Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Kumpulan ajang berdiskusi bagi siapa saja yang berminat mendalami psikologi. Mailing list ini dibuka sebagai upaya untuk mentransformasi pemahaman psikologi dari sifatnya selama ini yang tekstual menuju ke sifat yang kontekstual. Anda tidak harus berasal dari kalangan disiplin ilmu psikologi untuk bergabung sebagai member dalam mailing list ini. Mailing List ini dikelola oleh KOMUNITAS VIRTUAL PSIKOLOGI
Ho oh tuh... Michelangelo bangun dari kubur... bagus tuh buat judul sinetron Indonesia wkwkwkwk.
as as <as2004as_as@
Misalnya aja pertanyaanmu itu.
Apa seni itu telah mati ?
Hihihi
Michelangelo bakal terbahak terkekeh ampe keluar airmatanya.
abusurd mufakhir <abusurd_13@yahoo.com> wrote:ya, betul... saya tidak punya konsep... tak bisa saya buat konsep...----- Original Message ----
From: as as <as2004as_as@yahoo.com>
To: psikologi_transformatif@yahoogroups .com
Sent: Wednesday, November 14, 2007 10:37:41 PM
Subject: Re: [psikologi_transformatif] Pada Sebuah Asumsi
kok seperti gak punya konsep, sih, to, bu ? responsmu itu, loh
selain itu
nulis kok tidak terstruktur dengan baik, sih, bu
di semua tulisanmu itu
di semua milis yang kau ikuti, bu
abusurd mufakhir <abusurd_13@yahoo. com> wrote:Bebaskan!!! hehehe... ini juga asumsi...----- Original Message ----
From: as as <as2004as_as@ yahoo.com>
To: psikologi_transform atif@yahoogroups .com
Sent: Wednesday, November 14, 2007 10:28:42 PM
Subject: Re: [psikologi_transfor matif] Pada Sebuah Asumsi
ini definisi postulat :
A basic assumption that is accepted without proof
Bagaimana kalau nulis tulisan itu, yang wajar aja, bu, seperti orang lain nulis.
Maksudnya, wah, dibuat mbulet, mungkin dimaksudkan agar keren, tapi,
hasilnya lucu banget, bu.
Gak enak dibacanya.
Sok nyeni ?
Hihihi
abusurd mufakhir <abusurd_13@yahoo. com> wrote:jadi mirip postulat, hihihi, ini juga asumsi... maaf...----- Original Message ----
From: as as <as2004as_as@ yahoo.com>
To: psikologi_transform atif@yahoogroups .com
Sent: Wednesday, November 14, 2007 9:51:04 PM
Subject: Re: [psikologi_transfor matif] Pada Sebuah Asumsi
Mas Yoga,
Hihihi
kalau belum faham maksud asumsi, ya gitu itu, Mas.
Asumsi adalah :
a hypothesis that is taken for granted
nah
taken for granted
Yoga Prio <yogaprio@yahoo. com> wrote:Asumsi. Samakah asumsi dengan "pengalaman secara subjektif"? Apakah sesuatu yang subjekti dapat dianggap "benar" atau "sesuai" atau bahkan layak minimum untuk "dipertimbangkan" ? Dapatkah asumsi secara saat itu juga berisikan hal yang objektif? Jika dan hanya jika asumsi hanya berkaitan dengan sesuatu yang subjektif, bukankah asumsi sebaiknya ditinggalkan? :D. Objectivity is the real thing, so get objective... :D salam
abusurd mufakhir <abusurd_13@yahoo. com> wrote:Pada Sebuah Asumsi: untuk sebuah asumsiPada Sebuah Asumsi, Seni Terletak di Materi(al).Seni pada perkembangan yang bisa saya ikuti, artinya saya mengerti, tentu saja dengan mengukur suatu karya (karya itu sendiri atau asumsinya), sepertinya telah dijejali sekian banyak asumsi-asumsi, yang memperkarakan medium representasinya sendiri. Ketika saya memandang seni sebagai sebuah kemauan yang tak disadari, ketika saya sadar saya telah berasumsi, ketidaksadaran saya mati. Lalu ukuran apa yang saya pakai, entah, yang pasti sangat subjektif. Sebelum diteruskan, saya hanya ingin katakan subjektif bukan berarti tanpa dasar. Hanya sebuah keberanian. Tapi juga bukan untuk menghadapkan diri secara bertentangan dengan logika formal. Logika formal yang mana? Yang mana saja yang kamu anggap formal, walau belum tentu berkesesuaian dengan apa yang saya maksudkan. Jadi, bebaskan, lalu mari kita teruskan.Tidak semua asumsi berdampak. Tapi saya memfokuskannya hanya pada asumsi yang berdampak. Buat apa saya menulis sesuatu yang tidak berdampak? Bukan itu pertanyaannya, tapi seperti apa dampaknya, bagaimana dampak itu dihasilkan, dari proses seperti apa?Perdebatan, dimana seharusnya lukisan di mediakan, kan vas, tembok, kaos, monitor komputer, atau media lainnya. Selesai. Semuanya boleh. Tidak ada seharusnya. Walau kemudian istilah gambar di anggap lebih relevan jika di luar kan vas. Keterikatan dengan kan vas yang semakin lemah membuat para seniman lebih bebas mengungkapkan segala gagasannya lewat semua media yang mungkin. Di saat kematian seniman sebagai pembentuk maksud, seni justru kian menjadi pernyataan pribadi. Sebuah ironikah? Seolah ironi, mungkin itu jawaban saya.Terjadinya pergeseran dari representasi 'logika formal' (saya tidak suka menyebutnya objektif) menuju gagasan dan ungkapan pribadi serta cara dan sarana yang kian sesukanya, telah melahirkan lebih banyak lagi bentuk karya seni, batasannya menjadi semakin kendur, antara mana yang karya seni dan bukan. Seni visual adalah contohnya, segala kian bisa di jadikan materi, apa saja bisa dijadikan media, gas sekalipun. Sehingga identitas, karakter, struktur khas seni, dan apa artinya seni juga seniman menjadi sebuah seni. Alias gak jelas. Apa yang membuatnya menjadi demikian, bukan hanya sekedar materi dan media, tapi asumsi. Saya tidak ingin menyimpulkannya sekarang dengan mengatakan bahwa asumsi sendiri terkadang adalah sebuah seni. Dematerialisasi seni, apakah iya sebuah bentuk dematerialisasi, bukankah seni sendiri pada awal dan dasarnya berasal dari inspirasi, ide, pikiran, dan semua yang bersifat unmateriil?Kamu Pasti Bilang, Paradok (ini adalah sub judul selanjutnya)Asumsi yang meletakkan seni sebagai material, ikut serta mendematerialisasi seni itu sendiri. Paradok Inheren. Bagaimana itu terjadi?Munculnya paradok: di satu pihak segala teori dan sejarah seni dicurigai dan didekonstruksi, di satu pihak alat untuk mencurigai dan mendekonstruksi itu adalah teori. Lalu hasil dari kecurigaan dan dekonstruksi itu sendiri menjadi teori. Kemudian saya simpulkan, teori itu penting. Teori itu penting, walau tidak mempengaruhi kualitas suatu karya secara objektif, tapi teori itu tadi menjadi landasan pertanggungjawaban atas karya-karya yang bentuknya tidak jelas atau bahkan 'immaterial'. Sehingga teori tadi menegaskan ke tidakjelasan karya itu sebagai sesuatu yang jelas. Disini saya tulis teori, padahal sebelumnya asumsi. Karena banyak seniman-seniman yang menampakkan dirinya sebagai seorang yang cukup teoritis. Padahal apa yang dia katakan bisa jadi hanya sekedar asumsi pribadi. Konsep dan aliran dulu dianggap tidak relevan, maka dibangunlah ke-relevanan dalam ketidak jelasan kaitan, atau dikait-kaitin. Lalu ketidak jelasan kaitan itu, mendapat banyak dukungan dan kemudian menjadi amat konseptual. Gene Youngblood menyebutnya dengan istilah eksperimental, tanpa 'isme', sebagai sebutan tendensi diatas. "All art is experimental, or it isn't art", katanya.Apa konsekuensi dari dunia seni yang kini serba tidak jelas, apa kaitannya dengan situasi problematik sosio-kultural lebih luas? Lalu apa sebenarnya peranan seni dalam situasi serba modern seperti ini?Apakah Seni Telah Mati?Apakah seni telah mati? Apakah pertanyaan itu terlalu hiperbolik?Perkataan tentang berakhirnya seni, rasanya tidak pernah bermakna secara harfiah tentang hilangnya seni sama sekali, melainkan semacam asumsi bahwa hakikat dan makna seni bagi kehidupan pada umumnya perlu dipikirkan ulang, melihat kondisi sosio-kultural seperti hari ini. Asumsi tadi membawa kita pada kesadaran filosofis, sekaligus dematerialisasi seni. Asumsi tentang 'Seni' (dengan S capital) sebagai filsafat. Tapi di lain pihak ada yang berasumsi, bahwa untuk memikirkan ulang mengenai hakikat dan makna seni bagi kehidupan pada umumnya, kita justru harus melepaskan seni sama sekali dari segala penekanan filosofis. Biarkan seni menjadi apa saja, bentuknya pluralistik, praktiknya pragmatik, dan ruangannya multikultural.Kemudian, ada ke tidak-jelasan antara seni dan representasi, bahkan sejarah serta teori seni sekalipun merupakan bagian dari 'teori representasi' . Sehingga hampir segalanya ditinjau dari aspek produksi dan resepsi psikologis pasar. Bila dalam kerangka realisme, hilangnya kenya taan real berarti sekaligus hilangnya konsep representasi, maka dalam kerangka poststrukturalisme, kenya taan real hilang karena pada dasarnya segala hal hanyalah siasat representasi. Dalam bahasa Marxis, seni tenggelam dalam dominasi praksis "imaji," terperangkap jaringan raksasa komoditi dari ind ustri tontonan, dimana seni kehilangan jati dirinya.Lalu apa ukurannya sebuah karya seni di anggap tidak jelas atau jelas. Justru karena semua pembahasan di atas, ukuran menjadi tidak penting, paradoksial adalah ukuran yang tidak penting itu. Apabila paradok, itulah karya seni yang jelas dimana didalamnya terkandung ketidakjelasan, atau sebaliknya, apabila paradok, itulah karya seni yang tidak jelas dimana didalamnya mengandung kejelasan. Dampaknya adalah, seni semakin diwarnai ketidakpedulian. Seni bukan lagi objek kontemplasi, melainkan sekedar siasat komunikasi dan presentasi diri yang unik, atau presentasi produk yang unik, seni adalah iklan; atau baiklah, seni adalah sebuah proses yang senantiasa berjalan. Dan satu lagi, siapapun bisa menjadi seniman, asal bisa memproduksi asumsi yang unik dan selektif tentang diri dan kenya taan, mengubah objek menjadi karya seni, menggunakan komputer, kamera foto, video, multimedia dlsbnya. Lalu apa uk uran kesuksesannya? Distribusi! Itu uk uran kesuksesannya! Selama dia bisa menyebarkan hasil karyanya seluas mungkin, atau lebih luas dari oran g lain, maka bisa dikatakan dia telah atau lebih sukses. Karena ukuran kesuksesannya seperti demikian, maka orang berlomba-lomba menciptakan karya seni secepat mungkin, seunik mungkin, tidak reflektif bukan masalah, lalu sebarkan seluas-luasnya.nyambung
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
Get easy, one-click access to your favorites. Make Yahoo! your homepage.
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
Be a better sports nut! Let your teams follow you with Yahoo Mobile. Try it now.
Vincent, mau menyatu atau terpisah, itu pilihan posisi yang sepenuhnya terletak
di tangan peneliti, bukan didikte oleh metodenya. Pernyataanmu di bawah ini
kian menunjukkan bahwa pemahamanmu tentang ilmu sosial sudah sangat ketinggalan
zaman. Makanya, itulah pentingnya belajar. Biar pengetahuannya tidak mandeg.
Kalo Anda liat, apakah para aktivis berlatar belakang ilmu sosial yang getol
bergerak melawan ketidakadilan, pelanggaran HAM, penindasan, peminggiran, dan
kesewenang-wenangan kekuasaan itu terpisah antara teori dan praksis?
Bahkan,istilah "praksis" pun mula-mula dipakai para ilmuwan sosial yang
berwawasan Marxis, untuk menekankan pentingnya realitas di luar sana daripada
teori.
Sori, Vincent, tapi "teori"-mu tentang evolusi ilmu dari kedokteran-teknik-
sosial itu tak bisa dibuktikan keabsahannya. Kau bilang, ilmu teknik menyatu
antara teori dan praktik? He he he, dari mana lagi nemu pandangan kaya begini?
Kalo betul begitu halnya, Vincent, tak akan ada dampak buruk teknologi terhadap
lingkungan, tatanan kehidupan sosial, dan pendidikan. Lalu, siapa menurutmu
yang selalu rajin mengingatkan orang tentang dampak-dampak negatif itu? Para
insinyurkah? Kalo saya amati sejauh ini di pelbagai media massa, kebanyakan
orang dari latar belakang ilmu sosial tuh?
Kalapun ada sejenis persatuan antara teori dan praktik dalam ilmu teknik, itu
adalah keharusan untuk betul-betul menerapkan apa yang sudah digambar dan
dihitung secara matematis di atas kertas ke dalam struktur yang dibangunnya.
Bagaimana dampak kehadiran struktur itu pada hidup manusia? Who cares? Gitu
kan? Dan inikah yang kamu unggul-unggulkan itu? Wah, sedihnya hatiku...
manneke
Quoting vincentliong <vincentliong@
> http://groups.
> --- In psikologi_transform
>
> Ini kan cara pikir yang mencampur-adukkan antara metode penelitian
> ilmiah dengan integritas pribadi penggunanya. Kalo penggunanya gak
> betul jangan kambing hitamkan alatnya. Sama aja dengan Kompatiologi
> kan? Kalo kompatiolognya bejat, Vincent kan juga gak rela
> Kompatiologinya yang diobok-obok? Yang penting, Vincent, belajarlah
> untuk berpikir tanpa bias. Pemikiran Anda di bawah ini kan dipengaruhi
> oleh pengalaman negatif Anda dengan sekolahan. Maka, bunyinya ya jadi
> kaya gini. Tapi, tidakkah dengan demikian Anda bisa lihat sendiri pada
> diri Anda bagaimana "kepentingan" bisa menyelusup masuk ke logika
> pemikiran? Nah, yang beginianlah yang mesti dicegah, bukan metodenya
> yang disalahin.
>
> manneke
>
>
>
> Vincent Liong answer:
>
> Sdr Manneke, ini tidak ada hubungannya dengan kompatiologi atau
> kekecewaan saya pada dunia pendidikan resmi.
>
> Pointnya adalah:
> Metodologi penelitian ilmiah mengalami perubahan dari ilmu tekhnik ke
> ilmu kedokteran lalu ke ilmu sosial. Pada ilmu tekhnik posisi praktisi
> dan teoritisi lebih menyatu, lalu bergerak ke kedokteran hingga ke
> ilmu sosial posisi praktisi dan teoritisi semakin terpisah.
>
>
> Silahkan baca email di bawah ini:
>
> ==========
> Subject: Re: Yuk kita rame2 menghancurkan Vincent Liong (Asumsi =
> Sintesis)
> From: Vincent Liong
> DDT: Wed Oct 24, 2007 3:05 am
> e-link: http://tech.
>
>
> Note: Email saya kali ini ditujukan untuk melanjutkan pembahasan
> Ilmiah sesuai pesanan anda sekaligus menjawab email B. Sudjanto
> sebagai sebuah contoh kasus yang berhubungan dengan hal tsb. Email ini
> juga diharapkan memberikan reasoning atas segala usaha "Kill and
> Destroy Kim Il Sen" yang berlangsung di maillist
> psikologi_transform
> radikal, fanatik, bahkan rela berjibaku sampai habis-habisan tanpa
> reasoning yang jelas.
>
>
> Sebelum membahas secara lebih mendetail dengan contoh kasus mengenai
> masalah "Ilmiah sesuai pesanan anda" pertama-tama saya membahas dulu
> secara urut proses metodologi penelitian ilmiah yang sekaligus empiris
> (kwantitative) yang perlahan-lahan contoh praktikalnya bergerak ke
> semakin subjective / costumize (kwalitative)
> terhadap ketepatan dan kejernihan kerja metodologi penelitian ilmiah
> di setiap jenis penerapan metodologi penelitian.
>
> Metodologi Penelitian Ilmiah pada awalnya lahir dari dunia ilmu
> tekhnik yang memiliki object penderita berupa mesin atau alat yang
> bersifat benda mati. Sifat dari benda mati adalah keterbatasan pilihan
> sebab-akibat atau bisa dikatakan tidak memiliki kehendak bebas bila
> dibandingkan dengan kegiatan pemerosesan informasi (berpikir) pada
> manusia dan hewan (sebagai subject yang individual) sehingga bersifat
> sangat empiris.
>
> Selanjutnya metodologi penelitian ilmiah juga masih bisa dilebarkan
> lagi ke dunia kedokteran dimana kerja hubungan sebab-akibat pada tubuh
> fisik manusia, hewan dan tumbuhan bersifat tekhnis dan mekanis.
> Keterbatasan pilihan sebab-akibat atau bisa dikatakan tidak memiliki
> kehendak bebas bila dibandingkan dengan kegiatan pemerosesan informasi
> (berpikir) pada manusia dan hewan (sebagai subject yang individual)
> sehingga bersifat cukup empiris, tetapi tidak se-empiris pada
> penerapan ilmiah di benda mati sebab pada manusia, hewan dan tumbuhan
> masih terjadi evolusi dan adaptasi secara non-sadar.
>
> Selanjutnya metodologi penelitian diterapkan kembali ke bidang yang
> jauh lebih subjective lagi yaitu pemerosesan infromasi atau kegiatan
> berpikir manusia dan hewan. Dalam penerapan di kegiatan berpikir
> manusia dan hewan khususnya ilmupengetahuan sosial masalah timbul
> karena pada pemikiran manusia dan hewan kegiatan evolusi adaptasi
> secara sadar terjadi pada kegiatan berpikir manusia sehingga ada
> kehendak bebas yang sifatnya sangat individual; ada asumsi,
> kepentingan, sudutpandang, keyakinan, dlsb yang membuat hubungan
> sebab-akibat tidak terbatasi bersifat tekhnis saja; Tetapi menjadi
> lebih tidak empiris karena adanya kondisi terhipnotis oleh argumen,
> teori, asumsi, kepentingan, sudutpandang. Metodologi penelitian ilmiah
> berubah fungsi sebagai alat bantu yang dapat bekerja bersamaan dengan
> metodologi penelitian empiris menjadi sekedar alat untuk menghipnotis
> diri sendiri lebih dalam pada asumsi, kepentingan, sudutpandang,
> keyakinan, dlsb yang sudah ada sebelum bahkan sebelum kegiatan
> penelitian direncanakan.
>
>
> Oleh karena itu radikalisme, fanatisme, fundamentalisme yang tidak
> memiliki hubungan sebab-akibat yang jelas runtutan-nya datang dari
> kaum berpendidikan ilmiah sosial bukan dari oknum-oknum tidak
> berpendidikan. Apapun input yang disugestikan secara sadar tidak sadar
> menjadi ilmiah. Tidak ada bedanya lagi antara ilmu sosial ilmiah
> dengan agama, metafisika dan spiritual yang murni bersifat keyakinan
> tanpa perlu ada bukti kongkrit.
>
> Ketika seseorang mengatakan sesuatu adalah baik atau buruk maka hal
> itu tidak perlu terjadi dan tidak perlu ada bukti di masa lalu masa
> kini dan masa yang akan datang, yang penting pengkondisian saat
> menghipnotisnya cukup dramatis; misalnya Leonardo Rimba mengatakan hal
> tsb dengan membawa hal-hal yang bersifat ketuhanan, spiritual yang
> tinggi, dlsb maka sudah masuk dalam logika ilmiah.
>
> Jadi ada dua hal yang penting di sini dalam melakukan penghipnotisan
> atas suatu keyakinan adalah sbb:
> *Yang berinisiatif pertama kali menanamkan asumsi secara dramatis akan
> menjadi keyakinan bahkan akan dikuatkan dengan dianggap ilmiah setelah
> si individu diajak berpetualang dengan pola jalan cerita logika sesuai
> penghipnotis di ranah pikiran tanpa perlu bukti fisikal / di dunia
> nyata, atau bukti palsu bisa dibuat belakangan sesuai kebutuhan saja.
> * Yang paling dramatis, paling heboh, paling tinggi, paling benar
> bahasanya seperti misalnya dengan membawa hal-hal ketuhanan, intuisi,
> dlsb akan dianggap secara ilmiah benar adanya.
>
> "Asumsi = Sintesis" karena ada jalan cerita yang jelas dari asumsi
> sampai ke sintesis yang mampu membuat pikiran anda meyakini tanpa
> perlu ada bukti kongkrit di dunia nyata atas hal tsb, bahkan bisa
> tampak seperti jalan cerita yang sangat ilmiah.
>
> Nah pada kasus B.Sudjanto, terjadi loncatan yang tidak disadari dari
> penelitian ilmiah pada latarbelakang pendidikan tekhnologi industri
> yang berkaitan dengan mesin yang adalah benda mati, lalu diasosiasikan
> secara linear ke penelitian ilmiah ala ilmupengetahuan sosial. Ini
> adalah hal umum yang terjadi pada jaman ini dimana radikalisme sesaat
> tanpa disadari bisa dipancing dengan mudah untuk timbul di kalangan
> orang berpendidikan entah itu ilmu yang bersifat tekhnis (berhubungan
> dengan benda mati), ilmu kedokteran dan ilmu social, tetapi sulit
> dilakukan kepada kalangan pedagang dan orang-orang yang berada di
> lingkungan praktikal sehari-hari tanpa embel-embel kasta keyakinan
> jabatan, ijasah, ilmiah, dlsb.
>
> Efek sampingnya misalnya dalam kasus B.Sudjanto adalah timbul suatu
> radikalisme, fundamentalisme dan fanatisme untuk melihat pribadi
> seorang Vincent Liong dari sisi yang diperkenalkan oleh Leonardo Rimba
> saja. Jadi seperti seseorang yang sedang menyukai Honda Jazz Biru akan
> terbawa untuk melihat begitu banyak Honda Jazz Biru di jalan dibanding
> mobil yang lain yang tidak terlalu diperhatikan. Sugesti dengan model
> dramatisasi membuat orang menjadi berkacamata kuda atau bahkan buta.
>
> Vincent Liong sebagai praktisi kompatiologi mengalami kesulitan untuk
> membela diri, karena bila Vincent Liong membela diri dengan cara yang
> sama dengan Leonardo Rimba, yaitu dengan mendramatisasi cerita yang
> tidak kalah heboh dan ideal-nya misalnya dengan menjanjikan hal-hal
> yang amat ideal atau bersifat keTuhanan, maka Vincent Liong melanggar
> komitment dasar kompatiologi yaitu tidak menjanjikan sesuatu yang
> bersifat ketuhanan, serba tinggi, serba ideal, dlsb. Pengajar
> kompatiologi selalu berusaha menjawab pertanyaan dengan bersifat
> tekhnis karena hasil dari sesuatu yang sifatnya ilmu sosial sangat
> tergantung dari pilihan bebas pelaku atau pengguna-nya sendiri. Bagi
> Vincent Liong ini masalah moral kejujuran sebagai ilmuan saja.
>
>
> "Pengalaman sehari-hari menghasilkan peta hubungan sebab-akibat,
> Peta hubungan sebab-akibat dikonsepkan polanya maka menghasilkan teori,
> Teori di-tarikat-kan atau dilakonkan,
> Menghasilkan perjalanan menuju kebenaran mutlak (Tuhan)."
>
> Perjalanan spiritual yang dimulai dari teori tentang kebenaran yang
> sangat amat ideal beresiko terjadinya kepecahan mental pada si pelaku,
> karena tidak adanya relasi antara pengalaman pribadi dengan teori yang
> dianggap benar. Pada banyak kasus menghasilkan dua sisi sifat yang
> amat berbeda antara yang diucapkan dengan yang dilakonkan.
> Keterpecahan ini membuat murid tidak akan pernah mencapai gurunya,
> karena teori yang ditanamkan sekedar sugesti atau hipnotis pada
> pikiran saja atas titik ekstrim yang satu terhadap titik ekstrim yang
> berlawanan yang dianggap ideal tetapi tidak akan pernah tercapai. Dari
> situ tercipta ketergantungan yang terus-menerus kepada guru atas dasar
> perasaan tidak aman. Maka dari itu antara satu aliran ilmu jenis ini
> dengan aliran ilmu jenis ini yang lain saling bertengkar untuk berebut
> massa yang bisa dibodohi untuk percaya dan terkunci atas dasar
> perasaan tidak aman tsb.
>
> Perjalanan spiritual yang dimulai dari kegiatan menghargai pengalaman
> sehari-hari, dilanjutkan secara mandiri dan independent memetakan
> hubungan sebab akibatnya, tanpa perlu diarahkan, diceramahi teorinya
> akan menemukan teori yang cocok sendiri. Teori ini begitu jelas
> hubungannya dengan diri sendiri hingga tanpa perlu ada yang membimbing
> dan mengajari akan terarahkan di jalurnya hingga menemukan kebenaran
> mutlak yang cocok dengan dirinya sendiri, sehingga tidak ada lagi
> ketergantungan akan peran sang guru. Tugas seorang guru hanya
> mempersiapkan dasarnya, urusan masing-masing individu untuk menjalani
> perjalanannya sendiri untuk mencapai kesempurnaan yang cocok dengan
> dirinya sendiri. Maka dari itu kompatiologi tidak pernah mengarahkan
> orang ke kebenaran yang bukanlah hasil temuannya sendiri, biarlah
> mereka membuat teori dan menjalaninya hingga puas menemukannya,
> kompatiologi hanya mempersiapkan dasar yaitu kemampuan pengukuran
> subjective untuk membaca data.
>
>
> Nah sdr B.Sudjanto silahkan diperhatikan kembali nasehat sahabat anda
> Margaret Widyanti yang telah beberapa kali berpesan pada anda untuk
> tidak terbawa oleh orang-orang yang berkepentingan sehingga
> berpura-pura di depan anda dengan membuat dramatisasi jarak guru murid
> yang terlalu jelas, menjadi orang yang terlalu ideal dibanding diri
> anda yang terlalu kurang ideal dalam konsep non-egaliter mereka.
> Memangnya ada manusia dewa hidup di dunia ini?!
>
> Semoga beruntung
>
>
> Ttd,
> Vincent Liong
> Jakarta, Rabu, 24 Oktober 2007
>
>
>
>
>
> Email sebelumnya..
> e-link:
> http://groups.
> Benediktus Sudjanto wrote:
>
> Vincent,
>
> Saya ngajak kamu dan mas Leo itu sebagai pribadi, tidak ada
> hubungannya dengan pekerjaan saya.
>
> Soal uang dalam perjalanan kita tempo hari juga bukan masalah bagi
> saya, kan saya yang menanggung hampir semua biaya termasuk kamu naik
> kuda di Tawangmangu.
>
> Saya tak bingung dan tak perlu bertanya soal kompatiologi, kan sebagai
> pengamat saya juga mengikuti sambil lalu. Kan kamu yang menerangkan
> sendiri dan minta bantuan mas Leo menerangkan. Kamu minta masukan,
> yang kamu Kamu dan mas Leo malah berkomentar kesaya, kalau kamu bagian
> urusan instinct (bawah) dan mas Leo intuition (atas) dan mendaulat
> saya di bagian "tengah-2" bagian balancing.
>
> Saya kok dikatakan "membentak-bentak seminggu penuh", apa itu benar
> dalam kenyataan? Saya memang pernah dengan keras mengatakan ke kamu,
> kalau kamu itu menjalankan kejahatan karena menjual sesuatu yang tak
> jelas manfaatnya dan mendapatkan uang. Kamu promosi sesuatu ke saya
> yang saya tahu tak ada manfaatnya, secara terus menerus, menerangkan
> secara berulang-ulang tanpa diminta, menafikan masukan orang dan
> merasa terpojok sendiri walau tak ada yang memojokkan. Kalau saya
> sampai marah itu berarti saya simpati ke kamu, karena merasa bahwa
> kamu masih muda, kekeliruan yang sudah dialami, bisa diperbaiki dengan
> rendah hati, eh malah sekarang lebih sombong dari yang mampu saya
> bayangkan untuk seorang manusia. Kalau tak perduli, kan kamu bisa saya
> usir, atau saya diam saja, meninggalkan pembicaraan yang
> "percumtakbergun" alias percuma tak berguna. Paling tidak kamu itu
> harusnya memiliki sopan santu manusia biasa dalam berkomunikasi, saya
> rasa sudah cukup. Sebagai penyandang sendiri "penemu" kompatiologi,
> yang ada kata "empati" nya, saya hanya bisa bilang "wah-wah kok begitu".
> Bayangkan, orang yang kamu dekon dan membayar, kamu katakan beberapa
> kali lewat mulutmu sendiri bahwa kamu ingin menjadikan mereka "seperti
> blackie, anjing gua di rumah". Paling tidak kamu berbelas kasihlah
> dengan mereka yang mau menjadi kelinci/anjing cobaanmu dengan membayar
> uang dan waktu dengan segala keluguan, kesopanan, pengharapan,
> keperluan mereka yang entah apa jenis persisnya. Entah, harus
> bagaimana lagi saya mesti berkomentar, apa ya ada gunanya secara
> positif kalau saya berkomentar lagi, kalau waktu lebih seminggu kita
> bersama kamu katakan bahwa saya membentak-bentak kamu?
> Setelah sharing berdua dengan saya di penghujung malam masuk pagi
> waktu di Solo, dengan kejujuranmu dan hampir tangismu dan empatiku
> kekamu serta rencana baikmu untuk dengan rendah hati memperbaiki untuk
> dirimu sendiri, lalu kamu menafsirkan bahwa aku hanya dituliskan
> sebagai yang membentak-bentakmu selama seminggu. So what gitu loh!
> Yah, bagiku tak apa-2, karena aku tak punya kepentingan apa-2
> denganmu, hanya empatiku bagi sesama yang kebetulan salah satunya kamu
> yang sempat lewat dalam sebagian waktu hidupku, dan kalau itu membuat
> kamu bahagia dengan gaya dan kata-2 mu, ya teruskan saja apa yang kamu
> anggap baik bagimu. Begitu saja ya, sudah cukup.
>
> B Sudjanto
>
>
>
>
>
> Email sebelumnya..
> http://groups.
> --- In vincentliong@
> <vincentliong@
>
> Mas Leo, inget ngak mas Leo saat elo ngajak gw ke Solo bersama
> B.Sudjanto yang direkturnya pabrik lensa Policore anak perusahaan
> Djarum di Karawang. Saat itu gw bilang kalau gw lagi tidak siap uang
> dan mas Leo aturkan agar dalam 5-6 jam kita dijemput di rumah gw, kata
> mas Leo tidak perlu bawa uang.
>
> Ketika awal mas Leo memperkenalkan ulang saya ke B. Sudjanto yang dulu
> juga murid kundalini saya dan pak Ngurah Ardika cuma sungkan karena
> bingung sama perkembangan penelitian saya yang terlalu cepat, maka
> nanya ke mas Leo.
>
> Mas Leo ngomong persis sama dengan kalimat-kalimat mas Leo di bawah
> ini. Ini yang membuat gw dibentak-bentak seminggu penuh oleh
> B.Sudjanto gara-gara kalau gw bilang ya maka mas Leo tekankan artinya
> tidak lalu kalau gw bilang tidak kata mas leo ya lama-lama gw bingung
> sendiri. Lalu mas Leo juga bilang tentang saya yang binatang banget.
>
> Saat itu belum sekalipun saya tegur mas Leo dengan halus maupun kasar
> dan kalau ditegur secara halus tambah jadi dan menambah penjelasan
> membingungkan semacam ini dengan dihubungkan dengan intuisi dan
> hal-hal keTuhanan dimana saya yang dikatakan jadi setannya.
>
> Mas Leo masih ingat tidak ?
> Tulisan di bawah ini hanya mengulang kalimat yang dulu khan ? Sama lho
> kalimat-kalimatnya, hanya dulu mas ngomong ini ke B. Sudjanto di depan
> saya, dan saat ini mas Leo ngomong ke maillist, hanya itu bedanya...
>
> Saat itu saya setress jadi kalau makan sampai beol-beol sebagai
> pelarian, karena saya tidak bisa kontrol. B. Sudjantomas Leo panasi
> bahwa Jin saya yang makan dan juga soal keburukan prilaku saya. Depan
> mata saya lho mas Leo, saat itu.
>
> Lalu siapa yang berani menemani mas Leo sekarang ? Serem atuh resiko
> dijadikan umpan ikan :) Saya seumur-umur tidak jadikan mas Leo umpan
> ikan lho, inget itu mas Leo.
>
> Ditemani itu mahal mas Leo... Ya jadi umpan buat mancing ikan ?!
>
>
> Ttd,
> Vincent Liong
> Jakarta, Senin 22 Oktober 2007
>
>
>
>
>
> Email sebelumnya..
> http://groups.
> --- In psikologi_transform
> <leonardo_rimba@
>
> --- In psikologi_transform
> <timbang.balance@
> > Karena Audifax dan Leonardo Rimba adalah mantan
> > pendukung Kompatiologi dan teman dari Vincent Liong
>
> Hmmm,... perlu saya LURUSKAN disini bahwa saya adalah seorang PRAKTISI
> KOMUNIKASI EMPATI. Komunikasi yang EMPATIK adalah SPESIALISASI saya. I
> am VERY MUCH EMPATHETIC, saya bisa langsung baca apa yang ada di diri
> rekan komunikasi saya.
>
> Kompatiologi seperti dipraktekkan oleh Vincent Liong adalah suatu
> PARODI dari Komunikasi yang empatik. SUATU PARODI. Suatu BANYOLAN,
> suatu LAWAKAN. Komunikasi yang dipraktekkan oleh Vincent Liong itu
> adalah KEBALIKAN DARI KOMUNIKASI YANG EMPATIK. Total kebalikannya ?
> Kok bisa ? Ya bisa saja, namanya kan banyolan. Lawakan. Parodi.
>
> Jadi, kalau anda memiliki PENGERTIAN tentang KOMUNIKASI YANG EMPATIK,
> anda akan otomatis mengerti tentang KOMPATIOLOGI. Kompatiologi itu
> adalah KEBALIKAN DARI KOMUNIKASI YANG EMPATIK walaupun sesumbar
> sebagai ILMU PEMECAH RAHASIA ALAM SEMESTA dalam komunikasi menggunakan
> empati. Hmmm hmmm hmmm.... Astagfirullah
> alazzim Astagfirullah alazzim (nyebut 100 x dianjurkan).
>
> Itu komentar saya. Saya _bukan_ pendukung Kompatiologi. Nama saya
> dicantumkan dalam IKLAN2 Kompatiologi _tanpa_ ijin saya. Saya biarkan
> saja. Kan saya ini BAIK HATI. Hmmm hmmm hmmm...
>
> Hasil dari Kompatiologi Vincent Liong itu apa ? Aduh, liat aja ndiri
> deh. Malu komentarinnya,
> bukain RAHASIA yang SEMUA ORANG SUDAH TAHU itu, ntar jadinya gak lucu
> lagi. Sedangkan, bukankah kelucuan itu yang selama ini dicari, hmmm
> hmmm hmmm...
>
> Kompatiologi kan cuma nama saja. Bisa dinamakan GULALOLOGI. Bisa
> dinamakan TIPATIPULOGI.
> BELAJAR bagaimana caranya berkomunikasi dengan empati. Tetapi caranya
> kan SERBA TERBALIK. Wong dia yang mao belajar kok nulisnya
> en ngomongnya DIA YANG MAO NGAJARIN ?
>
> Segalanya itu SERBA TERBALIK.
>
> Untuk mengerti Vincent Liong, SEGALANYA ITU HARUS DIBALIK. Kalau dia
> bilang dia TAHU RAHASIA ALAM SEMESTA, artinya itu KEBALIKANNYA.
>
> Kalau dia bilang dia "diinjak-injak"
>
> Kalo dia bilang dia punya "nurani", artinya ya kebalikannya.
>
> Kalo dia bilang dia itu "ilmiah", ya artinya kebalikannya.
>
> SEMUA SERBA KEBALIKAN.
>
> Untuk mengerti Vincent Liong, segala ucapan dia itu HARUS DIBALIK. Itu
> kunci dari THE PUZZLE.
>
> Vincent itu main TEKA-TEKI. Kunci pemecahannya cuma satu saja, DIBALIK
> SAJA. Kalau anda balik apa yang dituliskannya, maka ANDA AKAN MENGERTI
> APA YANG DIMAKSUDNYA.
>
> Itu saja komentar saya saat ini. Hmmm hmmm hmmm. Udah ya, jangan
> tanya2 lagi ya, TANYA LANGSUNG SAMA ORANGNYA AJA.
>
> Kalo dijawab, jawabannya DIBALIK AJA. That's THE REAL ANSWER.
>
> Leo
>
>
>
>
Amiiiiiin, Lulu. Engkau memang bijak tulen kok, bukan sok-sokan bijak. Aku
setuju banget dengan apa yang engkau katakan. Rupanya dekon ada manfaatnya juga
buatmu yah? He he he.
manneke
Quoting lulu <lu2_mm@yahoo.
> perbedaan apapun akan terasa indah tanpa adanya rasa membedakan..
> hal yang terpenting lagi adalah ketika menjadikan suatu perbedaan itu
> adalah sebagai satu kelebihan di antara kekurangan ...
> bukan sok bijak sih.. tapi kan sayang sekali hanya karena perbedaan kita
> gak bisa maju2 seperti negara yang lain ...
>
> salam hangat selalu
> /Lu2
>
>
> pradita@telus.
> Wahai, wahai, dengarkan sabda sang nabi pembawa kebenaran.
> Logikanya hebat,
> sayang penuh kedengkian, dan terlalu sibuk ngurus agama lain daripada
> menegakkan kebenaran agama sendiri. Betul-betul citra yang buruk buat syiah
> di
> Indonesia. Lupa kali dia bahwa di negeri ini dia tak pernah berhenti diincar
>
> oleh Islam yang anti-syiah, atau yang memandang syiah sebagai Islam sesat.
>
> Oh, nabi Hendrik, beri kami pencerahan. Bagi-bagilah wahyu Tuhan syiah-mu itu
>
> kepada kami umatmu. Juga sampaikan salam hormat kami pada Mahdi-mu yang mulia
>
> itu.
>
> manneke
>
> Quoting hendrik bakrie <henrik12syiah@
>
> > hahahah...hahahah.
> > ngaku..!!
> >
> > hahahahh...hahah.
> > lalu mengubah hukum taurat diantaranya monotheisme yg diubah menjadi
> > "trinitas"..
> datang
> > untuk mengubah hukum taurat"... terus yg aneh adalah tuhan manusia itu di
> > sunat seperti musa tetapi para pendukung ketuhanannya justru melarang
> > sunat....!! sama juga dengan poligami... jadi hasilnya
> negatif...??
> >
> >
> > kok pembunuhan dan penyiksaan terhadap tuhan dijadikan suci dan berkah
> > terbesar bagi umat manusia..???
> >
> > mungkin "kekurang ajaran" terhadap tuhan termasuk menghina dan
> mambayangkan
> > wajahnya pada saat masturbasi adalah sesuatu yg suci... bagaimana tidak,
> jika
> > penderitaan dan kematiannya itu sangat suci maka hasilnya adalah "kekurang
> > ajaran" pun adalah suci juga.... betul kagak...???.
> memasukkan
> > yudas, prajurit romawi, dan para pendeta yahudi yg menyebabkan kematian
> dan
> > penderitaan yesus kedalam surga sebab mereka yg menyebabkan penebusan dosa
> > itu terjadi.... haleluyah...
> >
> > pradita@telus.
> > Yo'i, non sisc, sekalian ngetes ini nabi palsu atau beneran. Kan
> > kalo kerjanya
> > bawa hawa negatif ke mana-mana, maka itu salah satu tanda nabi palsu?
> >
> > Ayo Bapak Nabi Hendrik, mohon petunjukmu buat Ani Munafich.
> >
> > manneke
> >
> > Quoting non_sisca <non_sisca@yahoo.
> >
> > >
> > > hush manneke, kalo ada yang ngaku sebagai nabi pembawa kebenaran,
> > > seharusnya kita positif aja, n merasa senang,
> > > sisc lagi minta bantuan hendrik yang baik sang pembawa kebenaran
> > > untuk membasuh luka ani munafich biar sembuh dan gak gelisah lagi
> > > seperti sekarang.
> > >
> > > mudah2an hendrik yang baik dan benar mau membantu, kami sangat
> > > mengharapkan bantuanmu hendrik
> > >
> > > mohon bantuannya
> > >
> > > makasih
> > >
> > >
> > > --- In psikologi_transform
> > > >
> > > > Wah! Ada nabi baru pembawa kebenaran. Baiklah Ndrik,aku
> > > > mikiiiiiiiiiiirrrrr
> > > > palsuuuuuuuuuu. Ha ha ha...ha ha ha...ha ha ha...ha ha ha...ha ha
> > > ha...
> > > > (ketularan sang nabi!).
> > > >
> > > > manneke
> > > >
> > > > Quoting hendrik bakrie <henrik12syiah@
> > > >
> > > > > hahahah.....
> > > selama ini yang
> > > > > saya katakan adalah kebenaran... sebab saya bertanya dan saya
> > > menjawab
> > > > > juga... atau mungkin bagi dia, saya adalah freud, atau
> > > reinkarnasi freud atau
> > > > > atau iblis dalam wujud manusia sepertti yg diajarkan gereja, atau
> > > seorang
> > > > > manusia yg mencintai dan mengajarkan kebenaran...
> > > > > hahahahha...
> > > kamu akan
> > > > > mengetahui aku....
> > > > >
> > > > > pradita@... wrote: Oooo, kalo Hendrik Bakrie yang nulis
> > > > > macem-macem tentang agama orang lain, itu
> > > > > bukan sara atau provokasi ya? Tapi, kalo yang nulis Andreas,
> > > langsung dicap
> > > > > sara?
> > > > >
> > > > > Apa Anda bermaksud mengatakan bahwa kalo ada orang Islam nulis
> > > negatif
> > > > > tentang
> > > > > agama lain, it's OK, tapi kalo ada orang non-Muslim nulis negatif
> > > tentang
> > > > > Islam, maka mesti diganyang?
> > > > >
> > > > > Selama ini Anda ke mana aja, Bang? Ngerumpi dulu deh sama si
> > > Hendrik sana.
> > > > >
> > > > > Ha ha ha ha...ha ha ha ha...ha ha ha ha...ha ha ha ha... (hendrik
> > > mode).
> > > > >
> > > > > manneke
> > > > >
> > > > > Quoting Dan Convels <dan_covel@.
> > > > >
> > > > > > Hmmmm udah menyangkut sara nih.....provokasi yang sensitif nih
> > > so bwt yang
> > > > > > lainnya jangan ditanggapi ini kayaknya dan jelas hanya ingin
> > > menciptakan
> > > > > > keributan antar agama.......
> > > digebukin
> > > > > > orang sekampung baru tau.........
> > > > > >
> > > > > > Jangan mentang2 dari internet bisa menyembunyikan diri.....trus
> > > seenaknya
> > > > > mau
> > > > > > bikin provokasi...
> > > > > > Klo tulisan commentar anda benar tolong kasih penjesan yang
> > > detil dong
> > > > > soal
> > > > > > :
> > > > > >
> > > > > > sejarah penyebaran agama islam dan yg sekarang karena
> > > indoctrinasi wahabi
> > > > > > nyasar otaknya.
> > > > > >
> > > > > > Isteri Mohammed SAW adalah seorang wanita beragama yahudi.
> > > Ajaran agama
> > > > > islam
> > > > > > berdasarkan agama yahudi murni ditambah dgn ajaran kristen
> > > Nestorian.
> > > > > > Sewaktu penyebaran islam dgn kekerasan orang yahudi dianggap
> > > sesama umat
> > > > > > sebab semua sudah disunat dan semua memakai buku torah sebagai
> > > basis. [Al
> > > > > > Qur'an belum disusun dan hanya dapat diketemukan puluhan tahun
> > > setelah
> > > > > profet
> > > > > > meninggal.]
> > > > > >
> > > > > > thanx
> > > > > >
> > > > > >
> > > > > > ANDREAS MIHARDJA <mihardja@..
> > > > > >
> > > > > > Ini yg menulis adalah seorang islam fanatiek yg tidak pernah
> > > dengar atau
> > > > > > membaca sejarah penyebaran agama islam dan yg sekarang karena
> > > indoctrinasi
> > > > > > wahabi nyasar otaknya.
> > > > > > Isteri Mohammed SAW adalah seorang wanita beragama yahudi.
> > > Ajaran agama
> > > > > > islam berdasarkan agama yahudi murni ditambah dgn ajaran
> > > kristen Nestorian.
> > > > >
> > > > > > Sewaktu penyebaran islam dgn kekerasan orang yahudi dianggap
> > > sesama umat
> > > > > > sebab semua sudah disunat dan semua memakai buku torah sebagai
> > > basis. [Al
> > > > > > Qur'an belum disusun dan hanya dapat diketemukan puluhan tahun
> > > setelah
> > > > > profet
> > > > > > meninggal.]
> > > > > > Jadi memang disini terlihat kembali bahayanya isolasi
> > > pengetahuan dari yg
> > > > > > kurang pendidikan yg makin lama makin diracuni oleh lamunan
> > > keadaan sampai
> > > > > > dpt menulis article semacem dibawah ini. Ini namanya brainwash
> > > > > > Andreas
> > > > > >
> > > > > > hendrik bakrie <henrik12syiah@
> > > > > > dari salah satu web site islam..
> > > > > >
> > > > > > Tentara Muslim dan Gembala Yahudi Beberapa hari telah berlalu
> > > ketika
> > > > > > Rasulullah terpaksa berperang dengan musuh Islam. Dalam perang
> > > kali ini,
> > > > > > musuh Rasulullah ialah sekelompok kaum Yahudi yang mempunyai
> > > niat buruk
> > > > > > terhadap Rasul sehingga memaksa Rasul untuk berperang dengan
> > > mereka.
> > > > > Tentara
> > > > > > umat Islam pada saat itu berhadapan dengan kesulitan bahan
> > > pangan dan
> > > > > tengah
> > > > > > merasakan kelaparan.
> > > > > > Dalam kondisi seperti ini, beberapa orang tentara muslim
> > > berbicang-bincang
> > > > > > di antara mereka. Salah seorang dari mereka berkata, "Semoga
> > > Rasul sedang
> > > > > > memikirkan jalan keluar. Kelaparan ini bisa menyebabkan
> > > sebagian dari kita
> > > > > > akan menyerah."
> > > > > > Yang lain menjawab, "Kelaparan dan kehausan merupakan hal yang
> > > lumrah
> > > > > dalam
> > > > > > perang. Tetapi benar seperti katamu, kali ini kondisi kita
> > > amatlah
> > > > > berbeda,
> > > > > > sudah tentu Rasul memikirkan jalan keluar. Namun, alangkah
> > > baiknya kita
> > > > > > bersabar dan tidak meninggalkan Rasul sendirian dalam masa yang
> > > amat
> > > > > genting
> > > > > > ini."
> > > > > > Di satu tempat yang tak jauh dari medan perang, di padang yang
> > > penuh
> > > > > dengan
> > > > > > kehijauan dan keindahan, seorang penggembala Yahudi membawa
> > > > > > kambing-kambingnya keluar untuk makan. Selama beberapa waktu,
> > > dia telah
> > > > > > mendengar hakikat Islam yang membuat hati dan jiwa penggembala
> > > muda ini
> > > > > > dipenuhi oleh panggilan Islam. Penggembala Yahudi itu berkata
> > > kepada
> > > > > dirinya
> > > > > > sendiri, "Akhirnya sebagian orang yang keras kepala membuat
> > > perang ini
> > > > > > terpaksa terjadi. Tetapi mungkin justru saat ini waktu yang
> > > tepat bagiku
> > > > > > untuk menemui Rasul dan mendengarkan hakikat agama ini dari
> > > kata-katanya
> > > > > > sendiri."
> > > > > > Sejenak penggembala muda ragu-ragu, tidak tahu apa yang harus
> > > dilakukan.
> > > > > > Apakah masuk akal baginya jika dia pergi ke tengah-tengah
> > > pasukan Islam
> > > > > dan
> > > > > > melakukan pertemuan dengan Rasul, ataukah sebaiknya dia tinggal
> > > saja di
> > > > > > antara kabilahnya dengan menanggung kegelisahan jiwa. Setelah
> > > beberapa
> > > > > saat
> > > > > > duduk berpikir, akhirnya dia bangun menjawab panggilan hatinya
> > > dan
> > > > > bergerak
> > > > > > ke arah tentara muslim.
> > > > > > Tentera muslim yang sedang sibuk melakukan pengawasan, melihat
> > > sebuah
> > > > > sosok
> > > > > > menghampiri dari kejauhan. Penggembala itu datang kian
> > > mendekat. Dia
> > > > > > melangkah dengan hati-hati dan tangannya diangkat sebagai tanda
> > > menyerah.
> > > > > > Dari kejauhan dia berteriak, "Wahai sahabat, bersabarlah. Aku
> > > hanyalah
> > > > > > seorang penggembala. Aku telah meninggalkan kabilahku karena
> > > aku tertarik
> > > > > > kepada agama kalian serta ingin bertemu dengan nabi kalian.
> > > Bawalah aku
> > > > > > menemuinya."
> > > > > > Salah seorang dari tentara muslim berkata, "Dapatkah kita
> > > percaya dengan
> > > > > > kata-katanya?
> > > seorang
> > > > > > penipu." Akhirnya tentara muslim dengan penuh waspada menerima
> > > penggembala
> > > > > > Yahudi itu dan berita mengenai kedatangannya sampai kepada
> > > Rasulullah.
> > > > > > Penggembala Yahudi itu memperhatikan bahwa tentara muslim
> > > sedang berada
> > > > > dalam
> > > > > > kekurangan makanan. Dia berpikir, bila ia menjadi muslim, ia
> > > akan
> > > > > membawakan
> > > > > > kambing-kambingnya untuk tentara muslim.
> > > > > > Ketika bertemu dengan Rasulullah, penggembala itu amat terkesan
> > > dengan
> > > > > > pandangan Rasulullah yang tajam namun penuh kelembutan.
> > > Rasulullah SAWW
> > > > > > berkata kepadanya, "Apa yang ingin kausampaikan padaku, wahai
> > > anak muda?"
> > > > > > Pengembala Yahudi menjawab, "telah lama aku memikirkan agama
> > > kalian ini.
> > > > > > Tuhan yang kalian sembah, adalah Tuhan yang aku cari sejak
> > > kecil. Aku
> > > > > > mendengar tentang agamamu sebagai agama persahabatan, kasih
> > > sayang,
> > > > > > persaudaraan dan persamaan. Mereka mengatakan bahwa Anda adalah
> > > pembantu
> > > > > > orang-orang mazlum dan musuh orang-orang zalim. Aku mendengar
> > > bahwa engkau
> > > > > > sedemikian pengasihnya sehinggakan semua orang yang tertindas
> > > merasakan
> > > > > > ketenangan dan ketenteraman dibawah naunganmu. Dari senyuman
> > > yang
> > > > > senantiasa
> > > > > > mengiringi kata-katamu, seolah-olah pada masa yang singkat ini,
> > > semua
> > > > > > hakikat itu telahku lihat dengan mataku sendiri."
> > > > > > Ketika Rasulullah SAWW melihat semangat dan gelora penggembala
> > > Yahudi itu,
> > > > > > beliau paham bahwa hati anak muda tersebut telah siap menerima
> > > rahmat
> > > > > Ilahi.
> > > > > > Rasulullah menyampaikan hakikat Islam kepada anak muda Yahudi
> > > itu dengan
> > > > > > kalimat yang menarik dan penuh kelemahlembutan. Saat itu juga,
> > > anak muda
> > > > > itu
> > > > > > melafazkan dua kalimah syahadah dan menjadi seorang muslim.
> > > > > > Kemudian, penggembala itu berkata, "Wahai Rasulullah, tentaramu
> > > tidak
> > > > > > mempunyai makanan yang cukup. Saat ini, aku sedang menggembala
> > > > > > kambing-kambing tuanku di sebuah padang rumput yang tak jauh
> > > dari sini.
> > > > > Kini
> > > > > > hubunganku dengan tuan pemilik kambing itu telah terputus. Aku
> > > ingin
> > > > > membawa
> > > > > > kambing-kambing itu untuk tentaramu agar mereka tidak lagi
> > > kelaparan."
> > > > > > Rasulullah bangun berdiri dan dihadapan pandangan ratusan
> > > tentera yang
> > > > > > kelaparan, beliau menjawab, "Wahai anak muda, ketahuilah bahwa
> > > dalam agama
> > > > > > Islam khianat merupakan salah satu dari kesalahan yang besar.
> > > Pergilah
> > > > > engkau
> > > > > > ke kabilahmu dan kembalikan kambing-kambing itu kepada
> > > pemiliknya." Si
> > > > > > penggembala muda merasa sungguh terpesona terhadap kesetiaan
> > > Rasul kepada
> > > > > > akhlak Islami. Dia menaati perintah Rasul itu dan kemudian
> > > bergabung
> > > > > dengan
> > > > > > barisan umat Islam.
> > > > > > kisah di atas amat baik untuk kita teladani. Dan simaklah
> > > sebuah hadis
> > > > > > Rasulullah, "Ada tiga hal yang tidak boleh dilanggar oleh
> > > seorang muslim.
> > > > > > Pertama, menepati janji kepada orang lain, baik muslim atau
> > > kafir. Kedua,
> > > > > > berbuat baik kepada ibu dan bapa, baik mereka itu muslim
> > > ataupun kafir.
> > > > > > Ketiga, memelihara amanah, baik pemberi amanah itu muslim atau
> > > kafir."
> > > > > > Sampai berjumpa lagi. Wassalam wr wb
> > > > > > ____________
> > > > > > Do You Yahoo!?
> > > > > > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
> > > > > > http://mail.
> > > > > >
> > > > > >
> > > > > >
> > > > > >
> > > > > >
> > > > > >
> > > > > >
> > > > > >
> > > > > > ------------
> > > > > > Be a better sports nut! Let your teams follow you with Yahoo
> > > Mobile. Try
> > > > > it
> > > > > > now.
> > > > >
> > > > >
> > > > >
> > > > >
> > > > >
> > > > >
> > > > > ------------
> > > > > Be a better sports nut! Let your teams follow you with Yahoo
> > > Mobile. Try it
> > > > > now.
> > > >
> > >
> > >
> > >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > ------------
> > Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See
> how.
>
>
>
>
>
>
> ------------
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
> Answers