Sabtu, 09 Februari 2008

[beasiswa] [OOT] Call for Papers - NTT at the cross road - 40 Years of NTT Development

Journal of NTT Development Studies is a peer reviewed, a bi-lingual journal (Bahasa Indonesia or English)
http://www.ntt-academia.org/ntt-study-journal.html

Called for Papers - "NTT at the cross road - 40 Years of NTT Development" for First Edition Vol 1 April 2008. Preferred Topics for 15 April 2008 edition:

40 Years of East Nusa Tenggara Economic Development

Knowledge Management of NTT: Constraints and Opportunities

Social Development of NTT: Education, Health and

NTT Human Development Strategy: A Reflection Forwards

Rural Development Infrastructures and Spatial Poverty Analysis of NTT

Interdisciplinary Research Agenda for NTT Development

International Aid in East Nusa Tenggara: What are the Impacts in 40 Years?


First Edition First Volume: Forthcoming in April 2008!

Notes for writers:
The Interdisciplinary Journal of NTT Development Studies serves as a forum for dialogue and knowledge sharing between scientists and practitioners. Whilst we anticipate that many submissions will come from both international and Indonesian national writers, an important aim of the journal is to provide a space for developing and housing the work of Nusa Tenggara Timur based practitioners and writers who thus far have lacked significant representation in the studies of East Nusa Tenggara developmental field. As such, it is intended that the peer review process will contribute to the goal of developing the research and writing skills of those who submit articles to the journal.

This journal is both multi-disciplinary and interdisciplinary journal on NTT Development Studies. It is available both in Bahasa and in English. Length of per article is about 3000-5000 words, with maximum 200 words abstracts. Please send your figures and tables in separate files.
We publish three times a year. For referencing purpose, please Harvard model. download See also example from "Getting the Most from Journal Articles" - download Email to Editor: editor@ntt-academia.org; axcelitho@ntt-academia.org; elcidli@ntt-academia.org

(Jurnal ini bersifat multi dan lintas disiplin yang membahas tentang studi pembangunan NTT dan dipublikasikan dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Panjang tulisan berkisar 3000-5000 kata, dengan jumlah abstraksi maksimum 200 kata. Dipublikasikan 3 kali dalam setahun. Untuk format
referensi, silahkan menggunakan Harvard model/format terlampir: download.
Sebagai tambahan, silahkan download paper "Getting the Most from Journal Articles." download
Email to Editor: editor@ntt-academia.org; axcelitho@ntt-academia.org; elcidli@ntt-academia.org

Notes for Reviewers:
Peer Review Guidelines and Note for Peer Reviewers of NTT Development Journals (Silahkan Download Panduan Peer Review dan catatan bagi editor dan reviewer). Format scoring penilaian reviewer (form for reviewer evaluation of the paper) download
Please nominate yourself for being a reviewer?


[Non-text portions of this message have been removed]

INFO, TIPS BEASISWA, FAQ - ADS
Hanya ada di http://www.milisbeasiswa.com/

===============================

CARI KERJA?
Gabung dengan milis vacancy. Kirim email kosong ke vacancy-subscribe@yahoogroups.com.
http://www.groups.yahoo.com/group/vacancy

===============================

INGIN KELUAR DARI MILIS BEASISWA?
Kirim email kosong ke beasiswa-unsubscribe@yahoogroups.com
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:

http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:

http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/join

(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:beasiswa-digest@yahoogroups.com
mailto:beasiswa-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
beasiswa-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

http://docs.yahoo.com/info/terms/

Re: [beasiswa] [Butuh Info] pengaruh referensi terhadap peluang mendapat beasiswa

Halo Tryana,
Setau saya referensi itu bisa merupakan syarat dari pemberi beasiswa tetapi kadang juga ada beasiswa tertentu yang tidak mensyaratkan tetapi merupakan nilai plus buat aplikasi beasiswa kita. Saya dulu apply ADS, waktu saya apply tidak ada keterangan untk master harus ada referensi, tetapi untuk phd atau s3 refrensi itu wajib.
Anyway, saya tetap melampirkan referensi dari dosen skripsi saya waktu s1. Saya pikir itu juga bisa menambah nilai plus di mata interviewer nantinya. Saya juga dulu tidak bisa mendapat referensi dari tempat saya bekerja, apalagi saya dari LSM dan belum sampai setaun saya bekerja.
Dan biasanya, referensi digunakan oleh penilai untuk meyakinkan kalo si calon penerima beasiswa mampu menyelesaikan study tepat pada waktunya. Bahkan setau saya juga referensi itu bisa dari dosen mata kuliah (misalnya kita pernah ikut kuliah dia trus dia mengetahui betul kemampuan kita di kelas).
Terus balik lagi ke pertanyaan ke sejauh mana refrensi berpengaruh terhadap applikasi kita, ya bisa jadi refrensi kita kadang yang menentukan applikasi kita lebih bernilai plus daripada orang lain. Karena umumnya kalo di antara sekian pelamar memiliki kualifikasi yang setara nah refrensi nya itu yang dapat membantu melebihkan kualifikasi kita.
Dan biasanya background yang ngasih refrensi juga ikut menentukan. Misalnya jika yang pemberi refrensi itu gelarnya phd tentu itu juga lebih Qualified dibanding yang master. Juga jika yang pemberi refrensi ternyata ada hubungannya dengan institusi pemberi beasiswa (misalnya dia alumni penerima ADS dan anda ingin melamar ADS atau jika anda pengen kuliah di Unimelb dan pemberi refrensi itu alumni Unimelb), itu juga bisa merupakan nilai tambah tersendiri.
Begitu, sepengetahuan saya berdasar pengalaman pribadi. Selamat berjuang.
Enok
Master of Accounting
University of Melbourne


---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

INFO, TIPS BEASISWA, FAQ - ADS
Hanya ada di http://www.milisbeasiswa.com/

===============================

CARI KERJA?
Gabung dengan milis vacancy. Kirim email kosong ke vacancy-subscribe@yahoogroups.com.
http://www.groups.yahoo.com/group/vacancy

===============================

INGIN KELUAR DARI MILIS BEASISWA?
Kirim email kosong ke beasiswa-unsubscribe@yahoogroups.com
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:

http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:

http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/join

(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:beasiswa-digest@yahoogroups.com
mailto:beasiswa-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
beasiswa-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

http://docs.yahoo.com/info/terms/

[beasiswa] Re: [Butuh Info] Letter of Acceptance

Pengalaman yang saya dapat malah 2 kali memperoleh Letter of
Acceptance (LA). Meski pilihan yang pertama sudah diterima, tapi
karena masih kurang sreg, saya mencari jurusan yang berbeda dan
ternyata diterima di saat-saat terakhir
untuk LA yang pertama sedikit lama, semua proses lewat email dan semua
dilakukan lewat contact person atau staff yang berwenang dari kampus

Yang kedua juga sama, lewat koordinator program tanpa melalui
professor langsung dan LA saya perolehnya malah dalam jangka waktu
kurang dari 2 minggu, dan dikirim langsung dengan pos kilat karena
saya perlu yang asli.
akhirnya saya memakai LA yang kedua, hingga mengubah semua permohonan
beasiswa saya di Belanda dan jelas LA pertama tidak terpakai sama sekali.

Yang paling penting adalah memenuhi semua persyaratan yang diminta dan
tepat waktu, saya pernah kalang kabut waktu diminta mengirim
data-data saya yang asli, hingga akhirnya mendapat jasa kurir
internasional yang memberi potongan harga 30% kepada mahasiswa, ... :-P

Semoga membantu

Andre


--- In beasiswa@yahoogroups.com, Dorlan Manroe <dorlanfestiana@...> wrote:
>
>
> Halo semua,
>
> saya mau tanya, gimana ya caranya nulis email ke prof di suatu
negara untuk minta letter of acceptance ?mungkin ada temen2 yang udah
pernah nulis email ? atau ada sumber di internet yang bisa kasih
contohnya ?
>
> Terima kasih
> -d-
>


INFO, TIPS BEASISWA, FAQ - ADS
Hanya ada di http://www.milisbeasiswa.com/

===============================

CARI KERJA?
Gabung dengan milis vacancy. Kirim email kosong ke vacancy-subscribe@yahoogroups.com.
http://www.groups.yahoo.com/group/vacancy

===============================

INGIN KELUAR DARI MILIS BEASISWA?
Kirim email kosong ke beasiswa-unsubscribe@yahoogroups.com
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:

http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:

http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/join

(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:beasiswa-digest@yahoogroups.com
mailto:beasiswa-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
beasiswa-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

http://docs.yahoo.com/info/terms/

[psikologi_transformatif] Re: Eine Anmerkung zu den "Huris" (was:mau bidadari atau menjadi bujang lapuk...????)

Ha ha ha...ha ha ha..ha ha ha...ha ha ha...Hendrik terlalu bego untuk bisa
mengerti maksud di balik postingan Ino Seimbang. Tujuannya sebetulnya adalah
buat mengolok-olok kamu Ndrik, yang sok pamer bahasa jerman yang cethek,
padahal hasil dari copy-paste, dan ketika diladenin betulan, ketauan palsunya.
Kalo gua dan Info adalah bego, maka elo superbego. ha ha ha...ha ha ha...ha ha
ha...ha ha ha..ha ha ha...

Quoting hendrik bakrie <henrik12syiah@yahoo.com>:

> hahahah...hahahah.....hahahha.... anda ini aneh banget.. kok kirim posting yg
> kagak tau apa artinya..???... tetapi anehnya anda minta untuk di
> terjemahin...?? emang loe siapa...???.. lain kali kalau kagak ngerti jangan
> dibuka situsnya...???... tau diri aja... betul kagak...???... gitu aja kok
> kagak ngerti... lebih baik kamu tanya aja langsung dengan bu pradita (katanya
> sih dia bisa ngerti).. toh kalian sama jenis dalam "kebegoaan".... betul
> kagak..??? hahahah...hahaha....hahahah......
>
> info seimbang <infoseimbang@gmail.com> wrote:
> hahahahahhhhh ......
>
> Ndrik, ini ada tulisan yang bahasanya gue ndak ngerti. Kayaknya sih bahasa
> Jerman. Tolong loe terjemahin dong buat gue .....
>
> Gue ndak ngerti bahasa Jerman niy ......
>
> hahahahahhhhh ........ ah.......ah.......ah.......
>
> ----------------------------------------------------------
-----------------------
>
> Eine Anmerkung zu den "Huris"
>
> Das aus – in Zeiten weltweiten Auftretens eines islamischen Terrorismus
> naheliegenden Gründen –wohl berühmteste Beispiel eines neuen Verständnisses
> von Koranstellen in Christoph Luxenbergs, Die syro-aramäische Lesart des
> Koran. Ein Beitrag zur Entschlüsselung der Koransprache, Berlin 12000 and
> 22004, betrifft die "Huris", jene immer jungfräulichen Gespielinnen, die den
> Kämpfern für den Islam im Paradies gegeben werden sollen. Bei Luxenberg
> werden sie – wieder – zu den "weißen, juwelengleichen Weintrauben", die man
> als Frucht des Paradieses aus Ephrem des Syrers Gedicht "Das Paradies (De
> Paradiso)" kennt.
>
> Dr. Andrea Barbara Schmidt, Professorin für syrische Literatur an der
> Université Catholique de Louvain, Louvain-la-Neuve, Belgien, verwies mich
> dazu auf folgenden interessanten Umstand:
>
> Die Metapher der Erquickung der toten Seelen im himmlischen Reich durch die
> alttestamentarischen Väter ist in der christlich-orientalischen und
> byzantinischen Literatur wohlbekannt. Es lassen sich zahlreiche Belegstellen
> bei Ephrem finden, dem berühmten Dichter und Kirchenschriftsteller in
> syrischer, d.h. christlich-aramäischer Sprache. Aber vor allem ist es ein
> Bild, das in dem ältesten erhaltenen christlichen Totengebet aus dem 3. Jh.
> erscheint, welches bei Kopten, Syrern, Armeniern und Griechen überliefert
> ist. Hier wird um die Aufnahme der Seelen ins Reich und ihre Erquickung,
> Besänftigung und Erneuerung zum ewigen Leben gebetet.
>
> Eine faszinierende Umsetzung dieser Vorstellung in die Ikonographie zeigt ein
> 1998 von Dr. Karel Innemée, Leiden, Niederlande, aufgedecktes (syrisches)
> Wandbild aus dem Syrerkloster Deir al-Suryan im Wadi Natrun in Ägypten. Hier
> werden die drei Patriarchen Abraham, Isaak und Jakob gezeigt, wie sie in
> ihrem Schoße die Menschenseelen halten und mit weißen Trauben (!) füttern.
>
> Hier zeigt sich also eine ganz konkrete Verbindung zwischen Philologie und
> bildlicher Paradiesesvorstellung in der Spätantike, wie sie Christoph
> Luxenberg jetzt ebenfalls für den Koran nachgewiesen hat. Auch das
> Syrerkloster Deir al-Suryan liegt in der Wüste, und gekühlte Weintrauben
> mußten als höchste himmlische Genüsse gegolten haben.
>
> Für weiteres wird verwiesen auf: K. Innemée, P. Grossmann, K.D. Jenner, L.
> van Rompay, New Discoveries in the al-`Adra Church of Dair al-Suryan in the
> Wadi Natrun, in: Mitteilungen zur christlichen Archäologie 4 (1998), p.
> 79-103.
>
> Bei der Datierung der Wandmalereien im Kloster Deir al-Suryan tippten
> Innemée, Grossmann, Jenner and van Rompay vorsichtigerweise auf eine eher
> späte Entstehung:
>
> "Das Thema der drei Patriarchen, thronend im Paradies, tritt in der
> Ikonographie erst seit dem 9./10. Jahrhundert in Erscheinung, und dies ist
> das erste Beispiel in der koptischen Wandmalerei, soweit bekannt ist. Eine
> genaue Datierung der Malerei ist schwer möglich, aber da sie teilweise
> überdeckt ist mit einer Malerei, von der man annimmt, daß sie aus dem 13.
> Jahrhundert stammt, und in Anbetracht des Stils mag sie auf das 11.
> Jahrhundert datiert werden." [Übersetzung Ch.H.]
>
> In einer persönlichen Mitteilung vom 10. März 2005 jedoch teilte mir Herr Dr.
> Innemée die Erkenntnisse mit, die er in der Zwischenzeit gewonnen hat:
>
> "Wie man weiß, ist die Datierung eine der verwickeltesten und heikelsten
> Probleme in der kunsthistorischen Forschung. Insbesondere im Falle von Deir
> al-Surian war es ein wichtiger Teil der Forschung, die mit dem Streit um die
> Datierung der 1991 entdeckten Verkündigungsszene. Nach heutiger Kenntnis
> haben wir verschiedene Putzschichten, auf denen Malereien angebracht waren
> über eine Zeit vom 7. bis zum 13. Jahrhundert. Die Schicht, auf der die drei
> Patriarchen gemalt sind, geht zurück auf das 7. Jahrhundert. Seit rund 700 AD
> sind mehrere Malereien auf diese Schicht aufgebracht worden, die früheste im
> Ostteil der Kirche, die Ausmalung im Westschiff ist stetig fortgesetzt
> worden. Das Gemälde mit den Patriarchen befindet sich auf der Südwand des
> Kirchenschiffs zwischen zwei – derzeit zugemauerten – Fenstern. Diese Fenster
> wurden höchstwahrscheinlich im 9. Jahrhundert zugemauert, als das Kloster mit
> einer Schutzmauer umgeben wurde, die direkt gegen die Südwand der Kirche
> errichtet wurde. Da die Malereien sorgfältig zwischen den Fensterrahmen
> ausgeführt sind, legt das nahe, daß die Fenster noch nicht zugemauert waren,
> als die Malereien angebracht wurden. Auf der anderen Seite überlappen die
> Gemälde eine syrische Inschrift, die nach Luk von Rompay auf das Jahr 800 AD
> zurückgeht. Das ist für den Augenblick für mich ein Grund die Malerei auf das
> 9. Jahrhundert zu datieren." [Übersetzung Ch.H.]
>
> ----------------------------------------------------------
-----------------------
>
> On 2/5/08, hendrik bakrie <henrik12syiah@yahoo.com> wrote:
> >
> > hahahah.....hahahha.....hahhha.... gue tanggapi ya..
> >
> > pradita@telus.net wrote:
> > Eh, kok gak ada pameran bahasa Jerman lagi? udah abis ya kutipannya?
> Brwose
> > lagi dong ke goggle cari cut-and-paste :)
> > ----------------------------------------------------------
>
> > gue : hahahh...hahahha.... emang loe ngerti..??... kalau mau gue bisa
> nanmbah lagi... apa mau prancis juga...????
> > __________________________________________
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Your school could

win a $25K donation.

John McEnroe

on Yahoo! Groups

Join him for the

10 Day Challenge.

Yahoo! Groups

Cat Zone

Connect w/ others

who love cats.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Bunga-Bunga Cinta Di Dalam Hati

Kedalaman cinta Agus kepada Hana jauh lebih dalam dari dalamnya samudra. Dia
mampu menghasilkan puisi-puisi yang tak lekang di makan waktu karena cintanya
kepada Hana juga abadi. Kita doakan semoga Agus, Hana, dan ibunya Hana
senantiasa dipenuhi cinta Tuhan yang ajaib, sehingga kasih di antara mereka
bertiga pun menjadi sebuah cinta yang ajaib.

manneke

Quoting ratih ibrahim <personalgrowth@gmail.com>:

> agus ini lagi jatuh cinta lagi rupanya....
> selamat ya bung...
> :-)
>
>
> On 2/5/08, agussyafii <agussyafii@yahoo.com> wrote:
> >
> > Bunga-Bunga Cinta Di Dalam Hati
> >
> > Di dalam hati kita selalu memiliki bunga-bunga cinta. Bunga-bunga
> > cinta itu adalah kenangan indah tentang masa kecil kita, tentang ayah
> > ibu kita, tentang perjalanan asmara kita, tentang anak-anak kita yang
> > mampu membuat anda dan saya bisa menangis dan tertawa ketika kita
> > teringat masa itu. Kenangan itu begitu mendalam dan membekas di hati
> > sehingga kita menyebutnya bunga-bunga cinta.
> >
> > Semalam disaat Hana pulas tertidur disamping ibunya, bayangan indah
> > seperti film yang memutar kembali perjumpaan saya dengan istri, acara
> > pernikahan kami, semuanya berlangsung begitu cepatnya sampai kabar
> > gembira itu datang dengan kehamilan istri saya. Perjalanan hidup kami
> > begitu indah sebab kami berdua melewatinya dengan penuh canda dan
> > tawa. Sesekali juga kami bertengkar. Pertengkaran itu kami berdua
> > menikmatinya sebab kami tahu pertengkaran itu memang diperlukan.
> >
> > Saya ingat sebelum Hana terlahir, sepulang kami berjalan pagi, istri
> > saya sedang hamil tua pengen tape uli, saya membelikannya dua tape
> > ketan hitam. Nampak lahap dia memakannya, sorenya perut istri saya
> > mules dan ternyata sudah bukaan ketiga. Pada adzan Isya' Hana terlahir
> > dengan suara tangis merdunya. Suara tangisnya mampu membuat air mata
> > saya menetes namun juga membuat hidup saya menjadi bersemangat. Tak
> > terasa Hana sudah hampir menginjak usia 3 tahun. Setiap kali pulang
> > dari kantor, Hana memiliki kebiasaan memeluk saya seolah sudah lama
> > tidak berjumpa. Tiap pagi atau hari libur selalu mengajak saya
> > berjalan-jalan atau sekedar menemani Hana maen.
> >
> > Itulah bunga-bunga cinta yang saya miliki, tentunya anda juga memiliki
> > bunga-bunga cinta yang jauh lebih indah. Bukalah hati anda dan temukan
> > bunga-bunga cinta di dalam hati anda. Biarkanlah diri anda menikmati
> > indahnya bunga-bunga itu tumbuh mekar dan menyebarkan semerbak harum
> > mewangi seiring keajaiban hidup yang senantiasa layak anda miliki.
> >
> > -------------
> >
> > Dengan hati yang tulus saya berdoa semoga bunga-bunga cinta di dalam
> > hati anda tumbuh mekar, semerbak harum mewangi membuat hidup anda dan
> > keluarga menjadi lebih indah dan bahagia.
> >
> > Salam Cinta,
> > agussyafii
> >
> > ==============================================
> > Sekiranya berkenan mohon kirimkan komentar anda
> > melalui http://agussyafii.blogspot.com atau sms 0888 176 48 72
> > ==============================================
> >
> >
> >
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Find great recruits

for your company.

Lawn & Garden

on Yahoo! Groups

For all things

green and growing.

Weight Loss Group

on Yahoo! Groups

Get support and

make friends online.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Memungut Kearifan Goethe (was Re: goethe und der Islam..)

Hei bokonglebus,

Di kristen tidak dikenal istilah kafir-kafiran. Yang hboinya mengkafir-kafirkan
orang lain itu ya kamu itu. Jadi, jangan jejalkan kebusukanmu ke agama orang
lain. gak mutu!

Juga, jangan dikte Goethe harus jadi ini atau itu. Goethe ist Goethe. Kamu
kualitasnya jauh di bawah dia, dan tak pantas kasih komentar tentang sosok
besar itu. Kamu lebih bau dan lebih hina daripada upilnya Goethe.

Orang Kristen tidak mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi mereka seperti mereka
mengakui Yesus. Tapi, orang Kristen juga tak punya persoalan menghormati Nabi
Muhammad sebagai nabi junjungan kaum Muslim. Apakah kamu yang ngaku Islam ini
punya kebesaran hati yang sama? Keliatannya tidak. Hatimu bau seperti kentut
onta dan busuk seperti tai babi. Haram dan najis.

Dan ini buat kamu, Herr Hendrik von Schweinhund: Du bist ein Chaot und ein
Biedermann und zugleich ein Scharlatan. Schweine sind bessere Tier als du!

manneke

Quoting hendrik bakrie <henrik12syiah@yahoo.com>:

> hahahah...hahahahah.....hahhahahaha.... saya setuju juga....
>
> memang agak sulit untuk bisa memastikan apakah goethe itu muslim seperti saya
> atau tidak... sebab kita bisa menemukan karya2nya yg mengarahkan pada
> "keislaman" dirinya atau sebaliknya... kita tau bahwa goethe adalah milik
> jerman dan sekaligus kebanggaan jerman yg mayoritas non-muslim... bahkan
> nietzsche sangat mengagumi goethe dan dia menyebut sebagai salah satu
> Uebermensch..
>
> tapi jika kita melihat pandangan gothe dalam karyanya seperti yg anda dibawah
> bahwa adalah sebuah keanehan jika gothe masih disebut kristen...
> mengapa...??? sebab gothe menganggap bahwa seluruh ciptaan adalah manifestasi
> tuhan (walaupun saya lebih senang meyebutnya dalam kata sufi dengan
> "tajalli").....
>
> sebaliknya di kristen ada yg disebut "trinitas" dalam arti bahwa tuhan adalah
> yg tidak dalam "selain tiga"... bapa, putra dan roh kudus... jadi dalam
> kristen kalau ada yg menganggap bahwa tuhan melingkupi segalanya
> (saya,yesus,bakteri,anjing,makanan yesus, mungkin tai yesus,matahari,dll)
> dalam keyakinan kristen itu adalah "kafir".... selain itu, dengan sendirinya
> bahwa dalam krsiten setiap manusia yg "menolak" ketuhanan yesus dan "meyakini
> bahwa yesus adalah makhluk juga seperti yg lain adalah "kafir".... jadi
> seorang krsiten harus menolak "kenabian" muhammad SAWW sebab seorang nabi
> adalah utusan tuhan termasuk dengan apa yg dibawanya (al quran)....
>
> jadi dengan sendirinya jika goethe adalah org yg baik maka dia harus keluar
> dari kristen.... trinitas adalah subtansi kristen..
>
> jadi adalah sebuah keanehan jika ada makhluk menyembah mahkluk... apalagi
> makhluk yg tidak mau mencari pencipta/khalik....
>
> inti dalam islam adalah bahwa tuhan itu satu (khalik/pencipta), sehingga
> apapun selain tuhan adalah bukan tuhan (mahkluk/ciptaan)....
>
> "sesungguhnya aku adalah ALLAH, tidak ada tuhan selain AKU maka sembahlah
> AKU" (al quran)
> "dan ALLAH telah menyaksikan bahwa tidak ada tuhan selain diriNya" (al
> quran)
>
> mengapa yesus itu disebut tuhan saat adam tidak memiliki ayah dan ibu..???
> mengapa yesus itu disebut tuhan saat nama sang iblis juga ada dalam al
> quran..???
> mengapa yesus itu disebut tuhan saat sang lebah juga mendapatkan petunjuk
> dari tuhan..???
>
> terkutuklah penyembah alam ( matahari ratu sheba)
> terkutuklah para penyembah hewan (sapi betina bani israil)
> terkutuklah para penyembah manusia (firaun bangsa mesir)
> sebab ALLAH telah mengutuk terhadap penyembahannya didalam Al quran
>
> saat kiamat itu akan ada maka yg sisa adalah sang pencipta saja..
> sebab semua adalah makhluk maka seharusnya makhluk mencari dan menyembah sang
> pencipta...
>
> tidak ada tuhan selain ALLAH SWT...
>
> info seimbang <infoseimbang@gmail.com> wrote:
>
>
> e-link:
> http://indonesianmuslim.com/memungut-kearifan-johann-wolfgang-von-goethe.html
>
>
> Memungut Kearifan
> Johann Wolfgang von Goethe Oman Fathurahman
>
>
> Suatu ketika, Berthold Damshäuser, Ketua Jurusan Sastra Indonesia
> Universitas Bonn, menghadiahi saya sebuah buku yang pada tahun 2007 ini ia
> publikasikan bersama sastrawan Indonesia Agus R. Sarjono. Buku yang diberi
> judul Johann Wolfgang von Goethe: Satu dan Segalanya ini berisi terjemahan
> kurang lebih 70 puisi pujangga Jerman terbesar yang namanya menjadi judul
> buku itu. Terjemahan ini adalah hasil kerja sama antara kedua penyunting.
> Jujur, saya bukan seorang peminat dan pembaca puisi yang tekun. Saya
> biasanya hanya membaca puisi-puisi tertentu yang 'tiba-tiba' menarik
> perhatian saya, itu pun hanya sekilas dan kemudian selesai! Tapi, membaca
> buku yang diterbitkan dalam rangka meningkatkan minat baca dan apresiasi
> sastra ini, saya banyak tertegun dan 'terpaksa' membaca serta merenungkan
> berulang-ulang pemikiran besar Goethe (1749-1832) dalam puisi-puisinya.
>
> Betapa tidak? Selama ini yang menjadi fokus perhatian keilmuan saya adalah
> masalah keilahian serta hubungannya dengan makhluk dan alam, dalam perspektif
> tasawuf. Saya memang belum pernah berfikir untuk membandingkannya dengan
> pemikiran-pemikiran sastrawan Eropa semisal Goethe. Tapi kini, saya
> 'tiba-tiba' menemukan inti pemikiran para Sufi yang adiluhung itu teruntai
> dalam beberapa puisi Goethe. Saya tentunya tidak mungkin memahami dan
> mengambil pelajaran sebagian kecil inti pemikiran Goethe ini kalau saja Agus
> R. Sarjono dan Berthold Damshäuser tidak menyediakan versi terjemahan bahasa
> Indonesia yang sangat puitis.
> Sejauh yang saya pelajari, para Sufi misalnya meyakini bahwa alam ini
> hanyalah manifestasi (mazhar) Tuhan, dan bahwa Dia bisa mewujud (tajalli)
> dalam berbagai bentuk apa saja, karena Dia Mahamutlak dalam berkehendak (Q.S.
> 11: 107), meskipun ia tetap kokoh dengan Sifat Transenden-Nya. Ibn al-'Arabi,
> yang pemikiran tasawuf filosofisnya abadi sepanjang masa, adalah seorang Sufi
> besar berjuluk al-Shaykh al-Akbar yang paling getol medakwahkan konsep
> tashbih (penyerupaan) dan tanzih (transendensi) Tuhan ini.
> Demikianlah Goethe. Seperti dipaparkan Damshäuser dalam pengantarnya
> berjudul "Goethe – Tokoh Jerman Terbesar" (h. 9-33), dalam puisi Im Namen
> desssen (Atas Nama Dia) Goethe bertutur bahwa seluruh alam hanyalah merupakan
> variasi dari Sang Satu atau keilahian belaka, bahwa alam tidak pernah
> terpisah dari penciptanya, dan bahwa Diri-Nya senantiasa mewujudkan diri
> dalam ciptaan-Nya, sehingga segala sesuatu menjadi serba teratur dan
> bermakna, tidak ada yang kebetulan (h. 30).
> Memperhatikan puisi-puisinya yang lain dalam buku ini, jelas bahwa Goethe
> tidak hanya sedang 'meminjam' popularitas pandangan-pandangan para Sufi besar
> tersebut untuk menghasilkan sebuah karya, melainkan menceburkan diri dan
> menjadikan itu sebagai bagian dari pandangan-pandangan hidupnya.
> Lihat saja puisi Goethe dalam kumpulan West-Östlicher Diwan, atau yang
> dalam sebuah halaman beriluminasi indah tertulis sebagai al-Diwan al-Sharq li
> al-Muallif al-Garbi, dan yang diterjemahkan oleh kedua penyunting sebagai
> Diwan Barat-Timur (h. 89-114). Di sini jelas bahwa pandangan-pandangan Sufi
> besar Persia semisal Jalaluddin Rumi, Shamsuddin Muhammad Hafiz Shirazi, dan
> Hakim Abul Qasim Ferdowsi sedemikian kuat mempengaruhi cara pandang Goethe.
> Dalam Offenbar Geheimnis (Bukan Rahasia), Goethe bahkan menunjukkan
> pembelaan, dan sekaligus kedekatannya, terhadap Sufi Hafiz dari serangan para
> ulama Kalam yang sering mengharamkan sebuah interpretasi keagamaan yang
> dianggap melebihi batas-batas kata. Goethe berujar untuk Hafiz (h. 103):
> Namun dalam mistik kau murni
> Karena mereka tak memahamimu,
> Meski tak shalih,
> engkau suci!
> Itu tak rela mereka akui.
> Namun, seperti berkali-kali diingatkan Damshäuser (h. 27), yang ingin
> ditunjukkan oleh Goethe melalui karya-karya 'sufistis'nya adalah bukan
> berarti ia seorang penganut agama tertentu, Islam misalnya. Alih-alih, dia
> sedang mempertontonkan sebuah apresiasi sepatutnya terhadap sebuah
> kepercayaan agama, dan sekaligus menunjukkan terbukanya pergaulan Goethe
> terhadap dunia Timur.
> Ini bisa terlihat misalnya dalam puisi-puisinya yang lain yang juga
> memberikan apresiasi sangat besar terhadap budaya Yunani dan Kristen. Menurut
> Damshäuser, "… pemisahan antara Timur dan Barat, antara Nasrani dan Islam,
> dan seterusnya dan sebagainya, tidak berlaku bagi Goethe…". Goethe lebih suka
> menciptakan Weltliteratur (sastra dunia), sebuah istilah yang diperkenalkan
> oleh Goethe sendiri (h. 29).
> Tentu saja buku ini tidak hanya mengandung puisi-puisi Goethe bernafaskan
> sufistis seperti yang saya contohkan, karena secara keseluruhan terdapat lima
> bagian, yakni 'Batas-batas Manusia', 'Keping-keping Kebijaksanaan', 'Merindu
> Mati di Kobaran Api', 'Tak Berkulit Tak Berbiji', dan 'Wasiat'. Masing-masing
> bagian tersebut mengandung puisi pilihan yang menurut pertimbangan kedua
> penyunting dapat mewakili keanekaan bentuk dan tema perpuisian karya Goethe
> (h. 23).
> Karenanya, membaca puisi-puisi Goethe dalam buku ini secara keseluruhan,
> seakan kita diajak napak tilas bagi munculnya secara bertahap teks-teks yang
> melambungkan Goethe menjadi penyair Jerman terbesar di samping Hölderlin,
> Heine, Rilke atau Brecht. Apalagi, Damshäuser melengkapi buku ini dengan
> sebuah paparan riwayat hidup Goethe, latar belakang keluarganya yang borjuis
> Protestan, pendidikan awalnya, karir politiknya, hingga kisah-kasih cintanya
> (h. 9-21).
> Jelas, puisi-puisi Goethe adalah produk dari sebuah pergulatan intelektual
> dan spiritualnya sebagai seorang pujangga besar yang sejak kecil tidak pernah
> puas dengan karya yang telah dihasilkannya sendiri, sehingga ia terus
> menulis, menulis, dan menulis hingga masa tuanya masih menghasilkan
> karya-karya agung semisal Faust II (1831) dan sebelumnya, West-Östlicher
> Diwan (1819) yang telah saya sebut di atas.
> Semakin larut membaca buku terbitan Horison ini, semakin kita diajak
> menuju sebuah kesadaran bahwa dalam sejarah dan tradisi sastra, seperti telah
> ditunjukkan Goethe melalui puisi-puisinya, tidak tampak tercipta sekat-sekat
> agama, suku, keyakinan, kepercayaan yang terkadang menghalangi kita untuk
> saling menunjukkan apresiasi.
> Bagi masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman etnis, suku, budaya, dan
> agama dengan berbagai ragam corak pemahaman dan interpretasinya, butir-butir
> mutiara pemikiran seperti ditonjolkan Goethe dalam buku ini, tidak saja dapat
> menumbuhkan sikap saling menghargai karya sastra dan budaya lain, tapi lebih
> penting dari itu dapat menjadi pelajaran berharga bagaimana semua perbedaan
> itu dikelola.
> Masalahnya, upaya-upaya sosialisasi keragaman sastra dan budaya lain seperti
> yang dilakukan oleh Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser ini seringkali
> tidak mendapat apresiasi sewajarnya, dan hanya dianggap kerjaan sampingan
> saja yang tidak terlalu berguna.
> Karenanya, tidak berlebihan jika kita menganggap bahwa Horison bukan saja
> telah memberikan kontribusi besar terhadap geliat sastra di Indonesia dengan
> menerbitkan Seri Puisi Jerman ini, melainkan juga telah memberikan
> pembelajaran berharga tentang sebuah kearifan bagi masyarakat pada umumnya.
> Selamat membaca bukunya, dan salam sastra.
> ———-
> Penulis adalah Dosen Fakultas Adab dan Sastra Arab, serta peneliti PPIM, UIN
> Syarif Hidayatullah Jakarta. Sejak Juni 2006-April 2008 sebagai peneliti tamu
> atas beasiswa dari The Alexander von Humboldt-Stiftung di Malaiologischer
> Apparat am Orientalischen Seminar, Universität zu Köln, Jerman. Tulisan ini
> juga dimuat di situs Indonesian Islamic Philology.
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Be a career mentor

for undergrads.

Y! Messenger

Want a quick chat?

Chat over IM with

group members.

10 Day Club

on Yahoo! Groups

Share the benefits

of a high fiber diet.

.

__,_._,___

Re: [beasiswa] [OOT] Validkah Hasil Psikotest?

salam,

boleh ya ngasih cerita pengalaman pribadi...

saya assume jawabannya iya...,

sewaktu SMA dulu (saya graduated thn 1998 - cukup uzur
juga sih...) di sekolah saya di SMUN 9 sby, pada tahun
pertama sudah diadakan test semacam IQ/psikotest yang
hasil akhirnya adalah rekomendasi opsi jurusan yg
sebaiknya diambil di tahun ke tiga. dan secara
mengejutkan, hasil test tersebut merekomendasikan saya
utk sekolah musik/drama.
bukannya bermaksud untuk meng-underestimate bidang
tsb. tp saya waktu itu memang lagi jadi pengamat
kagetan utk musik dan film, meskipun saya nggak ngerti
sama sekali not-not balok musik ataupun pencitraan
karakter drama.

tp brhubung waktu itu, saya pingin masuk jurusan IPA
(karena cewek saya waktu itu juga sudah pasti akan
masuk IPA) ya saya harus belajar supaya bisa satu
kelas sama dia. dan berhasil.

satu lagi cerita...,
yg ini dari guru matematika saya di sma yg sama. dia
bilang salah satu senior saya (kira2 2 thn
sebelumnya), dari kelas 2 hingga semester pertama di
kelas 3, dia anak IPS. tapi karena ada alasan pribadi
yg nggak jelas, dia minta ke administrasi sekolah
untuk pindah program masuk program IPA. setelah
dirapatkan, beberapa guru IPA setuju dengan syarat si
anak tsb harus melalui tes khusus, dia setuju dan
lulus. terakhir waktu saya ikut UMPTN, dia sudah masuk
elektro ITS.

so..., jangan khawatir.
....making a breaktrough from ordinary way is gonna be
more longlasting...


good luck...

salam.
rachmad.


--- iva mahadri <iva_mahadri@yahoo.com> wrote:

> Salam,
>
> Sebelumnya terima kasih untuk rekan2 yang kemarin
> sudah merespon posting saya (CURHAT ujian negara
> SMU). Semua surat itu saya forward ke adik saya yang
> SMU, dan lumayan bisa jadi motivator,
> katanya..hehe.. THANKS ya!
>
> Persoalan lain lagi. Beberepa waktu yang lalu adik
> saya itu mengikuti psikotest yang diadakan oleh
> suatu Lembaga Pendidikan. Dari hasil tes, dinyatakan
> adik saya cocok untuk masuk jurusan HI (Hubungan
> Internasional). Namun demikian, adik saya dari awal
> memang ingin masuk jurusan Arsitektur. Masalahnya
> adalah, dia dari jurusan IPS. Itu yang membuatnya
> gamang.
>
> Saya katakan kepadanya, bahwa untuk masuk jurusan
> Arsitektur tidak harus dari jurusan IPA (dan ini
> sudah saya konfirmasi ke Universitas yang ingin dia
> tuju, bahwa dari jurusan IPS pun bisa mendaftar ke
> arsitektur). Lagipula, menurut pengalaman saya (saya
> lulusan jurusan Arsitektur), di arsitektur kita
> tidak melulu belajar fisika (IPA) tapi lebih kepada
> desain, art, bahkan persoalan2 sosial di sekitar
> kita. Mungkin fisika bangunan hanya sekitar 10% dari
> mata kuliah yang diajarkan.
>
> Yang lebih penting, saya katakan padanya, lebih
> baik mengikuti kata hati daripada hasil diatas
> kertas. Betul kan?
>
> Pada awalnya, dia sangat bersemangat untuk
> memasuki jurusan arsitektur. Tetapi, "gara-gara"
> hasil psikotest tersebut dia menjadi gamang dan
> tidak yakin apakah dia bisa lolos masuk jurusan
> tersebut. Saya khawatir, hal ini justru akan
> mengganggu konsentrasinya dalam belajar.
>
> Pertanyaan saya, adalah:
> 1. Apakah hasil psikotest tersebut bisa
> diandalkan, dalam arti memang apakah sebenarnya adik
> saya lebih cocok masuk ke jurusan HI?
> 2. Apakah diantara teman2 ada yang mengetahui
> tentang besar kemungkinan siswa jurusan IPS bisa
> lolos masuk ke jurusan IPA (arsitektur, misalnya)?
> 3. Apakah diantara teman2 ada yang mengetahui
> "trik" belajar bagi siswa IPS untuk bisa lolos di
> jurusan IPA? (misalnya, lebih banyak belajar tentang
> chapter A, dan tinggalkan chapter B, dll)
>
> Mohon pencerahannya ya,
> Terima kasih!
>

____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.

http://www.yahoo.com/r/hs

INFO, TIPS BEASISWA, FAQ - ADS
Hanya ada di http://www.milisbeasiswa.com/

===============================

CARI KERJA?
Gabung dengan milis vacancy. Kirim email kosong ke vacancy-subscribe@yahoogroups.com.
http://www.groups.yahoo.com/group/vacancy

===============================

INGIN KELUAR DARI MILIS BEASISWA?
Kirim email kosong ke beasiswa-unsubscribe@yahoogroups.com
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:

http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:

http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/join

(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:beasiswa-digest@yahoogroups.com
mailto:beasiswa-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
beasiswa-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

http://docs.yahoo.com/info/terms/