Jumat, 01 Februari 2008

[beasiswa] Re: [Butuh Info] Apakah Lulusan Diploma 4 bisa melanjutkan Studi di Luar??

Dear Wury

Saya pernah punya temen sewaktu kuliah di Sheffield University, UK. Dia
lulusan Akademi Gizi Jakarta (D3) dan di Sheffield Univ mengambil
Master's degree at the School of Nursing and Midwifery. So, D3 aja
mungkin apalagi D4.

Regards
Iwan

--- In beasiswa@yahoogroups.com, Donna Adelia <ini_donna@...> wrote:
>
> To Wury ..
>
> Well.. kayanya bisa banget koq.. aku punya temen lulusan D-3
keperawatan dan dia bisa langsung apply untuk S-2 Midwives (M.Mid) di
salah satu universitas di australia.. kalo gak salah australian
catholic university.. dan dia juga udah lulus skrg...
>
> So logikanya kalo D-3 aja bisa mustinya D-4 lebih bisa kan??
>
> Good luck n never give up!
>


INFO, TIPS BEASISWA, FAQ - ADS
Hanya ada di http://www.milisbeasiswa.com/

===============================

CARI KERJA?
Gabung dengan milis vacancy. Kirim email kosong ke vacancy-subscribe@yahoogroups.com.
http://www.groups.yahoo.com/group/vacancy

===============================

INGIN KELUAR DARI MILIS BEASISWA?
Kirim email kosong ke beasiswa-unsubscribe@yahoogroups.com
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:

http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:

http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/join

(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:beasiswa-digest@yahoogroups.com
mailto:beasiswa-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
beasiswa-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

http://docs.yahoo.com/info/terms/

[psikologi_transformatif] Ada situs baru buatan anak negeri sendiri !

Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Reconnect with

college alumni.

Y! Messenger

All together now

Host a free online

conference on IM.

Improvement Zone

on Yahoo! Groups

Find support & keep

New Year's goals.

.

__,_._,___

Re: [psikologi_transformatif] Memungut Kearifan Goethe (was Re: goethe und der Islam..)

hahahah...hahahahah.....hahhahahaha.... saya setuju juga....

memang agak sulit untuk bisa memastikan apakah goethe itu muslim seperti saya atau tidak... sebab kita bisa menemukan karya2nya yg mengarahkan pada "keislaman" dirinya atau sebaliknya... kita tau bahwa goethe adalah milik jerman dan sekaligus kebanggaan jerman yg mayoritas non-muslim... bahkan nietzsche sangat mengagumi goethe dan dia menyebut sebagai salah satu Uebermensch..

tapi jika kita melihat pandangan gothe dalam karyanya seperti yg anda dibawah bahwa adalah sebuah keanehan jika gothe masih disebut kristen... mengapa...??? sebab gothe menganggap bahwa seluruh ciptaan adalah manifestasi tuhan (walaupun saya lebih senang meyebutnya dalam kata sufi dengan "tajalli").....

sebaliknya di kristen ada yg disebut "trinitas" dalam arti bahwa tuhan adalah yg tidak dalam "selain tiga"... bapa, putra dan roh kudus... jadi dalam kristen kalau ada yg menganggap bahwa tuhan melingkupi segalanya (saya,yesus,bakteri,anjing,makanan yesus, mungkin tai yesus,matahari,dll) dalam keyakinan kristen itu adalah "kafir".... selain itu, dengan sendirinya bahwa dalam krsiten setiap manusia yg "menolak" ketuhanan yesus dan "meyakini bahwa yesus adalah makhluk juga seperti yg lain adalah "kafir".... jadi seorang krsiten harus menolak "kenabian" muhammad SAWW sebab seorang nabi adalah utusan tuhan termasuk dengan apa yg dibawanya (al quran)....

jadi dengan sendirinya jika goethe adalah org yg baik maka dia harus keluar dari kristen.... trinitas adalah subtansi kristen..

jadi adalah sebuah keanehan jika ada makhluk menyembah mahkluk... apalagi makhluk yg tidak mau mencari pencipta/khalik....

inti dalam islam adalah bahwa tuhan itu satu (khalik/pencipta), sehingga apapun selain tuhan adalah bukan tuhan (mahkluk/ciptaan)....

"sesungguhnya aku adalah ALLAH, tidak ada tuhan selain AKU maka sembahlah AKU" (al quran)
"dan ALLAH telah menyaksikan bahwa tidak ada tuhan selain diriNya" (al quran)

mengapa yesus itu disebut tuhan saat adam tidak memiliki ayah dan ibu..???
mengapa yesus itu disebut tuhan saat nama sang iblis juga ada dalam al quran..???
mengapa yesus itu disebut tuhan saat sang lebah juga mendapatkan petunjuk dari tuhan..???

terkutuklah penyembah alam ( matahari ratu sheba)
terkutuklah para penyembah hewan (sapi betina bani israil)
terkutuklah para penyembah manusia (firaun bangsa mesir)
sebab ALLAH telah mengutuk terhadap penyembahannya didalam Al quran

saat kiamat itu akan ada maka yg sisa adalah sang pencipta saja..
sebab semua adalah makhluk maka seharusnya makhluk mencari dan menyembah sang pencipta...

tidak ada tuhan selain ALLAH SWT...

info seimbang <infoseimbang@gmail.com> wrote:



Memungut Kearifan

Johann Wolfgang von Goethe

Oman Fathurahman

Suatu ketika, Berthold Damshäuser, Ketua Jurusan Sastra Indonesia Universitas Bonn, menghadiahi saya sebuah buku yang pada tahun 2007 ini ia publikasikan bersama sastrawan Indonesia Agus R. Sarjono. Buku yang diberi judul Johann Wolfgang von Goethe: Satu dan Segalanya ini berisi terjemahan kurang lebih 70 puisi pujangga Jerman terbesar yang namanya menjadi judul buku itu. Terjemahan ini adalah hasil kerja sama antara kedua penyunting.
Jujur, saya bukan seorang peminat dan pembaca puisi yang tekun. Saya biasanya hanya membaca puisi-puisi tertentu yang 'tiba-tiba' menarik perhatian saya, itu pun hanya sekilas dan kemudian selesai! Tapi, membaca buku yang diterbitkan dalam rangka meningkatkan minat baca dan apresiasi sastra ini, saya banyak tertegun dan 'terpaksa' membaca serta merenungkan berulang-ulang pemikiran besar Goethe (1749-1832) dalam puisi-puisinya.

Betapa tidak? Selama ini yang menjadi fokus perhatian keilmuan saya adalah masalah keilahian serta hubungannya dengan makhluk dan alam, dalam perspektif tasawuf. Saya memang belum pernah berfikir untuk membandingkannya dengan pemikiran-pemikiran sastrawan Eropa semisal Goethe. Tapi kini, saya 'tiba-tiba' menemukan inti pemikiran para Sufi yang adiluhung itu teruntai dalam beberapa puisi Goethe. Saya tentunya tidak mungkin memahami dan mengambil pelajaran sebagian kecil inti pemikiran Goethe ini kalau saja Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser tidak menyediakan versi terjemahan bahasa Indonesia yang sangat puitis.
Sejauh yang saya pelajari, para Sufi misalnya meyakini bahwa alam ini hanyalah manifestasi (mazhar) Tuhan, dan bahwa Dia bisa mewujud (tajalli) dalam berbagai bentuk apa saja, karena Dia Mahamutlak dalam berkehendak (Q.S. 11: 107), meskipun ia tetap kokoh dengan Sifat Transenden-Nya. Ibn al-'Arabi, yang pemikiran tasawuf filosofisnya abadi sepanjang masa, adalah seorang Sufi besar berjuluk al-Shaykh al-Akbar yang paling getol medakwahkan konsep tashbih (penyerupaan) dan tanzih (transendensi) Tuhan ini.
Demikianlah Goethe. Seperti dipaparkan Damshäuser dalam pengantarnya berjudul "Goethe – Tokoh Jerman Terbesar" (h. 9-33), dalam puisi Im Namen desssen (Atas Nama Dia) Goethe bertutur bahwa seluruh alam hanyalah merupakan variasi dari Sang Satu atau keilahian belaka, bahwa alam tidak pernah terpisah dari penciptanya, dan bahwa Diri-Nya senantiasa mewujudkan diri dalam ciptaan-Nya, sehingga segala sesuatu menjadi serba teratur dan bermakna, tidak ada yang kebetulan (h. 30).
Memperhatikan puisi-puisinya yang lain dalam buku ini, jelas bahwa Goethe tidak hanya sedang 'meminjam' popularitas pandangan-pandangan para Sufi besar tersebut untuk menghasilkan sebuah karya, melainkan menceburkan diri dan menjadikan itu sebagai bagian dari pandangan-pandangan hidupnya.
Lihat saja puisi Goethe dalam kumpulan West-Östlicher Diwan, atau yang dalam sebuah halaman beriluminasi indah tertulis sebagai al-Diwan al-Sharq li al-Muallif al-Garbi, dan yang diterjemahkan oleh kedua penyunting sebagai Diwan Barat-Timur (h. 89-114). Di sini jelas bahwa pandangan-pandangan Sufi besar Persia semisal Jalaluddin Rumi, Shamsuddin Muhammad Hafiz Shirazi, dan Hakim Abul Qasim Ferdowsi sedemikian kuat mempengaruhi cara pandang Goethe. Dalam Offenbar Geheimnis (Bukan Rahasia), Goethe bahkan menunjukkan pembelaan, dan sekaligus kedekatannya, terhadap Sufi Hafiz dari serangan para ulama Kalam yang sering mengharamkan sebuah interpretasi keagamaan yang dianggap melebihi batas-batas kata. Goethe berujar untuk Hafiz (h. 103):
Namun dalam mistik kau murni
Karena mereka tak memahamimu,

Meski tak shalih,
engkau suci!

Itu tak rela mereka akui
.
Namun, seperti berkali-kali diingatkan Damshäuser (h. 27), yang ingin ditunjukkan oleh Goethe melalui karya-karya 'sufistis'nya adalah bukan berarti ia seorang penganut agama tertentu, Islam misalnya. Alih-alih, dia sedang mempertontonkan sebuah apresiasi sepatutnya terhadap sebuah kepercayaan agama, dan sekaligus menunjukkan terbukanya pergaulan Goethe terhadap dunia Timur.
Ini bisa terlihat misalnya dalam puisi-puisinya yang lain yang juga memberikan apresiasi sangat besar terhadap budaya Yunani dan Kristen. Menurut Damshäuser, "… pemisahan antara Timur dan Barat, antara Nasrani dan Islam, dan seterusnya dan sebagainya, tidak berlaku bagi Goethe…". Goethe lebih suka menciptakan Weltliteratur (sastra dunia), sebuah istilah yang diperkenalkan oleh Goethe sendiri (h. 29).
Tentu saja buku ini tidak hanya mengandung puisi-puisi Goethe bernafaskan sufistis seperti yang saya contohkan, karena secara keseluruhan terdapat lima bagian, yakni 'Batas-batas Manusia', 'Keping-keping Kebijaksanaan', 'Merindu Mati di Kobaran Api', 'Tak Berkulit Tak Berbiji', dan 'Wasiat'. Masing-masing bagian tersebut mengandung puisi pilihan yang menurut pertimbangan kedua penyunting dapat mewakili keanekaan bentuk dan tema perpuisian karya Goethe (h. 23).
Karenanya, membaca puisi-puisi Goethe dalam buku ini secara keseluruhan, seakan kita diajak napak tilas bagi munculnya secara bertahap teks-teks yang melambungkan Goethe menjadi penyair Jerman terbesar di samping Hölderlin, Heine, Rilke atau Brecht. Apalagi, Damshäuser melengkapi buku ini dengan sebuah paparan riwayat hidup Goethe, latar belakang keluarganya yang borjuis Protestan, pendidikan awalnya, karir politiknya, hingga kisah-kasih cintanya (h. 9-21).
Jelas, puisi-puisi Goethe adalah produk dari sebuah pergulatan intelektual dan spiritualnya sebagai seorang pujangga besar yang sejak kecil tidak pernah puas dengan karya yang telah dihasilkannya sendiri, sehingga ia terus menulis, menulis, dan menulis hingga masa tuanya masih menghasilkan karya-karya agung semisal Faust II (1831) dan sebelumnya, West-Östlicher Diwan (1819) yang telah saya sebut di atas.
Semakin larut membaca buku terbitan Horison ini, semakin kita diajak menuju sebuah kesadaran bahwa dalam sejarah dan tradisi sastra, seperti telah ditunjukkan Goethe melalui puisi-puisinya, tidak tampak tercipta sekat-sekat agama, suku, keyakinan, kepercayaan yang terkadang menghalangi kita untuk saling menunjukkan apresiasi.
Bagi masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman etnis, suku, budaya, dan agama dengan berbagai ragam corak pemahaman dan interpretasinya, butir-butir mutiara pemikiran seperti ditonjolkan Goethe dalam buku ini, tidak saja dapat menumbuhkan sikap saling menghargai karya sastra dan budaya lain, tapi lebih penting dari itu dapat menjadi pelajaran berharga bagaimana semua perbedaan itu dikelola.
Masalahnya, upaya-upaya sosialisasi keragaman sastra dan budaya lain seperti yang dilakukan oleh Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser ini seringkali tidak mendapat apresiasi sewajarnya, dan hanya dianggap kerjaan sampingan saja yang tidak terlalu berguna.
Karenanya, tidak berlebihan jika kita menganggap bahwa Horison bukan saja telah memberikan kontribusi besar terhadap geliat sastra di Indonesia dengan menerbitkan Seri Puisi Jerman ini, melainkan juga telah memberikan pembelajaran berharga tentang sebuah kearifan bagi masyarakat pada umumnya. Selamat membaca bukunya, dan salam sastra.
———-
Penulis adalah Dosen Fakultas Adab dan Sastra Arab, serta peneliti PPIM, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sejak Juni 2006-April 2008 sebagai peneliti tamu atas beasiswa dari The Alexander von Humboldt-Stiftung di Malaiologischer Apparat am Orientalischen Seminar, Universität zu Köln, Jerman. Tulisan ini juga dimuat di situs Indonesian Islamic Philology.



Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Be a career mentor

for undergrads.

Y! Messenger

Quick file sharing

Send up to 1GB of

files in an IM.

Do-It-Yourselfers

Find Y! Groups

on Lawn & garden,

homes and autos.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: SAYA SHOLAT LIMA WAKTU TAPI……



Bravo Pak Muji,

Mawas Diri adalah tindakan kepahlawanan yang lebih besar daripada
seorang Penakluk, karena musuhnya adalah dirinya sendiri.

True STRENGTH can not be found in the arms or weapons of war,
but it lies deep within, in the COURAGE that controls the gun.

Ini mencakup semua pelaku hidup, melampaui agama & golongannya.

Iman tanpa Amal hanyalah pepesan kosong.
Amal tanpa Iman hanyalah eksebisi yang dangkal dan tak bermakna.

Ditengah hiruk pikuknya kehidupan, dan keinginan besar untuk menang
sendiri, bercermin muka dan mawas diri akan banyak menolong kita semua
untuk bisa kembali membumi.

Kemenangan tanpa moral adalah prestasi yang memalukan.

salam hangat,

Robin Hood

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, Mujiarto Karuk
<mkaruk@...> wrote:
>
> SAYA SHOLAT LIMA WAKTU TAPI……
>
>
> Saya Sholat lima waktu tapi......
> Ingat pada Allah hanya lima waktu itu saja
> Dan pada masa lainnya saya lupa pada Nya
> Jika Sholat saya 10 minit , maka cuma 10 minit itu saja ingat pada Nya
> Mungkin dalam 10 minit itu pun saya masih ingat selain daripada Nya.
>
>
> Saya Sholat lima waktu tapi....
> Saya tidak bersyukur pada Nya
> Padahal dulunya saya amat susah
> Allah yang memberi rezeki pada saya
> Dengan rezeki itu saya dapat membeli rumah
> Dengan rezeki itu saya dapat menampung keluarga
> Dengan rezeki itu saya dapat membeli kendaraan dan sebagainya
> Tapi…… hati saya masih belum puas
> Saya masih tamak akan harta dunia dan masih menganggap serba
kekurangan
>
> Saya Sholat lima waktu tapi....
> Saya masih menggunakan perkataan yang tidak sopan kepada teman teman
> Saya sering menyakiti hati mereka
> Saya sering menghina mereka
> Saya sering menghina keturunan dan bangsa mereka seolah olah
keturunan dan bangsa saya saja yang paling baik
> Pada hal saya sendiri tidak tahu persis tempat saya di mahsyar nanti
>
> Saya Sholat lima waktu tapi....
> Saya masih sombong dengan ilmu yang saya miliki
> Saya masih sombong dengan amal perbuatan yang telah saya perbuat
> Saya masih sombong dengan ibadah yang saya lakukan
> Saya masih sombong dan menganggap sayalah yang paling pandai
> Saya masih sombong dan merasa saya paling dekat dengan Allah SWT
> Dengan berbagai macam cara dan berbagai argumen saya debat mereka
yang tidak sehaluan dengan saya dan saya hancurkan Rumah Ibadah
mereka, saya aniaya dan saya siksa mereka dan keluarga mereka
> Padahal saya sendiri belum tahu , ridhokah Allah SWT dengan apa
yang telah saya perbuat itu
>
> Saya Sholat lima waktu tapi....
> Saya masih menggunakan ilmu hitam untuk menjatuhkan musuh musuhku
> Saya menggunakan uang bahkan harta serta pangkat dan kekuasaan
untuk menjatuhkan manusia yang saya tidak suka
>
> Saya Sholat lima waktu tapi....
> Saya amat bakhil dan kikir mengeluarkan uang untuk zakat dan sedekah
kepada fakir miskin atau kepada anak yatim piatu kerena saya takut
hartaku habis dan jatuh miskin
>
> Saya Sholat lima waktu tapi....
> Saya masih menyimpan sifat dengki dan khianat kepada teman teman
yang sukses dinaikkan pangkatnya atau dinaikan gajinya dan atau
berhasil dalam usahanya, padahal mereka berusaha dan bekerja sungguh
sungguh dan saya hanya bekerja seperti hidup segan mati tak mau
>
> Saya Sholat lima waktu tapi....
> Saya mengabaikan anak isteri yang kelaparan dan menderita di rumah,
kerena saya merasa sebagai raja di dalam rumahtangga dan boleh berbuat
sesuka hati
>
> Saya Sholat lima waktu tapi....
> Masih merungut dan mencaci maki bila saya ditimpa musibah, walaupun
sebenarnya saya tahu sesuatu musibah itu datangnya dari Allah, karna
perbuatan dan prilaku saya sendiri
> Seharusnya saya sadar kepada siapakah saya mencaci maki itu ?
>
> Saya Sholat lima waktu tapi....
> Menuntut ilmu semata mata mempersiapkan diri untuk berdebat dengan
orang lain atau untuk menduga keilmuan mereka dan sengaja mencari cari
yang tidak sehaluan dengan saya, dan memaksa mereka mengikuti jejak
langkah saya, padahal seharusnya saya sadar tujuan kita menuntut ilmu
adalah supaya kita dapat berbuat amal sholeh dan beribadah dengan
khusyuk dan tidak melakukan syirik kepada Allah (mempersekutukan Allah
SWT dengan yang lainnya)
>
>
> Saya Sholat lima waktu tapi....
> Saya enggan melaksanakan serta kurang bahkan tidak faham dengan
firman Allah SWT dalam Al Quran QS: 29 : (Al-Ankabut) : 45 yang
artinya Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al
Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari
(perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat
Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat
yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
>
> Saya Sholat lima waktu tapi….
> Saya tidak faham dan tidak tahu dan tidak menjalankan dengan benar
firman Allah dalam QS 107. (Al Maa´uun) : yang artinya
> 1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama ?
> 2. Itulah orang yang menghardik anak yatim
> 3. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin
> 4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat
> 5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya
> 6. orang-orang yang berbuat riya
> 7. dan enggan (menolong dengan) barang berguna
>
>
> Allah SWT Maha Pengampun , dan semoga bermanfaat
>
>
> Wassalamualaikum Wr Wb
>
>
> Sumber bahasa-Al-qur'an
>
>
> ---------------------------------
> Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.
Try it now.
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Reconnect with

college alumni.

Y! Messenger

Want a quick chat?

Chat over IM with

group members.

John McEnroe

on Yahoo! Groups

Join him for the

10 Day Challenge.

.

__,_._,___

Re: [beasiswa] [Butuh Info] Apakah Lulusan Diploma 4 bisa melanjutkan Studi di Luar??

Setahu saya ada beberapa pemberi beasiswa dari luar negeri yg masih mengakui & mau menerima lulusan D4, contohnya ADS (Australia), Perancis, KDI (Korea), Singapore. Untuk Belanda mereka TIDAK menerima lulusan D4. Sedangkan untuk Inggris, Jerman, Jepang & Amerika saya kurang tahu. Mungkin ada diantara anggota milis yg bisa memberikan info lebih lengkap.

Dony A. Nugroho
Departemen Keuangan RI
Jl. Dr. Wahidin No. 1
Jakarta Pusat 10710


INFO, TIPS BEASISWA, FAQ - ADS
Hanya ada di http://www.milisbeasiswa.com/

===============================

CARI KERJA?
Gabung dengan milis vacancy. Kirim email kosong ke vacancy-subscribe@yahoogroups.com.
http://www.groups.yahoo.com/group/vacancy

===============================

INGIN KELUAR DARI MILIS BEASISWA?
Kirim email kosong ke beasiswa-unsubscribe@yahoogroups.com
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:

http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:

http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/join

(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:beasiswa-digest@yahoogroups.com
mailto:beasiswa-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
beasiswa-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

http://docs.yahoo.com/info/terms/

Re: [psikologi_transformatif] Re: Kewajiban Muslim Terhadap Al-Qur'an

hahahahah.....hahahahah......hahahaha... gue tanggapi juga....

pradita@telus.net wrote:

Nah kan, muslim gadungan bunyi lagi? Saya ajari dikit ya soal agama islam,
sekalian gimana caranya jadi muslim yang baik.
-----------------------------------------------------------
gue : hahaha...hahahah.....hahahah.... aneh kagak berubah ya..??? disaat saya tidak bernafsu menyebutmu sebagai kristen gadungan dan mengajar kamu jadi krsiten yg baik tetapi malah kamu sebaliknya... tapi Ok lah...
----------------------------------------------------------------------------
Islam itu harus dibedakan dalam dua pengertian: ada "islam" dengan -i kecil,
dan ini artinya penyerahan diri total kepada Tuhan, sebagaimana disitir Goethe.
Muslim berarti orang yang menyerahkan dirinya secara total, jadi seorang Goethe
pun bisa saja masuk dalam kategori ini. Islam dengan -I besar adalah organized
religion--islam sebagai institusi agama.
------------------------------------------------------------------------------
gue : hahahah....hahahah.... gue pernah dengar bahwa memang goethe adalah islam seperti saya.. dalam arti bahwa pengakuan keyakinan baik itu dalam ketauhidan (bahwa tidak ada tuhan selain ALLAH SWT), dll (semisal yesus bukanlah tuhan).... benar atau salah maka tentu harus ada argumen yg rasional... jangan2 kamu juga merasa islam ya...??? dalam arti melakukan penyerahan diri kepada Allah juga...??.. tapi ingat tuhan dalam institusi kristen (dalam bahasa anda) adalah Allah yg punya anak sekaligus yg jadi manusia dan roh kudus (1x3=1) dan memiliki tingkah laku seperti zeus dan ken arok (gemar dengan perempuan manusia) dan mirip dengan firaun.. betul kagak...????... jadi kristen yg ada sekarang dan yang anda anut adalah kristen kecil atau kristen besar...????. "k" kecil atau "K" besar...???
------------------------------------------------------------------------------------
islam dengan -i kecil itu inklusif: sunni ya masuk, syiah ya masuk. Ismailiah
ya masuk, bahkan Goethe pun bisa masuk. Inilah esensi islam. Jadi, sama sekali
bukan yang penuh kebencian dan sibuk ngurusin keyakinan orang lain, macem yang
Anda anut itu. Makanya saya bilang, Anda itu gadungan.
-------------------------------------------------------------------------------
gue : hahahah....hahahah....hahahah..... jadi martin luther itu "k" apa ya...??? atau paulus itu "k" inklusif juga....??? maklum semua org tau kalau paulus melarang sunat, padahal sunat tidak dilarang oleh yesus (khan aneh..???) .... ngomong2 yesus ngaku sebagai tuhan Allah israel  yg disembah org yahudi apakah yesus itu "k" atau "y" (yahudi)..???.. atau mungkin yesus adalah tipe yg ngurusin keyakinan org yahudi dengan tuhannya...????.. atau mungkin yesus adalah org yg ngurusin keyakinan bangsa yunani dengan herculesnya...???
--------------------------------------------------------------------------------
Gara-gara ekslusivitas inilah sunni dan syiah bunuh-bunuhan dalam perang
saudara yang terjadi setelah Nabi mangkat. Satunya ngeyel mau supaya penerus
Nabi adalah keturunannya, satunya lagi ngeyel supaya siapapun yang memenuhi
syarat jadi imam bisa jadi penerus Nabi, meski bukan cucunya. Gara-gara
prosedur, sesama satu iman bunuh-bunuhan. Anda ini mestinya termasuk golongan
dari jahiliyah jilid II itu, soalnya hobnya mengganyang yang berbeda dengan
Anda.
-----------------------------------------------------------------------------
gue : hahaha....hahahah.....hahahah.... tapi apakah nilai "bunuh-bunuhan" muslim memiliki kualitas dengan yg ada dalam kristen setelah yesus bangkit yg menimbulkan perbedaan menyangkut subtansi kristen yaitu "yesus itu tuhan atau makhluk sih...???"..... syiah dan sunni mungkin berbeda ketika menyangkut imamah (kepemimpinan) tetapi bagaimana dengan kristen yg pada kasus "trinitasnya" sehingga melahirkan aliran arius dan nestorian..???... subtansi islam adalah "ketauhidan" dan "kenabian Muhammad SAWW" yg sunni dan syiah tidak pernah berbeda dalam hal ini... tetapi subtansi kristen dengan ketuhanan yesus...???... boro2 tentang ketuhanannya bisa diperdebatkan untuk kebenaran, wajahnya aja yg asli sampai sekarang dengan berbagai versi dianggap "kebenaran sejati"... jadi pada kasus "apakah yesus itu tuhan atau makhluk yg nabi aja...??" itu anda masukkan sebagai "ekslusif atau inklusif"...?????
--------------------------------------------------------------------------------------------
Tuhan adalah satu. Lalu kenapa sunni dan syiah saling bunuh, padahal baru saja
ditinggal mangkat sama nabinya? karena mereka bukan lagi fokus ke Tuhan,
melainkan ke eksklusivitas: satu sama lain saling menafikan. Kok elo bego amat
sih gak belajar-belajar dari pengalaman dan sejarah?
---------------------------------------------------------------------------------------------
gue : hahahah....hahahah.....hahahah.... yg terpenting dalam agama yg nomor satu adalah menyangkut "ketuhanan" dan menyusul "kenabian"... sunni dan syiah tidak memperdebatkan itu sebab semua sudah jelas dan tidak perlu lagi diperdebatkan... tapi persoalannya adalah menyangkut "imamah" kepemimpinan pasca nabi Muhammad SAWW... sebenarnya persoalan pengganti "kepemimpinan" sudah ada sejak  zaman2 para nabi yg bisa kita temukan secara nyata pada nabi musa as adalah antara "harun vs samiri"... jadi ketuhanan sudah jelas... lain halnya dengan kristen yg ketuhanan yesus aja kagak jelas sebab seperti kata ahmad deedat "saya akan memberikan anda uang jika ada ayat2 dalam bible anda yg berisi pernyataan yesus bahwa dia adalah tuhan dan menyuruh sembah dirinya"...... betul kagak...????
----------------------------------------------------------------------------------------
Soal nikah, terserah yang kawin dong. mau seagama kek, mau sama monyet kek, kok
kamu ngurusin rumah tangga orang lain sih? lagi kena PHK dan gak ada gawe ya?
----------------------------------------------------------------------------------------
gue : hahahah.....hahahaha.....hahaha.... wajar aja kamu bilang gitu sebab kalau perkawinan dimasukkan sebagai nilai moral yg tuhan harus mengatur maka akibatnya "tuhan kamu aneh" sebab mau punya anak dari makhluknya... jadi jika tuhan mau punya anak dari makhulknya itu sama dengan ngurusin rumah tangga makhluknya (makhluk seharusnya dengan makhluk).... betul kagak..?????
------------------------------------------------------------------------------------
Tuhan bersabda, "Aku hendak menciptakah khalifah di muka bumi" dengan catatan
tambahan alias footnote, "tapi bukan yang modelnya kaya digembor-gemborkan si
hendrik bokonglebus itu".
------------------------------------------------------------------------------------
gue : hahahah....hahahaha...... kagak apa2, asal jangan jadi model kayak kamu juga....
---------------------------------------------------------------------------------
manneke

Quoting hendrik bakrie <henrik12syiah@yahoo.com>:

> "jika islam adalah penyerahan diri kepada tuhan, maka kita harus menjadi
> islam sebelum mati" (goethe)
>
>
> "jadi ulama itu gampang tetapi jadi manusia itu yg susah" (imam khomeini)
>
>
> hahahah....hahahha....hahahha..... betul bu pradita..
>
> saya ingin menjelaskan pemahaman saya tentang quran.. bahwa ternyata quran
> itu tidak menganggap dirinya sebagai kepunyaan org islam tetapi malah quran
> menganggap dirinya sebagai "milik manusia"... sebab ada banyak ayat yg
> mengarahakan ke arah itu..
> 1. Tuhan adalah satu.. tidak ada tuhan selain diriNya.. tidak menpunyai
> anak dan diperanakkan
> 2. penyembahan terhadap ALLAH SWT adalah sebuah kewajiban bagi seluruh
> manusia bahkan jin sekalipun
> 3. dan menyangkut hukum moral yg juga diberlakukan pada org2 yg non
> muslim..
>
> persoalnnya ada beberapa manusia yg memang "tidak mau kebenaran" dan yg
> memang akan "dirugikan" dalam ajaran/hukum2 islam itu... misalnya aja tentang
> isa al masih as.. islam menyikapinya dengan menyatakan bahwa dia adalah
> makhluk dan seorang nabi saja (sebagai bukti bahwa dirinya (al Quran) memang
> dari Tuhan...
>
> sama halnya larangan menikah dengan yg tidak seagama.. disatu sisi bahwa
> itu dianggap melecehkan agama lain tetapi disatu sisi yg namanya agama "harus
> benar" sebab agama adalah kesalamatan (islam berasal dari kata salam yg
> berarti keselamatan).. emang agama itu "ide" yg hanya tuhan yg tau apakah itu
> benar atau salah..??? dan agama harus mampu bisa menjelaskan tentang hukum2
> yg akan datang dalam kehidupan selanjutnya... manusia dalam islam bukanlah
> binatang, yg datang hanya untuk makan dan berkembang biak saja.. tetapi
> manusia adalah makhluk tuhan yg harus bisa menunjukkan bahwa dia harus bisa
> memahami tuhan sebagaimana tuhan harus dipahami (kehendak tuhan bagi manusia)
> sehingga dia mampu menunjukkan kepada makhluk langit (malaikat dan iblis)
> bahwa memang dia adalah makhluk mulia..
>
> sebab manusia adalah mahkluk bumi sekaligus langit dan makhluk yg menjadi
> rahmat bagi bumi...
>
> untuk itulah ketika ALLAH akan menciptakan manusia, DIA mengumunkan itu
> juga kepada malaikat lalu malaikat menggunakan potensinya (sudah ada)
> menjelaskan tentang manusia itu tetapi anehnya ALLAH SWT lalu berfirman :
> "sesungguhnya aku maha mengetahui"... subhanllah ALLAH SWT menggunakan kata
> "maha mengetahui".. apakah melalui dalam diri manusia itu akan ada pelajaran
> untuk malaikat lagi...??? salah satunya adalah malaikat akan tau cinta dan
> murka tuhan.... sebab manusia adalah "makhluk bumi untuk langit sekaligus
> makhluk langit untuk bumi"...
>
> manusia harus memilih apakah dia akan menjadi pelajaran malaikat untuk
> murka ALLAH SWT atau menjadi pelajaran akan besarnya cinta ALLAH SWT...
>
> apakah manusia itu dalam kehidupan sosialnya tidak ada bedanya dengan
> binatang atau sebaliknya... apakah dalam pikirannya hanya bahagia, makan dan
> sex aja..??? atau seperti kawanan zebra yg berlari meninggalkan temannya yg
> disergap seekor singa...???.. atau seperti seekor gajah yg tidak peduli
> dengan kehidupan zebra yg diterkam oleh singa..???
>
> mengapa manusia bisa mengenal tuhan.. apakah memang tuhan ingin
> dikenal...???
>
> "aku adalah khazanah yg tersembunyi
> aku mencipta karena aku ingin dikenal"
>
> memang moral itu susah.. sebab kadang kritikan atau kebenaran itu dianggap
> sebuah prilaku amoral...
>
> "aku hendak menciptakan khalifah dimuka bumi" (Alquran)
>
>
> pradita@telus.net wrote:
> Betul saya amini ini.
>
> Bahkan umat agama lain pun sudah sepatutnya menghormati Al Qur-an sebagai
> kitab
> suci Islam, serta tidak menistakannya mentang-mentang itu bukan kitab sucinya
>
> sendiri. Bukan kewajiban, melainkan sikap yang lahir dari kesadaran bahwa
> kita
> memberikan penghargaan sama kepada milik orang lain, sebagaimana kita
> menghargai apa yang jadi milik kita sendiri.
>
> Jika gagasan sederhana ini bisa konsisten dipraktikkan dalam hidup nyata,
> maka
> sudah akan damailah isi seluruh bumi ini.
>
> manneke
>
> Quoting Mujiarto Karuk <mkaruk@yahoo.com>:
>
> > Assalamualikum Warohmatullohi Wabarokatuh
> >
> > Mayoritas umat Islam menghormati Al-Qur'an sebagai sebuah kitab suci, akan
> > tetapi sayang sekali boleh dikatakan bahwa penghormatan kepada Al-Qur'an
> > adalah sesuatu yang dilakukan tanpa menelaah kandungannya, jauh sekali
> > daripada mempraktekkan dalam kehidupan sehari hari, sejak kecil kita
> diajar
> > untuk menghormati Al-Qur'an semata - mata kerena Ia adalah Al-Qur'an,
> bukan
> > kerena pengetahuan tentang apakah Al-Qur'an dan peranannya kepada kita
> > sebagai seorang yang mengaku beragama Islam, hanya sekali-sekali kita
> > mempraktekkan Al-Qur'an, namun yang dipraktekkan bukanlah ajarannya tetapi
> > ayat - ayatnya yang dibuat untuk tujuan tertentu seperti hiasan dalam
> rumah
> > (hiasan dinding) , menghalau gangguan makhluk ghaib, melariskan dagangan,
> > menyembuhkan penyakit, lolos pemeriksaan, memagari rumah dan masih banyak
> > lagi , yg kesemuanya menyimpang jauh dari hakekat dan kegunaan tujuan
> > Al-Qur'an diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
> >
> >
> > Memang tidak salah menghormati Al-Qur'an kerena Ia adalah Al-Qur'an , jika
> > penghormatan ini didasarkan kepada sikap menelaah dan mempraktekkan
> > kandungannya, ia akan lebih bermakna dan bermanfaat untuk kita semua,
> dengan
> > menelaah dan mempraktekkan kandungan Al-Qur'an yang sebenarnya kita
> termasuk
> > mencapai tujuan Al-Qur'an diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
> >
> >
> > Mari kita tanamkan pada diri kita masing masing pada Al-Quran untuk
> >
> >
> > 1.Beriman kepadanya.
> > 2.Membacanya dengan disiplin disertai dengan tajwid
> > 3.Menelaah, meyakni, memperhatikan dan mengkaji
> > kandungannya (tadabbur).
> > 4.Mempraktekkannya dalam lika liku kehidupan sehari hari.
> > 5.Menyampaikan untuk tujuan dakwah atau menegakkan hujah.
> > 6.Membelanya dari tuduhan orientalis dan penyelewengan dari
> > segelintir umat manusia yang mengaku ber Agama Islam.
> >
> >
> > Semoga bermanfaat
> >
> >
> > Wassalam
> >
> > ---------------------------------
> > Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.



Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

new professional

network from Yahoo!.

Y! Messenger

Quick file sharing

Send up to 1GB of

files in an IM.

Do-It-Yourselfers

on Yahoo! Groups

How-to ideas,

projects and more.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Memungut Kearifan Goethe (was Re: goethe und der Islam..)


e-link: http://indonesianmuslim.com/memungut-kearifan-johann-wolfgang-von-goethe.html


Memungut Kearifan

Johann Wolfgang von Goethe

Oman Fathurahman


Suatu ketika, Berthold Damshäuser, Ketua Jurusan Sastra Indonesia Universitas Bonn, menghadiahi saya sebuah buku yang pada tahun 2007 ini ia publikasikan bersama sastrawan Indonesia Agus R. Sarjono. Buku yang diberi judul Johann Wolfgang von Goethe: Satu dan Segalanya ini berisi terjemahan kurang lebih 70 puisi pujangga Jerman terbesar yang namanya menjadi judul buku itu. Terjemahan ini adalah hasil kerja sama antara kedua penyunting.

Jujur, saya bukan seorang peminat dan pembaca puisi yang tekun. Saya biasanya hanya membaca puisi-puisi tertentu yang 'tiba-tiba' menarik perhatian saya, itu pun hanya sekilas dan kemudian selesai! Tapi, membaca buku yang diterbitkan dalam rangka meningkatkan minat baca dan apresiasi sastra ini, saya banyak tertegun dan 'terpaksa' membaca serta merenungkan berulang-ulang pemikiran besar Goethe (1749-1832) dalam puisi-puisinya.

Betapa tidak? Selama ini yang menjadi fokus perhatian keilmuan saya adalah masalah keilahian serta hubungannya dengan makhluk dan alam, dalam perspektif tasawuf. Saya memang belum pernah berfikir untuk membandingkannya dengan pemikiran-pemikiran sastrawan Eropa semisal Goethe. Tapi kini, saya 'tiba-tiba' menemukan inti pemikiran para Sufi yang adiluhung itu teruntai dalam beberapa puisi Goethe. Saya tentunya tidak mungkin memahami dan mengambil pelajaran sebagian kecil inti pemikiran Goethe ini kalau saja Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser tidak menyediakan versi terjemahan bahasa Indonesia yang sangat puitis.

Sejauh yang saya pelajari, para Sufi misalnya meyakini bahwa alam ini hanyalah manifestasi (mazhar) Tuhan, dan bahwa Dia bisa mewujud (tajalli) dalam berbagai bentuk apa saja, karena Dia Mahamutlak dalam berkehendak (Q.S. 11: 107), meskipun ia tetap kokoh dengan Sifat Transenden-Nya. Ibn al-'Arabi, yang pemikiran tasawuf filosofisnya abadi sepanjang masa, adalah seorang Sufi besar berjuluk al-Shaykh al-Akbar yang paling getol medakwahkan konsep tashbih (penyerupaan) dan tanzih (transendensi) Tuhan ini.

Demikianlah Goethe. Seperti dipaparkan Damshäuser dalam pengantarnya berjudul "Goethe – Tokoh Jerman Terbesar" (h. 9-33), dalam puisi Im Namen desssen (Atas Nama Dia) Goethe bertutur bahwa seluruh alam hanyalah merupakan variasi dari Sang Satu atau keilahian belaka, bahwa alam tidak pernah terpisah dari penciptanya, dan bahwa Diri-Nya senantiasa mewujudkan diri dalam ciptaan-Nya, sehingga segala sesuatu menjadi serba teratur dan bermakna, tidak ada yang kebetulan (h. 30).

Memperhatikan puisi-puisinya yang lain dalam buku ini, jelas bahwa Goethe tidak hanya sedang 'meminjam' popularitas pandangan-pandangan para Sufi besar tersebut untuk menghasilkan sebuah karya, melainkan menceburkan diri dan menjadikan itu sebagai bagian dari pandangan-pandangan hidupnya.

Lihat saja puisi Goethe dalam kumpulan West-Östlicher Diwan, atau yang dalam sebuah halaman beriluminasi indah tertulis sebagai al-Diwan al-Sharq li al-Muallif al-Garbi, dan yang diterjemahkan oleh kedua penyunting sebagai Diwan Barat-Timur (h. 89-114). Di sini jelas bahwa pandangan-pandangan Sufi besar Persia semisal Jalaluddin Rumi, Shamsuddin Muhammad Hafiz Shirazi, dan Hakim Abul Qasim Ferdowsi sedemikian kuat mempengaruhi cara pandang Goethe. Dalam Offenbar Geheimnis (Bukan Rahasia), Goethe bahkan menunjukkan pembelaan, dan sekaligus kedekatannya, terhadap Sufi Hafiz dari serangan para ulama Kalam yang sering mengharamkan sebuah interpretasi keagamaan yang dianggap melebihi batas-batas kata. Goethe berujar untuk Hafiz (h. 103):

Namun dalam mistik kau murni
Karena mereka tak memahamimu,

Meski tak shalih,
engkau suci!

Itu tak rela mereka akui
.

Namun, seperti berkali-kali diingatkan Damshäuser (h. 27), yang ingin ditunjukkan oleh Goethe melalui karya-karya 'sufistis'nya adalah bukan berarti ia seorang penganut agama tertentu, Islam misalnya. Alih-alih, dia sedang mempertontonkan sebuah apresiasi sepatutnya terhadap sebuah kepercayaan agama, dan sekaligus menunjukkan terbukanya pergaulan Goethe terhadap dunia Timur.

Ini bisa terlihat misalnya dalam puisi-puisinya yang lain yang juga memberikan apresiasi sangat besar terhadap budaya Yunani dan Kristen. Menurut Damshäuser, "… pemisahan antara Timur dan Barat, antara Nasrani dan Islam, dan seterusnya dan sebagainya, tidak berlaku bagi Goethe…". Goethe lebih suka menciptakan Weltliteratur (sastra dunia), sebuah istilah yang diperkenalkan oleh Goethe sendiri (h. 29).

Tentu saja buku ini tidak hanya mengandung puisi-puisi Goethe bernafaskan sufistis seperti yang saya contohkan, karena secara keseluruhan terdapat lima bagian, yakni 'Batas-batas Manusia', 'Keping-keping Kebijaksanaan', 'Merindu Mati di Kobaran Api', 'Tak Berkulit Tak Berbiji', dan 'Wasiat'. Masing-masing bagian tersebut mengandung puisi pilihan yang menurut pertimbangan kedua penyunting dapat mewakili keanekaan bentuk dan tema perpuisian karya Goethe (h. 23).

Karenanya, membaca puisi-puisi Goethe dalam buku ini secara keseluruhan, seakan kita diajak napak tilas bagi munculnya secara bertahap teks-teks yang melambungkan Goethe menjadi penyair Jerman terbesar di samping Hölderlin, Heine, Rilke atau Brecht. Apalagi, Damshäuser melengkapi buku ini dengan sebuah paparan riwayat hidup Goethe, latar belakang keluarganya yang borjuis Protestan, pendidikan awalnya, karir politiknya, hingga kisah-kasih cintanya (h. 9-21).

Jelas, puisi-puisi Goethe adalah produk dari sebuah pergulatan intelektual dan spiritualnya sebagai seorang pujangga besar yang sejak kecil tidak pernah puas dengan karya yang telah dihasilkannya sendiri, sehingga ia terus menulis, menulis, dan menulis hingga masa tuanya masih menghasilkan karya-karya agung semisal Faust II (1831) dan sebelumnya, West-Östlicher Diwan (1819) yang telah saya sebut di atas.

Semakin larut membaca buku terbitan Horison ini, semakin kita diajak menuju sebuah kesadaran bahwa dalam sejarah dan tradisi sastra, seperti telah ditunjukkan Goethe melalui puisi-puisinya, tidak tampak tercipta sekat-sekat agama, suku, keyakinan, kepercayaan yang terkadang menghalangi kita untuk saling menunjukkan apresiasi.

Bagi masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman etnis, suku, budaya, dan agama dengan berbagai ragam corak pemahaman dan interpretasinya, butir-butir mutiara pemikiran seperti ditonjolkan Goethe dalam buku ini, tidak saja dapat menumbuhkan sikap saling menghargai karya sastra dan budaya lain, tapi lebih penting dari itu dapat menjadi pelajaran berharga bagaimana semua perbedaan itu dikelola.

Masalahnya, upaya-upaya sosialisasi keragaman sastra dan budaya lain seperti yang dilakukan oleh Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser ini seringkali tidak mendapat apresiasi sewajarnya, dan hanya dianggap kerjaan sampingan saja yang tidak terlalu berguna.

Karenanya, tidak berlebihan jika kita menganggap bahwa Horison bukan saja telah memberikan kontribusi besar terhadap geliat sastra di Indonesia dengan menerbitkan Seri Puisi Jerman ini, melainkan juga telah memberikan pembelajaran berharga tentang sebuah kearifan bagi masyarakat pada umumnya. Selamat membaca bukunya, dan salam sastra.

———-
Penulis adalah Dosen Fakultas Adab dan Sastra Arab, serta peneliti PPIM, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sejak Juni 2006-April 2008 sebagai peneliti tamu atas beasiswa dari The Alexander von Humboldt-Stiftung di Malaiologischer Apparat am Orientalischen Seminar, Universität zu Köln, Jerman. Tulisan ini juga dimuat di situs Indonesian Islamic Philology.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Your school could

win a $25K donation.

Best of Y! Groups

Check it out

and nominate your

group to be featured.

Cat Groups

on Yahoo! Groups

Share pictures &

stories about cats.

.

__,_._,___