Senin, 03 Maret 2008

[psikologi_transformatif] pengaruh islam dalam karya seni iran..

dari salah satu web site islam...
 
Pengaruh Islam dalam Karya Seni Iran PDF Print E-mail
Sunday, 02 March 2008
Di masa lalu, seni merupakan salah satu sarana pengikat hubungan antar-budaya manusia. Menurut ilmu arkeologi, segala sesuatu yang dibuat oleh manusia disebut karya seni. Akan tetapi menurut terminologi, segala hasil karya manusia tak dapat dikatakan sebagai seni. Sementara itu, karya manusia yang spektakuler disebut sebagai seni, sejak dulu hingga kini.
Selain itu, karya seseorang memiliki hubungan langsung dengan keyakinan setiap kaum atau komunitas masyarakat tempat orang tersebut berada. Keindahan merupakan sebuah poin yang diterima oleh setiap seni di berbagai peradaban. Di samping itu, keindahan mempunyai peran penting dalam setiap karya seni. Akan tetapi karya-karya seni di berbagai negara dan peradaban memiliki nilai-nilai keindahan yang berbeda satu sama lain. Seni Cina, Iran, Kristen, Islam dan seni-seni lainnya mempunyai ciri masing-masing. Ketika nama negara tertentu muncul setelah kata seni, maka hal ini menunjukkan bahwa karya seni tersebut berkaitan dengan negara itu. Jika kata seni diimbuhi dengan nama salah satu agama, maka karya seni tersebut berasal dari budaya agama tersebut.
Ketika kita berbicara soal seni Islam, tak diragukan lagi akan terlintas di benak masing-masing bahwa seni itu mempunyai ciri khas Islam, serta mengandung budaya dan nilai-nilai agama ini. Akan tetapi sebagian besar pakar bahasa dan seni seringkali menyebut seni Islam dengan istilah lain, seperti seni Arab atau Iran. Dengan demikian, fenomena ini menunjukkan bahwa seni Islam tidak dapat dilepaskan dari karakter budaya dan kaum setempat.
Titus Burckhardt yang banyak melakukan riset mengenai berbagai karya seni di negara-negara Islam, mengatakan, "Seni kaligrafi dan lukis Iran bukan berasal dari Byzantium dan juga bukan dari Arab. Akan tetapi seni tersebut bermuara dari irfan agama." Untuk itu, seni kaligrafi Iran yang berhubungan dengan kandungan ajaran Islam sangat beragam, yang berbeda jauh dengan seni-seni sebelumnya. Hal ini juga menunjukkan pengaruh pemikiran Islam di kalangan seniman Iran.
Seni kaligrafi Islam di Iran mempunyai keragaman yang luar biasa. Seni kaligrafi terkadang digunakan untuk arsitektur, khususnya arsitektur masjid, dan desain buku. Bahkan, seni tersebut juga digunakan untuk hiasan barang-barang. Dengan demikian, karya kaligrafi atau lukisan pada masa Islam kian menguat dari tahun ke tahun.
Dalam lukisan-lukisan yang ditorehkan oleh seniman-seniman Iran, kita akan menyaksikan taman surga yang digambarkan dengan keragaman cahaya yang menerangi sisi kegelapan materi. Semua makhluk di sekitar manusia, bahkan makhluk aneh seperti bidadari dan simourgh, digambarkan dalam lukisan tersebut. Lukisan tersebut menggambarkan alam metafisik di dunia materi. Di sisi lain, seluruh gambar tersebut dilukis dengan cara sederhana tanpa perspektif. Hal ini menggambarkan keseragaman atau kesatuan antar makhluk yang digambarkan dalam lukisan tersebut. Selain itu, lukisan itu mengesankan alam metafisik atau surga.
Dalam lukisan-lukisan Iran pasca Islam, para seniman cenderung menggunakan warna yang sangat beraneka ragam. Melalui keragaman warna yang luar biasa, hal-hal yang bersifat fisik berkesan menjadi sesuatu yang metafisik.
Peniliti Iran, Dr Mohammad Ali Rajabi, ketika menyinggung penggunaan warna dalam lukisan-lukisan Iran pada masa Islam, mengatakan, "Penggunaan berbagai warna datar dan penghilangan bayangan bentuk sangatlah menonjol pada karya-karya lukisan..."
Dalam seni-seni Iran, penggunaan warna mempunyai keunikan yang berbeda. Hal itu bisa dilihat dalam nilai-nilai seni yang dituangkan di permadani atau keramik, yang mencerminkan kesatuan warna yang menggabungkan warna-warna lainnya. Di seni keramik, warna yang sering digunakan adalah warna biru langit. Ini merupakan warna yang tepat untuk mempertemukan warna-warna lainnya. Selain itu, warna biru mencerminkan alam metafisik.
Warna yang mendominasi warna lainnya juga seringkali digunakan dalam karya seni lainnya seperti seni penyepuhan. Keberagaman corak yang juga sekaligus kesatuan warna menunjukkan keberagaman makhluk dan kesatuannya. Di alam semesta ini terdapat berbagai makhluk, tapi pada saat yang sama, mereka mempunyai sisi kesamaan dari sisi wujud atau eksistensi. Spirit ke-irfan-an ini tercermin secara jelas dalam karya-karya seni Iran.
Selain seni kaligrafi dan lukisan, terdapat seni Iran lainnya yang bermuara pada budaya Islam, yakni penulisan prasasti atau katibeh. Dalam bahasa Persia, seni ini disebut dengan istilah "katibeh negari". Katibeh atau prasasti adalah lempengan dari batu, kapur atau keramik, yang biasanya dipasang di pintu atau dinding-dinding bagian muka bangunan, terutama masjid.
Tulisan religius yang dicantumkan di katibeh, sangat beragam. Ada tulisan mengenai pujian kepada Allah Swt dan sifat-sifatnya. Ada juga tulisan mengenai karakter mulia keluarga suci Rasulullah Saww, bahkan tulisan ayat Al-Quran dan doa-doa. Katibeh ini bisa disaksikan di masjid-masjid Isfahan dan Mashad.
Perlu diketahui juga, tulisan yang dituangkan di katibeh-katibeh sangat bergantung pada instruksi yang ditujukan pada penulis. Jika instruktur adalah seorang penguasa, ia cenderung menuangkan tulisan yang isinya mengenai undang-undang dan keadilan. Jika penulis katibeh menerima perintah dari ulama, maka tulisan-tulisan yang dituangkan cenderung mengandung ayat Al-Quran, puisi penyair yang bijak, dan hadis-hadis yang memuji Allah Swt dan ciptaannya.
Semua itu menunjukkan bahwa seniman-seniman Iran sangat komit dengan ajaran Islam dalam berkarya. Para seniman Iran juga dikenal sangat rendah hati, bahkan enggan menyebutkan nama dalam karya-karya seni mereka. Alasannya, karya seni mereka tak bisa dibandingkan dengan kebesaran ciptaan Allah Swt.
 


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Reconnect with

college alumni.

Y! Messenger

PC-to-PC calls

Call your friends

worldwide - free!

Women of Curves

on Yahoo! Groups

see how women are

changing their lives.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] misi kenabian...

dari salah satu web site islam....
 

MISI KENABIAN

Bila kita merujuk kepada al-Quran kita akan mendapati dua konsep yang menjadi tujuan diutusnya para nabi. Kedua konsep itu ialah: (1) Pengakuan terhadap Tuhan dan pendekatan diri kepada-Nya. (2) Menegakkan keadilan dalam masyarakat manusia. Inilah inti tujuan semua ajaran para nabi.
Berkaitan dengan tujuan para nabi al-Quran menjelaskan: "Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, dan pembawa gembira serta pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada Agama Allah dengan seizin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi." (QS al-Ahzab:45-46) Dari semua aspek yang disebutkan dalam ayat ini, tampak jelas bahwa "mengajak kepada Tuhan" merupakan tujuan utama diutusnya para nabi.
Sementara di sisi lain, al-Quran berkata di dalam surat al-Hadid ayat 25, "Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksana-kan keadilan." Ayat ini berbicara secara gam-blang bahwa tujuan utama misi kenabian ialah menegakkan keadilan.
Jika kita mencer-mati kedua ayat al-Quran ini yang ber-bicara tentang tujuan para nabi, terlihat ada dua macam tujuan, yaitu tujuan yang bersifat individual dan sosial. Tujuan yang bersifat indi-vidual ini adalah mengajak manusia kepada Tuhan, mengenal-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya, ini dapat kita sebut sebagai monoteisme individual. Sedangkan tujuan yang bersifat sosial ialah melakukan penegakkan nilai keadilan di tengah masyarakat yang dapat kita sebut sebagai monoteisme sosial. Di antara dua tujuan para nabi ini, manakah yang paling hakiki? Apakah untuk memperkenalkan Tuhan kepada manusia dan mengajak mereka untuk menyembah kepada-Nya atau menegakkan keadilan. Atau dengan kata lain manakah yang menjadi tujuan dan mana yang menjadi sarana. Apakah menegakkan keadilan di masyarakat merupakan tujuan utama para nabi, sementara mengenal Tuhan dan menyembah-Nya hanyalah sebagai sarana untuk merealisasikan tujuan ini, atau sebaliknya keadilan sebagai sarana dan mengenal Tuhan merupakan tujuan yang hakiki.
Dengan kata lain, apakah tujuan sesungguhnya dari misi kenabian adalah menoteisme individual atau monoteisme sosial? Ada beberapa pendapat seputar masalah ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa para nabi mempunyai tujuan ganda. Artinya, mereka mempunyai dua tujuan yang berdiri sendiri. Yang pertama berkaitan dengan kehidupan dan keba-hagiaan di akhirat yaitu monoteisme individual. Sedangkan yang kedua berkaitan dengan kebahagiaan duniawi, yaitu mono-teisme sosial.
Adapun pendapat kedua meyakini bahwa se-sungguhnya tujuan diutusnya para nabi ialah untuk menegak-kan monoteisme sosial, namun untuk dapat sampai ke sana harus ada yang menjadi prasyarat utamanya, yaitu tegaknya monoteisme individual. Pandangan ini meyakini karena kesempurnaan manusia terletak pada mengubah diri dari "aku" menjadi "kita" dalam monoteisme sosial, dan itu tidak akan bisa dicapai tanpa monoteisme individual, maka Tuhan pun menjadikan pengenalan dan penyembahan kepada-Nya sebagai prasyarat tegaknya monoteisme sosial. Dengan kata lain mengenal Tuhan merupakan sarana untuk menegakkan keadilan.
Pendapat ketiga berpendapat bahwa tujuan utama diutusnya para nabi ialah agar manusia mengenal Tuhan dan mendekatkan diri kepada-Nya, sementara monoteisme sosial hanya sebagai prasyarat dan sarana untuk mencapai tujuan ini. Alasannya ialah bahwa dalam pandangan dunia monoteistik, dunia memiliki sifat "berasal dari Tuhan" dan "kembali kepada Tuhan". Jadi, kesempurnaan manusia terletak pada tindakan manusia menuju Tuhan dan mendekatkan diri kepada-Nya. Karena itu, kebahagiaan, kesempurnaan, keselamatan dan kesejahteraan manusia bergantung kepada pengenalan terhadap Tuhan, menyembah kepada-Nya dan berjalan menuju kepada-Nya.
Adapun mengapa para nabi menaruh kepeduliaan terhadap keadilan serta penolakan terhadap penindasan dan diskriminasi, hal ini disebabkan fitrah manusia yang berorientasi kepada Tuhan tidak akan dapat terealisasi kecuali jika lembaga-lembaga kemasyarakatan yang seimbang telah menguasai masyarakat. Namun demikian, pandangan ini mengatakan bahwa nilai-nilai sosial seperti keadilan, kemerdekaan dan juga moralitas-moralitas sosial seperti kemurahan hati, mudah memaafkan, kebaikan budi dan kedermawanan, bukanlah sesuatu yang inheren dalam diri manusia, dan tidak dipandang sebagai sesuatu yang secara absolut mencerminkan kesempurnaan manusia.
Semua nilai ini hanya sarana atau alat untuk mencapai kesempurnaan. Nilai-nilai tersebut adalah sarana ke arah keselamatan bukan keselamatan itu sendiri.
Pandangan keempat hampir mirip dengan pandangan ketiga, namun dengan perbedaan, bahwa meskipun nilai-nilai sosial dan moral tetap merupakan sarana menuju nilai hakiki manusia yaitu menyembah dan beriman kepada Tuhan, namun nilai-nilai tersebut masih dianggap memiliki nilai-nilai inheren.
Kalau kita ingin menganalisis lebih jauh perbedaan di antara pandangan ketiga dan keempat, sebenarnya permasalahan tersebut terletak pada perbedaan jenis hubungan antara sesuatu yang menjadi sarana dan sesuatu yang menjadi tujuan yang sesungguhnya. Dalam hal ini, terdapat dua jenis hubungan antara apa yang menjadi sarana dengan tujuan. Pada jenis hubungan yang pertama, nilai tidak lebih hanya sebagai sarana untuk sampai kepada sesuatu, dan ketika telah sampai, maka keberadaan dan ketidak-beradaanya adalah sama. Atau dengan kata lain, keberadaannnya sudah tidak berarti. Sebagai contoh, seseorang ingin menyeberangi sebuah sungai kecil, lalu dia menempatkan sebuah batu besar di tengah-tengah sungai kecil tersebut sebagai batu loncatan ke seberang sungai. Setelah mencapai tepi seberang, jelas, keberadaan batu tersebut tidak penting lagi bagi orang tersebut. Demi-kian juga dengan tangga yang digunakan untuk mencapai atap.
Adapun jenis hubungan yang kedua ialah keberadaan sarana tersebut tetap berarti dan mempu-nyai nilai walaupun tujuan tersebut telah tercapai. Sebagai con-toh, pengetahuan yang diperoleh di kelas satu dan dua merupakan prasyarat untuk mencapai kelas yang lebih tinggi. Orang tidak bisa mengatakan bahwa ketika seorang murid telah mencapai kelas yang tinggi maka ia tidak akan rugi apabila menghapus pengetahuan yang diperolehnya di kelas satu dan dua dari memorinya, dan ia dapat melanjutkan studinya di kelas yang lebih tinggi tanpa pengetahuan tersebut. Karena hanya dengan bantuan pengetahuan itulah dia dapat melanjutkan studinya di kelas yang lebih tinggi.
Yang menjadi inti masalahnya ialah bahwa terkadang kedudukan prasyarat tersebut sangat lemah atau penting di hadapan tujuan yang akan dicapai. Kedudukan prasyarat yang lemah di hadapan tujuan, seperti sebuah tangga bukanlah komponen dari atap, seperti juga halnya sebuah batu besar di tengah anak sungai bukanlah bagian dari tepi seberang sungai. Sedangkan prasyarat yang penting seperti kedudukan pengetahuan yang diperoleh di kelas yang rendah maupun di kelas yang tinggi bisa merupakan bagian dari suatu kebenaran yang sama.
Hubungan antara nilai-nilai moral dan sosial dengan pengenalan terhadap Tuhan dan penyembahan kepada-Nya merupakan jenis hubungan yang kedua. Apabila manusia telah mencapai pengetahuan yang sempurna tentang Tuhan dan penyembahan yang sempurna kepada-Nya, maka keberadaan nilai kebenaran, kejujuran, keadilan, kebaikan budi, kemurahan hati dan sifat mudah memafkan tetap berarti dan mempunyai nilai.
Jadi, dapat kita katakan bahwa yang menjadi tujuan utama diutusnya para nabi ke dunia ini ialah agar manusia mengenal Tuhan dan menyembah kepada-Nya, sementara nilai-nilai moral dan nilai-nilai sosial merupakan sarana yang bersifat inheren dalam diri manusia untuk mengenal Tuhan. []


Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Your school could

win a $25K donation.

Women of Curves

on Yahoo! Groups

see how women are

changing their lives.

Yahoo! Groups

How-To Zone

Do-It-Yourselfers

Connect & share.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Tauhid dan pembebasan...

dari salah satu web site islam..
 
"tiap2 insan akan diminta pertanggungjawabannya kelak" (Al quran)
 
"dan ALLAH SWT sebaik-baik pemberi balasan" ( Al quran).
 

Tauhid dan Pembebasan

Farid Esack

Banyak di antara kita yang akan memiliki kesulitan besar dalam memahami bagaimana tauhid terkait dengan pembebasan. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena kita telah dikondisikan untuk memiliki tingkat keimanan yang terbatas hanya pada perkumpulan peribadatan seperti maulud dan hajatan, hukum fiqh (yurisprudensi Islam), ibadah keagamaan dan dogma teologis. Iman (keyakinan) kita seperti jubah di dalam masjid. Penggunaannya terbatas pada jam-jam tertentu dan hanya di dalam masjid sehingga keyakinan diceraikan dari kenyataan dan dipisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Jadi banyak di antara kita yang memiliki mata dan telinga keimanan yang hanya mampu melihat dan mendengar di dalam masjid atau di daerah-daerah yang dirujuk oleh keyakinan atau dogma. Ketika membaca surat kabar atau menemukan permasalahan sosial atau politik, mata keimanan kita menjadi buta dan telinga keimanan kita menjadi tuli. Kita melihat kenyataan tetapi kita tidak benar-benar melihatnya dan kita mendengar banyak hal tetapi tidak memahaminya. Berapa banyak di antara kita yang dapat mengingat wajah penjaja surat kabar yang kita lihat setiap hari; apalagi memahami kenyataan di balik wajah tersebut? Kami bukan membuat pembelaan dengan menekankan bahwa tauhid memiliki dimensi pribadi, sosial, dan politik. Meskipun demikian, para aktivis Muslim harus menjaga diri mereka dari ketidakseimbangan Islam mereka. Islam tidak hanya merupakan sebuah sistem politik atau memberikan solusi-solusi politik. Ketika kita mendukung Islam yang holistik maka kita juga merujuk kepada misalnya hubungan kita dengan bumi; kepada kerukunan semua makhluk sebagai bagian dari ekosistem; perlindungan laut, gunung, hutan, dan hewan-hewan liar. Kita berbicara tentang bagaimana kita berurusan dengan teman, hubungan antarpribadi kita. Kita merefleksikan kualitas dan frekuensi shalat kita serta sikap kita terhadap azan. Itu baru merupakan beberapa pokok persoalan yang terkait dengan Islam yang komprehensif. Kita harus melakukan semuanya dan tidak hanya beberapa yang kita anggap bisa dilakukan. Kita tidak boleh masuk ke dalam jebakan yang sama seperti mereka yang mengatakan atau bertindak seolah-olah Islam itu murni bersifat spiritual. Apabila kita mengatakan atau bertindak seakan-akan Islam itu murni bersifat politis, maka kita juga telah bersalah karena berpegang kepada sebagian dari Kitab Suci dan menolak sebagian yang lain.
Kamu percayai sebagian Kitab dan menolak yang sebagian lagi? Ganjaran orang yang berbuat demikian di antara kamu tak lain hanyalah kehinaan dalam kehidupan dunia ini dan pada hari kiamat mereka dikembalikan ke dalam azab yang berat. Dan Allah tiada lengah akan segala yang kamu lakukan.
<!--[if !supportlinebreaknewline]-->
<!--[endif]-->
Jadi sekarang kita telah berkumpul untuk merefleksikan hubungan antara tauhid dan pembebasan. Apa makna tauhid dalam konteks penindasan? Masyarakat seperti apakah yang Allah inginkan kita untuk mewujudkannya, dalam kaitannya dengan filsafat dan realitas tauhid? Orang seperti apakah yang memiliki kepribadian tauhid? Apakah tauhid bermakna lebih daripada apa yang selama ini kita pahami?
Keesaan Allah begitu pentingnya sehingga Dia mengutus sekitar 124.000 Nabi 'alaihim al-salam untuk memproklamirkannya. Tidak hanya itu, tetapi mereka juga terkena ujian, penyiksaan dan bahkan kematian yang mengerikan untuk menegakkan kesatuan ini. Mengapa Allah mengutus begitu banyak orang pilihan-Nya dan mengapa mereka mengalami begitu banyak penderitaan? Apakah hal itu hanya karena Ketunggalan-Nya secara matematis? Apa dampak dari Ketunggalan ini sehingga menimbulkan antagonisme yang sengit dan berlarut-larut dari kaum yang berkuasa terhadap para nabi? Apakah tauhid ada dengan sendirinya, dengan nilai-nilai intrinsik yang hanya memerlukan sebuah pengakuan verbal, tanpa adanya keharusan untuk mewujudkan atau mengaktualisasikannya di sini dan sekarang? Apakah menjadi persoalan Allah itu satu atau tiga atau seribu apabila hal itu hanya meminta sebuah pengakuan verbal dan hubungan budaya yang luas dengan orang lain yang juga telah melakukan hal tersebut? Perkataan berikut akan terdengar seperti sebuah sindiran: Apakah buah pohon ek yang jatuh di hutan akan menimbulkan bunyi apabila tidak ada orang yang mendengar kejatuhannya? Bukankah mendengar adalah prasyarat dari keberadaan suatu bunyi? Analogi matahari mungkin akan lebih dekat dengan tauhid. Matahari ada dengan semua cahaya terangnya, tetapi apa artinya buat saya ketika saya mengalami dingin atau panas sebagai akibat dari keberadaannya? Allah ada di sana, selalu ada di sana dan akan terus ada di sana, tetapi bagaimana saya merasakan Kesatuan-Nya.
Sampai akhir-akhir ini, perdebatan filosofis mengenai tauhid hanya dibatasi kepada Kesatuan Allah secara matematis; apakah Tangan-Nya adalah tangan yang riil; Apakah Singgasana-Nya bersifat fisik, dsb. Dengan demikian, perdebatan itu dibatasi hanya kepada 'dunia yang lain' atau murni bersifat ortodoks-yang berlawanan dengan ortopraxis. Keyakinan Anda harus baik dan keyakinan adalah sesuatu yang tertinggi dan sederhana, dengan sebuah pengakuan verbal. Selalu terdapat elemen-elemen penting, terutama para pengikut Abdul Wahab Najdi dan Ibnu Taimiyyah, yang menyamakan ortodoksi - keyakinan yang benar - dengan ortopraksis - tindakan yang benar. Mereka juga beranggapan bahwa yang pertama akan hampa tanpa yang terakhir. Meskipun demikian, para cendekiawan pada masa kemudian, seperti Fazlur Rahman Anshari, Muhammad Iqbal, Khalifah Abdul Hakim dan Ali Syari'ati menjelaskan bahwa tauhid terdapat dalam keseluruhan kosmos, dan umat manusia, sebagai bagian dari kosmos tersebut, harus mengatur kehidupan pribadi dan sosialnya sesuai dengan tauhid. Jadi kami menyatakan bahwa keesaan Allah hanya akan berarti untuk saya apabila saya menjadi seorang prajurit di dalam perjuangan untuk mengaktualisasikan sebuah tata tertib tauhid dalam kehidupan pribadi dan kehidupan sosial-ekonomi saya.
Adakah manusia mengira, bahwa mereka akan dibiarkan berkata, "Kami beriman," padahal mereka tidak diuji? Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, dan Allah pasti tahu siapa yang benar dan pasti tahu siapa yang berdusta.
Kami kemudian diberitahu bahwa sebuah pernyataan verbal tidaklah cukup dan harus diikuti oleh sebuah perjuangan untuk membenarkannya. Hal ini direfleksikan lebih lanjut dalam hadis berikut:
Barangsiapa melihat kemunkaran, hendaklah dia mencegah dengan tangannya, bila tidak mampu hendaklah dia mencegah dengan lisannya dan bila tidak mampu juga hendaknya dia mencegah dengan hatinya, dan itu (hatinya) adalah selemah-lemahnya iman.
Versi lain dari hadis yang sama menambahkan: "dan setelah itu tidak akan ada sebiji keimanan yang tertinggal." Kita belajar dari hadis ini bahwa keadaan keimanan kita terkait langsung dengan tingkat di mana kita siap untuk menentang kemunkaran, dan ketika Nabi saw menyatakan bahwa "setelah itu tidak akan ada sebiji keimanan yang tertinggal," maka itu berarti bahwa hati yang kosong dari perlawanan terhadap kemunkaran dan penindasan adalah hati yang kosong dari keimanan.
Hadis berikut - "barang siapa meninggal dunia tanpa pernah berjuang untuk Islam atau memiliki niat berjuang untuknya, maka ia meninggal dunia dalam keadaan jahilliyyah (kebodohan atau keadaan tidak beriman pra-Islam)" - menekankan hal ini lebih lanjut.
Lalu apa hubungan antara tauhid dengan pembebasan pribadi dan antara tauhid dengan pembebasan politik? Apa maksudnya ketika kita diminta untuk membentuk sifat-sifat kita sesuai dengan Allah?
Tauhid dan Pembebasan Pribadi Sebuah kepribadian tauhid adalah sebuah makhluk yang terintegrasi dan harmonis, yang menjadi satu dengan dirinya, lingkungan alamnya dan dengan Allah. Ia tidak dapat dan tidak akan membagi hidup ke dalam kehidupan yang religius dan sekuler, privat dan publik, spiritual dan politik, karena hal itu melanggar filsafat integrasionis yang melekat dalam tauhid. Sebuah kepribadian tauhid tidak akan menundukkan kepalanya kepada Allah di masjid dan kepada kapital di pasar bursa di luar masjid. Ia tidak akan mengucapkan Allah-Allah di rumah dan menjadi seorang Freudian di kampus. Ia tidak bisa tetap berpuasa di bulan Ramadhan dan kemudian mendukung sistem sosial-ekonomi yang menindas, baik secara aktif ataupun diam-diam. Ia tidak hanya mengamati dan menentang sistem yang menciptakan dan mengekalkan kelaparan atau kekuatan sosiologis-cum-industrial yang memunculkan sikap permisif yang tak bermoral, tetapi juga mengamati dan menentang perannya di dalam sistem atau kekuatan tersebut. Kepribadian tauhid tidak akan sibuk dengan tari kupu-kupu eskapisme yang sia-sia dan penyimpangan dari pencapaian kesatuan dengan diri. Perjuangan untuk mempribadikan tauhid juga mengimplikasikan perjuangan untuk mengaktualisasikannya secara sosial. Nabi saw telah menyatakan bahwa kufur merupakan sebuah sistem tunggal. Jadi kufur bukan hanya merupakan seperangkat keyakinan tetapi juga sebuah pola perilaku. Anda tidak bisa bersikap lemah lembut di masjid dan terjebak dalam watak kasar di luar masjid. Anda tidak bisa memperhatikan aturan-aturan shalat dan tidak peduli dengan aturan-aturan muamalat (berurusan dengan orang). Sistem nilai dan standar perilaku kita yang valid untuk masjid juga valid untuk toko. Inilah yang dimaksud oleh Nabi saw ketika ia menyatakan bahwa ia tidak khawatir para pengikutnya akan melakukan syirik (pemberhalaan) yang nyata, tetapi khawatir bahwa mereka akan melakukan syirik yang tersembunyi, yaitu bahwa kita akan menganggap Allah sebagai tuhan kita di masjid tetapi membiarkan diri rendah kita berkuasa sebagai bos di diskotik. Ini adalah syirik. Itu tidak hanya syirik, tetapi juga sakit. Pertama-tama, hal itu akan mengarah kepada kepribadian yang terbelah dan kemudian kepada disintegrasi kepribadian.
Tauhid dan Pembebasan Sosial-Ekonomi Sebuah masyarakat tauhid bermakna kesatuan semua makhluk karena kesatuan Penciptanya. Umat manusia tidak bisa mengeksploitasi semua sumber daya bumi dan beranggapan bahwa sumber daya itu tidak terbatas. Kita tidak boleh memperkosa dan menjarah bumi dengan memandang rendah lingkungan kita sepenuhnya, memburu, memakan, dan mengeksploitasi seolah-olah tidak akan ada hari esok. Kita tidak bisa terlibat dalam industrialisasi yang tak terkontrol tanpa memperhitungkan biaya-biaya yang terkait dengan limbah industrial dan kerusakan ekosistem. Umat manusia adalah bagian dari lingkungan alam dan kita tidak boleh menganggap diri kita sebagai lawan darinya.
Sebuah masyarakat tauhid tidak hanya berarti bahwa umat manusia menjadi satu dengan alam, tetapi yang paling penting adalah bahwa kita menjadi satu dengan umat manusia lainnya. Dengan demikian, kita tidak hanya berjuang melawan semua model pembangunan yang berupaya membuat kita menjadi penguasa asing di bumi, tetapi kita harus mencapai kesatuan dengan umat manusia lainnya, karena "Hai umat manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu!"
Dr. Ali Syari'ati sebagai seorang syahid berpendapat bahwa masyarakat tanpa kelas adalah sebuah konsekuensi dari tauhid. Maulana Fazlur Rahman Anshari juga berpendapat bahwa sebuah masyarakat tauhid bersifat "non-rasial, non-kesukuan, tanpa kasta dan tanpa kelas." Masyarakat tauhid adalah sebuah masyarakat egalitarian yang melampaui kekakuan egalitarianisme menuju masyarakat persaudaraan. Nilai dari masyarakat itu diwakili dalam al-Quran dan konsep "falâh," yaitu kesejahteraan, yang dalam kaitannya dengan tauhid haruslah bersifat kolektif dan integralistik, yaitu secara politik, ekonomi, moral, fisik, spiritual, dsb.
Jadi anggota masyarakat yang seperti itu tidak hanya disebut sebagai orang yang setara secara ekonomi, tetapi juga sebagai saudara dan saudari, yang serba-mencakup. Hal ini biasanya dengan senang diakui oleh semua Islamis dan ini agak mengganggu. Hal itu mengganggu, karena cukup banyak Islamis yang berasal dari sebuah kelas yang akan kehilangan banyak apabila masyarakat yang seperti itu benar-benar terwujud. Bisa saja komitmen mereka terhadap perwujudannya bersifat total, sehingga mereka melupakan implikasi ekonominya atau mereka menganggap bahwa sebuah Afrika Selatan yang baru akan dibangun dengan pemilik yang sekarang tetap menjadi penjaga, yang akan menjangkau kaum tak berpunya dengan ramah, sebuah kedermawanan yang paternalistik. Apa yang perlu kita tanyakan adalah bisakah kita berbicara tentang kemauan untuk bergerak menuju sebuah masyarakat tauhid yang fraternalistik, apabila kapitalisme dan konsumerisme seumur hidup serta dua ratus tahun industrialisasi telah mengeraskan hati orang-orang beriman yang tak sadar dalam "tauhid yang melangit." Kemudian kita merasa bahwa kita harus memberontak dan menghancurkan semua sistem yang membelah rakyat atas dasar apapun kecuali takwa (kesalehan) karena "tidak ada keutamaan orang Arab atas orang non-Arab atau orang non-Arab atas orang Arab kecuali dengan takwa."
Inilah makna tauhid dalam kehidupan kita. Tauhid bukanlah persaudaraan yang lemah dan emosional, yang ditunjukkan oleh para apologis Muslim kepada dunia non-Muslim. Lihatlah dalam masjid kita, di mana kaum miskin dan kaya shalat bersama! Lihatlah dalam haji, di mana kaum kulit hitam dan kulit putih menjalankan thawaf Kabah bersama-sama, kita semua dalam pakaian ihram yang sama! Itu hanyalah tauhid simbolik yang harus kita lampaui. Apa gunanya kesatuan Arafah ketika Anda kembali ke rumah dan kulit hitam dipisahkan lagi dari kulit putih? Juga beberapa di antara kita mati karena tidak cukup makan sementara yang lain mati karena kekenyangan? Apa gunanya kita berdiri bersama-sama sebagai saudara dalam masjid apabila setelah shalat Anda pulang ke rumah megah Anda sementara sang muazzin harus merangkak masuk ke dalam kamarnya yang kecil? Maulana Yusuf, amir kedua dari Tablighi Jama'at berpendapat bahwa adalah suatu penindasan apabila beberapa di antara kita tinggal di istana sementara yang lainnya tinggal dalam gubuk. Bekerja untuk menghilangkan rintangan-rintangan ini adalah bekerja untuk membangun tauhid di bumi.
Ketika Sayyidina 'Ali mengatakan bahwa tidak mungkin beberapa orang mendapatkan sejumlah besar kekayaan kecuali yang lain mati kelaparan; ketika Sayyidina Abu Dzar al-Ghiffari mengatakan: "Seandainya aku berkuasa, maka aku akan pergi ke semua orang kaya dan mengambil dengan paksa kelebihan harta mereka serta membagikannya kepada orang-orang miskin." Ketika Sayyidina 'Umar mengatakan: "Seandainya sebelumnya aku tahu apa yang kuketahui sekarang, maka aku tidak akan ragu-ragu untuk mengambil kelebihan harta kaum Anshar dan membagikannya kepada kaum Muhajirin yang miskin."
Semua ini menunjukkan perjuangan para pendahulu kita untuk mewujudkan tauhid dalam bidang sosial-ekonomi. Tetapi bagaimana dengan Nabi Sulaiman dan Hazrat Utsman? Bukankah mereka itu kaya? Kekayaan mereka pada hakikatnya tidak pernah terkait dengan keseluruhan sistem penindasan dan eksploitasi. Lagipula, mereka adalah raksasa-raksasa spiritual. Kekayaan mereka ada di tangan mereka dan keimanan mereka dengan kuat melekat di hati mereka. Ketika muncul kebutuhan terhadap kekayaan mereka, maka mereka akan mengeluarkannya dengan sukarela. Dan ketika cinta kepada isi tangan mereka mengancam isi hati mereka, maka mereka melepaskan isi tangan mereka untuk melindungi keimanan mereka. Mereka diasingkan oleh masyarakat apabila mereka memperlihatkan keengganan untuk melakukan hal itu. Nabi saw tidak menjawab ucapan salam mereka dan bahkan istri mereka diperintahkan untuk dipisahkan dari mereka. Contoh khusus adalah Murarah bin Rabi, Hilal bin Ummayah dan Ka'ab bin Malik.
Mereka menunda keikutsertaan mereka ketika panggilan jihad datang. Kebun kurma mereka sedang berkembang penuh dan karena pada saat itu adalah musim panen, maka mereka takut kehilangan hasil panen yang sangat besar, yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Mereka tinggal dan beranggapan bahwa mereka akan mengikuti ekspedisi setelah selesai memanen. Tetapi ekspedisi tersebut pulang lebih awal dari yang diperkirakan. Mereka semua mendatangi Nabi saw untuk menyatakan alasan mereka. Nabi saw mengabaikan mereka, tidak menjawab ucapan salam mereka, memerintahkan masyarakat untuk mengasingkan mereka dan memerintahkan istri mereka untuk dipisahkan dari mereka selama empat puluh hari. Manusia modern - dan juga termasuk umat "Muslim" - duduk dengan kekayaan di hatinya dan keimanan di tangannya - ketika isi hati mereka terancam, mereka akan melepaskan apa yang ada dalam tangan mereka.
Manusia modern, yang merupakan tikus spiritual, tidak dapat membandingkan diri mereka dengan Nabi Sulaiman as atau Hazrat Utsman karena mereka tidak bisa dipercaya dengan keimanan mereka sendiri.
Selanjutnya, tidak bisa dipercaya, bahwa mereka berpegang pada kekayaan mereka di hadapan kemiskinan di sekitar mereka. Jadi kita, tanpa merasa malu, memilih kaum miskin dan tertindas. Kita mengambil pilihan ini karena Allah sendiri dan semua nabinya as mengambil pilihan ini.
Dan Kami hendak memberi karunia kepada mereka yang tertindas di bumi; dan akan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin dan Kami jadikan mereka para ahli waris; (Lebih jauh lagi, hendak) Kami kukuhkan mereka di bumi ini, dan hendak Kami perlihatkan kepada Firaun dan Haman, serta pasukannya, apa yang mereka khawatirkan.10
Apabila kita harus memilih antara perspektif Abu Dzarr dan Utsman maka kita harus memilih satu yang dekat dengan pembebasan. Di sebuah negara di mana 10 anak meninggal tiap jam karena kekurangan gizi, maka kita dipaksa untuk mengikuti perspektif Abu Dzarr. Islam, sebagai agama yang dinamis, memang mengakui perubahan dalam urusan manusia dan menjawab tuntutan sah masyarakat yang muncul dari waktu ke waktu. Pembatalan Umar ra terhadap aturan memberikan zakat kepada mereka yang hatinya condong kepada Islam adalah sebuah contoh. Beberapa orang di antara kita meminta untuk membatalkan instruksi tegas Nabi saw bahwa perempuan tidak boleh dihalangi untuk sering mengunjungi masjid, karena menurut mereka, waktu telah berubah. Perubahan-perubahan ini semuanya dapat diterima karena tidak menyentuh apa yang paling menyakitkan - rekening bank kita.
Nabi saw telah mengidentifikasi dirinya dengan kaum tertindas dengan konsisten. Marilah kita jujur. Kita sama sekali tidak bisa percaya bahwa dalam etos Makkah atau Madinah terdapat lemari es yang penuh di tengah-tengah kelaparan. Bahkan ketika orang tidak sekarat karena kelaparan, maka masih tidak bisa dipahami bahwa Nabi saw akan mengizinkan penimbunan makanan untuk enam bulan berikutnya, karena takut Allah sendiri akan mengetahuinya. Kita harus percaya kepada Allah ketika kita mengikat unta kita. Tetapi mengikat unta kita di Makkah atau Madinah tidak pernah berarti terserang panik karena bayangan kelaparan di masa depan. Tauhid bermakna pembebasan rakyat dari ketidakamanan ini dengan lenyapnya ketamakan.
Pilihan yang kita ambil sekarang ini, untuk kaum miskin, harus berarti bahwa kita mempertanyakan cara yang kita coba untuk melindungi masa depan kita. Terdapat beberapa orang yang membangun rumah-rumah besar sehingga anak-anak mereka, yang beberapa di antaranya masih merangkak sementara yang lainnya belum lahir, akan memiliki kamar atau tempat tinggal mereka sendiri lima belas tahun kemudian, sementara para pekerja mereka, yang cukup tua untuk menjadi ibu saya dan Anda, hidup dengan seluruh keluarga mereka di satu bagian dari garasi kita. Asuransi jiwa telah menjamin masa depan keluarga kita setelah kita meninggal, sementara kita mengabaikan kehadiran mereka yang bekerja untuk kita ketika kita masih hidup. Seolah-olah Allah Swt akan bertanya kepada kita tentang berbagai peristiwa yang terjadi setelah kita meninggal.
Karena kita diciptakan tidak hanya untuk bertahan hidup, kita adalah sebuah umat "yang dilahirkan untuk segenap manusia" sehingga kita mesti menjawab tangisan umat manusia. Tanggapan terhadap kebutuhan rakyat jelas merupakan jawaban terhadap undangan Allah untuk membangun sebuah masyarakat yang adil, damai, setara, mencintai dan benar.
Dinyatakan dalam salah satu hadis qudsi Nabi saw bahwa pada Hari Kiamat Allah akan mengatakan kepada hamba-Nya, "Aku sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku." Si hamba akan bertanya, "Bagaimana aku harus menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan bagi alam semesta." Setelah itu Allah akan menjawab, "Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si fulan sedang sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya? Seandainya kamu menjenguknya (untuk menghibur dan membantu) pasti kamu dapati Aku di sisinya." Ia akan bertanya lagi, "Hai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi tidak kamu beri Aku makan." Si hamba akan menjawab, "Bagaimana aku memberi makan Engkau, sedangkan Engkau adalah Tuhan bagi alam semesta?" Allah kemudian akan mengatakan, "Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si fulan meminta makan kepadamu, tetapi tidak kauberi makan? Seandainya kamu beri makan dia niscaya kamu dapati Aku di sisinya." Allah akan bertanya lagi, "Wahai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tetapi tidak kamu beri minum." Si hamba akan menjawab, "Bagaimana aku memberi-Mu minum sedangkan Engkau Tuhan bagi alam semesta?", Allah akan mengatakan, "Hamba-Ku si fulan meminta minum kepadamu, tetapi tidak kamu beri minum. Seandainya kamu memberinya minum niscaya akan kamu dapati Aku di sisinya."
Tanggapan terhadap tangisan kaum tertindas adalah jawaban terhadap panggilan Allah. Mengabaikan tangisan kaum tertindas sama dengan mengabaikan panggilan Allah.[]
Catatan Kaki:
1 Ceramah ini disampaikan di Roshnee pada bulan November 1984.
2 QS 2:85.
3 QS 29:2-3.
4 Bukhari dan Muslim.
5 QS 4:1.
6 Lihat lebih lanjut Qur'anic Foundation and structure of Society oleh Fazlur Rahman Anshari, Karachi 1976, jilid 1, hlm. 157-198.
7 Muslim, Bukhari dan Tarmidzi.
8 Ibn Hazur, Vol. IV, hlm. 158.
9 Kisah ini diceritakan dengan sangat terperinci dalam "Stories of Sahabah" oleh M.M. Zakariyyah.
10 QS. 28: 5-6.


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Reconnect with

college alumni.

Women of Curves

on Yahoo! Groups

see how women are

changing their lives.

Y! Groups blog

the best source

for the latest

scoop on Groups.

.

__,_._,___

Re: [psikologi_transformatif] mungkinkah tuhan memang acuh tak acuh

hahahah.....hahahaha.....hahhahah...... jika tuhan yg kita inginkan adalah perempaun atau laki-laki maka kita harus berfikir bagaimana merasakan sex dengan dia... jika tuhan yg kita inginkan bisa mengangkat batu maka kita harus berfikir agar memasukkan robot sebagai tuhan dalam kandidat tuhan... kalau tuhan yg kita inginkan adalah yg menyembuhkan penyakit maka seharusnya kita harus bisa menyembah obat penyakit termasuk obat kuat atau obat perangsang...
 
mengapa kita tidak ingin menyembah manusia yg bisa menjadi gay atau lesbian atau mungkin jadi gila...??? atau menyembah robot atau mesin yg bisa berkarat..??? atau menyembah obat kuat yg bisa menertawakan kita...???
 
lalu mengapa tuhan harus menjadi manusia, robot logam, atau obat...????
 
sudah saatnya kita sadar, sadar untuk menjadi manusia yg memiliki derajat yg tinnggi dilangit... sebab itu adalah "hak" kita....
 
"sesungguhnya aku hendak menciptakan khalifah dimuka bumi" (Alquran)


Yayak Heriyanto <mesfo96@yahoo.com> wrote:
apakah Tuhan? apakah Tuhan Allah laki-laki (he)? apakah ia sungguh hebat??? jika ia sedemikian hebat kekuasaannya, bisakah ia membuat batu yang berat sehingga ia tak mampu memindahkannya? Tuhan itu di mana? apakah ia ada di mana-mana? jika kita memasukkan segala sesuatu yang ada di surga dan bumi dan menyebutkan keseluruhannya, lalu bukankah itu artinya Tuhan termasuk disitu juga khan? kalau begitu, maka apakah ia lebih kecil dari keseluruhannya tadi? inilah beberapa pertanyaan yang secara iseng-iseng saya pertanyakan sejak kecil.

itu ok saja, dan mungkin beberapa orang menganggapnya lucu, namun, jika anda melihat seorang  anak kecil usia tiga tahun yang sedang sekarat karena penyakit AIDS dan anda percaya bahwa Tuhan itu maha kuasa___nah, barangkali pertanyaan serupa tadi mulai bikin dahi kita berkernyit. jika memang Ia begitu, lalau mengapa Dia diam saja dalam sat yang pedih seperti itu? jika memang Tuhan adalah Laki-laki (He) lalu apa yang harus dijelaskan lagi dari pentingnya bersilat lidah teologis seperti yang dilakukan beberapa aktivis gender Muslim agar membuat islam mereka terkesan lebih cocok?

sepertinya sudah saatnya bagi kita untuk berhenti menganggap diri sendiri sebagai mesin penjawab, dan beralih pada usaha mencari kejujuran..!!!!

banyak di antara kita yang serius berpikir tentang tuhan menjadi hampir putus asa menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan yang mengoyak diri kita, dan tidak habis mengerti mengapa Dia  bisa melihat kita sementara kita sedang merasa hancur karena tidak ada jawaban. seberapa sering kita tidak berteriak kepada Tuhan: "Berbuat apa, kek!

Tuhan, sekarang engkau tahu saya menjadi salah seorang yang bersaksi kepadamu, Oh, tidak, saya tidak pernah membungkuk pada berhala__ tapi masih ada tuhan yang lain: tangga kehidupan akademis, seks, kekuasaan, dan wibawa. maka inilah saya di hadapanmu, saya, si munafik yang jelek, berbuatlah sesuatu donk! jangan biarkan saya seperti ini!

----- Original Message ----
From: Wal Suparmo <wal.suparmo@yahoo.com>
To: Spiritual-Indonesia@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, March 4, 2008 7:01:31 AM
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] DIMANAKAH TUHAN ?Mas Sugito...

Salam,
Manusia itu sungguh haus sangat dikasiani.
Umur manusia hanya sepertrilyun dari umur  alam raya tetapi diberi KESADARAN yang begitu besar dan luas.Apakah artinya ini? Hanya untuk menderita saja di dunia? Sebab dunia itu 90% penderitaan dan hanya 10% kenikmatan kecuali hanya untuk beberapa glintir manusia tetapi juga  90% yang menderita.Agama mengatakan manusia di dunia untuk mengabdi atau berbakti alias MEMBERI kesenangan kepada Tuhan/Alloh/ God(Pencipta) ?
Tuhan/Allah? God MINTA dihormati? Begitu EGOISNYA? Sungguh malang nasib manusia itu? Apakah ini semua salah persepsi? Padahal penderitaan adalah satu hal yang sangat pahit bagi yang harus  menjalankannya, walaupun disebabkan salahnya sendiri karena perbuatannya melanggar hukum Tuhan (dosa= maido karo sing kuwoso).Bagaimana  kalau semua ini tidak ada.Tidak ada alam semesta dan tidak ada dunia.Tetapi ini juga ngawur sebab KENYATAANNYA  semuanya sudah ada dan harus TEPAKSA semua diterima as is.  Mohon kawan2 lain menambahnya asal bukan berdasarkan dogma.
Wasalam,
Wal suparmo

semar samiaji <kind_evil_06@ yahoo.com> wrote:
punten Mas....senang membaca apa yang Mas sampaikan... .semoga ndak menjadi tuntutan diri...ha..ha. .ha..semoga aja....
 
cheers,
ss

Sugito Wagiman <sugitowagiman@ yahoo.com> wrote:
Apakah Tuhan itu kejam ............ ...
Kata nabi ini, kalau tidak ikut Tuhannya maka akan dilempar ke neraka, kata nabi itu, kata pembawa agama, semuanya menceritakan hal yang sama.
 
Kalau kita percaya, maka Tuhan itu esa, kalau Tuhan itu esa, apakah Tuhan kesepian.
 
Bahwa manusaia mempunyai akal yang sangat terbatas, saya mengambil asumsi tentang lima orang buta yang menceritakan tentang gajah.Mereka memegang gajah, ada yang pegang belalai, kaki, perut, taring dan ekor.
 
Apakah gajah akan marah kalau orang buta mengatakan gajah adalah seperti ular?  pohon kelapa ? periuk ? besi ataupun tali ?
 
Bukankah semuanya jawabannya adalah salah ?
 
Bukankah nabi dan pembawa agama itu seperti orang buta, mereka mengenalkan Tuhan dengan cara keterbatasan mereka mengerti akan Tuhan
 
Apakah Tuhan akan marah, jika pengenalan dirinya adalah salah, padahal manusia tersebut memang mencari dan menyembah Tuhan yang adalah Tuhan itu sendiri ?
 
Apakah maka Tuhan akan marah, jika pengenalan dirinya salah dan membuang orang tersebut ke neraka ? Apakah Tuha sekejam itu ?
 
Kalau dilihat dari penciptaan Bumi, maka usia bumi adalah 4,5milyar tahun dan usia manusia sekitar 60.000 tahun, dan diperkirakan bahwa bumi akan bertahan sekitar 3 milyar tahun lagi dan akan keluar dari jalur orbitnya dan bertabrakan dengan benda di langit. Atau spekulasi yang mengatakan bahwa matahari akan bersinar 3 milyar tahun lagi dan kemudian redup ? Apakah Tuhan sedemikian kejamnya ingin menghapuskan ciptaan di Bumi ?
 
Bahwa dikatakan bahwa alam semesta lebih banyak dari jumlah manusia itu sendiri dari pertama sampai sekarang. Dan apalah artinya manusia ini, yang datang dan pergi dan apakah Tuhan memang mencintai manusia ? Kita bukan Tuhan, kalau kita adalah Tuhan, pertanyaan setelah menciptakan alam semesta, apakah kita masih mempedulikan tentang ciptaan yang bernama manusia ? Bukankah disana dengan ratusan milyar bintang, bahwa kehidupan juga ada di tempat lain, cuma keterbatasan manusia yang belum sampai ke pengenalan planet lain yang juga mempunyai kehidupan. Dan jika di alam semesta ini cuma bumi yang berpenghuni, maka betapa sepinya kita ............ ......... .....

.



Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger .yahoo.com



Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Your school could

win a $25K donation.

Y! Messenger

PC-to-PC calls

Call your friends

worldwide - free!

Find helpful tips

for Moderators

on the Yahoo!

Groups team blog.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Training PROFESSIONAL MARKETING EXECUTIVE (for the new staff)

   

Foto Training Prof. Marketing Executive (for the new staff), 9 Mei 2007              

 

C&G Training Network mengundang karyawan perusahaan

Bapak/Ibu/Sdr untuk mengikuti TRAINING:

Professional Marketing Executive (for the new staff)

 

pada hari: Jumat, 14 Maret 2008

pukul: 08.45 - 17.00

di C&G Training Network

Graha Mustika Ratu lt. 6

Jl. Jend. Gatot Soebroto Kav. 74-75

Jakarta Selatan 12870

 

Investasi: Rp 850.000/orang/program,

termasuk handout materi, sertifikat, 2x coffee break, lunch.

Diskon 15 % untuk pemegang member card C&G Training Network

Diskon 10 % untuk pendaftaran seminggu sebelum training, ATAU

Buy 2 get 1 free (cukup bayar Rp1.700.000 untuk pendaftaran 3 orang

dari satu perusahaan untuk program yang sama).

 

Sebagai ujung tombak pemasaran, para marketing executive dituntut untuk

menguasai keterampilan menyeluruh, mulai dari penyusunan rencana pemasaran,

pelaksanaan hingga evaluasinya. Padahal, kadangkala armada pemasaran perusahaan

tidak memiliki latar belakang pendidikan pemasaran. Untuk mengirim  mereka ke

pendidikan formal, memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Jika hal ini  

yang Anda butuhkan, training ini dapat menjadi pilihan yang tepat untuk memberi

keterampilan praktis sebagai marketing executive yang professional.

 

Materi bahasan:

1.                              Prinsip dasar pemasaran

2.                              Marketing plan, marketing strategy

3.                              Segmentation, Targeting, Positioning

4.                              Perilaku konsumen, riset pemasaran

5.                              Marketing mix: Product, Price, Place, Promotion

6.                              Basic salesmanship; prospecting, presentation skills, negotiations skills, closing the sale.

7.                              Branding, packaging, launching produk/jasa.

8.                              Memantapkan pangsa pasar, mearih loyal customer

 

Metode training: Pembahasan konsep, quiz, diskusi kasus, role play, game, latihan.

 

Target peserta: Staff hingga asisten manager pemasaran yang ingin memperdalam

pengertian mengenai pemasaran.

 

Trainer:

Ir. Prima Haris, MBA, principal C&G Training Network. Alumnus ITB dan
Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya ini berpengalaman luas Vinoti

Group, hingga menjadi corporate business development general manager

yang membawahi human resource division. Jabatan terakhirnya adalah

sebagai direktur PT Laminatech Kreasi Sarana, sebuah perusahaan

manufaktur yang membawahi ratusan pekerja. Saat ini beliau aktif melatih

dan mendidik karyawan, khususnya dalam bidang HR Management. Beliau

rutin mengikuti perkembangan dunia usaha dan industri, mulai dari seminar,

pelatihan hingga studi banding, baik di dalam maupun di luar negeri. Wawasan

dan pengalamannya yang luas di hampir semua bidang, mulai dari pemasaran,

keuangan, produksi, sumber daya manusia, hingga corporate strategic

membuatnya mampu menjadi pembicara profesional di berbagai kesempatan

 

Training "Professional Marketing Executive (for the new staff)"

telah diikuti oleh 49 orang dari 21 perusahaan, yaitu:

PT Asuransi Central Asia, PT Asuransi Sinar Mas, PT Cicero Indonesia,

PT Demacitra Internusa, PT Grasia Uniusarana, Hotel Santika,

PT Indocement Tunggal Prakarsa, PT Inti Karya Persada Tehnik,

PT Noname Komunikasi Visual, PT Ohji Pacific Rubber, PT Parit Padang,

PT Surya Besindo Sakti, PT Metropolitan Kentjana, PT Sistelindo Mitralintas,

PT BNI Life Insurance, Buana Alkes, PT Catur Elang Perkasa,

PT Indika Telemedia Mobile, PT Kurnia Mustika Indah Lestari,

PT Petromat Agrotech, Sumber Accesories.

 

Berikut komentar dari beberapa peserta:

1.       Menambah wawasan untuk sales dan marketing (Gustina Irawati,

    PT. Indika Telemedia Mobile)

2.       Lebih jelas tentang marketing secara kompleks/jelas keseluruhan

    (Ade Nasarudin S., Buana Alkes)

3.       Saya lebih mengerti dunia marketing (Berli Yasmon, PT. Petromat Agrotech)

4.       Menambah wawasan baru dan memperkaya pengetahuan tentang marketing

    (Sayfullah, Buana Alkes)

5.       Bahasanya jelas dan bisa dimengerti (Isa Prihandoko, PT. Catur Elang Perkasa)

6.       Trainer menguasai bidangnya (Bayu Wisudani, PT. BNI Life Insurance)

7.       Dapat dimengerti/mudah dipahami (Runny S., PT. Petromat Agrotech)

8.       Bagus, karena cukup interaktif dan memacu kreatifitas (Robertus Nugroho Ariyadi,

    PT. Kurnia Mustika Indah Lestari)

9.       Menuangkan konsep berikut contoh konkret di perusahaan masing-masing (Lucia Paat,

    PT. Indika Telemedia)

10.   Menambah pengetahuan tentang marketing (Sri Budi Rahayu, PT. Petromat Agrotech)

           

Informasi & Pendaftaran:

C&G Training Network

Graha Mustika Ratu Lt. 6

Jl. Jend. Gatot Soebroto Kav. 74-75

Jakarta Selatan 12870

Tel: (021) 8298802, 8298803

Fax: (021) 8298880

E-mail: cg@cgtrainingnetwork.com

Website: www.cgtrainingnetwork.com

Blog: www.cgtraining.blogspot.com

-------------------------------------

Training lain di bulan Maret 2008 di Jakarta:

10 Maret: Managing Teamwork and Collaboration

11 Maret: Corporate Social Responsibility

12-13 Maret: Remuneration Management

14 Maret: Professional Marketing Executive (for the new staff)

17 Maret: Effective Leadership

18 Maret: Effective Handling Complaint Technique

24 Maret: Vendor Evaluation Technique

25 Maret: Professional Secretary

26 Maret: Filing Management

27 Maret: Professional Receptionist & Operator

28 Maret: Manajemen Pergudangan

31 Maret: General Affair Management


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.8/1288 - Release Date: 2/19/2008 8:47 PM


Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.6/1282 - Release Date: 2/15/2008 7:08 PM

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Find great recruits

for your company.

Y! Messenger

Instant hello

Chat in real-time

with your friends.

Cat Groups

on Yahoo! Groups

Share pictures &

stories about cats.

.

__,_._,___