Selasa, 04 Maret 2008

[psikologi_transformatif] fenomena single parents di barat..

dari salah satu web site islam..

Fenomena Single Parents di Barat PDF Print E-mail
Wednesday, 26 December 2007
Fenomena Single Parents di Barat
Kendati masyarakat Barat di abad ke-21 saat ini tengah berada di puncak kemajuan industri, namun ia masih saja tak luput dari pelbagai jeratan krisis dan persoalan. Kini, Institusi keluarga di masyarakat Barat tengah mengalami proses perapuhan. Sejak dua generasi belakangan ini, model perkawainan masyarakat Barat tengah mengalami perubahan mendasar yang amat dahsyat. Hingga urgensi persoalan menjaga bangunan keluarga telah menjadi isu utama gerakan moral di Barat. Beberapa faktor seperti kian meningkatnya angka perceraian, gaya hidup bersama tanpa ikatan nikah, makin bertambahnya jumlah anak-anak yang lahir di luar nikah, dan kian bebasnya hubungan seksual, telah menambah pelbagai ragam dan model single parents di Barat.
Meskipun keluarga merupakan unit terkecil struktur masyarakat namun ia adalah institusi sosial yang paling penting. Beberapa abad sebelum bermulanya revolusi industri, keluarga merupakan institusi sosial dan ekonomi yang mandiri, dan biasanya terbentuk dari beberapa generasi. Dalam kelompok sosial ini, kakek dan nenek senantiasa berusaha memperjuangkan nasib keluarga bersama cucu-cucunya. Pada awal abad ke-19, posisi lelaki memegang peran sebagai pemberi nafkah keluarga. Mereka bekerja di luar rumah, sementara perempuan bertangung jawab mengurusi persoalan rumah tangga. Namun, perlahan-lahan di sepanjang abad ke-19, tradisi keluarga di Barat mulai berubah.
Pada abad ke-20, khususnya pada dekade 60-an dan 70-an, terjadi perubahan fundamental dalam struktur keluarga di Barat, khususnya di AS. Gerakan pembebasan perempuan, telah mendorong kaum hawa untuk bekerja di luar rumah. Jika sebelumnya keluarga merupakan tempat bagi para orang tua mendidik anak-anak mereka, maka saat ini tempat-tempat penitipan anak telah menggantikan posisi ayah dan ibu. David H. Olson, profesor ilmu sosial di universitas Minnesota dan seorang pakar di bidang keluarga, dalam hal ini menuturkan, "Menurut saya, pertumubuhan angka perceraian tertinggi terjadi pada masa-masa pasca Perang Dunia II. Dalam kondisi pasca perang kala itu, banyak perempuan yang berminat untuk bekerja. Perlahan-lahan hubungan suami-istri pun menjadi kian renggang dan rapuh. Di saat itulah, banyak perempuan yang mengajukan perceraian hanya karena berharap untuk mendapatkan pasangan yang lebih baik".
Di samping itu, munculnya gerakan yang di awali dengan penentangan terhadap budaya dan tradisi tersebut, menciptakan model baru hubungan seksual. Hasilnya, banyak terdapat pasangan yang hidup bersama tanpa adanya ikatan nikah. Meningkatnya angka perceraian juga semakin membantu mengembangkan model keluarga baru semacam itu. Seorang pakar sosiologi dan pengamat sosial, Morgan William Sean menulis, "Bersamaan dengan semakin banyaknya tenaga kerja wanita, angka kehamilan di AS menjadi melorot tajam, dan angka perceraian pun semakin meningkat tinggi". Menanggapi angka perceraian yang semakin meningkat itu, William Sean menyatakan, "Pada dekade 70-an dan 80-an, angka perceraian di AS meningkat dua kali lipat, menurut data yang ada, selama setahun telah terjadi lebih dari satu juta kasus perceraian." Berdasarkan salah satu penelitian, AS merupakan negara dengan angka perceraian paling tinggi. Pada tahun 1997, telah terjadi 1,2 juta kasus perceraian di negeri itu yang meningkat dua kali lipat dibanding dengan tahun 1960.
Semenjak dulu, keluarga dibangun oleh lelaki dan perempuan. Melalui ikatan pernikahan mereka pun memperoleh anak-anak dan hidup secara bersama-sama. Dengan munculnya revolusi industri, kendati model keluarga tradisional yang terdiri dari ayah, ibu dan anak, masih bertahan, namun kemudian memunculkan pula beberapa model keluarga baru yang hanya bernamakan keluarga. Beberapa model keluarga baru seperti single parents, dan keluarga pasangan homoseks semakin berkembang meluas.
Model keluarga single parents, semakin marak di Barat sejak dasawarsa 60-an. Dalam model keluarga semacam ini, anak-anak hanya hidup bersama dengan salah satu orang tua mereka, dan dalam banyak kasus, mereka hidup dengan ibu mereka saja. Alvin Toffler dalam bukunya yang berjudul The Third wave menyebut model baru keluarga ini sebagai simbol masyarakat industri baru yang dibangun berdasarkan garis matrilinear.
Sosiolog Perancis, Andre Michel mengklasifikasi keluarga AS dalam tiga model. Salah satunya adalah model keluarga yang hanya terdiri dari ibu dan anak. Sejumlah data statistik di Eropa menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen penduduk negara-negara Eropa pada dekade terakhir abad ke-20 hidup dalam keluarga single parents. Selain itu, Lembaga Statistik AS juga melaporkan, jumlah keluarga single parents di AS pada tahun 2000 mencapai lebih dari 12 juta keluarga. Sementara itu, jumlah janda di AS antara tahun 1970 hingga 2000 mengalami peningkatan serius dari 3 juta menjadi 10 juta janda.
Berdasarkan telaah UNESCO, para peneliti sosial menilai, faktor utama muncul dan berkembangnya fenomena single parents disebabkan oleh beberapa faktor seperti, berkurangnya pernikahan resmi, maraknya gaya hidup bersama tanpa tali nikah, individualisme radikal, sikap lari dari tanggung jawab, dan meningkatnya kasus perceraian di negara-negara Barat. Di samping itu, sebagian besar keluarga single parents yang hanya terdiri dari ibu dan anak itu ternyata merupakan hasil dari hubungan di luar nikah. Majalah newsweek dalam laporannya menuliskan, 57 persen dari anak-anak haram kulit putih yang hidup bersama Ibu mereka merupakan penyumbang terbesar jumlah keluarga single parents di AS.
Di lain pihak, dalam masyarakat Barat saat ini, terdapat banyak remaja perempuan yang hamil di luar nikah sehingga mereka pun terpaksa hidup dalam model keluarga single parents. Majalah Reader's Digest dalam sebuah laporannya pada bulan September 1996 menyebutkan, setiap tahunnya sekitar 350 ribu remaja muda perempuan AS yang berusia antara 15-19 hamil di luar nikah dan terpaksa melahirkan anak-anak mereka. Dalam sebuah wawancara dengan salah satu remaja perempuan tersebut, Readers Digest mengutipnya demikian: "Andai saja aku bisa kembali ke masa lalu, andai aku bisa hidup bersama kedua orang tuaku, andai sebelum aku terjerumus dalam hubungan haram masa itu, aku sedikit berpikir untuk masa depanku sehingga aku bisa lepas dari jalan buntu semacam ini".
Menurut para psikolog sosial dan sosiolog, maraknya hubungan seksual yang semakin bebas merupakan faktor utama penyebab berkembangnya model keluarga single parents di masyarakat Barat saat ini. dengan kata lain, hubungan bebas dan tanpa aturan antara lelaki dan perempuan, akhirnya akan berujung pada hubungan seks di luar nikah. Sebagai misal, kita bisa merujuk pada teori Karen Horney, seorang psikolog AS. Menurutnya, dalam sebuah masyarakat di mana hubungan seks berjalan secara bebas, sebagian besar kebutuhan psikologinya tidak dilampiaskan lewat jalur yang benar, yang akhirnya berujung pada munculnya gairah seksual. Sementara itu, Raeder's Digest menuliskan, "Kesedihan dan penyesalan, pengungsian, kriminalitas dan kejatahan, runtuhnya keluarga dan ketidakmampuan dalam melihat masa depan, merupakan hasil pasti hubungan seks bebas dalam masyarakat AS".
Dengan demikian, berkembangnya keluarga single parents di Barat merupakan hasil dari krisis moral di sana. Karena itu, sejumlah sosiolog dan psikolog Barat tengah berupaya keras mencari solusi yang tepat untuk menekan seminimal mungkin dampak negatif dari model keluarga semacam itu dan mencegah hancurnya institusi keluarga di Barat. Salah satu peniliti sosial di negara bagian Illinois AS, Adam Borrows menyatakan, "Kita harus mewujudkan model keluarga yang tradisional dan mapan, yang mampu bertahan selama masa hidup anak-anak mereka". Menurutnya, tanggung jawab terhadap anak tidak boleh hanya diemban oleh salah satu orang tua saja, dan untuk menangani dampak negatif dari model keluarga single parent, maka harus ada pelarangan lahirnya seorang anak di luar sturuktur keluarga tradisional.
Last Updated ( Monday, 07 January 2008 )


Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Be a career mentor

for undergrads.

Y! Messenger

Instant hello

Chat in real-time

with your friends.

Best of Y! Groups

Discover groups

that are the best

of their class.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: