Jumat, 26 Oktober 2007

[psikologi_transformatif] Re: Psikologi ala Pak Jusuf Sutanto - Bagian I

Baru selesai membalas yang kedua, yang pertama sudah dibalas :)

> Anda agak kurang pas menafsirkan pendapat saya. Yang dimaksud bukan sebagai kerja beneran di bagian penerangan.
> Yang saya maksud adalah orang belajar di psikologi dikasih berbagai derivat aliran2 nya sehingga fasih menguraikannya seperti layaknya kita ketemu resepsionis sebuah pameran. Tapi kalau orang itu masuk dan menjaga salah satu stand, maka dia tidak perduli kiri kanannya.

Anda kurang pas menafsirkan pendapat saya. Saya tidak pernah bermaksud harafiah "kerja beneran di bagian penerangan". Saya menangkap dengan pas maksud Anda, dan tidak setuju dengan itu. Harez dan nama2 lain saya sebut sebagai contoh bagaimana seorang lulusan pendidikan psikologi menerapkan trans-disipliner ;)

> Ada yang mulai sadar dan menggunakan pendekatan inter-disipliner, tapi yang terjadi hanya penjumlahan, bukannya trans-disipliner.
> Inilah perlunya memahami the hidden connections , sehingga kita bisa menjadi the specialist for the construction of the whole !
> Dalam kedokteran cina : sakitnya bisa di kepala, tapi yang ditusuk jarum justeru kakinya.
> Kalau pendekatan barat, yah segera discan aja otaknya.

Inilah mengapa saya kemarin mempertanyakan pendapat Anda tentang milis yang isinya "debat pepesan kosong', yang Anda sebut berharga hanya sebagai sumber informasi ;). Buat saya, apa yang terjadi di milis ini adalah semacam "menusuk kaki supaya sakit kepala sembuh" ;)

> Kalau anda mengaharapkan saya bisa menuliskan semua pikiran saya dalam millis ini sehingga bisa menjadi semacam Juklak, maka seperti seorang anak sedang main di pantai dan membuat lubang lalu menciduk air laut untuk dimasukkan ke dalamnya.
> Lalu ada orang terpelajar yang bertanya : lagi ngapain lu ? Ia menjawab : mau memindahkan laut ke lubang ini.
> Padahal rasa cabe aja tidak bisa dituliskan, tapi harus dimakan sendiri.
> Meski sudah makan, kita juga tidak mampu menuliskan dengan kata-kata. Lalu hrs bagaimana dong pemecahannya ?

Saya tidak meminta Anda menuliskan semua pikiran Anda menjadi juklak ;). Saya hanya ingin Anda menunjukkan bahwa Anda bisa lebih spesifik dalam langkah yang nyata :)

Tampaknya langkah yang lebih spesifik sudah Anda tuliskan di jawaban email selanjutnya sih, tapi baru saya baca sekilas. Jadi rasanya yang ini tidak saya perpanjang lagi :)

> Yang paling realistis adalah kalau kita kumpul dan saya akan jelaskan secara verbal maupun dng body language.
> Itupun akhirnya hanya menjadi seperti telunjuk yang menunjuk ke bulan, bukan bulan itu sendiri !
> Para pendengarnya harus mengunyah sendiri !
> Secara garis besar hal itu saya sudah jelaskan dalam buku Kearifan Timur !

Saya garis bawahi pendapat Bapak: para pendengarnya harus mengunyah sendiri ;)

Yup! Ini adalah sesuatu yang sangat saya percayai sebagai jalan untuk mendapatkan "pencerahan", "wisdom", "kedalaman", atau apa pun. Ini sesuatu yang harus datang dari diri sendiri. Ini sesuatu yang TIDAK mungkin diajarkan :)

Itu sebabnya saya ragu apakah kita bisa meng-klaim hal ini sebagai tujuan pendidikan formal :) Tetap, dalam sebuah pendidikan formal, kita perlu ukuran2 yang bisa berlaku universal atas pengajaran yang kita lakukan :)

> Memang semua harus dimulai dulu dari belajar ayat, tapi puncak penguasaannya adalah bukan menjadi seperti sebuah tape.
> Dikatakan dalam Zen bahwa ketika pedang musuh sudah mendekati dan kamu masih mencari-cari ayatnya, maka berarti kematian sedang menjemputmu.

Yang ini saya setuju: puncak penguasan bukan menjadi sebuah tape yang hanya hafal ayat :). Saya tidak bertentangan dengan Bapak mengenai hal ini. Namun saya rasa ini adalah masalah kemauan dan kemampuan mengunyah masing2 individu, sehingga agak sulit jika sebuah institusi pendidikan formal meng-klaim hal ini sebagai tujuan pendidikannya :)

Yang saya perhatikan sekarang: pendidikan formal psikologi menunjukkan banyak pohon, dan selanjutnya terserah mereka bagaimana mengembangkannya. Toh, kita tidak bisa memaksa semua orang untuk mau belajar lebih banyak :)

Salam,

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Groups

Going Green

Share your passion

for the planet.

Yahoo! Groups

Real Food Group

Share recipes

and favorite meals.

Stay in Shape

on Yahoo! Groups

Find a fitness Group

& get motivated.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Psikologi ala Pak Jusuf Sutanto - Bagian 2

Wah..wah..wah...rame neh ikutan komeng eh koment..

Dengan mengikuti "gaya" tuhantu-hantuan, gurinda itu dan menggurinda
itu dalam bahasa jorkisnya adalah gosok, ASAH alias LOCO.

Ayo kita rame-rame ngasah ngasih ngosok...jangan sampai ngos ngosan.

Yang perlu atau penting sekali yang diasah kepala yang atas bukan yang
bawah !!! (walaupun itu juga penting), dan untuk menghilangkan
DESKRIMINASI GENDER.

Salam
TTD
LOCO
:)

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "was_swas"
<was_swas@...> wrote:
>
>
> Ini bagian keduanya ya, Pak :)
>
> BELAJAR PSIKOLOGI PADA HAKIKATNYA BUKAN MENJADI KOLEKTORM ILMU
> PENGETAHUAN, TAPI MEMBUAT DIRINYA SEPERTI GURINDA SEHINGGA BISA
> MENGGURINDA ORANG LAIN. ADA BERBAGAI MACAM LATIHAN YANG BISA DIPAKAI
> UNTUK MENEMPA INI.
>).
> Anggap saja saya sedang "menggerinda" Bapak ;). Itu toh, yang Bapak
> harapkan dari seorang lulusan pendidikan psikologi ;)? Supaya bisa
> "menggerinda" orang lain ;)?
>> Salam,
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Dog Fanatics

on Yahoo! Groups

Find people who are

crazy about dogs.

Real Food Group

on Yahoo! Groups

What does real food

mean to you?

Y! Messenger

Instant hello

Chat over IM with

group members.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Carrot and Stick

bang harez...

saya punya usul , untuk mengatasi kkn . mulailah dengan merubah
kalimat sumpah jabatan yang dibaca.

sebutkan bunyi hukuman dalam sumpah jabatannya . seperti
"saya akan mengundurkan diri jika terlibat korupsi dan bekerja
sebagai penyapu jalanan selama 1 tahun sebagai tanda maap kepada
rakyat, jika saya mengelak saya rela di pukuli rakyat di jalan sampai
mati "

sumpah jabatan , harus di baca di lapangan dan disaksikan oleh
masyarakat umum.
dan keluarganya juga harus disumpah untuk ikut menegakkan keadilan.

moment itu harus di rekam. sewaktu waktu bisa jadi bukti di pengadilan.

secara kejiwaan , saya yakin akan berdampak.

kalau urusan kenaikan gaji . sampeyan lebih taulah...

salam,
edy
pekalongan

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, Jusuf Sutanto
<jusuf_sw@...> wrote:
>
>
> Mas Harez,
> Anda mulai membawa angin segar dengan melontarkan issue baru yang
sangat penting spy kita tidak terus menerus ngurusin orang yang
bernafas dalam lumpur seperti anjing yang mengerubuti tulang.
> Sebagai langkah pembukaan dialog ini saya mencoba membuka cakrawala
spy kita bisa semakin memahami masalahnya.
> Jika dan hanya jika masalahnya sdh dipahami, maka jawabannya sdh ada
di dalamnya seperti ' di dalam biji sudah ada pohon '. Banyak seminar
yang gagal karena sebelum masalahnya jelas, kita sudah beradu mulut
untuk mencari penyelesaiannya.
> Kita bisa mengacu pada ajaran kuno Kitab Thay Hak / The Great
Learning sbb. :
>
> " Orang zaman dulu yang hendak menggemilangkan kebajikan yang
bercahaya pada tiap umat di dunia,
> Ia lebih dulu berusaha mengatur negaranya ; untuk mengatur negerinya
ia lebih dulu membereskan rumah tangganya.
> Untuk membereskan rumah tangganya , ia lebih dulu membina dirinya.
> Untuk membina dirinya, ia lebih dulu meluruskan hatinya.
> Untuk meluruskan hatinya , ia lebih dulu memantapkan tekadnya.
> Untuk memantapkan tekadnya, ia lebih dulu mencukupkan pengetahuannya.
> Dan untuk mencukupkan pengetahuannya, ia meneliti hakikat tiap perkara.
>
> Dengan meneliti hakikat tiap perkara, maka cukuplah pengetahuannya.
> Dengan cukup pengetahuannya, ia dapat memantapkan tekadnya
> Dengan memantapkan tekadnya, akan dapat meluruskan hatinya.
> Dengan hati yang lurus , akan dapat membina dirinya sehingga dapat
membereskan rumahtangganya dan
> setelah itu mengatur negaranya sehingga tercapailah damai di dunia.
>
> Karena itu dari raja sampai rakyat jelata, ada satu kewajiban yang
sama yaitu mengutamakan pembinaan diri sebagai pokok.
> Adapun dari pokok yang kacau itu, tidak akan pernah dihasilkan
penyelesaian yang teratur baik,
> karena hal itu seumpama menipiskan benda yang seharusnya tebal dan
menebalkan benda yang seharusnya tipis.
> Hal ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi "
>
> Komunitas psikologi, bukan sosial politik atau hukum sehingga merasa
awam untuk memberikan solusi konseptual bagaimana sistem memberantas KKN.
> Yang bisa dikerjakan dan justeru sangat penting adalah membina
orang supaya bisa memahami masalahnya secara benar dan membina dirinya
seperti yang diajarkan oleh kearifan kkuno di atas.
> Betapapun sempurnanya sebuah senjata, akhirnya sangat tergantung
pada the man behind the gun !
> (Bersambung )
>
> ----- Pesan Asli ----
> Dari: sinagahp <sinagahp@...>
> Kepada: psikologi_transformatif@yahoogroups.com
> Terkirim: Sabtu, 27 Oktober, 2007 12:08:25
> Topik: [psikologi_transformatif] Carrot and Stick
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Rekan-rekan Yth.,
>
>
>
> Salah satu gagasan yang banyak dikenal untuk memberantas KKN adalah
>
> gagasan "Carrot & Stick" yang dikemukakan oleh Kwik Kian Gie. Gagasan
>
> ini terkait erat dengan prinsip "reward" dan "punishment" (lihat
>
> http://www.goodgove rnance-bappenas. go.id/publikasi_
files/reformasi_ birok\
>
> rasi.pdf ).
>
>
>
> Adakah prinsip-prinsip kearifan timur yang mendasari gagasan "Carrot &
>
> Stick" serta prinsip "reward & punishment" tersebut ?
>
>
>
> Mohon pencerahan dari Pak Jusuf Sutanto dan rekan-rekan yang lain.
>
> Terima kasih sebelumnya.
>
>
>
> salam,
>
> harez
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> <!--
>
> #ygrp-mkp{
> border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:14px
0px;padding:0px 14px;}
> #ygrp-mkp hr{
> border:1px solid #d8d8d8;}
> #ygrp-mkp #hd{
>
color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:bold;line-height:122%;margin:10px
0px;}
> #ygrp-mkp #ads{
> margin-bottom:10px;}
> #ygrp-mkp .ad{
> padding:0 0;}
> #ygrp-mkp .ad a{
> color:#0000ff;text-decoration:none;}
> -->
>
>
>
> <!--
>
> #ygrp-sponsor #ygrp-lc{
> font-family:Arial;}
> #ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{
> margin:10px 0px;font-weight:bold;font-size:78%;line-height:122%;}
> #ygrp-sponsor #ygrp-lc .ad{
> margin-bottom:10px;padding:0 0;}
> -->
>
>
>
> <!--
>
> #ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean,
sans-serif;}
> #ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
> #ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica,
clean, sans-serif;}
> #ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
> #ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
> #ygrp-text{
> font-family:Georgia;
> }
> #ygrp-text p{
> margin:0 0 1em 0;}
> #ygrp-tpmsgs{
> font-family:Arial;
> clear:both;}
> #ygrp-vitnav{
> padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
> #ygrp-vitnav a{
> padding:0 1px;}
> #ygrp-actbar{
> clear:both;margin:25px
0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
> #ygrp-actbar .left{
> float:left;white-space:nowrap;}
> .bld{font-weight:bold;}
> #ygrp-grft{
> font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
> #ygrp-ft{
> font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
> padding:5px 0;
> }
> #ygrp-mlmsg #logo{
> padding-bottom:10px;}
>
> #ygrp-vital{
> background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
> #ygrp-vital #vithd{
>
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
> #ygrp-vital ul{
> padding:0;margin:2px 0;}
> #ygrp-vital ul li{
> list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
> }
> #ygrp-vital ul li .ct{
>
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
> #ygrp-vital ul li .cat{
> font-weight:bold;}
> #ygrp-vital a{
> text-decoration:none;}
>
> #ygrp-vital a:hover{
> text-decoration:underline;}
>
> #ygrp-sponsor #hd{
> color:#999;font-size:77%;}
> #ygrp-sponsor #ov{
> padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
> #ygrp-sponsor #ov ul{
> padding:0 0 0 8px;margin:0;}
> #ygrp-sponsor #ov li{
> list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
> #ygrp-sponsor #ov li a{
> text-decoration:none;font-size:130%;}
> #ygrp-sponsor #nc{
> background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
> #ygrp-sponsor .ad{
> padding:8px 0;}
> #ygrp-sponsor .ad #hd1{
>
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
> #ygrp-sponsor .ad a{
> text-decoration:none;}
> #ygrp-sponsor .ad a:hover{
> text-decoration:underline;}
> #ygrp-sponsor .ad p{
> margin:0;}
> o{font-size:0;}
> .MsoNormal{
> margin:0 0 0 0;}
> #ygrp-text tt{
> font-size:120%;}
> blockquote{margin:0 0 0 4px;}
> .replbq{margin:4;}
> -->
>
>
>
>
>
>
>
>
> ________________________________________________________
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda!
Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Real Food Group

Share recipes

and favorite meals

w/ Real Food lovers.

Yahoo! Groups

Dog Zone

Connect w/others

who love dogs.

Best of Y! Groups

Discover groups

that are the best

of their class.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: to Kakang Pabrik_t yang ngadek pangandhita

Yang menarik dari "Alexander" adalah memberikan apresiatif yang cerdas.
catatan saya:
ini contoh ad homonem(dari saya) yang sering disebut-sebut/ciri khas
mang iyus.

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "Alexander"
<alexanderkhoe@...> wrote:
>
>
> > Hihihihi...kok kenapa dihubung-hubungkan dengan kompatiologi? Masa
> > kakang Pabrik_t gak pede ya sampai perlu mempertanyakan kompatiologi.
> ---------------
>
> Pernyataan seperti ini adalah contoh teknik menghindar dari pertanyaan
> aslinya, yaitu Pertanyaan: apakah monde sudah didekon atau belum?
> Seraya melakukan ad hominem pada lawan diskusinya, salah satu teknik
> yang sangat digemari vcl.
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

PC-to-PC calls

Call your friends

worldwide - free!

Yahoo! Groups

Get info and support

on Samsung HDTVs

and devices.

Yahoo! Groups

Special K Challenge

Learn how others are

shedding the pounds.

.

__,_._,___

Trs: [psikologi_transformatif] Psikologi ala Pak Jusuf Sutanto (was Re: Yuk kita

pak jusuf.

> tentang " Apakah tidak sebaiknya Kearifan Timur dimasukkan juga
dalam derivat aliran psikologi yang selama ini dimonopoli oleh barat ?"

saya berpendapat :
saatnya kita menjadi koki (koki baca pemikir/peneliti ) yang berani
meracik masakan "barat " yang disesuaikan dengan bumbu dan lidah
orang "timur ".

kalau master sheng yen berkata : psikoterapist yang melengkapi diri
dengan ajaran Zen ibarat harimau yang tumbuh sayap.

saya ini bukan dari psikologi ,
kebetulan saja , seorang pemuda kampung yang senang dengan art terapi
lalu ketemu teman2 di psiko -trans ini. jadi ya banyak belajar dari
para " guru " disini...

karena saya tidak punya back ground sekolah psikologi.

terapi marah dengan menggambar ini , sebagai terapi seni alternatif.
yang akan saya kembangkan dalam waktu mendatang . sebagai wujud
pengabdian masyarakat.

terima kasih atas sharingnya pak.

salam,
edy
pekalongan

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, Jusuf Sutanto
<jusuf_sw@...> wrote:
>
>
> Lho Mas Edy termasuk Opek, Orang Pekalongan ya, sama dong dengan saya.
>
> Sesuai permintaan anda, saya akan sambung dengan urusan yang cukup
penting untuk komunitas psikologi di Indonesia karena mencerminkan
pemahamannya tentang psikologi.
>
> Kepada mahasiswa psikologi saya selalu ajukan pertanyaan mendasar sbb. :
> Sebagai seorang psikolog, misalnya menganut agama (bisa apa saja),
ketika menghadapi client (kebetulan seagama) yang sedang konsultasi
mengatasi masalah kehidupannya yang serius.
> Bolehkah anda menggunakan ayat dari kitab, yang anda berdua
sama-sama yakini, untuk mengatasi masalahnya ?
> Umumnya secara spontan mereka menjawab : tidak boleh. Mengapa ?
> Karena fungsi psikolog dan rohaniwan lalu menjadi tumpang tindih !
> Sebagai psikolog, ia telah memasuki domain rohaniwan.
> Dua profesi ini dibutuhkan oleh masyarakat, tapi tidak bisa
dicampuradukkan, karena tugasnya harus dilaksanakan secara profesional.
> Profesi Psikolog memberikan bimbingan dan mengajak client untuk
memahami masalah dan dirinya supaya bisa memecahkan persoalan hidupnya.
> Dalam kondisi menghadapi client yang gawat, memang itu bisa dipakai,
tapi harus dengan sangat hati-hati dan segera diikuti tindak lanjut
dengan kaidah-kaidah yang sesuai dengan ilmu psikologi.
> Ilmu psikologi bersifat universal sebagai pisau analisa yang bisa
diaplikasikan pada siapa saja.
> Sebagai ilmu pengetahuan harus terbuka untuk dikritisi terus menerus.
> Tapi sayang sekali masih ada organisasi psikolog yang berdasarkan
kepercayaan/ agama.
> Kalau kita bergabung dalam masyarakat psikologi asal Pekalongan, ya
> baik aja karena bisa untuk acara mudik bersama atau membahas perilaku
> orang Pekalongan dalam konteks membangun budaya nasional.
> ======
> Selain itu ada juga masalah yang tidak kurang pentingnya yaitu
mazhab fungsi faali seperti otak kiri dan kanan ketika membahas IQ dan
EQ. Seperti layaknya orang kidal , otot tangan kirinya lebih
berkembang, dibandingkan dengan orang biasa yang okanannya lebih kuat.
> Mari membandingkan dengan huruf kanji " pintar " hal 55 buku
Kearifan Timur dalam Etos Kerja dan Seni Memimpin, digambar kuping
dulu lalu mata, mulut dan hati digabungkan dengan matahari dan bulan.
> Artinya pintar adalah buah dari mendengar-melihat-dimasukkan ke
dalam hati-dilakukan siang dan malam.
> IQ dan EQ adalah two in One.
> Otak yang suatu totalitas bukan penjumlahan komponen. kalau satu
komponen berberag, maka yang lain juga bergerak.
> " saya ada karena kamu ada " kata Pablo Nerada.
> Apakah tidak sebaiknya Kearifan Timur dimasukkan juga dalam
derivat aliran psikologi yang selama ini dimonopoli oleh barat ?
> ========
>
> Salam,
> Jusuf Sutanto
>
>
> ----- Pesan Asli ----
> Dari: Edy Susanto <aldo_richard@...>
> Kepada: psikologi_transformatif@yahoogroups.com
> Terkirim: Jumat, 26 Oktober, 2007 9:56:24
> Topik: Trs: [psikologi_transformatif] Psikologi ala Pak Jusuf
Sutanto (was Re: Yuk kita
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> membaca tulisnnya pak yusuf ini , mengingatkan saya akan
tulisannya
>
> master sheng yen . saya sendiri terinspirasi dari ajaran zen dalam
>
> menyusun konsep terapi marah dengan menggambar .
>
>
>
> sedikit berbagi.
>
>
>
> terapi saya ini memfokuskan pada proses tindakan yang di jalankan.
>
> bahkan tanpa perlu memikirkan hasilnya akan bagaimana.
>
>
>
> sehingga sering kali teman2 yang ingin terapi menanyakan
>
> " apa hasil yang saya dapatkan secara pasti ? "
>
>
>
> saya sering kali harus menjawab dengan cerita ;
>
> hasilnya bergantung pada proses yang anda jalani.seperti memcuci
>
> sebuah baju kotor dengan tangan anda. apakah nanti akan bersih ?
>
> semua tergantung pada anda sendiri. saya hanya membantu menunjukkan
>
> jalannya.
>
>
>
> di tunggu tulisannya yang lain pak.
>
>
>
> salam,
>
> edy
>
> pekalongan
>
>
>
> --- In psikologi_transform atif@yahoogroups .com, Jusuf Sutanto
>
> <jusuf_sw@ .> wrote:
>
> >
>
> > Pak David,
>
> >
>
> > The Everlasting Truth of " Everything Changes ", memang mejadi
>
> prinsip utama dalam Zen.
>
> > Dalam buku Kearifan Timur, ada kisah seorang sufi tua yang sedang
>
> menanam korma dan ditanya oleh anak muda terpelajar (lulusan fakultas
>
> pertanian karena tahu umur tanaman dan sdh magister management karena
>
> tahu asas manfaat ) :
>
> > Mengapa melakukan pekerjaan yang sia-sia karena panen yang
>
> pertamapun tidak akan bisa dinikmati. Sufi itu tanpa menengok
>
> sedikitpun dan terus bekerja sambil nyeletuk : " Emangnya yang kamu
>
> makan tiap hari adalah hasil yang kau tanam sendiri ?".
>
> > Sang pemuda itu ngacir !
>
> > Kalau sufi itu bukan Zenist tapi lulusan sekolah teologi atau
>
> filsafat, maka dia akan berhenti bekerja dan berdebat dengan pemuda itu.
>
> > Ada juga kisah bhiksu cilik Ikkyu yang intinya sama bahwa mereka
>
> bisa mempunyai hidup yang berarti meski beriman pada ' yang tetap
>
> adalah semuanya berubah ' !
>
> > Banyak orang yang beriman pada surga dan takut neraka, tapi hidupnya
>
> malah menyusahkan orang lain.
>
> > Inilah fokus latihan Zen, bukan literatur studies tentang zen.
>
> >
>
> > Salam,
>
> > Jusuf Sutanto
>
> >
>
> > ----- Pesan Asli ----
>
> > Dari: David G. <BaduAmin@ .>
>
> > Kepada: psikologi_transform atif@yahoogroups .com
>
> > Terkirim: Jumat, 26 Oktober, 2007 8:20:16
>
> > Topik: Re: Trs: [psikologi_transfor matif] Psikologi ala Pak Jusuf
>
> Sutanto (was Re: Yuk kita rame2)
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > Pak Jusuf Sutanto,
>
> >
>
> > Saya tidak mempersoalkan isi dari Zen itu sendiri. Pada prinsipnya
>
> saya setuju dengan uraian bapak tentang Zen. Yang saya persoalkan
>
> adalah bagaimana sikap seseorang terhadap Zen itu.
>
> >
>
> > Jika seseorang memutuskan untuk "belajar" Zen, apakah yang
>
> sebenarnya mau dicari?
>
> >
>
> >
>
> > Tidak ada salahnya, menurut saya, jika seorang murid mulai dengan
>
> motivasi yang "keliru", asalkan ia rela untuk terus menerus dimurnikan
>
> dan terbuka akan kebenaran yang sesungguhnya.
>
> >
>
> > Orang-orang seperti saya yang masih dalam perjalan, dan masih
>
> mencari terus menerus bisa keliru tentu saja. Tetapi saya selalu
>
> berada dalam keadaan "siap berubah". Yang menjadi masalah adalah jika
>
> seseorang merasa bahwa ia sudah sampai, padahal belum, dan lantas
>
> memutuskan untuk tidak akan berubah lagi.
>
> >
>
> >
>
> > --
>
> > Salam,
>
> > dg
>
> >
>
> >
>
> > On 10/25/07, Jusuf Sutanto <jusuf_sw@yahoo. co.id> wrote:
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > ----- Pesan Diteruskan ----
>
> > Dari: Jusuf Sutanto <jusuf_sw@yahoo. co.id>
>
> > Kepada:
>
> > psikologi_transform atif@yahoogroups .com
>
> > Terkirim: Jumat, 26 Oktober, 2007 7:17:34
>
> > Topik: Re: [psikologi_transfor matif] Psikologi ala Pak Jusuf
>
> Sutanto (was Re: Yuk kita rame2)
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > Pak David G,
>
> >
>
> > Kita mempelajari ilmu saat ini lbh bagaimana kaitannya kegunaan
>
> praktisnya.
>
> >
>
> > Seperti pisau, kita hanya berkutat pada bagaimana hasil daging yang
>
> dipotong dengan pisau itu.
>
> > Ilmuwan kita tidak pernah mempertanyakan : pisau itu dibuat oleh
>
> siapa dengan bahan apa dan prosesnya bagaimana ?
>
> > =====
>
> >
>
> > Kita hanya menerima begitu saja pengertian kata ' abadi ', yang sdh
>
> terlanjur dimonopoli oleh paradigma bahwa : hidup sekarang fana, yang
>
> abadi adalah nanti di neraka dan surga. Jadi kehidupan ini telah
>
> dipecah-pecah dalam konsep etika beserta reward dan pinishment.
>
> >
>
> > Kita tidak menyadari bahwa ada cara pandang lain sbb. :
>
> > Seorang samurai bertanya pada Zen master : " apakah surga dan
neraka itu
>
> > ? '
>
> > Ia mencibirkan bibirnya sambil berkata : ' Itu sih pertanyaan tukang
>
> daging, bukan kelas samurai !'
>
> > Samurai itu marah dan mencabut pedangnya. Saat itu juga Zen master
>
> itu berteriak : inilah jalan menuju neraka ! "
>
> >
>
> > Samurai itu lalu terkesima sejenak dan tersenyum sambil memasukkan
>
> kembali pedangnya .
>
> > " Nah inilah jalan menuju surga !', demikian tukas Zen master.
>
> >
>
> > Surga dan neraka ada sekarang dan di sini, ketika suatu profesi
>
> dipakai untuk berbuat kejahatan, itulah neraka ; ketika dipakai untuk
>
> kebaikan, itulah surga !
>
> >
>
> > Pada waktu Buddha ditanya siapa orang suci itu ? Dia menjawab : satu
>
> tahun dibagi dalam bulan, minggu, hari, jam, menit dan detik.
>
> > Orang suci adalah mereka yang bisa hidup detik demi detik sebagai
>
> sesuatu yang indah untuk dijalani !'
>
> >
>
> >
>
> > Salam, Jusuf Sutanto
>
> > ----- Pesan Asli
>
> > ----
>
> > Dari: David G. <BaduAmin@gmail. com>
>
> > Kepada: psikologi_transform atif@yahoogroups .com
>
> > Terkirim: Kamis, 25 Oktober, 2007 10:32:26
>
> > Topik: Re: [psikologi_transfor matif] Psikologi ala Pak Jusuf
>
> Sutanto (was Re: Yuk kita rame2)
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > On 10/24/07, Jusuf Sutanto <
>
> > jusuf_sw@yahoo. co.id> wrote:
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > Karena alasan itu maka dunia psikologi semakin merasakan pentingnya
>
> untuk memasukkan Zen sebagai salah satu mata pelajaran.
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > Wah, membaca tulisan Bapak Jusuf, timbul kesan seolah-olah Zen
>
> adalah sejenis ilmu yang bisa dipelajari sehingga orang bisa mencapai
>
> sesuatu (a form of knowledge that can be learned in order to achieve
>
> something).
>
> >
>
> >
>
> > Membaca tulisan Bapa Jusuf, timbul juga kesan bahwa dengan
>
> mempraktekkan Zen dengan cara-cara yang benar, maka seseorang akan
>
> dapat mencapai "tujuan" dari "ilmu zen" tersebut.
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > --
>
> > dg
>
> >
>
> > "Life is a succession of moments, To live each one is to succeed."
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > Kunjungi halaman depan
>
> > Yahoo! Indonesia yang baru!
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang
>
> Anda di
>
> > Yahoo! Answers
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > <!--
>
> >
>
> > #ygrp-mkp{
>
> > border:1px solid #d8d8d8;font- family:Arial; margin:14px
>
> 0px;padding: 0px 14px;}
>
> > #ygrp-mkp hr{
>
> > border:1px solid #d8d8d8;}
>
> > #ygrp-mkp #hd{
>
> >
>
> color:#628c2a; font-size: 85%;font- weight:bold; line-height:
122%;margin: 10px
>
> 0px;}
>
> > #ygrp-mkp #ads{
>
> > margin-bottom: 10px;}
>
> > #ygrp-mkp .ad{
>
> > padding:0 0;}
>
> > #ygrp-mkp .ad a{
>
> > color:#0000ff; text-decoration: none;}
>
> > -->
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > <!--
>
> >
>
> > #ygrp-sponsor #ygrp-lc{
>
> > font-family: Arial;}
>
> > #ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{
>
> > margin:10px 0px;font-weight: bold;font- size:78%; line-height: 122%;}
>
> > #ygrp-sponsor #ygrp-lc .ad{
>
> > margin-bottom: 10px;padding: 0 0;}
>
> > -->
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > <!--
>
> >
>
> > #ygrp-mlmsg {font-size:13px; font-family: arial, helvetica, clean,
>
> sans-serif;}
>
> > #ygrp-mlmsg table {font-size:inherit; font:100% ;}
>
> > #ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica,
>
> clean, sans-serif;}
>
> > #ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
>
> > #ygrp-mlmsg * {line-height: 1.22em;}
>
> > #ygrp-text{
>
> > font-family: Georgia;
>
> > }
>
> > #ygrp-text p{
>
> > margin:0 0 1em 0;}
>
> > #ygrp-tpmsgs{
>
> > font-family: Arial;
>
> > clear:both;}
>
> > #ygrp-vitnav{
>
> > padding-top: 10px;font- family:Verdana; font-size: 77%;margin: 0;}
>
> > #ygrp-vitnav a{
>
> > padding:0 1px;}
>
> > #ygrp-actbar{
>
> > clear:both;margin: 25px
>
> 0;white-space: nowrap;color: #666;text- align:right; }
>
> > #ygrp-actbar .left{
>
> > float:left;white- space:nowrap; }
>
> > .bld{font-weight: bold;}
>
> > #ygrp-grft{
>
> > font-family: Verdana;font- size:77%; padding:15px 0;}
>
> > #ygrp-ft{
>
> > font-family: verdana;font- size:77%; border-top: 1px solid #666;
>
> > padding:5px 0;
>
> > }
>
> > #ygrp-mlmsg #logo{
>
> > padding-bottom: 10px;}
>
> >
>
> > #ygrp-vital{
>
> > background-color: #e0ecee;margin- bottom:20px; padding:2px 0 8px 8px;}
>
> > #ygrp-vital #vithd{
>
> >
>
> font-size:77% ;font-family: Verdana;font- weight:bold; color:#333;
text-transform: uppercase; }
>
> > #ygrp-vital ul{
>
> > padding:0;margin: 2px 0;}
>
> > #ygrp-vital ul li{
>
> > list-style-type: none;clear: both;border: 1px solid #e0ecee;
>
> > }
>
> > #ygrp-vital ul li .ct{
>
> >
>
> font-weight: bold;color: #ff7900;float: right;width: 2em;text-
align:right; padding-right: .5em;}
>
> > #ygrp-vital ul li .cat{
>
> > font-weight: bold;}
>
> > #ygrp-vital a{
>
> > text-decoration: none;}
>
> >
>
> > #ygrp-vital a:hover{
>
> > text-decoration: underline; }
>
> >
>
> > #ygrp-sponsor #hd{
>
> > color:#999;font- size:77%; }
>
> > #ygrp-sponsor #ov{
>
> > padding:6px 13px;background- color:#e0ecee; margin-bottom: 20px;}
>
> > #ygrp-sponsor #ov ul{
>
> > padding:0 0 0 8px;margin:0; }
>
> > #ygrp-sponsor #ov li{
>
> > list-style-type: square;padding: 6px 0;font-size: 77%;}
>
> > #ygrp-sponsor #ov li a{
>
> > text-decoration: none;font- size:130% ;}
>
> > #ygrp-sponsor #nc{
>
> > background-color: #eee;margin- bottom:20px; padding:0 8px;}
>
> > #ygrp-sponsor .ad{
>
> > padding:8px 0;}
>
> > #ygrp-sponsor .ad #hd1{
>
> >
>
> font-family: Arial;font- weight:bold; color:#628c2a; font-size:
100%;line- height:122% ;}
>
> > #ygrp-sponsor .ad a{
>
> > text-decoration: none;}
>
> > #ygrp-sponsor .ad a:hover{
>
> > text-decoration: underline; }
>
> > #ygrp-sponsor .ad p{
>
> > margin:0;}
>
> > o{font-size: 0;}
>
> > .MsoNormal{
>
> > margin:0 0 0 0;}
>
> > #ygrp-text tt{
>
> > font-size:120% ;}
>
> > blockquote{margin: 0 0 0 4px;}
>
> > .replbq{margin: 4;}
>
> > -->
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > ____________ _________ _________ _________ _________ ________
>
> > Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda!
>
> Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers. yahoo.com/
>
> >
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> <!--
>
> #ygrp-mkp{
> border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:14px
0px;padding:0px 14px;}
> #ygrp-mkp hr{
> border:1px solid #d8d8d8;}
> #ygrp-mkp #hd{
>
color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:bold;line-height:122%;margin:10px
0px;}
> #ygrp-mkp #ads{
> margin-bottom:10px;}
> #ygrp-mkp .ad{
> padding:0 0;}
> #ygrp-mkp .ad a{
> color:#0000ff;text-decoration:none;}
> -->
>
>
>
> <!--
>
> #ygrp-sponsor #ygrp-lc{
> font-family:Arial;}
> #ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{
> margin:10px 0px;font-weight:bold;font-size:78%;line-height:122%;}
> #ygrp-sponsor #ygrp-lc .ad{
> margin-bottom:10px;padding:0 0;}
> -->
>
>
>
> <!--
>
> #ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean,
sans-serif;}
> #ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
> #ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica,
clean, sans-serif;}
> #ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
> #ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
> #ygrp-text{
> font-family:Georgia;
> }
> #ygrp-text p{
> margin:0 0 1em 0;}
> #ygrp-tpmsgs{
> font-family:Arial;
> clear:both;}
> #ygrp-vitnav{
> padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
> #ygrp-vitnav a{
> padding:0 1px;}
> #ygrp-actbar{
> clear:both;margin:25px
0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
> #ygrp-actbar .left{
> float:left;white-space:nowrap;}
> .bld{font-weight:bold;}
> #ygrp-grft{
> font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
> #ygrp-ft{
> font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
> padding:5px 0;
> }
> #ygrp-mlmsg #logo{
> padding-bottom:10px;}
>
> #ygrp-vital{
> background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
> #ygrp-vital #vithd{
>
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
> #ygrp-vital ul{
> padding:0;margin:2px 0;}
> #ygrp-vital ul li{
> list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
> }
> #ygrp-vital ul li .ct{
>
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
> #ygrp-vital ul li .cat{
> font-weight:bold;}
> #ygrp-vital a{
> text-decoration:none;}
>
> #ygrp-vital a:hover{
> text-decoration:underline;}
>
> #ygrp-sponsor #hd{
> color:#999;font-size:77%;}
> #ygrp-sponsor #ov{
> padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
> #ygrp-sponsor #ov ul{
> padding:0 0 0 8px;margin:0;}
> #ygrp-sponsor #ov li{
> list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
> #ygrp-sponsor #ov li a{
> text-decoration:none;font-size:130%;}
> #ygrp-sponsor #nc{
> background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
> #ygrp-sponsor .ad{
> padding:8px 0;}
> #ygrp-sponsor .ad #hd1{
>
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
> #ygrp-sponsor .ad a{
> text-decoration:none;}
> #ygrp-sponsor .ad a:hover{
> text-decoration:underline;}
> #ygrp-sponsor .ad p{
> margin:0;}
> o{font-size:0;}
> .MsoNormal{
> margin:0 0 0 0;}
> #ygrp-text tt{
> font-size:120%;}
> blockquote{margin:0 0 0 4px;}
> .replbq{margin:4;}
> -->
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> ________________________________________________________
> Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
> http://id.yahoo.com/
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Instant smiles

Share photos while

you IM friends.

Green Y! Groups

Environment Groups

Find them here

connect with others.

Real Food Group

Share recipes,

restaurant ratings

and favorite meals.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Vincent memang INDIGO, tapi INDIGO Keblinger = BUKAN..(tanda seru)

Ha..ha..ha..hah...
maksudnya sebelum id nik mang iyus lenyap di milis psitrans, mang iyus
sudah punya id nik David G.

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "David G."
<BaduAmin@...> wrote:
>
> On 10/26/07, gotholoco <gotholoco@...> wrote:
> > Ha..ha..ha... jadi kalau begitu bagusnya NGAKU SAJA.
> > (karena saya udah dapat "training ghoib" dari OM LEO yang nyanyut
> > tentang pseudologi Matake3)
> >
>
>
> Maksudnya saya disuruh ngaku-ngaku Mang Iyus?
> Nggak mau, ah!
>
>
> --
> salam,
> David G.
> http://dvdg.wordpress.com
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

PC-to-PC calls

Call your friends

worldwide - free!

Popular Y! Groups

Is your group one?

Check it out and

see.

Yahoo! Groups

Wellness Spot

A resource for living

the Curves lifestyle.

.

__,_._,___

Re: [psikologi_transformatif] Re: Psikologi ala Pak Jusuf Sutanto - Bagian 2

----- Pesan Asli ----
Dari: was_swas <was_swas@yahoo.com>
Kepada: psikologi_transformatif@yahoogroups.com
Terkirim: Sabtu, 27 Oktober, 2007 9:56:26
Topik: [psikologi_transformatif] Re: Psikologi ala Pak Jusuf Sutanto - Bagian 2

Ini bagian keduanya ya, Pak :)

Ketiga paragraf respons Bapak penuh dengan ide-ide yang baik. Namun pertanyaan saya tetap: bagaimana Bapak akan menterjemahkannya menjadi langkah yang dapat dilaksanakan ;)? Bagaimana langkah yang dapat dilakukan untuk mengajar sekelompok besar lulusan SMA pada saat yang bersamaan untuk meraih "wisdom"? Dan bagaimana mengujinya?

Lantas.. bagaimana Bapak mengujinya, apakah si mahasiswa ini sudah bisa naik ke tingkat lebih tinggi atau belum? Bagaimana menguji kearifan SEKELOMPOK orang? Apakah di akhir semester kita beri kasus nyata yang harus dipecahkan seperti Raja Sulaiman ketika harus memberikan keputusan bagi dua ibu yang berebut bayi? Atau bagaimana?

=====

Jalan yang hrs ditempuh memang tdk mudah tapi bukan tidak mungkin.

Kita menerima lulusan SMU sebagaimana adanya, terbiasa belajar dengan hanya mencatat - menghafal spy kalau ujian bisa lulus. Kalau mutu semacam ini lalu diisi dengan informasi mengenai derivat2 ilmu psikologi saja, maka biasanya sesudah lulus, sdh tidak berminat lagi untuk belajar karena motivasinya memang hanya untuk dapatkan ijazah.

Yang saya kerjakan adalah membuka cakrawalanya betapa luas dan menantangnya ilmu psikologi, namun hanya bisa dijawab oleh mereka yang mau terus menerus belajar. Saya ambil contoh TV Show Mamamia dsb Lalu saya buat simulasi, misalnya pulang ke almamaternya dan ditanya oleh adik kelasnya : mengapa kamu memilih jurusan ilmu psikologi ? Atau ketemu ortu yang sedang bingung mencari jurusan yang tepat bagi anaknya setelah lulus ujian SMU. Mereka harus bisa meyakinkan penanyanya dan untuk itu dia harus yakin pada pilihannya sendiri.


Saya minta semua mahasiswa punya alamat email dan membuat millis sehingga bisa berinteraksi dengan temannya dan juga pembimbingnya.

Saya jelaskan bahwa dengan adanya internet, maka fungsi dosen sdh berubah , bukan lagi smuber ilmu pengetahuan, tapi hanya sebagai pendamping.

Mmemang masih banyak idea2 lagi tapi waktu yang disediakan oleh fakultas hanya sedikit karena hrs diisi dengan mata kuliah yang lain.

Karena itu sebaiknya dirancang dalam bentuk kegiatan ekstra kurikuler yang diperluas dan diarahkan.

Arahkan mahasiswa bahwa kita tidak dibatasi oleh besaran SKS, karena dengan adanya internet, kita bisa komunikasi tujuh hari seminggu dan 24 jam sehari dikurangi waktu tidur saja.


Memang ada lebih baik kalau pimpinan fakultas sendiri yang menghayati perlunya perubahan mendasar karena  sejujurnya  diperlukan re-engineering untuk menghadapi perubahan paradigma !

Tapi kita tidak bisa grabak-grubuk melalui chatting di email saja. Harus dimantapkan dalam work shop yang intense.

Memang benar pendapat anda seperti dikatakan oleh Konfusius ketika ditanya tujuan hidup manusia . Ia menjawab , belajar sampai mati menjadi manusia.

Caranya bagaimana ? apakah dengan membaca buku2 tebal ?

Diaa mengatakan : kalau pisau baru bisa berguna setelah diasah dengan batu pengasah, maka manusia harus diasah dengan manusia. Inilah Kearifan Sunda silih asah-asuh-asih !



Salam,

Jusuf Sutanto




Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Cat Groups

on Yahoo! Groups

discuss everything

related to cats.

Fitness Edge

on Yahoo! Groups

Learn how to

increase endurance.

Yahoo! Groups

Health & Fitness

Find and share

weight loss tips.

.

__,_._,___