Selasa, 18 Desember 2007

[psikologi_transformatif] Re: Mengapa kita tidak bisa lagi mentertawakan diri sendiri ?

bung tuhantu , pembahasan ini memang dari awal saya prediksi akan
mentok di kapak batu "organon " (baca : mengetahui kebenaran) ,makanya
saya menyarankan untuk segera beralih ke mesin pemotong rumput "novum
organum " (baca : kebenaran harus dipraktekkan )

kalau bung tuhantu, saya yakin sudah biasa memakai mesin pemotong rumput.
betul apa bentoel ??

kalau hanya mencari kebenaran/ilmu untuk kepandaian sendiri , tidak
akan selesai selesai . sehingga lupa berpraktek/meneliti/eksperimen
untuk menghasilkan tehnologi atau ilmu aplikatif.

" wong ngangsu banyu samudro "
ora leren leren "
( manusia menimba air samudra dengan ember
tidak akan selesai selesai )

kalau pakai tehnologi mungkin lain ceritanya ....

maklumlah di zaman edan ini ,Sujiwo tejo (seniman jawa ) menyindir
dalam syirnya :

" butho ning alas do butuh duit
ora bis ngguyu ora bisa krungu
amargo kasumpel duit
wancine wis goro goro
geger gara garane duit
duit manak duit
gedhene sak duit duit "

( terjemah edy :
di hutan lebat saja ada raksasa membutuhkan uang
raksasa itu tidak bisa tertawa , tidak bisa mendengar
karena lubang mulut dan telinganya sudah di sumbat pakai uang
saatnya 'goro goro'
ribut gara gara uang
uang bisa beranak pinak
jumlah uang menjadi berlipat ganda )

namun bagi saya
"suara yang berbeda beda itu tidak jelek tapi malah indah "

tertawa dan mentertawai ini saya harapkan akan berujung di tikungan
dan berjumpa dengan
"kesadaran akan rasa kemanusiaan " kalau sudah demikian ,
norma/hukum /nilai nilai kehidupan bisa kembali sama sama kita susun
untuk peradapan yang lebih baik.

....
jamane mas....
jaman edan
banjir tangis... banjir bandang..

karena tangan saya sudah capek mengupas kulit "buah pengertian "
sehingga lebih mudah di makan.
sekian dulu...


salam,
edy
pekalongan

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "tuhantu_hantuhan"
<tuhantu_hantuhan@...> wrote:
>
>
> Quote: ... setelah tertawa jangan lupa buka mata , lihat sekitar , buka
> teorimu. cocok atau tidak untuk di terapkan di indonesia .
> terus praktekkan di lapangan , jangan hanya nulis buku. End of quote.
>
> Tuhantu: Sodokan dari Mas Edy diatas itu menonjok ´status´ yang
> dalam hal ini adalah ´profesi´ (termasuk di dalamnya Pengajar
> Filsafat, Arsitek, Budaya, dll)... Bagi seorang yg sensitif, dia takkan
> bisa membedakan bahwa yang disodok itu adalah ´status´-nya... dan
> BUKAN privasi atau pribadinya... Karakter demikian menampakkan bahwa
> antara ´status´ dan ´diri´ telah menyatu sedemikian rupa dan
> menjelma menjadi ´identitas´-nya... Reaksinya bisa kita amati,
> jika sodokan tersebut dilancarkan...
>
> Be Fun
>
> Tuhantu
>
> http://hole-spirit.blogspot.com <http://hole-spirit.blogspot.com>
>
>
>
>
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "edy_pekalongan"
> <edy_pekalongan@> wrote:
> >
> >
> > setelah tertawa jangan lupa buka mata , lihat sekitar , buka teorimu.
> > cocok atau tidak untuk di terapkan di indonesia .
> >
> > terus praktekkan di lapangan , jangan hanya nulis buku.
> >
> > dan sedikit tips :
> > jangan mundur
> > jika masyarakat menganggapmu sinting karena karya nyatamu tidak
> > didukung oleh ilmuan di indonesia.
> >
> > siap siaplah di tertawakan....
> > dan balaslah dengan tertawa....
> >
> >
> >
> > salam ,
> > edy
> > pekalongan
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, Asas Asas
> > asas2004asas@ wrote:
> > >
> > >
> > > Menertawakan diri sendiri ?
> > >
> > > Huahahahahahahahahahahahaha ..............
> > >
> > > Maka akan dimulai dengan, haaaai, dikau itu apa, siiiih ?
> > > Profesor-profesor ?
> > > Pada tidur, yah, bikin aturan saja, baru bisa kelar sebulan yang
> > lalu. Kamu pakar-pakar ? Tidak bisa kerja, yaaaah ? Itu contoh
> > gamblang. Tengok aja
> > > di-mana2. Gak bereeeeeeees..........
> > >
> > > Itu semua, kan salah semua !!!!!!!!!!!!!!!!!!
> > > Itu salaaah, itu salaaaah pokoknya sualaaaah semua.
> > > Tidak seperti saya ..............
> > > Bikin kok tidak mengikuti aturan. Itu namanya mbalelo.
> > > Kalau saya, kan, selalu mengikuti aturan.
> > >
> > > Tengok aku.
> > > Pada waktu aku masih kecil saja,
> > > wuahahahahahahaha
> > > Semua saya obrak abrik.
> > > Habis, guobloooog semua.
> > > Kucing garong semua.
> > >
> > > Masih kecil, loh, saya, waktu itu. Ta a pii
> > > hihihihohoho
> > > lihat
> > > berduereeet, tulisan saya
> > > berdampingan ama yang udah beken-beken.
> > >
> > > Huuuuuuu
> > > Du u luuuu itu, yah
> > > Semua kukritik
> > > Apa itu ...........
> > > Huh, pa aasti katenye beletenye yang selalu beredar.
> > > Huuuuuuuuu
> > >
> > > Dan saya justify
> > > Semua adalah para dog
> > > Orang, sayaaaaa koooooook.
> > >
> > > Gak pada mikiiiiiir, ya
> > > MCK harus ada
> > > Greenhouse harus ada ...................
> > > efeknya ..............
> > >
> > > Huahahahahahahahahahaha
> > > huahahahahahahahahahaha
> > > huahahahahahahahahahaha
> > >
> > > ( Efek dari Jakarta yang listriknya padam sebagian, gak nyala2,
> > padahal sudah menggunakan sistem spindle canggih dari Electricite De
> > France )
> > >
> > >
> > > tuhantu_hantuhan tuhantu_hantuhan@
> > wrote: Quote: bahwa jika terjadi
> > bencana alam besarrrrrrrrrrrrrrr r sekali, dan yang tertinggal adalah
> > bangunan yang menjadi ikon kota, maka misalnya Paris mudah2an masih
> > punya Eiffel, di Jakarta punya banyakkkkkkkkk sekali mall
> > !!!!!!!..... ... lumayan kan? End of quote.
> > > Tuhantu: Lha, kok Monas nggak disebut-sebut? Wakakaka...
> > > Mbak Ratih, apa betul diatas itu adalah hal positif ? Kok, saya
> > tangkap ada nada sinis? (cmiiw)... Kalau ´ya´, ditujuken kemana
> nih,
> > sinisme tersebut? Budayawan? Sosiolog? Filsuf? Arsitekt?
> > Planologi?.. . Kalau sinisme itu ditujukan buat mereka, udang saya
> > minum kopi dong yah... Hehehehe...
> > > Bagi saya, mau bangun mall, bioskop, dll. Nggak ada masalah selama
> > ´aturan main´ sebuah kota itu nggak mbalelo. Text dan teori
> sudah
> > sedemikian bertumpuk di perpustakaan ataupun di kampus-kampus. Lha,
> > nengok keluar dari jendela kampus, apa yg diomongin dalam teori kok,
> > faktanya nggak ada yang beres?... Contoh gamblang, kenapa undang-
> > undang masalah tersebut baru terbit kurang lebih sebulan lalu? Kemana
> > aja para pakar-pakar dan Professor Planologi di Jakarta itu, selama
> > ini?
> > > Ketika masih awal-awal jadi mahasiswa dulu (setelah mengobrak-
> > abrik kantor senat mahasiswa) saya lalu punya akses ke majalah
> > dinding. Sebelumnya, majallah dinding tersebut sering digunakan untuk
> > mendiskreditkan arsitek lokal... (arsitek lokal, kucing dalam karung,
> > katak dalam tempurung,dll. ) padahal jika kita telusuri, jatah proyek
> > untuk bangunan-bangunan besar (bank, mall-mall, hotel, dll.) maupun
> > fasilitas umum, dll. Arsitek lokal itu kebagian porsi paling kecil
> > (paling skala inpres, proyek-proyek kabupaten, rumah jabatan bupati,
> > dan semacamnya) Sementara jika kota tersebut menjadi rawan banjir,
> > dsb. Justru diakibatkan oleh perencanaan- perencanaan mega-proyek,
> > yang perencananya yg bukan lokal (paling jatah management pengawasan
> > konstruksinya) ... Di situ juga kita bisa temukan elemen-elemen
> > kostruksi yg tidak proporsional yg sudah terdisain dari sononya, demi
> > mendongkrak cost konstruksi sehingga design fee juga terangkat.
> > Contoh ini adalah ring-balk pada bagunan kantin
> > > di Unhas, misalnya. Perlukah ringbalk sedemikian besar hanya untuk
> > menopang konstruksi atap di atasnya?... Jadi, semua profesi sebaiknya
> > ´mentertawakan diri´ masing-masing. ..:-D... (tuh, kan saya
> tidak
> > ´fanatik´ terhadap dunia arsitektur?)
> > > Back to taufik, di majalah dinding tersebut, kemudian sering
> > ditempelkan tulisan-tulisan saya berdampingan dengan gambar-gambar
> > karya seorang arsitek (waktu itu, buku tentang karya ini tidak
> > gampang ditemukan, atau barangkali tidak ada di toko-toko buku) Sebab
> > arsitek tersebut, bukanlah tokoh populer dikalangan dosen dan
> > mahasiswa, sehingga karya-karyanya tidak dibicarakan di kampus-
> > kampus. .. Dimana karya-karya tokoh itu, adalah bangunan-bangunan
> > yang berdampingan/ bersatu dengan lingkungan dan alam (earth
> > sheltered architectural)
> > > Lalu, belakangan saya diundang (mewakili Dinas Tata Kota) dalam
> > sebuah seminar tentang perencanaan kota yg diadakan oleh Pasca
> > Sarjana. (saat itu ada kasus gedung sebuah gedung restoran, yg tidak
> > memenuhi persyaratan perparkiran) Dan dalam seminar tersebut,
> > terungkap bahwa proyek tersebut bisa terus berjalan akibat
> ´katebelece
> > ´ (surat sakti) yg sering beredar di era orba... Karena yg
> > mengeluarkan IMB adalah Dinas Tata Kota (yg kebetulan waktu itu saya
> > wakili) maka, saya mempertanyakan dalam seminar tersebut, kenapa
> > tidak ada aturan setingkat undang-undang dimana IMB tidak bisa keluar
> > jika tidak mengikuti aturan-aturan tertentu? ... Mengingat sebuah
> > kota itu punya batas daya dukung tertentu dalam hal ekologis, bisnis,
> > populasi, dll. Dan makanya pula dalam Planologi ada ketentuan yg
> > mengikat mengenai green space.
> > > Nah, disinilah dalam kasus Jakarta, Planologi itu saya istilahkan
> > sebagai ´ParaDogma´... :-)... Realitas yg dibicarakan secara
> > teoritis pada ilmu perencanaan kota, tidak ada dalam kenyataan.
> > > Jadi, pokok kritik saya (dalam Warkop Institute ) adalah
> > ketersediaan green space dan public space dalam sebuah kota. Selain
> > itu, warganya (apapun etnik, bangsa dan agamanya) tidak terasing dari
> > roda kehidupan di kota tersebut. Warga bisa memahami secara jelas
> > prosedur pengalihan asset kota kepada pihak ketiga, siapa yg
> > diuntungkan, bagaimana pengelolaannya, dll. Jangan cuek-bebek.. .
> > Warga punya akses untuk monitoring dan evaluasi (pengawasan) terhadap
> > fungsi-fungsi public-sosial atas fasilitas umum-sosial pasca
> > pelaksanaan konstruksi, dll... Bukan bersoal pada anti bangunan ini,
> > atau anti bangunan itu...:-)...
> > > Eniwei, kutipan dari blog ´JakartaButuhRevolus iBudaya´ saya
> > paste kesini, sehubungan dengan thread ´mentertawakan diri´
> dalam
> > diskusi ini...
> > > Ilustrasi sederhananya gini... Seorang -katakanlah- si A,
> > menganjurkan kepada B, untuk mentertawakan diri (diri si B,
> > maksudnya) sebagai upaya agar si B tidak fanatik terhadap buku/ajaran
> > tertentu dari planet Pluto (katakanlah gitu). Pada saat melakukan
> > anjuran tersebut, si A menenteng buku ajaran dari planet Mars.
> > > Pertanyaan saya, sanggupkah pula si A mentertawakan dirinya
> > sendiri? Apakah si A juga tidak ´fanatik´ terhadap
> buku/ajarannya
> > dari planet Mars tersebut?...
> > > Nah, saya masuk (dengan menyeret sebuah kutipan) tidak dengan
> > meneteng buku dari planet tertentu, tetapi dengan memilah-milah
> > pengertian ´diri´. Dalam hal ini, berdasarkan tempat dimana si A
> > berpijak... Hikhikhikhik. .. (we are talking about transformatip
> > psikologi... right?... :-D...
> > > Be Fun
> > > Tuhantu
> > > http://hole- spirit.blogspot. com
> > >
> > >
> > > --- In psikologi_transform atif@yahoogroups .com, "ratih
> > ibrahim" <personalgrowth@ ...> wrote:
> > > >
> > > > bung Anwar,
> > > > menurutku ga perlu pake duluan mana dari apa.....
> > > > please dong ah.....
> > > >
> > > > tentang mall nih, tuhanku.... eh tuhantu...
> > > > tempo2 ketika lunch meeting dengan beberapa klien bersama
> > beberapa kolega
> > > > saya,
> > > > kami juga ngobrolin tentang pembangunan mall dan trade center yang
> > > > "CIHUIIIIIII" banget jumlahnya itu.
> > > > lepas dari segala pertimbangan dan keprihatinan yang begitu besar,
> > > > mencoba untuk menemukan berbagai hal bisa dijadikan positif,
> > > > kami bersetuju, bahwa jika terjadi bencana alam
> > besarrrrrrrrrrrrrrr r sekali,
> > > > dan yang tertinggal adalah bangunan yang menjadi ikon kota, maka
> > misalnya
> > > > Paris mudah2an masih punya Eiffel, di Jakarta punya
> > banyakkkkkkkkk sekali
> > > > mall !!!!!!!..... ... lumayan kan?
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > On 12/8/07, tuhantu_hantuhan tuhantu_hantuhan@ ... wrote:
> > > > >
> > > > > Quote: namun demikian, saya sungguh percaya bahwa potensi
> > > > > pikiran/kesadaran manusia selalu akan cukup untuk mengatasi
> > setiap
> > > > > permasalahan. karena sejatinya seluruh keberadaan dibentuk dari
> > afirmasi.
> > > > >
> > > > > Tuhantu: Cuman kadang manusia cendrung membatasi potensi
> > kesadaran dan
> > > > > fikirannya sendiri, tanpa sengaja. Contoh, ketika seseorang
> > mengajak Anda
> > > > > berdiskusi dan mengatakan ´silakan baca bukunya, dan kita
> > diskusikan isi
> > > > > buku itu´.
> > > > >
> > > > > Lalu, waktu dihabiskan berbusa-busa berfikir berdasarkan text
> > book
> > > > > tersebut. Tapi bukan berdiskusi berdasarkan fenomena yang
> > terjadi saat itu,
> > > > > ditempat para diskuser tersebut berada, yg belum tentu sama
> > dengan lokasi si
> > > > > penulis buku yang mereka bicarakan.
> > > > >
> > > > > Akibatnya, cendrung kita membicarakan hal-hal yang sifatnya
> > ´tangan ke
> > > > > dua´, yakni hasil observasi si penulis buku. Padahal, ketika
> > saat penulis
> > > > > melakukan obeservasi, membereskan draft tulisan, berurusan
> > masalah
> > > > > kontrak-kontrak dgn percetakan, mengantar anak istrinya
> > berbelanja dan
> > > > > rekreasi. Apa yang tadi dia observasi akan tidak sama seperti
> > sebelumnya.
> > > > >
> > > > > Sambil nulis ini, saya sedang membayangkan orang-orang pintar
> > di Jakarta
> > > > > sedang berdiskusi tentang isi buku yang di tulis oleh penulis
> > yang
> > > > > berdomisili di Planet Mars...
> > > > >
> > > > > Dan kulihat pula, seorang yang sedang dongkol sedang mengamati
> > diskusi
> > > > > tersebut, kemudian bergumam...
> > > > >
> > > > > ½Jakarta tidak butuh orang-orang pintar *yang saking
> pintarnya
> > justru
> > > > > tidak tahu kalau pembangunan mall dan trade center sudah
> > melewati batas
> > > > > sehingga tidak ada lagi kawasan hijau di Jakarta*. *Jakarta
> > tidak butuh
> > > > > orang-orang sok suci yang apabila bertemu masyarakat miskin
> > selalu menyebut
> > > > > nama Tuhan sembari menjanjikan peningkatan kesejahteraan
> > padahal kalian tahu
> > > > > kalau semua itu hanya bohong belaka. *½ (sumber: Gua Gak
> Butuh
> > Lo, Monyet<http://jakartabutuh revolusibudaya. com/2007/ 10/19/gue-
> > gak-butuh- lo-monyet/ #more-150>
> > > > > )
> > > > >
> > > > > Sesuai thread diskusi ini (mentertawai diri sendiri) kira
> > kira...
> > > > > konteksnya cocok nggak?... Hikhikhikhikhik. ..
> > > > >
> > > > > Be Fun
> > >
> > >
> > >
> > > ---------------------------------
> > > Support the World Aids Awareness campaign this month with Yahoo!
> > for Good
> > >
> > > ---------------------------------
> > > Sent from Yahoo! &#45; a smarter inbox.
> > >
> >
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Reconnect with

college alumni.

Food Lovers

Real Food Group

on Yahoo! Groups

find out more.

Y! Messenger

Instant smiles

Share photos while

you IM friends.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: