Minggu, 09 Maret 2008

[psikologi_transformatif] INTERSTANDING HUMAN BEING

Interstanding Human Being


Oleh:
Audifax
Staf Peneliti di SMART Human Re-Search & Psychological Development


Stigma adalah penyederhanaan terhadap proses pengenalan terus-menerus terhadap Liyan (Yang-Lain). Proses itu disederhanakan ke dalam suatu finalitas definisi. Kebaruan yang terus-menerus dari Liyan bukan diapresiasi sebagai keindahan melainkan ancaman yang harus dihentikan. Hambatan dinamika persentuhan sosial terjadi lewat stigma. Ketika kita mencoba mengenal Orang-Lain [Liyan] dengan pertama-tama mengategorikan sebagai anggota kelompok dengan stigma, seperti: Muslim, Kristen. Keturunan Cina, Bonek dan sebagainya, maka seperti dianalisis oleh Elias Canetti, selalu ada rasa takut untuk bersentuhan [Berührungsangst] yang mewarnai setiap fase pengenalan.
Sebelum saya bicara lebih jauh, ada sebuah contoh kasus menarik yang saya ambil dari sebuah milis alumni milik sebuah Fakultas Psikologi ternama di Surabaya. Bermula dari perdebatan yang saya rasa banyak terjadi di sejumlah fakultas dengan disiplin tertentu, yaitu soal marka berpakaian [menggunakan krah, bersepatu dan sejenisnya] lalu muncul sebuah argumen menarik dari Hari K. Lasmono, satu-satunya profesor di Fakultas Psikologi tersebut. Bagi saya, perdebatan tentang marka berpakaian itu hal yang biasa, tetapi cara Sang Profesor mengargumentasikan pentingnya berpakaian menggunakan krah dan sepatu bisa kita jadikan renungan lebih jauh untuk kita membahas mengenai keterbukaan terhadap pluralitas atau keterbukaan terhadap Yang-Lain. Simak pernyataan beliau (bold saya lakukan pada bagian penting):
Ruuuuaaar biasa, ini baru buah pendapat yang segar dan akomodatif, dan sangat bijak!!!!!!!! Apalagi keluar dari pikiran-pikiran yang masih muda belia! Bravooooo! Saluuuuut setinggi-tingginya kepada kaum muda tetapi berpikiran bijak dan tidak larut dan hanyut dengan pendapat yang sok hueeebat, sok paling tahu memaknai ekspresi cara berpakaian orang, sok pejuang HAM, apalagi mengandung fitnah seolah-olah ada aturan di UBAYA yang mengaitkan intelektualitas atau kualitas seseorang atau apalah namanya dengan cara berpakaian dan bersepatu. Saya cari-cari di peraturan-peraturan UBAYA sampai berlama-lama, koq nggak menemukan ada pimpinan UBAYA yang mengait-ngaitkan kedua masalah itu, lhaaa koq ada pendapat yang menuduh begitu? Apa itu bukan tergolong fitnah?????? Saya sebenarnya pengen tanya pada "pakar kemanusiaan ---entah siapa yang berkualifikasi atau merasa begitu:

01.kalau ada sdr kita dari Papua sekolah di Fapsi lalu pengan pakai pakaian adatnya dengan koteka dan yang perempuan no-bra, apa ya kita biarkan???????? Apa tidak kita ajak untuk sementara memakai busana seperti yang lain selama di UBAYA, kemudian kalau kembali mengabdi di daerahnya baru memakai pakaian adatnya kembali?????

02. Bila kita diundang makan bersama seorang sahabat yang menyediakan sendok dan garpu, pada hal kita biasa muluk (menyuap makanan ke mulut dengan telapak tangan) di rumah, apa kita ya demonstratif memaksa muluk di rumah sahabat itu? Demikian sebaliknya, kita diundang keluarga yang tak pernah memakai sendok, apa kita menuntut sendok dan garpu yang tak dimiliki keluarga tersebut karena kita "tak biasa" makan dengan muluk???????????etc.etc.

Masalahnya sebenarnya sederhana saja (seperti telah diungkapkan teman-teman muda di bawah): "menghormati tuan/nyonya rumah" Apa sesulit itukah????? Apa ilmu psikologi mengajarkan: Harus selalu berani menentang? Harus menunjukkan kebebasan ekspresi diri dengan segala cara???? Rasanya koq tidak. Tentu ada saja nanti yang bertanya: kalau tamu diminta menghormati aturan tuan rumah, kenapa tuan rumah tidak menghormati tamu, yang pakai koteka keq, yang pamer pusar keq, yang pakai sandal keq, yang pamer lutut keq, yang pamer ini , pamr itu, pokoknya yang pamer ke-aku-annya itu, itu 'kan hak asasinya, apa kaitannya dengan ilmu, apa kaitannya dengan nilai-nilai kemanusiaan, yang penting kan batinnya, pakaian sejelek apapun yang penting 'kan hatinya yang putih bersih? Apa pakaian rapi berdasi menjamin hati yang bersih, buktinya para penjahat, para koruptor berpakaian bersih tetapi hatinya justru busuk dsb dsb dsb.

Kita tunggu aja, pasti akan hujan makian, olok-olok, sindiran en sebagainya. Demi FPsi dan UBAYA tercinta (karena aturan itu bukan dari dekanat tetapi dari UBAYA) saya rela koq dihujani "sampah" pendapat-pendapat yang (sok) pinter-pinter dan sok menggurui itu.

Maaf adik-adik bijak, agak ngalor ngidul, en saya belum mampu mewarisi kebijakan dan kematangan sikap dan kata-kata kalian, maklum, udah pikun, hehehe.i


Di situ ada sesuatu yang menarik, yaitu bagaimana Hari Lasmono mengekstrimkan situasi dengan menghadirkan contoh yang tak ada di komunitas yang tengah berdebat soal marka berpakaian itu, yaitu 'Orang Papua'. Apa salahnya orang Papua hingga ia perlu dihadirkan sebagai contoh yang perlu 'dinormalkan' dalam masalah yang bukan urusan mereka?
Saya sendiri ragu jika profesor Hari K Lasmono dengan kejernihan etis 'Cogito Ergo Sum'-nya, mau berinisiatif menggunakan koteka jika suatu ketika datang ke Papua. Tapi terlepas dari itu, cara berargumentasi dengan menghadirkan contoh 'Orang Papua' [yang tentu saja menjadi Yang-Lain dari Kami-Yang-Sama di UBAYA] adalah sebuah penghadiran hirarki penampilan yang menempatkan Orang Papua pada posisi Yang-Lain yang tak pantas menampilkan kelainannya di hadapan 'Aku'.
Melalui contoh kasus di atas, kita akan mencoba memahami lebih jauh bagaimana Yang-Sama tak memiliki keberanian untuk menyelami Liyan. Dalam Kami-Yang-Sama, Aku tak mengenali Liyan dalam singularitas sebagai Sari, Diaz, Regy, melainkan sebagai sesuatu yang telah Aku totalisasi dalam kesamaannya melalui stigma: Papua, Muslim, Kristen, Cina, dan lain-lain.
Stigma menghalangi singularitas untuk meng-Ada bersama dalam paradigma "Kita" karena dalam pengenalan berdasar stigma ada rasa takut bersentuhan yang diawetkan dan diperbesar hingga mencapai titik implikasi untuk mengekslusi Yang-Lain dari "Kami" dengan cara menjadikannya "Mereka". Yang terstigma lantas dianggap bukan orang normal karena berbeda dari 'Kami yang sama'. "Mereka" memang ada di antara "Kami", tetapi "Mereka" bukan "Kami" dan tak akan pernah menjadi "Kita".
Goffman menjelaskan "Seorang pribadi dengan sebuah stigma, tidak sepenuhnya manusiawi. Dalam kondisi ini kita membuat banyak diskriminasi untuk mengurangi peluang hidupnya secara efektif, termasuk ketika kita tidak sengaja melakukan itu. Ketika kita menyusun sebuah teori tentang stigma, maka saat itu ada sebuah ideologi yang menjelaskan inferioritasnya dan yang membuktikan bahaya orang yang distigmatisasi itu". Lalu, Yang-Terstigma akan dilecehkan di jalan, menjadi objek kebencian, dianggap sebagai sumber kesalahan dan seterusnya. Di dalam stigma tidak hanya ditanamkan undangan untuk menghina, tetapi juga phobia, karena yang terstigma dipersepsi sebagai ancamanii.
Menyentuh Yang-Terstigma, bisa dianggap menodai kemurnian. Suara mereka tidak hanya diabaikan dan dianggap non-sense, melainkan juga dipandang mengancam keutuhan kolektif. Tentu saja aliran-aliran politis, haluan fundamentalisme agama, rasisme dan berbagai kelompok yang tak menghargai pluralitas, tahu persis bagaimana menggunakan stigma untuk menjatuhkan orang atau kelompok tertentu. Stigma lalu dapat menjelaskan mengapa manusia mampu membunuh sesamanya tanpa rasa salah, bahkan dengan rasa bangga dan ekstasis.
Kita sering bicara pluralitas dengan mengedepankan hal-hal besar dalam jargon seperti: 'Bhinneka Tunggal Ika', 'Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh', 'Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia' dan sejenisnya. Namun, melalui contoh kasus yang saya angkat di atas, tidakkah dalam sesuatu yang lebih sederhana dan keseharian sebenarnya banyak orang yang masih sulit memandang perbedaan yang merentang dari Sabang sampai Merauke? Bahkan tidakkah ironis ketika saya hadirkan contoh yang justru terjadi di Fakultas yang mengajarkan understanding human being?
Tidakkah di dalam kondisi ini kita perlu sebuah ruang di mana kita tahu sama tahu perbedaan tapi tetap bisa merasa sebagai sesama warga?
Tidakkah kita perlu mentransformasi psikologi yang understanding human being agar tidak semena meletakkan human being pada posisi under dari titik di mana aku standing?
Tidakkah pada situasi ini justru bukan understanding melainkan interstanding human being?


Bagaimana cermatan anda?




iCATATAN-CATATAN

 Hari K. Lasmono; (2005); RE: [alumni_psiubaya] Sharing pengalaman; retrieved 10 November 2006 pukul 16.45 WIB; available at: http://groups.yahoo.com/group/alumni_psiubaya/message/646
ii Frans Budi Hardiman; (2005); Memahami Negativitas—Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma; Jakarta: Kompas; hal. 12-13




Tentang Penulis
Audifax adalah penulis dan peneliti. Dua hasil penelitiannya diterbitkan oleh penerbit Jalasutra, yaitu Mite Harry Potter (2005, Jalasutra) dan Imagining Lara Croft (2006, Jalasutra). Bukunya yang lain adalah Semiotika Tuhan (2007, Pinus Book Publisher).

Pada April 2008 ini akan terbit buku Psikologi Tarot yang ditulisnya bersama Leonardo Rimba. Buku ini akan diterbitkan oleh Pinus Book Publisher.

Saat ini Audifax menjabat research director di SMART Human Re-Search & Psychological Development. Sebuah lembaga yang memiliki concern pada riset dan pengembangan psikologi yang mengajarkan pluralitas sejak usia dini. Informasi lebih lanjut, hubungi: SMART Human Re-Search & Psychological Development, Jl. Taman Gapura G-20 (kompleks G-Walk) Citraland – Surabaya. Telp. (031) 7410121, Fax (031) 7452572, e-mail: smart.hrpd@gmail.com

Audifax mengundang anda untuk mendiskusikan esei ini di milis Psikologi Transformatif. Jika anda memiliki concern terhadap tema yang ada pada esei ini, mari bergabung dengan kita yang ada di milis Psikologi Transformatif

Sekilas Mailing List Psikologi Transformatif
Mailing List Psikologi Transformatif adalah ruang diskusi yang didirikan oleh Audifax dan beberapa rekan yang dulunya tergabung dalam Komunitas Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Saat ini milis ini telah berkembang sedemikian pesat sehingga menjadi milis psikologi terbesar di Indonesia. Total member telah melebihi 2000, sehingga wacana-wacana yang didiskusikan di milis inipun memiliki kekuatan diseminasi yang tak bisa dipandang sebelah mata. Tak ada moderasi di milis ini dan anda bebas masuk atau keluar sekehendak anda. Arus posting sangat deras dan berbagai wacana muncul di sini. Seperti sebuah jargon terkenal di psikologi "Di mana ada manusia, di situ psikologi bisa diterapkan" di sinilah jargon itu tak sekedar jargon melainkan menemukan konteksnya. Ada berbagai sudut pandang dalam membahas manusia, bahkan yang tak diajarkan di Fakultas Psikologi Indonesia.

Mailing List ini merupakan ajang berdiskusi bagi siapa saja yang berminat mendalami psikologi. Mailing list ini dibuka sebagai upaya untuk mentransformasi pemahaman psikologi dari sifatnya selama ini yang tekstual menuju ke sifat yang kontekstual. Anda tidak harus berasal dari kalangan disiplin ilmu psikologi untuk bergabung sebagai member dalam mailing list ini. Mailing List ini merupakan tindak lanjut dari simposium psikologi transformatif, melalui mailing list ini, diharapkan diskusi dan gagasan mengenai transformasi psikologi dapat terus dilanjutkan. Anggota yang telah terdaftar dalam milis ini antara lain adalah para pembicara dari simposium Psikologi Transformatif : Edy Suhardono, Cahyo Suryanto, Herry Tjahjono, Abdul Malik, Oka Rusmini, Jangkung Karyantoro,. Beberapa rekan lain yang aktif dalam milis ini adalah: Audifax, Leonardo Rimba, Nuruddin Asyhadie, Mang Ucup, Goenardjoadi Goenawan, Ratih Ibrahim, Sinaga Harez Posma, Prastowo, Prof Soehartono Taat Putra, Bagus Takwin, Amalia "Lia" Ramananda, Himawijaya, Rudi Murtomo, Felix Lengkong, Hudoyo Hupudio, Kartono Muhammad, Helga Noviari, Ridwan Handoyo, Dewi Sartika, Jeni Sudarwati, FX Rudy Gunawan, Arie Saptaji, Radityo Djajoeri, Tengku Muhammad Dhani Iqbal, Anwar Holid, Elisa Koorag, Lan Fang, Lulu Syahputri, Kidyoti, Alexnader Gunawan, Priatna Ahmad, J. Sumardianta, Jusuf Sutanto, Stephanie Iriana, Yunis Kartika dan masih banyak lagi

Perhatian: Milis ini tak ada moderator yang mengatur keluar masuk member. Setiap member diharap bisa masuk atau keluar atas keputusan dan kemampuan sendiri.

Jika anda berminat untuk bergabung dengan milis Psikologi Transformatif, klik:


Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Be a career mentor

for undergrads.

Y! Messenger

Want a quick chat?

Chat over IM with

group members.

Curves on Yahoo!

A group for women

to share & discuss

food & weight loss.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] mengenal mufassir dan arifah perempuan...

dari salah satu web site islam...

Mengenal Mufassir dan 'Arifah Perempuan; Mujtahidah Banu-ye Isfahani

Sejarah & TokohOleh: Euis Daryati

Beliau satu-satunya perempuan yang mencapai derajat ijtihad pada zamannya. Prestasi beliau yang luar biasa tersebut menyebabkan banyak berdatangannya para tokoh dan ulama dari berbagai negara Islam untuk bertemu dan berbincang-bincang dengan beliau. Diantara para ulama besar yang mendatangi beliau adalah: Ayatullah al-Udzma Mar'asyi Najafi, Allamah M Husein at-Thabathaba'i (pemilik tafsir Mizan), Allamah Muhammad Taqi Jakfari (filsuf muslim ternama) dan para dosen dari berbagai universitas.

---------------------------------------------------------------

Sebagian orang beranggapan, bahwa sangat sedikit sekali tokoh perempuan yang dapat dikenal keunggulannya. Ungkapan semacam ini memberikan dua kemungkinan; Pertama, pengetahuan sang pembicara terlampau dangkal sehingga banyak tokoh yang tidak pernah ia ketahui, atau bahkan ia dengar. Hal itu tidak lain dikarenakan kemalasannya dalam menelaah kitab-kitab sejarah masa lalu, atau dikarenakan kejumudan pola pikirnya. Kedua, pembicara terlalu terpengaruh dengan statemen-statemen beberapa "oknum" yang cenderung melecehkan kaum perempuan. Alhasil, dua kemungkinan di atas tadi berpangkal pada "kebodohan" obyek yang kita singgung tadi.

Begitu banyak tokoh perempuan yang dikarenakan tidak mendapat perhatian yang khusus mereka kemudian menjadi kurang dikenal, akhirnya keberadaan mereka seakan hilang ditelan sejarah. Ibarat pepatah yang mengatakan "tak kenal, maka tak sayang", disini akan kita singgung secara ringkas sejarah kehidupan seorang wanita agung, mujahidah fi sabilillah, penghidup ajaran para manusia suci, pengkhidmat masyarakat, alim dari berbagai disiplin ilmu keagamaan dan tokoh wanita di zamannya, Sayyidah Amin dari kota Isfahan, Iran.

Biografi

Hajjah Sayyidah Nushrat Bigum Amin (terkenal dengan sebutan "Banu-ye Isfahani") lahir pada tahun 1265 HS (kurang lebih 120 tahun yang lalu .red) di Isfahan, Iran. Ayah beliau bernama Haji Sayyid Muhamad Ali bin Hasan yang dikenal "Amin-e Tujjari Isfahani", adalah orang yang saleh lagi dermawan. Begitu pula ibu beliau adalah seorang wanita mukminah dan mulia. Beliau adalah seorang Syarifah atau Sayyidah, yang urutan nasabnya kembali ke Rasulullah Saww. melalui putri semata wayang beliau yang digelari penghulu para wanita dari awal hingga akhir penciptaan, Fathimah az-Zahra as. Dengan tiga puluh urutan nasab beliau sampai kepada imam Ali as, beliau merupakan anak terakhir dari empat bersaudara dan semua kakaknya adalah laki-laki.

Sewaktu menginjak umur empat tahun, ibunya mengirim beliau ke Maktab (pusat pendidikan) untuk belajar al-Qur'an dan baca tulis. Padahal, zaman itu, jarang sekali keluarga yang mengirim anak perempuannya ke Maktab untuk belajar, bahkan sebagian keluarga tidak memperbolehkan untuk mengajarkan baca tulis kepada anak perempuan.

Sejak itulah Sayyidah Amin terus melanjutkan pelajarannya, dan beliau belajar bahasa Arab sampai umur sebelas tahun. Dalam menceritakan kenangan masa kecilnya beliau berkata: "Saya masih ingat ketika saya bersama teman-teman sebaya, saya tidak bermain-main dan bersenang-senang seperti mereka. Bahkan saya selalu ingin menyendiri supaya dapat terus berpikir, karena saya merasakan adanya sesuatu yang hilang dari jiwa saya. Begitu pula jika berada di tempat umum, saya selalu dalam keadaan berpikir dan merenung...".

Setelah menyelesaikan Pendidikan Mukadimah, lantas beliau melanjutkan pelajaran Fiqih, Ushul Fara'id, Kifayah al-Ushul dan Bahsul-kharij Shalat dan Thaharat dalam bidang fiqih, Syawariqu al-Ilham dalam bidang ilmu kalam (teologi) dan Ilahiyat al-Asfar dalam bidang falsafah. Beliau belajar semua bidang ilmu ini kepada Mir Sayyid Ali Najaf Abodi. Ketika berumur lima belas tahun beliau menikah dengan anak pamannya yang bernama Haji Mirza dan dikenal dengan "Mu'in-e Tujjari", beliau merupakan saudagar terkenal di kota Isfahan. Meskipun beliau telah berkeluarga dan mempunyai anak, namun hal tersebut tidak menghalangi kecintaan beliau terhadap ilmu dan belajar. Dari pernikahannya beliau memiliki delapan anak, namun yang tetap hidup hanyalah seorang. Sementara tujuh anak lainnya telah meninggal dunia dengan cepat, namun beliau menganggap hal itu sebagai ujian Ilahi. Beliau selalu berusaha untuk menyeimbangkan antara keluarga dan pelajaran, dan tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri dan ibu. Oleh karenanya, beliau senantiasa membawa buku ketika bertamu.

Karena amat cintanya kepada ilmu, meskipun hari itu anaknya meninggal beliau tetap hadir untuk belajar. Seorang guru beliau menukil: "Suatu hari anak perempuan Sayyidah Amin telah meninggal dunia. Saya merasa yakin ia tidak akan datang untuk menghadiri pelajarannya, tapi ia datang menghadiri pelajarannya. Kukatakan padanya supaya meliburkan pelajarannya, karena hari ini anaknya telah meninggal dunia".

Namun ia berujar: "Tidak apa-apa, ia telah pergi ke Rahmat Ilahi, kenapa kita harus meliburkan pelajaran? Allah telah menganugerahkan dua nikmat kepadaku. Lalu Dia mengambil salah satunya dariku, kenapa aku harus kehilangan yang lainnya, yaitu nikmat belajar?".

Dengan kerja keras dan semangat cinta ilmu, beliau meneruskan pelajarannya sampai ke tingkat yang lebih tinggi. Dengan situasi dan kondisi masyarakat yang masih memandang lain pada pendidikan bagi seorang perempuan, sampai pada akhirnya di usia empat puluh tahun derajat keilmuan dan penguasaan ilmu beliau diakui oleh para ulama besar sehingga beliau pun mencapai derajat ijtihad. Beliau satu-satunya perempuan yang mencapai derajat ijtihad pada zamannya. Prestasi beliau yang luar biasa tersebut menyebabkan banyak berdatangannya para tokoh dan ulama dari berbagai negara Islam untuk bertemu dan berbincang-bincang dengan beliau. Diantara para ulama besar yang mendatangi beliau adalah: Ayatullah al-Udzma Mar'asyi Najafi, Allamah M Husein at-Thabathaba'i (pemilik tafsir Mizan), Allamah Muhammad Taqi Jakfari (filsuf muslim ternama) dan para dosen dari berbagai universitas.

Sepanjang hidupnya Mujtahidah Amin selalu berusaha untuk mencari sesuatu yang hilang dari dirinya, suatu ketika beliau pernah berkata: "Tiada kesengsaraan yang lebih dalam, sedalam jauhnya seseorang dari kekasih sejatinya (Allah swt)". Mujtahidah Amin dari usia empat puluh sampai akhir hayatnya menghabiskan waktunya untuk menulis kitab, mengajar, menjawab berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan masalah-masalah keagamaan dan membimbing kaum perempuan. Pada tahun 1344 HS dengan dana sendiri beliau mendirikan pusat pendidikan bagi perempuan dengan nama "Maktab-e Fathimeh as" dan Sekolah Menengah Atas (SMA) khusus perempuan. Beliau pun aktif mengajar ilmu-ilmu agama dan tafsir, juga menjawab berbagai pertanyaan di sebuah lembaga yang bernama "Pusat Dakwah dan Pendidikan Agama" di kota Isfahan. Yang jelas beliau sampai akhir hayatnya selalu berusaha untuk membimbing dan meningkatkan perkembangan intelektual dan spiritual kaum perempuan. Akhirnya, setelah perjuangan dan pelayanan yang beliau haturkan kepada Islam -terkhusus bagi kaum perempuan- pada tanggal 23 Khurdad 1362 HS, dalam usia 97 beliau meninggalkan dunia fana menuju Kekasih abadinya (wafat).

Derajat Keilmuan

1. Beliau telah mencapai derajat ijtihad pada umur empat puluh tahun, dan juga mendapatkan ijazah untuk berijtihad berkaitan dengan hukum syariat dari beberapa ulama besar seperti: Ayatullah al-Udzma Abdul Karim Hairi, Ayatullah al-Udzma Muhammad Kadzim Syirazi dan Ayatullah al-Udzma Sayyid Ibrahim Husaini Syirazi Ishthahbanati.

2 . Beliau mendapatkan ijazah untuk meriwayatkan hadis dari beberapa ulama besar seperti:Ayatullah Syeikh Muhammad Ridzo Najafi Isfahani, Hujjatul Islam wa al-Muslimin Madzahiri Najafi Isfahani, Ayatullah al-Udzma Mar'asyi Najafi dan Hujjatul Islam wa al-Muslimin Zuhair al-Hasuun.

3 . Beliau selain pakar dalam bidang fiqih, lebih dari itu beliau juga menguasai bidang filsafat, irfan (mistik) dan tafsir.

Karya-karya Ilmiah
1. Arba'in Hasyimiyah

Ini adalah merupakan karya pertama beliau, yang berisi empat puluh hadis tentang tauhid, sifat-sifat Allah swt, akhlak dan hukum syari'at, sekaligus mengandung keterangan filsafat, irfan, ushul fiqih dan fiqih. Buku ini dijadikan standar para ulama Najaf (Irak) dan sebagian para marja'(mufti besar) untuk menguji beliau sampai akhirnya beliau dapat mencapai derajat "ijtihad".

2. Jaami'u asy-Syatat

Kitab ini mencakup berbagai pertanyaan yang telah dilontarkan para guru besar seperti: Ayatullah Muhammad Ali Qadzi Thabathaba'i, Syeikh Muhammad Thaha al-Hindawi an-Najafi Zadeh, Sayyid Hasan al-Husaini kepada beliau, dan jawaban- jawabannya yang beliau sampaikan secara tertulis.

3. Ma'ad yo Okharin Sairi Basyar

Dalam kitab ini, dijelaskan bahwa manusia dalam perjalanan menuju kesempurnaannya selain harus melewati alam dunia ini, ia pun harus melewati semua alam lainnya. Sehingga ia sampai kepada yang setelahnya tidak ada alam lagi, yaitu kiamat atau ma'ad. Dalam kitab ini terdapat sembilan makalah, tersusun sebagai berikut:

1- Sair az Alam-e Ula be Alam-e Sufla wa az Sufla be Ula (perjalanan dari alam transenden menuju alam tingkat bawah, dan sebaliknya).

2- Har Dani Qaim be ma Fauq (setiap tingkatan yang berada dibawah bertumpu pada tingkatan yang di atasnya).

3- Insan Majmue-ye Alam-e Wujud (manusia mengandung semua alam wujud).

4- Insan dar Alam-e Barzakh (manusia pada alam barzakh).

5- Insan dar Nasy'at-e Qiamat (manusia pada kebangkitan kiamat).

6- Shirath ('jembatan').

7- Mizan ('timbangan' amal).

8- Hisab ('perhitungan' amal).

9- Behesyt (surga).

10- Jahanam (neraka).

4. An-Nafahaatu ar-Rahmaniyah fii al-Waaridaati al-Qalbiyah

Kitab ini berisi tentang wirid-wirid dan semua kenangan beliau dalam mendapatkan Faidh (pancaran) Ilahi ketika Sair S uluk (perjalanan menuju Allah).

5. Akhlak (terjemah kitab Ibnu Maskawaih)

Kitab ini disadur dari kitab Thaharatu al-A'raq karya Ibnu Maskawaih, dengan diterjemahkan dan ditambahi penjelasan oleh Mujtahidah Amin. Kitab ini memiliki sisi ilmu, amal dan akhlak. Dan juga mengandung argumen dan poin-poin penting filsafat.

6. Tafsir Makhzan al-Irfan

Tafsir ini dicetak menjadi lima belas jilid, setiap jilid kurang lebih memiliki 400 halaman. Tafsir ini mengandung pembahasan irfan (mistik), pesan-pesan akhlak dan pembahasan menarik lainnya tentang al-Qur'an. Penulis kitab ini, setelah menulis mukaddimah beliau menjelaskan tentang keutamaan al-Qur'an, dan mengingatkan tentang faidah tafsir dan ilmu-ilmu al-Qur'an. Ketika beliau menulis tafsir ini, karena beliau merasa takut ajalnya tiba sebelum tuntas menyelesaikannya, setelah menyelesaikan dua juz pertama dari al-Qur'an, beliau langsung loncat dengan menulis juz ke-30. Namun akhirnya beliau meneruskannya, sampai akhirnya beliau dapat menyelesaikan semuanya pada saat-saat mendekati akhir hayatnya. Sewaktu menulis tafsir ini, beliau selalu berdoa supaya dipanjangkan umurnya sehingga dapat menyelesaikan penulisan tafsir tersebut sebelum tiba ajalnya. Karya tafsir ini kemudian membawa beliau menjadi satu-satunya mufassir perempuan dalam dunia Islam.

7. Rawesy-e Khusybakhti wa Taushiyeh be Khoharan-e Imoni

Dalam kitab ini beliau berusaha untuk menjelaskan arti kebahagiaan dan cara untuk menggapainya dengan bahasa yang mudah. Serta disampaikan juga didalamnya pesan-pesan khusus untuk saudari-saudari seiman nya.

8. Makhzanu al-La'ali fii Manaqib Maula al-Mawali (Ali as)

Kitab ini membahas tentang keutamaan imam Ali as yang tersusun dari mukadimah, lima bab pembahasan dan diakhiri dengan penutup.

9. Sair wa Suluk dar Rawesy-e Auliya wa Thariq-e Sair Su'ada

Kitab ini membahas tentang pembahasan irfan (mistik), seperti: Kasyf ('penyingkapan'), Syuhud ('penyaksian'), fana' ('penyatuan'), baqa' ('kekekalan') dan Sair ilallah ('meniti jalan' menuju Allah).

Beberapa Cuplikan Wawancara dengan Maktab-e Islam

Soal : Apakah kebanyakan ilmu anda didapatkan melalui belajar, atau didapatkan dari ilham? Silahkan jelaskan tentang ilmu dan cahaya (nur) ilmu!

Jawab : Saya tidak memahami sesuatu yang terdapat pada ilmu dan "maknawiyah" (spiritual) melalui suatu bentuk tekstual, tapi kebanyakan melalui ilham. Jarang sekali isi tulisan saya mengambil bantuan dari luar. Tapi, bukan berarti bahwa saya mengetahui hal-hal yang ghaib atau mengetahui keadaan dan isi batin orang lain. Namun yang jelas, kebanyakan "maknawiyah" dan "makrifah" saya bukan didapatkan dari belajar kepada seorang guru. Dan kebanyakan tulisan saya dihasilkan melalui bimbingan dan pertolongan Allah swt. Adapun ilmu, sebagaimana yang telah disabdakan Rasul saww, dibagi menjadi tiga bagian:

1. "Ayatun Muhkamatun" (tanda-tanda yang kokoh), para ulama mengartikannya sebagai "ilmu mengenal Allah swt".

2. "Faridzatun A'dilatun" (keharusan yang baik), yang diartikan sebagai ilmu akhlak.

3. "Sunnatun Qa'imatun" (kebiasaan baik yang tegak), yang diartikan sebagai ilmu hukum agama (fiqih). Dan yang dimaksud dengan "cahaya (nur) ilmu"adalah "nur makrifat"(cahaya mengenal) Allah swt, mengenal akhlak baik dan buruk dan mengenal hukum agama (fiqih) itu sendiri.

Soal : Bagaimana cara untuk mendapatkan "nur ilmu" tersebut?

Jawab : Pertama ia harus belajar, karena belajar merupakan mukadimah untuk mendapatkan "nur makrifat". Ia harus belajar ilmu akhlak dan mengamalkannya. Ia harus mensucikan diri, berperang melawan hawa nafsu dan semua keinginan hatinya, serta memerangi semua sifat tercela yang ada pada dirinya, seperti: hasad (dengki), takabur (sombong), tamak (rakus), cinta dunia dan menjauhkan semua sifat tersebut dari dirinya. Ia harus berusaha untuk mencapai keimanan dengan dalil dan argumen, lantas setelah itu ia harus beramal, menjalankan semua perkara yang telah diwajibkan oleh agama dan menjauhi semua yang telah dilarang oleh agama.

Soal : Kitab terbaik apa yang telah dibaca oleh baca tuan?

Jawab : Kitab pelajaran terbaik yang sangat bermanfaat dan dapat digunakan oleh saya adalah kitab "Asfar Arba'ah" (empat perjalanan spiritual) karya Mulla Sadra. Kitab ini sebanyak empat jilid, tapi saya hanya menela'ah dua jilid saja, dimana kandungan kitab tersebut sesuai dengan semangat dan karakter jiwaku. Kitab tersebut memuat berbagai makrifat ('pengetahuan'), dimana untuk memahaminya diperlukan menyelesaikan pelajaran filsafat terlebih dahulu. Saya juga menyenangi berbagai kitab hadis dan tafsir, terkhusus beberapa tafsir seperti kitab "Majma' al-Bayan" karya Allamah Thabarsi.

Soal : Apakah dapat dikatakan bahwa laki-laki lebih baik dari perempuan?

Jawab : Sama sekali tidak dapat dikatakan bahwa semua laki-laki lebih baik dari perempuan. Karena kita telah memiliki para perempuan agung seperti Sayyidah Fathimah Zahra as, Sayyidah Maryam as, Sayyidah Khadijah as dan lainnya, dimana mereka lebih tinggi dan agung kedudukannnya dari kebanyakan laki-laki. Adapun kelebihan yang ditetapkan Allah bagi laki-laki dalam sebagian permasalahan, hanyalah menyangkut dari masalah umum ke hal umum yang lain, bukan dari masalah individual ke individual yang lain, adapun kekurangan perempuan yang telah disebutkan al-Qur'an bahwa perempuan memiliki 'kesenangan' untuk berpamer diri, sehingga, dengan hal itu menyebabkan mereka sering lalai dalam menyibukan diri berkaitan dengan perkara yang berhubungan dengan kesempurnaan jiwanya, tentu kecenderungan semacam itu dianugerahkan oleh Allah swt kepada perempuan bukan tanpa hikmah, dan hikmah diwajibkannya hijab pun diantaranya karena permasalahan ini. Namun demikian, ini merupakan perkara umum yang biasanya terjadi diantara kaum perempuan dan tidak mencakup semua perempuan. Karena terdapat perempuan yang dapat mengalahkan kecenderungan tersebut dan hanya menggunakannya dalam perkara yang diperbolehkan oleh agama saja. Sebagaimana kita pun dapat menemukan seorang perempuan yang dapat melerai pertikaian dan dapat menghukumi sesuatu.

Soal : Apakah sifat "pamer diri" yang terdapat pada perempuan harus dimusnahkan?

Jawab : Sifat tersebut, akan menjadi baik jika digunakan dalam perkara yang dihalalkan agama. Tetapi berkaitan dengan permasalahan yang lain, perempuan harus terus berusaha untuk memerangi sifat dan kecenderungan tersebut. Karena, jika tetap hanyut dalam sifat "pamer diri", maka akan mengakibatkan penyimpangan. Hal itu disebabkan karena sifat "pamer diri" merupakan salah satu bentuk syahwat. Adapun hikmahnya, Tuhan telah menetapkan sifat "pamer diri" pada diri perempuan, supaya lelaki tertarik kepadanya dan menikahinya, yang pada akhirnya akan menghasilkan generasi dan keturunan yang baik. Dari sisi lain, perempuan berada dibawah tanggungan laki-laki.

Soal : Pada masa kini, menurut anda, jihad apa yang terbaik bagi kaum perempuan?

Jawab : Yang terpenting bagi perempuan pada masa sekarang ini adalah untuk selalu berusaha memerangi keinginan hawa nafsunya, dan berusaha untuk memerangi rasa ingin selalu tampil dengan berbagai model, cara berpakain dan berbagai bentuk perhiasan. Walaupun hal tersebut sangat sukar untuk dilakukan, tetapi ini akan memberikan hasil berupa kesempurnaan "maknawiyah" dengan cepat. Oleh karenanya, jihad terbaik bagi perempuan adalah menjaga "hijab" (pakaiannya yang sesuai dengan yang telah diajarkan dan diperintahkan agama .red).

Soal : Silahkan sampaikan, jika anda memiliki pesan tentang syarat kebahagiaan bagi kaum perempuan!

Jawab : Sebagaimana yang telah saya tulis dalam buku "Rawesy-e Khusybakhti" (Cara Hidup Bahagia), bahwa kebahagiaan tergantung pada dua sisi sekaligus; "jasmani" dan "ruhani", oleh karenanya diharuskan menjaga kedua sisi tersebut. Berkenaan tentang sisi ruhani, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam buku tersebut, bahwa perempuan harus selalu berusaha untuk menggapai sifat-sifat yang baik dan sisi insaniyah (kemanusiaan) pada dirinya. Salah satu sifat luhur yang paling menonjol pada diri perempuan adalah 'iffah (menjaga harga diri), dari situ akhirnya para ulama akhlak mengatakan: "Pokok dasar kemuliaan wanita adalah al-'iffah, sementara pokok dasar kemuliaan laki-laki adalah berani (syaja'ah)".

Oleh karenanya, perempuan harus selalu berusaha untuk menjaga diri dari pandangan lelaki-lelaki yang hina dan 'mata keranjang'. Karena kemuliaan perempuan dihadapan semua makhluk yang berakal sehat adalah dilihat dari sisi ke-'iffah-annya. Saya tidak menentang perempuan untuk belajar, tapi usahakan dilakukan dengan menjaga harga diri dan kemuliaan Islam. Merobek dan melecehkan hijab (jilbab atau pakaian yang telah diperintahkan agama .red), sama halnya dengan merobek dan melecehkan al-Qur'an. Karena al-Qur'an telah memberikan hukum khusus tentang hijab. Setiap orang yang menentangnya, sama halnya dengan telah menantang dan melecehkan hukum Allah swt yang disampaikan melalui lisan suci Nabi saww. Konsekuensi sebagai orang yang mengaku muslim ialah meyakini dan mengamalkan perintah al-Qur'an, karena dengan hal ini kebahagiaan sejati sebagai seorang muslim akan terwujud. Berkenaan tentang kebahagiaan , Phytagoras pernah berkata: "Sedikit sekali orang yang mengenal jalan kebahagiaan. Kebanyakan mereka hanyalah menjadi bahan bulan-bulanan hasrat dan permainan hawa nafsunya, akhirnya ditelan ombak penentangan dan terus berputar-putar ditengah laut yang tak bertepi, bagaikan orang-orang buta dihadapan badai dan topan".

Perkara lain yang harus saya ingatkan, terkhusus bagi kaum perempuan, berperang melawan sifat-sifat tercela seperti tipu daya (makar) dan iri dengki (hasud). Karena kedua sifat ini lebih banyak dan lebih dominan pada perempuan. Usahakan untuk menjauhkan diri kita dari sifat-sifat tercela dan hina tersebut. Terakhir, harus saya katakan, wahai para perempuan! Tiada kebahagiaan yang melebihi dari ketenangan jiwa. Dan ketahuilah!?, kebahagiaan sejati terjelma pada segala bentuk keutamaan dan kemuliaan. Kapan kita bisa mendapatkan keutamaan dan ketenangan jiwa? Tentu, kebahagiaan itu akan dapat dicapai oleh manusia dalam lautan tak bertepi di kehidupan dunia ini hanya dengan berpegang teguh pada "tali tauhid". Hal itu sebagaimana yang telah disebutkan dalam al-Qur'an: "Maka, barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Allah penolong orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang yang kafir, penolong-penolong mereka adalah Thaghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya ".

Kebahagiaan sejati akan dihasilkan melalui keimanan, tauhid dan ketakwaan. Jika kalian semua menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat, maka kalian harus mengikuti al-Qur'an. Langkah demi langkah yang kalian titi akan menghantarkan kalian kepada-Nya. Disaat itulah kalian akan merasakan kebahagiaan sejati.[]

Inilah sekilas tentang kehidupan Sayyidah Amin yang lebih dikenal dengan "Bonuye Ishfahani", seorang wanita mujtahidah, pakar hadis, tafsir dan ilmu mistik (irfan) yang dapat menjadi teladan bagi kita semua. Semoga Allah merahmati kepergiannya meninggalkan dunia fana ini untuk berjumpa dengan para kekasih sejatinya, Allah swt, Rasul saww dan para manusia suci as junjungannya. Untuk mengenang keluhuran ruh dan jasa mulia beliau, kita persembahkan baginya surat Fatihah yang didahului shalawat. Semoga Allah mengabulkan, amin.[]

Penulis: S2 Jurusan Tafsir di Jamiah Bintul Huda Qom, Republik Islam Iran



Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Be a career mentor

for undergrads.

Y! Messenger

Want a quick chat?

Chat over IM with

group members.

Find helpful tips

for Moderators

on the Yahoo!

Groups team blog.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] islat, islib, dan islit...

dari salah satu web site islam...

ISLAT Antara ISLIB dan ISLIT Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
   
Monday, 23 April 2007
Oleh: Muhsin Labib
Di tengah polarisasi dua kelompok dan kecenderungan itu, ada sebuah kelompok kritis yang menggabungkan rasionalitas dan teks. Mereka bukan jadi-jadian. Kelompok ini memiliki akar sejarah yang berpendar dalam filsafat, Kelompok ini muncul sebagai respon atas keberhasilan Imam Khomaini menumbangkan rezim monarki 2000 tahun Pahlevi dan makin kuat setelah kemunculan Mahmoud Ahmadinejad sebagai David di tengah angkara Goliath dunia tak pelak telah melambungkan popularitas mazhab Syiah dan diperlakukan sebagai jalan tengah yang membelah jalan Islam liberal (Islib) dan Islam literal (Islit). Syiah mulai dilirik sebagai Islam alternatif (Islat).
 
Beberapa tahun lalu ia adalah santri di sebuah pesantren tradisional di daerah pesisir di Jawa Timur. Dalam bangunan sederhana di tengah desa yang tidak terlalu subur itu ia tidur di sebuah bangunan sangat sederhana bahkan kurang higienis, menurut standar pola hidup moderen. Ia dengan tekun mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh sang guru yang mengajarkan sistem 'muratan', yaitu studi naskah kitab kuning yang diberi arti dalam bahasa Jawa, mulai dari level dasar dalam bidang gramatika, seperti alfiyah, balaghah dan fikih. Ia juga sangat kalem, bahkan nyaris 'feminin'. Ia betah lama menimba ilmu agama berkat prinsip thuluz-zaman dan mengabdikan dirinya dalam melayani dan mengormati gurunya, bahkan di luar urusan belajar dengan harapan suatu saat akan menjadi kyai terpandang di kampungnya.
Kini keadaan benar-benar berbalik. Setelah mengikuti ujian persamaan dan menenteng ijazah SMA berkat modernisasi yang tak terbendung, ia seakan mengubur semua masa lalunya yang tradisional. Lebih dari itu, setelah berpindah ke ibukota dan menjadi mahasiswa, ia sibuk menenteng buku-buku karya pemikir Barat mulai dari Marx sampai Horkheimer, menghadiri seminar yang dihadiri oleh para narasumber asing, dan aktif dalam kelompok studi yang gemar mendiskusikan wacana-wacana modern, seperti pluralisme, lokasime Islam, feminisme dan segala pemikiran Islam yang anti-tradisonal dan kritis. Setelah menguasai bahasa Inggris dan mampu menulis artikel-artikel yang berisikan apresiasi terhadap pemikiran Barat tentang Islam, ia pun mendapatkan beasiswa studi di Barat dari lembaga-lembaga donor yang sangat berpengaruh. Sepulang dari negeri bule, ia langsung didaulat untuk menjadi pengamat politik dan pakar keislaman. Lembaga-lembaga mentereng langsung melamarnya. Lembaga-lembaga studi menjadi terminalnya. Media-media massa menampung pandangan-pandangannya. Ia sudah bisa dianggap 'mantan santri'. Ia lebih senang bila masa lalunya tidak diingat-ingat. Ia adalah pemegang gelar PhD dari sebuah universitas ternama di Amerika yang sudah menghabiskan banyak paspor karena menghadiri undangan seminar tentang Islam di Austalia, Eropa dan Amerika.
Inilah contoh sebuah generasi Muslim yang jumlahnya sangat banyak. Mereka tersebar di sebagian besar perguruan tinggi Islam negeri maupun swasta di Indonesia. Sebagian dari mereka mendapatkan scholarship di universitas-universitas ternama di Eropa, Amerika dan Kanada dan mengambil studi bidang politik berkat rekomendasi sejumlah LSM dan lembaga yang sangat concern terhadap isu-isu Islam kontemporer. Sebagian melanjutkan ke UIN Syarif Hidayatullah, IAIN Jogjakarta dan Surabaya sambil aktif menulis artikel di sejumlah suratkabar lokal. Umumnya mereka aktif dalam LSM dan lembaga-lambaga yang giat mengadakan workshop dan seminar tentang modernitas, pluralisme dan semacamnya. Sebagian besar dari mereka adalah PNS yang sibuk mengumpulkan KUM agar karir kedosenannya terus menanjak. Kebanyakan mereka adalah anak-anak muda yang cukup cerdas, terbuka, komunikatif, apresiatif terhadap pandangan di luar mean stream dan ramah, meski tidak terlalu relijius (menurut standar normatif).
Beberapa tahun lalu ia hanyalah anak dalam keluarga yang tidak relijius bahkan cenderung 'kejawen' di kawasan yang disebut mataraman. Ayahnya yang pernah menjadi menjadi simpatisan PKI, meski tidak sempat di-pulau buruh-kan, tidak pernah mengajarinya ngaji al-Quran. Di rumahnya juga tidak ada kaligrafi-kaligrafi ayat al-Quran. Shalat dan kegiatan keagamaan tidak pernah menjadi sesuatu yang sangat diwajibkan pada masa kanak dan remajanya. Gaya hidupnya jauh dari relijiusitas. Ia bahkan sempat pacaran dan tidak jejaka lagi.
Setelah lulus SMA, ia dinyatakan lulus seleksi UMPTN dan menjadi mahasiswa fakultas teknik di sebuah perguruan tinggi tekenal di sebuah kota besar. Ia mengikuti ospek dan ditatar oleh sekelompok mahasiswa senior yang memiliki kemampuan mengubah orientasi keagamaan maba (mahasiswa baru) ini. Usai mengikuti opspek, ia 'dibina' dan terus 'digarap' dan dimasukkan dalam kelompok mahasiswa Islam yang cenderung tekstual. Sejak saat itu ia mulai tahu pentingnya shalat dan menjalani Islam sebagai sistem hidup. Kini ia mulai belajar mengaji, bahkan menganggap belajar bahasa Arab sebagai sebuah ketataan. Ia mulai merawat jenggot dan melipat bagian bawah celana sambil membawa al-Qur'an terjemah yang telah diberi tanda-tanda pada halaman-halaman tertentu karena memuat ayat-ayat 'tegas' soal jihad, penegakan 'hukum Allah', dan amar makruf dan nahi mungkar. Buku-buku favoritnya adalah karya-karya tokoh-tokoh Islam fundamentalis, seperti Hasan al-Banna danb Sa'id Hawwa, juga kitab-klitab fikih 'kaku' karya Muhammad bin Abdul-Wahab dan Abdul-Aziz bin Baz. Ia cukup cerdas sehingga diberi beasiswa oleh negara untuk melanjutkan studi S2 dan S3 di Jerman. Di negeri Hitler itu ia tetap bersemangat dengan brotherhoodnya dengan aktif dalam jaringan 'Islam literal' dan seiring dengan intensitas komitmennya, ia pun menjadi tokoh penting dalam hirarki kelompoknya. Sepulang dari negeri itu, ia makin fundamentalis dan makin membenci Barat. Ia kini menjadi salah satu pakar dalam sebuah departemen dan dosen di almamaternya. Pakar metalorgi ini juga aktif dalam penggalangan politik yang menuntut dikembalikannya khilafah ala Otoman di Indonesia, bahkan seluruh dunia. Ia tidak gemar berwacana atau berdiskusi apalagi ngobrol di café.
Inilah contoh dari tipe kedua generasi muda Muslim di Indonesia yang jumlahnya makin banyak. Sebagian dari mereka mulai berpikir realistis dengan memperjuangkan visi keislamannya dalam sebuah organisasi politik formal. Sebagian lain memperjuangkan idealisme melalui organisasi non partai yang menuntut pendirian khilafah di Tanah Air dan seluruh dunia. Ada pula yang aktif dalam organisasi non formal, karena menganggap sistem Negara tidak Islami karena tidak menjalakan hukum Allah, dan karenanya pendirian orpol maupun ormas sama dengan mengakui sistem yang tidak Islami.
Hadirnya kelompok yang dikenal dengan penganut Islam liberal dan semaraknya kelompok Islam literal tidak bisa sepenuhnya dipandang sebagai sebuah fenomena khas Indonesia. Tidaklah berlebihan bila kedua model itu dikaitkan dengan dengan kepentingan hegemoni Barat untuk mengikis militansi di dunia Islam.
Di tengah polarisasi dua kelompok dan kecenderungan itu, ada sebuah kelompok kritis yang menggabungkan rasionalitas dan teks. Mereka bukan jadi-jadian. Kelompok ini memiliki akar sejarah yang berpendar dalam filsafat, Kelompok ini muncul sebagai respon atas keberhasilan Imam Khomaini menumbangkan rezim monarki 2000 tahun Pahlevi dan makin kuat setelah kemunculan Mahmoud Ahmadinejad sebagai David di tengah angkara Goliath dunia tak pelak telah melambungkan popularitas mazhab Syiah dan diperlakukan sebagai jalan tengah yang membelah jalan Islam liberal (Islib) dan Islam literal (Islit). Syiah mulai dilirik sebagai Islam alternatif (Islat).
Seperti dilaporkan Sayed Hosein Nasr, filsafat Islam memiliki kehidupan yang lebih panjang di bagian Timur ketimbang di bagian Barat dunia Islam. Iran tidak hanya memiliki tanah subur yang menyebabkan filsafatnya mampu bertahan hidup sampai sekarang, tetapi juga secara definitif menjadi arena utama aktivitas dalam filsafat Islam. Sekurang-kurangnya, ada dua faktor pendukung berkembangnya pemikiran filsafat di Iran. Pertama, faktor kultural-historis. Kedua, tradisi keagamaan Syi'ah.
Dalam sejarahnya, Iran dikenal sebagai ladang tempat lahirnya filosof, sufi, saintis, dan penyair terkenal. Iran dapat dipandang sebagai tempat yang merepresentasikan kontinuitas perkembangan pemikiran keagamaan, khususnya filsafat selama fase akhir sejarah Islam. Karena itu tidaklah salah bila bertahannya filsafat di Iran dikaitkan dengan latarbelakang kultural yang lekat dengan rasionalitas dan mistisisme Zoroastranisme. Bahkan sebagain gagasan filsafat Mulla Shadra diduga terpengaruhi oleh para filosof era Pahlavi kuno.
Satu kenyataan penting sekaitan dengan perjalanan filsafat dalam sejarah Islam adalah turut andilnya masalah kemazhaban tradisional Islam dalam proses perkembangan pemikiran filsafat. Tanpa perlu menunjuk siapa filosof bermazhab Islam apa, yang jelas, Iran adalah salah satu situs peradaban yang besar (ed.), Routledge's Encyclopedia of Islamic Philosophy, (rearranged into Islamic version by Dr. Mulyadhi Kartanegara), Routledge, London and New York; 1998. hal.10).
Menurut sejarah, penyerbuan Mongol telah menghancurkan dinasti Abbasiah dan membasmi komunitas Muslim di Spanyol. Bersamaan dengan itu, umat Islam pun tenggelam dalam tidur panjangnya. Abad keenam Masehi merupakan awal kebangkrutan umat Islam sunni. Abad ketujuh justru menjadi awal tumbuhnya imperium Islam di belahan Timur dan dunia Syi'ah.
Pada tahun 1499, berdirilah kerajaan Safawi yang bertahan sampai sekitar dua ratus tahun. Pada periode Safawi inilah berkembang berbagai aliran pemikiran dalam matrik mazhab Syi'ah. Salah satu pemikiran yang berkembang pesat adalah filsafat. Filsafat tetap diajarkan, bahkan menjadi sebuah tradisi yang hidup sepanjang zaman di sekolah-sekolah Syi'ah yang didirikan dinasti Safawi. Pada periode Safawi, tepatnya pada abad XIII sampai XVII, filsafat di Iran mencapai puncaknya. Dari hawzah-hawzah itulah, para tokoh filsafat Iran bermunculan. Bahkan, Iran menjadi pusat utama ilmu-ilmu intelektual, khususnya filsafat, bagi dunia Islam yang didatangi umat Islam dari seluruh penjuru dunia.
Perkembangan pemikiran pada zaman dinasti Safawi mempunyai karakteristik khas sebagai mazhab Isfahan. Mazhab ini menampung perkembangan pemikiran mazhab masya'i, isyraqi, 'irfani, dan kalam.
Pada awal awal abad XIX sebelum periode Qajar, filsafat Molla Sadra dibangkitkan kembali secara penuh di Isfahan oleh Mulla Ismail Khajui dan Mulla Ali Nuri. Molla Ali Nuri terkenal sebagai komentator al-Asfar al-Arba'ah karya Molla Sadra, sekaligus mengajarkannya pada generasi setelahnya.
Selama periode Qajar, Tehran secara bertahap meningkat menjadi pusat studi filsafat Islam yang menghasilkan sejumlah guru besar terkenal di akhir periode Qajar dan Pahlewi, seperti Mirza Mahdi Asytiyani, Sayyed Muhammad Kazim 'Assar, Abu al-Hasan Jalweh, dan Tonekaboni.
Selama periode ini, atmosfir hawzah Irak (Najaf dan Karbala), yang semula merupakan pusat pendidikan Syi'ah di seluruh dunia, demikain pula hawzah di Iran (Qom dan Masyhad), kurang mendukung kemajuan pemikiran filsafat, karena kecenderungan pada ilmu-ilmu tekstual, seperti fiqh, yang masih sangat determinan. Bahkan tidak sedikit ulama dan marja' (otoritas hukum) menunjukkan sikap negatif terhadap pengajaran filsafat. Namun keadaan perlahan-lahan berubah ketika muncul halaqah-halaqah pelajar filsafat, irfan, dan ilmu-ilmu rasional yang diasuh beberapa ulama yang dinilai sukses dalam ilmu-ilmu tekstual bahkan bergelar mujtahid.
Molla Husain-Qali yang mengadopsi metode itu mendidik murid-muridnya dengan filsafat Molla Sadra dan sayr suluk spiritual. Walaupun Mirza Hasan putra Akhund Molla Muhammad Ismail Wahidul-Ain Isfahani juga tinggal di Karbala untuk beberapa waktu, namun mayoritas pelajar filsafat di sana menimba ilmu dari Molla Husainquli Hamadani. Tepatnya, Molla Sabzewari memindahkan filsafat dari Sabzawar ke Najaf. Di antara murid tersohor Molla Husain-Quli Hamadani adalah: Sayyed Jamaluddin Asad-Abadi al-Afghani, Sayyed Abdul-Husain Lari, Sayyed Ahmad Karbala'i, Sayyed Sa'id al-Habubi, Agha Muhammad Baqir Istahbanati, Mehdi Ilahi Qomsyeh'i, dan Mirza Jalweh (seorang tokoh filsafat Iran yang hijrah ke Najaf guna menyempurnakan pengetahuannya tentang ilmu naqli).
Di Najaf, Mirza Jalweh memperkenalkan filsafat ketuhanan pada murid-muridnya, seperti Ayatullah Syaikh Muhammad Husain Gharawi Isfahani dan Syaikh Muhammad Ridha Yazdi. Agha Muhammad Baqir Isthahbanati terbunuh pada masa Masyrutiyyat pada tahun 1326 H, di Istahbanat.
Kepindahan Agha Sayyed Muhammad Husain Badkubey ke Najaf juga merupakan faktor lain tersebarnya filsafat di sana. Ia adalah murid Mirza Jalweh, Hakim Esykewari, dan Hakim Kermansyahi, yang mengembangkan filsafat di Najaf. Ia mengabadikan namanya dengan mendidik filosof ketuhanan besar seperti Allamah Sayyed Muhammad Husain Thabathaba'i. Syaikh Murtadha Taleqani, seorang filosof ketuhanan di Najaf yang hidup sezaman dengan Agha Muhammad Husain Badkubey, telah mendidik dan membawa guru besar Allamah Muhammad Taqi Ja'fari kepada dunia pemikiran.
Setelah Perang Dunia II, Iran tetap merupakan tempat subur bagi berkembangnya pemikiran filsafat Islam. Berawal pada tahun 1950-an (pasca Perang Dunia II), terjadi suatu ketertarikan kembali dalam filsafat Islam di Iran. Ini merupakan suatu kebangkitan kembali tradisi filsafat Islam yang belakangan mampu menjawab tantangan pemikiran Barat. Abul-Hasan Rafi'i Qazwini dam Qadhi Said Qummi adalah dua tokoh yang menjadi pelopor pengembangan filsafat pada masa itu.
Apresiasi modern terhadap al-Hikmah al-Muta'aliyah berkembang di kalangan akademisi, atau setidaknya kalangan yang tumbuh dalam pendidikan atau khasanah pemikiran modern. Para figur yang paling menonjol di kalangan ini adalah Henry Corbin, Sayyed Hossein Nasr, dan Mehdi Ha'ri Yazdi. Sementara apresiasi tradisional lebih bertahan di kalangan pesantren atau hawzah ilmiah, khususnya kalangan yang mengenyam pendidikan tradisional keagamaan di Qom.
Allamah Thabathabai dan Imam Khomeni disebut-sebut sebagai 'yang paling bertanggungjawab' menghidupkan filsafat di hawzah ilmiah Qom, yang sebelumnya didominasi oleh para ulama fikih'. Kedua tokoh ini telah mencetak puluhan bahkan ratusan ulama pemikir yang kelak memberikan kontribusi besar dalam memperkenalkan Syiah sebagai mazhab yang mampu mengharmoniskan bayan, burhan dan irfan. Muthahhari melalui karya-karyanya yang sangat luas telah menggoncang blantika pemikiran Islam terutama di dunia Islam yang sebelumnya hanya silau dengan pemikir-pemikir Sunni, seperti Sayed Quthb dan al-Maududi.
Kejutan masih berlanjut. Ternyata di hawzah Qom, telah terjadi pengayaan wacana Islam kontemporer melalui para ulama para murid Khomeini dan Thabathabai. Sejumlah nama bisa dicantumkan antara lain, Abdullah Jawadi Amuli, Hasan Zadeh Amuli, Muhammad Sadegi, Ja'far Subhani, Ali Gerami, Yahya Anshari Syirazi, dan yang paling gres adalah Muhammad Taqi Mishbah Yazdi. Mereka adalah para cohen dan penguasa stoa-stoa pemikiran di Qom.
Kini dengan tampilnya Iran sebagai kekuatan baru di dunia, terutama di Dunia Islam dan sambutan monumental rakyat Indonesia terhadap kedatangan Ahamdinejad ke Indonesia, hipotes ini semakin kuat. Kegigihan gerombolan wahabi dan tekstualis belakangan ini dalam memprovokasi pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk mencurigai Syiah, sebagaimana dilakukan oleh majalah Sabili, makin memperbesar indikasi kekhawatiran makin meluasnya pengaruh pemikiran Syiah. Siapapun, terutama yang anti Syiah, akan bingung mendengar bahwa NU, Muhammadiyah dan Pemerintah menjadi tuan rumah Konferensi Pesratuan Sunni dan Syiah.
Diminatinya wacana Syiah dalam sentra-sentra pemikiran di Indonesia ini sungguh menggembirakan, setidaknya sebagai langkah awal umat Islam untuk memahami bahwa agamanya memiliki warisan kekayaan yang berlimpah; sistem filsafat, teologi, politik, ekonomi, budaya, sistem pemerintahan, yang semuanya terangkum dalam bangunan megah yang sudah terukir berabad-abad.
Mungkin produk-produk gagasan para pemikir Syiah dapat dijadikan sebagai jalan tengah demi menciptakan sebuah formulasi pemikiran Islam yang sesuai dengan heterogenitas bangsa Indonesia.
Karenanya, kehadiran dan kiprah para alumnus hawzah Qom, terutama dari Indonesia, dalam arena pemikiran Islam dewasa ini sangat diharapkan guna mengisi ruang tengah yang kosong dengan 'Islamalternatif' antara Islam liberal yang genit, funky dan 'madani' (civil) dan Islam literal yang angker dan 'medeni' (bahasa Jawa : menyeramkan)!
Tentu, tantangan dan hambatan akan terus menghadang. Namun dinamika waktu dan makin terbukanya akses informasi akan dapat mengatasinya. Bangsa Indonesia kini makin matang dan jenuh dengan penjejalan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok truth claim yang berusaha memasangkan kacamata kuda pada generasi muda yang kritis dan makin cerdas.
Penulis: Alumnus Hauzah Ilmiah Qom, Republik Islam Iran. Kandidat Doktor Filsafat Islam di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat ini aktif sebagai dosen ICAS-Paramadina Jakarta, Menejer Penerbit AL-HUDA, Direktur Penerbit CITRA, Anggota Dewan Redaksi majalah dwimingguan ADIL


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Your school could

win a $25K donation.

Special K Group

on Yahoo! Groups

Learn how others

are losing pounds.

Y! Groups blog

The place to go

to stay informed

on Groups news!

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] mencari manusia setengah dewa...

dari salah satu web site islam...

Mencari Manusia Setengah Dewa

Sejarah & TokohOleh: Dina Sulaeman

Republik Islam Iran memiliki sistem pemerintahan yang berbeda dengan negara-negara lain di dunia. Kepemimpinan tertinggi dalam negara ini dipegang oleh seorang Wali Faqih atau ulama dengan kriteria yang sangat banyak: memiliki keilmuan yang dibutuhkan untuk memberi fatwa dalam urusan agama, memiliki integritas dan kesucian akhlak yang dibutuhkan untuk memimpin umat Islam, dan memiliki visi politik dan sosial, kebijaksanaan, keberanian, kemampuan adiministrasi, dan kemampuan pemimpin yang memadai. Benar-benar kriteria manusia setengah dewa.


----------------------------------------------------

Salju lebat yang datang terlalu cepat, sebelum musim dingin tiba, seolah memberikan warna baru pada pemilu 15 Desember di Teheran. Poster-poster para kandidat pemilu yang digantung di pohon-pohonan Jalan Chamran tampak membeku diselimuti salju. Pemandangan di jalan-jalan besar lain di kota Teheran tak jauh berbeda. Pepohonan, dinding-dinding, pagar-pagar, halte bus, bahkan tiang listrik, penuh dengan tempelan poster-poster para kandidat. Sehari sebelum pelaksanaan pemilu, semua poster-poster itu pun ditarik dan disingkirkan, disaksikan oleh pepohonan yang tengah menahan endapan salju di ranting-rantingnya.

Pemilu yang kali ini diselenggarakan di Iran adalah pemilu yang lain daripada yang lain. Pemilu yang hanya ada satu-satunya di dunia, yaitu pemilu Dewan Pakar (Majles-e Khubregan), sebuah lembaga yang terdiri dari 86 ulama pilihan rakyat dari berbagai penjuru Iran. Posisi para ulama di Dewan Pakar adalah posisi yang sangat krusial karena merekalah yang akan memilih dan menetapkan Wali Faqih, pemimpin tertinggi dalam Republik Islam Iran. Namun anehnya, posisi ini tidak mendatangkan uang karena para ulama yang duduk di Dewan Pakar sama sekali tidak mendapatkan gaji dari negara.

Hiruk pikuk menjelang pemilu sudah terasa sejak dua-tiga bulan menjelang hari H. Namun, yang banyak bersuara adalah para pendukung ulama, bukan ulamanya sendiri, terutama dari kalangan yang menamakan diri kelompok reformis. Mereka membuat weblog-weblog untuk membentuk opini. Sebanyak 495 ulama mendaftarkan diri untuk bertarung dalam pemilu. Mereka kemudian diverifikasi oleh KPU yang juga terdiri dari para ulama. Jauh sebelum hasil verifikasi keluar, kelompok reformis sudah melemparkan ancaman, "Kalau kandidat-kandidat kami tidak lolos seleksi, artinya pemilu ini tidak valid," kata Musavi Lari, seorang ulama reformis garis keras. Namun Musavi Lari akhirnya tetap harus gigit jari karena mayoritas pemilih tetap memberikan suara mereka kepada ulama-ulama dari sayap konservatif.

Verifikasi dilakukan untuk meneliti tingkat keilmuan para kandidat. Para ulama yang boleh duduk di Dewan Pakar haruslah sudah mencapai tingkat "mujtahid" (menguasai keilmuan yang dibutuhkan untuk mengambil deduksi hukum syar'i). Para ulama yang sudah dikenal, antara lain yang sudah bergelar ayatullah bisa dipastikan lolos verifikasi secara otomatis. Namun, nama-nama baru harus mengikuti ujian tulis di bidang hukum Islam. Di kota Teheran, ada 3 ulama perempuan yang mencalonkan diri namun kemudian dinyatakan tidak lulus ujian tulis. Dari 495 pendaftar, ada 166 ulama yang lolos seleksi dan bertarung dalam pemilu. Setiap provinsi di Iran akan mendapat jatah ulama sesuai dengan perbandingan jumlah penduduk. Warga Teheran yang berjumlah 8 juta orang memiliki jatah 16 ulama untuk duduk di Dewan Pakar.

Dalam pemilu kali ini, untuk pertama kalinya ada kandidat yang lolos seleksi meski dia tidak dikenal sebagai ulama dan tidak mengenakan baju jubah khas ulama, yaitu Doktor Mohsen Esmaili. Dia ahli bidang fisika yang kemudian mengambil doktor di bidang hukum. Sambil kuliah di universitas, dia juga menutut ilmu keislaman di hawzah ilmiah, lembaga yang mencetak para ulama di Iran hingga mencapai derajat "mujtahid". Namun rupanya dia tidak berhasil mendapat suara cukup banyak sehingga tidak termasuk dalam 16 ulama wakil rakyat Teheran.

Ketika 86 ulama telah terpilih untuk duduk di Dewan Pakar, mereka akan mengadakan sidang untuk memilih seorang Wali Faqih di antara mereka sendiri. Republik Islam Iran memiliki sistem pemerintahan yang berbeda dengan negara-negara lain di dunia. Kepemimpinan tertinggi dalam negara ini dipegang oleh seorang Wali Faqih atau ulama dengan kriteria yang sangat banyak: memiliki keilmuan yang dibutuhkan untuk memberi fatwa dalam urusan agama, memiliki integritas dan kesucian akhlak yang dibutuhkan untuk memimpin umat Islam, dan memiliki visi politik dan sosial, kebijaksanaan, keberanian, kemampuan adiministrasi, dan kemampuan pemimpin yang memadai. Benar-benar kriteria manusia setengah dewa.

Dua minggu menjelang pemilu, jalanan mulai ramai oleh tempelan poster. Namun poster yang dipajang lebih banyak poster-poster para kandidat Dewan Kota (DPRD) yang digelar bersamaan dengan pemilu Dewan Pakar. Di channel-channel televisi lokal dan radio, para ulama kandidat Dewan Pakar secara bergantian berpidato. Umumnya isi pidato mereka bukan mengkampanyekan diri sendiri, melainkan menjelaskan kepada rakyat Iran apa tugas dan posisi Dewan Pakar dalam sistem negara. Kampanye juga dilakukan dengan memanfaatkan internet, namun lagi-lagi, lebih bertema khutbah dan menjelaskan riwayat hidup tiap kandidat. Di masjid-masjid, kesibukan juga mulai terasa. Para ibu setelah usai sholat berjamaah sibuk berdiskusi, ulama mana yang sebaiknya dipilih dalam pemilu.

Tentu saja tidak semua orang antusias menyambut pemilu ini. Seorang penduplikat kunci yang saya temui di kios kecilnya di Jalan Satarkhan yang penuh dengan ratusan poster kandidat, dengan sengit berkata, "Apa gunanya ikut pemilu?! Yang mereka lakukan hanyalah apa yang mereka inginkan, bukan apa yang kami inginkan!" Ada juga yang tetap ikut pemilu meski skeptis, "Yah, yang penting partisipasi," kata Alireza, seorang lelaki usia 30-an.
Kegiatan politik rakyat Iran tidak bergantung pada partai-partai politik. Dalam pemilu apapun, siapa saja bisa mendaftarkan diri sebagai kandidat, tanpa perlu melewati partai. Namun biasanya, banyak kandidat yang mendapat dukungan dari partai atau lembaga-lembaga semi partai. Secara umum ada dua kubu politik konservatif (ushulgara) dan reformis (eshlahtalab) yang bertarung dalam dunia politik Iran. Ada berbagai kelompok atau lembaga politik yang aktif di kedua kubu. Masing-masing kelompok mengeluarkan list atau daftar nama kandidat-kandiat yang mereka dukung. Kelompok Jameatain (konservatif) misalnya, merilis 16 nama, antara lain Ayatullah Mishkini dan Ayatullah Misbah Yazdi. Sementara itu, kelompok-kelompok reformis, seperti Karguzaran Sazandegi dan Partai Pemuda Iran Islami beraliansi menyusun empat belas nama dalam list mereka, antara lain Rafsanjani, Hasan Ruhani, dan Ghulamreza Rizwani.

Saat saya berjalan-jalan mengunjungi sebuah TPS di kawasan Tehran Barat dan membaur di tengah para pemilih, di sebuah sudut terdengar bisik-bisik dua perempuan, seorang ibu tua dan gadis muda. Si Ibu meminta tolong kepada si gadis untuk menuliskan nama para kandidat pilihannya di atas formulir khusus. Ada tiga lembar kertas sederhana berukuran 20x15 cm yang mirip kwitansi toko, satu kuning emas, satu biru, dan satu lagi merah muda. Di formulir kuning emas ada enam belas kolom kosong yang harus diisi nama-nama para ulama pilihan. Si gadis dengan patuh menuliskan 16 nama ulama dari list Jameatain, pilihan si ibu. Formulir warna merah muda harus diisi kandidat pemilu sela Parlemen (untuk menggantikan anggota parlemen yang mengundurkan diri atau meninggal dunia). Untuk mengisi formulir biru (pemilu dewan kota), si Ibu menyerahkan sebuah brosur kecil. Si gadis protes dengan suara pelan, "Tidak ada gunanya memilih orang-orang ini. Kenapa Ibu tidak memilih orang-orang reformis?" Jawab si ibu, "Ah, biarlah, ini jadi tanggung jawab Ahmadinejad."

Saya melirik brosur itu, ternyata berisi nama-nama kandidat Dewan Kota yang beraliansi di bawah nama Raihane Khus Khedmat. Isu yang tersebar, aliansi itu mendapat dukungan dari Presiden Ahmadinejad. Si gadis kembali diam dan mengisi formulir. Si Ibu duduk di kursi sebelah si gadis, "Aku cuma menjalankan kewajiban syar'i, demi Islam," katanya. "Baguslah," jawab si gadis. Di TPS itu, tampak orang-orang berdatangan bersama keluarga mereka. Anak-anak kecil pun diajak oleh orangtua mereka, membuat suasana ruangan riuh rendah. Semakin siang, antrian panjang mengular sampai keluar ruangan. Membludaknya peserta pemilu membuat KPU memutuskan agar waktu pelaksanaan diperpanjang hingga 3 jam. Di kota Damghan, Iran timur, bahkan dikabarkan ada sepasang pengantin datang ke TPS lengkap dengan pakaian pengantin mereka.

Menurut data dari KPU Iran turn-out vote pemilu kali ini mencapai 61 persen. Sebelumnya, banyak pihak menyatakan bahwa pemilu kali ini adalah ujian untuk Ahmadinejad yang berasal dari kubu konservatif. Bila rakyat banyak yang datang ke pemilu, artinya rakyat masih mendukung kelompok konservatif. Tak heran bila sehari setelah pemilu, Ahmadinejad menulis surat terbuka untuk rakyat Iran, menyatakan terimakasihnya atas kehadiran mayoritas rakyat ke pemilu.

Di televisi nasional diperlihatkan antrian-antrian panjang –di beberapa kota bahkan antrian terjadi di tengah deraian salju—di TPS-TPS yang umumnya digelar di sekolahan atau masjid. Bahkan Presiden Ahmadinejad dan Ketua Parlemen Haddad Adel pun harus rela berdiri mengantri selama lebih sepuluh menit sebelum KTP mereka diberi stempel pemilu dan mendapatkan tiga lembar formulir untuk diisi. Pemilu di Iran selama ini memang diselenggarakan dengan cara yang sangat simpel. Tak dilakukan pendaftaran pemilih. Setiap orang yang mau berpartisipasi dalam pemilu tinggal datang ke TPS terdekat di manapun dia berada dengan membawa KTP yang berbentuk paspor. Di bagian belakang KTP itu ada lembaran khusus tempat membubuhkan stempel-stempel pemilu. Setelah distempel oleh panitia, dia akan mendapatkan formulir untuk diisi nama-nama kandidat pilihannya, lalu dimasukkan ke kotak suara. Selama ini pun kotak suara dibuat dari kardus bekas yang dibungkus kain seadanya. Baru mulai pemilu kali ini disediakan kotak suara permanen dari bahan plastik.

Wewenang seorang Wali Faqih sangat besar, jauh melebihi wewenang seorang presiden. Wali Faqih-lah yang menandatangani surat pengangkatan presiden setelah terpilih melalui pemilu, menghentikan presiden jika Mahkamah Agung memutuskan bahwa presiden tersebut bersalah melanggar tugas-tugas konstitusionalnya atau jika parlemen menyampaikan mosi tidak percaya, menetapkan komandan tertinggi dalam angkatan bersenjata nasional, menyatakan perang dan damai, dan memobilisasi angkatan bersenjata. Selain itu, Wali Faqih berwewenang menunjuk, memberhentikan, dan menerima pengunduran diri dari beberapa lembaga penting, seperti Ketua Mahkamah Agung, Kepala Radio dan Televisi, atau Pemimpin Dewan Pengawal Revolusi Iran.

Saat ini, Wali Faqih Iran dijabat oleh Ayatullah Khamenei. Dia terpilih secara aklamasi dalam sidang Dewan Pakar yang diselenggarakan segera setelah Imam Khomeini meninggal dunia tahun 1989. Sejak itu, setiap kali Dewan Pakar terbentuk melalui pemilu 8 tahun sekali, Ayatullah Khamenei kembali terpilih sebagai Wali Faqih, hingga hari ini. Dewan Pakar juga bersidang setahun sekali untuk mengevaluasi kinerja Wali Faqih. Bila mereka mendapati Wali Faqih tidak menjalankan tugas dengan baik atau melanggar Undang-Undang, Dewan Pakar berhak memberhentikannya dan menggantinya dengan ulama lain.

***

Matahari kota Teheran hari itu memang bersinar cerah dan salju telah berhenti turun, menyisakan gumpalan-gumpalan salju di tempat teduh. Namun, udara tetap terasa dingin menyengat tulang sumsum dan angin bertiup memedihkan mata. Sengatan dingin itu rupanya tak menghalangi orang-orang untuk datang ke kotak-kotak pemilihan suara, untuk mencari dan memilih manusia setengah dewa. Sulit dipercaya bahwa mereka ada, tapi sebagian orang-orang Iran sepertinya meyakininya.[]

Tehran, 17 Des 06


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Reconnect with

college alumni.

Y! Messenger

Instant hello

Chat in real-time

with your friends.

Best of Y! Groups

Check it out

and nominate your

group to be featured.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] beda aliran tetapi satu Tuhan dan satu nabi...

dari salah satu web site islam...

BEDA ALIRAN TAPI SATU TUHAN DAN SATU NABI
Syeikh Ali at-Tazkiri
NU Online, 12 Mei 2006

Selain isu nuklir dan konfrontasi Iran-Amerika Serikat, hal penting lain yang mengemuka dalam acara silaturrahmi rombongan Presiden Iran Mahmoud Ahmadi Nejad dengan PBNU, Jumat (12/5), adalah soal perbedaan aliran di kalangan umat Islam.
Berbagai kalangan yang hadir, entah dari kalangan ulama NU, pejabat dan mantan pejabat, serta dari berberapa organisasi Islam berharap Iran tidak hanya berkonsentrasi pada persoalan nuklir. Iran perlu ikut membuat rintisan-rintisan untuk menggalakkan semacam dialog di kalangan umat Islam dunia.
Mantan Ketua Fatayat NU Dr. Sri Mulyati meminta presiden Iran dapat berperan mengeliminir konflik sosial akibat perbedaan aliran dalam Islam, terutama yang terjadi di Indonesia, pakistan, dan bahkan Iran sendiri. Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi kepada Nejad bahkan mengatakan bahwa kini konflik antara Sunni dan Syi'ah masih berlangsung, bahkan di Iran sendiri. 
Menanggapi itu, Nejad agak bergeming. "Ketegangan yang terjadi antara madzab yang satu dengan yang lain adalah sebab bisikan musuh. Kita harus berusaha mendekatkan hati kita. Di Iran ada at-Tazkiri yang tugasnya mengeliminir percekcokan di antara madzab-madzab yang berbeda," kata Nejad sembari dengan bangga melirik Syeikh at-Tazkiri di sebelahnya.
Syeikh Ali at-Tazkiri, Rektor Universitas Taqribul Madzahib itu akhirnya urun bicara. Menurutnya, persoalan madzab adalah yang sering mengemuka saat ini. Penyelesaiannya juga sangat sulit. Namun, menurutnya, pendekatan penting yang perlu dilakukan untuk mengeliminis konflik sosial akibat perbedaan itu adalah peneguhan sikap bahwa umat Islam itu satu.
"Perbedaan aliran itu nikmat Allah. Jika ada perbenturan penyelesaiannya adalah dengan rasa saling mencintai sesama umat Islam. Yang terpenting kita harus ingat bahwa meskipun berbeda madzab, umat Islam itu satu Tuhan, satu Nabi dan satu kitab suci al-Qur'an," kata Syeikh at-Tazkiri.
Para kiai yang hadir mendengarkan kata-kata at-Tazkiri dalam bahasa Arab itu dengan baik. Beberapa kiai sepuh yang hadir antra lain KH. Idris Marzuki, KH. Masduki Mahfudz, KH. Muchid Muzadi, dan KH. Endin Fahruddin Masturo. Sepertinya semua yang disampaikan Syeikh sudah menjadi prinsip dakwah NU semenjak dulu. Meski begitu, para kiai tetap khidmat, lalu tersenyum dan akhirnya memberi aplus kepada Syeikh: "Setuju...!" (nam)
 


Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Find great recruits

for your company.

Yahoo! Groups

Women of Curves

Discuss food, fitness

and weight loss.

Yahoo! Groups

w/ John McEnroe

Join the All-Bran

Day 10 Club.

.

__,_._,___