Selasa, 02 Oktober 2007

Re: tentang iklan perempuan seharga seperak (was =Re: [psikologi_transformatif] Re: Surat Keberatan Media Watch --swastinika

memang lebih susah jadi lelaki.
lebih susah juga membesarkan lelaki.
apalagi di jaman sekarang.
 
sudah jumlahnya sedikit
waktu masih kecil lebih rentan terhadap penyakit ketimbang perempuan
pilihan bajunya begitu-begitu aja...
besar dikit harus sanggup jadi tukang angkut2 sekaligus bayarin belanjaan...
mulai dari gebetan, lalu pacar, lalu istri.
kalau ada perang, harus maju duluan, dan biasanya mati...
 
tuntutan sosialnya juga tinggi
lelaki itu :
harus pintar
harus pekerja keras
harus
harus
harus
......
supaya bisa existing 
kalau ga kuat2 dan kurang oke, jadinya bisa seperti : "ada deh...." - karena sibuk berkompensasi.
 
udah gitu,
ngomong musti banyak ati2nya, harus sangat empatik, supaya ga digampar+dimusuhin perempuan,
karena perempuan sekarang galak2, mana pinter dan banyak maunya...
kalau ga ati2, dilibas perempuan juga,
karena perempuan sekarang sangat vokal dan berani dan tampil dan mengambil alih semua ladang   yang dulu konon adalah tempat lelaki....
 
soal jualan?
lelaki juga lebih repot
karena nilai jualnya lebih rendah ketimbang perempuan.
 
itu kata saya
emak 2 bocah lelaki
 
bude Tih
 

 
On 10/2/07, goenardjoadi <goenardjoadi@gmail.com> wrote:

Besok bikin iklan cewek mau memilih sekolah, biar pintar, atau ikut
Oom, langsung dapat hp, ipod, cartier?

dijamin iklannya langsung di banned sama Pak Manneke.....

atau bikin iklan:

laki-laki sirik dengan wanita, karena lebih sulit dapat hp dalam
semalam. sekarang ini bakal ada gerakan demo dari kaum laki-laki
karena sekarang semakin sulit [relatif dibandingkan gadis-gadis]
untuk memperoleh pekerjaan, mendapatkan hp, membeli handbag, dll.

salam,
goen

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "ratih ibrahim"
<personalgrowth@...> wrote:
>
> lepas dari segala obrolan peka gender dan feminis ini,
> kejengkelan dan kegerahan yang diakibatkannya,
> menurutku, iklan perempuan satu rupiah per detik itu efektif dan
berhasil.
> buktinya?
> diomongin sampai ga habis2.....
>
> *hebat* yang bikin iklan....
>
> *jadi mikir,
> gimana caranya bisa menggunakan cara yang sama untuk tujuan yang
lain, ya?
> termasuk jualan ideologi membangun bangsa.....
> atau setia, satu pasangan aja itu yang terbaik
> atau anak itu harus diurus baik2.
> atau... apalah yang menurutmu baik itu....*
>
>
>
>

> On 10/2/07, swastinika <swastinika@...> wrote:
> >
> > Saya garis bawahi saja satu kalimat menawan dari Pak
Manneke :)
> >
> > > Tapi, realitasnya adalah iklan itu pendek, minim kata, dan
utuh dalam
> > dirinya
> > > sendiri. Kalaupun ada sesuatu "beyond" the text, yah sangat
disayangkan
> > karena
> > > yang tertangkap indera dan persepsi orang hanya apa yang ada
di teks.
> > Itu
> > > sebabnya, membuat iklan perlu kepekaan ekstra: karena iklan
itu sebagai
> > teks
> > > sudah utuh.
> >
> > Setuju sekali :). Iklan itu pendek, sehingga memang butuh
kepekaan ekstra
> > dalam membuat iklan supaya "pesannya (tentang produk yang dijual
> > itu) sampai", tapi juga mengurangi kemungkinan interpretasi lain
yang
> > melenceng jauh dari sasaran.
> >
> > Ini mungkin yang luput diantisipasi oleh Account Manager di biro
iklan
> > pembuatnya dan/atau Brand Manager-nya. Sejauh pengalaman saya,
seorang AM
> > atau BM yang baik bisa mengantisipasi hal2 seperti ini, dan
membicarakannya
> > dengan creative team. Kalau perlu, sebelum diluncurkan,
dilakukan penelitian
> > konsumen terlebih dahulu terhadap storyboard dari "calon iklan"
itu. Dengan
> > demikian, bisa diantisipasi sejak dini masalahnya dan tidak
menjadi berlarut
> > seperti ini.
> >
> > Balik lagi, itulah yang namanya persepsi. Creative Team
memandang sesuatu
> > di ranah ide, sementara mungkin konsumen akan memandangnya
berbeda. AM &
> > BM-lah yang sebenarnya harus bisa menjembatani ini. Jadi, justru
di sini
> > yang perlu dipertanyakan: AM dan BM-nya ngapain aja, kok nggak
> > mengantisipasi yang seperti ini ;)? Apakah AM & BM-nya kurang
memahami
> > konsumen ;)?
> >
> > Anyway.. nice discussion, Pak Manneke. Senang bisa sampai di
tahap ini :)
> >
> > Salam,
> >
> >
> > --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, pradita@ wrote:
> > >
> > > Banyak point Swastinika yang saya setujui, kecuali satu:
perbandingan
> > iklan
> > > dengan naratif, yang dijadikan apologia untuk memaklumi
kedangkalan
> > message
> > > sebuah teks iklan. Saya pikir, membuat iklan tidak lebih mudah
daripada
> > membuat
> > > teks naratif atau puisi, justru karena ia ringkas. Jika iklan
boleh
> > berpanjang
> > > lebar, pembuatnya bisa memberi macam-macam penjelasan untuk
meminimalkan
> >
> > > ketersinggungan orang.
> > >
> > > Tapi, realitasnya adalah iklan itu pendek, minim kata, dan
utuh dalam
> > dirinya
> > > sendiri. Kalaupun ada sesuatu "beyond" the text, yah sangat
disayangkan
> > karena
> > > yang tertangkap indera dan persepsi orang hanya apa yang ada
di teks.
> > Itu
> > > sebabnya, membuat iklan perlu kepekaan ekstra: karena iklan
itu sebagai
> > teks
> > > sudah utuh. Kurang lebihnya, ya semuanya ada di situ. Betul
bahwa sebuah
> > teks
> > > macam iklan bisa mengandung makna berbeda dalam tataran
literal dan
> > simbolik.
> > > Namun, yang tertangkap orang mula-mula adalah yang literal
karena ini
> > yang
> > > tersurat. Sedang yang simbolik, maknanya bisa macam-macam dan
dari satu
> > orang
> > > ke orang lain bisa berbeda.
> > >
> > > Maka itu, dalam mendesain iklan, sekali lagi, dibutuhkan
kepekaan
> > ekstra.
> > > Kerjanya lebih menantang, karena ruang untuk membangun makna
yang
> > berlapis
> > > tidaklah luas. Di samping itu, makna simbolik apapun yang
hendak
> > disertakan, ia
> > > kan konon tak boleh sampai menafikan tujuan utama iklan itu
sendiri,
> > yaitu
> > > jualan produk. Tegangan antara dua sasaran ini yang sebaiknya
tidak
> > menjadi
> > > sesuatu yang taken for granted bagi kalangan iklan.
> > >
> > > manneke
> > >
> > > Quoting swastinika swastinika@:
> > >
> > > >
> > > > --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, pradita@
wrote:
> > > > >
> > > > > Masalahnya, apakah pembuat iklan Pro XL ini ingin membuat
kita
> > > > "melihat beyond
> > > > > the literal meaning" atau justru secara sistematik, lewat
desian
> > > > iklannya,
> > > > > berusaha menggiring penikmat iklannya untuk melihat
analogi yang
> > > > mengusik
> > > > > antara perempuan dan Rp.1,-/dtk itu?
> > > >
> > > > Hehehe.. Pak Manneke, kalau dilihat dari gaya beriklannya,
serta
> > dilihat
> > > > dari positioning Pro XL selama ini, saya kok yakin bahwa
target yang
> > > > dituju adalah mereka2 yang "diharapkan" bisa melihat beyond
the
> > literal
> > > > meaning :) Mirip2 dengan iklan A Mild yang kalau buat
sebagian orang
> > > > adalah iklan paling tidak jelas sedunia ;).
> > > >
> > > > Mungkin kesalahannya the creative team adalah mereka kurang
> > > > memperhitungkan bahwa "tubuh perempuan" itu termasuk salah
satu isyu
> > > > yang bisa bikin gerah sebagian orang :).
> > > >
> > > > Terima kasih dikatakan pengamat yang kritis.. ini karena
sering
> > ngurusin
> > > > iklan aja kok ;)
> > > >
> > > > > Dalam filem Star Trek yang kemarin diobrolin itu, banyak
juga yang
> > > > berpendapat
> > > > > bahwa busana 7-of-9 atau T'pol terlalu menonjolkan tubuh
perempuan.
> > > > Dan ini
> > > > > sangat betul. Hanya saja, citra yang dibangun dalam filem
itu lebih
> > > > kompleks
> > > > > karena kedua perempuan tak hanya digambarkan bagus bentuk
tubuhnya
> > > > saja, tapi
> > > > > otaknya juga cemerlang, gesit membuat keputusan, dan tak
kalah dalam
> > > > segala hal
> > > > > dari laki-laki.
> > > >
> > > > Hehehe.. kalau kita mengikuti Star Trek secara
berkesinambungan, dan
> > > > berkesempatan melihat perkembangan karakter Seven of Nine
atau Deanna
> > > > Troi, memang kita akan melihat beyond their gorgeous
body :). Tapi
> > kalau
> > > > ada seseorang yang gak gemar nonton Star Trek, dan hanya
nonton 1-2
> > > > episode, atau Star Trek tidak dijadikan film seri, besar
> > kemungkinannya
> > > > yang teringat ya hanya body indah mereka saja :)
> > > >
> > > > > Bandingkan dengan iklan Pro XL, yang tampaknya tak punya
message
> > lain
> > > > di luar
> > > > > visual yang ditampilkannya tentang perempuan itu. Inilah
yang
> > disebut
> > > > dengan
> > > > > stereotipe. Citra cuma dikemas dalam dimensi hitam dan
putih saja.
> > > > Dangkal.
> > > >
> > > > Sebagai sebuah iklan pendek, memang tidak memungkinkan
perkembangan
> > > > karakter. Kita dituntut memaknai sesuatu dari sebuah cerita
singkat
> > yang
> > > > hanya 15 - 30 detik, bahkan kadang lebih singkat lagi. Kalau
> > > > dibandingkan dengan film, apalagi film seri, ini memang
keadaan yang
> > > > sangat tidak menguntungkan bagi iklan.
> > > >
> > > > Tapi, kalau menurut saya, justru memang kita tidak bisa
memperlakukan
> > > > iklan seperti film seri yang penuh narasi. Kita dituntut
untuk
> > memahami
> > > > beyond the story tanpa harus mendengar story-nya diceritakan
lebih
> > > > dahulu :)
> > > >
> > > > Ibaratnya memahami cerita bersambung, dengan memahami puisi,
kan
> > memang
> > > > nggak bisa sama. Tapi.. bukan berarti suatu puisi itu tidak
punya
> > > > message lain :)
> > > >
> > > > Salam,
> > > >
> > > >
> > >
> >
> >
> >
>


__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Food Lovers

Real Food Group

on Yahoo! Groups

find out more.

Yahoo! Groups

Find Green Groups

Share with others

Help the Planet.

Beauty & Fashion

on Yahoo! Groups

Share style tips

and advice.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: