Sabtu, 02 Februari 2008

[psikologi_transformatif] Re: 'AUM SINGA' BUDDHA GAUTAMA & 'AUM SINGA' J.KRISHNAMURTI

Dari: "Zawawi" <zawawi@swadayagraha.com>

aku adalah pembuat rumah
yang ingin eksis dan survive
mengkais-kais segala daya upaya dan batas-batas
melekat pada yang nikmat, menolak pada lukaduka

----------------------
hudoyo:

....... tanpa henti.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

new professional

network from Yahoo!.

Popular Y! Groups

Is your group one?

Check it out and

see.

Yahoo! Groups

How-To Zone

Do-It-Yourselfers

Connect & share.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] KRISHNAMURTI (08/02/01): "Tanpa interval ruang-waktu ini ..."

"Tanpa interval ruang-waktu ini ..."

Mungkinkah menghadapi setiap masalah tanpa interval ruang-waktu, tanpa jeda antara diri kita dan apa yang kita takuti? Itu hanya mungkin apabila si pengamat tidak mempunyai kelanjutan (continuity), si pengamat yang adalah pembangun gambaran (image), si pengamat yang adalah kumpulan ingatan-ingatan dan ide-ide, yang adalah onggokan abstraksi.

Dari; "Freedom from the Known" - 93

==================
HUDOYO:

Kita biasanya menghadapi setiap masalah dengan pikiran, yang menggunakan pengetahuan dari masa lampau, ingatan, ide & abstraksi. Di situ mau tidak mau ada waktu: masa lampau, saat kini & masa depan, dan ada ruang. Di situ ada subyek ('aku', diri), 'si pengamat', yang dirasakan memiliki kelangsungan, dan yang berhadapan dengan obyek, 'apa yang diamati'. Karena ada diri & ada waktu (masa depan), maka mau tidak mau ada ketakutan, ada kecemasan. Dalam menghadapi obyek, subyek dengan pikirannya selalu membentuk gambaran (image), berdasarkan pengetahuan & pengalamannya dari masa lampau, yang merupakan onggokan abstraksi, yang menghalanginya untuk berhadapan dengan obyek secara baru, pada saat kini.

SEMUA itu bersumber pada PIKIRAN. Bisakah PIKIRAN ini berhenti di dalam kesadaran/eling yang tinggi, dan dengan demikian ada TINDAKAN LANGSUNG pada saat kini tanpa masa lampau, tanpa masa depan, yang tidak pernah salah, yang adalah CINTA?

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Be a career mentor

for undergrads.

Y! Messenger

Quick file sharing

Send up to 1GB of

files in an IM.

Y! Groups blog

The place to go

to stay informed

on Groups news!

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] OOT: BERTRAND RUSSELL tentang Indonesia 1965-66

"... dalam kurun waktu empat bulan, lima kali lebih banyak orang mati di Indonesia dibandingkan dengan di Vietnam dalam kurun waktu 12 tahun."

("... in four months, five times as many people died in Indonesia as in Vietnam in twelve years."

(Bertrand Russell tentang pembunuhan 500 ribu - 1 juta orang yang dilakukan oleh militer dan/atau atas hasutan militer Indonesia pada 1965-66.)

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Your school could

win a $25K donation.

Y! Messenger

Instant smiles

Share photos while

you IM friends.

Yahoo! Groups

Special K Challenge

Join others who

are losing pounds.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] OOT: I Ngurah Suryawan - Mass Grave Fieldwork

Dari: http://kaskus.us/showthread.php?t=274943&page=3

Mass Grave Fieldwork

Dumun nike wenten anak jerit-jerit ring tegalne. Wenten sane nepukin sepeda mejalan pedidine. Tongos niki tenget, nikangne driki dumun semer tongos metanem anggota PKI waktu Gestok. Mangkin kan wenten pelinggih driki.

I Ngurah Suryawan

(Dulu ada orang menjerit-jerit di ladang ini. Ada juga yang melihat sepeda berjalan sendiri. Tempat ini memang angker, ceritanya dulu sumur ini tempat ditanamnya anggota PKI saat Gestok. Makanya sekarang ada tempat pemujaan di sini.)

(Kadek Artana, Desa Melaya, Kabupaten Jembrana, 2 April 2005)

Kadek mengantar saya menerobos ranting-ranting bambu menuju ke sebuah tegalan. Saya menerawang, menatap ke langit mendengar desiran angin mengembus menggerakkan ranting bambu. Menginjakkan kaki di sebuah ladang penuh semak dan tumbuhan liar adalah kali pertama bagi saya. Sejauh mata memandang hanya ladang, yang kini lebih tepat disebut hutan bambu yang lebat. Samar-samar saya melihat pelinggih, pura kecil tempat pemujaan, beratap kayu bercat hijau yang sudah lapuk.

Saya sadar telah memasuki apa yang oleh masyarakat Melaya disebut daerah Lubang Buaya. Bukan monumen megah tujuh jenderal Pahlawan Revolusi, lengkap dengan diorama kekejaman Gerwani di ibu kota Republik ini, tetapi Lubang Buaya di Desa Melaya, Kabupaten Jembrana, daerah paling barat Pulau Bali. Tidak ada diorama, tanpa monumen yang menegaskan di tempat ini adalah saksi kekejaman. Hanya ada deretan lebatnya pohon bambu dan tanaman liar mengelilingi pelinggih.

Kadek yang mengantar saya berujar dingin sambil menunjuk tanah di sekitar kami berdiri, yang dalam bahasa Indonesia berarti, Di sini dulu kata orang-orang tua mayat-mayat ditanam. Kurang lebih ada 50 mayat. Hanya itu perkataan Kadek. Belum bisa saya memercayai, di bawah tanah yang kami injak 50 mayat manusia merah Bali, yang tertuduh menjadi anggota dan simpatisan PKI tertanam. Inilah, dari penuturan saksi sejarah pembantaian massal di Jembrana, salah satu sumur yang dipakai menanam mayat. Karena jumlah mayat yang banyak, truk-truk pengangkut menggunakan sumur penduduk di sekitar Desa Melaya. Selebihnya dibuang di Pantai Candikusuma, dekat dengan desa itu.

Lalu di mana tepatnya sumur Lubang Buaya itu? Pertanyaan yang menggugah saya membayangkan bagaimana jika tanah itu dibongkar dan mencari bukti di bawahnya apakah benar ada kuburan massal. Keinginan saya mungkin berlebihan. Saya hentikan keinginan bertanya pada Kadek. Membongkar sumur dan menemukan tulang-belulang manusia adalah sumber masalah lain bagi saya. Mungkin nanti saya akan ditangkap pecalang, milisi adat, bersaksi di muka adat karena membuat leteh [kotor] daerahnya dengan menemukan tulang manusia yang belum diaben [dibakar]. Dalam kepercayaan Hindu Bali, haram hukumnya membongkar kuburan, yang hanya boleh untuk ritus ngaben, sementara seluruh korban pembantaian PKI telah diaben secara simbolis karena jasadnya tak ditemukan.

Saya mendengar cerita bahwa di samping pelinggih itu dulu sumurnya. Kemudian digali lubang mengelilingi pelinggih yang kini dipagari kayu bersemen. Saya beranikan diri menjongkok. Saya raba tanah itu dan mengambilnya. Saya menciumnya sebagai rasa hormat dan sujud saya kepada arwah dan jenazah yang bersemayam di tanah ini. Desah saya adalah kepedihan, keharuan bercampur ketidakpercayaan. Mengapa bisa terjadi pembunuhan sesama saudara tahun 1965 hingga 1969 di Bali. Bagi saya tidak cukup alasan aeb jagad bumi hancur dengan pertanda meletusnya Gunung Agung 1963 yang sering diceritakan para penua tetua di desa. Ada yang salah dengan rasa kemanusiaan manusia Bali ketika itu, sangat biadab dan membenarkan membunuh manusia dengan alasan menyupat mengantarkan kepergiannya dengan membunuh.

Saya menuju ke sebuah rumah besar di depan ladang Lubang Buaya itu. Berdiri bangunan dengan atap yang mulai bolong. Cat rumah dan perlengkapan di dalamnya berserakan. Kelihatan rumah tersebut tidak berpenghuni. Di dalam rumah terdapat alat-alat pembuat es terbengkalai. Kadek yang dari tadi membisu perlahan bercerita. Rumah ini dulunya adalah pabrik es kakaknya. Usaha yang mulai berjalan sukses itu terhenti setelah kakaknya takut sering mendengar suara-suara jeritan di situ. Kakaknya memutuskan meninggalkan rumah tersebut dan memulai usaha baru di Denpasar.

Bersebelahan dengan rumah itu adalah rumah Kadek, yang kini tinggal dengan kedua orangtuanya. Rumah sederhana beratap gedek dengan rangka yang masih dari bambu. Kedua orangtuanya telah menunggu kami. Saya bersila dan menemani ayah Kadek bercerita. Sontak setelah ditanya Lubang Buaya, ayah Kadek bercerita dengan berbisik-bisik, penuh hati-hati. Iya, dulu di sana sumur keluarga. Petang harinya ada truk membuang mayat di sumur itu, tapi saya disuruh diam saja.

Lalu dari mana datang mayat itu, di mana pembantaiannya? Saya mengikuti jejak cerita pembantaian di Bumi Makepungâ€"nama lain Kabupaten Jembrana. Dari cerita saksi sejarah sampailah saya pada cerita tentang Desa Tegalbadeng. Tegalbadeng, jika dibahasaindonesiakan lebih kurang berarti "ladang hitam" dari kata bahasa Bali, tegal dan badeng.

Desa Tegalbadeng letaknya masuk ke pelosok dari pusat kota Negara, Kabupaten Jembrana. Letaknya yang masuk ke dalam membuat desa itu memang terlokalisasi. Sampai di rumah itu, saya disapa oleh seorang lelaki renta. Sapaannya sangat ramah mempersilakan saya duduk di pelataran rumahnya. Lelaki renta itu, Pak Mangku, bertanya, Ada yang mau ditanyakan ya pada saya?

Saya mulai melanjutkan pembicaraan tentang situasi desa dan aktivitas Pak Mangku sehari-hari. Dari sinilah pembicaraan mulai akrab dan perlahan, tetapi pasti saya mengetahui siapa Pak Mangku sebenarnya dan bagaimana ingatannya tentang peristiwa 1965 di desanya. Pak Mangku sesuai dengan namanya adalah seorang Mangku (pendeta menurut Hindu-Bali) di Pura Dalem Tegalbadeng. Selain menjadi pendeta, Pak Mangku juga seorang Balian dukun di desanya. Pantas saja di depan saya ada kamar suci dengan pintu coklat berukir yang setengah terbuka. Saya melirik. Di dalam kamar suci berdiri altar pemujaan dan patung dewa dalam kepercayaan Hindu.

Dari penuturan Pak Mangku saya mulai mengais cerita "rahasia" masyarakat Jembrana tentang Tegalbadeng yang selalu disebut saat membicarakan Gestok dan pembunuhan PKI di Jembrana. Desa ini disebut-sebut tempat awal terjadinya pembantaian massal yang didahului dengan bentrokan antara massa PKI dan PNI yang bergabung dengan tentara, Pemuda Anshor NU bernama Gerakan Front Pancasila Menumpas Komunis. Dari bentrokan itu seorang tentara dari massa Front Pancasila dan dua orang anggota Pemuda Anshor NU tewas.

Pak Mangku ingat terjadi bentrokan di desanya. Setelah itu seluruh massa keluar berhamburan membakar rumah orang yang dituduh anggota dan simpatisan PKI. Berikutnya adalah malam-malam mencekam saat orang diculik dari rumahnya dan tak kembali lagi. Beberapa orang yang melawan dibunuh langsung di rumahnya. Mayatnya diseret dan dibuang di sumur penduduk di sekitar Tegalbadeng.

Pak Mangku adalah bagian dari cerita itu. Saat tahun 1965 usianya menginjak 18. Hari-harinya dihabiskan bersekolah dan membantu ayahnya bekerja di sawah. Sampai ia mendengar kabar PNI dan massa Front Pancasila membutuhkan relawan untuk nguopin membantu membasmi komunis di Tegalbadeng. Tanpa ragu ia ikut-ikutan mendaftar bersama beberapa kawan sebayanya. Pak Mangku mulai mengingat yang kene garis termasuk daftar akan dibunuh dibawa dengan truk dari seluruh desa di Tegalbadeng pukul 8 malam. Pukul 9 sampai 10 malam tali yang mengikat tangan mereka dan kain yang menutup mata dilepas. Mulailah pembantaian sampai pukul 5 pagi oleh tentara dibantu tameng milisi sipil dengan memakai topi hitam, celana panjang hitam bersenjatakan kelewang.

Deskripsi yang lebih terperinci tentang peristiwa Tegalbadeng saya dapatkan dari sebuah dokumen catatan sejarawan I Wayan Reken almarhum. Dokumen ini menyebutkan pada pukul 9 malam 30 November 1965 diterimalah laporan seorang penduduk bangsa Bali Islam dari Desa Tegalbadeng kepada markas Anshor di Loloan Barat yang menerangkan ada suatu rapat gelap gerombolan PKI di Desa Tegalbadeng. Rapat gelap PKI itu berlangsung di rumah seorang anggota polisi bernama Pan Santun, tepat di sebelah barat Pura Pande Tegalbadeng. Laporan ini dilanjutkan kepada Intel Kompi D.471 di Negara. Untuk mengecek kebenaran berita itu, dua tentara intel dikirim bersama puluhan Pemuda Anshor dari Loloan Barat.

Rombongan pemuda Anshor yang mengantar dua personel intel ke tempat rapat gelap PKI di Desa Tegalbadeng dicegat oleh pengawal PKI sewaktu akan masuk mengadakan pemeriksaan. Tanpa diduga, sewaktu tentara intel dan Pemuda Anshor bersitegang memasuki halaman, mereka dihujani batu berbarengan dengan tembakan dari dalam. Berpuluh lampu senter PKI menerangi halaman tempat Pemuda Anshor berada. Terjadilah perkelahian sengit.

Tegalbadeng yang terkenal sebagai basis PKI memukul kentungan dengan kode-kode sehingga massa PKI yang siaga bersembunyi di sekitarnya menyerbu. Karena jumlah musuh yang lebih besar, rombongan Pemuda Anshor mundur meninggalkan jenazah tentara intel bernama Regar dan dua jenazah pemuda Anshor. Tentara intel tewas tertembak dan dua Pemuda Anshor tewas terpenggal senjata tajam. Insiden ini kemudian dilaporkan kepada Kopkamtib di Kompi D Negara. Secepatnya malam itu juga dikirim pasukan untuk menggempur pertahanan massa PKI di Tegalbadeng. Di belakang pasukan Kompi D berduyun massa Islam menghancurkan sarang gelap PKI itu. Terjadilah pertempuran sangat hebat dengan massa PKI. Ribuan massa PKI lari berpencar mundur. Orang PKI yang terluka dan mati secepatnya disembunyikan oleh kawan mereka kemudian menghilang.

Dari sinilah kemarahan massa Front Pancasila mulai memuncak. PNI Front Marhaenis mengorganisasikan massa rakyatnya menumpas habis PKI sampai ke akar-akarnya. Tentara melalui Kopkamtib di belakang mereka. Ditambah lagi dengan Pemuda Anshor dan Djamiatul Muslimin Indonesia NU yang dengan tewasnya dua Pemuda Anshor mengatakan djihad terhadap PKI.

Kontroversi mengenai peristiwa Tegalbadeng mulai terkuak ketika saya bertemu dengan seorang yang telah lama memendam kebisuan untuk bersuara. Wayan Dumun, nama bapak ini, sopir dari polisi yang mondar- mandir mengantar tahanan dari anggota dan simpatisan PKI. Penuturan yang menarik dari Pak Dumun adalah versinya tentang peristiwa Tegalbadeng yang disebutkan menjadi cikal bakal amarah massa Front Pancasila dan amuk massa pembantaian terhadap anggota dan simpatisan PKI. Ini sekaligus versi lain bahkan gugatan akan versi sejarah Wayan Reken almarhum.

Ingatan Wayan Dumun menuturkan bahwa isu rapat gelap yang mendasari penyerbuan adalah awal malapetakanya. Saya ingat pas menjelang kejadian penyerbuan itu ada piodalan (upacara ritus Red) di Pura Pande Tegalbadeng, tutur Wayan Dumun.

Tampak jelas ia menunjukkan kesan tak setuju dengan opini umum terhadap peristiwa Tegalbadeng yang menyatakan PKI melakukan rapat gelap, apalagi mempersiapkan penyerangan terhadap massa Front Pancasila dan barisan Anshor yang melakukan pemeriksaan ke desa tersebut. Penduduk yang merasa simpatisan dan anggota PKI minta perlindungan terhadap anggota polisi itu. Mereka takut nanti jika suatu saat rumah mereka akan dibakar atau anggota keluarga mereka akan diculik dan dibunuh. Maka, ungkapan yang menyebutkan Jembrana Kaon Ulian Orti (Jembrana hancur karena isu) ada benarnya.

Peristiwa Tegalbadeng jelas menunjukkan itu semua: hanya berawal dari sebuah isu yang menyebutkan PKI melakukan rapat gelap persiapan penyerangan pada kamp tahanan anggota PKI yang dijaga tentara bersama massa Front Pancasila. Versi rapat gelap juga harus diperiksa hasil dari rekayasa dan tuduhan siapa? Ada baiknya memerhatikan ingatan Pak Dumun yang menyebutkan itu hanyalah akal-akalan tentara dan massa Front Pancasila dalam mencari- cari kesalahan PKI. Tentu ini untuk alasan menumpas sampai ke akar-akarnya simpatisan dan anggota partai palu arit ini.

Konstruksi sejarah akhirnya berhadapan dengan dokumen (Pak Reken) dan ingatan (Pak Dumun) yang kontradiktif. Catatan historis yang disampaikan Pak Reken melekat kuat dalam ingatan masyarakat tanpa gugatan. Sejarah hanya berkutat dalam persoalan fakta yang terbentuk dalam dokumen resmi, yang dianggap faktual dan valid untuk kajian sejarah arus atas, elite. Sementara posisi ingatan Pak Dumun adalah narasi dari ekspresi penggugatan ingatan sosial masyarakat yang telah beku tanpa versi lain. Pak Dumun menyatakan narasinya sebagai sebuah ingatan psikologis dengan penuturan-penuturan sejarah dari arus bawah, korban.

Narasi Pak Dumun adalah harta berharga bagi studi sejarah yang telah lama berkutat pada pakem sejarah positivistik, No Document, No History, tanpa sekalipun mendengar dan mengapresiasi penuturan korban dan versi sejarah lainnya. Posisi penuturannya bukan pada faktualitas, tetapi lebih kepada empati dan penafsiran penuturan para korban untuk menciptakan kebenaran naratif. Maka, History is Rememoration. Meletakkan fondasi sejarah bukan pada fakta historis dari peristiwa sejarah itu seperti perdebatan siapa dalang G30S tetapi pada latar dan jejak kekerasan yang menyertainya: pembantaian massal anggota dan simpatisan PKI, pengiriman tahanan politik ke Pulau Buru, dan diskriminasi politik.

I Ngurah Suryawan, Visiting Fellowships di PUSdEP (Pusat Sejarah dan Etika Politik) Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Sedang menulis buku Ladang Hitam di Pulau Dewa: Jejak-Jejak Pembantaian Massal PKI di Bali.

Dari: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/02/Bentara/1859823.htm
<tidak ada lagi; sudah dihapus oleh Kompas/hudoyo>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

new professional

network from Yahoo!.

Y! Messenger

Group get-together

Host a free online

conference on IM.

Do-It-Yourselfers

Find Y! Groups

on Lawn & garden,

homes and autos.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Bingung nih mau nulis...

BINGUNG NIH MAU NULIS...


T = Pagi, Mas Leo !

J = Pagi juga, Mbak S !

T = Sebenarnya sudah beberapa hari pengin nulis, tapi
bingung mau nulisnya, karena kalau ngikutin pikiran
tulisannya bakal tidak terstruktur, runut dan enak
dibaca.. tapi pagi ini seiring dengan derasnya hujan
akhirnya aku serahkan aja pada jariku untuk mengetik
yang dia mau...

J = Sama, mbak, aku juga begitu. Serahkanlah semuanya
pada si dia. Kalo si dia itu ternyata namanya si Jari,
so what ? Apa yang terjadi, terjadilah, hmmm hmmm
hmmm...

T = Sudah cukup lama aku baca milist SI, yang ternyata
ikut trend juga sebenarnya; pas heboh Babe Harto sakit
pengin SMS Mas Leo komentarnya apa.. ternyata tanpa
kuminta udah jelas banget di babarkan dalam milist...
wow....

J = Wow juga...

T = Ada sedikit pengin berbagi, mengenai kata
"babaring lelakon" yang dimuat di milist beberapa
waktu lalu (Mas A), Kalo yang dimaksud "Babaring
lelakon" itu artinya "Penjelasan/ crita jelasnya/
detilnya"; kalo yang dimaksud "Bubaring lelakon"
berarti ya "akhirnya cerita". Mungkin itu dari saya
pribadi, banyak teman Jawa di milist yang mungkin
lebih ngerti.

J = Ya, memang begitu. Mas A itu ternyata ngomong
tentang BABARING lelakon (revealing the scenario),
tapi aku mengertinya tentang BUBARING lelakon (bubar
jalan, grak !), maklum aku kan orangnya gak sabaran,
pengennya cepet dibubarin aja deh,... cappe dehh !!

T = Kalo aku orang Jawa tulen mas, bapakku kejawen
dan ibuku abangan so dalam agama aku juga melalui
pencarian dengan pertanyaan yang muncul dihati. Di
saat teman sibuk pacaran, bermain, belajar, dll aku
malah sibuk mencari jawaban, "Tujuan hidup itu apa?".

J = Hmmm hmmm hmmm... a serious person nih.

T = Kembali ke Bokap, kalo tidak salah, Bokapku itu
sering bilang Darmo Gandul sebagai buku petunjuk dalam
semedi/ meneng/ eling. Jadi dalam kejawen yang dianut
Bokap sama dengan Kepercayaan kepada Tuhan YME yang
dulu disiarkan di TVRI dalam acara Mimbar Agama
(karena beliau dulu sering nonton), di akhir acara
pemandunya selalu menutup dengan "Eling-eling".

J = Ya, aku inget jaman dulu waktu aku masih kecil ada
acara TVRI yang namanya "Mimbar Kepercayaan",
something like that. Tapi acara itu BIKIN BT. Aku gak
ngerti itu orang2 tua pada ngomong apa di mimbar itu,
seinget aku mukanya itu ALWAYS tanpa senyum, apalagi
ketawa. Ngomongnya itu always DATAR. Gak ada seksi2nya
sama sekali, pedahal biarpun waktu itu aku masih kecil
(SD maybe), aku kan sukanya yang gimana gituh, hmmm
hmmm hmmm...

T = Aku tidak pernah baca kitab Darmo Gandul itu, tapi
dari diskusi Bokap dengan teman-temanya sering
kudengar bahwa ajarannya adalah sedulur papat lima
pancer, Kakang kawah adi ari-ari, dan sangkan paraning
dumadi dll. Tapi dalam ritual khusus aku sering lihat
Bokap nulis pake arab gundul (beda dengan tulisan arab
pada umumnya), entah apalah artinya waktu itu aku
belum ngeh usiaku masih SD.

J = Hmmm hmmm hmmm... kalo ARAB GUNDUL itu aku juga
gak ngerti mbak. Tapi dari Babe aku, aku pernah denger
juga, katanya Arab Gundul itu semacam tulisan yang
diajarkan kepada anak2 sekolah jaman dahulu kala,
generasi Babe aku. Tapi lucu juga yah, kok tulisan
dinamain "Arab Gundul", soalnya kalo bener ada "Arab
Gundul" kan mustinya ada "Arab Gondrong" juga yah ?...
Hmmm hmmm hmmm...

T = Mungkin sekelumit cerita ini bisa di share ke
teman di milist Mas M di Tasmania Utara.

J = Sure, so pasti de'e bakal baca juga.

T = Kitab Darmo Gandul pun memang bukan satu2nya kitab
untuk kejawen, karena seiring bertambahnya usia, Darmo
Gandul juga merupakan ajaran, jadi lebih ke
Hindu-Islam di dalamnya. Tapi benar tidaknya ya
silahkan bagi teman-teman yang lebih paham silahkan
ikut menambahkan...

J = Well, ya Darmo Gandul itu TERNYATA isinya ajaran
tentang Buddhi (Kesadaran, Eling, etc...). Aku juga
tahu tentang itu setelah mimpi digandulin sama Darmo
Gandul. Ceritanya waktu itu aku lagi tidur. Terus, aku
merasa ada yang pegangin kaki aku dan gak mao lepas.
Masa orang tidur kakinya dipegangin ? ... So, aku
bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan, maksudnya supaya
dilepasin. Eh, gak mao dilepasin juga. Terus, di dalam
tidur itu aku "merasa" tahu bahwa yang megangin kaki
aku itu namanya DARMO GANDUL.

So what, pikir aku. Mao Darmo Gandul kek, mao Darmo
Gindul kek, pokoknya lepasin kaki gw, begitu aku
bilang sama dia. Eh, gak mao dilepasin juga. Terus aja
dia pegangin kaki aku sampe akhirnya aku BT sendiri
dan BANGON. Bangon aja. Daripada gw tidur digandulin
terus kakinya, kan mendingan bangon aja. Terus, waktu
bangon, sambil klayar kliyer,... kata2 DARMO GANDUL
itu terngiang-ngiang di kepala aku. Darmo Gandul ?
Darmo Gandul ? ... Apa ya artinya ?

Waktu itu aku TIDAK TAHU Darmo Gandul itu apa. Tapi,
karena "makhluk" itu udah gimana gituh sama aku waktu
aku lagi tidur, akhirnya aku cek di internet,...
penasaran juga tentang makhluk ET yang satu ini. So,
akhirnya aku mengerti juga tentang Darmo Gandul...
Ohhhh... ternyata begitu. Ternyata dia itu lho yang
suka gandulin kaki orang waktu lagi tidur, hmmm hmmm
hmmm... Ya, memang ajaran BUDDHI (atau Budi Pekerti).

T = Mengenai Sayidina Ali, (Perlu Mas Leo ketahui saya
beragama Katolik,jadi saya tidak pernah tau siapa itu
Saidin Ali menurut imel dari Mas M). Sedikit info,
beliau adalah menantu Nabi Muhammad, dan saya pun
kurang mengenal hanya tahu, beliau meninggal ditikam
saat beribadah. Bagi yang lebih tahu silahkan
diluruskan kalo salah....

J = Sama dong, aku juga GAK TAU siapa itu Saidin Ali
yang ada di Mekah. Sampe sekarang juga aku gak tau.
Terus, waktu aku komentarin imel dari Mas M tentang
Saidin Ali, aku itu SOK YAKIN aja waktu nulis namanya
"Sayyidina Ali", pedahal aku itu bener2 gak tahu even
yang aku tulis itu. Cuma kayaknya namanya Sayyidina
Ali, dan memang aku "dapet" impressi tentang
pembunuhan2, hmmm hmmm hmm...

T = Nah mengenai komentar Mas Leo tentang ajaran agama
asalnya dari Yahudi, emang mas; Islam pun dalam
kitabnya menyampaikan bahwa Al Qur'an juga berasal
dari kitab-kitab terdahulu dan wajib di-imani oleh
umatnya, yaitu Zabur kitabnya Daud/ David, Taurat
kitabnya Musa/ Moses, dan Injil kitab Isa alaisalam/
Yesus.

J = Tapi dalam kenyataannya kan TIDAK dipraktekkan
dengan alesan kitab2 ZABUR, TAURAT, dan INJIL itu udah
digimanain gituh (Note: Zabur dan Taurat digunakan
oleh Orang2 Yahudi sampai sekarang; Zabur, Taurat, dan
Injil digunakan oleh penganut Kristen/Katolik dan
termuat di dalam Alkitab). Pedahal, menurut riset,
segala kitab2 itu memang begitu dari dulu, memang
seperti itu dari ribuan tahun yang lalu, dan gak ada
yang pernah robah2.

Tapi ustads2 itu kan banyakan PAKE DENGKUL mikirnya,
dan pada bilang kalo kitab2 yang dihormati oleh Al
Quran sendiri itu (Zabur, Taurat, dan Injil) udah
dirobah2, jadi seolah-olah gak asli. Biasa, itu soal
rebutan umat, supaya umat gak lari, musti dibuat agar
goblok terus. Dan ngibullah mereka. Dasar orang
agamis, cappe dehh !!

T = Dan aku setuju banget kalo nama2 Tuhan itu emang
diciptakan agar mudah dalam berdoa jadi disesuaikan
dengan daerah/negara masing2... dan penyebutan tuhan
dan nabi aku seneng dengan orang Jawa, bener2
kelihatan penyembahannya, walaupun aku tidak
memakainya. Jadi kalau negara lain memangil tuhannya
itu langsung; ya Tuhan, God, Allah ato apalah... di
jawa itu pasti dikasih embel2 "Gusti Pangeran, Duh
Pangeran kang akarya jagad, Gusti Kanjeng Nabi....".

Benar2 menggambarkan penghambaan, karena kalo mengeluh
baik dalam do'a ato spontanitas selalu pakai bahasa
Jawa yang paling alus... Mungkin ahli sejarah yang
lebih paham dalam hal ini....

J = Ya, memang begitu, hmmm hmmm hmmm...

T = Mas, satu lagi aku tuh kan baru tahap penikmat
milist SI, sebenarya pengin ikutan acaranya tapi tidak
PD mas, tidak ada yang kukenal, terus kalo boleh tahu
acaranya ngumpul gitu ngapain mas, kalo mau kasih
gambaran dong biar aku ada sedikit bayangan...

J = Mbak, one thing for sure, kalo kita ngumpul2 itu
acaranya is makan2 dan ngobrol ngalor-ngidul. Yang
jelas, bakal ketawa gak ada abis2nya. Dan gak usah
ragu2 buat dateng, itu BUKAN pameran kesaktian
(emangnya ada yang sakti ?) atau hal2 semacam itu
melainkan ajang SHARING dan SILATURAHMI. Kita2 itu kan
senengnya ngumpul dan ngobrol segala macem. Daripada
malem minggu gw ke mall (bosen ah), kan mendingan
ngumpul2 aja sama temen2 BARU. Setiap kali ngumpul
pasti ketemu temen2 baru. Yang datang selalu
berganti-ganti, dan gak perlu sungkan. Langsung aja
memperkenalkan diri dan sharing about anything. Apa
aja,... Lalu ada juga MEDITASI BERSAMA. Pokoknya, bisa
kek, atawa gak bisa kek, ya meditasi aja, merem aja.
So, please ikut aja next time, gak usah ragu.

T = Postingan Mbak M yang udah profesional dalam hal
spiritual, sangat bagus, sedikit juga saya pernah baca
dalam tingkatan ajaran suatu agama memang posisi Iman
tertinggi adalah umat tidak takut hukuman (neraka) dan
tidak mengharap hadiah (surga). Posisi seorang yang
beriman pada Tuhan (terserah model dan namanya apa)
adalah seperti yang selalu Mas Leo dengungkan, IKHLAS
dan PASRAH... jadi kalo berdoa tidak lagi menuntut ini
dan itu, jadi lebih kepada dialog dengan Tuhan, lebih
mengerti akan diri dan Tuhan yang dia sembah itu.

J = Ya, memang begitu. Meneng aja, diem aja.

T = Dalam tulisan yang kubaca ada tokoh perempuan
dengan kualitas keimanan yang sangat ingin dekat
dengan Tuhan nya, sampai dalam satu doanya,
"Kenerakapun aku mau, asal dengan ridha-Mu".

J = Kok aku jadi inget lagunya grup band UNGU sih,
mbak. Ada lagunya Ungu yang pake kata2 "ridha-mu" itu.
Lagunya sih enak, tapi penyanyinya si Pasha itu
akhirnya cere yah ? Akhirnya dihukum percobaan karena
mukul orang yah ? ... Well, in my opinion, Pasha Ungu
harus belajar Ikhlas dan Pasrah, harus belajar RIDHA
juga. Maksudnya bener2 Ridha, dan bukan cuma di lagu
saja.

+++++++++++++

[Leo seorang praktisi Psikologi Transpersonal dan bisa
dihubungi di no HP: 0818-183-615. Untuk bergabung
dengan Milis Spiritual-Indonesia, please click:
<http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia/join>.
NOTE: Except mine, all names used in the YM / email
conversations are PSEUDONYMS.]

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

new professional

network from Yahoo!.

Best of Y! Groups

Check it out

and nominate your

group to be featured.

How-To Zone

on Yahoo! Groups

Discuss home and

garden projects.

.

__,_._,___

Re: [psikologi_transformatif] Re: mau bidadari atau menjadi bujang lapuk...????

hahahahahahhhhhhh ......

hendrik kliatannya lebih banyak baca buku-buku kayak:

- indahnya bidadari surga
- melihat indahnya surga
- surga dan neraka

ketimbang baca Quran ......

Bener ndak Nndrik ?

hahahahahahhhhhhh ......ah.......ah.......ah.......

On 2/3/08, pradita@telus.net <pradita@telus.net> wrote:
>
> Emang surga terbuka buat manusia berpikiran jorok dan ngeseks kaya gini ya?
> Konsep surga dari mana nih? masuk surga maunya pelesiran sama bidadari? Hi hi
> hi, sungguh pathetic hidupmu, Ndrik.
>
> manneke
>
> Quoting hendrik bakrie <henrik12syiah@yahoo.com>:
>
> > hahahah....hahahaha.....hahaha..... lebih baik saya masuk disurga untuk
> > mendapatkan wanita/bidadari daripada saya masuk surga tetapi hanya untuk
> > melihat kebahagiaan tuhan dengan wanita-wanitanya (mamanya hercules, sinta,
> > ken dedes, dewi parwati,dll)...
> >
> > hahaha...hahha....hahaha.... sampai kapan seorang paus dan pastur menjadi
> > "bujang lapuk"....????... di dunia sudah jadi bujang lapuk dan disurga tetap
> > aja jadi bujang lapuk... sampai kapanpun akan selalu menjadi "bujang
> > lapuk"....
> >
> > kita menabung untuk kebahagiaan dimasa depan,
> >
> > tetapi kalau menjadi bujang lapuk didunia dan di surga dan ke surga hanya
> > untuk melihat tuhan dengan para wanitanya, apakah anda mau....????..
> >
> > hahahaha....hahahaha...hahahah.....
> >
> >
> > ---------------------------------
> > Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it
> > now.
>
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Find great recruits

for your company.

All-Bran

Day 10 Club

on Yahoo! Groups

Feel better with fiber.

Yahoo! Groups

Special K Challenge

Join others who

are losing pounds.

.

__,_._,___

Re: [beasiswa] [Butuh Info] Apakah Lulusan Diploma 4 bisa melanjutkan Studi di Luar??

Dear Wuri

saya akhir2 ini sering membaca pengumuman lowongan S3, tapi hanya untuk universitas di Eropa.

Ternyata banyak sekali lowongan yang hanya mensyaratkan pelamar menempuh pendidikan undergraduate selama 3 atau 4 tahun.

Mekanismenya kalau undergraduatenya 3 tahun, S3-nya harus ditempuh selama 4 tahun. Kalau undergraduatenya 4 tahun, S3-nya bisa ditempuh selama 3 tahun.

Jadi menurut saya kalau S2, rasanya tidak ada masalah.

ini beberapa link yang mungkin berguna untuk sarjana indonesia yang mau kebut langsung dari S1 ke S3

http://www.internationalscholarships.info/
http://www.scholarshipnet.info/
http://www.jobs.ac.uk/
http://www.academictransfer.nl/
http://www.academicjobseu.com/

Selamat berburu beasiswa!


wassalam

andri

>>>>>
Dear ALL..

Apakah Lulusan Diploma 4 bisa meng apply Lamaran untuk langsung S2 di luar negeri..
Kalau yg sudah punya pengalaman mohon di share..
Mengingat beberapa Instansi belum mengakui bahwa D4 setara S1

Mohon Pencerahan..

Terima kasih

---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

INFO, TIPS BEASISWA, FAQ - ADS
Hanya ada di http://www.milisbeasiswa.com/

===============================

CARI KERJA?
Gabung dengan milis vacancy. Kirim email kosong ke vacancy-subscribe@yahoogroups.com.
http://www.groups.yahoo.com/group/vacancy

===============================

INGIN KELUAR DARI MILIS BEASISWA?
Kirim email kosong ke beasiswa-unsubscribe@yahoogroups.com
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:

http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:

http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/join

(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:beasiswa-digest@yahoogroups.com
mailto:beasiswa-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
beasiswa-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

http://docs.yahoo.com/info/terms/