Rabu, 14 November 2007

[psikologi_transformatif] Re: KECERDASAN SEMIOTIK, ADA PENDAPAT?

Hmmmm...tak tau ya, Audi. Menurut saya sih, kalo sesuatu dinamakan kecerdasan,
pastilah di dalamnya terkandung kecerdasan untuk membaca tanda, entah itu tanda
visual, verbal, simbolik ataupun abstrak. Jika tidak, ya belum memenuhi syarat
untuk disebut sebagai "kecerdasan." Masalahnya adalah bahwa mungkin pada jenis-
jenis kecerdasan berbeda (IQ, EQ, SQ, dll)tekanan 'semiotik'-nya pada aspek
yang berbeda-beda pula. Sebab itu, apa masih perlu ada domain baru kecerdasan
dengan nama baru: 'kecerdasan semiotik'? Apa buntutnya nanti gak jadi redundan?

Analoginya, meski semiotika secara sempit dikategorikan sebagai sebuah ilmu,
tapi tak ada fakultas/jurusan/program studi/bidang ilmu khusus untuk semiotika
sebab orang paham bahwa dalam aktivitas apapun manusia dalam hidupnya, selalu
melibatkan proses-proses semiotik. Demikian juga, dalam semua bidang ilmu,
pasti ada elemen semiotik-nya. Jadi, tak perlu bikin ilmu sendiri (dalam artian
sempit yang kini dipakai secara lazim), meski Ferdinand de Saussure dulu lebih
suka menyebutnya semiology, dan bukan semiotics.

Ini aja urun rembug dari saya.

manneke

Quoting audifax - <audivacx@yahoo.com>:

> Kecerdasan Semiotik
>
> Ketika kita bicara tentang bagaimana manusia bertahan hidup di lingkunga
> kulturalnya, kita tak bisa melepaskan dari bagaimana manusia membaca tanda.
> Apa itu 'tanda'(sign)? Tanda di sini adalah segala hal yang bisa dibaca dan
> diinterpretasikan. Wujud tanda bisa: tulisan, suara, rambu, gerak, ruang,
> warna, dan sebagainya. Begitu banyak pengetahuan manusia direpresentasikan
> dan dikomunikasikan melalui sistem tanda yang di dalamnya terkandung
> bentuk-bentuk informasi.
>
>
> Berbicara tentang bagaimana membaca tanda, maka tak bisa kita abaikan
> sebuah ilmu yang dikhususkan untuk mengkaji pembacaan tanda, yaitu semiotik.
> Dan di sini, saat kita bicara tentang 'kecerdasan' dan 'membaca tanda', maka
> sebenarnya kita tengah bicara juga tentang 'kecerdasan semotik', yaitu
> kemampuan untuk membaca dan menginterpretasikan tanda agar manusia bisa
> bertahan hidup di lingkup kulturalnya.
>
>
> Apakah kecerdasan semiotik adalah jenis kecerdasan baru? Jawabnya jelas
> bukan. 'Kecerdasan Semiotik' bukan kecerdasan baru karena dalam setiap
> komponen kecerdasan selalu terkandung kecerdasan semiotik. Jika demikian,
> lalu apa tepatnya 'kecerdasan semiotik' itu? Kecerdasan semiotik lebih
> meupakan bagaimana membaca apa yang ada di balik proses dalam komponen
> kecerdasan apapun.
>
>
> Dalam semua komponen kecerdasan selalu ada proses yang sifatnya semiotis.
> Taruhlah komponen kecerdasan plural (Multiple Intelligence) dari Howard
> Gardner, seperti: Logika Matematika, Logika Bahasa, Spasial, Kinestetik
> Personal, Naturalistik dan Eksistensial, semua proses yang terjadi di semua
> komponen itu tak lepas dari bagaimana manusia membaca tanda, entah tanda itu
> berbentuk: angka, hitungan, suara, ruang, gerak, nada, identitas dan
> sebagainya.
>
>
> Tapi sebelum saya melangkah lebih jauh, kira-kira ada tanggapan apa nih
> dari teman-teman mengenai 'Kecerdasan Semiotik'?
>
>
> ---------------------------------
> Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Be a career mentor

for undergrads.

Y! Messenger

Group get-together

Host a free online

conference on IM.

Fitness Edge

on Yahoo! Groups

Learn how to

increase endurance.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: 1 - SEBUAH PERTANYAAN TENTANG KECERDASAN

Quote: namun paling tinggi kemampuan berpikir itu dari jiwa [spirit] End of quote.

Tuhantu: Ngukurnya pake belebas atau meteran?... Tingginya berapa meter, Mas Goen?... Kebetulan seh, gue kepengen latihan panjat tebing, neh...;-) ...

Be Fun

Tuhantu

http://hole-spirit.blogspot.com

 


--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "goenardjoadi" <goenardjoadi@...> wrote:
>
> kalau menurut saya, seperti kata Stephen R Covey, kecerdasan itu ada
> 4 unsur:
>
> 1. tubuh [body]
> 2. pikiran [mind]
> 3. emosi [heart]
> 4. jiwa [spirit]
>
> namun paling tinggi kemampuan berpikir itu dari jiwa [spirit]
>
> salam,
> goen
>
>
>
>
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, audifax -
> audivacx@ wrote:
> >
> > Kecerdasan
> >
> > Apa itu kecerdasan? Secara umum mungkin orang masih mengaitkan
> kecerdasan dengan IQ atau Intelligency Quotient. Dalam konsep IQ,
> terdapat penjenjangan kecerdasan mulai dari jenjang yang terendah
> seperti: idiot, imbisil, moron hingga ke jenjang yang
> menduduki 'area' puncak seperti: Superior atau Very Superior. Namun
> dalam perkembangannya, ternyata ditemukan bahwa komponen kecerdasan
> dalam kehidupan manusia bukan semata IQ.
> >
> >
> > Seiring waktu, mulai ditemukan dan dirasakan pentingnya komponen-
> komponen kecerdasan selain IQ. Komponen kecerdasan ini ternyata juga
> memegang peran sama pentingnya dengan IQ ketika manusia
> menggunakannya untuk bertahan hidup. Daniel Goleman misalnya,
> menemukan pentingnya kecerdasan emosi melalui konsepnya tentang
> Emotional Intelligence. Setelah itu bermunculanlah beragam
> kecerdasan lain seperti: Spiritual Quotient, Linguistic
> Intelligence, Musical Intelligence, Sexual Intelligence dan banyak
> lagi.
> >
> >
> > Tak jarang ada yang menggabungkan antara komponen satu dengan
> yang lain, seperti bisa dilihat pada konsep ESQ (Emotional Spiritual
> Quotient). Tak jarang pula penggabungan atau pemunculan jenis
> kecerdasan baru itu dilakukan secara gegabah dan tak bisa
> dipertanggungjawabkan scara ontologis, epistemologis dan aksiologis.
> >
> >
> > Lalu apa itu kecerdasan? Kecerdasan bisa jadi mirip dengan apa
> yang digambarkan Howard Gardner sebagai 'sejumlah kekuatan atau
> kompetensi yang berkembang selama historisitas kehidupan seseorang.
> Sebagian dari kemampuan ini terletak di otak, sementara sebagian
> lainnya berada pada area-area yang tak teridentifikasi seperti:
> perasaan, intuisi, insting, dsb. Namun, segala yang disebut sebagai
> kecerdasan haruslah secara pas bisa digunakan dan memegang peran
> penting bagi keberlangsungan hidup seseorang di lingkup kulturalnya.
> >
> >
> > Namun, saya masih punya pertanyaan yang belum terjawab. Jika ada
> sekian banyak komponen kecerdasan dalam kehidupan manusia, ADAKAH
> SALAH SATU ATAU SALAH DUA KOMPONEN YANG BISA DILETAKKAN SEBAGAI
> PALING PENTING DI ANTARA KOMPONEN-KOMPONEN LAINNYA?
> >
> >
> > Mohon pencerahannya.....
> >
> >
> > ---------------------------------
> > Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo! Mail.
> See how.
> >
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Your school could

win a $25K donation.

Y! Messenger

Instant hello

Chat in real-time

with your friends.

Curves on Yahoo!

Share & discuss

Curves, fitness

and weight loss.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: 1 - SEBUAH PERTANYAAN TENTANG KECERDASAN

kalau menurut saya, seperti kata Stephen R Covey, kecerdasan itu ada
4 unsur:

1. tubuh [body]
2. pikiran [mind]
3. emosi [heart]
4. jiwa [spirit]

namun paling tinggi kemampuan berpikir itu dari jiwa [spirit]

salam,
goen

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, audifax -
<audivacx@...> wrote:
>
> Kecerdasan
>
> Apa itu kecerdasan? Secara umum mungkin orang masih mengaitkan
kecerdasan dengan IQ atau Intelligency Quotient. Dalam konsep IQ,
terdapat penjenjangan kecerdasan mulai dari jenjang yang terendah
seperti: idiot, imbisil, moron hingga ke jenjang yang
menduduki 'area' puncak seperti: Superior atau Very Superior. Namun
dalam perkembangannya, ternyata ditemukan bahwa komponen kecerdasan
dalam kehidupan manusia bukan semata IQ.
>
>
> Seiring waktu, mulai ditemukan dan dirasakan pentingnya komponen-
komponen kecerdasan selain IQ. Komponen kecerdasan ini ternyata juga
memegang peran sama pentingnya dengan IQ ketika manusia
menggunakannya untuk bertahan hidup. Daniel Goleman misalnya,
menemukan pentingnya kecerdasan emosi melalui konsepnya tentang
Emotional Intelligence. Setelah itu bermunculanlah beragam
kecerdasan lain seperti: Spiritual Quotient, Linguistic
Intelligence, Musical Intelligence, Sexual Intelligence dan banyak
lagi.
>
>
> Tak jarang ada yang menggabungkan antara komponen satu dengan
yang lain, seperti bisa dilihat pada konsep ESQ (Emotional Spiritual
Quotient). Tak jarang pula penggabungan atau pemunculan jenis
kecerdasan baru itu dilakukan secara gegabah dan tak bisa
dipertanggungjawabkan scara ontologis, epistemologis dan aksiologis.
>
>
> Lalu apa itu kecerdasan? Kecerdasan bisa jadi mirip dengan apa
yang digambarkan Howard Gardner sebagai 'sejumlah kekuatan atau
kompetensi yang berkembang selama historisitas kehidupan seseorang.
Sebagian dari kemampuan ini terletak di otak, sementara sebagian
lainnya berada pada area-area yang tak teridentifikasi seperti:
perasaan, intuisi, insting, dsb. Namun, segala yang disebut sebagai
kecerdasan haruslah secara pas bisa digunakan dan memegang peran
penting bagi keberlangsungan hidup seseorang di lingkup kulturalnya.
>
>
> Namun, saya masih punya pertanyaan yang belum terjawab. Jika ada
sekian banyak komponen kecerdasan dalam kehidupan manusia, ADAKAH
SALAH SATU ATAU SALAH DUA KOMPONEN YANG BISA DILETAKKAN SEBAGAI
PALING PENTING DI ANTARA KOMPONEN-KOMPONEN LAINNYA?
>
>
> Mohon pencerahannya.....
>
>
> ---------------------------------
> Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo! Mail.
See how.
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Your school could

win a $25K donation.

Y! Messenger

Instant hello

Chat over IM with

group members.

Yahoo! Groups

Dog Zone

Connect w/others

who love dogs.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Tanggapan buku THE SECRET OF BETTER LIFE

Tanggapan buku THE SECRET OF BETTER LIFE, ditulis oleh Goenardjoadi
Goenawan & Stefanus Indrayana
Oleh: Swastinika

Apa yang Anda sebut sebagai JIWA, sepenangkapan saya, adalah apa yang
akan saya sebut sebagai MANUSIA YANG BERKUALITAS. Menurut saya ini
adalah TUJUAN AKHIR dan ESENSI dari psikologi: psikologi mempelajari
berbagai aspek dari manusia sebagai individu, tujuan akhirnya apa?
Untuk membenahi supaya masing2 individu menjadi lebih berkualitas.

Saya sangat setuju dengan ciri2 JIWA yang Anda sebutkan: mengutamakan
integritas, mencapai excellence, detached dari emosi, dan mendapatkan
trust dari orang di sekitar Anda. Autentik dan Inspirasi, menurut
saya adalah bonusnya. Kalau orang sudah mendapatkan 4 hal yg Anda
sebut, maka kemungkinan untuk menjadi autentik dan dipenuhi
inspirasi menjadi semakin besar, karena hal2 yang selama ini
menghambat sudah hilang. Kalau pakai prinsip jalan tol: udah nggak
ada lampu merah lagi, walaupun tidak dijamin nggak macet ;)

Nah.. yang pasti, saat mendapatkan 4 hal itu, timbul kedamaian yang
Anda sebut. Diri memang menjadi lebih damai jika sudah mencapai
taraf ini. Orang2 seperti ini yang akan selalu diingat orang,
sehingga tetap punya peran walaupun sudah meninggal, seperti ciri ke-
8 yang Anda sebutkan.

Proses yang Anda sebutkan untuk mencapai kualitas itu.. well, saya
belum begitu jelas dengan point 1 (memenuhi kebutuhan didengar) dan
poin ke-7 (mencapai kemuliaan), tapi saya setuju sekali dengan poin
ke-2 sampai poin ke-6. Untuk bisa menjadi manusia berkualitas,
memang kita harus BELAJAR mengontrol ambisi. Dengan BELAJAR berbuat
kebaikan dan MENCARI KEBENARAN. Kita juga harus senantiasa
MENDENGARKAN KATA HATI. Denga hal2 seperti itu, kita akan
mendapatkan JATI DIRI KITA; kita jadi benar2 tahu diri kita.

Saya punya cara2 tersendiri untuk mencapai hal2 di atas: dengan
merasa bahwa diri kita bukan siapa2. Dengan demikian kita akan
lebih bisa mendengar orang lain tanpa pretensi macam2, karena semua
hal (yang sepele sekalipun) kita anggap sebagai sesuatu yang
menarik, berguna, dan harus diamati. Dengan banyak mengamati hal2
yang sepele, suatu hari akan kita dapat kesimpulan tentang
kebenaran. Dan kata hati di sini berfungsi sebagai quality control-
nya: setiap kali kita menemukan data baru, kesimpulan baru, lantas
kita bertanya pada kata hati: benarkah ini ;)?

Jika kita bisa melakukan hal itu, saya yakin kita mendapatkan jati
diri kita, dan semoga menjadi manusia yang unggul (istilah Anda:
JIWA), a.k.a "esensi psikologi", a.k.a tujuan akhir dari kita
mempelajari psikologi.
Dan alangkah baiknya jika ada sebuah badan yang informal yang bisa
membuat kita bersama2 belajar hal seperti ini; saling mengingatkan
ketika pembicaraan sudah melenceng dari hal ini (baca: kembali ke
FOKUS). Dan.. hey, kenapa bukan milis psikologi_transformatif yang
kita jadikan tempat seperti ini? Ini adalah milis untuk belajar
psikologi, bukan? Dengan pendekatan transformatif, a.k.a tidak
konvensional, bukan? Ini adalah tempat yang tepat ;).

Untuk pertama kalinya saya menemukan irisan himpunan antara saya dan
Audifax: sama2 menganggap Anda sangat bijaksana ;) Jauh lebih
bijaksana daripada orang2 yang hanya bisa mengungkapkan jargon2
indah dan hebat, tapi kehilangan kedalaman bahasannya. Uhm.. mungkin
karena orang2 seperti ini belum bisa mengontrol ambisinya untuk
dipandang/diakui sebagai orang yang hebat? Karena belum bias
menempatkan diri sebagai bukan siapa2, hanya bagian dari alam yang
kecil dan tidak istimewa ;).

GG: tanggapan ini dibuat 10 bulan yang lalu, thanks ya Mbak
Swastinika, komentarnya sangat manis.....

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

new professional

network from Yahoo!.

Y! Messenger

Want a quick chat?

Chat over IM with

group members.

Endurance Zone

A Yahoo! Group

Learn how to

increase endurance.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Jangan Salah Mas Goen

yayayaya ternyata vincent lebih cocok jualan asuransi, marketingnya
pinter..

salam,
goen

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "audivacx"
<audivacx@...> wrote:
>
> Lho..jangan salah mas. Bukunya Mas Nuruddin "Hampiran Hamparan
> Grammatologi Derrida" juga langsung ludes. Baru seminggu
sebelumnya
> di rak toko buku Toga Mas Diponegoro masih ada 5, eh dalam
seminggu
> ludes.
>
> Semiotika Tuhan juga nyari dimana-mana habis. Jangan-jangan.....
>
>
>
>
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "goenardjoadi"
> <goenardjoadi@> wrote:
> >
> > maka itu sayapun heran kok buku saya Best Life cetak ulang? aku
> > pikir karena isinya bagus, eh ternyata berkat vincent
> >
> > salam,
> > goen
> >
> > --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "gotholoco"
> > <gotholoco@> wrote:
> > >
> > > Mas Goen, saya malah kepengen tuh numpang beken masuk
> ke 'footnote'
> > > setiap email. Tapi heran malah nggak masuk-2 list, mungkin
saya
> > masih
> > > kurang jorok dalam menulis tulisannya.
> > >
> > > Mungkin juga gaya 'footnote' itu meniru apa yang biasa Bung
> Audivac
> > > lakukan, nah kalau masuk listnya Bung Audivac malah saya
merasa
> > malu
> > > dan menjadi beban, dan saya akan protes keras. Tak layak nama
saya
> > > disandingkan dengan orang-orang yang sudah TOP dan JEMPOLAN.
> > >
> > > Hahaha ...hahaha..hahahah
> > > Salam Jourkiss
> > > :)
> > >
> > > --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "goenardjoadi"
> > > <goenardjoadi@> wrote:
> > > >
> > > > gimana ggak bertanggung jawab? daftar nama saya, pak Posma,
> > Mbak
> > > > Ratih, Mbak Swastinika masuk di footnote setiap email?
> > > >
> > > > ya terpaksa kita menanggung beban,
> > > >
> > > > salam,
> > > > Goen
> > > >
> > > >
> > > > --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "non_sisca"
> > > > <non_sisca@> wrote:
> > > > >
> > > > >
> > > > > tidak ada yang paling bertanggung jawab atas orang lain,
> > selain
> > > > > bertanggung atas dirinya sendiri
> > > > >
> > > > >
> > > > > --- In
> psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "goenardjoadi"
> > > > > <goenardjoadi@> wrote:
> > > > > >
> > > > > > ya kalau terus dianggap anak-anak ya terus dibiarkan,
tapi
> > saat
> > > > > umur
> > > > > > 23 tahun kan saatnya kawin? nanti kapan dewasanya? pas
> > punya
> > > > > anak,
> > > > > > nanti bagaimana ngurusnya? dengan cara indigo? terus
> > semakin
> > > > > > banyak bibit-bibit keturunan Indigo, kapan warasnya?
> > > > > >
> > > > > > salam,
> > > > > > goen
> > > > > >
> > > > > >
> > > > > >
> > > > > > --- In
psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "non_sisca"
> > > > > > <non_sisca@> wrote:
> > > > > > >
> > > > > > >
> > > > > > > btw, saya tidak melihat adanya saling menghargai di
sini,
> > > > apalagi
> > > > > > > ikhlas, apalagi rendah hati, apalagi bekerja
> > sama, ......???
> > > > > > (serius
> > > > > > > ajah)
> > > > > > >
> > > > > > > sama aja semua nya, setali tiga uang
> > > > > > >
> > > > > > > omong2 benar juga terkadang, "Siapa di antara kamu
yang
> > tiada
> > > > > > > berdosa, hendaklah ia dahulu melempar batu kepada
> > perempuan
> > > > ini."
> > > > > > > (Yohanes 8: 7)
> > > > > > > (termasuk berlaku buat saya)
> > > > > > >
> > > > > > > sungguh tidak etis, apalagi membawa2 nama anak kecil,
> > (Kefas
> > > > > kah ?)
> > > > > > > sungguh tidak berperasaan (emang salah apa anak itu
sama
> > > > > > kalian ???)
> > > > > > >
> > > > > > > setiap orang mempunyai kehendak bebas, dan bila karena
> > > > > > pertimbangan
> > > > > > > sendiri sebagai orang yang sudah besar (bukan anak2 -
> > red),
> > > > masuk
> > > > > > ke
> > > > > > > dalam suatu lingkungan, dan ternyata salah
perhitungan,
> > > > hendaknya
> > > > > > > tidak menyalahkan siapapun selain diri nya sendiri,
dan
> > > > hendaknya
> > > > > > pun
> > > > > > > tidak ada yang berhak mem-peralat orang lain
sedemikian
> > rupa
> > > > > untuk
> > > > > > > kepentingan diri sendiri.
> > > > > > >
> > > > > > >
> > > > > > >
> > > > > > >
> > > > > > >
> > > > > > >
> > > > > > > --- In
> > psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "goenardjoadi"
> > > > > > > <goenardjoadi@> wrote:
> > > > > > > >
> > > > > > > > bodoh dan tolol, orang baik itu yang menjelaskan
> > kebenaran,
> > > > > > supaya
> > > > > > > > kamu sadar, dari dulu gak ngarti-ngarti, mending
kita
> > nonton
> > > > > > > bioskop.
> > > > > > > >
> > > > > > > > sadar arti menghargai orang lain, sadr arti kata
> ikhlas,
> > > > rendah
> > > > > > > > hati, dan bekerjasama dengan orang lain.
> > > > > > > >
> > > > > > > > kapan selfness kamu bisa sembuh?
> > > > > > > >
> > > > > > > > salam,
> > > > > > > > goen
> > >
> >
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Be a career mentor

for undergrads.

Food Lovers

Real Food Group

on Yahoo! Groups

find out more.

Y! Messenger

PC-to-PC calls

Call your friends

worldwide - free!

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] MELAMPAUI JIWA DAN KEMBALI KEPADA JIWA

RESENSI BUKU
Judul: "The Secret of Better Life – Perjalanan mengenal Jiwa"
Penulis: Ir. Goenardjoadi Goenawan, MM. dan Ir. Stefanus Indrayana

MELAMPAUI JIWA DAN KEMBALI KEPADA JIWA

Oleh:
Audifax

Setelah membaca sepintas draft buku "The Secret of Better Life –
Perjalanan Mengenal Jiwa" dari Ir. Goenardjoadi Goenawan, MM. dan
Ir. Stefanus Indrayana, secara bergurau saya berkata pada
Goenardjoadi: "Mestinya anda tak hanya mengajar di Fakultas Ekonomi
tapi juga Fakultas Psikologi.". Lho? Apa teori kebutuhan yang ada di
buku ini bisa jadi rujukan belajar anak-anak psikologi? Bukan itu
maksud saya. Apa yang menarik dalam buku "The Secret of Better Life"
ini adalah bagaimana penulisnya `menggunakan teori' dan
sekaligus `berteori' mengenai Jiwa dan kebutuhannya. Terlepas dari
bagaimana teori yang dihasilkan dari berteorinya, tetapi keberanian
untuk berteori itulah yang layak menjadi pembelajaran bagi
pembacanya, terutama mereka yang sedang kuliah psikologi.

Banyak dari kalangan ilmuwan hanya `memamerkan' kemampuan mengulang
teori tetapi tidak berani berteori. Orang yang menggunakan teori
kebutuhan Maslow, bisa anda temukan ratusan atau bahkan ribuan,
tetapi sedikit dari mereka yang bisa berteori sendiri mengenai apa
itu kebutuhan. Alhasil, orang-orang yang hanya mengulang-ulang
Maslow semata ini sebenarnya tak lebih dari memamerkan sebuah
ketrampilan yang jauh sebelum ada perguruan tinggi sudah dikuasai
oleh burung kakatua. Di sinilah kekuatan sekaligus kelebihan penulis
buku "The Secret of Better Life". Mengutip teori memang layak
dilakukan, apalagi ketika berbicara mengenai sesuatu yang sudah
pernah dibicarakan terlebih dulu oleh orang lain, tetapi semata
mengulang-ulang tanpa memiliki pemahaman sendiri mengenai apa yang
dibicarakan, itu soal lain.

Buku "The Secret of Better Life" ini dibuka oleh teori `Hirarki
Kebutuhan Maslow", lengkap dengan penjelasan singkat mengenai
Abraham Maslow sebagai pencetusnya. Meski teori yang dihasilkan
terkesan kurang update, karena tidak menghadirkan tujuh hirarki
seperti terakhir ditemukan Maslow, namun penghadiran hirarki Maslow
ini tetap menarik karena disintesakan dengan sejumlah data yang
sebagian di antaranya merupakan pengalaman penulisnya sendiri. Di
akhir buku, sang penulis juga berteori dan menghasilkan hirarki
kebutuhan jiwa versinya sendiri. Seberapa argumentatif teori
kebutuhan jiwa versi Ir. Goenardjoadi Goenawan, MM. dan Ir. Stefanus
Indrayana ini? Itu bukan saya yang bisa menentukan, tetapi melainkan
ketika teori ini teruji saat berhadapan dengan realita atau
antitesisnya. Maka dari itu, saya lebih tertarik untuk membahas
sedikit panjang mengenai keberanian berteori yang justru muncul dari
orang-orang yang notabene bukan berkutat di lingkungan yang
mempelajari jiwa secara intens.

"The Secret of Better Life" bukan hanya ajakan kembali pada Jiwa,
tetapi juga melampaui teori jiwa. Dengan cara apa? Dengan cara
mengenal jiwa termasuk apa yang dibutuhkan oleh jiwa. Nasehat bijak
mengatakan ada saat ketika kedudukan teori-teori diambil alih oleh
realita kehidupan. Di buku inilah Ir. Goenardjoadi Goenawan, MM. dan
Ir. Stefanus Indrayana mengambil-alih posisi teori Maslow dalam
menjelaskan kebutuhan dengan cara mengajak pembaca kembali pada
pernik-pernik kehidupan riil, pada apa yang memang dialami tokoh-
tokoh seperti Bill Gates, Mike Tyson hingga yang dialami sendiri
oleh sang penulis, Goenardjoadi Goenawan. Melalui ajakan kembali
pada Jiwa sekaligus melampaui teori jiwa inilah lantas muncul
hirarki kebutuhan jiwa versi kedua penulis.

Buku ini tampaknya diupayakan untuk hadir secara komunikatif.
Sejumlah kutipan lagu terasa pas dihadirkan untuk berefleksi.
Sayang, sejumlah kutipan lagu, meski dikutip utuh dari awal hingga
akhir tapi tak dicantumkan judulnya. Kendati demikian, kelemahan itu
tak membuat buku ini kehilangan arah yang ingin ditunjukkan
penulisnya, yaitu bagaimana merefleksikan hidup agar mencapai puncak
yaitu mencapai kesempurnaan jiwa dengan mencapai kemuliaan.

GG: thanks ya Audi, resensi ini sudah dibuat 4 bulan yang lalu.....
karena resensi Mas Audi & Leo maka buku saya mengalami beberapa
perbaikan... thanks ya mas Audi.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Find great recruits

for your company.

Y! Messenger

Want a quick chat?

Chat over IM with

group members.

Official Samsung

Yahoo! Group for

supporting your

HDTVs and devices.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: PROTESSSS!!!!Cover Buku terbaru - The Secret of Better Life

He..he..he...dijawab aja temen main-mainnya Mas Goen di milis
Psikologi Transformatif.

Salam,

Audifax

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "goenardjoadi"
<goenardjoadi@...> wrote:
>
> aku bingung kalo ditanya pak indrayana, yang bikin resensi itu
> sopo? audivax? sopo?
>
> nah......?
>
> salam,
> goen
>
>
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "audivacx"
> <audivacx@> wrote:
> >
> > Oya ya ya ya ya ya...
> > memang mesti hati-hati ya...supaya situasinya aman
> terkendali..mesti
> > belajar dari yang sudah-sudah ya...
> >
> > Takutnya juga nanti kalo kelewat ngetop bisa kencannya bisa masuk
> > infortaintment..he..he..he...
> >
> >
> > --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "goenardjoadi"
> > <goenardjoadi@> wrote:
> > >
> > > hehehehe,
> > >
> > > takut nanti dikenalin sama pembaca, padahal lagi kencan sama
> lulu,
> > > lho?
> > >
> > > sudah dari buku ke-4, ke-5 dan ke-6 pake foto, orang bingung,
> ini
> > > jualan buku, apa jual diri?
> > >
> > >
> > > salam,
> > > goen
> > >
> > >
> > > --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, audifax -
> > > <audivacx@> wrote:
> > > >
> > > > Protessss cover buku The Secret of Better Life!!!
> > > >
> > > > Covernya bagus, TAPI KOK GAK ADA GAMBAR OOM GOEN MESEM
> seperti
> > > buku terdahulu??? Hue..he..he...he...
> > > >
> > > > Goenardjoadi Goenawan <goenardjoadi@> wrote:
> > > > Cover Buku terbaru - The Secret of Better Life
> > > >
> > > > Halo teman2,
> > > >
> > > > Ini saya kirimkan Cover Buku terbaru saya - The Secret of
> > Better
> > > Life. Bukunya terbit tanggal 15 November 2007 di Gramedia.
> > > >
> > > > Terimakasih untuk Pak Posma yang memberi komentar buku,
bagi
> > > teman2 yang ingin memberi komentar buku, ditunggu untuk dimuat
> di
> > > iklan di Kompas, menyusul.
> > > >
> > > > terimakasih,
> > > > goen
> > > > __________________________________________________
> > > > Do You Yahoo!?
> > > > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection
around
> > > > http://mail.yahoo.com
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > ---------------------------------
> > > > Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo!
> > Mail.
> > > See how.
> > > >
> > >
> >
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

new professional

network from Yahoo!.

Y! Messenger

Instant hello

Chat in real-time

with your friends.

Holidays with Y!

Fly home on us.

Win free airline

tickets now.

.

__,_._,___