Sabtu, 09 Februari 2008

[psikologi_transformatif] Re: Memungut Kearifan Goethe (was Re: goethe und der Islam..)

Hei bokonglebus,

Di kristen tidak dikenal istilah kafir-kafiran. Yang hboinya mengkafir-kafirkan
orang lain itu ya kamu itu. Jadi, jangan jejalkan kebusukanmu ke agama orang
lain. gak mutu!

Juga, jangan dikte Goethe harus jadi ini atau itu. Goethe ist Goethe. Kamu
kualitasnya jauh di bawah dia, dan tak pantas kasih komentar tentang sosok
besar itu. Kamu lebih bau dan lebih hina daripada upilnya Goethe.

Orang Kristen tidak mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi mereka seperti mereka
mengakui Yesus. Tapi, orang Kristen juga tak punya persoalan menghormati Nabi
Muhammad sebagai nabi junjungan kaum Muslim. Apakah kamu yang ngaku Islam ini
punya kebesaran hati yang sama? Keliatannya tidak. Hatimu bau seperti kentut
onta dan busuk seperti tai babi. Haram dan najis.

Dan ini buat kamu, Herr Hendrik von Schweinhund: Du bist ein Chaot und ein
Biedermann und zugleich ein Scharlatan. Schweine sind bessere Tier als du!

manneke

Quoting hendrik bakrie <henrik12syiah@yahoo.com>:

> hahahah...hahahahah.....hahhahahaha.... saya setuju juga....
>
> memang agak sulit untuk bisa memastikan apakah goethe itu muslim seperti saya
> atau tidak... sebab kita bisa menemukan karya2nya yg mengarahkan pada
> "keislaman" dirinya atau sebaliknya... kita tau bahwa goethe adalah milik
> jerman dan sekaligus kebanggaan jerman yg mayoritas non-muslim... bahkan
> nietzsche sangat mengagumi goethe dan dia menyebut sebagai salah satu
> Uebermensch..
>
> tapi jika kita melihat pandangan gothe dalam karyanya seperti yg anda dibawah
> bahwa adalah sebuah keanehan jika gothe masih disebut kristen...
> mengapa...??? sebab gothe menganggap bahwa seluruh ciptaan adalah manifestasi
> tuhan (walaupun saya lebih senang meyebutnya dalam kata sufi dengan
> "tajalli").....
>
> sebaliknya di kristen ada yg disebut "trinitas" dalam arti bahwa tuhan adalah
> yg tidak dalam "selain tiga"... bapa, putra dan roh kudus... jadi dalam
> kristen kalau ada yg menganggap bahwa tuhan melingkupi segalanya
> (saya,yesus,bakteri,anjing,makanan yesus, mungkin tai yesus,matahari,dll)
> dalam keyakinan kristen itu adalah "kafir".... selain itu, dengan sendirinya
> bahwa dalam krsiten setiap manusia yg "menolak" ketuhanan yesus dan "meyakini
> bahwa yesus adalah makhluk juga seperti yg lain adalah "kafir".... jadi
> seorang krsiten harus menolak "kenabian" muhammad SAWW sebab seorang nabi
> adalah utusan tuhan termasuk dengan apa yg dibawanya (al quran)....
>
> jadi dengan sendirinya jika goethe adalah org yg baik maka dia harus keluar
> dari kristen.... trinitas adalah subtansi kristen..
>
> jadi adalah sebuah keanehan jika ada makhluk menyembah mahkluk... apalagi
> makhluk yg tidak mau mencari pencipta/khalik....
>
> inti dalam islam adalah bahwa tuhan itu satu (khalik/pencipta), sehingga
> apapun selain tuhan adalah bukan tuhan (mahkluk/ciptaan)....
>
> "sesungguhnya aku adalah ALLAH, tidak ada tuhan selain AKU maka sembahlah
> AKU" (al quran)
> "dan ALLAH telah menyaksikan bahwa tidak ada tuhan selain diriNya" (al
> quran)
>
> mengapa yesus itu disebut tuhan saat adam tidak memiliki ayah dan ibu..???
> mengapa yesus itu disebut tuhan saat nama sang iblis juga ada dalam al
> quran..???
> mengapa yesus itu disebut tuhan saat sang lebah juga mendapatkan petunjuk
> dari tuhan..???
>
> terkutuklah penyembah alam ( matahari ratu sheba)
> terkutuklah para penyembah hewan (sapi betina bani israil)
> terkutuklah para penyembah manusia (firaun bangsa mesir)
> sebab ALLAH telah mengutuk terhadap penyembahannya didalam Al quran
>
> saat kiamat itu akan ada maka yg sisa adalah sang pencipta saja..
> sebab semua adalah makhluk maka seharusnya makhluk mencari dan menyembah sang
> pencipta...
>
> tidak ada tuhan selain ALLAH SWT...
>
> info seimbang <infoseimbang@gmail.com> wrote:
>
>
> e-link:
> http://indonesianmuslim.com/memungut-kearifan-johann-wolfgang-von-goethe.html
>
>
> Memungut Kearifan
> Johann Wolfgang von Goethe Oman Fathurahman
>
>
> Suatu ketika, Berthold Damshäuser, Ketua Jurusan Sastra Indonesia
> Universitas Bonn, menghadiahi saya sebuah buku yang pada tahun 2007 ini ia
> publikasikan bersama sastrawan Indonesia Agus R. Sarjono. Buku yang diberi
> judul Johann Wolfgang von Goethe: Satu dan Segalanya ini berisi terjemahan
> kurang lebih 70 puisi pujangga Jerman terbesar yang namanya menjadi judul
> buku itu. Terjemahan ini adalah hasil kerja sama antara kedua penyunting.
> Jujur, saya bukan seorang peminat dan pembaca puisi yang tekun. Saya
> biasanya hanya membaca puisi-puisi tertentu yang 'tiba-tiba' menarik
> perhatian saya, itu pun hanya sekilas dan kemudian selesai! Tapi, membaca
> buku yang diterbitkan dalam rangka meningkatkan minat baca dan apresiasi
> sastra ini, saya banyak tertegun dan 'terpaksa' membaca serta merenungkan
> berulang-ulang pemikiran besar Goethe (1749-1832) dalam puisi-puisinya.
>
> Betapa tidak? Selama ini yang menjadi fokus perhatian keilmuan saya adalah
> masalah keilahian serta hubungannya dengan makhluk dan alam, dalam perspektif
> tasawuf. Saya memang belum pernah berfikir untuk membandingkannya dengan
> pemikiran-pemikiran sastrawan Eropa semisal Goethe. Tapi kini, saya
> 'tiba-tiba' menemukan inti pemikiran para Sufi yang adiluhung itu teruntai
> dalam beberapa puisi Goethe. Saya tentunya tidak mungkin memahami dan
> mengambil pelajaran sebagian kecil inti pemikiran Goethe ini kalau saja Agus
> R. Sarjono dan Berthold Damshäuser tidak menyediakan versi terjemahan bahasa
> Indonesia yang sangat puitis.
> Sejauh yang saya pelajari, para Sufi misalnya meyakini bahwa alam ini
> hanyalah manifestasi (mazhar) Tuhan, dan bahwa Dia bisa mewujud (tajalli)
> dalam berbagai bentuk apa saja, karena Dia Mahamutlak dalam berkehendak (Q.S.
> 11: 107), meskipun ia tetap kokoh dengan Sifat Transenden-Nya. Ibn al-'Arabi,
> yang pemikiran tasawuf filosofisnya abadi sepanjang masa, adalah seorang Sufi
> besar berjuluk al-Shaykh al-Akbar yang paling getol medakwahkan konsep
> tashbih (penyerupaan) dan tanzih (transendensi) Tuhan ini.
> Demikianlah Goethe. Seperti dipaparkan Damshäuser dalam pengantarnya
> berjudul "Goethe – Tokoh Jerman Terbesar" (h. 9-33), dalam puisi Im Namen
> desssen (Atas Nama Dia) Goethe bertutur bahwa seluruh alam hanyalah merupakan
> variasi dari Sang Satu atau keilahian belaka, bahwa alam tidak pernah
> terpisah dari penciptanya, dan bahwa Diri-Nya senantiasa mewujudkan diri
> dalam ciptaan-Nya, sehingga segala sesuatu menjadi serba teratur dan
> bermakna, tidak ada yang kebetulan (h. 30).
> Memperhatikan puisi-puisinya yang lain dalam buku ini, jelas bahwa Goethe
> tidak hanya sedang 'meminjam' popularitas pandangan-pandangan para Sufi besar
> tersebut untuk menghasilkan sebuah karya, melainkan menceburkan diri dan
> menjadikan itu sebagai bagian dari pandangan-pandangan hidupnya.
> Lihat saja puisi Goethe dalam kumpulan West-Östlicher Diwan, atau yang
> dalam sebuah halaman beriluminasi indah tertulis sebagai al-Diwan al-Sharq li
> al-Muallif al-Garbi, dan yang diterjemahkan oleh kedua penyunting sebagai
> Diwan Barat-Timur (h. 89-114). Di sini jelas bahwa pandangan-pandangan Sufi
> besar Persia semisal Jalaluddin Rumi, Shamsuddin Muhammad Hafiz Shirazi, dan
> Hakim Abul Qasim Ferdowsi sedemikian kuat mempengaruhi cara pandang Goethe.
> Dalam Offenbar Geheimnis (Bukan Rahasia), Goethe bahkan menunjukkan
> pembelaan, dan sekaligus kedekatannya, terhadap Sufi Hafiz dari serangan para
> ulama Kalam yang sering mengharamkan sebuah interpretasi keagamaan yang
> dianggap melebihi batas-batas kata. Goethe berujar untuk Hafiz (h. 103):
> Namun dalam mistik kau murni
> Karena mereka tak memahamimu,
> Meski tak shalih,
> engkau suci!
> Itu tak rela mereka akui.
> Namun, seperti berkali-kali diingatkan Damshäuser (h. 27), yang ingin
> ditunjukkan oleh Goethe melalui karya-karya 'sufistis'nya adalah bukan
> berarti ia seorang penganut agama tertentu, Islam misalnya. Alih-alih, dia
> sedang mempertontonkan sebuah apresiasi sepatutnya terhadap sebuah
> kepercayaan agama, dan sekaligus menunjukkan terbukanya pergaulan Goethe
> terhadap dunia Timur.
> Ini bisa terlihat misalnya dalam puisi-puisinya yang lain yang juga
> memberikan apresiasi sangat besar terhadap budaya Yunani dan Kristen. Menurut
> Damshäuser, "… pemisahan antara Timur dan Barat, antara Nasrani dan Islam,
> dan seterusnya dan sebagainya, tidak berlaku bagi Goethe…". Goethe lebih suka
> menciptakan Weltliteratur (sastra dunia), sebuah istilah yang diperkenalkan
> oleh Goethe sendiri (h. 29).
> Tentu saja buku ini tidak hanya mengandung puisi-puisi Goethe bernafaskan
> sufistis seperti yang saya contohkan, karena secara keseluruhan terdapat lima
> bagian, yakni 'Batas-batas Manusia', 'Keping-keping Kebijaksanaan', 'Merindu
> Mati di Kobaran Api', 'Tak Berkulit Tak Berbiji', dan 'Wasiat'. Masing-masing
> bagian tersebut mengandung puisi pilihan yang menurut pertimbangan kedua
> penyunting dapat mewakili keanekaan bentuk dan tema perpuisian karya Goethe
> (h. 23).
> Karenanya, membaca puisi-puisi Goethe dalam buku ini secara keseluruhan,
> seakan kita diajak napak tilas bagi munculnya secara bertahap teks-teks yang
> melambungkan Goethe menjadi penyair Jerman terbesar di samping Hölderlin,
> Heine, Rilke atau Brecht. Apalagi, Damshäuser melengkapi buku ini dengan
> sebuah paparan riwayat hidup Goethe, latar belakang keluarganya yang borjuis
> Protestan, pendidikan awalnya, karir politiknya, hingga kisah-kasih cintanya
> (h. 9-21).
> Jelas, puisi-puisi Goethe adalah produk dari sebuah pergulatan intelektual
> dan spiritualnya sebagai seorang pujangga besar yang sejak kecil tidak pernah
> puas dengan karya yang telah dihasilkannya sendiri, sehingga ia terus
> menulis, menulis, dan menulis hingga masa tuanya masih menghasilkan
> karya-karya agung semisal Faust II (1831) dan sebelumnya, West-Östlicher
> Diwan (1819) yang telah saya sebut di atas.
> Semakin larut membaca buku terbitan Horison ini, semakin kita diajak
> menuju sebuah kesadaran bahwa dalam sejarah dan tradisi sastra, seperti telah
> ditunjukkan Goethe melalui puisi-puisinya, tidak tampak tercipta sekat-sekat
> agama, suku, keyakinan, kepercayaan yang terkadang menghalangi kita untuk
> saling menunjukkan apresiasi.
> Bagi masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman etnis, suku, budaya, dan
> agama dengan berbagai ragam corak pemahaman dan interpretasinya, butir-butir
> mutiara pemikiran seperti ditonjolkan Goethe dalam buku ini, tidak saja dapat
> menumbuhkan sikap saling menghargai karya sastra dan budaya lain, tapi lebih
> penting dari itu dapat menjadi pelajaran berharga bagaimana semua perbedaan
> itu dikelola.
> Masalahnya, upaya-upaya sosialisasi keragaman sastra dan budaya lain seperti
> yang dilakukan oleh Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser ini seringkali
> tidak mendapat apresiasi sewajarnya, dan hanya dianggap kerjaan sampingan
> saja yang tidak terlalu berguna.
> Karenanya, tidak berlebihan jika kita menganggap bahwa Horison bukan saja
> telah memberikan kontribusi besar terhadap geliat sastra di Indonesia dengan
> menerbitkan Seri Puisi Jerman ini, melainkan juga telah memberikan
> pembelajaran berharga tentang sebuah kearifan bagi masyarakat pada umumnya.
> Selamat membaca bukunya, dan salam sastra.
> ———-
> Penulis adalah Dosen Fakultas Adab dan Sastra Arab, serta peneliti PPIM, UIN
> Syarif Hidayatullah Jakarta. Sejak Juni 2006-April 2008 sebagai peneliti tamu
> atas beasiswa dari The Alexander von Humboldt-Stiftung di Malaiologischer
> Apparat am Orientalischen Seminar, Universität zu Köln, Jerman. Tulisan ini
> juga dimuat di situs Indonesian Islamic Philology.
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Be a career mentor

for undergrads.

Y! Messenger

Want a quick chat?

Chat over IM with

group members.

10 Day Club

on Yahoo! Groups

Share the benefits

of a high fiber diet.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: