Minggu, 09 Maret 2008

[psikologi_transformatif] islat, islib, dan islit...

dari salah satu web site islam...

ISLAT Antara ISLIB dan ISLIT Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
   
Monday, 23 April 2007
Oleh: Muhsin Labib
Di tengah polarisasi dua kelompok dan kecenderungan itu, ada sebuah kelompok kritis yang menggabungkan rasionalitas dan teks. Mereka bukan jadi-jadian. Kelompok ini memiliki akar sejarah yang berpendar dalam filsafat, Kelompok ini muncul sebagai respon atas keberhasilan Imam Khomaini menumbangkan rezim monarki 2000 tahun Pahlevi dan makin kuat setelah kemunculan Mahmoud Ahmadinejad sebagai David di tengah angkara Goliath dunia tak pelak telah melambungkan popularitas mazhab Syiah dan diperlakukan sebagai jalan tengah yang membelah jalan Islam liberal (Islib) dan Islam literal (Islit). Syiah mulai dilirik sebagai Islam alternatif (Islat).
 
Beberapa tahun lalu ia adalah santri di sebuah pesantren tradisional di daerah pesisir di Jawa Timur. Dalam bangunan sederhana di tengah desa yang tidak terlalu subur itu ia tidur di sebuah bangunan sangat sederhana bahkan kurang higienis, menurut standar pola hidup moderen. Ia dengan tekun mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh sang guru yang mengajarkan sistem 'muratan', yaitu studi naskah kitab kuning yang diberi arti dalam bahasa Jawa, mulai dari level dasar dalam bidang gramatika, seperti alfiyah, balaghah dan fikih. Ia juga sangat kalem, bahkan nyaris 'feminin'. Ia betah lama menimba ilmu agama berkat prinsip thuluz-zaman dan mengabdikan dirinya dalam melayani dan mengormati gurunya, bahkan di luar urusan belajar dengan harapan suatu saat akan menjadi kyai terpandang di kampungnya.
Kini keadaan benar-benar berbalik. Setelah mengikuti ujian persamaan dan menenteng ijazah SMA berkat modernisasi yang tak terbendung, ia seakan mengubur semua masa lalunya yang tradisional. Lebih dari itu, setelah berpindah ke ibukota dan menjadi mahasiswa, ia sibuk menenteng buku-buku karya pemikir Barat mulai dari Marx sampai Horkheimer, menghadiri seminar yang dihadiri oleh para narasumber asing, dan aktif dalam kelompok studi yang gemar mendiskusikan wacana-wacana modern, seperti pluralisme, lokasime Islam, feminisme dan segala pemikiran Islam yang anti-tradisonal dan kritis. Setelah menguasai bahasa Inggris dan mampu menulis artikel-artikel yang berisikan apresiasi terhadap pemikiran Barat tentang Islam, ia pun mendapatkan beasiswa studi di Barat dari lembaga-lembaga donor yang sangat berpengaruh. Sepulang dari negeri bule, ia langsung didaulat untuk menjadi pengamat politik dan pakar keislaman. Lembaga-lembaga mentereng langsung melamarnya. Lembaga-lembaga studi menjadi terminalnya. Media-media massa menampung pandangan-pandangannya. Ia sudah bisa dianggap 'mantan santri'. Ia lebih senang bila masa lalunya tidak diingat-ingat. Ia adalah pemegang gelar PhD dari sebuah universitas ternama di Amerika yang sudah menghabiskan banyak paspor karena menghadiri undangan seminar tentang Islam di Austalia, Eropa dan Amerika.
Inilah contoh sebuah generasi Muslim yang jumlahnya sangat banyak. Mereka tersebar di sebagian besar perguruan tinggi Islam negeri maupun swasta di Indonesia. Sebagian dari mereka mendapatkan scholarship di universitas-universitas ternama di Eropa, Amerika dan Kanada dan mengambil studi bidang politik berkat rekomendasi sejumlah LSM dan lembaga yang sangat concern terhadap isu-isu Islam kontemporer. Sebagian melanjutkan ke UIN Syarif Hidayatullah, IAIN Jogjakarta dan Surabaya sambil aktif menulis artikel di sejumlah suratkabar lokal. Umumnya mereka aktif dalam LSM dan lembaga-lambaga yang giat mengadakan workshop dan seminar tentang modernitas, pluralisme dan semacamnya. Sebagian besar dari mereka adalah PNS yang sibuk mengumpulkan KUM agar karir kedosenannya terus menanjak. Kebanyakan mereka adalah anak-anak muda yang cukup cerdas, terbuka, komunikatif, apresiatif terhadap pandangan di luar mean stream dan ramah, meski tidak terlalu relijius (menurut standar normatif).
Beberapa tahun lalu ia hanyalah anak dalam keluarga yang tidak relijius bahkan cenderung 'kejawen' di kawasan yang disebut mataraman. Ayahnya yang pernah menjadi menjadi simpatisan PKI, meski tidak sempat di-pulau buruh-kan, tidak pernah mengajarinya ngaji al-Quran. Di rumahnya juga tidak ada kaligrafi-kaligrafi ayat al-Quran. Shalat dan kegiatan keagamaan tidak pernah menjadi sesuatu yang sangat diwajibkan pada masa kanak dan remajanya. Gaya hidupnya jauh dari relijiusitas. Ia bahkan sempat pacaran dan tidak jejaka lagi.
Setelah lulus SMA, ia dinyatakan lulus seleksi UMPTN dan menjadi mahasiswa fakultas teknik di sebuah perguruan tinggi tekenal di sebuah kota besar. Ia mengikuti ospek dan ditatar oleh sekelompok mahasiswa senior yang memiliki kemampuan mengubah orientasi keagamaan maba (mahasiswa baru) ini. Usai mengikuti opspek, ia 'dibina' dan terus 'digarap' dan dimasukkan dalam kelompok mahasiswa Islam yang cenderung tekstual. Sejak saat itu ia mulai tahu pentingnya shalat dan menjalani Islam sebagai sistem hidup. Kini ia mulai belajar mengaji, bahkan menganggap belajar bahasa Arab sebagai sebuah ketataan. Ia mulai merawat jenggot dan melipat bagian bawah celana sambil membawa al-Qur'an terjemah yang telah diberi tanda-tanda pada halaman-halaman tertentu karena memuat ayat-ayat 'tegas' soal jihad, penegakan 'hukum Allah', dan amar makruf dan nahi mungkar. Buku-buku favoritnya adalah karya-karya tokoh-tokoh Islam fundamentalis, seperti Hasan al-Banna danb Sa'id Hawwa, juga kitab-klitab fikih 'kaku' karya Muhammad bin Abdul-Wahab dan Abdul-Aziz bin Baz. Ia cukup cerdas sehingga diberi beasiswa oleh negara untuk melanjutkan studi S2 dan S3 di Jerman. Di negeri Hitler itu ia tetap bersemangat dengan brotherhoodnya dengan aktif dalam jaringan 'Islam literal' dan seiring dengan intensitas komitmennya, ia pun menjadi tokoh penting dalam hirarki kelompoknya. Sepulang dari negeri itu, ia makin fundamentalis dan makin membenci Barat. Ia kini menjadi salah satu pakar dalam sebuah departemen dan dosen di almamaternya. Pakar metalorgi ini juga aktif dalam penggalangan politik yang menuntut dikembalikannya khilafah ala Otoman di Indonesia, bahkan seluruh dunia. Ia tidak gemar berwacana atau berdiskusi apalagi ngobrol di café.
Inilah contoh dari tipe kedua generasi muda Muslim di Indonesia yang jumlahnya makin banyak. Sebagian dari mereka mulai berpikir realistis dengan memperjuangkan visi keislamannya dalam sebuah organisasi politik formal. Sebagian lain memperjuangkan idealisme melalui organisasi non partai yang menuntut pendirian khilafah di Tanah Air dan seluruh dunia. Ada pula yang aktif dalam organisasi non formal, karena menganggap sistem Negara tidak Islami karena tidak menjalakan hukum Allah, dan karenanya pendirian orpol maupun ormas sama dengan mengakui sistem yang tidak Islami.
Hadirnya kelompok yang dikenal dengan penganut Islam liberal dan semaraknya kelompok Islam literal tidak bisa sepenuhnya dipandang sebagai sebuah fenomena khas Indonesia. Tidaklah berlebihan bila kedua model itu dikaitkan dengan dengan kepentingan hegemoni Barat untuk mengikis militansi di dunia Islam.
Di tengah polarisasi dua kelompok dan kecenderungan itu, ada sebuah kelompok kritis yang menggabungkan rasionalitas dan teks. Mereka bukan jadi-jadian. Kelompok ini memiliki akar sejarah yang berpendar dalam filsafat, Kelompok ini muncul sebagai respon atas keberhasilan Imam Khomaini menumbangkan rezim monarki 2000 tahun Pahlevi dan makin kuat setelah kemunculan Mahmoud Ahmadinejad sebagai David di tengah angkara Goliath dunia tak pelak telah melambungkan popularitas mazhab Syiah dan diperlakukan sebagai jalan tengah yang membelah jalan Islam liberal (Islib) dan Islam literal (Islit). Syiah mulai dilirik sebagai Islam alternatif (Islat).
Seperti dilaporkan Sayed Hosein Nasr, filsafat Islam memiliki kehidupan yang lebih panjang di bagian Timur ketimbang di bagian Barat dunia Islam. Iran tidak hanya memiliki tanah subur yang menyebabkan filsafatnya mampu bertahan hidup sampai sekarang, tetapi juga secara definitif menjadi arena utama aktivitas dalam filsafat Islam. Sekurang-kurangnya, ada dua faktor pendukung berkembangnya pemikiran filsafat di Iran. Pertama, faktor kultural-historis. Kedua, tradisi keagamaan Syi'ah.
Dalam sejarahnya, Iran dikenal sebagai ladang tempat lahirnya filosof, sufi, saintis, dan penyair terkenal. Iran dapat dipandang sebagai tempat yang merepresentasikan kontinuitas perkembangan pemikiran keagamaan, khususnya filsafat selama fase akhir sejarah Islam. Karena itu tidaklah salah bila bertahannya filsafat di Iran dikaitkan dengan latarbelakang kultural yang lekat dengan rasionalitas dan mistisisme Zoroastranisme. Bahkan sebagain gagasan filsafat Mulla Shadra diduga terpengaruhi oleh para filosof era Pahlavi kuno.
Satu kenyataan penting sekaitan dengan perjalanan filsafat dalam sejarah Islam adalah turut andilnya masalah kemazhaban tradisional Islam dalam proses perkembangan pemikiran filsafat. Tanpa perlu menunjuk siapa filosof bermazhab Islam apa, yang jelas, Iran adalah salah satu situs peradaban yang besar (ed.), Routledge's Encyclopedia of Islamic Philosophy, (rearranged into Islamic version by Dr. Mulyadhi Kartanegara), Routledge, London and New York; 1998. hal.10).
Menurut sejarah, penyerbuan Mongol telah menghancurkan dinasti Abbasiah dan membasmi komunitas Muslim di Spanyol. Bersamaan dengan itu, umat Islam pun tenggelam dalam tidur panjangnya. Abad keenam Masehi merupakan awal kebangkrutan umat Islam sunni. Abad ketujuh justru menjadi awal tumbuhnya imperium Islam di belahan Timur dan dunia Syi'ah.
Pada tahun 1499, berdirilah kerajaan Safawi yang bertahan sampai sekitar dua ratus tahun. Pada periode Safawi inilah berkembang berbagai aliran pemikiran dalam matrik mazhab Syi'ah. Salah satu pemikiran yang berkembang pesat adalah filsafat. Filsafat tetap diajarkan, bahkan menjadi sebuah tradisi yang hidup sepanjang zaman di sekolah-sekolah Syi'ah yang didirikan dinasti Safawi. Pada periode Safawi, tepatnya pada abad XIII sampai XVII, filsafat di Iran mencapai puncaknya. Dari hawzah-hawzah itulah, para tokoh filsafat Iran bermunculan. Bahkan, Iran menjadi pusat utama ilmu-ilmu intelektual, khususnya filsafat, bagi dunia Islam yang didatangi umat Islam dari seluruh penjuru dunia.
Perkembangan pemikiran pada zaman dinasti Safawi mempunyai karakteristik khas sebagai mazhab Isfahan. Mazhab ini menampung perkembangan pemikiran mazhab masya'i, isyraqi, 'irfani, dan kalam.
Pada awal awal abad XIX sebelum periode Qajar, filsafat Molla Sadra dibangkitkan kembali secara penuh di Isfahan oleh Mulla Ismail Khajui dan Mulla Ali Nuri. Molla Ali Nuri terkenal sebagai komentator al-Asfar al-Arba'ah karya Molla Sadra, sekaligus mengajarkannya pada generasi setelahnya.
Selama periode Qajar, Tehran secara bertahap meningkat menjadi pusat studi filsafat Islam yang menghasilkan sejumlah guru besar terkenal di akhir periode Qajar dan Pahlewi, seperti Mirza Mahdi Asytiyani, Sayyed Muhammad Kazim 'Assar, Abu al-Hasan Jalweh, dan Tonekaboni.
Selama periode ini, atmosfir hawzah Irak (Najaf dan Karbala), yang semula merupakan pusat pendidikan Syi'ah di seluruh dunia, demikain pula hawzah di Iran (Qom dan Masyhad), kurang mendukung kemajuan pemikiran filsafat, karena kecenderungan pada ilmu-ilmu tekstual, seperti fiqh, yang masih sangat determinan. Bahkan tidak sedikit ulama dan marja' (otoritas hukum) menunjukkan sikap negatif terhadap pengajaran filsafat. Namun keadaan perlahan-lahan berubah ketika muncul halaqah-halaqah pelajar filsafat, irfan, dan ilmu-ilmu rasional yang diasuh beberapa ulama yang dinilai sukses dalam ilmu-ilmu tekstual bahkan bergelar mujtahid.
Molla Husain-Qali yang mengadopsi metode itu mendidik murid-muridnya dengan filsafat Molla Sadra dan sayr suluk spiritual. Walaupun Mirza Hasan putra Akhund Molla Muhammad Ismail Wahidul-Ain Isfahani juga tinggal di Karbala untuk beberapa waktu, namun mayoritas pelajar filsafat di sana menimba ilmu dari Molla Husainquli Hamadani. Tepatnya, Molla Sabzewari memindahkan filsafat dari Sabzawar ke Najaf. Di antara murid tersohor Molla Husain-Quli Hamadani adalah: Sayyed Jamaluddin Asad-Abadi al-Afghani, Sayyed Abdul-Husain Lari, Sayyed Ahmad Karbala'i, Sayyed Sa'id al-Habubi, Agha Muhammad Baqir Istahbanati, Mehdi Ilahi Qomsyeh'i, dan Mirza Jalweh (seorang tokoh filsafat Iran yang hijrah ke Najaf guna menyempurnakan pengetahuannya tentang ilmu naqli).
Di Najaf, Mirza Jalweh memperkenalkan filsafat ketuhanan pada murid-muridnya, seperti Ayatullah Syaikh Muhammad Husain Gharawi Isfahani dan Syaikh Muhammad Ridha Yazdi. Agha Muhammad Baqir Isthahbanati terbunuh pada masa Masyrutiyyat pada tahun 1326 H, di Istahbanat.
Kepindahan Agha Sayyed Muhammad Husain Badkubey ke Najaf juga merupakan faktor lain tersebarnya filsafat di sana. Ia adalah murid Mirza Jalweh, Hakim Esykewari, dan Hakim Kermansyahi, yang mengembangkan filsafat di Najaf. Ia mengabadikan namanya dengan mendidik filosof ketuhanan besar seperti Allamah Sayyed Muhammad Husain Thabathaba'i. Syaikh Murtadha Taleqani, seorang filosof ketuhanan di Najaf yang hidup sezaman dengan Agha Muhammad Husain Badkubey, telah mendidik dan membawa guru besar Allamah Muhammad Taqi Ja'fari kepada dunia pemikiran.
Setelah Perang Dunia II, Iran tetap merupakan tempat subur bagi berkembangnya pemikiran filsafat Islam. Berawal pada tahun 1950-an (pasca Perang Dunia II), terjadi suatu ketertarikan kembali dalam filsafat Islam di Iran. Ini merupakan suatu kebangkitan kembali tradisi filsafat Islam yang belakangan mampu menjawab tantangan pemikiran Barat. Abul-Hasan Rafi'i Qazwini dam Qadhi Said Qummi adalah dua tokoh yang menjadi pelopor pengembangan filsafat pada masa itu.
Apresiasi modern terhadap al-Hikmah al-Muta'aliyah berkembang di kalangan akademisi, atau setidaknya kalangan yang tumbuh dalam pendidikan atau khasanah pemikiran modern. Para figur yang paling menonjol di kalangan ini adalah Henry Corbin, Sayyed Hossein Nasr, dan Mehdi Ha'ri Yazdi. Sementara apresiasi tradisional lebih bertahan di kalangan pesantren atau hawzah ilmiah, khususnya kalangan yang mengenyam pendidikan tradisional keagamaan di Qom.
Allamah Thabathabai dan Imam Khomeni disebut-sebut sebagai 'yang paling bertanggungjawab' menghidupkan filsafat di hawzah ilmiah Qom, yang sebelumnya didominasi oleh para ulama fikih'. Kedua tokoh ini telah mencetak puluhan bahkan ratusan ulama pemikir yang kelak memberikan kontribusi besar dalam memperkenalkan Syiah sebagai mazhab yang mampu mengharmoniskan bayan, burhan dan irfan. Muthahhari melalui karya-karyanya yang sangat luas telah menggoncang blantika pemikiran Islam terutama di dunia Islam yang sebelumnya hanya silau dengan pemikir-pemikir Sunni, seperti Sayed Quthb dan al-Maududi.
Kejutan masih berlanjut. Ternyata di hawzah Qom, telah terjadi pengayaan wacana Islam kontemporer melalui para ulama para murid Khomeini dan Thabathabai. Sejumlah nama bisa dicantumkan antara lain, Abdullah Jawadi Amuli, Hasan Zadeh Amuli, Muhammad Sadegi, Ja'far Subhani, Ali Gerami, Yahya Anshari Syirazi, dan yang paling gres adalah Muhammad Taqi Mishbah Yazdi. Mereka adalah para cohen dan penguasa stoa-stoa pemikiran di Qom.
Kini dengan tampilnya Iran sebagai kekuatan baru di dunia, terutama di Dunia Islam dan sambutan monumental rakyat Indonesia terhadap kedatangan Ahamdinejad ke Indonesia, hipotes ini semakin kuat. Kegigihan gerombolan wahabi dan tekstualis belakangan ini dalam memprovokasi pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk mencurigai Syiah, sebagaimana dilakukan oleh majalah Sabili, makin memperbesar indikasi kekhawatiran makin meluasnya pengaruh pemikiran Syiah. Siapapun, terutama yang anti Syiah, akan bingung mendengar bahwa NU, Muhammadiyah dan Pemerintah menjadi tuan rumah Konferensi Pesratuan Sunni dan Syiah.
Diminatinya wacana Syiah dalam sentra-sentra pemikiran di Indonesia ini sungguh menggembirakan, setidaknya sebagai langkah awal umat Islam untuk memahami bahwa agamanya memiliki warisan kekayaan yang berlimpah; sistem filsafat, teologi, politik, ekonomi, budaya, sistem pemerintahan, yang semuanya terangkum dalam bangunan megah yang sudah terukir berabad-abad.
Mungkin produk-produk gagasan para pemikir Syiah dapat dijadikan sebagai jalan tengah demi menciptakan sebuah formulasi pemikiran Islam yang sesuai dengan heterogenitas bangsa Indonesia.
Karenanya, kehadiran dan kiprah para alumnus hawzah Qom, terutama dari Indonesia, dalam arena pemikiran Islam dewasa ini sangat diharapkan guna mengisi ruang tengah yang kosong dengan 'Islamalternatif' antara Islam liberal yang genit, funky dan 'madani' (civil) dan Islam literal yang angker dan 'medeni' (bahasa Jawa : menyeramkan)!
Tentu, tantangan dan hambatan akan terus menghadang. Namun dinamika waktu dan makin terbukanya akses informasi akan dapat mengatasinya. Bangsa Indonesia kini makin matang dan jenuh dengan penjejalan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok truth claim yang berusaha memasangkan kacamata kuda pada generasi muda yang kritis dan makin cerdas.
Penulis: Alumnus Hauzah Ilmiah Qom, Republik Islam Iran. Kandidat Doktor Filsafat Islam di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat ini aktif sebagai dosen ICAS-Paramadina Jakarta, Menejer Penerbit AL-HUDA, Direktur Penerbit CITRA, Anggota Dewan Redaksi majalah dwimingguan ADIL


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Your school could

win a $25K donation.

Special K Group

on Yahoo! Groups

Learn how others

are losing pounds.

Y! Groups blog

The place to go

to stay informed

on Groups news!

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] mencari manusia setengah dewa...

dari salah satu web site islam...

Mencari Manusia Setengah Dewa

Sejarah & TokohOleh: Dina Sulaeman

Republik Islam Iran memiliki sistem pemerintahan yang berbeda dengan negara-negara lain di dunia. Kepemimpinan tertinggi dalam negara ini dipegang oleh seorang Wali Faqih atau ulama dengan kriteria yang sangat banyak: memiliki keilmuan yang dibutuhkan untuk memberi fatwa dalam urusan agama, memiliki integritas dan kesucian akhlak yang dibutuhkan untuk memimpin umat Islam, dan memiliki visi politik dan sosial, kebijaksanaan, keberanian, kemampuan adiministrasi, dan kemampuan pemimpin yang memadai. Benar-benar kriteria manusia setengah dewa.


----------------------------------------------------

Salju lebat yang datang terlalu cepat, sebelum musim dingin tiba, seolah memberikan warna baru pada pemilu 15 Desember di Teheran. Poster-poster para kandidat pemilu yang digantung di pohon-pohonan Jalan Chamran tampak membeku diselimuti salju. Pemandangan di jalan-jalan besar lain di kota Teheran tak jauh berbeda. Pepohonan, dinding-dinding, pagar-pagar, halte bus, bahkan tiang listrik, penuh dengan tempelan poster-poster para kandidat. Sehari sebelum pelaksanaan pemilu, semua poster-poster itu pun ditarik dan disingkirkan, disaksikan oleh pepohonan yang tengah menahan endapan salju di ranting-rantingnya.

Pemilu yang kali ini diselenggarakan di Iran adalah pemilu yang lain daripada yang lain. Pemilu yang hanya ada satu-satunya di dunia, yaitu pemilu Dewan Pakar (Majles-e Khubregan), sebuah lembaga yang terdiri dari 86 ulama pilihan rakyat dari berbagai penjuru Iran. Posisi para ulama di Dewan Pakar adalah posisi yang sangat krusial karena merekalah yang akan memilih dan menetapkan Wali Faqih, pemimpin tertinggi dalam Republik Islam Iran. Namun anehnya, posisi ini tidak mendatangkan uang karena para ulama yang duduk di Dewan Pakar sama sekali tidak mendapatkan gaji dari negara.

Hiruk pikuk menjelang pemilu sudah terasa sejak dua-tiga bulan menjelang hari H. Namun, yang banyak bersuara adalah para pendukung ulama, bukan ulamanya sendiri, terutama dari kalangan yang menamakan diri kelompok reformis. Mereka membuat weblog-weblog untuk membentuk opini. Sebanyak 495 ulama mendaftarkan diri untuk bertarung dalam pemilu. Mereka kemudian diverifikasi oleh KPU yang juga terdiri dari para ulama. Jauh sebelum hasil verifikasi keluar, kelompok reformis sudah melemparkan ancaman, "Kalau kandidat-kandidat kami tidak lolos seleksi, artinya pemilu ini tidak valid," kata Musavi Lari, seorang ulama reformis garis keras. Namun Musavi Lari akhirnya tetap harus gigit jari karena mayoritas pemilih tetap memberikan suara mereka kepada ulama-ulama dari sayap konservatif.

Verifikasi dilakukan untuk meneliti tingkat keilmuan para kandidat. Para ulama yang boleh duduk di Dewan Pakar haruslah sudah mencapai tingkat "mujtahid" (menguasai keilmuan yang dibutuhkan untuk mengambil deduksi hukum syar'i). Para ulama yang sudah dikenal, antara lain yang sudah bergelar ayatullah bisa dipastikan lolos verifikasi secara otomatis. Namun, nama-nama baru harus mengikuti ujian tulis di bidang hukum Islam. Di kota Teheran, ada 3 ulama perempuan yang mencalonkan diri namun kemudian dinyatakan tidak lulus ujian tulis. Dari 495 pendaftar, ada 166 ulama yang lolos seleksi dan bertarung dalam pemilu. Setiap provinsi di Iran akan mendapat jatah ulama sesuai dengan perbandingan jumlah penduduk. Warga Teheran yang berjumlah 8 juta orang memiliki jatah 16 ulama untuk duduk di Dewan Pakar.

Dalam pemilu kali ini, untuk pertama kalinya ada kandidat yang lolos seleksi meski dia tidak dikenal sebagai ulama dan tidak mengenakan baju jubah khas ulama, yaitu Doktor Mohsen Esmaili. Dia ahli bidang fisika yang kemudian mengambil doktor di bidang hukum. Sambil kuliah di universitas, dia juga menutut ilmu keislaman di hawzah ilmiah, lembaga yang mencetak para ulama di Iran hingga mencapai derajat "mujtahid". Namun rupanya dia tidak berhasil mendapat suara cukup banyak sehingga tidak termasuk dalam 16 ulama wakil rakyat Teheran.

Ketika 86 ulama telah terpilih untuk duduk di Dewan Pakar, mereka akan mengadakan sidang untuk memilih seorang Wali Faqih di antara mereka sendiri. Republik Islam Iran memiliki sistem pemerintahan yang berbeda dengan negara-negara lain di dunia. Kepemimpinan tertinggi dalam negara ini dipegang oleh seorang Wali Faqih atau ulama dengan kriteria yang sangat banyak: memiliki keilmuan yang dibutuhkan untuk memberi fatwa dalam urusan agama, memiliki integritas dan kesucian akhlak yang dibutuhkan untuk memimpin umat Islam, dan memiliki visi politik dan sosial, kebijaksanaan, keberanian, kemampuan adiministrasi, dan kemampuan pemimpin yang memadai. Benar-benar kriteria manusia setengah dewa.

Dua minggu menjelang pemilu, jalanan mulai ramai oleh tempelan poster. Namun poster yang dipajang lebih banyak poster-poster para kandidat Dewan Kota (DPRD) yang digelar bersamaan dengan pemilu Dewan Pakar. Di channel-channel televisi lokal dan radio, para ulama kandidat Dewan Pakar secara bergantian berpidato. Umumnya isi pidato mereka bukan mengkampanyekan diri sendiri, melainkan menjelaskan kepada rakyat Iran apa tugas dan posisi Dewan Pakar dalam sistem negara. Kampanye juga dilakukan dengan memanfaatkan internet, namun lagi-lagi, lebih bertema khutbah dan menjelaskan riwayat hidup tiap kandidat. Di masjid-masjid, kesibukan juga mulai terasa. Para ibu setelah usai sholat berjamaah sibuk berdiskusi, ulama mana yang sebaiknya dipilih dalam pemilu.

Tentu saja tidak semua orang antusias menyambut pemilu ini. Seorang penduplikat kunci yang saya temui di kios kecilnya di Jalan Satarkhan yang penuh dengan ratusan poster kandidat, dengan sengit berkata, "Apa gunanya ikut pemilu?! Yang mereka lakukan hanyalah apa yang mereka inginkan, bukan apa yang kami inginkan!" Ada juga yang tetap ikut pemilu meski skeptis, "Yah, yang penting partisipasi," kata Alireza, seorang lelaki usia 30-an.
Kegiatan politik rakyat Iran tidak bergantung pada partai-partai politik. Dalam pemilu apapun, siapa saja bisa mendaftarkan diri sebagai kandidat, tanpa perlu melewati partai. Namun biasanya, banyak kandidat yang mendapat dukungan dari partai atau lembaga-lembaga semi partai. Secara umum ada dua kubu politik konservatif (ushulgara) dan reformis (eshlahtalab) yang bertarung dalam dunia politik Iran. Ada berbagai kelompok atau lembaga politik yang aktif di kedua kubu. Masing-masing kelompok mengeluarkan list atau daftar nama kandidat-kandiat yang mereka dukung. Kelompok Jameatain (konservatif) misalnya, merilis 16 nama, antara lain Ayatullah Mishkini dan Ayatullah Misbah Yazdi. Sementara itu, kelompok-kelompok reformis, seperti Karguzaran Sazandegi dan Partai Pemuda Iran Islami beraliansi menyusun empat belas nama dalam list mereka, antara lain Rafsanjani, Hasan Ruhani, dan Ghulamreza Rizwani.

Saat saya berjalan-jalan mengunjungi sebuah TPS di kawasan Tehran Barat dan membaur di tengah para pemilih, di sebuah sudut terdengar bisik-bisik dua perempuan, seorang ibu tua dan gadis muda. Si Ibu meminta tolong kepada si gadis untuk menuliskan nama para kandidat pilihannya di atas formulir khusus. Ada tiga lembar kertas sederhana berukuran 20x15 cm yang mirip kwitansi toko, satu kuning emas, satu biru, dan satu lagi merah muda. Di formulir kuning emas ada enam belas kolom kosong yang harus diisi nama-nama para ulama pilihan. Si gadis dengan patuh menuliskan 16 nama ulama dari list Jameatain, pilihan si ibu. Formulir warna merah muda harus diisi kandidat pemilu sela Parlemen (untuk menggantikan anggota parlemen yang mengundurkan diri atau meninggal dunia). Untuk mengisi formulir biru (pemilu dewan kota), si Ibu menyerahkan sebuah brosur kecil. Si gadis protes dengan suara pelan, "Tidak ada gunanya memilih orang-orang ini. Kenapa Ibu tidak memilih orang-orang reformis?" Jawab si ibu, "Ah, biarlah, ini jadi tanggung jawab Ahmadinejad."

Saya melirik brosur itu, ternyata berisi nama-nama kandidat Dewan Kota yang beraliansi di bawah nama Raihane Khus Khedmat. Isu yang tersebar, aliansi itu mendapat dukungan dari Presiden Ahmadinejad. Si gadis kembali diam dan mengisi formulir. Si Ibu duduk di kursi sebelah si gadis, "Aku cuma menjalankan kewajiban syar'i, demi Islam," katanya. "Baguslah," jawab si gadis. Di TPS itu, tampak orang-orang berdatangan bersama keluarga mereka. Anak-anak kecil pun diajak oleh orangtua mereka, membuat suasana ruangan riuh rendah. Semakin siang, antrian panjang mengular sampai keluar ruangan. Membludaknya peserta pemilu membuat KPU memutuskan agar waktu pelaksanaan diperpanjang hingga 3 jam. Di kota Damghan, Iran timur, bahkan dikabarkan ada sepasang pengantin datang ke TPS lengkap dengan pakaian pengantin mereka.

Menurut data dari KPU Iran turn-out vote pemilu kali ini mencapai 61 persen. Sebelumnya, banyak pihak menyatakan bahwa pemilu kali ini adalah ujian untuk Ahmadinejad yang berasal dari kubu konservatif. Bila rakyat banyak yang datang ke pemilu, artinya rakyat masih mendukung kelompok konservatif. Tak heran bila sehari setelah pemilu, Ahmadinejad menulis surat terbuka untuk rakyat Iran, menyatakan terimakasihnya atas kehadiran mayoritas rakyat ke pemilu.

Di televisi nasional diperlihatkan antrian-antrian panjang –di beberapa kota bahkan antrian terjadi di tengah deraian salju—di TPS-TPS yang umumnya digelar di sekolahan atau masjid. Bahkan Presiden Ahmadinejad dan Ketua Parlemen Haddad Adel pun harus rela berdiri mengantri selama lebih sepuluh menit sebelum KTP mereka diberi stempel pemilu dan mendapatkan tiga lembar formulir untuk diisi. Pemilu di Iran selama ini memang diselenggarakan dengan cara yang sangat simpel. Tak dilakukan pendaftaran pemilih. Setiap orang yang mau berpartisipasi dalam pemilu tinggal datang ke TPS terdekat di manapun dia berada dengan membawa KTP yang berbentuk paspor. Di bagian belakang KTP itu ada lembaran khusus tempat membubuhkan stempel-stempel pemilu. Setelah distempel oleh panitia, dia akan mendapatkan formulir untuk diisi nama-nama kandidat pilihannya, lalu dimasukkan ke kotak suara. Selama ini pun kotak suara dibuat dari kardus bekas yang dibungkus kain seadanya. Baru mulai pemilu kali ini disediakan kotak suara permanen dari bahan plastik.

Wewenang seorang Wali Faqih sangat besar, jauh melebihi wewenang seorang presiden. Wali Faqih-lah yang menandatangani surat pengangkatan presiden setelah terpilih melalui pemilu, menghentikan presiden jika Mahkamah Agung memutuskan bahwa presiden tersebut bersalah melanggar tugas-tugas konstitusionalnya atau jika parlemen menyampaikan mosi tidak percaya, menetapkan komandan tertinggi dalam angkatan bersenjata nasional, menyatakan perang dan damai, dan memobilisasi angkatan bersenjata. Selain itu, Wali Faqih berwewenang menunjuk, memberhentikan, dan menerima pengunduran diri dari beberapa lembaga penting, seperti Ketua Mahkamah Agung, Kepala Radio dan Televisi, atau Pemimpin Dewan Pengawal Revolusi Iran.

Saat ini, Wali Faqih Iran dijabat oleh Ayatullah Khamenei. Dia terpilih secara aklamasi dalam sidang Dewan Pakar yang diselenggarakan segera setelah Imam Khomeini meninggal dunia tahun 1989. Sejak itu, setiap kali Dewan Pakar terbentuk melalui pemilu 8 tahun sekali, Ayatullah Khamenei kembali terpilih sebagai Wali Faqih, hingga hari ini. Dewan Pakar juga bersidang setahun sekali untuk mengevaluasi kinerja Wali Faqih. Bila mereka mendapati Wali Faqih tidak menjalankan tugas dengan baik atau melanggar Undang-Undang, Dewan Pakar berhak memberhentikannya dan menggantinya dengan ulama lain.

***

Matahari kota Teheran hari itu memang bersinar cerah dan salju telah berhenti turun, menyisakan gumpalan-gumpalan salju di tempat teduh. Namun, udara tetap terasa dingin menyengat tulang sumsum dan angin bertiup memedihkan mata. Sengatan dingin itu rupanya tak menghalangi orang-orang untuk datang ke kotak-kotak pemilihan suara, untuk mencari dan memilih manusia setengah dewa. Sulit dipercaya bahwa mereka ada, tapi sebagian orang-orang Iran sepertinya meyakininya.[]

Tehran, 17 Des 06


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Reconnect with

college alumni.

Y! Messenger

Instant hello

Chat in real-time

with your friends.

Best of Y! Groups

Check it out

and nominate your

group to be featured.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] beda aliran tetapi satu Tuhan dan satu nabi...

dari salah satu web site islam...

BEDA ALIRAN TAPI SATU TUHAN DAN SATU NABI
Syeikh Ali at-Tazkiri
NU Online, 12 Mei 2006

Selain isu nuklir dan konfrontasi Iran-Amerika Serikat, hal penting lain yang mengemuka dalam acara silaturrahmi rombongan Presiden Iran Mahmoud Ahmadi Nejad dengan PBNU, Jumat (12/5), adalah soal perbedaan aliran di kalangan umat Islam.
Berbagai kalangan yang hadir, entah dari kalangan ulama NU, pejabat dan mantan pejabat, serta dari berberapa organisasi Islam berharap Iran tidak hanya berkonsentrasi pada persoalan nuklir. Iran perlu ikut membuat rintisan-rintisan untuk menggalakkan semacam dialog di kalangan umat Islam dunia.
Mantan Ketua Fatayat NU Dr. Sri Mulyati meminta presiden Iran dapat berperan mengeliminir konflik sosial akibat perbedaan aliran dalam Islam, terutama yang terjadi di Indonesia, pakistan, dan bahkan Iran sendiri. Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi kepada Nejad bahkan mengatakan bahwa kini konflik antara Sunni dan Syi'ah masih berlangsung, bahkan di Iran sendiri. 
Menanggapi itu, Nejad agak bergeming. "Ketegangan yang terjadi antara madzab yang satu dengan yang lain adalah sebab bisikan musuh. Kita harus berusaha mendekatkan hati kita. Di Iran ada at-Tazkiri yang tugasnya mengeliminir percekcokan di antara madzab-madzab yang berbeda," kata Nejad sembari dengan bangga melirik Syeikh at-Tazkiri di sebelahnya.
Syeikh Ali at-Tazkiri, Rektor Universitas Taqribul Madzahib itu akhirnya urun bicara. Menurutnya, persoalan madzab adalah yang sering mengemuka saat ini. Penyelesaiannya juga sangat sulit. Namun, menurutnya, pendekatan penting yang perlu dilakukan untuk mengeliminis konflik sosial akibat perbedaan itu adalah peneguhan sikap bahwa umat Islam itu satu.
"Perbedaan aliran itu nikmat Allah. Jika ada perbenturan penyelesaiannya adalah dengan rasa saling mencintai sesama umat Islam. Yang terpenting kita harus ingat bahwa meskipun berbeda madzab, umat Islam itu satu Tuhan, satu Nabi dan satu kitab suci al-Qur'an," kata Syeikh at-Tazkiri.
Para kiai yang hadir mendengarkan kata-kata at-Tazkiri dalam bahasa Arab itu dengan baik. Beberapa kiai sepuh yang hadir antra lain KH. Idris Marzuki, KH. Masduki Mahfudz, KH. Muchid Muzadi, dan KH. Endin Fahruddin Masturo. Sepertinya semua yang disampaikan Syeikh sudah menjadi prinsip dakwah NU semenjak dulu. Meski begitu, para kiai tetap khidmat, lalu tersenyum dan akhirnya memberi aplus kepada Syeikh: "Setuju...!" (nam)
 


Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Find great recruits

for your company.

Yahoo! Groups

Women of Curves

Discuss food, fitness

and weight loss.

Yahoo! Groups

w/ John McEnroe

Join the All-Bran

Day 10 Club.

.

__,_._,___

Sabtu, 08 Maret 2008

[psikologi_transformatif] untuk elang kecil dyami

dari pengamatan saya sebagai orang bodoh.
anda ini hanya cari perhatian ,dengan mencantumkan nama nama member
milis ini.

anda ini , kebutuhan untuk bicara, didengar ,di perhatikan saya pikir
tidak terpenuhi. makanya milis ini jadi sarana pelampiyasan.

kemudian anda mencoba untuk menyimpulkan kepentingan orang tanpa
melakukan intervie atau konfirmasi terhadap orang yang bersangkutan.
itu watak khas penonton gosip di TV .

kata siapa saya sedang mendata nama sekolah untuk dikirimi
proposal ???? ungkapan saya itu humor ,serius atau bohong . apa anda
tahu bedanya ??

ha...67x

terus kalo saya bilang ,saya ini sedang menjalani hukuman di Nusa
kambangan ,apa anda percaya ??

kalau saya bilang saya ini ,jari kakinya ilang 1 ,karena tertembak
waktu perang di kandahar ,afganistan -tahun 2002 ,apa anda
percaya ??

oalah..ijin dulu dong mas.

, kalau mau mencantumkan nama orang lain.
kalau anda minta ijin sama saya ,saya ijinkan dengan syarat:

kirimkan foto anda ,dengan posisi bergantung di pohon dengan kaki di
atas dan kepala di bawah seperti kelelawar .

kalau mampu , baru saya kasih ijin mencantumkan nama saya dan
kepentingan saya di milis psiko trans.

salam topo kalong,
edy
pekalongan

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

new professional

network from Yahoo!.

Popular Y! Groups

Is your group one?

Check it out and

see.

Yahoo! Groups

Women of Curves

Discuss food, fitness

and weight loss.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] persatuan sunni-syiah menurut quraish shihab..

dari salah satu web site islam...

Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan: Mungkinkah? Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
   
Thursday, 10 May 2007
Oleh: M Anis Maulachela
Sayang sekali, tanpa disadari beliau telah terjebak dalam propaganda yang dihembuskan dan dimotori Amerika, yang didukung oleh kelompok takfiriyah (yaitu segelintir ekstremis Muslim yang menganggap kafir Muslim lainnya yang tak sepaham dengan mereka), dan sisa-sisa pengikut Saddam atau partai Ba'ats. Rekaman video juga membuktikan bahwa tentara AS telah melakukan aksi-aksi teror dengan mengenakan pakaian milisi Irak. Dan sebagaimana yang diberitakan, sekitar 70 persen dari korban tewas akibat teror yang dilakukan selama ini adalah justru orang-orang Syi'ah di Samarra, Kazhimain, Najaf, Karbala, dan kantung-kantung Syi'ah lainnya melalui aksi-aksi bom mobil dan bom bunuh diri yang mengatasnamakan jihad. Jadi, sebenarnya tak ada konflik sektarian di Irak, melainkan kaum Syiah dan Sunni telah sama-sama menjadi korban konspirasi musuh.
RESENSI BUKU
Judul       : Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan: Mungkinkah?
Penulis    : Dr. M. Quraish Shihab
Penerbit  : Lentera Hati
Cetakan  : Pertama, Maret 2007
Halaman  : 303 + ix
Bulan lalu (3-4 April 2007), Indonesia menjadi tuan rumah sebuah event internasional bertajuk Konferensi Ulama Sunni-Syiah. Konferensi yang berlangsung di Istana Bogor ini diprakarsai oleh NU, serta didukung oleh Muhammadiyah dan pemerintah. Sebagaimana tercermin dalam pernyataan Hasyim Muzadi dan Dien Syamsuddin tentang pentingnya menggagalkan upaya musuh dalam memecah-belah Muslimin, konferensi ini diharapkan mampu menghasilkan piagam persatuan umat Islam.
Namun, masih saja ada segelintir orang, yang melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan semangat persatuan itu. Pernyataan provokatif Syaikh Yusuf Qardhawi (salah seorang ulama besar) bahwa kaum Syiah Irak telah membantai kaum Sunni di sana saat berkunjung ke Indonesia (Januari 2007) adalah salah satu di antaranya. Meskipun, pernyataan beliau itu pada kenyataannya tidak memperoleh porsi pemberitaan yang besar. Hal ini dikarenakan dunia pers tentu lebih mampu memilah berita dan opini, bahwa yang terjadi di Irak bukanlah konflik Syiah dan Sunni, apalagi pembantaian kaum Syiah terhadap kaum Sunni.
Sayang sekali, tanpa disadari beliau telah terjebak dalam propaganda yang dihembuskan dan dimotori Amerika, yang didukung oleh kelompok takfiriyah (yaitu segelintir ekstremis Muslim yang menganggap kafir Muslim lainnya yang tak sepaham dengan mereka), dan sisa-sisa pengikut Saddam atau partai Ba'ats. Rekaman video juga membuktikan bahwa tentara AS telah melakukan aksi-aksi teror dengan mengenakan pakaian milisi Irak. Dan sebagaimana yang diberitakan, sekitar 70 persen dari korban tewas akibat teror yang dilakukan selama ini adalah justru orang-orang Syi'ah di Samarra, Kazhimain, Najaf, Karbala, dan kantung-kantung Syi'ah lainnya melalui aksi-aksi bom mobil dan bom bunuh diri yang mengatasnamakan jihad. Jadi, sebenarnya tak ada konflik sektarian di Irak, melainkan kaum Syiah dan Sunni telah sama-sama menjadi korban konspirasi musuh.
Tak hanya itu, pernyataan provokatif kembali beliau lontarkan pada Muktamar Doha (Qatar), di bulan yang sama, bahwa Al-Quran Iran telah mengalami distorsi (tahrif), alias berbeda dengan Al-Quran yang berada di tangan Muslimin. Pernyataan ini jelas mengorek kembali tuduhan-tuduhan klasik, yang telah dijawab oleh banyak ulama Syiah.
Bahkan belakangan muncul "para pemain lama", yang berupaya memprovokasi Muslimin di Indonesia agar melenyapkan Syiah dari negeri ini. Peristiwa teror terhadap jama'ah Syiah di Bondowoso, Sampang, dan Bangil boleh jadi hanya sebagian kecil dari akibat provokasi ini. Padahal, aksi mereka itu tak membawa manfaat apa pun kecuali menjadikan mereka sebagai bagian dari konspirasi Zionisme Internasional, khususnya dalam upaya menghancurkan Muslimin.
Melihat kenyataan yang amat memprihatinkan itu, Dr. Quraish Shihab melalui buku ini mencoba untuk mengajak ke arah persatuan umat, apa pun mazhab mereka. Sunni dan Syiah, meskipun memuat banyak perbedaan dalam terminologi Ushuludin dan Furu'udin, tidak berarti mustahil untuk bergandengan. "…tiada lain tujuan penulis kecuali terjalinnya hubungan harmonis antar semua kelompok umat Islam, bahkan seluruh umat manusia," ujar beliau (hal ix).
Dalam buku ini yang sebenarnya merupakan kumpulan dari makalah beliau dalam acara diskusi di Masjid al-Aqsha, Ujung Pandang, pada 1980 terkesan seolah beliau "membela" pandangan-pandangan Syiah. Akibatnya, beliau pun dituding oleh sebagian orang sebagai seorang Syiah. Bahkan hanya mencantumkan argumen Allamah Thabathabai saja dalam kitab beliau Tafsir al-Mishbah, tudingan serupa juga terlontar. Namun, tudingan-tudingan tersebut beliau tampik. Sebagai gantinya, beliau mengatakan, "Amanah ilmiah menuntut agar menyampaikan apa yang diyakini, khawatir jangan sampai sikap diam dinilai Allah sebagai menyembunyikan kebenaran." (hal viii)
Sebenarnya apa yang dilakukan beliau itu wajar saja, karena posisi Syiah adalah minoritas di antara komunitas Muslimin di dunia. Sehingga, sudah selayaknya kelompok mayoritas mengenal ajaran dan pandangan Syiah yang sesungguhnya. Dengan demikian, tudingan-tudingan klasik sebagaimana yang dikorek kembali oleh Syaikh Yusuf Qardhawi di atas diharapkan tidak muncul lagi di tengah masyarakat seiring membaiknya pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap ajaran Syiah.
Dengan gaya bahasa santun, buku ini mengajak pembaca untuk meneropong isu-isu penting mazhab Syiah seperti Imamah, Sahabat, Taqiyah, Tahrif, Raj'ah, Bada', dan lain-lain yang kerap didistorsi dan disalahpahami, sehingga banyak memancing cemooh bahkan hujatan oleh kalangan pengikut mazhab non-Syiah.
Memang telah banyak buku-buku dari kalangan ulama Syiah, yang membahas secara mendalam isu-isu tersebut. Namun, yang menarik dari buku ini adalah penulis mengambil referensi dari para ulama Ahlusunnah kontemporer, seperti Muhammad Rasyid Ridha, Abdulhalim Mahmud, Muhammad 'Imarah, Mahmud Syaltut, dan lain-lain. Bahkan disertakan pula teks asli bahasa Arabnya pada kalimat-kalimat kutipan.
Meskipun beberapa bahasan dalam buku ini masih perlu didiskusikan lagi, namun secara umum buku ini bagus, ilmiah, dan perlu dibaca. Terutama, yang perlu disoroti adalah misi buku ini, yaitu persatuan umat Islam dan terjalinnya hubungan harmonis di antara berbagai pengikut mazhab dalam Islam.[] Wallahul Musta'an




Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Find great recruits

for your company.

All-Bran

10 Day Challenge

Join the club and

feel the benefits.

Get in Shape

on Yahoo! Groups

Find a buddy

and lose weight.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Mendadak Seleb

Bu/Pak Mod, numpang promosi diri yaa, hehe! Thank you... :)

===

ayoo semua mari menonton FTV terbarukuuu...

GalaSinema "
Mendadak Seleb"

Senin, 10 Maret 2008 jam 22:00 WIB (sepuluh malam!) di SCTV

Pemain:
Vicky Nitinegoro, dll...

Penulis skenario:
MELODY MUCHRANSYAH...

nonton yaa!!!

thanks,

melody
nuts_gal@yahoo.com
===


Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Reconnect with

college alumni.

Curves on Yahoo!

Share & discuss

Curves, fitness

and weight loss.

Check out the

Y! Groups blog

Stay up to speed

on all things Groups!

.

__,_._,___