana, MBA.:
* The Secret of Better Life
* Best Life - Menjalani Hidup Bahagia Penuh Makna [terbit 31 Mei 2007]
* Manajemen Berbasis Nurani [terbit 1 Januari 2007]
Dan juga karya Ir. Goenardjoadi Goenawan, MM. lainnya:
* Memasarkan Dengan Hati [terbit 8 November 2006]
* Menjadi Kaya Dengan Hati Nurani * Mata Air Untuk Dahaga Jiwaku
* Pelangi Kehidupan Entrepreneur


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.


__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Be a career mentor

for undergrads.

Y! Messenger

PC-to-PC calls

Call your friends

worldwide - free!

Curves on Yahoo!

Share & discuss

Curves, fitness

and weight loss.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] The Life in Organization

Mr. Magorium adalah seorang pemilik sebuah toko mainan anak-anak yang ajaib / magic.  Mengapa magic?  Karena semua mainan di sana hidup.  Bisa terbang, bisa bergerak, bisa interaktif bermain dengan anak-anak.  Ketika Mr. Magorium ingin mewariskan tokonya kepada penerusnya dia memberikan sebuah Congreve cube, sebuah kubus kayu ukuran 20 x 20 cm.
Penerusnya bingung dan merasa tidak mampu karena tidak memiliki Magic, sehingga semua mainan di dalam toko menjadi mati, dan akhirnya tokonya pun menjadi sepi pembeli.
Dia sungguh bingung, apa yang harus dilakukan dengan sebuah kubus kotak?  Dia sungguh merasa buntu, bagaimana caranya menemukan Magic? 
Hingga akhirnya dia melihat bahwa kubus kayu itu bisa bergerak.  Bergulir ke samping.  Bergulir kembali.  Dan dia tahu bahwa kubus tersebut ternyata bisa bergerak, bisa terbang!  Maka toko mainannya menjadi hidup kembali, dan Magic bisa kembali datang.
Mr. Magorium pernah mengatakan:
"Seseorang yang tidak bisa melihat kehidupan dalam hidup, maka dia sesungguhnya mati".
Ternyata di dalam toko mainan bisa kita lihat kehidupan, bahwa semua isi toko mainan anak-anak tersebut hidup.  Demikian pula dalam organisasi.  Ada kehidupan dalam sebuah organisasi.
Bila kita tidak mampu melihat kehidupan dalam organisasi, maka sebuah bisnis hanyalah sebuah angka.  Angka saja.  Penjualan naik sekian, profit bertambah sekian.  Sebuah angka saja.
Namun dibalik semua itu, sebuah organisasi adalah hidup.  Di dalamnya diisi dengan cita-cita karyawan, masa depan karyawan, harapan karyawan, hasrat pemimpin, perhatian dari pemimpin, setiap hari memikirkan kehidupan dalam organisasi.
Setiap hari ada karyawan yang merasa putus asa, putus harapan.  Maka ketika pemimpin membantu karyawan tersebut, maka dia memberi kehidupan dalam organisasi.  Ketika pempimpin buta, tidak mengacuhkan harapan karyawan yang putus asa, maka sesungguhnya terjadi kematian dalam organisasi tersebut.
Semakin banyak kematian-kematian terjadi, maka akibatnya seluruh organisasi menjadi terpuruk.  Hasilnya menurun.
Sebaliknya bila kehidupannya bertumbuh, maka efeknya akan membawa kehidupan, perkembangan dalam organisasi.
Bagaimana caranya mendeteksi kehidupan dalam organisasi?
Bagaimana caranya memimpin spirit organisasi?
Bagaimana caranya menjadi Spiritual Company, perusahaan yang memiliki spirit, semangat organisasi?
Dalam sebuah organisasi, pondasi utamanya adalah Compassion atau rasa kasihan.  Itulah yang mengikat batin seluruh karyawan.
Yang terpenting bagi seorang Salesman bukanlah bagaimana caranya memiliki sebuah berlian, namun yang terpenting adalah uang bensin dan uang makan, sebab tanpa itu maka dia terpaksa harus hutang.  Dan itu sungguh menyakitkan. 
Oleh karena itu, seorang pemimpin yang berbasis nurani tidak akan memotong hak karyawan.
Misalnya seorang Manajer memiliki hak bensin sebesar Rp 1,500,000 sebulan, ketika dia dipotong uang bensinnya. Maka sesungguhnya batinnya terluka, bukan masalah uang berapa ratus ribu, namun batinnya terluka.  Harga dirinya terluka.
Ketika seorang karyawan dimarahi tanpa alasan, dengan emosi yang berlebihan, maka sesungguhnya batinnya terluka, karyawan tidak hanya mencari uang gaji untuk makan, namun sesungguhnnya ada yang lebih besar, yaitu mereka bekerja untuk menegakkan harga dirinya.  Harkat hidupnya.
Maka ketika seorang pemimpin selalu marah, selalu mencela bawahannya sesungguhnya dia hanya mendapatkan keringat karyawan, bukan hatinya.
Gaji hanya membayar untuk makan saja, namun harapannya, keyakinannya, rasa kasih, cinta kepada perusahaan tidak timbul hanya dari haji, namun dari pedoman dari sosok pemimpin.
Ketika pemimpin mampu memiliki pedoman kebenaran, maka seluruh karyawan seketika memiliki harapan, keyakinan dan rasa cinta kepada perusahaan.
Pedoman kebenaran, itulah yang menerangi kegelapan yang dirasakan seluruh karyawan.  Mereka sudah buntu hidup dari UMR.  Gaji tidak seberapa, biaya hidup yang selalu meningkat.  Pedoman akan kebenaran itulah yang menerangi kegelapan.
Seorang yang memiliki pedoman kebenaran tidak akan menyalahkan yang benar, dan membenarkan yang salah.  Itu saja.  Maka ketika pedoman kebenaran dimiliki seorang pemimpin, maka seluruh organisasinya menjadi hidup, memiliki:
  • harapan
  • keyakinan dan
  • cinta kepada perusahaan.
Kadang kita hidup tidak dapat merasakan perasaan atau masalah orang lain.  Misalnya, di Jakarta sering hujan, namun kalau kita masih di dalam kantor, kita tidak tahu bagaimana di luar hujan, banjir, dan bagaimana anak-anak sekolah bermain hujan-hujanan, tidak dapat sekolah.  Bagaimana kita tahu keadaan luar?  Dan ketika ada Salesman yang tidak masuk, kita marah besar.  Padahal mungkin di rumah kita air banjir masuk rumah.
Ada teman lain yang menyetel musik keras-keras.  Heran, musik yang seharusnya didengar pelan-pelan dan terdengar indah harus disetel keras-keras.  Telinganya seperti sudah tuli.  Aneh, tanpa terasa, sedikit demi sedikit telinga kita menjadi kurang peka, dan agak seperti tuli.  Menyetel musik harus keras-keras.  Itulah, kita seolah-olah semakin lama menjadi semakin kurang peka dengan keadaan.
Di beberapa peruahaan menerapkan banyak peraturan.  Ada klain uang bensin, uang harian, uang makan, uang pulsa, uang parkir, uang tol, uang ini dan itu.  Ketika karyawan ijin tidak masuk kerja, gaji pokok pun dipotong, karena belum memiliki hak cuti.  Aneh, namanya gaji pokok tapi dipotong.  Seolah olah kita semakin tidak peka dengan penderitaan orang kecil.  Uang bensin yang seharusnya dibayarkan tiap tanggal 15 bisa mundur, alasannya pimpinan lagi sibuk.  Lalu salesman harus pinjam uang untuk bayar bensin, karena memang uangnya pas-pasan.  Beberapa buku menyebutkan jangan memeras penderitaan orang kecil demi keuntungan, namun seolah olah kita sudah tuli.  Rasanya pintu iba sudah tertutup rapat-rapat oleh nafsu ego.
Di mobil kita terbiasa pakai AC, setel musik keras-keras, bagaimana kita tahu bagaimana perasaan pengemis di samping kita?  Bagaimana kita tahu perasaan tukang parkir?  Kita mau mengeluarkan mobil, terhalang sedikit sudah pencet klakson keras-keras.  Kata tukang parkir:
"Kalau mau lega, parkir saja di lantai 6 Ruko, naik helikopter"
Kita marah-marah kepada bawahan hingga bawahan mengatakan:
"Mentang-mentang jadi Boss.  Ngomong seenak sendiri, kebun binatang keluar"
Janganlah kita sampai mengatakan nama-nama binatang.  Kita manusia, bagaimanapun punya perasaan, masak kita disamakan dengan kebo, kambing, dan lain-lain.  Itu sangat menyakitkan.  Upah kerja tidak seberapa, namun tekanan perasaan sampai menusuk hati.  Siapa yang bisa mengontrol emosi?  Kecuali diri sendiri.
Kita sudah menjadi kepala divisi, sudah pakai mobil paling bagus di kantor.  Tidak pernah kehujangan, kepanasan.  Namun seolah-olah ada pikiran:
"I give you the world, but The World is not enough"
Bagaimana caranya mengidentifikasi perasaan orang lain dalam organisasi?
Untuk itu dibutuhkan Conscience, atau Hati Nurani, jiwa kita.  Jiwa itu lawannya Ego.  Kalau Ego mementingkan diri sendiri, maka Jiwa kita mementingkan orang lain.  Ketika kita mendekatkan diri pada hati nurani, maka kita akan diberkati suatu empati yang luar biasa besar.  Dia akan tahu perasaan dan pikiran orang lain secara otomatis.
Oleh karena itu, seseorang yang telah mengenal jati dirinya, jiwanya, maka dia dibukakan, dia akan diberi tahu, dia akan langsung memiliki akses kepada Sang Pencipta, dia akan secara otomatis tahu mengenai perasaan dan pikiran orang lain.  Dirinya menjadi Sangat peka kepada empati.  Inilah Magic terbesar dalam hidup. 
Seseorang yang mengenal jati dirinya, akan mengerti.  Dia akan mengerti kebenaran.  Dia akan menjadi obyektif.  Dia memiliki rasa belas kasih yang luar biasa tinggi.  Perasaannya peka akan penderitaan yang tertindas.
Teman saya bertanya:  bagaimana caranya kita mengenal jati diri?  Bagaimana sifat-sifat jati diri?  Jati diri itu adalah hati nurani, Kalbu.  Jati diri bisa dikenal lewat keikhlasan.  Mengapa ikhlas?  Karena bila kita tidak ikhlas, tidak berserah, maka kita senantiasa memikirkan keinginan kita.  Oleh karena itu, keinginan diri sendiri itulah Ego.  Ketika kita ikhlas, maka kita akan mulai memikirkan orang lain.  Memikirkan orang lain adalah empati, itulah pintu menuju hati nurani.  Kita memikirkan orang lain, menemukan jati diri. 
Kadang orang salah mengartikan jati diri dengan bebas menjadi diri sendiri, lalu ngomong keras-keras, teriak-teriak, seenak sendiri, semau gue.  Itu bukan jati diri, itu tidak tahu malu.
Jati diri memiliki sifat-sifat:
  • belas kasih
  • hati-hati
  • mengerti
  • asli, kita akan menggunakan kosa kata yang belum pernah diucapkan sebelumnya
  • acceptance.  Kita akan diterima secara langsung
  • trust, dipercaya
  • empati
  • damai
  • tenteram
  • sentosa
  • bebas
  • kreatif
Maka kalau ada orang yang mampu mencipta lagu, dia sudah dekat dan mengenal jati dirinya.  Kemampuan berkreasi, mencipta adalah sifat-sifat jati diri.  Orang yang mengenal jati diri akan mengerti.  Dia kan tahu.  Entah diberitahu, atau dia peka dan tahu sendiri akan hal-hal di sekelilingnya.
Orang yang dekat dengan jati dirinya akan sadar.  Sadar?  Sadar dari apa?  Banyak orang mabuk, entah mabuk cinta, mabuk janda, mabuk harta, mabuk kekuasaan.  Ada yang mabuk belanja.  Disebut mabuk karena tidak sadar.  Kalau dia dekat dengan jati dirinya, maka dia tidak akan mabuk.  Heran, sudah menjadi pangeran Republik Indonesia malah mengejar yang belum ada.  Akhirnya istri diceraikan.
Orang yang dekat dengan jati dirinya akan menjadi pemimpin.  Semua orang di dunia memiliki Kalbu.  Ikatan jiwa, ikatan Kalbu itulah yang membuat semua orang mengikuti pemimpin.  Orang bilang kharisma, sesungguhnya itu adalah ikatan Kalbu.  Ikatan jiwa.
Banyak yang tidak mengerti bahwa ikatan Kalbu membuat seseorang menjadi pemimpin.  Maka sesungguhnya, bonus bila kita dekat dengan jati diri, adalah kita mampu menjadi pemimpin, mampu mengendalikan orang lain, dan oleh karena itu, mampu mendapatkan kepercayaan orang lain, mampu mendapatkan rejeki.  Karena rejeki datang bila mereka percaya kepada kita.  Rejeki datang secara ikhlas, oleh karena itu harus didasari oleh keikhlasan kita sendiri.
Banyak yang salah mengartikan hati nurani, jiwa kita, Kalbu kita, sebagai naluri suara hati, seolah-olah kita mampu meramal kejadian.  Itu salah kaprah.  Naluri dilandasi oleh ego, sedangkan hati nurani dilandasi oleh compassion, belas kasih.
 
 
salam,
Goenardjoadi Goenawan 
Talent Box 
Miliki Buku-buku karya Ir. Goenardjoadi Goenawan, MM. & Ir. Stefanus Indrayana, MBA.:
* The Secret of Better Life
* Best Life - Menjalani Hidup Bahagia Penuh Makna [terbit 31 Mei 2007]
* Manajemen Berbasis Nurani [terbit 1 Januari 2007]
Dan juga karya Ir. Goenardjoadi Goenawan, MM. lainnya:
* Memasarkan Dengan Hati [terbit 8 November 2006]
* Menjadi Kaya Dengan Hati Nurani * Mata Air Untuk Dahaga Jiwaku
* Pelangi Kehidupan Entrepreneur


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Find great recruits

for your company.

Featured Y! Groups

and category pages.

There is something

for everyone.

Cat Fanatics

on Yahoo! Groups

Find people who are

crazy about cats.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Kewajiban Muslim Terhadap Al-Qur'an

Nah kan, muslim gadungan bunyi lagi? Saya ajari dikit ya soal agama islam,
sekalian gimana caranya jadi muslim yang baik.

Islam itu harus dibedakan dalam dua pengertian: ada "islam" dengan -i kecil,
dan ini artinya penyerahan diri total kepada Tuhan, sebagaimana disitir Goethe.
Muslim berarti orang yang menyerahkan dirinya secara total, jadi seorang Goethe
pun bisa saja masuk dalam kategori ini. Islam dengan -I besar adalah organized
religion--islam sebagai institusi agama.

islam dengan -i kecil itu inklusif: sunni ya masuk, syiah ya masuk. Ismailiah
ya masuk, bahkan Goethe pun bisa masuk. Inilah esensi islam. Jadi, sama sekali
bukan yang penuh kebencian dan sibuk ngurusin keyakinan orang lain, macem yang
Anda anut itu. Makanya saya bilang, Anda itu gadungan.

Gara-gara ekslusivitas inilah sunni dan syiah bunuh-bunuhan dalam perang
saudara yang terjadi setelah Nabi mangkat. Satunya ngeyel mau supaya penerus
Nabi adalah keturunannya, satunya lagi ngeyel supaya siapapun yang memenuhi
syarat jadi imam bisa jadi penerus Nabi, meski bukan cucunya. Gara-gara
prosedur, sesama satu iman bunuh-bunuhan. Anda ini mestinya termasuk golongan
dari jahiliyah jilid II itu, soalnya hobnya mengganyang yang berbeda dengan
Anda.

Tuhan adalah satu. Lalu kenapa sunni dan syiah saling bunuh, padahal baru saja
ditinggal mangkat sama nabinya? karena mereka bukan lagi fokus ke Tuhan,
melainkan ke eksklusivitas: satu sama lain saling menafikan. Kok elo bego amat
sih gak belajar-belajar dari pengalaman dan sejarah?

Soal nikah, terserah yang kawin dong. mau seagama kek, mau sama monyet kek, kok
kamu ngurusin rumah tangga orang lain sih? lagi kena PHK dan gak ada gawe ya?

Tuhan bersabda, "Aku hendak menciptakah khalifah di muka bumi" dengan catatan
tambahan alias footnote, "tapi bukan yang modelnya kaya digembor-gemborkan si
hendrik bokonglebus itu".

manneke

Quoting hendrik bakrie <henrik12syiah@yahoo.com>:

> "jika islam adalah penyerahan diri kepada tuhan, maka kita harus menjadi
> islam sebelum mati" (goethe)
>
>
> "jadi ulama itu gampang tetapi jadi manusia itu yg susah" (imam khomeini)
>
>
> hahahah....hahahha....hahahha..... betul bu pradita..
>
> saya ingin menjelaskan pemahaman saya tentang quran.. bahwa ternyata quran
> itu tidak menganggap dirinya sebagai kepunyaan org islam tetapi malah quran
> menganggap dirinya sebagai "milik manusia"... sebab ada banyak ayat yg
> mengarahakan ke arah itu..
> 1. Tuhan adalah satu.. tidak ada tuhan selain diriNya.. tidak menpunyai
> anak dan diperanakkan
> 2. penyembahan terhadap ALLAH SWT adalah sebuah kewajiban bagi seluruh
> manusia bahkan jin sekalipun
> 3. dan menyangkut hukum moral yg juga diberlakukan pada org2 yg non
> muslim..
>
> persoalnnya ada beberapa manusia yg memang "tidak mau kebenaran" dan yg
> memang akan "dirugikan" dalam ajaran/hukum2 islam itu... misalnya aja tentang
> isa al masih as.. islam menyikapinya dengan menyatakan bahwa dia adalah
> makhluk dan seorang nabi saja (sebagai bukti bahwa dirinya (al Quran) memang
> dari Tuhan...
>
> sama halnya larangan menikah dengan yg tidak seagama.. disatu sisi bahwa
> itu dianggap melecehkan agama lain tetapi disatu sisi yg namanya agama "harus
> benar" sebab agama adalah kesalamatan (islam berasal dari kata salam yg
> berarti keselamatan).. emang agama itu "ide" yg hanya tuhan yg tau apakah itu
> benar atau salah..??? dan agama harus mampu bisa menjelaskan tentang hukum2
> yg akan datang dalam kehidupan selanjutnya... manusia dalam islam bukanlah
> binatang, yg datang hanya untuk makan dan berkembang biak saja.. tetapi
> manusia adalah makhluk tuhan yg harus bisa menunjukkan bahwa dia harus bisa
> memahami tuhan sebagaimana tuhan harus dipahami (kehendak tuhan bagi manusia)
> sehingga dia mampu menunjukkan kepada makhluk langit (malaikat dan iblis)
> bahwa memang dia adalah makhluk mulia..
>
> sebab manusia adalah mahkluk bumi sekaligus langit dan makhluk yg menjadi
> rahmat bagi bumi...
>
> untuk itulah ketika ALLAH akan menciptakan manusia, DIA mengumunkan itu
> juga kepada malaikat lalu malaikat menggunakan potensinya (sudah ada)
> menjelaskan tentang manusia itu tetapi anehnya ALLAH SWT lalu berfirman :
> "sesungguhnya aku maha mengetahui"... subhanllah ALLAH SWT menggunakan kata
> "maha mengetahui".. apakah melalui dalam diri manusia itu akan ada pelajaran
> untuk malaikat lagi...??? salah satunya adalah malaikat akan tau cinta dan
> murka tuhan.... sebab manusia adalah "makhluk bumi untuk langit sekaligus
> makhluk langit untuk bumi"...
>
> manusia harus memilih apakah dia akan menjadi pelajaran malaikat untuk
> murka ALLAH SWT atau menjadi pelajaran akan besarnya cinta ALLAH SWT...
>
> apakah manusia itu dalam kehidupan sosialnya tidak ada bedanya dengan
> binatang atau sebaliknya... apakah dalam pikirannya hanya bahagia, makan dan
> sex aja..??? atau seperti kawanan zebra yg berlari meninggalkan temannya yg
> disergap seekor singa...???.. atau seperti seekor gajah yg tidak peduli
> dengan kehidupan zebra yg diterkam oleh singa..???
>
> mengapa manusia bisa mengenal tuhan.. apakah memang tuhan ingin
> dikenal...???
>
> "aku adalah khazanah yg tersembunyi
> aku mencipta karena aku ingin dikenal"
>
> memang moral itu susah.. sebab kadang kritikan atau kebenaran itu dianggap
> sebuah prilaku amoral...
>
> "aku hendak menciptakan khalifah dimuka bumi" (Alquran)
>
>
> pradita@telus.net wrote:
> Betul saya amini ini.
>
> Bahkan umat agama lain pun sudah sepatutnya menghormati Al Qur-an sebagai
> kitab
> suci Islam, serta tidak menistakannya mentang-mentang itu bukan kitab sucinya
>
> sendiri. Bukan kewajiban, melainkan sikap yang lahir dari kesadaran bahwa
> kita
> memberikan penghargaan sama kepada milik orang lain, sebagaimana kita
> menghargai apa yang jadi milik kita sendiri.
>
> Jika gagasan sederhana ini bisa konsisten dipraktikkan dalam hidup nyata,
> maka
> sudah akan damailah isi seluruh bumi ini.
>
> manneke
>
> Quoting Mujiarto Karuk <mkaruk@yahoo.com>:
>
> > Assalamualikum Warohmatullohi Wabarokatuh
> >
> > Mayoritas umat Islam menghormati Al-Qur'an sebagai sebuah kitab suci, akan
> > tetapi sayang sekali boleh dikatakan bahwa penghormatan kepada Al-Qur'an
> > adalah sesuatu yang dilakukan tanpa menelaah kandungannya, jauh sekali
> > daripada mempraktekkan dalam kehidupan sehari hari, sejak kecil kita
> diajar
> > untuk menghormati Al-Qur'an semata - mata kerena Ia adalah Al-Qur'an,
> bukan
> > kerena pengetahuan tentang apakah Al-Qur'an dan peranannya kepada kita
> > sebagai seorang yang mengaku beragama Islam, hanya sekali-sekali kita
> > mempraktekkan Al-Qur'an, namun yang dipraktekkan bukanlah ajarannya tetapi
> > ayat - ayatnya yang dibuat untuk tujuan tertentu seperti hiasan dalam
> rumah
> > (hiasan dinding) , menghalau gangguan makhluk ghaib, melariskan dagangan,
> > menyembuhkan penyakit, lolos pemeriksaan, memagari rumah dan masih banyak
> > lagi , yg kesemuanya menyimpang jauh dari hakekat dan kegunaan tujuan
> > Al-Qur'an diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
> >
> >
> > Memang tidak salah menghormati Al-Qur'an kerena Ia adalah Al-Qur'an , jika
> > penghormatan ini didasarkan kepada sikap menelaah dan mempraktekkan
> > kandungannya, ia akan lebih bermakna dan bermanfaat untuk kita semua,
> dengan
> > menelaah dan mempraktekkan kandungan Al-Qur'an yang sebenarnya kita
> termasuk
> > mencapai tujuan Al-Qur'an diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
> >
> >
> > Mari kita tanamkan pada diri kita masing masing pada Al-Quran untuk
> >
> >
> > 1.Beriman kepadanya.
> > 2.Membacanya dengan disiplin disertai dengan tajwid
> > 3.Menelaah, meyakni, memperhatikan dan mengkaji
> > kandungannya (tadabbur).
> > 4.Mempraktekkannya dalam lika liku kehidupan sehari hari.
> > 5.Menyampaikan untuk tujuan dakwah atau menegakkan hujah.
> > 6.Membelanya dari tuduhan orientalis dan penyelewengan dari
> > segelintir umat manusia yang mengaku ber Agama Islam.
> >
> >
> > Semoga bermanfaat
> >
> >
> > Wassalam
> >
> > ---------------------------------
> > Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Your school could

win a $25K donation.

Y! Messenger

PC-to-PC calls

Call your friends

worldwide - free!

Popular Y! Groups

Is your group one?

Check it out and

see.

.

__,_._,___