Minggu, 18 November 2007

[psikologi_transformatif] Re: “Ilmiah” sesuai pesanan anda ?!

Mas Manneke dan Mas Alex,

Sejarah yang cukup panjang dalam perkembangan psikologi menunjukkan wajah psikologi itu sendiri sangat beragam, tidak bisa digeneralisasi. Dari 4 aliran besar yang berkembang dalam psikologi (psikoanalisa, behavioristik, humanistik dan transpersonal), sejauh pengetahuan saya, behavioristiklah yang paling dekat dan paling banyak mengadopsi metode dan teknik-teknik ilmu alam.

Sejarah perkembangan behavioristik sendiri, sebenarnya agak berbeda dengan "kulit" yang banyak dikenal selama ini. Sebagai contoh, kalau kita kaji pemikiran-pemikirannya BF Skinner, maka akan kita dapatkan gambaran bahwa Skinner yang tadinya dikenal sebagai penganut positivisme Machian (mengadopsi induktifime anti metafisik dari Mach) dan bersikap positif terhadap pandangan Bridgman (1927) serta Carnap (1932), justru berbalik arah setelah bertemu Carnap pada tahun 1936. Skinner menilai bahwa operasionisme Bridgman dan empirisme logis Carnap terlalu formal dan fisikalistik. Setelah pertemuan itu, Skinner justru mengabaikan kedua pendekatan tersebut. Selain itu, Skinner juga tidak pernah mau menggunakan teknik-teknik penghitungan statistika.

Dengan gambaran seperti itu, dapatlah dikatakan bahwa pada awal perkembangan psikologi, banyak tokoh-tokoh psikologi justru agak menjaga jarak dengan teknik-tenik ilmu alam. Walaupun demikian, perkembangan pesat behaviorisme menyebabkan perhatian terhadap mentalisme jadi berkurang.  Sejumlah tokoh menilai bahwa behavioristik (dan juga psikoanalisa) bersifat reduksionistik, mekanistik dan mengabaikan unsur kemanusiaan (dehumanizing) dalam melihat manusia secara keseluruhan. Waters (1958) menyindir hal tersebut dengan mengatakan "American psychology first lost its soul, then its mind, and finally its consciousness, but it still behaved". :)))))


> Manneke:
> Makasih Alex atas tambahannya. Saya setuju dengan point Anda soal kelatahan
> ilmuwan sosial itu. Gara-gara ngebet ingin diakui kelimuannya, lalu memaksa dri
> mengadopsi stadar-standar keilmiahan ilmu alam. Sebagai orang luar, saya kok
> agak cemas memperhatikan perkembangan ilmu psikologi mutakhir, yang makin lama
> makin meng-IPA. Semuanya dibuatkan meterannya (psikometrik), seolah manusia
> bisa diklasifikasi dan diukur secara eksak, lalu disimpulkan siapa dia.
> Sementara psikolog-psikolog yang tak terlalu ketagihan meteran, seperti Jung
> dan Freud, yang berusaha menyelam lebih jauh ke dalam "jiwa" manusia yang tak
> terukur secara kuantitaif, malah nggak laku.
>


harez:
Setahu saya, model psikoanalisa, psikologi humanistik dan psikologi transpersonal dengan ciri fenomenologinya yang relatif besar unsur subyektifitasnya lebih banyak memiliki peran dalam  klinik. Sementara itu, model pendekatan behavioristik dan psikologi kognitif lebih banyak berpengaruh dalam bidang akademis. Beberapa kondisi nyata yang menyebabkan kurang berkembangnya model-model psikologi klinik antara lain adalah:

1. Howard Gardner (1985) mengemukakanbahwa pendekatan multidisiplin seperti dalam cognitive sciencemenyebabkan psikologi (khususnya psikologi kognitif) akan terlebur danterserap. Lebih lanjut ia mengemukakan bahwa bidang-bidang psikologilainnya akan terbatas pada berbagai aktifitas terapan (di klinik,lembaga pendidikan dan perusahaan), dan sedikit sekali studi tentangkepribadian dan motivasi.

2. Berkembang pesatnya kebutuhan akan psikologi dunia usaha/industri dan pendidikan, dimana unsur "kecepatan", "efisiensi" dan "standardisasi"  seringkali menjadi pertimbangan utama.

3. Imbalan dan dana pada
dunia usaha/industri dan pendidikan relatif lebih besar jika dibandingkan dengan bidang klinik, sehingga relatif lebih banyak sarjana psikologi yang akhirnya terjun dan menekuni bidang ini.

Ke tiga hal tersebut kiranya dapat menggambarkan secara garis besar, mengapa apa yang disebut Mas Manneke sebagai "meteran" menjadi lebih laku dibanding yang "tidak terlalu ketagihan dibuatkan meteran".

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut antara lain adalah mengembangkan dan menawarkan "employee assistance program" (EAP) kepada perusahaan. Pada prinsipnya, EAP adalah "klinik psikologi" yang berada di lingkungan perusahaan/organisasi yang fungsinya sebagai "klinik kesehatan mental" yang diharapkan dapat mendampingi "klinik kesehatan fisik" yang pada umumnya secara nyata sudah ada dan bahkan merupakan kewajiban perusahaan dalam bentuk tunjangan/asuransi kesehatan. Namun, masih diperlukan banyak upaya agar EAP ini dapat berkembang dan diterapkan di perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Apabila EAP dapat berkembang, maka minat orang untuk mendalami kajian/prinsip/teori-teori model klinik diperkirakan akan berkembang dan meningkat pula. Pada akhirnya, hal-hal tersebut diharapkan memberikan "nuansa lain" terhadap perkembangan psikologi, khususnya di Indonesia.

Topik/masalah inilah yang saya ajukan dalam tugas akhir saya di pasca psi UI, sebagai salah satu alternatif solusi praktis untuk pengembangan psikologi di Indonesia. :)

salam,
harez

NB:
Tes-tes proyektif pada dasarnya dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip psikoanalisa. MBTI sebagai salah satu tes yang cukup banyak dipakai saat ini, dikembangkan berdasarkan teorinya Jung.


--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, pradita@... wrote:
>
> Makasih Alex atas tambahannya. Saya setuju dengan point Anda soal kelatahan
> ilmuwan sosial itu. Gara-gara ngebet ingin diakui kelimuannya, lalu memaksa dri
> mengadopsi stadar-standar keilmiahan ilmu alam. Sebagai orang luar, saya kok
> agak cemas memperhatikan perkembangan ilmu psikologi mutakhir, yang makin lama
> makin meng-IPA. Semuanya dibuatkan meterannya (psikometrik), seolah manusia
> bisa diklasifikasi dan diukur secara eksak, lalu disimpulkan siapa dia.
> Sementara psikolog-psikolog yang tak terlalu ketagihan meteran, seperti Jung
> dan Freud, yang berusaha menyelam lebih jauh ke dalam "jiwa" manusia yang tak
> terukur secara kuantitaif, malah nggak laku.
>
> Saya mungkin salah menilai psikologi, berhubung saya orang awam dalam bidang
> ini. Jadi, jika ada rekan-rekan dari psikologi yang bersedia meluruskan atau
> mengisahkan lebih lanjut soal ini, saya amat berterima kasih. Dengan harapan,
> semoga tak ada yang tersinggung. Ini dimaksudkan untuk saling belajar, bukan
> mengkritik ilmu psikologi. Kalau saya keliru, itu karena ketidaktahuan, bukan
> niat jelek.
>
> manneke
>
> Quoting Alexander alexanderkhoe@...:
>
> >
> > Pak, indigo ini memang tidak tahu apa yang telah ditulisnya... paling
> > itu uraian dari ci... jadi tidak usah dikomentari saja.
> >
> > Tetapi perbedaan pokok antara sains sosial dan alam memang ada, yaitu
> > perbedaan relasi antara dunia konseptual dan dunia nyata yang diamati.
> > Karena dalam sains alam yang dominan adalah: dunia nyata akan
> > mempengaruhi dunia konseptual (Persepsi-->Konsep) dan ini dituangkan
> > dalam metode ilmiah yang baku beserta alat matematika yang digunakan.
> > Sedangkan dalam sains sosial ada proses terbalik yang signifikan yaitu
> > pengaruh dunia konseptual yang diciptakan ke dalam dunia nyata yang
> > diamati (Konsep --> Konsepsi). Contohnya adalah penerapan Konsep
> > Marxisme yang kemudian mau tidak mau akan mempengaruhi realitas ekonomi
> > dan psikologis. Sayangnya Sains sosial masih mengadaptasi metode ilmiah
> > dari sains alam berikut filosofi alat matematikanya. Hal ini merupakan
> > kelemahan utama Sains sosial, sehingga sampai saat ini belum dapat
> > menghasilkan teori dan konsep yang konvergen. Akibatnya dalam sains
> > sosial, kemampuan prediksinya masih lemah sampai saat ini.
> >
> > [Btw definisi dari istilah sains=science itu sendiri sebenarnya hanya
> > sesuai untuk sains alam saja. Karena dalam Sains sosial seperti ekonomi
> > dan psikologi, fenomena yang teramati tidak benar-benar bersifat
> > berulang (kalimat dalam bold perlu dipertanyakan)]
> >
> > ----------------------------------------
> >
> > Science (from the Latin scientia, 'knowledge'), in the broadest sense,
> > refers to any systematic knowledge or practice.[1] In a more restricted
> > sense, science refers to a system of acquiring knowledge based on the
> > scientific method, as well as to the organized body of knowledge gained
> > through such research.[2][3] This article focuses on the more restricted
> > use of the word.
> >
> > Fields of science are commonly classified along two major lines:
> >
> > Natural sciences, which study natural phenomena (including biological
> > life), and
> > Social sciences, which study human behavior and societies.
> > These groupings are empirical sciences, which means the knowledge must
> > be based on observable phenomena and capable of being experimented for
> > its validity by other researchers working under the same conditions
> >

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

new professional

network from Yahoo!.

Green Y! Groups

Environment Groups

Find them here

connect with others.

Y! Messenger

Group get-together

Host a free online

conference on IM.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Sejarah Singkat Yayasan Desantara

Mas Manneke,

Untuk sementara ini, saya baru menemukan kiprah sayap Kajian Perempuan (KP)  Desantara di http://www.perempuanmultikultural.com . Saya baru baca-baca selintas, belum terlalu banyak.  Jadi belum bisa memberi komentar/opini. Thanks ya Mas. Kalau ada info lainnya, senantiasa saya sambut dengan gembira. :)

salam,
harez


--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, pradita@... wrote:
>
> Ha ha ha, barvo, Mas Harez! Aku kalah cepat. Kalo ada waktu, coba Anda cari
> sayap kajian perempuannya Desantara. Mereka inilah yang menerbitkan Srinthil
> dan memfokuskan diri pada riset dan kajian perempuan "ndeso", "udik" dan
> tradisional. Kalo Desantaranya sendiri sih lebih umum dan luas cakupannya, tapi
> stress-nya adalah pada multikulturalisme.
>
> manneke
>
> Quoting sinagahp sinagahp@...:
>
> > Sejarah Singkat Yayasan Desantara
> >
> > Tahun 1997 bangsa Indonesia mengalami krisis ekonomi yang diikuti dengan
> > krisis legitimasi pemerintahan Orde Baru. Krisis ini ditandai dengan
> > berbagai kerusuhan sosial dan aksi mahasiswa di beberapa tempat, yang
> > pada akhirnya mengguncang seluruh jaringan struktur Orde Baru yang
> > ditopang oleh sentralisme politik dengan sistem ekonominya yang
> > bermadzhab "neoliberal". Rezim otoritarianisme Orde Baru ini
> > mencapai titik balik dengan semakin tumbuhnya berbagai kekuatan civil
> > society di Indonesia.
> >
> > Kelompok Islam yang semula hanya menjadi label pasif dalam struktur Orde
> > Baru kemudian muncul sebagai kekuatan politik dan sosial yang
> > signifikan. Meskipun Islam muncul dalam berbagai lembaga dan gerakan
> > sosial, kelompok yang merupakan komunitas terbesar di Indonesia ini
> > juga melahirkan sejumlah lapisan cerdik pandai dan aktivis sosial yang
> > secara aktif menjadi lokomotif proses demokratisasi mengiiringi
> > runtuhnya kekuasan Soeharto yang represif.
> >
> > Salah satu kekuatan Islam di Indonesia yang patut diperhitungkan sampai
> > saat ini adalah lembaga pesantren. Di kalangan masyarakat arus bawah
> > pesantren menjadi bagian penting yang tidak dapat dikesampingkan.
> > Pesantren hingga saat ini telah sukses menjadi lembaga pendidikan paling
> > populis yang memiliki jaringan lintas kelas dan etnis selama puluhan
> > tahun. Bersamaan dengan lapisan kelas menengah dari kalangan pesantren
> > yang mengenyam pendidikan tinggi, kelompok pesantren yang berserak di
> > berbagai tempat di pedesaan ini turut meramaikan aksi gerakan masyarakat
> > sipil. Kenyataan ini dapat dilihat, misalnya, dari semakin maraknya
> > forum diskusi, kajian sosio-keagamaan, jaringan advokasi akar rumput,
> > serta gerakan perempuan dari kalangan muda pesantren yang juga memiliki
> > basis pendidikan di universitas dan perguruan tinggi Islam.
> >
> > Desantara lahir di tengah komunitas seperti ini. Bersamaan dengan terus
> > menguatnya krisis dan delegitimasi Orde Baru, Desantara terus tumbuh
> > sebagai jaringan pemikiran dan gerakan civil society dari kalangan muda
> > yang menginginkan terjadinya perubahan di Indonesia yang lebih
> > demokratis. Latar belakang pesantren tradisional dan minat studi di
> > perguruan tinggi yang berbeda-beda merupakan simpul yang
> > mempertemukannya. Salah satu isu menarik yang terus diminati di forum
> > ini adalah keinginan untuk mengembangkan wacana kebudayaan sebagai modal
> > kutural yang lebih transformatif. Pesantren bersama dengan
> > kekuatan-kekuatan arus bawah lainnya dibidik sebagai target yang
> > diharapkan menjadi salah satu agen transformatif tersebut.
> >
> > Sebagaimana kita ketahui sebelumnya, kebijakan kebudayaan di masa Orde
> > Baru menghasilkan sejumlah implikasi sosio-kultural yang begitu besar
> > di kalangan masyarakat akar rumput. Peristiwa 1965 dianggap sebagai
> > titik balik orientasi kebudayaan yang menceraiberaikan berbagai
> > kekuatan-kekuatan politik di masyarakat untuk kemudian dibawa ke dalam
> > sistem Orde Baru yang mengakibatkan terjadinya floating mass.
> > Desantara berminat ingin menyegarkan kembali pergulatan, kontestasi dan
> > dialog yang tumbuh subur sebagaimana pernah terjadi di masa sebelumnya.
> > Bagi Desantara sejarah yang terputus harus dirememorisasi dan
> > direinvensi dengan semangat yang lebih aktual. Ini dilakukan dengan cara
> > mengangkat dan memberi ruang kembali kekuatan-kekuatan kebudayaan di
> > masyarakat yang lebih otonom, inklusif, dan demokratis.
> >
> > Bidang pertama yang digeluti menjadi program berkelanjutan adalah
> > pembentukan komunitas-komunitas epistemik di kalangan pesantren dan
> > komunitas lokal (masyarakat adat) untuk menjembatani kesenjangan dan
> > ketegangan pemikiran diantara mereka. Terbentuknya komunitas ini
> > seterusnya menjadi modal sosial bagi terus tumbuhnya pemikiran dan
> > praktik kebudayaan yang lebih inklusif dan liberatif di massa rakyat.
> > Pesantren dan komunitas-komunitas lain di tingkat lokal perlu didorong
> > agar memiliki kapasitas untuk berkiprah di ruang publik. Dalam konteks
> > ini Desantara menfasilitasi terbentuknya ruang komunikasi yang
> > partisipatoris sekaligus mendorong repositioning subyek yang
> > transformatif di tengah himpitan struktur dan praktik budaya yang
> > melingkupinya.
> >
> > Maka dalam perkembangannya, jaringan dan komunitas Desantara di tingkat
> > akar rumput menuntut tersedianya proses pendampingan yang lebih luas.
> > Bagi Desantara penyemaian gagasan keagamaan yang lebih inklusif dan
> > transformatif berdampak pula kepada keharusan membangkitkan politik
> > kewargaan yang lebih kritis di berbagai bidang. Problem massa rakyat
> > tidak dapat disempitkan semata kepada satu isu tunggal.
> >
> > Karena, dalam pengalaman Desantara, kebudayaan ternyata tidak sebatas
> > representasi simbolik sebagaimana dalam kesenian dan ritual. Bagi
> > Desantara kebudayaan meliputi berbagai proses interaksi antar manusia
> > yang menghasilkan berbagai makna simbolik sebagai representasi dari
> > beragam kepentingan untuk mendominasi, menghegemoni, mengintimadasi,
> > mengeksklusi, dan juga kepentingan untuk membebaskan dan mencairkan
> > beragam bentuk dominasi dan represi tersebut. Di tengah situasi seperti
> > ini maka bagi Desantara kerja atau praktik kebudayaan itu setidaknya
> > memiliki tiga hal:
> > •Representasi proses emansipasi manusia untuk memperjuangkan serta
> > menegakkan hak-hak dan martabatnya
> > • Representasi pluralitas dan kemajemukan suatu komunitas atau
> > masyarakat; dan
> > •Konsep holistik yang mencakup dimensi etik, estetik, dan
> > progresif-evaluatif terbentuk oleh dan melalui interaksi antar sesama
> > manusia dan antar berbagai aspek kehidupan.
> >
> > Pandangan seperti ini mengimplikasikan suatu kebutuhan membangun gerakan
> > sosial yang mampu menembus aspek-aspek ketimpangan sosial, politik, dan
> > kebudayaan.
> >
> > Maka demi memenuhi tuntutan perbaikan kelembagaan yang lebih profesional
> > dan akuntable Yayasan ini menghadap Notaris Wiwik Asriwahyuni Santosa,
> > SH. Untuk didaftarkan kembali pada tahun 2005 sebagai yayasan yang
> > berada di bawah SK menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomer: C –
> > 336.HT.03.02 Th 2000.
> >
> > Sumber: http://desantara.org/v1/profil.php
> >
> >
> >
> >
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Your school could

win a $25K donation.

Y! Messenger

Instant hello

Chat over IM with

group members.

Health & Fitness

on Yahoo! Groups

Useful info for the

health conscious.

.

__,_._,___

Balasan: Re: [psikologi_transformatif] Re: Puncak Hirarki Maslow: The Transendental Need

Dear Mas Tomy ....
 
maunya sih ketawa juga..
tapi masih lu2 tahan karena memang ingin tahu juga sih ...
nah mumpung ada bang Harez..kita boleh dong belajar untuk lebih tahu hal itu ... gimana gang Harez ...???
 
salam manis
/Lu2


Tomy T <tomigant@yahoo.com> wrote:
ahahahaahahah......
bener mas SHP....banyak orang menulis yang mereka sendiri sebenarnya kurang ngerti githu....
however....enjoy aje lagi.....
numpang ketawa aja
tomy
----- Original Message ----
From: sinagahp <sinagahp@yahoo.com>
To: psikologi_transformatif@yahoogroups.com
Sent: Monday, November 19, 2007 1:03:08 AM
Subject: [psikologi_transformatif] Re: Puncak Hirarki Maslow: The Transendental Need

Ha...ha...ha. .. :)

Ketika membaca uraian Ralph Kenyon tersebut, adalah sesuatu yang wajar apabila terasa ada sesuatu yang "janggal" dalam hirarki tersebut. Sebagaimana yang anda rasakan, saya pun merasakan hal yang sama. Tetapi demikianlah pendapat Kenyon. Bahkan secara tegas dia menyatakan:
Here are some sites that include additional levels (some wrong) but has them in the wrong order.
Link pertama (valdosta.edu) adalah link yang mencantumkan piramida sebagaimana yang Swas kemukakan (8 level). Alasan Kenyon dapat dilihat di link yang pernah saya berikan ( http://www.xenodoch y.org/ex/ lists/maslow. html ).

Pertanyaan yang relatif paling mendasar yang perlu dicari jawabnya antara lain adalah: "Apakah Maslow sendiri yang mengemukakan hirarki kebutuhan dengan 7 atau 8 tingkat tersebut" atau orang lain yang menyusunnya dengan dasar uraian Maslow yang mengemukakan beberapa  "kebutuhan" tambahan setelah Maslow mengemukakan gagasannya tentang 5 tingkat kebutuhan? ;)

salam,
harez


--- In psikologi_transform atif@yahoogroups .com, "was_swas" <was_swas@...> wrote:
>
>
> Kemarin, waktu baca informasinya Bang Harez tentang revisi Maslow
> <http://www.xenodoch y.org/ex/ lists/maslow. html> , saya sempat ngerasa
> ada yang nggak pas. Nggak tahu nggak pas-nya dimana, tapi bikin
> penasaran :) Baru hari ini nyadar setelah browsing: Know & Understand
> Need serta Aesthetic Need itu kayaknya "nyelip" setelah D-Needs (di
> atasnya self-esteem) , jadi letaknya sebelum Self-Actualization.
>
> Masuk akal sih.. :) D-Needs itu kan deficit needs, sesuatu yang jika
> tidak terpenuhi menghambat kita untuk mencapai proses selanjutnya.
> Namun.. sebelum kita mencapai proses yang lebih tinggi dan berkaitan
> dengan Transendental Need, lebih mungkin kalau ada proses Know &
> Understand Need serta Aesthetic Need dulu. Agak aneh ketika Aesthetic
> Need muncul belakangan.
>
> Anyway.. link yang mencantumkan piramida ini bisa dibaca di:
> http://chiron. valdosta. edu/whuitt/ col/regsys/ maslow.html
> <http://chiron. valdosta. edu/whuitt/ col/regsys/ maslow.html> . Perhatikan
> bagaimana piramida itu terpisah menjadi 3 bagian:
>
> 1. D-Needs (physiological, safety, love/belonging, self-esteem)
> 2. Growth Need of Self-actualization (know & understand need,
> aesthetic)
> 3.
> B-Needs: Self-actualization <http://personcenter ed.com/selfact. html>
> (to find self-fulfillment and realize one's potential) dan
> Self-transcendence <http://homepages. ihug.co.nz/ ~greg.c/psych. html> (to
> connect to something beyond the ego or to help others find
> self-fulfillment and realize their potential).
>
>
> Semoga makin asyik diskusinya ;)
>
> Salam
>



Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com


Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Your school could

win a $25K donation.

Y! Messenger

Files to share?

Send up to 1GB of

files in an IM.

Green Y! Groups

Environment Groups

Find them here

connect with others.

.

__,_._,___

Bls: Bls: [psikologi_transformatif] Re: Maslow, etc (was: Jiddu Krishnamurti...)

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, Tomy T <tomigant@...> wrote:
kerancuan yang sering saya lihat ya....satu teori (budaya, pendapat dst...) di teropongi oleh salah satu teori yang belum tentu pas. misalnya...orang ateis meneropongi yang orang beragama, kultur barat meneropongi kultur asia, al qur'an meneropongi kitap suci dst....kalau yang meneropongi paham yang diteropongi sich gapapa...ini dia membawa hukumnya sendiri dan berbicara tentang hukum yang lain....jaka sembung bawa golok dong, kalaupun ada mungkin di paksa-paksakan, ya ga mas?


harez:
Setahu saya, gagasan/teori yang dikembangkan dalam suatu kondisi (misalkan budaya) tertentu, perlu juga diuji apakah dapat berlaku dalam kondisi lain (misalnya budaya lain). Sebagai contoh, dari kajian yang dilakukan Chung (1969), Yang (2003) dan Huitt (2004) tergambar bahwa hirarki kebutuhan Maslow banyak mendapatkan kritik, antara lain yaitu:

  • Urutan kebutuhan dalam hirarki berbeda dari satu individu ke individu lain, terutama dari satu budaya ke budaya lainnya;
  • Perubahan/pergerakan dari satu tingkat kebutuhan ke tingkat di atasnya hanyalah suatu kecenderungan saja, bukan kepastian. Perubahan tujuan hidup dan cita-cita seseorang dapat mengakibatkan perubahan pada struktur kebutuhannya;
  • Sulit untuk mengoperasionalkan konstruk aktualisasi diri, sehingga sukar untuk menguji teori Maslow (kritik ini terutama berasal dari mereka yang menganut postivisme ilmiah).
Berdasarkan kajian dan kritik-kritik tersebut, kita dapat mengetahui bahwa teori Maslow mengalami sejumlah masalah untuk dapat digeneralisasi dan dianggap berlaku universal. :)

salam,
harez

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, Tomy T <tomigant@...> wrote:
>
> Mas Jusuf,
> akhirnya ketemu juga kita. saya juga bukan pengagum Maslow. karena Mas Jusuf mengatakan persoalannya bukan yang mana lebih benar...saya sangat setuju dan tersenyum mas. karena soal teori, kita harus lihat konteks, jaman dimana teori itu keluar dan berkembang....kanga enak kalau kalau kita tafsirkan seenak kita :)
> saya sich ngaku aja....pernah belajar filsafat timur termasuk konfusius, tapi memang pastilah saya ga tahu apa-apa di bandingkan denga mas Jusuf. dan saya enggak punya keberatan apapun ttg terori konfusius yang mas katakan itu....:). dan saya tidak meragukan hal itu, hanya saja saya merasa kurang 'srek', kalau konfusius di hadapkan dengan Maslow, terlebih teori Maslow yang mas Jusuf ambil ttg piramid. kerancuan yang sering saya lihat ya....satu teori (budaya, pendapat dst...) di teropongi oleh salah satu teori yang belum tentu pas. misalnya...orang ateis meneropongi yang orang beragama, kultur barat meneropongi kultur asia, al qur'an meneropongi kitap suci dst....kalau yang meneropongi paham yang diteropongi sich gapapa...ini dia membawa hukumnya sendiri dan berbicara tentang hukum yang lain....jaka sembung bawa golok dong, kalaupun ada mungkin di paksa-paksakan, ya ga mas?
> Konfusius dari timur, filsafat barat juga begitu ko mas, awalnya ilmu untuk mereka adalah "keutamaan" (aretè) yang harus diraih dalam hidup. keutamaan itu adalah kalòs (yang indah, cakep,bagus dst) dan agathòs (yang baik). dalam perjalanan waktu aretè ini berkembang sesuai dengan situasi jaman nya...kadang keutamaan itu di lihat dari seorang petani, pahlawan perang, seorang pengajar, dst... sekarang aja aretè itu ga tau lagi apa? bahkah J.Maritain dalam bukunya "pendidikan dalam persimpangan" mengemukakan keberataannya....kalau mansuia dididik dari kecil dalam persaingan menuju spesialisasi apa bedanya dengan hewan? hewan adalah makhluk spesialisasi, bukan manusia. karena manusia itu adalah makhluk multi dimensional. hanya mau bilang aja mas....manusia juga sekarang terus belajar ko....cuma menjadi spesialisasi!(jadi hewan dong :) ). makanya ada si pengagum mikrosop nya seperti mas bilang, karena memang itu spesialisasinya....ahahahah, hati hati
> dengan spesialisasi mas....:)
> wah...dah ngelantur kemana nich.....
> tomy
>
>
>
>
>
>
> ----- Original Message ----
> From: Jusuf Sutanto jusuf_sw@...
> To: psikologi_transformatif@yahoogroups.com
> Sent: Sunday, November 18, 2007 2:53:25 AM
> Subject: Bls: Bls: [psikologi_transformatif] Re: Maslow, etc (was: Jiddu Krishnamurti...)
>
> Mas Tommy,
> Inti ajaran Konfusius adalah supaya manusia mau terus belajar sampai mati.
> Karena itu ajarannya bisa ketemu dengan ajaran apa saja asal orangnya mau terus belajar karena ilmu pengetahuan adalah hanya seperti mikroskop untuk mengamati suatu phenomena.
> Yang menjadi masalah adalah banyak ilmuwan lalu menjadi pengagum mikroskop sehingga lupa tugas pokoknya adalah untuk memahami phenomena.
> Lalu terperosok dalam debat soal mikroskop siapa yang paling bagus feature2 nya lengkap.
> Hal ini terjadi juga di negara China sehingga akhirnya dicerahkan oleh Deng Xiao Ping dengan kata-kata bersayapnya :
> " mau kucing hitam, putih, kuning, polos atau belang, yang penting adalah apakah bisa menangkap tikus ?"
>
> Perhatikan ajaran Konfusius berikut ini :
>
> Learning to be human
> Learning for the sake of the self
> self is not as isolated atom
> Self is not as single, separate individuality
> Self as a being of relationship
> Self as centre of relationship
> Self develops continuously
> Ever-expanding process
> Ever-growing network of human relatedness.
> A truly Self realization !
> Jadi kalau Maslow sampai pada closed ended idea yang kemudian disempurnakan, pendekatan Konfusius adalah pengembangan manusia nya sendiri supaya mau terus belajar seumur hidup , kesimpulan yang open ended dan terus berkembang yang hanya berhenti saat mati.
> Karena itu masalahnya bukan siapa yang lebih benar antara konsep Maslow dan Konfusius, tapi menunjukkan bagaimana Maslow sebagai orang yang mau terus menyempurnakan pendapatnya seperti diajarkan Konfusius.
> Artinya Maslow tidak membuat konsepnya sebagai berhala yang bertahta di pikirannya.
>
> Salam,
> Jusuf Sutanto
>
>
> ----- Pesan Asli ----
> Dari: Tomy T tomigant@yahoo. com>
> Kepada: psikologi_transform atif@yahoogroups .com
> Terkirim: Jumat, 16 November, 2007 9:22:00
> Topik: Re: Bls: [psikologi_transfor matif] Re: Maslow, etc (was: Jiddu Krishnamurti. ..)
>
>
> Mas SPH...salah memahami "kurang srek" itu juga ga papa kok, ga ngaruh ko tuk siapapun.... :)
> tapi kl ditanya kira-kira gini kurang sreknya, Mas JS tuh bahas Maslow dr kacamata Konfusiusnya, yang di"kacamatai" itu terutama ttg teori piramid maslow....ini aja dah ga kena! (aq dah jwb seblumnya dgn contoh teori buah buahan dibahas dari teori perikanan) tapi beberapa orang (psikolog kali?) malah membalasnya dengan teori piramid tsb. untung ada mas SHP menyebut ada teori Maslow ttg peak experinces ( juga ttg values, religion yg mas SHP ga sebut), tapi Mas SHP ga menyebut satu dua kalimat ttg peak experinces tsb (jd muncul pertanyaan dalam hati, mas SHP dah baca pa belum? pa dah lupa? ato?)
> malah saya lihat mas SHP membalas dengan ayat ayat dll .... :). padahal Maslow dalam bukunya itu juga menyebut sendiri seperti apa yang di tolak pak JS itu.....bahwa Maslow juga membahas ttg ...""pengalaman 'mistik/religius' yang adalah sebuah pengalaman sakral, ilahi, tak terlukiskan, abadi, ke-ber-satuan dengan yang universal, ....dst
> gitu ga sreknya..... :) (kayek kemaren mas SHP, waktu bahas Jung di sini dengan orang orang psikolog kali...dah lupa aq....gimanaya kemaren)
> intinya?.... ayoooo mas SHP sekarang dah baca ya? ahahahah
> sama sama terimakasih nya mas SHP (sebelumnya juga) :)
> tomy
>
>
> ----- Original Message ----
> From: sinagahp sinagahp@yahoo. com>
> To: psikologi_transform atif@yahoogroups .com
> Sent: Friday, November 16, 2007 2:55:45 AM
> Subject: Bls: [psikologi_transfor matif] Re: Maslow, etc (was: Jiddu Krishnamurti. ..)
>
>
>
> Uppsss... maaf Mas Tomy dan rekan-rekan lainnya, kepencet send, tanpa merespons.
>
> Ma kasih atas masukannya Mas Tomy. Walaupun demikian, supaya saya tidak-tidak salah memahami apa yang Mas Tomy maksudkan, saya mohon penjelasan tentang "kurang srek" yang Mas Tomy maksudkan. Halaman 45-60 kan panjang Mas :). Terima kasih sebelumnya :)
>
> salam,
> harez
>
>
> --- In psikologi_transform atif@yahoogroups .com, Tomy T tomigant@ wrote:
> >
> > nimbrung ah.......
> > Mas SPH or Mbak Swas....kayeknya sich cara anda menerangkan Maslow tuk pak Jusuf jg kurang 'srek', ga tahu juga kalau anda dah baca bukunya Maslow A.H, Religions, Values, and Peak-experinces, Harmondsworth (1986) (seperti mas SPH kasi petunjuk) persisnya dilihat halaman 45-60 ok. (lalu pertanyaannya yang 'srek' itu gimana? ahahahah, tapi master katenye..... :) )
> > Mas Jusuf yang anda tafsirkan itu ga salah...hanya saja ga sederhana itu (wah ini maksudnya opo ya....). untuk mengerti Maslow kan harus tahu latar-belakang teorinya dan sampai dimana sampai teorinya. teori yang mana? misalnya kalau teorinya yang berbicara soal jeruk, mangga, pepaya...ya maunya ditafsirkan dari ilmu buah buah- an...ya kan? karena kalau di tafsirkan menurut ilmu perikanan kan nanti ga pas dia....:). sering kali orang mengambil teori seseorang demi kepentingannya tanpa melihat ide dasar dari si pembuat teori tsb
> > pada hlm 55 ktnya kira kira gini mengikuti kata Rudolf Otto, "pengalaman 'mistik/religius' adalah sebuah pengalaman sakral, ilahi, tak terlukiskan, abadi, ke-ber-satuan dengan yang universal, ....dst
> > nah....Bapak Jusuf coba aja dulu baca buku itu...apa kata Maslow ttg nilai B, pengalaman keagamaan-pengalama n mistik dst...baru coba di lihat dari kaca mata konfusius... gt.... :)
> > duh...sory kl nimbrung dan ga bisa nulis lama...i'm sorry
> > tomy
> >

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

new professional

network from Yahoo!.

Y! Messenger

Quick file sharing

Send up to 1GB of

files in an IM.

Summer Shape-up

on Yahoo! Groups

Trade weight loss

and swimsuit tips.

.

__,_._,___

Bls: Bls: Bls: [psikologi_transformatif] Re: Maslow, etc (was: Jiddu Krishnamurt


--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, Jusuf Sutanto <jusuf_sw@...> wrote:
>
> Pak Harez,
> Banyak org tidak tahu cara memetik manfaat dari millis sehingga waktu dan pikirannya dibuang sia-sia, mengapa ? Karena pikirannya hanya dipenuhi keinginan menonjolkan diri dan minta diakui sebagai pemenang.
> Kita berdua boleh dibilang termasuk yang mampu menggunakan dengan sebaik-baiknya !


harez:
Jelas dong ada manfaat yang saya petik dari milis ini. Rasanya sih begitu juga untuk pak Jusuf (sebagaimana Bapak nyatakan sendiri) dan juga rekan-rekan lainnya. Kebutuhan seseorang sangat meungkin berbeda dengan orang lainnya. Kebutuhan pada orang yang sama pun dapat berbeda dari satu waktu ke waktu lainnya. Manfaat yang dapat diambil dari milis inipun berbeda-beda, tergantung kebutuhan masing-masing. Jadi, kalau menurut saya sih, yang dapat menarik manfaat dari milis ini cukup banyak, walaupun dengan dasar yang berbeda. Kalau tidak, kan mereka sudah unsubscribe Pak :).

salam,
harez


__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Your school could

win a $25K donation.

Y! Messenger

Send pics quick

Share photos while

you IM friends.

Move More

on Yahoo! Groups

This is your life

not a phys-ed class.

.

__,_._,___

Re: [psikologi_transformatif] Re: Puncak Hirarki Maslow: The Transendental Need

ahahahaahahah......
bener mas SHP....banyak orang menulis yang mereka sendiri sebenarnya kurang ngerti githu....
however....enjoy aje lagi.....
numpang ketawa aja
tomy
----- Original Message ----
From: sinagahp <sinagahp@yahoo.com>
To: psikologi_transformatif@yahoogroups.com
Sent: Monday, November 19, 2007 1:03:08 AM
Subject: [psikologi_transformatif] Re: Puncak Hirarki Maslow: The Transendental Need

Ha...ha...ha. .. :)

Ketika membaca uraian Ralph Kenyon tersebut, adalah sesuatu yang wajar apabila terasa ada sesuatu yang "janggal" dalam hirarki tersebut. Sebagaimana yang anda rasakan, saya pun merasakan hal yang sama. Tetapi demikianlah pendapat Kenyon. Bahkan secara tegas dia menyatakan:

Here are some sites that include additional levels (some wrong) but has them in the wrong order.

Link pertama (valdosta.edu) adalah link yang mencantumkan piramida sebagaimana yang Swas kemukakan (8 level). Alasan Kenyon dapat dilihat di link yang pernah saya berikan ( http://www.xenodoch y.org/ex/ lists/maslow. html ).

Pertanyaan yang relatif paling mendasar yang perlu dicari jawabnya antara lain adalah: "Apakah Maslow sendiri yang mengemukakan hirarki kebutuhan dengan 7 atau 8 tingkat tersebut" atau orang lain yang menyusunnya dengan dasar uraian Maslow yang mengemukakan beberapa  "kebutuhan" tambahan setelah Maslow mengemukakan gagasannya tentang 5 tingkat kebutuhan? ;)

salam,
harez


--- In psikologi_transform atif@yahoogroups .com, "was_swas" <was_swas@...> wrote:
>
>
> Kemarin, waktu baca informasinya Bang Harez tentang revisi Maslow
> <http://www.xenodoch y.org/ex/ lists/maslow. html> , saya sempat ngerasa
> ada yang nggak pas. Nggak tahu nggak pas-nya dimana, tapi bikin
> penasaran :) Baru hari ini nyadar setelah browsing: Know & Understand
> Need serta Aesthetic Need itu kayaknya "nyelip" setelah D-Needs (di
> atasnya self-esteem) , jadi letaknya sebelum Self-Actualization.
>
> Masuk akal sih.. :) D-Needs itu kan deficit needs, sesuatu yang jika
> tidak terpenuhi menghambat kita untuk mencapai proses selanjutnya.
> Namun.. sebelum kita mencapai proses yang lebih tinggi dan berkaitan
> dengan Transendental Need, lebih mungkin kalau ada proses Know &
> Understand Need serta Aesthetic Need dulu. Agak aneh ketika Aesthetic
> Need muncul belakangan.
>
> Anyway.. link yang mencantumkan piramida ini bisa dibaca di:
> http://chiron. valdosta. edu/whuitt/ col/regsys/ maslow.html
> <http://chiron. valdosta. edu/whuitt/ col/regsys/ maslow.html> . Perhatikan
> bagaimana piramida itu terpisah menjadi 3 bagian:
>
> 1. D-Needs (physiological, safety, love/belonging, self-esteem)
> 2. Growth Need of Self-actualization (know & understand need,
> aesthetic)
> 3.
> B-Needs: Self-actualization <http://personcenter ed.com/selfact. html>
> (to find self-fulfillment and realize one's potential) dan
> Self-transcendence <http://homepages. ihug.co.nz/ ~greg.c/psych. html> (to
> connect to something beyond the ego or to help others find
> self-fulfillment and realize their potential).
>
>
> Semoga makin asyik diskusinya ;)
>
> Salam
>



Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Reconnect with

college alumni.

Y! Messenger

PC-to-PC calls

Call your friends

worldwide - free!

Win free airfare

from Yahoo!

Fly home for the

Holidays on us.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Puncak Hirarki Maslow: The Transendental Need

Ha...ha...ha... :)

Ketika membaca uraian Ralph Kenyon tersebut, adalah sesuatu yang wajar apabila terasa ada sesuatu yang "janggal" dalam hirarki tersebut. Sebagaimana yang anda rasakan, saya pun merasakan hal yang sama. Tetapi demikianlah pendapat Kenyon. Bahkan secara tegas dia menyatakan:

Here are some sites that include additional levels (some wrong) but has them in the wrong order.

Link pertama (valdosta.edu) adalah link yang mencantumkan piramida sebagaimana yang Swas kemukakan (8 level). Alasan Kenyon dapat dilihat di link yang pernah saya berikan ( http://www.xenodochy.org/ex/lists/maslow.html ).

Pertanyaan yang relatif paling mendasar yang perlu dicari jawabnya antara lain adalah: "Apakah Maslow sendiri yang mengemukakan hirarki kebutuhan dengan 7 atau 8 tingkat tersebut" atau orang lain yang menyusunnya dengan dasar uraian Maslow yang mengemukakan beberapa  "kebutuhan" tambahan setelah Maslow mengemukakan gagasannya tentang 5 tingkat kebutuhan? ;)

salam,
harez


--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "was_swas" <was_swas@...> wrote:
>
>
> Kemarin, waktu baca informasinya Bang Harez tentang revisi Maslow
> <http://www.xenodochy.org/ex/lists/maslow.html> , saya sempat ngerasa
> ada yang nggak pas. Nggak tahu nggak pas-nya dimana, tapi bikin
> penasaran :) Baru hari ini nyadar setelah browsing: Know & Understand
> Need serta Aesthetic Need itu kayaknya "nyelip" setelah D-Needs (di
> atasnya self-esteem), jadi letaknya sebelum Self-Actualization.
>
> Masuk akal sih.. :) D-Needs itu kan deficit needs, sesuatu yang jika
> tidak terpenuhi menghambat kita untuk mencapai proses selanjutnya.
> Namun.. sebelum kita mencapai proses yang lebih tinggi dan berkaitan
> dengan Transendental Need, lebih mungkin kalau ada proses Know &
> Understand Need serta Aesthetic Need dulu. Agak aneh ketika Aesthetic
> Need muncul belakangan.
>
> Anyway.. link yang mencantumkan piramida ini bisa dibaca di:
> http://chiron.valdosta.edu/whuitt/col/regsys/maslow.html
> <http://chiron.valdosta.edu/whuitt/col/regsys/maslow.html> . Perhatikan
> bagaimana piramida itu terpisah menjadi 3 bagian:
>
> 1. D-Needs (physiological, safety, love/belonging, self-esteem)
> 2. Growth Need of Self-actualization (know & understand need,
> aesthetic)
> 3.
> B-Needs: Self-actualization <http://personcentered.com/selfact.html>
> (to find self-fulfillment and realize one's potential) dan
> Self-transcendence <http://homepages.ihug.co.nz/~greg.c/psych.html> (to
> connect to something beyond the ego or to help others find
> self-fulfillment and realize their potential).
>
>
> Semoga makin asyik diskusinya ;)
>
> Salam
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Your school could

win a $25K donation.

Y! Messenger

Instant hello

Chat over IM with

group members.

Summer Shape-up

on Yahoo! Groups

Trade weight loss

and swimsuit tips.

.

__,_._,___