Senin, 07 Januari 2008

RE: [psikologi_transformatif] 04 January 2008 (Tentang Pengkultusan Peramal)

Salam,

 

Menurut saya perlu diluruskan dulu mengenai meramal, ramalan dan peramal..

 

Sebenarnya dalam pembacaan tarot atau teknik2 sejenis….asosiasi ramalan lebih tepat disebut “prediksi”…..yaitu pemetaan situasi masa lalu, sekarang dan masa depan maupun relasi diantaranya dengan melibatkan keseluruhan variable fisis dan logis maupun mistis (non inderawi)….

 

khusus untuk masa depan, hasilnya bukanlah sebuah “kepastian” situasi di masa depan sebagaimana disangka orang, tapi adalah ekstrapolasi situasi di masa depan dari situasi di masa lalu dan sekarang (mirip seperti ekstrapolasi bila anda main2 aplikasi grafik suatu fungsi), dengan pengandaian tidak ada interfensi kesadaran yang akan mengubahnya dalam rentang waktu “peramalan” dan kejadian yang “diramalkan”

 

jadi bukan “ramalan” harga mati, hasil “ramalan” hanya akan benar “terjadi” bila tidak ada afrimasi yang akan merubah arahnya….bila disikapi positif, justru teknik2 ini berguna untuk positioning dan me-response secara tepat atas setiap kemungkinan yang terjadi di masa depan dengan kemampuan untuk prediksi dengan mempertimbangkan keseluruhan rentang variable yang tidak mungkin dicakup pikiran sadar

 

Teknik ini berbasis pada 3 postulat:

1. Kesadaran tinggi adalah sumber segala informasi

2. Tidak ada peristiwa yang “kebetulan” dalam artian terisolasi dari satu atau lebih variable, semua variable akan terkait dengan variable lain secara penuh dalam satu kesatuan jejaring kejadian di seluruh titik dalam semesta

3. Peran kesadaran dalam pembentukan realitas yang tidak sekedar “pengamat” sebagaimana mekanika newtownian, tapi yang adalah participant penuh dalam pembentukan realitas dan segala kejadian

 

Setuju, memang tidak ada yang wah dengan “peramalan” seperti ini….tapi termasuk juga ndak ada kaitannya dengan dekon-dekonan…nggak perlu dekon untuk bisa “nge-ramal”…yang dibutuhkan cuma niat, kepolosan dan spontanitas untuk minimalisir kontaminasi kesadaran rendah..itu saja…semua kejadian yang didesain sebagai “kebetulan” bisa jadi media “peramalan”, mau kartu tarot, kartu remi….dukun2 indian pake lemparan tulang2…atau sekalian kejadian yang digerakkan kesadaran tinggi macam gerak rasa..dsb…

 

kalo toh ada kelebihan tarot, adalah karena konsepsi yang sudah baku dan komplit..itu saja ndak lebih..anda juga bisa bikin konsep ndiri pake kartu remi…bahkan ndak pake konsep-pun juga bisa kok…baca tarot ndak usah pake konsep pakem pun bisa…kalo buat anda kartu “moon” artinya “aman tenteram”…bisa juga, silakan saja meskipun itu nabrak pakem konsepnya

 

Salah kaprah sering sekali terjadi bisa hasil prediksi dianggap ramalan tentang sebuah kepastian di masa depan, sehingga yang terjadi adalah fatalisme…dan aktifitas “ramal-meramal” ini tak lebih dari sekedar pelarian dari ketidak-percayaan diri…..mangkanya laku kalo dijual ke orang2 yang krisis percaya diri atau kekurangan kendali atas nasib dan dunianya ndiri

 

Salam,

Anwar

 


From: psikologi_transformatif@yahoogroups.com [mailto:psikologi_transformatif@yahoogroups.com] On Behalf Of tinta_negatif
Sent: Friday, January 04, 2008 2:53 AM
To: vincentliong@yahoogroups.com; komunikasi_empati@yahoogroups.com; psikologi_transformatif@yahoogroups.com
Subject: [psikologi_transformatif] 04 January 2008 (Tentang Pengkultusan Peramal)

 

--- In gerakan_antikultus@yahoogroups.com, "tinta_negatif"
<tinta_negatif@...> wrote:

04 January 2008 (Tentang Pengkultusan Peramal)

Hari ini aku bertemu dengan Ayah dan Ibu Vincent. Aku memanggilnya
Om dan Tante karena kebiasaan memanggil orang yang lebih tua dengan
sebutan Om dan Tante. Dalam sebuah syukuran kantor barunya Mbak Isti
di ITC Permata Hijau. Kalau tidak salah nama kantornya Benavindo.
Tempatnya cukup menarik. Ada track kereta yang cukup panjang dan
besar. Juga tempat berjualan mobil-mobilan.. Dan kereta mainan. Dan
tempat satunya lagi adalah semaca kafe dan juga Internet gratis
dengan membeli nasi goreng seharga empat belas ribu. Saya sempat
ngobrol juga dengan waitress di sana.. ia mengatakan satu nasi
goreng plus gratis internet satu jam. Tapi mbak Isti mengatakan..
Aku bisa main gratis.. Kalau Mbak Isti sedang di kantor barunya di
ITC itu.

Ayahnya Vincent minta saya meramalkan tentang konflik Vincent dengan
teman-teman lamanya dan, juga masa depan Vincent. Ketika itu aku
bersama Aryo dan Mbak N. Yang didekon tahun lalu.. Waktu mendekon
Mbak N aku bersama Mark (pendekon impor asal Australia). Mbak N
mengeluarkan kartu Tarotnya yang dilaminating dan membantu kami
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dikeluarkan kartu..
Apabila kartu menunjukkan sesuatu yang cenderung buruk. Aku dan Aryo
menyerahkan Mbak N untuk menjawab. Begitu juga dengan Ibunya
Vincent.. Yang menanyakan perihal peluangnya dalam bisnis Asuransi
yang sudah digelutinya cukup lama. Ketika kartu cenderung
mengungkapkan hal yang buruk.. Kami menyerahkan pada Mbak N untuk
menjawab.

Ibunya Vincent menanyakan bagaimana kita orang setelah di Dekon jadi
bisa meramal.. Saya dengan sederhana menjawab :

"Yaa pada dasarnya setiap kita ketemu orang.. Secara sadar dan tidak
sadar membuat semacam list tentang siapa orang tersebut. Ada banyak
daftar sifat dan kecenderungan tentang kepribadian orang. Tapi kita
tidak bisa menghampiri orang dan mengatakan.. Bahwa kamu orangnya
pasti begini, begitu.. Karena.."

"Apa urusan kamu menilai saya begini dan begitu.."

"Karena dalam sesi tiga dekon adalah sesi meramal. Dimana pendekon
mengkondisikan dirinya sebagai peramal. Dan yang terdekon
dikondisikan sebagai orang yang akan diramal. Dimana setelah itu
terdekon akan meramal Pendekon.. Dan secara sadar, pendekon
mengajarkan bagaimana caranya meramal dengan kartu tarot. Iya, dan
tentu saja ada buku tentang Kartu Tarot. Kalau Kartu ini.. Artinya
apa. Kalau kebalik itu artinya apa. Kalau penyebaran begini artinya
apa.. Yaa semua kembali kepada si peramal.. bagaimana memperlakukan
penyebaran kartu tersebut."
Apa yang menarik dari Mbak N (terdekon yang menjadi Pendekon)
adalah.. Mbak N telah memposisikan diri 'bahwa menjadi Peramal'
adalah sesuatu yang wah. Sesuatu yang luar biasa.. Dan punya peluang
untuk dikultuskan kalau ramalan itu mendekati kebenaran.

Ini salah satu yang coba di dekonstruksi dalam pemahaman para
kompatiolog. Bahwa segala sesuatu.. Ilmu yang fisik mau pun
metafisik pada dasarnya bisa dipelajari. istilah keberbakatan..
Jenius.. Orang-orang pilihan dan Golongan Dahsyat mau pun
Keren.., 'keturunan ini', 'keturunan itu', 'darah biru', 'darah
kotor' indigo dan tidak indigo Hanyalah Penamaan-Penamaan yang
berlebihan, dari orang atau sekolompok orang yang memiliki
kepentingan. Atau mereka hanya ingin dikultuskan karena
menciptakan 'istilah-istilah baru' dan kemudian menjadi ahlinya.

Saya jadi teringat, "Bahwa tidak ada yang baru di bawah sinar
matahari." Plus dan minusnya dari peribahasa ini adalah.. Orang
kadang cenderung malas mencoba jalan baru, gaya baru, bahkan membuat
pemikiran sendiri.. Yang tentu saja baru.. Karena konteks zaman yang
berbeda, ruang-waktu yang berbeda.. Dan apabila pemikiran atau gaya
hidupnya mirip orang di masa lampau.. Maka itu hanya interpretasi
orang atau kelompok.. Yang bisa saja ada kepentingan di baliknya.

Pertanyaan pun muncul lagi, "Apakah ada orang yang hidup tanpa
kepentingan?"

Pada dasarnya hidup adalah sebuah pemberian. Kita diberikan suatu
kondisi dengan status sosial, ekonomi dan segala macamnya yang pada
dasarnya menentukan arah kita mau kemana. Setelah kita mengetahui
kenapa kita diberikan banyak keberlimapahan dan keberlebihan.. Atau
pun kurang dan sangat kekurangan.. Semua memiliki maksud dan tujuan
tertenju juga.

Yang paling penting (yang tidak melulu soal kepentingan) adalah kita
tahu arah kita mau kemana. kita mengetahui apa yang kita tuju. Yaa
mau jalannya mau bolak balik, lewat jalan pintas, atau mencermati
tiap langkah.. Adalah pilihan yang kembali pada masing-masing
individu.. Tapi apabila seseorang tidak tahu arah dan tujuannya mau
kemana.. Itu-lah yang cukup berbahaya bagi individu tersebut.
Karena.. Ia sepertinya halnya angin. Yaa.. Jadi orang yang angin-
anginan.

Saya memiliki unsur angin yang cukup kuat. Bukan berarti saya selalu
kentut setiap saat.. Atau senang bermain dengan asap rokok. Saya
memang memilih untuk tidak terlalu berpolitik, bertujuan, atau pun
berkepentingan.. Walau, pada akhrinya ini akan berbahaya bagi diri
saya sendiri.. Tapi itulah indahnya kehidupan.. Bahwa sesuatu yang
berbahaya : bukan karena kita naik jet coaster, atau ikut simulasi
perang, outbound, dan segala bentuk permainan (yang dibuat)
cenderung imitasi. Tapi menjadikan hidup kita sendiri sebagai
sesuatu yang berbahaya.. Bahkan bagi diri kita sendiri.
Ada sebuah kalimat hapalan yang selalu saya hapalkan pada diri saya
sendiri :

"Revolusi bukan menunjukkan jalan untuk hidup, tapi revolusi membuat
hidup kita Lebih Hidup."

-Crimethink page sekian-sekian-

join this group
with tinta_negatif@yahoo.com

for further information
please call : 021-92589843

Post message: gerakan_antikultus@yahoogroups.com
Subscribe: gerakan_antikultus-subscribe@yahoogroups.com
Unsubscribe: gerakan_antikultus-unsubscribe@yahoogroups.com
List owner: gerakan_antikultus-owner@yahoogroups.com

04 January 2008

--- End forwarded message ---

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Find great recruits

for your company.

Y! Messenger

Send pics quick

Share photos while

you IM friends.

Official Samsung

Yahoo! Group for

supporting your

HDTVs and devices.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Gerakan Anti Kultus Bukanlah Gerakan Politik!


Barangkali lebih afdhol jika dikatakan Gerakan Anti Kultus BUKANLAH
INSTRUMEN dari PARTAI POLITIK, tertentu...

Be Fun

TuHanTu

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "gotholoco"
<gotholoco@...> wrote:
>
> Ketika orang sudah "berbicara" bagaimana sebaiknya, bagaimana
> seharusnya, kudu begini kudu begitu, dengan berbagai kepentingannya
> disitulah sudah masuk wilayah politik.
>
> Warisan Orde Baru yang telah meracuni bahwa berpolitik itu kotor,
> berpolitik itu haram, berpolitik itu najis. Yang hanya boleh
> berpolitik itu hanya kaum elit penguasa saja.(dulu dwifungsi ABRI).
>
> Karena kesadaran berpolitik sudah dicuci 'bersih' (apa kotor?) oleh
> Orde Baru selama 30 tahun lebih, maka pendidikan politik dan etika
> politik di Indonesia sangat miskin atau minim sekali.
>
> Buktinya sekarang ini PILKADAL selalu disertai dengan KERIBUTAN atau
> KERICUHAN di Daerah-daerah dimanapun Pilkadal dilakukan.
>
> Belum siap berbeda pendapat, rebutan jadi pemimpin, dan pemimpin yang
> memanfaatkan masyarakat bodoh(massa menggambang) untuk menggalang
> dukungan dengan otot bukan dengan otak.
>
> Berbeda pendapat masih selalu berakhir dengan kekerasan fisik.
>
> gotho
>
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, pradita@ wrote:
> >
> > Saya khawatir Anda merancukan makna 'politik' dan 'ideologi'. Secara
> sangat
> > sederhana, 'politik' bisa diartikan sebagai 'cara untuk mencapai
> kekuasaan'
> > (dalam arti luas, bukan cuma sebatas 'kekuasaan negara'). Jadi kalau
> ada yang
> > mengklaim berpolitik tapi sasarannya bukan kekuasaan, maka dia pasti
> bo'ong
> > besar, atau dia salah kaprah dalam memakai istilah 'politik'.
> >
> > Kalau sesuatu yang mengarahkan kesadaran kita dengan cara tertentu
> sehingga
> > terjadi distorsi atas realitas dalam kesadaran kita, itu namanya
> 'ideologi'.
> >
> > manneke
> >
> > Quoting tinta_negatif tinta_negatif@:
> >
> > > Politik itu apa sih? Coba yang ini dulu deh
> > >
> > > sesuatu yang tertanam dalam diri seperti pemikiran dimana.. di
> ruang atau
> > > waktu mana pun kita tidak lagi mampu menilai segala sesuatu
> berdasarkan..
> > > apa yang terjadi pada ruang waktu tersebut. Pada benda-benda yang
> > > menunjukkan dirinya sendiri. Atau pun mahluk hidup. Politik
> membuat kita
> > > kehilangan kemampuan untuk menganalisa.. karena kita sudah
> memiliki agenda.
> > > Memiliki sebuah pemahaman terhadap segala sesuatu yang kita
> pikirkan..
> > > namun belum dibuktikan dalam kenyataan. Atau belum mengalaminya..
> > > Politik! Membuat kita kehilangn untuk merasa
> > >
> > > --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "Anwar Haryono"
> > > <aharyono@> wrote:
> > > >
> > > > Kutipan para.2 yang di breakdown:
> > > >
> > > > 1. Gerakan Anti Kultus bukanlah Gerakan Politik.
> > > >
> > > > 2. Karena politik itu sendiri Mewakili kelompok, isme, atau pun
> golongan.
> > > >
> > > > 3. Sedangkan Anti Kultus Bertujuan untuk mengkritisi itu semua
> (kelompok,
> > > > isme,
> > > > nasionalis, isme atau pun Golongan). "
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > Anwar:
> > > >
> > > > "Anti kultus" itu adalah bukannya juga kelompok/golongan.berarti
> kalimat
> > > no
> > > > 2 di atas bisa ditulis ulang menjadi: "karena politik itu
> sendiri mewakili
> > > > anti kultus".jadi anti kultus berpolitik juga dong.
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > Politik itu apa sih? Coba yang ini dulu deh
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > Salam,
> > > >
> > > > anwar
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > _____
> > > >
> > > > From: psikologi_transformatif@yahoogroups.com
> > > > [mailto:psikologi_transformatif@yahoogroups.com] On Behalf Of
> > > tinta_negatif
> > > > Sent: Wednesday, January 02, 2008 7:53 PM
> > > > To: vincentliong@yahoogroups.com;
komunikasi_empati@yahoogroups.com;
> > > > psikologi_transformatif@yahoogroups.com
> > > > Subject: [psikologi_transformatif] Fwd: Gerakan Anti Kultus
> Bukanlah
> > > Gerakan
> > > > Politik!
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > --- In gerakan_antikultus@
> <mailto:gerakan_antikultus%40yahoogroups.com>
> > > > yahoogroups.com, "tinta_negatif"
> > > > <tinta_negatif@> wrote:
> > > >
> > > > Gerakan Anti Kultus Bukanlah Gerakan Politik!
> > > >
> > > > Gerakan Anti Kultus bukanlah Gerakan Politik. Karena politik itu
> > > > sendiri Mewakili kelompok, isme, atau pun golongan. Sedangkan
Anti
> > > > Kultus Bertujuan untuk mengkritisi itu semua (kelompok, isme,
> > > > nasionalis, isme atau pun Golongan).
> > > >
> > > > Sebelum membahas lebih jauh tentang Gerakan Anti Kultus bukanlah
> > > > Gerakan Politik.. Mari kita cermati bagaimana terciptanya sebuah
> > > > kelompok, isme, atau pun golongan. Berawal dari satu tokoh atau
> > > > individu yang berjasa pada lingkungan sekitarnya. Tokoh atau
> > > > individu itu tersebut kemudian mati. Kematiannya kemudian
dilebih-
> > > > lebihkan dalam rangka menghormati jasa-jasanya, dan agar para
cucu
> > > > kemudian mencontoh dan menjadikan si Tokoh dan Individu sebagai
> > > > panutan. Cara paling mudah menjawab pertanyaan para cucu-cucu
yang
> > > > lahir ratusan tahun kemudian tentang si Pahlawan.. Adalah dengan
> > > > membuatkan Patung.
> > > >
> > > > "Kek.. Emang pahlawan kita seperti apa sih bentuknya."
> > > >
> > > > "Lihat saja ke taman tengah kota.. Dia berdiri tegak tanpa lapar
> dan
> > > > dahaga?"
> > > >
> > > > "Bagaimana bisa?"
> > > >
> > > > "Karena mereka patung?"
> > > >
> > > > "Apakah mereka benda mati."
> > > >
> > > > "Itu tidak penting, karena ketika masih hidup.. Itulah yang
mesti
> > > > kita pelajari?"
> > > >
> > > > "Tapi bagaimana caranya patung itu berbicara?"
> > > >
> > > > "Ah, gayamu seperti Ibrahim (cucu Adam) saja.."
> > > >
> > > > Namun dengan kelahiran fotografi (kemampuan merekam gambar diam)
> dan
> > > > juga sinematografi (kemampuan merekam gambar bergerak), maka
> > > > pengkultusan akan semakin mudah dilakukan. Seseorang bisa
menaruh
> > > > poster idola atau bahkan foto idola beserta tanda tangan, 'hanya
> > > > karena apa yang dikaryakan' mewakili perasaan, ideologi atau pun
> > > > pemikiran kamu atau kalian. Ini tentu saja pukulan mundur bagi
> > > > individu apabila kemudian.. Individu mulai mengutip kata-kata si
> > > > idola. Dan tidak berani mengatakan pendapatnya sendiri. Atau
bahkan
> > > > bertarung dengan musuh si Idola.. Karena si idola bermusuhan
> > > > dengannya.
> > > >
> > > > Dalam politik seperti Kapitalisme melawan Komunisme dalam perang
> > > > dingin berapa puluh tahun yang lalu, seseorang yang memilih blok
> > > > kapitalisme menjadi lebih cenderung individualis karena 'yang
kaya
> > > > makin kaya karena berusaha' dan 'yang miskin semakin miskin juga
> > > > karena berusaha tapi tidak ada modal'. Dimana dalam komunisme
'yang
> > > > kaya adalah negara dan orang kesejahteraan orang banyak diatur
oleh
> > > > negara'.. Dan tentu saja yang kaya adalah orang-orang
pemerintahan.
> > > > Jadi apabila dalam politik Komunisme satu-satunya caranya agar
anda
> > > > kaya dan sejahtera adalah dengan menjadi Penjilat Pemerintah.
> > > > Sedangkan dalam politik Kapitalisme.. Satu-satunya cara agar
anda
> > > > kaya dan sejahtera adalah dengan menjadi Penjilat Pemilik Modal
> > > > (penguasa, perusahaan besar, dan Orang-Orang Yang Dikultuskan)
> > > >
> > > > Yang Minus dari Politik adalah kita kehilangan kemampuan untuk
> > > > menganalisa berdasarkan perasaan dan sudut pandang kita sendiri.
> > > > Karena apabila anda masuk dalam suatu partai politik atau
golongan
> > > > isme (ajaran) politik tertentu maka.. Anda akan didogmakan,
> > > > didongeng dan doktrinkan.. Tentang kekurangan-kekurangan partai
> > > > politik lainnya.. Begitu juga didogmakan, didongeng dan
doktrinkan
> > > > kelebihan dari partai politik dan golongan isme (ajaran) politik
> > > > yang kita anut.
> > > >
> > > > Kebanggaan politik yang kita anut tidak ada bedanya dengan
seorang
> > > > borjuis yang membanggakan rumah atau mobil yang dimilikinya.
> > > > Kebanggaan ajaran atau isme yang kita anut tidak ada bedanya
dengan
> > > > ras yang kita banggakan karena mampu bertahan di berbagai
belahan
> > > > dunia (termasuk budaya yang tidak terkontaminasi). Kebanggaan
> > > > kekasih yang kita miliki entah karena fisik atau intelegensi
tidak
> > > > ada bedanya dengan pengkultusan idola yang seakan tidak
bertambah
> > > > tua dan jelek karena foto yang kita simpan dari internet
> > > > atau : 'jepretan kita sendiri'.
> > > >
> > > > Maka apakah Gerakan Antikultus adalah sebuah gerakan politik.
> > > > Jawabannya adalah tidak karena kita terus mengkritisi siapa yang
> > > > kita idolakan. Siapa yang kita kultuskan.. Sampai kita tidak
perlu
> > > > lagi mengutip kata-kata mereka atau individu tersebut.. Atau
cara
> > > > paling aman adalah dengan memahami kata-kata mereka atau
individu
> > > > tersebut.. Dan mulai bicara esensi atau makna yang sama denga
gaya
> > > > bahasa sendiri. Atau dengan kata lain : Pendapat.
> > > >
> > > > " Karena apabila pertentangan pendapat antara kamu dan orang
lain..
> > > > Adalah bukti nyata bahwa masih ada tokoh idola (yang
terkultuskan
> > > > terselubung)."
> > > >
> > > > "Sebab demokrasi menurut saya adalah kebebasan berpendapat.
Namun
> > > > apabila seseorang kehilangan kebebasan berpendapat karena pihak
> > > > lain, karena caci maki, teror, maka demokrasi lagi-lagi hanyalah
> > > > teori semu."
> > > >
> > > > "Dan beranikah kalian mengatakan sesuatu dari orang yang kamu
> > > > kultuskan berdasarkan pemahamanmu sendiri? Dan dengan gaya
bahasamu
> > > > sendiri, tanpa menjadikan dirimu tokoh untuk dikultuskan bagi
orang-
> > > > orang yang belum mengetahui sejauh kamu mengetahui diri atau
> > > > kelompoknya?"
> > > >
> > > > --- End forwarded message ---
> > > >
> > > > join this group :
> > > >
> > > > http://groups.
<http://groups.yahoo.com/group/gerakan_antikultus/>
> > > > yahoo.com/group/gerakan_antikultus/
> > > >
> > >
> > >
> > >
> >
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Be a career mentor

for undergrads.

Summer Shape-up

on Yahoo! Groups

Trade weight loss

and swimsuit tips.

Yahoo! Groups HD

The official Samsung

Y! Group for HDTVs

and devices.

.

__,_._,___

Re: [psikologi_transformatif] Re: Gerakan Anti Kultus Bukanlah Gerakan Politik!

inter rest itu artinya adalah
di antara istirahat
di antara istirahat adalah
kerja
hihihi
huahahahahahaha
kalau inter rest room
hihihi
gak tau, napa ada istilah rest room
jadi mung kin
kalau inter rest room itu adalah
di antara toilet2 hihihi
jangan ngejek ah
tukang bersih toilet di New York, Los Angeles, London, Paris  itu
pendapatannya masih lebih besar daripada
kerja di Croatia
hehehe

tuhantu_hantuhan <tuhantu_hantuhan@yahoo.com> wrote:

Quote: ... Good point mas. Kata kuncinya adalah "kepentingan", "interest"...saya lebih suka definisikan secara esensial politik sebagai "aktifitas untuk memperjuangkan interest"... End of quote.
TuHanTu: Mas Anwar... Memang betul bahwa tak ada satupun manusia yang bebas dari interrest individual... Bahwa sekalipun ada manusia yg memilih hidup dalam keterasingan roda modernisasi, tetap ada interrest melekat dalam dirinya bukan? Sejauh mana interrset itu bermain? tak ada tolok ukur yang konkrit...
Bahwasanya interrest individual tersebut berusaha diseimbangkan/disinergikan dengan interrest lingkungan (masyarakat) itu soal lain... Tapi yang jelas bahwa saya, kita dan Anda sekalian dimanapun berada, adalah sekumpulan interrest-interrest yg bukan tidak mungkin punya keterkaitan satu sama lain... Cuman ada yg masuk dalam bingkai simbol-simbol (berbentuk agama, partai, ideologi)... Ada yang berusaha diluar dari bingkai tersebut... (tetap berada dalam penyimbolan tersendiri) ... But still can we called it as,  politis? YA...! Like I said, everything is a DEAL...
Dengan menyadari bahwa segala sesuatu adalah DEAL-DEAL, maka kemungkinan merajut interrest individual tersebut menjadi interrest kolektif kemungkinan besar bisa terjadi... Tidak hanya dalam ber-politik praktis...
Seorang Peminum Kopi seperti saya harus menanamkan bahwa segala sesuatu adalah DEAL-DEAL. Dan hanya dengan memahami hal tersebut, saya tidak mudah untuk marah dan berkoar-koar apalagi kalap di jalanan berdemonstrasi yg destruktif, karena kebijakan yang tidak memihak kepentingan saya (misalkan)
Pilihannya -antara lain- adalah:
1. Passive. Karena tahu dan memahami bahwa semua Petinggi dan Elit Birokrat hanyalah sekumpulan interrest pribadi yang ter-manifestasi secara kolektif.
2. Aktif. Yakni, berusaha masuk dalam sistem (dalam skala tertentu), dalam skala waktu tertentu. Sekalipun berada di luar penyimbolan partai/jabatan/status tertentu.
3. Being a coward (Pengecut) Dengan meninggalkan lingkungan/tempat tersebut dan mencari lingkungan tempat lain... ;-)
Be Fun
TuHanTu
 


--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "Anwar Haryono" <aharyono@...> wrote:
>
> "Ketika orang sudah "berbicara" bagaimana sebaiknya, bagaimana
> seharusnya, kudu begini kudu begitu, dengan berbagai kepentingannya
> disitulah sudah masuk wilayah politik."
>
>
>
> Anwar:
>
>
>
> Good point mas. Kata kuncinya adalah "kepentingan", "interest"...saya lebih
> suka definisikan secara esensial politik sebagai "aktifitas untuk
> memperjuangkan interest"
>
>
>
> seharusnya "politik" harus diterima apa adanya sebagai bagian dari
> kemanusiaan kita.menafikkan adanya kepentingan dalam setiap tindakan kita
> hanya akan membuat kita, maaf, tanpa sadar jadi munafik.
>
>
>
> dalam hal ini ada 2 aspek:
>
> 1. buat yang munafik, cap stigma negative pada politik hanya akan jadi
> pelarian atau pencarian kambing hitam...merasa "bersih", lupa bahwa setiap
> saat semua kita gak akan lepas dari berpolitik
>
> 2. buat yang memang niatnya maling, sepakat rame2 bahwa jalur politik formal
> yang paling ampuh.yang ini biasanya otomatis munafik juga, lain kulit lain
> isi.lain omongan lain tindakan..dst.
>
>
>
> Dan alhamdulillah, keduanya sedang nge-trend2nya di negeri tercinta
> ini.he..h.e..
>
>
>
> Masalah apakah "gerakan anti kultus adalah gerakan politik" atau
> bukan....sama saja dengan misalnya: "anti konsep, adalah konsep jugak"
>
>
>
> Salam,
>
> Anwar
>
>
>
> _____
>
> From: psikologi_transformatif@yahoogroups.com
> [mailto:psikologi_transformatif@yahoogroups.com] On Behalf Of gotholoco
> Sent: Thursday, January 03, 2008 4:43 PM
> To: psikologi_transformatif@yahoogroups.com
> Subject: [psikologi_transformatif] Re: Gerakan Anti Kultus Bukanlah Gerakan
> Politik!
>
>
>
> Ketika orang sudah "berbicara" bagaimana sebaiknya, bagaimana
> seharusnya, kudu begini kudu begitu, dengan berbagai kepentingannya
> disitulah sudah masuk wilayah politik.
>
> Warisan Orde Baru yang telah meracuni bahwa berpolitik itu kotor,
> berpolitik itu haram, berpolitik itu najis. Yang hanya boleh
> berpolitik itu hanya kaum elit penguasa saja.(dulu dwifungsi ABRI).
>
> Karena kesadaran berpolitik sudah dicuci 'bersih' (apa kotor?) oleh
> Orde Baru selama 30 tahun lebih, maka pendidikan politik dan etika
> politik di Indonesia sangat miskin atau minim sekali.
>
> Buktinya sekarang ini PILKADAL selalu disertai dengan KERIBUTAN atau
> KERICUHAN di Daerah-daerah dimanapun Pilkadal dilakukan.
>
> Belum siap berbeda pendapat, rebutan jadi pemimpin, dan pemimpin yang
> memanfaatkan masyarakat bodoh(massa menggambang) untuk menggalang
> dukungan dengan otot bukan dengan otak.
>
> Berbeda pendapat masih selalu berakhir dengan kekerasan fisik.
>
> gotho
>
> --- In psikologi_transform
> <mailto:psikologi_transformatif%40yahoogroups.com> atif@yahoogroups.com,
> pradita@ wrote:
> >
> > Saya khawatir Anda merancukan makna 'politik' dan 'ideologi'. Secara
> sangat
> > sederhana, 'politik' bisa diartikan sebagai 'cara untuk mencapai
> kekuasaan'
> > (dalam arti luas, bukan cuma sebatas 'kekuasaan negara'). Jadi kalau
> ada yang
> > mengklaim berpolitik tapi sasarannya bukan kekuasaan, maka dia pasti
> bo'ong
> > besar, atau dia salah kaprah dalam memakai istilah 'politik'.
> >
> > Kalau sesuatu yang mengarahkan kesadaran kita dengan cara tertentu
> sehingga
> > terjadi distorsi atas realitas dalam kesadaran kita, itu namanya
> 'ideologi'.
> >
> > manneke
> >
> > Quoting tinta_negatif tinta_negatif@:
> >
> > > Politik itu apa sih? Coba yang ini dulu deh
> > >
> > > sesuatu yang tertanam dalam diri seperti pemikiran dimana.. di
> ruang atau
> > > waktu mana pun kita tidak lagi mampu menilai segala sesuatu
> berdasarkan..
> > > apa yang terjadi pada ruang waktu tersebut. Pada benda-benda yang
> > > menunjukkan dirinya sendiri. Atau pun mahluk hidup. Politik
> membuat kita
> > > kehilangan kemampuan untuk menganalisa.. karena kita sudah
> memiliki agenda.
> > > Memiliki sebuah pemahaman terhadap segala sesuatu yang kita
> pikirkan..
> > > namun belum dibuktikan dalam kenyataan. Atau belum mengalaminya..
> > > Politik! Membuat kita kehilangn untuk merasa
> > >
> > > --- In psikologi_transform
> <mailto:psikologi_transformatif%40yahoogroups.com> atif@yahoogroups.com,
> "Anwar Haryono"
> > > <aharyono@> wrote:
> > > >
> > > > Kutipan para.2 yang di breakdown:
> > > >
> > > > 1. Gerakan Anti Kultus bukanlah Gerakan Politik.
> > > >
> > > > 2. Karena politik itu sendiri Mewakili kelompok, isme, atau pun
> golongan.
> > > >
> > > > 3. Sedangkan Anti Kultus Bertujuan untuk mengkritisi itu semua
> (kelompok,
> > > > isme,
> > > > nasionalis, isme atau pun Golongan). "
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > Anwar:
> > > >
> > > > "Anti kultus" itu adalah bukannya juga kelompok/golongan.berarti
> kalimat
> > > no
> > > > 2 di atas bisa ditulis ulang menjadi: "karena politik itu
> sendiri mewakili
> > > > anti kultus".jadi anti kultus berpolitik juga dong.
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > Politik itu apa sih? Coba yang ini dulu deh
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > Salam,
> > > >
> > > > anwar
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > _____
> > > >
> > > > From: psikologi_transform
> <mailto:psikologi_transformatif%40yahoogroups.com> atif@yahoogroups.com
> > > > [mailto:psikologi_transform
> <mailto:psikologi_transformatif%40yahoogroups.com> atif@yahoogroups.com] On
> Behalf Of
> > > tinta_negatif
> > > > Sent: Wednesday, January 02, 2008 7:53 PM
> > > > To: vincentliong@ <mailto:vincentliong%40yahoogroups.com>
> yahoogroups.com; komunikasi_empati@
> <mailto:komunikasi_empati%40yahoogroups.com> yahoogroups.com;
> > > > psikologi_transform <mailto:psikologi_transformatif%40yahoogroups.com>
> atif@yahoogroups.com
> > > > Subject: [psikologi_transformatif] Fwd: Gerakan Anti Kultus
> Bukanlah
> > > Gerakan
> > > > Politik!
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > --- In gerakan_antikultus@
> <mailto:gerakan_antikultus%40yahoogroups.com>
> > > > yahoogroups.com, "tinta_negatif"
> > > > <tinta_negatif@> wrote:
> > > >
> > > > Gerakan Anti Kultus Bukanlah Gerakan Politik!
> > > >
> > > > Gerakan Anti Kultus bukanlah Gerakan Politik. Karena politik itu
> > > > sendiri Mewakili kelompok, isme, atau pun golongan. Sedangkan Anti
> > > > Kultus Bertujuan untuk mengkritisi itu semua (kelompok, isme,
> > > > nasionalis, isme atau pun Golongan).
> > > >
> > > > Sebelum membahas lebih jauh tentang Gerakan Anti Kultus bukanlah
> > > > Gerakan Politik.. Mari kita cermati bagaimana terciptanya sebuah
> > > > kelompok, isme, atau pun golongan. Berawal dari satu tokoh atau
> > > > individu yang berjasa pada lingkungan sekitarnya. Tokoh atau
> > > > individu itu tersebut kemudian mati. Kematiannya kemudian dilebih-
> > > > lebihkan dalam rangka menghormati jasa-jasanya, dan agar para cucu
> > > > kemudian mencontoh dan menjadikan si Tokoh dan Individu sebagai
> > > > panutan. Cara paling mudah menjawab pertanyaan para cucu-cucu yang
> > > > lahir ratusan tahun kemudian tentang si Pahlawan.. Adalah dengan
> > > > membuatkan Patung.
> > > >
> > > > "Kek.. Emang pahlawan kita seperti apa sih bentuknya."
> > > >
> > > > "Lihat saja ke taman tengah kota.. Dia berdiri tegak tanpa lapar
> dan
> > > > dahaga?"
> > > >
> > > > "Bagaimana bisa?"
> > > >
> > > > "Karena mereka patung?"
> > > >
> > > > "Apakah mereka benda mati."
> > > >
> > > > "Itu tidak penting, karena ketika masih hidup.. Itulah yang mesti
> > > > kita pelajari?"
> > > >
> > > > "Tapi bagaimana caranya patung itu berbicara?"
> > > >
> > > > "Ah, gayamu seperti Ibrahim (cucu Adam) saja.."
> > > >
> > > > Namun dengan kelahiran fotografi (kemampuan merekam gambar diam)
> dan
> > > > juga sinematografi (kemampuan merekam gambar bergerak), maka
> > > > pengkultusan akan semakin mudah dilakukan. Seseorang bisa menaruh
> > > > poster idola atau bahkan foto idola beserta tanda tangan, 'hanya
> > > > karena apa yang dikaryakan' mewakili perasaan, ideologi atau pun
> > > > pemikiran kamu atau kalian. Ini tentu saja pukulan mundur bagi
> > > > individu apabila kemudian.. Individu mulai mengutip kata-kata si
> > > > idola. Dan tidak berani mengatakan pendapatnya sendiri. Atau bahkan
> > > > bertarung dengan musuh si Idola.. Karena si idola bermusuhan
> > > > dengannya.
> > > >
> > > > Dalam politik seperti Kapitalisme melawan Komunisme dalam perang
> > > > dingin berapa puluh tahun yang lalu, seseorang yang memilih blok
> > > > kapitalisme menjadi lebih cenderung individualis karena 'yang kaya
> > > > makin kaya karena berusaha' dan 'yang miskin semakin miskin juga
> > > > karena berusaha tapi tidak ada modal'. Dimana dalam komunisme 'yang
> > > > kaya adalah negara dan orang kesejahteraan orang banyak diatur oleh
> > > > negara'.. Dan tentu saja yang kaya adalah orang-orang pemerintahan.
> > > > Jadi apabila dalam politik Komunisme satu-satunya caranya agar anda
> > > > kaya dan sejahtera adalah dengan menjadi Penjilat Pemerintah.
> > > > Sedangkan dalam politik Kapitalisme.. Satu-satunya cara agar anda
> > > > kaya dan sejahtera adalah dengan menjadi Penjilat Pemilik Modal
> > > > (penguasa, perusahaan besar, dan Orang-Orang Yang Dikultuskan)
> > > >
> > > > Yang Minus dari Politik adalah kita kehilangan kemampuan untuk
> > > > menganalisa berdasarkan perasaan dan sudut pandang kita sendiri.
> > > > Karena apabila anda masuk dalam suatu partai politik atau golongan
> > > > isme (ajaran) politik tertentu maka.. Anda akan didogmakan,
> > > > didongeng dan doktrinkan.. Tentang kekurangan-kekurangan partai
> > > > politik lainnya.. Begitu juga didogmakan, didongeng dan doktrinkan
> > > > kelebihan dari partai politik dan golongan isme (ajaran) politik
> > > > yang kita anut.
> > > >
> > > > Kebanggaan politik yang kita anut tidak ada bedanya dengan seorang
> > > > borjuis yang membanggakan rumah atau mobil yang dimilikinya.
> > > > Kebanggaan ajaran atau isme yang kita anut tidak ada bedanya dengan
> > > > ras yang kita banggakan karena mampu bertahan di berbagai belahan
> > > > dunia (termasuk budaya yang tidak terkontaminasi). Kebanggaan
> > > > kekasih yang kita miliki entah karena fisik atau intelegensi tidak
> > > > ada bedanya dengan pengkultusan idola yang seakan tidak bertambah
> > > > tua dan jelek karena foto yang kita simpan dari internet
> > > > atau : 'jepretan kita sendiri'.
> > > >
> > > > Maka apakah Gerakan Antikultus adalah sebuah gerakan politik.
> > > > Jawabannya adalah tidak karena kita terus mengkritisi siapa yang
> > > > kita idolakan. Siapa yang kita kultuskan.. Sampai kita tidak perlu
> > > > lagi mengutip kata-kata mereka atau individu tersebut.. Atau cara
> > > > paling aman adalah dengan memahami kata-kata mereka atau individu
> > > > tersebut.. Dan mulai bicara esensi atau makna yang sama denga gaya
> > > > bahasa sendiri. Atau dengan kata lain : Pendapat.
> > > >
> > > > " Karena apabila pertentangan pendapat antara kamu dan orang lain..
> > > > Adalah bukti nyata bahwa masih ada tokoh idola (yang terkultuskan
> > > > terselubung)."
> > > >
> > > > "Sebab demokrasi menurut saya adalah kebebasan berpendapat. Namun
> > > > apabila seseorang kehilangan kebebasan berpendapat karena pihak
> > > > lain, karena caci maki, teror, maka demokrasi lagi-lagi hanyalah
> > > > teori semu."
> > > >
> > > > "Dan beranikah kalian mengatakan sesuatu dari orang yang kamu
> > > > kultuskan berdasarkan pemahamanmu sendiri? Dan dengan gaya bahasamu
> > > > sendiri, tanpa menjadikan dirimu tokoh untuk dikultuskan bagi orang-
> > > > orang yang belum mengetahui sejauh kamu mengetahui diri atau
> > > > kelompoknya?"
> > > >
> > > > --- End forwarded message ---
> > > >
> > > > join this group :
> > > >
> > > > http://groups. <http://groups.
> <http://groups.yahoo.com/group/gerakan_antikultus/>
> yahoo.com/group/gerakan_antikultus/>
> > > > yahoo.com/group/gerakan_antikultus/
> > > >
> > >
> > >
> > >
> >
>


Sent from Yahoo! - a smarter inbox.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Your school could

win a $25K donation.

Y! Messenger

Instant smiles

Share photos while

you IM friends.

Weight Loss Group

on Yahoo! Groups

Get support and

make friends online.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Catatan Remaja 80-an

warrior, sepatu untuk sahabat

CATATAN REMAJA 80-AN

Judul WARRIOR: Sepatu untuk Sahabat
Pengarang Arie Saptadji
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Desember 2007
177 hal
Ragam Sastra Teenlit

Dari bumi Ngadirejo ini, ke langit mana engkau akan mengangkasa
meraih
bintangmu, Sri?(hal 57)

Ke langit yang bersahaja tanpa bintang-bintang. Asalkan tidak
mendung dan
hujan, cukuplah. Begitulah cita-cita sederhana seorang remaja dari
desa.

Membaca buku ini saya jadi teringat Children of Heaven, film tentang
anak
terbaik produksi Iran yang diputar dalam Jiffest beberapa tahun lalu.
Kisahnya mirip, anak yang mendaftar untuk ikut lomba lari karena
hadiahnya
adalah sepatu baru, yang akan dia hadiahnya kepada adiknya.

Ceritanya sederhana. Dibuka dengan kisah Sri Suryani, siswi kelas 2
SMP
Negeri Ngadirejo, yang khawatir ketika ia terpilih menjadi salah satu
anggota lomba gerak jalan sekabupaten Temanggung. Apa masalahnya?Ya
itu
tadi. Sepatu. Sepatunya bolong. Kalau dipakai latihan, tampilan
sepatunya
pasti lebih buruk di hari H. Ia perlu sepatu baru. Sepatu Warrior,
yang
tahun 80-an adalah sepatu yang mungkin paling popular di seluruh
sekolah
di nusantara ini. Sepatu hitam dengan bahan kain, berhak nyaris rata,
dengan tali putih.

Untuk membeli yang baru, rasanya berat. Tentu saja. Sri anak yatim.
Ibunya
seorang penjual ketan, lopis, tiwul, gerontol (penganan dari jagung
yang
direbus), dan sesekali menerima upah cuci setrika tetangga. Mereka
tinggal
di rumah yang hanya sekamar luasnya, dengan lantai tanah yang sudah
mengeras
Tapi Sri tidak putus asa. Ia bertekad untuk membeli sepatu dari hasil
keringatnya sendiri. Pintu demi pintu terbuka. Lika-liku hingga
akhirnya
ia mendapatkan sepatu itu, sungguh klasik dan lembut, mengharukan.
Seperti
yang dikatakan Paulo Coelho, ketika seseorang bertekad untuk meraih
sesuatu, alam semesta akan dengan serta-merta berkompromi untuk
membantu.

Dunia yang damai
Remaja menempati sisi dunia yang aktif, dipenuhi kegembiraan dan
kenakalan
khas yang dimaklumi orang dewasa. Di tangan seorang Arie Saptajie,
remaja
ada di dunia yang damai dan menyenangkan. Yang baik akan diberi
penghargaan, yang nakal akan dihukum. Arie rajin berpesan moral. Ia
melukiskan persahabatan indah Sri dan Lisa yang berjalan mulus,
nyaris
tanpa konflik. Kesabaran Sri yang teguh dalam menanti apa yang
diperlukan,
melukiskan kebersahajaan khas orang kecil yang sadar diri akan
keterbatasannya.

Ada tokoh antagonis, yaitu Titin. Sebenarnya bila tokoh ini dibangun
sebaik Sri, mungkin akan lebih mempertegas hitam putih cerita. Namun
sayang, ia dimunculkan sekedarnya. Tiba-tiba menjadi pecundang ketika
menolak Lisa yang meminta untuk meminjamkan sepatu Warriornya untuk
Sri.
Titin pun `dihukum'.

Arie memilih bahasa yang sopan dan anggun untuk ukuran remaja
sekarang,
dibandingkan majalah remaja Gadis, Aneka, Hai, misalnya. Memang jadi
terkesan membosankan. Namun kelebihan Arie, ia menghadirkan istilah
dan
suasana Jawa yang kental, sehingga memberi kedekatan tertentu pada
masyarakat tertentu. Bukan itu saja. Dengan cara menggiurkan
pengarang
asli Yogya ini mencatat kuliner khas sego gono atau empis-empis -
hidangan
serbalombok yang dicampur tempe bongkrek, tahu, ikan asin.

Catatan remaja 80-an
Secara emosi, saya curiga buku ini terlalu `canggih' untuk remaja,
secara
ia termasuk pada ragam teenlit. Kisah ulang peluncuran pesawat
Discovery
ke angkasa tahun 1985, apakah menarik bagi remaja sekarang? Atau
tokoh
Adam Malik dengan `Semua bisa diatur'-nya yang popular waktu itu atau
pelari Jesse Owen, sprinter Purnomo, Kartini, Indira Gandhi?

Belum lagi pilihan kata yang tergolong `tinggi' bagi remaja seperti
cergas, bernas, memunggah, kampium, menukilkan, zaman edan,
berdompol-dompol, sumarah, legawa, cangkriman, pitik walik,
membuhulkan,
jembar, didapuk, mencatu.

Saya berpikir orang dewasa yang masa remajanya sekitar tahun 80-an,
mungkin akan tersenyum geli saat diingatkan lagu Untuk Sebuah Nama
yang
dilantunkan (almarhum) Pance Pondaag atau iklan `Epilepsi, bukan
penyakit
turunan dan tidak menular', lalu, ajakah `Kita main bola lagi yuk,
Di!'.
Atau juga jargon mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan
olahraga
atau istilah GN-OTA.

Bagi remaja masa kini, mungkin hatinya takkan tergetar saat
mengetahui
harga sepatu Warrior yang diimpikan Sri `hanya' berharga 8 ribu
rupiah,
yang bahkan tidak cukup untuk membeli satu pake nasi di Mc Donald's.
Bagaimana pun, buku ini tetap asyik untuk dibaca. Seperti pendapat
Luna
Torashyngu, salah satu endorser buku ini, ini adalah karya klasik
untuk
remaja.

ita siregar, jan 2008

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Your school could

win a $25K donation.

Yahoo! Groups

Endurance Zone

A Yahoo! Group

for better endurance.

Women of Curves

on Yahoo! Groups

see how women are

changing their lives.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Gerakan Anti Kultus Bukanlah Gerakan Politik!

Quote: ... Good point mas. Kata kuncinya adalah "kepentingan", "interest"...saya lebih suka definisikan secara esensial politik sebagai "aktifitas untuk memperjuangkan interest"... End of quote.

TuHanTu: Mas Anwar... Memang betul bahwa tak ada satupun manusia yang bebas dari interrest individual... Bahwa sekalipun ada manusia yg memilih hidup dalam keterasingan roda modernisasi, tetap ada interrest melekat dalam dirinya bukan? Sejauh mana interrset itu bermain? tak ada tolok ukur yang konkrit...

Bahwasanya interrest individual tersebut berusaha diseimbangkan/disinergikan dengan interrest lingkungan (masyarakat) itu soal lain... Tapi yang jelas bahwa saya, kita dan Anda sekalian dimanapun berada, adalah sekumpulan interrest-interrest yg bukan tidak mungkin punya keterkaitan satu sama lain... Cuman ada yg masuk dalam bingkai simbol-simbol (berbentuk agama, partai, ideologi)... Ada yang berusaha diluar dari bingkai tersebut... (tetap berada dalam penyimbolan tersendiri) ... But still can we called it as,  politis? YA...! Like I said, everything is a DEAL...

Dengan menyadari bahwa segala sesuatu adalah DEAL-DEAL, maka kemungkinan merajut interrest individual tersebut menjadi interrest kolektif kemungkinan besar bisa terjadi... Tidak hanya dalam ber-politik praktis...

Seorang Peminum Kopi seperti saya harus menanamkan bahwa segala sesuatu adalah DEAL-DEAL. Dan hanya dengan memahami hal tersebut, saya tidak mudah untuk marah dan berkoar-koar apalagi kalap di jalanan berdemonstrasi yg destruktif, karena kebijakan yang tidak memihak kepentingan saya (misalkan)

Pilihannya -antara lain- adalah:

1. Passive. Karena tahu dan memahami bahwa semua Petinggi dan Elit Birokrat hanyalah sekumpulan interrest pribadi yang ter-manifestasi secara kolektif.

2. Aktif. Yakni, berusaha masuk dalam sistem (dalam skala tertentu), dalam skala waktu tertentu. Sekalipun berada di luar penyimbolan partai/jabatan/status tertentu.

3. Being a coward (Pengecut) Dengan meninggalkan lingkungan/tempat tersebut dan mencari lingkungan tempat lain... ;-)

Be Fun

TuHanTu

http://hole-spirit.blogspot.com

 



--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "Anwar Haryono" <aharyono@...> wrote:
>
> "Ketika orang sudah "berbicara" bagaimana sebaiknya, bagaimana
> seharusnya, kudu begini kudu begitu, dengan berbagai kepentingannya
> disitulah sudah masuk wilayah politik."
>
>
>
> Anwar:
>
>
>
> Good point mas. Kata kuncinya adalah "kepentingan", "interest"...saya lebih
> suka definisikan secara esensial politik sebagai "aktifitas untuk
> memperjuangkan interest"
>
>
>
> seharusnya "politik" harus diterima apa adanya sebagai bagian dari
> kemanusiaan kita.menafikkan adanya kepentingan dalam setiap tindakan kita
> hanya akan membuat kita, maaf, tanpa sadar jadi munafik.
>
>
>
> dalam hal ini ada 2 aspek:
>
> 1. buat yang munafik, cap stigma negative pada politik hanya akan jadi
> pelarian atau pencarian kambing hitam...merasa "bersih", lupa bahwa setiap
> saat semua kita gak akan lepas dari berpolitik
>
> 2. buat yang memang niatnya maling, sepakat rame2 bahwa jalur politik formal
> yang paling ampuh.yang ini biasanya otomatis munafik juga, lain kulit lain
> isi.lain omongan lain tindakan..dst.
>
>
>
> Dan alhamdulillah, keduanya sedang nge-trend2nya di negeri tercinta
> ini.he..h.e..
>
>
>
> Masalah apakah "gerakan anti kultus adalah gerakan politik" atau
> bukan....sama saja dengan misalnya: "anti konsep, adalah konsep jugak"
>
>
>
> Salam,
>
> Anwar
>
>
>
> _____
>
> From: psikologi_transformatif@yahoogroups.com
> [mailto:psikologi_transformatif@yahoogroups.com] On Behalf Of gotholoco
> Sent: Thursday, January 03, 2008 4:43 PM
> To: psikologi_transformatif@yahoogroups.com
> Subject: [psikologi_transformatif] Re: Gerakan Anti Kultus Bukanlah Gerakan
> Politik!
>
>
>
> Ketika orang sudah "berbicara" bagaimana sebaiknya, bagaimana
> seharusnya, kudu begini kudu begitu, dengan berbagai kepentingannya
> disitulah sudah masuk wilayah politik.
>
> Warisan Orde Baru yang telah meracuni bahwa berpolitik itu kotor,
> berpolitik itu haram, berpolitik itu najis. Yang hanya boleh
> berpolitik itu hanya kaum elit penguasa saja.(dulu dwifungsi ABRI).
>
> Karena kesadaran berpolitik sudah dicuci 'bersih' (apa kotor?) oleh
> Orde Baru selama 30 tahun lebih, maka pendidikan politik dan etika
> politik di Indonesia sangat miskin atau minim sekali.
>
> Buktinya sekarang ini PILKADAL selalu disertai dengan KERIBUTAN atau
> KERICUHAN di Daerah-daerah dimanapun Pilkadal dilakukan.
>
> Belum siap berbeda pendapat, rebutan jadi pemimpin, dan pemimpin yang
> memanfaatkan masyarakat bodoh(massa menggambang) untuk menggalang
> dukungan dengan otot bukan dengan otak.
>
> Berbeda pendapat masih selalu berakhir dengan kekerasan fisik.
>
> gotho
>
> --- In psikologi_transform
> <mailto:psikologi_transformatif%40yahoogroups.com> atif@yahoogroups.com,
> pradita@ wrote:
> >
> > Saya khawatir Anda merancukan makna 'politik' dan 'ideologi'. Secara
> sangat
> > sederhana, 'politik' bisa diartikan sebagai 'cara untuk mencapai
> kekuasaan'
> > (dalam arti luas, bukan cuma sebatas 'kekuasaan negara'). Jadi kalau
> ada yang
> > mengklaim berpolitik tapi sasarannya bukan kekuasaan, maka dia pasti
> bo'ong
> > besar, atau dia salah kaprah dalam memakai istilah 'politik'.
> >
> > Kalau sesuatu yang mengarahkan kesadaran kita dengan cara tertentu
> sehingga
> > terjadi distorsi atas realitas dalam kesadaran kita, itu namanya
> 'ideologi'.
> >
> > manneke
> >
> > Quoting tinta_negatif tinta_negatif@:
> >
> > > Politik itu apa sih? Coba yang ini dulu deh
> > >
> > > sesuatu yang tertanam dalam diri seperti pemikiran dimana.. di
> ruang atau
> > > waktu mana pun kita tidak lagi mampu menilai segala sesuatu
> berdasarkan..
> > > apa yang terjadi pada ruang waktu tersebut. Pada benda-benda yang
> > > menunjukkan dirinya sendiri. Atau pun mahluk hidup. Politik
> membuat kita
> > > kehilangan kemampuan untuk menganalisa.. karena kita sudah
> memiliki agenda.
> > > Memiliki sebuah pemahaman terhadap segala sesuatu yang kita
> pikirkan..
> > > namun belum dibuktikan dalam kenyataan. Atau belum mengalaminya..
> > > Politik! Membuat kita kehilangn untuk merasa
> > >
> > > --- In psikologi_transform
> <mailto:psikologi_transformatif%40yahoogroups.com> atif@yahoogroups.com,
> "Anwar Haryono"
> > > <aharyono@> wrote:
> > > >
> > > > Kutipan para.2 yang di breakdown:
> > > >
> > > > 1. Gerakan Anti Kultus bukanlah Gerakan Politik.
> > > >
> > > > 2. Karena politik itu sendiri Mewakili kelompok, isme, atau pun
> golongan.
> > > >
> > > > 3. Sedangkan Anti Kultus Bertujuan untuk mengkritisi itu semua
> (kelompok,
> > > > isme,
> > > > nasionalis, isme atau pun Golongan). "
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > Anwar:
> > > >
> > > > "Anti kultus" itu adalah bukannya juga kelompok/golongan.berarti
> kalimat
> > > no
> > > > 2 di atas bisa ditulis ulang menjadi: "karena politik itu
> sendiri mewakili
> > > > anti kultus".jadi anti kultus berpolitik juga dong.
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > Politik itu apa sih? Coba yang ini dulu deh
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > Salam,
> > > >
> > > > anwar
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > _____
> > > >
> > > > From: psikologi_transform
> <mailto:psikologi_transformatif%40yahoogroups.com> atif@yahoogroups.com
> > > > [mailto:psikologi_transform
> <mailto:psikologi_transformatif%40yahoogroups.com> atif@yahoogroups.com] On
> Behalf Of
> > > tinta_negatif
> > > > Sent: Wednesday, January 02, 2008 7:53 PM
> > > > To: vincentliong@ <mailto:vincentliong%40yahoogroups.com>
> yahoogroups.com; komunikasi_empati@
> <mailto:komunikasi_empati%40yahoogroups.com> yahoogroups.com;
> > > > psikologi_transform <mailto:psikologi_transformatif%40yahoogroups.com>
> atif@yahoogroups.com
> > > > Subject: [psikologi_transformatif] Fwd: Gerakan Anti Kultus
> Bukanlah
> > > Gerakan
> > > > Politik!
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > --- In gerakan_antikultus@
> <mailto:gerakan_antikultus%40yahoogroups.com>
> > > > yahoogroups.com, "tinta_negatif"
> > > > <tinta_negatif@> wrote:
> > > >
> > > > Gerakan Anti Kultus Bukanlah Gerakan Politik!
> > > >
> > > > Gerakan Anti Kultus bukanlah Gerakan Politik. Karena politik itu
> > > > sendiri Mewakili kelompok, isme, atau pun golongan. Sedangkan Anti
> > > > Kultus Bertujuan untuk mengkritisi itu semua (kelompok, isme,
> > > > nasionalis, isme atau pun Golongan).
> > > >
> > > > Sebelum membahas lebih jauh tentang Gerakan Anti Kultus bukanlah
> > > > Gerakan Politik.. Mari kita cermati bagaimana terciptanya sebuah
> > > > kelompok, isme, atau pun golongan. Berawal dari satu tokoh atau
> > > > individu yang berjasa pada lingkungan sekitarnya. Tokoh atau
> > > > individu itu tersebut kemudian mati. Kematiannya kemudian dilebih-
> > > > lebihkan dalam rangka menghormati jasa-jasanya, dan agar para cucu
> > > > kemudian mencontoh dan menjadikan si Tokoh dan Individu sebagai
> > > > panutan. Cara paling mudah menjawab pertanyaan para cucu-cucu yang
> > > > lahir ratusan tahun kemudian tentang si Pahlawan.. Adalah dengan
> > > > membuatkan Patung.
> > > >
> > > > "Kek.. Emang pahlawan kita seperti apa sih bentuknya."
> > > >
> > > > "Lihat saja ke taman tengah kota.. Dia berdiri tegak tanpa lapar
> dan
> > > > dahaga?"
> > > >
> > > > "Bagaimana bisa?"
> > > >
> > > > "Karena mereka patung?"
> > > >
> > > > "Apakah mereka benda mati."
> > > >
> > > > "Itu tidak penting, karena ketika masih hidup.. Itulah yang mesti
> > > > kita pelajari?"
> > > >
> > > > "Tapi bagaimana caranya patung itu berbicara?"
> > > >
> > > > "Ah, gayamu seperti Ibrahim (cucu Adam) saja.."
> > > >
> > > > Namun dengan kelahiran fotografi (kemampuan merekam gambar diam)
> dan
> > > > juga sinematografi (kemampuan merekam gambar bergerak), maka
> > > > pengkultusan akan semakin mudah dilakukan. Seseorang bisa menaruh
> > > > poster idola atau bahkan foto idola beserta tanda tangan, 'hanya
> > > > karena apa yang dikaryakan' mewakili perasaan, ideologi atau pun
> > > > pemikiran kamu atau kalian. Ini tentu saja pukulan mundur bagi
> > > > individu apabila kemudian.. Individu mulai mengutip kata-kata si
> > > > idola. Dan tidak berani mengatakan pendapatnya sendiri. Atau bahkan
> > > > bertarung dengan musuh si Idola.. Karena si idola bermusuhan
> > > > dengannya.
> > > >
> > > > Dalam politik seperti Kapitalisme melawan Komunisme dalam perang
> > > > dingin berapa puluh tahun yang lalu, seseorang yang memilih blok
> > > > kapitalisme menjadi lebih cenderung individualis karena 'yang kaya
> > > > makin kaya karena berusaha' dan 'yang miskin semakin miskin juga
> > > > karena berusaha tapi tidak ada modal'. Dimana dalam komunisme 'yang
> > > > kaya adalah negara dan orang kesejahteraan orang banyak diatur oleh
> > > > negara'.. Dan tentu saja yang kaya adalah orang-orang pemerintahan.
> > > > Jadi apabila dalam politik Komunisme satu-satunya caranya agar anda
> > > > kaya dan sejahtera adalah dengan menjadi Penjilat Pemerintah.
> > > > Sedangkan dalam politik Kapitalisme.. Satu-satunya cara agar anda
> > > > kaya dan sejahtera adalah dengan menjadi Penjilat Pemilik Modal
> > > > (penguasa, perusahaan besar, dan Orang-Orang Yang Dikultuskan)
> > > >
> > > > Yang Minus dari Politik adalah kita kehilangan kemampuan untuk
> > > > menganalisa berdasarkan perasaan dan sudut pandang kita sendiri.
> > > > Karena apabila anda masuk dalam suatu partai politik atau golongan
> > > > isme (ajaran) politik tertentu maka.. Anda akan didogmakan,
> > > > didongeng dan doktrinkan.. Tentang kekurangan-kekurangan partai
> > > > politik lainnya.. Begitu juga didogmakan, didongeng dan doktrinkan
> > > > kelebihan dari partai politik dan golongan isme (ajaran) politik
> > > > yang kita anut.
> > > >
> > > > Kebanggaan politik yang kita anut tidak ada bedanya dengan seorang
> > > > borjuis yang membanggakan rumah atau mobil yang dimilikinya.
> > > > Kebanggaan ajaran atau isme yang kita anut tidak ada bedanya dengan
> > > > ras yang kita banggakan karena mampu bertahan di berbagai belahan
> > > > dunia (termasuk budaya yang tidak terkontaminasi). Kebanggaan
> > > > kekasih yang kita miliki entah karena fisik atau intelegensi tidak
> > > > ada bedanya dengan pengkultusan idola yang seakan tidak bertambah
> > > > tua dan jelek karena foto yang kita simpan dari internet
> > > > atau : 'jepretan kita sendiri'.
> > > >
> > > > Maka apakah Gerakan Antikultus adalah sebuah gerakan politik.
> > > > Jawabannya adalah tidak karena kita terus mengkritisi siapa yang
> > > > kita idolakan. Siapa yang kita kultuskan.. Sampai kita tidak perlu
> > > > lagi mengutip kata-kata mereka atau individu tersebut.. Atau cara
> > > > paling aman adalah dengan memahami kata-kata mereka atau individu
> > > > tersebut.. Dan mulai bicara esensi atau makna yang sama denga gaya
> > > > bahasa sendiri. Atau dengan kata lain : Pendapat.
> > > >
> > > > " Karena apabila pertentangan pendapat antara kamu dan orang lain..
> > > > Adalah bukti nyata bahwa masih ada tokoh idola (yang terkultuskan
> > > > terselubung)."
> > > >
> > > > "Sebab demokrasi menurut saya adalah kebebasan berpendapat. Namun
> > > > apabila seseorang kehilangan kebebasan berpendapat karena pihak
> > > > lain, karena caci maki, teror, maka demokrasi lagi-lagi hanyalah
> > > > teori semu."
> > > >
> > > > "Dan beranikah kalian mengatakan sesuatu dari orang yang kamu
> > > > kultuskan berdasarkan pemahamanmu sendiri? Dan dengan gaya bahasamu
> > > > sendiri, tanpa menjadikan dirimu tokoh untuk dikultuskan bagi orang-
> > > > orang yang belum mengetahui sejauh kamu mengetahui diri atau
> > > > kelompoknya?"
> > > >
> > > > --- End forwarded message ---
> > > >
> > > > join this group :
> > > >
> > > > http://groups. <http://groups.
> <http://groups.yahoo.com/group/gerakan_antikultus/>
> yahoo.com/group/gerakan_antikultus/>
> > > > yahoo.com/group/gerakan_antikultus/
> > > >
> > >
> > >
> > >
> >
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Be a career mentor

for undergrads.

Y! Messenger

Files to share?

Send up to 1GB of

files in an IM.

Move More

on Yahoo! Groups

This is your life

not a phys-ed class.

.

__,_._,___

[beasiswa] [info] PhD Studentships in Public Health/Community Based Medicine - University of Bristol

PhD Studentship


Department of Community Based Medicine


The Department of Community Based Medicine comprises the Academic Units
of Primary Health Care, Psychiatry, Community Child & Adolescent Health,
and Ethics in Medicine. http://bristol.ac.uk/cobm/


The Department is eligible to apply for studentships of three/four years
duration from a variety of sources: University of Bristol, MRC, ORS and
DHPA. Award of these studentships is made by Faculty or University
Selection Panels.

Applications are invited from graduates with good Honours or Masters
degrees in relevant disciplines (epidemiology/ sociology/ psychology/
statistics/ economics/ neuroscience/ pharmacology/ clinical medicine
applied to clinical/methodological issues in priority research areas)
for nomination for PhD studentships tenable from October 2008.

Further details of funding schemes, including eligibility can be found
here: http://www.bris.ac.uk/studentfunding/


Further information about the department and proposed projects, and how
to apply, is available here:
http://bristol.ac.uk/cobm/docs/cobm_phd_2008.doc


Applications must be sent to:
Ms Jessica Blissett, Department of Community Based Medicine, University
of Bristol, 25 Belgrave Road, Bristol BS8 2AA. Telephone: 0117 331 3865,
Email: Jessica.Blissett@bristol.ac.uk

Closing date for applications for all funding schemes: 5pm on Friday 8
February 2008

Dono Widiatmoko

Senior Lecturer,

Programme Leader for the Master of Public Health and Society

Centre for Public Health Research

University of Salford

Salford M6 6PU - United Kingdom

Phone : + 44 - 161 - 295 2815

Fax : + 44 - 161 - 295 2825

email : d.widiatmoko@salford.ac.uk

http://www.ihscr.salford.ac.uk/CPHR

[Non-text portions of this message have been removed]

INFO, TIPS BEASISWA, FAQ - ADS
Hanya ada di http://www.milisbeasiswa.com/

===============================

CARI KERJA?
Gabung dengan milis vacancy. Kirim email kosong ke vacancy-subscribe@yahoogroups.com.
http://www.groups.yahoo.com/group/vacancy

===============================

INGIN KELUAR DARI MILIS BEASISWA?
Kirim email kosong ke beasiswa-unsubscribe@yahoogroups.com
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:

http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:

http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/join

(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:beasiswa-digest@yahoogroups.com
mailto:beasiswa-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
beasiswa-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

http://docs.yahoo.com/info/terms/