Selasa, 23 Oktober 2007

[psikologi_transformatif] MUSUH VCL: G DAVID, BADUAMINK@GMAIL.COM

Nama saya David G., email saya: baduamin@gmail.comG

Lantas muncul seseorang yang menggunakan nama "G David" dan email
"baduamink@gmail.com "
yang asyik memforward email-email orang lain.

Lha, wong mau sekadar ngritik Vincent Liong saja, kok pakek cara begitu ... :)

Meskipun saya ndak sepaham dengan VCL, saya kok semakin tidak simpati
dengan musuh-musuhnya.

---
dg

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Want a quick chat?

Chat over IM with

group members.

Yahoo! Groups

Real Food Group

Share recipes

and favorite meals.

HDTV Support

The official Samsung

Y! Group for HDTVs

and devices.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Yuk kita rame2 menghancurkan Vincent Liong (Asumsi = Sintesis)

Note: Email saya kali ini ditujukan untuk melanjutkan
pembahasan Ilmiah sesuai pesanan anda sekaligus
menjawab email B. Sudjanto sebagai sebuah contoh kasus
yang berhubungan dengan hal tsb. Email ini juga
diharapkan memberikan reasoning atas segala usaha
"Kill and Destroy Kim Il Sen" yang berlangsung di
maillist psikologi_transformatif dengan segala usaha
dan pengorbanan secara radikal, fanatik, bahkan rela
berjibaku sampai habis-habisan tanpa reasoning yang
jelas.

Sebelum membahas secara lebih mendetail dengan contoh
kasus mengenai masalah "Ilmiah sesuai pesanan anda"
pertama-tama saya membahas dulu secara urut proses
metodologi penelitian ilmiah yang sekaligus empiris
(kwantitative) yang perlahan-lahan contoh praktikalnya
bergerak ke semakin subjective / costumize
(kwalitative), dan konsekwensinya terhadap ketepatan
dan kejernihan kerja metodologi penelitian ilmiah di
setiap jenis penerapan metodologi penelitian.

Metodologi Penelitian Ilmiah pada awalnya lahir dari
dunia ilmu tekhnik yang memiliki object penderita
berupa mesin atau alat yang bersifat benda mati. Sifat
dari benda mati adalah keterbatasan pilihan
sebab-akibat atau bisa dikatakan tidak memiliki
kehendak bebas bila dibandingkan dengan kegiatan
pemerosesan informasi (berpikir) pada manusia dan
hewan (sebagai subject yang individual) sehingga
bersifat sangat empiris.

Selanjutnya metodologi penelitian ilmiah juga masih
bisa dilebarkan lagi ke dunia kedokteran dimana kerja
hubungan sebab-akibat pada tubuh fisik manusia, hewan
dan tumbuhan bersifat tekhnis dan mekanis.
Keterbatasan pilihan sebab-akibat atau bisa dikatakan
tidak memiliki kehendak bebas bila dibandingkan dengan
kegiatan pemerosesan informasi (berpikir) pada manusia
dan hewan (sebagai subject yang individual) sehingga
bersifat cukup empiris, tetapi tidak se-empiris pada
penerapan ilmiah di benda mati sebab pada manusia,
hewan dan tumbuhan masih terjadi evolusi dan adaptasi
secara non-sadar.

Selanjutnya metodologi penelitian diterapkan kembali
ke bidang yang jauh lebih subjective lagi yaitu
pemerosesan infromasi atau kegiatan berpikir manusia
dan hewan. Dalam penerapan di kegiatan berpikir
manusia dan hewan khususnya ilmupengetahuan sosial
masalah timbul karena pada pemikiran manusia dan hewan
kegiatan evolusi adaptasi secara sadar terjadi pada
kegiatan berpikir manusia sehingga ada kehendak bebas
yang sifatnya sangat individual; ada asumsi,
kepentingan, sudutpandang, keyakinan, dlsb yang
membuat hubungan sebab-akibat tidak terbatasi bersifat
tekhnis saja; Tetapi menjadi lebih tidak empiris
karena adanya kondisi terhipnotis oleh argumen, teori,
asumsi, kepentingan, sudutpandang. Metodologi
penelitian ilmiah berubah fungsi sebagai alat bantu
yang dapat bekerja bersamaan dengan metodologi
penelitian empiris menjadi sekedar alat untuk
menghipnotis diri sendiri lebih dalam pada asumsi,
kepentingan, sudutpandang, keyakinan, dlsb yang sudah
ada sebelum bahkan sebelum kegiatan penelitian
direncanakan.

Oleh karena itu radikalisme, fanatisme,
fundamentalisme yang tidak memiliki hubungan
sebab-akibat yang jelas runtutan-nya datang dari kaum
berpendidikan ilmiah sosial bukan dari oknum-oknum
tidak berpendidikan. Apapun input yang disugestikan
secara sadar tidak sadar menjadi ilmiah. Tidak ada
bedanya lagi antara ilmu sosial ilmiah dengan agama,
metafisika dan spiritual yang murni bersifat keyakinan
tanpa perlu ada bukti kongkrit.

Ketika seseorang mengatakan sesuatu adalah baik atau
buruk maka hal itu tidak perlu terjadi dan tidak perlu
ada bukti di masa lalu masa kini dan masa yang akan
datang, yang penting pengkondisian saat
menghipnotisnya cukup dramatis; misalnya Leonardo
Rimba mengatakan hal tsb dengan membawa hal-hal yang
bersifat ketuhanan, spiritual yang tinggi, dlsb maka
sudah masuk dalam logika ilmiah.

Jadi ada dua hal yang penting di sini dalam melakukan
penghipnotisan atas suatu keyakinan adalah sbb:
*Yang berinisiatif pertama kali menanamkan asumsi
secara dramatis akan menjadi keyakinan bahkan akan
dikuatkan dengan dianggap ilmiah setelah si individu
diajak berpetualang dengan pola jalan cerita logika
sesuai penghipnotis di ranah pikiran tanpa perlu bukti
fisikal / di dunia nyata, atau bukti palsu bisa dibuat
belakangan sesuai kebutuhan saja.
* Yang paling dramatis, paling heboh, paling tinggi,
paling benar bahasanya seperti misalnya dengan membawa
hal-hal ketuhanan, intuisi, dlsb akan dianggap secara
ilmiah benar adanya.

"Asumsi = Sintesis" karena ada jalan cerita yang jelas
dari asumsi sampai ke sintesis yang mampu membuat
pikiran anda meyakini tanpa perlu ada bukti kongkrit
di dunia nyata atas hal tsb, bahkan bisa tampak
seperti jalan cerita yang sangat ilmiah.

Nah pada kasus B.Sudjanto, terjadi loncatan yang tidak
disadari dari penelitian ilmiah pada latarbelakang
pendidikan tekhnologi industri yang berkaitan dengan
mesin yang adalah benda mati, lalu diasosiasikan
secara linear ke penelitian ilmiah ala ilmupengetahuan
sosial. Ini adalah hal umum yang terjadi pada jaman
ini dimana radikalisme sesaat tanpa disadari bisa
dipancing dengan mudah untuk timbul di kalangan orang
berpendidikan entah itu ilmu yang bersifat tekhnis
(berhubungan dengan benda mati), ilmu kedokteran dan
ilmu social, tetapi sulit dilakukan kepada kalangan
pedagang dan orang-orang yang berada di lingkungan
praktikal sehari-hari tanpa embel-embel kasta
keyakinan jabatan, ijasah, ilmiah, dlsb.

Efek sampingnya misalnya dalam kasus B.Sudjanto adalah
timbul suatu radikalisme, fundamentalisme dan
fanatisme untuk melihat pribadi seorang Vincent Liong
dari sisi yang diperkenalkan oleh Leonardo Rimba saja.
Jadi seperti seseorang yang sedang menyukai Honda Jazz
Biru akan terbawa untuk melihat begitu banyak Honda
Jazz Biru di jalan dibanding mobil yang lain yang
tidak terlalu diperhatikan. Sugesti dengan model
dramatisasi membuat orang menjadi berkacamata kuda
atau bahkan buta.

Vincent Liong sebagai praktisi kompatiologi mengalami
kesulitan untuk membela diri, karena bila Vincent
Liong membela diri dengan cara yang sama dengan
Leonardo Rimba, yaitu dengan mendramatisasi cerita
yang tidak kalah heboh dan ideal-nya misalnya dengan
menjanjikan hal-hal yang amat ideal atau bersifat
keTuhanan, maka Vincent Liong melanggar komitment
dasar kompatiologi yaitu tidak menjanjikan sesuatu
yang bersifat ketuhanan, serba tinggi, serba ideal,
dlsb. Pengajar kompatiologi selalu berusaha menjawab
pertanyaan dengan bersifat tekhnis karena hasil dari
sesuatu yang sifatnya ilmu sosial sangat tergantung
dari pilihan bebas pelaku atau pengguna-nya sendiri.
Bagi Vincent Liong ini masalah moral kejujuran sebagai
ilmuan saja.

"Pengalaman sehari-hari menghasilkan peta hubungan
sebab-akibat,
Peta hubungan sebab-akibat dikonsepkan polanya maka
menghasilkan teori,
Teori di-tarikat-kan atau dilakonkan,
Menghasilkan perjalanan menuju kebenaran mutlak
(Tuhan)."

Perjalanan spiritual yang dimulai dari teori tentang
kebenaran yang sangat amat ideal beresiko terjadinya
kepecahan mental pada si pelaku, karena tidak adanya
relasi antara pengalaman pribadi dengan teori yang
dianggap benar. Pada banyak kasus menghasilkan dua
sisi sifat yang amat berbeda antara yang diucapkan
dengan yang dilakonkan. Keterpecahan ini membuat murid
tidak akan pernah mencapai gurunya, karena teori yang
ditanamkan sekedar sugesti atau hipnotis pada pikiran
saja atas titik ekstrim yang satu terhadap titik
ekstrim yang berlawanan yang dianggap ideal tetapi
tidak akan pernah tercapai. Dari situ tercipta
ketergantungan yang terus-menerus kepada guru atas
dasar perasaan tidak aman. Maka dari itu antara satu
aliran ilmu jenis ini dengan aliran ilmu jenis ini
yang lain saling bertengkar untuk berebut massa yang
bisa dibodohi untuk percaya dan terkunci atas dasar
perasaan tidak aman tsb.

Perjalanan spiritual yang dimulai dari kegiatan
menghargai pengalaman sehari-hari, dilanjutkan secara
mandiri dan independent memetakan hubungan sebab
akibatnya, tanpa perlu diarahkan, diceramahi teorinya
akan menemukan teori yang cocok sendiri. Teori ini
begitu jelas hubungannya dengan diri sendiri hingga
tanpa perlu ada yang membimbing dan mengajari akan
terarahkan di jalurnya hingga menemukan kebenaran
mutlak yang cocok dengan dirinya sendiri, sehingga
tidak ada lagi ketergantungan akan peran sang guru.
Tugas seorang guru hanya mempersiapkan dasarnya,
urusan masing-masing individu untuk menjalani
perjalanannya sendiri untuk mencapai kesempurnaan yang
cocok dengan dirinya sendiri. Maka dari itu
kompatiologi tidak pernah mengarahkan orang ke
kebenaran yang bukanlah hasil temuannya sendiri,
biarlah mereka membuat teori dan menjalaninya hingga
puas menemukannya, kompatiologi hanya mempersiapkan
dasar yaitu kemampuan pengukuran subjective untuk
membaca data.

Nah sdr B.Sudjanto silahkan diperhatikan kembali
nasehat sahabat anda Margaret Widyanti yang telah
beberapa kali berpesan pada anda untuk tidak terbawa
oleh orang-orang yang berkepentingan sehingga
berpura-pura di depan anda dengan membuat dramatisasi
jarak guru murid yang terlalu jelas, menjadi orang
yang terlalu ideal dibanding diri anda yang terlalu
kurang ideal dalam konsep non-egaliter mereka.
Memangnya ada manusia dewa hidup di dunia ini?!

Semoga beruntung…

Ttd,
Vincent Liong
Jakarta, Rabu, 24 Oktober 2007

Email sebelumnya...
e-link:
http://groups.google.com/group/Komunikasi_Empati/msg/24a552c702c63732

Benediktus Sudjanto wrote:

Vincent,

Saya ngajak kamu dan mas Leo itu sebagai pribadi,
tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya.

Soal uang dalam perjalanan kita tempo hari juga bukan
masalah bagi saya, kan saya yang menanggung hampir
semua biaya termasuk kamu naik kuda di Tawangmangu.

Saya tak bingung dan tak perlu bertanya soal
kompatiologi, kan sebagai pengamat saya juga mengikuti
sambil lalu. Kan kamu yang menerangkan sendiri dan
minta bantuan mas Leo menerangkan. Kamu minta masukan,
yang kamu Kamu dan mas Leo malah berkomentar kesaya,
kalau kamu bagian urusan instinct (bawah) dan mas Leo
intuition (atas) dan mendaulat saya di bagian
"tengah-2" bagian balancing.

Saya kok dikatakan "membentak-bentak seminggu penuh",
apa itu benar dalam kenyataan? Saya memang pernah
dengan keras mengatakan ke kamu, kalau kamu itu
menjalankan kejahatan karena menjual sesuatu yang tak
jelas manfaatnya dan mendapatkan uang. Kamu promosi
sesuatu ke saya yang saya tahu tak ada manfaatnya,
secara terus menerus, menerangkan secara
berulang-ulang tanpa diminta, menafikan masukan orang
dan merasa
terpojok sendiri walau tak ada yang memojokkan. Kalau
saya sampai marah itu berarti saya simpati ke kamu,
karena merasa bahwa kamu masih muda, kekeliruan yang
sudah dialami, bisa diperbaiki dengan rendah hati, eh
malah sekarang lebih sombong dari yang mampu saya
bayangkan untuk seorang manusia. Kalau tak perduli,
kan kamu bisa saya usir, atau saya diam saja,
meninggalkan pembicaraan yang "percumtakbergun" alias
percuma
tak berguna. Paling tidak kamu itu harusnya memiliki
sopan santu manusia biasa dalam berkomunikasi, saya
rasa sudah cukup. Sebagai penyandang sendiri "penemu"
kompatiologi, yang ada kata "empati" nya, saya hanya
bisa bilang "wah-wah kok begitu".
Bayangkan, orang yang kamu dekon dan membayar, kamu
katakan beberapa kali lewat mulutmu sendiri bahwa kamu
ingin menjadikan mereka "seperti blackie, anjing gua
di rumah". Paling tidak kamu berbelas kasihlah dengan
mereka yang mau menjadi kelinci/anjing cobaanmu dengan
membayar uang dan waktu dengan segala keluguan,
kesopanan, pengharapan, keperluan mereka yang entah
apa jenis persisnya. Entah, harus bagaimana lagi saya
mesti berkomentar, apa ya ada gunanya secara positif
kalau saya berkomentar lagi, kalau waktu lebih
seminggu kita bersama kamu katakan bahwa saya
membentak-bentak kamu?
Setelah sharing berdua dengan saya di penghujung malam
masuk pagi waktu di Solo, dengan kejujuranmu dan
hampir tangismu dan empatiku kekamu serta rencana
baikmu untuk dengan rendah hati memperbaiki untuk
dirimu sendiri, lalu kamu menafsirkan bahwa aku hanya
dituliskan sebagai yang membentak-bentakmu selama
seminggu. So what gitu loh!
Yah, bagiku tak apa-2, karena aku tak punya
kepentingan apa-2 denganmu, hanya empatiku bagi sesama
yang kebetulan salah satunya kamu yang sempat lewat
dalam sebagian waktu hidupku, dan kalau itu membuat
kamu bahagia dengan gaya dan kata-2 mu, ya teruskan
saja apa yang kamu anggap baik bagimu. Begitu saja ya,
sudah cukup.

B Sudjanto

Email sebelumnya...
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/22917
--- In vincentliong@yahoogroups.com, "vincentliong"
<vincentliong@yahoo.co.nz> wrote:

Mas Leo, inget ngak mas Leo saat elo ngajak gw ke Solo
bersama B.Sudjanto yang direkturnya pabrik lensa
Policore anak perusahaan Djarum di Karawang. Saat itu
gw bilang kalau gw lagi tidak siap uang dan mas Leo
aturkan agar dalam 5-6 jam kita dijemput di rumah gw,
kata mas Leo tidak perlu bawa uang.

Ketika awal mas Leo memperkenalkan ulang saya ke B.
Sudjanto yang dulu juga murid kundalini saya dan pak
Ngurah Ardika cuma sungkan karena bingung sama
perkembangan penelitian saya yang terlalu cepat, maka
nanya ke mas Leo.

Mas Leo ngomong persis sama dengan kalimat-kalimat mas
Leo di bawah ini. Ini yang membuat gw dibentak-bentak
seminggu penuh oleh B.Sudjanto gara-gara kalau gw
bilang ya maka mas Leo tekankan artinya tidak lalu
kalau gw bilang tidak kata mas leo ya lama-lama gw
bingung sendiri. Lalu mas Leo juga bilang tentang saya
yang binatang banget.

Saat itu belum sekalipun saya tegur mas Leo dengan
halus maupun kasar dan kalau ditegur secara halus
tambah jadi dan menambah penjelasan membingungkan
semacam ini dengan dihubungkan dengan intuisi dan
hal-hal keTuhanan dimana saya yang dikatakan jadi
setannya.

Mas Leo masih ingat tidak ?
Tulisan di bawah ini hanya mengulang kalimat yang dulu
khan ? Sama lho kalimat-kalimatnya, hanya dulu mas
ngomong ini ke B. Sudjanto di depan saya, dan saat ini
mas Leo ngomong ke maillist, hanya itu bedanya...

Saat itu saya setress jadi kalau makan sampai
beol-beol sebagai pelarian, karena saya tidak bisa
kontrol. B. Sudjantomas Leo panasi bahwa Jin saya yang
makan dan juga soal keburukan prilaku saya. Depan mata
saya lho mas Leo, saat itu.

Lalu siapa yang berani menemani mas Leo sekarang ?
Serem atuh resiko dijadikan umpan ikan :) Saya
seumur-umur tidak jadikan mas Leo umpan ikan lho,
inget itu mas Leo.

Ditemani itu mahal mas Leo... Ya jadi umpan buat
mancing ikan ?!

Ttd,
Vincent Liong
Jakarta, Senin 22 Oktober 2007

Email sebelumnya...
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/33111
--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com,
"leonardo_rimba" <leonardo_rimba@yahoo.com> wrote:

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com,
Timbangan Balance <timbang.balance@> wrote:
> Karena Audifax dan Leonardo Rimba adalah mantan
> pendukung Kompatiologi dan teman dari Vincent Liong

Hmmm,... perlu saya LURUSKAN disini bahwa saya adalah
seorang PRAKTISI KOMUNIKASI EMPATI. Komunikasi yang
EMPATIK adalah SPESIALISASI saya. I am VERY MUCH
EMPATHETIC, saya bisa langsung baca apa yang ada di
diri rekan komunikasi saya.

Kompatiologi seperti dipraktekkan oleh Vincent Liong
adalah suatu PARODI dari Komunikasi yang empatik.
SUATU PARODI. Suatu BANYOLAN, suatu LAWAKAN.
Komunikasi yang dipraktekkan oleh Vincent Liong itu
adalah KEBALIKAN DARI KOMUNIKASI YANG EMPATIK. Total
kebalikannya ?
Kok bisa ? Ya bisa saja, namanya kan banyolan.
Lawakan. Parodi.

Jadi, kalau anda memiliki PENGERTIAN tentang
KOMUNIKASI YANG EMPATIK, anda akan otomatis mengerti
tentang KOMPATIOLOGI. Kompatiologi itu adalah
KEBALIKAN DARI KOMUNIKASI YANG EMPATIK walaupun
sesumbar sebagai ILMU PEMECAH RAHASIA ALAM SEMESTA
dalam komunikasi menggunakan empati. Hmmm hmmm
hmmm.... Astagfirullah
alazzim Astagfirullah alazzim (nyebut 100 x
dianjurkan)...

Itu komentar saya. Saya _bukan_ pendukung
Kompatiologi. Nama saya dicantumkan dalam IKLAN2
Kompatiologi _tanpa_ ijin saya. Saya biarkan saja. Kan
saya ini BAIK HATI. Hmmm hmmm hmmm...

Hasil dari Kompatiologi Vincent Liong itu apa ? Aduh,
liat aja ndiri deh. Malu komentarinnya,... aku udah
cukup banyak comment. Kalo aku bukain RAHASIA yang
SEMUA ORANG SUDAH TAHU itu, ntar jadinya gak lucu
lagi. Sedangkan, bukankah kelucuan itu yang selama ini
dicari, hmmm hmmm hmmm...

Kompatiologi kan cuma nama saja. Bisa dinamakan
GULALOLOGI. Bisa dinamakan TIPATIPULOGI... Intinya,
dengan nama itu Vincent Liong INGIN BELAJAR bagaimana
caranya berkomunikasi dengan empati. Tetapi caranya
kan SERBA TERBALIK. Wong dia yang mao belajar kok
nulisnya
en ngomongnya DIA YANG MAO NGAJARIN ?

Segalanya itu SERBA TERBALIK.

Untuk mengerti Vincent Liong, SEGALANYA ITU HARUS
DIBALIK. Kalau dia bilang dia TAHU RAHASIA ALAM
SEMESTA, artinya itu KEBALIKANNYA.

Kalau dia bilang dia "diinjak-injak", arti sebenarnya
ya KEBALIKANNYA.

Kalo dia bilang dia punya "nurani", artinya ya
kebalikannya.

Kalo dia bilang dia itu "ilmiah", ya artinya
kebalikannya.

SEMUA SERBA KEBALIKAN.

Untuk mengerti Vincent Liong, segala ucapan dia itu
HARUS DIBALIK. Itu kunci dari THE PUZZLE.

Vincent itu main TEKA-TEKI. Kunci pemecahannya cuma
satu saja, DIBALIK SAJA. Kalau anda balik apa yang
dituliskannya, maka ANDA AKAN MENGERTI APA YANG
DIMAKSUDNYA.

Itu saja komentar saya saat ini. Hmmm hmmm hmmm. Udah
ya, jangan tanya2 lagi ya, TANYA LANGSUNG SAMA
ORANGNYA AJA.

Kalo dijawab, jawabannya DIBALIK AJA. That's THE REAL
ANSWER.

Leo

Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Best of Y! Groups

Check it out

and nominate your

group to be featured.

HDTV Support

on Yahoo! Groups

Help with Samsung

HDTVs and devices

Yahoo! Groups

Find Green Groups

Share with others

Help the Planet.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Fwd: Re: pertanyaanku, bagaimana dari sudut pandangmu?

Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

All together now

Host a free online

conference on IM.

Fitness Challenge

on Yahoo! Groups

Get in shape w/the

Special K Challenge.

Yahoo! Groups

Find Green Groups

Share with others

Help the Planet.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] APAKAH VINCENT LIONG MENJALANKAN KEJAHATAN ?


> Benediktus Sudjanto wrote:
>
> Saya memang pernah dengan keras mengatakan ke kamu,
> kalau kamu itu  menjalankan kejahatan
> karena menjual sesuatu yang tak  jelas manfaatnya
> dan mendapatkan uang.
> ........
> Kalau saya sampai marah itu berarti saya simpati ke kamu,
> karena merasa bahwa kamu masih muda, kekeliruan yang
> sudah dialami, bisa diperbaiki dengan rendah hati, eh
> malah sekarang lebih sombong dari yang mampu saya
> bayangkan untuk seorang manusia.

> ........
> Bayangkan, orang yang kamu dekon dan membayar, kamu
> katakan beberapa kali lewat mulutmu sendiri bahwa kamu
> ingin menjadikan mereka "seperti blackie, anjing gua
> di rumah".
Paling tidak kamu berbelas kasihlah dengan
> mereka yang mau menjadi kelinci/anjing cobaanmu dengan
> membayar uang dan waktu dengan segala keluguan,
> kesopanan, pengharapan, keperluan mereka yang entah
> apa jenis persisnya.


APAKAH VINCENT LIONG MENJALANKAN KEJAHATAN ?

salam,
harez


--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, Vincent Liong <vincentliong@...> wrote:
>
> e-link:
> http://groups.google.com/group/Komunikasi_Empati/msg/24a552c702c63732
>
> Benediktus Sudjanto wrote:
>
> Vincent,
>
> Saya ngajak kamu dan mas Leo itu sebagai pribadi,
> tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya.
>
> Soal uang dalam perjalanan kita tempo hari juga bukan
> masalah bagi saya, kan saya yang menanggung hampir
> semua biaya termasuk kamu naik kuda di Tawangmangu.
>
> Saya tak bingung dan tak perlu bertanya soal
> kompatiologi, kan sebagai pengamat saya juga mengikuti
> sambil lalu. Kan kamu yang menerangkan sendiri dan
> minta bantuan mas Leo menerangkan. Kamu minta masukan,
> yang kamu Kamu dan mas Leo malah berkomentar kesaya,
> kalau kamu bagian urusan instinct (bawah) dan mas Leo
> intuition (atas) dan mendaulat saya di bagian
> "tengah-2" bagian balancing.
>
> Saya kok dikatakan "membentak-bentak seminggu penuh",
> apa itu benar dalam kenyataan? Saya memang pernah
> dengan keras mengatakan ke kamu, kalau kamu itu
> menjalankan kejahatan karena menjual sesuatu yang tak
> jelas manfaatnya dan mendapatkan uang. Kamu promosi
> sesuatu ke saya yang saya tahu tak ada manfaatnya,
> secara terus menerus, menerangkan secara
> berulang-ulang tanpa diminta, menafikan masukan orang
> dan merasa
> terpojok sendiri walau tak ada yang memojokkan. Kalau
> saya sampai marah itu berarti saya simpati ke kamu,
> karena merasa bahwa kamu masih muda, kekeliruan yang
> sudah dialami, bisa diperbaiki dengan rendah hati, eh
> malah sekarang lebih sombong dari yang mampu saya
> bayangkan untuk seorang manusia. Kalau tak perduli,
> kan kamu bisa saya usir, atau saya diam saja,
> meninggalkan pembicaraan yang "percumtakbergun" alias
> percuma
> tak berguna. Paling tidak kamu itu harusnya memiliki
> sopan santu manusia biasa dalam berkomunikasi, saya
> rasa sudah cukup. Sebagai penyandang sendiri "penemu"
> kompatiologi, yang ada kata "empati" nya, saya hanya
> bisa bilang "wah-wah kok begitu".
> Bayangkan, orang yang kamu dekon dan membayar, kamu
> katakan beberapa kali lewat mulutmu sendiri bahwa kamu
> ingin menjadikan mereka "seperti blackie, anjing gua
> di rumah". Paling tidak kamu berbelas kasihlah dengan
> mereka yang mau menjadi kelinci/anjing cobaanmu dengan
> membayar uang dan waktu dengan segala keluguan,
> kesopanan, pengharapan, keperluan mereka yang entah
> apa jenis persisnya. Entah, harus bagaimana lagi saya
> mesti berkomentar, apa ya ada gunanya secara positif
> kalau saya berkomentar lagi, kalau waktu lebih
> seminggu kita bersama kamu katakan bahwa saya
> membentak-bentak kamu?
> Setelah sharing berdua dengan saya di penghujung malam
> masuk pagi waktu di Solo, dengan kejujuranmu dan
> hampir tangismu dan empatiku kekamu serta rencana
> baikmu untuk dengan rendah hati memperbaiki untuk
> dirimu sendiri, lalu kamu menafsirkan bahwa aku hanya
> dituliskan sebagai yang membentak-bentakmu selama
> seminggu. So what gitu loh!
> Yah, bagiku tak apa-2, karena aku tak punya
> kepentingan apa-2 denganmu, hanya empatiku bagi sesama
> yang kebetulan salah satunya kamu yang sempat lewat
> dalam sebagian waktu hidupku, dan kalau itu membuat
> kamu bahagia dengan gaya dan kata-2 mu, ya teruskan
> saja apa yang kamu anggap baik bagimu. Begitu saja ya,
> sudah cukup.
>
> B Sudjanto
>
>
>
>
>
> Email sebelumnya...
> http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/22917
> --- In vincentliong@yahoogroups.com, "vincentliong"
> vincentliong@... wrote:
>
> Mas Leo, inget ngak mas Leo saat elo ngajak gw ke Solo
> bersama B.Sudjanto yang direkturnya pabrik lensa
> Policore anak perusahaan Djarum di Karawang. Saat itu
> gw bilang kalau gw lagi tidak siap uang dan mas Leo
> aturkan agar dalam 5-6 jam kita dijemput di rumah gw,
> kata mas Leo tidak perlu bawa uang.
>
> Ketika awal mas Leo memperkenalkan ulang saya ke B.
> Sudjanto yang dulu juga murid kundalini saya dan pak
> Ngurah Ardika cuma sungkan karena bingung sama
> perkembangan penelitian saya yang terlalu cepat, maka
> nanya ke mas Leo.
>
> Mas Leo ngomong persis sama dengan kalimat-kalimat mas
> Leo di bawah ini. Ini yang membuat gw dibentak-bentak
> seminggu penuh oleh B.Sudjanto gara-gara kalau gw
> bilang ya maka mas Leo tekankan artinya tidak lalu
> kalau gw bilang tidak kata mas leo ya lama-lama gw
> bingung sendiri. Lalu mas Leo juga bilang tentang saya
> yang binatang banget.
>
> Saat itu belum sekalipun saya tegur mas Leo dengan
> halus maupun kasar dan kalau ditegur secara halus
> tambah jadi dan menambah penjelasan membingungkan
> semacam ini dengan dihubungkan dengan intuisi dan
> hal-hal keTuhanan dimana saya yang dikatakan jadi
> setannya.
>
> Mas Leo masih ingat tidak ?
> Tulisan di bawah ini hanya mengulang kalimat yang dulu
> khan ? Sama lho kalimat-kalimatnya, hanya dulu mas
> ngomong ini ke B. Sudjanto di depan saya, dan saat ini
> mas Leo ngomong ke maillist, hanya itu bedanya...
>
> Saat itu saya setress jadi kalau makan sampai
> beol-beol sebagai pelarian, karena saya tidak bisa
> kontrol. B. Sudjantomas Leo panasi bahwa Jin saya yang
> makan dan juga soal keburukan prilaku saya. Depan mata
> saya lho mas Leo, saat itu.
>
> Lalu siapa yang berani menemani mas Leo sekarang ?
> Serem atuh resiko dijadikan umpan ikan :) Saya
> seumur-umur tidak jadikan mas Leo umpan ikan lho,
> inget itu mas Leo.
>
> Ditemani itu mahal mas Leo... Ya jadi umpan buat
> mancing ikan ?!
>
>
> Ttd,
> Vincent Liong
> Jakarta, Senin 22 Oktober 2007
>
>
>
>
>
> Email sebelumnya...
> http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/33111
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com,
> "leonardo_rimba" leonardo_rimba@... wrote:
>
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com,
> Timbangan Balance <timbang.balance@> wrote:
> > Karena Audifax dan Leonardo Rimba adalah mantan
> > pendukung Kompatiologi dan teman dari Vincent Liong
>
> Hmmm,... perlu saya LURUSKAN disini bahwa saya adalah
> seorang PRAKTISI KOMUNIKASI EMPATI. Komunikasi yang
> EMPATIK adalah SPESIALISASI saya. I am VERY MUCH
> EMPATHETIC, saya bisa langsung baca apa yang ada di
> diri rekan komunikasi saya.
>
> Kompatiologi seperti dipraktekkan oleh Vincent Liong
> adalah suatu PARODI dari Komunikasi yang empatik.
> SUATU PARODI. Suatu BANYOLAN, suatu LAWAKAN.
> Komunikasi yang dipraktekkan oleh Vincent Liong itu
> adalah KEBALIKAN DARI KOMUNIKASI YANG EMPATIK. Total
> kebalikannya ?
> Kok bisa ? Ya bisa saja, namanya kan banyolan.
> Lawakan. Parodi.
>
> Jadi, kalau anda memiliki PENGERTIAN tentang
> KOMUNIKASI YANG EMPATIK, anda akan otomatis mengerti
> tentang KOMPATIOLOGI. Kompatiologi itu adalah
> KEBALIKAN DARI KOMUNIKASI YANG EMPATIK walaupun
> sesumbar sebagai ILMU PEMECAH RAHASIA ALAM SEMESTA
> dalam komunikasi menggunakan empati. Hmmm hmmm
> hmmm.... Astagfirullah
> alazzim Astagfirullah alazzim (nyebut 100 x
> dianjurkan)...
>
> Itu komentar saya. Saya _bukan_ pendukung
> Kompatiologi. Nama saya dicantumkan dalam IKLAN2
> Kompatiologi _tanpa_ ijin saya. Saya biarkan saja. Kan
> saya ini BAIK HATI. Hmmm hmmm hmmm...
>
> Hasil dari Kompatiologi Vincent Liong itu apa ? Aduh,
> liat aja ndiri deh. Malu komentarinnya,... aku udah
> cukup banyak comment. Kalo aku bukain RAHASIA yang
> SEMUA ORANG SUDAH TAHU itu, ntar jadinya gak lucu
> lagi. Sedangkan, bukankah kelucuan itu yang selama ini
> dicari, hmmm hmmm hmmm...
>
> Kompatiologi kan cuma nama saja. Bisa dinamakan
> GULALOLOGI. Bisa dinamakan TIPATIPULOGI... Intinya,
> dengan nama itu Vincent Liong INGIN BELAJAR bagaimana
> caranya berkomunikasi dengan empati. Tetapi caranya
> kan SERBA TERBALIK. Wong dia yang mao belajar kok
> nulisnya
> en ngomongnya DIA YANG MAO NGAJARIN ?
>
> Segalanya itu SERBA TERBALIK.
>
> Untuk mengerti Vincent Liong, SEGALANYA ITU HARUS
> DIBALIK. Kalau dia bilang dia TAHU RAHASIA ALAM
> SEMESTA, artinya itu KEBALIKANNYA.
>
> Kalau dia bilang dia "diinjak-injak", arti sebenarnya
> ya KEBALIKANNYA.
>
> Kalo dia bilang dia punya "nurani", artinya ya
> kebalikannya.
>
> Kalo dia bilang dia itu "ilmiah", ya artinya
> kebalikannya.
>
> SEMUA SERBA KEBALIKAN.
>
> Untuk mengerti Vincent Liong, segala ucapan dia itu
> HARUS DIBALIK. Itu kunci dari THE PUZZLE.
>
> Vincent itu main TEKA-TEKI. Kunci pemecahannya cuma
> satu saja, DIBALIK SAJA. Kalau anda balik apa yang
> dituliskannya, maka ANDA AKAN MENGERTI APA YANG
> DIMAKSUDNYA.
>
> Itu saja komentar saya saat ini. Hmmm hmmm hmmm. Udah
> ya, jangan tanya2 lagi ya, TANYA LANGSUNG SAMA
> ORANGNYA AJA.
>
> Kalo dijawab, jawabannya DIBALIK AJA. That's THE REAL
> ANSWER.
>
> Leo
>
> Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

All together now

Host a free online

conference on IM.

Yahoo! Groups

Going Green

Share your passion

for the planet.

Yahoo! Groups

Endurance Zone

A Yahoo! Group

for better endurance.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] APAKAH KAPAL KOMPATI PERLAHAN-LAHAN TENGGELAM ?

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "vincentliong" <vincentliong@...> wrote:
>
> Ketika sebuah kapal psikologi perlahan-lahan tenggelam karena banyak
> bocor, orang psikologi sibuk membuang airnya ke luar tetapi tidak ada
> keinginan atau perasaan mampu untuk mentambal lubang-lubangnya.
> Namanya juga minder :)
>


harez:

Menurut "jurus"nya Mas leo, untuk memahami  tulisan Vincent tersebut di atas, harus dibalik :)

Sumber: http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/33111

Apakah tulisan Vincent Liong tersebut dibacanya:

> Ketika sebuah kapal kompati perlahan-lahan tenggelam karena banyak
> bocor, orang kompati sibuk membuang airnya ke luar tetapi tidak ada
> keinginan atau perasaan mampu untuk mentambal lubang-lubangnya.
> Namanya juga minder :)

Benarkah begitu membacanya Mas Leo ? :)

Apakah Kapal Kompati Perlahan-lahan Tenggelam ?

salam,
harez


--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "vincentliong" <vincentliong@...> wrote:
>
> Mbak Istiani,
>
> "kill and destroy Kim Il Sen" masih tema yang sangat signifikan bagi
> oknum-oknum tertentu lulusan psikologi di Psikologi Transformatif yang
> berusaha membasmi kompatiologi dengan segala cara dan pengorbanan.
>
> Kalau ada sebuah menara gading yang keropos dan tidak tinggi, lalu ada
> menara gading baru yang meski lebih muda umurnya beresiko akan sedikit
> lebih tinggi. Daripada yang lama menjadi tampak tidak tinggi, lebih
> baik yang baru dihalangi menjadi tinggi.
>
> Orang-orang Psikologi ini tidak ada inisatif memperbaiki nasib diri
> sendiri karena malas, yang penting jangan satupun orang lain bisa
> lebih sukses. Jadi sama-sama sial saja.
>
> Ketika sebuah kapal psikologi perlahan-lahan tenggelam karena banyak
> bocor, orang psikologi sibuk membuang airnya ke luar tetapi tidak ada
> keinginan atau perasaan mampu untuk mentambal lubang-lubangnya.
> Namanya juga minder :)
>
> Ttd,
> Vincent Liong
> Jakarta, Senin, 22 Oktober 2007
>
>
>
> Email sebelumnya...
> http://tech.groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/2765
> --- In Komunikasi_Empati@yahoogroups.com, Cornelia
> Istiani istiani_c@... wrote:
>
> Dengan membaca berita di bawah ini...
> masihkah perlu "mbenerin" VCL ??!!
> masihkah perlu "kill and destroy Kim Il Sen" ??!!
>
> atau sebenarnya "perang" ini hanya sebuah gambaran
> dari ketidakmampuan diri sendiri atas kondisi yang
> ada....dan ketidakmampuan "mbenerin" profesi
> sendiri???....
>
> selamat membaca....
>
> salam,
> Istiani
>
>
> ----------------------------------------------------------------------------
> Kompas, Senin, 22 Oktober 2007
>
> Rekrutmen Komisi
> Biaya Mahal, Panitia Seleksi Amatiran
>
> Jakarta, Kompas - Panitia Seleksi yang dibentuk untuk menjaring
> calon-calon anggota komisioner, termasuk hakim agung, ternyata bekerja
> secara amatiran. Akibatnya, biaya rekrutmen miliaran rupiah bisa
> dibilang terbuang sia-sia. Kritik ini disampaikan anggota Komisi III
> DPR Benny K Harman, praktisi hukum Todung Mulya Lubis dan aktivis hak
> asasi manusia Amirruddin Al Rahab, di Jakarta, Minggu (21/10).
> Sejumlah kontroversi muncul, di antaranya tertangkap tangannya anggota
> Komisi Yudisial Irawady Joenoes, polemik soal calon anggota KPU
> Syamsulbahri dan Theofillus Waimuri, serta polemik soal terpilihnya
> Achmad Ali sebagai calon hakim agung dari Komisi Yudisial. Sejumlah
> nama yang dihasilkan Panitia Seleksi Komisi Pemberantasan Korupsi
> (KPK), juga ditolak para aktivis antikorupsi, antara lain nama
> Antasari Azhar. "Bagaimana bisa mendapatkan hasil yang baik, kalau
> Panitia Seleksi bekerja amatiran, setengah hati. Mereka
> mensubkontrakkan pekerjaan ke konsultan psikologi, tidak berupaya
> menginvestigasi calon," kata Amirruddin. Padahal kalau dilihat dari
> biaya yang dikeluarkan bukanlah angka yang sedikit, rata-rata bernilai
> miliaran rupiah, kecuali Komnas HAM sekitar Rp 400 juta dan Komisi
> Penyiaran Indonesia Rp 120 juta. Amirruddin merujuk kinerja sejumlah
> panitia seleksi, seperti pansel KPU yang diketuai Ridlwan Nasir yang
> menggunakan konsultan psikologi Sarlito Wirawan, pansel KPK yang
> dipimpin Men-PAN Taufieq Effendi yang memakai konsultan PT Dunamis;
> Komisi Yudisial saat merekrut calon hakim agung memakai konsultan
> Psikologi dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM). "Bagaimana
> mereka bisa bekerja maksimal, kalau mereka datang ke Jakarta saja baru
> menjelang proses fit and proper test. dan kebanyakan adalah
> orang-orang yang tidak punya waktu," tegas Amirruddin. Benny K Harman
> menilai, metode seleksi yang digunakan Pansel kebanyakan "normatif"
> sehingga tidak dapat digunakan untuk menilai kelayakan menjadi
> pejabat negara. Metode seperti itu juga tidak menjamin lahirnya
> pejabat yang berintegritas. Todung Mulya Lubis, praktisi hukum,
> menyoroti independensi anggota Pansel. "Banyak yang beranggapan hasil
> Pansel tidak bebas kepentingan pihak-pihak yang bermain melalui
> anggota Pansel. Misalnya, orang yang menjadi calon pada pemilu bisa
> lolos jadi calon anggota KPU," ujarnya. Ia juga menyoroti adanya
> pengkaplingan yang terjadi di Pansel KPK. "Sudah ada kapling untuk
> polisi, jaksa," ujarnya. Seleksi di DPR juga tak jauh beda. Menurut
> Todung, DPR tidak memilih calon yang betul-betul handal dan
> berintegritas. (VIN/ANA)
>
> --- End forwarded message ---
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Files to share?

Send up to 1GB of

files in an IM.

Dog Fanatics

on Yahoo! Groups

Find people who are

crazy about dogs.

Athletic Edge

A Yahoo! Group

to connect w/ others

about fitness goals.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Berita Kompas-Senin, 22 Oktober 2007: Biaya Mahal, Pansel Amatiran

--- In Komunikasi_Empati@yahoogroups.com, Cornelia
Istiani <istiani_c@...> wrote:

Dengan membaca berita di bawah ini...
masihkah perlu "mbenerin" VCL ??!!
masihkah perlu "kill and destroy Kim Il Sen" ??!!

atau sebenarnya "perang" ini hanya sebuah gambaran
dari ketidakmampuan diri sendiri atas kondisi yang
ada....dan ketidakmampuan "mbenerin" profesi
sendiri???....

selamat membaca....

salam,
Istiani


harez:

Apa yang dibahas oleh Swas sebenarnya sudah cukup jelas. Saya hanya mau menambahkan beberapa hal.

1. Proses Seleksi biasanya terdiri dari sejumlah tahap. Setahu saya, demikian juga pada proses seleksi yang dikritisi pada tulisan di Kompas tersebut.

2. Salah satu tahap yang umumnya ada dalam proses seleksi adalah pemeriksaan psikologis (lebih dikenal dengan psikotes).

3. Pemeriksaan psikologis dapat dilakukan secara internal oleh anggota tim (jika ada), bisa juga dilakukan oleh konsultan eksternal. Jadi pernyataan Amirrudin bahwa "Mereka mensubkontrakkan pekerjaan ke konsultan psikologi, tidak berupaya menginvestigasi calon" adalah pernyataan yang patut dipertanyakan pemahamannya.

4. Konsultan yang melaksanakan pemeriksaan psikologis biasanya menerima "SPK" (sejenis surat perintah kerja) tentang tujuan pemeriksaan psikologis dan nama-nama peserta yang akan diperiksa. Tujuan pemeriksaan psikologis pada dasarnya adalah gambaran kesesuaian profil kecerdasan, kepribadian dan sikap kerja (baik potensi maupun kompetensi) dengan persyaratan jabatan.

5. Penelitian riwayat hidup (apalagi track record kejahatan, kesesuaian dengan UU, dan hal-hal yang sejenis), tidak dilakukan dalam pemeriksaan psikologis. Pada umumnya hal ini dilakukan pada tahap seleksi awal.

6. Kritik yang diberikan lebih banyak terkait dengan apa yang dikemukakan pada butir 5 tersebut di atas.

7. Kalau kemudian ditemukan bahwa ada yang  "lolos" dari berbagai tahap dalam proses seleksi, bahkan termasuk didalamnya tahapan di Presiden dan DPR, padahal ada berbagai aspek pada butir 5 masih dipertanyakan, maka pernyataan Todung Mulya Lubis yang merupakan bagian penutup dalam artikel tersebut, bisa dianggap sebagai kesimpulan.

> Todung Mulya Lubis, praktisi hukum,
> menyoroti independensi anggota Pansel. "Banyak yang beranggapan hasil
> Pansel tidak bebas kepentingan pihak-pihak yang bermain melalui
> anggota Pansel. Misalnya, orang yang menjadi calon pada pemilu bisa
> lolos jadi calon anggota KPU," ujarnya. Ia juga menyoroti adanya
> pengkaplingan yang terjadi di Pansel KPK. "Sudah ada kapling untuk
> polisi, jaksa," ujarnya. Seleksi di DPR juga tak jauh beda. Menurut
> Todung, DPR tidak memilih calon yang betul-betul handal dan
> berintegritas.


Jika demikian, bagian manakah yang menggambarkan "ketidakmampuan "mbenerin" profesi sendiri"  ?

Apakah ada pesan/maksud tersirat dari tulisan Istiani tersebut di atas ?  :) ;)

Mohon pencerahan. Terima kasih sebelumnya.

salam,
harez


--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "swastinika" <swastinika@...> wrote:
>
>
> Kronologisnya dibenerin dulu aaah :) Dari atas ke bawah :)
>
> Kutipan berita Kompas:
>
> Sejumlah nama yang dihasilkan Panitia Seleksi Komisi Pemberantasan
> Korupsi (KPK), juga ditolak para aktivis antikorupsi, antara lain nama
> Antasari Azhar. "Bagaimana bisa mendapatkan hasil yang baik, kalau
> Panitia Seleksi bekerja amatiran, setengah hati. Mereka mensubkontrakkan
> pekerjaan ke konsultan psikologi, tidak berupaya menginvestigasi calon,"
> kata Amirruddin.
>
> "Bagaimana mereka bisa bekerja maksimal, kalau mereka datang ke Jakarta
> saja baru menjelang proses fit and proper test. dan kebanyakan adalah
> orang-orang yang tidak punya waktu," tegas Amirruddin. Benny K Harman
> menilai, metode seleksi yang digunakan Pansel kebanyakan "normatif"
> sehingga tidak dapat digunakan untuk menilai kelayakan menjadi pejabat
> negara.
>
> Komentar Istiani atas berita di Kompas:
>
> Dengan membaca berita di bawah ini... masihkah perlu "kill and destroy
> Kim Il Sen" ??!!
>
> atau sebenarnya "perang" ini hanya sebuah gambaran dari ketidakmampuan
> diri sendiri atas kondisi yang ada....dan ketidakmampuan "mbenerin"
> profesi sendiri???....
>
> Komentar saya:
>
> Ehmm.. ehm.. Mbak Isti, kalau saya baca tulisan di Kompas tersebut, yang
> dituding sebagai tidak becus Todung Mulya Lubis dkk adalah Panitia
> Seleksi :) Tidak becusnya dimana? Tidak becusnya karena "cuma"
> mengandalkan data2 dari konsultan psikologi untuk mengambil keputusan
> seleksi. Jadi, yang Mbak Isti tuding sebagai tidak mampu mbenerin
> profesi sendiri itu mestinya juga Panitia Seleksi ya ;)?
>
> Akan halnya psikologi sendiri.. well, kalau setahu saya sih memang
> sebuah pengukuran psikologi bukan (dan seharusnya tidak) digunakan
> sebagai justifikasi go or no go dalam pengambilan keputusan :).
> Idealnya, sebuah hasil pengukuran psikologi hanya dijadikan data
> pelengkap untuk seseorang/sebuah badan MENGAMBIL keputusan.
>
> Jika kemudian seseorang/sebuah badan mengambil mentah2 data yang
> didapatkan dari konsultan psikologi dan menggunakannya sebagai penentu
> keputusan.. well, menurut saya sih kesalahan lebih pada si pengambil
> keputusan. Dia terlalu berani untuk mengambil keputusan dari data
> parsial :)
>
> Salam,
>
>
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "vincentliong"
> vincentliong@ wrote:
> >
> > Mbak Istiani,
> >
> > "kill and destroy Kim Il Sen" masih tema yang sangat signifikan bagi
> > oknum-oknum tertentu lulusan psikologi di Psikologi Transformatif yang
> > berusaha membasmi kompatiologi dengan segala cara dan pengorbanan.
> >
> > Kalau ada sebuah menara gading yang keropos dan tidak tinggi, lalu ada
> > menara gading baru yang meski lebih muda umurnya beresiko akan sedikit
> > lebih tinggi. Daripada yang lama menjadi tampak tidak tinggi, lebih
> > baik yang baru dihalangi menjadi tinggi.
> >
> > Orang-orang Psikologi ini tidak ada inisatif memperbaiki nasib diri
> > sendiri karena malas, yang penting jangan satupun orang lain bisa
> > lebih sukses. Jadi sama-sama sial saja.
> >
> > Ketika sebuah kapal psikologi perlahan-lahan tenggelam karena banyak
> > bocor, orang psikologi sibuk membuang airnya ke luar tetapi tidak ada
> > keinginan atau perasaan mampu untuk mentambal lubang-lubangnya.
> > Namanya juga minder :)
> >
> > Ttd,
> > Vincent Liong
> > Jakarta, Senin, 22 Oktober 2007
> >
> >
> >
> > Email sebelumnya...
> > http://tech.groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/2765
> > --- In Komunikasi_Empati@yahoogroups.com, Cornelia
> > Istiani istiani_c@ wrote:
> >
> > Dengan membaca berita di bawah ini...
> > masihkah perlu "mbenerin" VCL ??!!
> > masihkah perlu "kill and destroy Kim Il Sen" ??!!
> >
> > atau sebenarnya "perang" ini hanya sebuah gambaran
> > dari ketidakmampuan diri sendiri atas kondisi yang
> > ada....dan ketidakmampuan "mbenerin" profesi
> > sendiri???....
> >
> > selamat membaca....
> >
> > salam,
> > Istiani
> >
> >
> >
> ------------------------------------------------------------------------\
> ----
> > Kompas, Senin, 22 Oktober 2007
> >
> > Rekrutmen Komisi
> > Biaya Mahal, Panitia Seleksi Amatiran
> >
> > Jakarta, Kompas - Panitia Seleksi yang dibentuk untuk menjaring
> > calon-calon anggota komisioner, termasuk hakim agung, ternyata bekerja
> > secara amatiran. Akibatnya, biaya rekrutmen miliaran rupiah bisa
> > dibilang terbuang sia-sia. Kritik ini disampaikan anggota Komisi III
> > DPR Benny K Harman, praktisi hukum Todung Mulya Lubis dan aktivis hak
> > asasi manusia Amirruddin Al Rahab, di Jakarta, Minggu (21/10).
> > Sejumlah kontroversi muncul, di antaranya tertangkap tangannya anggota
> > Komisi Yudisial Irawady Joenoes, polemik soal calon anggota KPU
> > Syamsulbahri dan Theofillus Waimuri, serta polemik soal terpilihnya
> > Achmad Ali sebagai calon hakim agung dari Komisi Yudisial. Sejumlah
> > nama yang dihasilkan Panitia Seleksi Komisi Pemberantasan Korupsi
> > (KPK), juga ditolak para aktivis antikorupsi, antara lain nama
> > Antasari Azhar. "Bagaimana bisa mendapatkan hasil yang baik, kalau
> > Panitia Seleksi bekerja amatiran, setengah hati. Mereka
> > mensubkontrakkan pekerjaan ke konsultan psikologi, tidak berupaya
> > menginvestigasi calon," kata Amirruddin. Padahal kalau dilihat dari
> > biaya yang dikeluarkan bukanlah angka yang sedikit, rata-rata bernilai
> > miliaran rupiah, kecuali Komnas HAM sekitar Rp 400 juta dan Komisi
> > Penyiaran Indonesia Rp 120 juta. Amirruddin merujuk kinerja sejumlah
> > panitia seleksi, seperti pansel KPU yang diketuai Ridlwan Nasir yang
> > menggunakan konsultan psikologi Sarlito Wirawan, pansel KPK yang
> > dipimpin Men-PAN Taufieq Effendi yang memakai konsultan PT Dunamis;
> > Komisi Yudisial saat merekrut calon hakim agung memakai konsultan
> > Psikologi dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM). "Bagaimana
> > mereka bisa bekerja maksimal, kalau mereka datang ke Jakarta saja baru
> > menjelang proses fit and proper test. dan kebanyakan adalah
> > orang-orang yang tidak punya waktu," tegas Amirruddin. Benny K Harman
> > menilai, metode seleksi yang digunakan Pansel kebanyakan "normatif"
> > sehingga tidak dapat digunakan untuk menilai kelayakan menjadi
> > pejabat negara. Metode seperti itu juga tidak menjamin lahirnya
> > pejabat yang berintegritas. Todung Mulya Lubis, praktisi hukum,
> > menyoroti independensi anggota Pansel. "Banyak yang beranggapan hasil
> > Pansel tidak bebas kepentingan pihak-pihak yang bermain melalui
> > anggota Pansel. Misalnya, orang yang menjadi calon pada pemilu bisa
> > lolos jadi calon anggota KPU," ujarnya. Ia juga menyoroti adanya
> > pengkaplingan yang terjadi di Pansel KPK. "Sudah ada kapling untuk
> > polisi, jaksa," ujarnya. Seleksi di DPR juga tak jauh beda. Menurut
> > Todung, DPR tidak memilih calon yang betul-betul handal dan
> > berintegritas. (VIN/ANA)
> >
> > --- End forwarded message ---
> >
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Instant smiles

Share photos while

you IM friends.

Best of Y! Groups

Check out the best

of what Yahoo!

Groups has to offer.

Yahoo! Groups

Real Food Group

Share recipes

and favorite meals.

.

__,_._,___