Sabtu, 27 Oktober 2007

[psikologi_transformatif] Re: Psikologi ala Pak Jusuf Sutanto - untuk Swas


JS:
> MEMPERLUAS WAWASAN ADALAH SATU HAL, KITA BISA JADIKOLEKTOR ILMU . SEPERTI MENGGALI SUMUR TAPI BELUM KETEMU SUMBER AIRNYA.MENEMUKAN THE HIDDEN CONNECTIONS ADALAH HAL YANG LAIN. LIHAT BUKU FCAPRA THE HIDDEN CONNECTIONS

harez:
Gagasan Nonaka & Takeuchi tentang knowledge creation dalam knowledge management, pada dasarnya mengembangkan sejumlah prosedur untuk mengubah "tacit knowledge" (termasuk di dalamnya adalah the hidden connections, lihat juga tulisannya Polanyi tentang hal ini), menjadi "explicit knowledge" melalui siklus yang banyak dikenal dengan sebutan SECI.

JS:
> DILANJUTKAN DALAM REVITALISASI PERTANIAN , DIJELASKAN BAHWA ILMUPENGETAHUAN HARUS SAMPAI PADA WISDOM. ILMUWAN BUKAN SEKEDAR KOLEKTORINFORMASI.
>


harez:
Dalam knowledge management, hal tersebut juga dibahas dalam knowledge ladder:  data-information-knowledge-wisdom

Info lebih lanjut antara lain dapat dilihat di:
http://en.wikipedia.org/wiki/DIKW
http://www.systems-thinking.org/dikw/dikw.htm
http://www-personal.si.umich.edu/~nsharma/dikw_origin.htm

Dalam knowledge management, juga dikaji Wisdom Management. Antara lain dapat dilihat di:
http://dtcn-wisdom.jp/
http://eprint.uq.edu.au/archive/00003271/

salam,
harez


--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, Jusuf Sutanto <jusuf_sw@...> wrote:
>
> Mbak Swas,
> Saya coba response sbb.
> Karena tidak ketemu caranya untuk membuat tulisan berwarna, maka saya pakai huruf kapitel aja.
> Semoga bermanfaat.
>
> ----- Pesan Asli ----
> Dari: was_swas was_swas@...
> Kepada: psikologi_transformatif@yahoogroups.com
> Terkirim: Jumat, 26 Oktober, 2007 6:16:54
> Topik: [psikologi_transformatif] Re: Psikologi ala Pak Jusuf Sutanto - untuk Swas
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Pak Jusuf yth,
>
> Kalau soal konstruktif, memang concern saya & Mas Wolker sejak dulu adalah mengenai konstruksi isi message di milis ini. Tapi karena yang empunya milis sudah menjelaskan visinya tentang milis ini, saya menghormati visinya walaupun berbeda dengan saya. Jadi, kemarin2 sih lebih banyak mengamati daripada nyemplung :)
>
> Saya jawab sedikit saja yang saya mengerti ;). Yang lainnya agak berputar dan membingungkan kapasitas prosesor di kepala saya yang terbatas ini :)
>
>
> >
> Saya mengerti maksud Bapak, dan tidak menentang hal itu. Saya hanya mempertanyakan usul Bapak bahwa pendidikan S1 difokuskan pada hal itu. Pencerahan bukanlah sesuatu yang bisa diajarkan. Pencerahan adalah sesuatu yang harus dicapai dengan usaha dan kesadaran pribadi :) Menurut saya, kita belum bisa meng-klaim pencerahan seperti ini sebagai tujuan pendidikan formal. As hard as it is, mau nggak mau kita harus mengakui bahwa dunia pendidikan formal sedikit banyak harus berkompromi dengan tuntutan dunia bisnis.
> JUSTERU DUNIA BISNIS DENGAN WACANA HUMAN CAPITAL DEVELOPMENT INI HARUS DIRESPONSE KARENA PENTING BAGI MASA DEPAN BANGSA DAN MEMBERIKAN REWARD YANG SANGAT BAIK
> PSIKOLOG BISA MEMBANTU INSTITUTIONAL BUILDING UNTUK PARTAI POLITIK SUPAYA BISA SUNGGUH-SUNGGUH MENJADI PILAR DEMOKRASI.
> PENDIDIKAN KADER DI PARPOL YANG BERDASARKAN WAWASAN KAMI, BAGAIMANA BISA MENGHASILKAN PEMIMPIN BERWAWASAN KITA / NASIONAL. KARENA ITU YANG SAAT INI TERJADI HANYA SEBATAS MENYEWAKAN KENDARAANNYA UNTUK FIGUR-FIGUR YANG MEMANG SUDAH DIKENAL SEBAGAI TOKOH YANG BISA MENAMPUNG
>
>
> Beberapa waktu lalu, Bapak mempertanyakan apakah orang tua masih mau menyekolahkan anaknya ke Fakultas Psikologi jika mereka melihat [meminjam istilah Bapak] "debat pepesan kosong" di milis ini sebagai benchmark pendidikan psikologi. Well, saya rasa pertanyaan yang sama juga dapat diajukan jika Fakultas Psikologi menawarkan pencerahan sebagai apa yang didapat dalam pendidikan psikologi :). It's something good, Pak, but it's too good to be true.
>
> Tapi kalau Pak Jusuf bisa menjabarkan dengan jelas dan spesifik tentang bagaimana mewujudkan ide Bapak, mungkin ide ini bisa lebih mudah diterima. Ide Bapak baik, tapi terus terang saya sendiri bingung dan tidak dapat membayangkan bagaimana hal itu diwujudkan dalam kenyataan :) Mohon pencerahannya :)
>
>
> SEBAIKNYA PADA TAHUN PERTAMA DIMANTAPKAN DULU PEMAHAMAN TENTANG SIAPA MANUSIA SEBAGAI BAGIAN DARI KESELURUHAN.
> KONSEP TENTANG THE EVERLASTING TRUTH OF "EVERYTHING CHANGES" SEHINGGA TIDAK PERLU DITAKUTI-TAKUTI DENGAN INTIMIDASI " BERUBAH ATAU MATI "
>
> BELAJAR PSIKOLOGI PADA HAKIKATNYA BUKAN MENJADI KOLEKTORM ILMU PENGETAHUAN, TAPI MEMBUAT DIRINYA SEPERTI GURINDA SEHINGGA BISA MENGGURINDA ORANG LAIN.
> ADA BERBAGAI MACAM LATIHAN YANG BISA DIPAKAI UNTUK MENEMPA INI.
>
> Untuk yang ini saya tidak mau berkomentar panjang :). Cukup saya sampaikan ulang pada Pak Jusuf saran yang sudah disampaikan oleh Mas Wolikertajiwa tentang memperluas wawasan :)
>
>
> MEMPERLUAS WAWASAN ADALAH SATU HAL, KITA BISA JADI KOLEKTOR ILMU . SEPERTI MENGGALI SUMUR TAPI BELUM KETEMU SUMBER AIRNYA. MENEMUKAN THE HIDDEN CONNECTIONS ADALAH HAL YANG LAIN. LIHAT BUKU F CAPRA THE HIDDEN CONNECTIONS
>
>
> Komentar kecil saja: jika memang Bapak percaya bahwa "suatu realitas dibiarkan dibahas sehingga ditemukan hubungan terkaitnya", mengapa Bapak menganggap ada debat pepesan kosong di milis ini ;)? Mengapa tidak diterima saja hal ini sebagai realitas, dan kita lihat nanti dimana hubungan terkaitnya ;)?
>
> DALAM BUKU VISI BARU KEHIDUPAN, DAOED JOOESOEF MENULIS HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN YAITU : MEMBUAT ORDER DARI CHAOS , MEMBUAT BEAUTY DARI VARIETY.
> DILANJUTKAN DALAM REVITALISASI PERTANIAN , DIJELASKAN BAHWA ILMU PENGETAHUAN HARUS SAMPAI PADA WISDOM. ILMUWAN BUKAN SEKEDAR KOLEKTOR INFORMASI.
>
> Dari sudut tempat saya melihat, pernyataan Bapak tersebut adalah sebuah bentuk "menerapkan logika untuk menganalisa sehingga realitas dianggap sebagai penjumlahan dari logi-logi" ;). Hanya saja, di kasus ini, mungkin lebih dapat dikatakan sebagai "penjumlahan dari interpretasi terhadap cerita2 Zen/Kearifan Kuno" :)
> DALAM BUKU KEARIFAN TIMUR, BISA DISIMAK BAGAIMANA DAMPAK PERBEDAAN EPISTEMOLOGI ANTARA BARAT DAN TIMUR
>
>
>
> > =======
>
> Salam,
> JUSUF SUTANTO

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Food Lovers

Real Food Group

on Yahoo! Groups

find out more.

Featured Y! Groups

and category pages.

There is something

for everyone.

Move More

on Yahoo! Groups

This is your life

not a phys-ed class.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: To Swas...Sumber dari dugaan Milis Psitrans bertujuan mempermalukan anggotanya

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "ratih ibrahim"
<personalgrowth@...> wrote:
>
> seingat gue iklan itu reaksi Audifax
> setelah Vincent bikin ulah dengan bomb mail
> agar member milis Psitrans pada keluar
>
> jadi jangan sewottttt doooonggggg kalo dibalik
> kondisi Vincent dijadikan iklan
> biar orang pada masuk milis Psitrans
>
>
> bude Tih
>
>
> On 10/26/07, monde78100 <monde78100@...> wrote:
> >
> > Cuplikan dari messeage no. 26604 di milis psitrans (lihat
bagian bawah
> > artikelnya)
> > """"""""""
> > Subject: PERANG, KEMATIAN DAN PARA KSATRIA
> > Date: Wed Jul 18, 2007 1:57 am
> > From: <audivacx@... <audivacx%40yahoo.com>>
> >
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/26604
> > """"""""""
> >
> > Audifax wrote:
> >
> > Khusus rekan-rekan di milis lain yang pernah merasa Vincent Liong
> > mengacau di milisnya dan saat itu anda tak mampu berbuat apa-apa
> > selain mem-banned-nya, bergabunglah di milis Psikologi
Transformatif
> > dan saksikan tragedi Vincent Liong dihujani pertanyaan kritis
(yang
> > membuatnya tersudut) oleh para member milis Psikologi
Transformatif.
> >
> > Dihujani pertanyaan kritis? Apakah pertanyaan kritis itu termasuk
> > menyerang dengan caci-maki?
> >
> > Bagaimana cermatannya mbak Swas?
> >
> > Mondeee...mau nambah?
> >
> > mengherankan, banyak caci maki, kekanak kanak an

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Instant hello

Chat over IM with

group members.

Real Food Group

Share recipes

and favorite meals

w/ Real Food lovers.

Curves on Yahoo!

A group for women

to share & discuss

food & weight loss.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Carrot and Stick > P. Jusuf

Yupp !!!  Pernah pak Jusuf :)

Di fakultas psikologi UI telah dikembangkan program studi SDM-KM (SDM-Knowledge Management).  Setahu saya, program studi ini adalah program studi formal pertama tentang KM di Indonesia.

Pendekatan yang lebih banyak dikaji adalah 3rd generation knowledge management, "Agile Knowledge Workers". Dari waktu ke waktu, peminatnya semakin meningkat. Komunitasnya juga sudah terbentuk Pak dan secara berkala mengadakan round table.

Nonaka pernah datang ke F.Psi.UI (2005) dan menyampaikan pemikirannya soal KM. Apakah waktu itu bapak ikut seminarnya ?

Fotonya bisa dilihat di:
http://f9g.yahoofs.com/groups/g_10594859/.HomePage/__sr_/939f.jpg?grAKSJHBcPZkd9O0 

JS:
> Melalui cara ini barangkali kita bisa mengembangkan The Learning Nation
> sehingga masalah KKN bisa diatasi seluruh bangsa, bukan hanya urusan
> penegak hukum saja.. Solusi ini lebih berbudaya daripada sekedar stick and carrot,
> meski kita perlu law enforcement juga ya !

harez:
Menurut Kwik Kian Gie, keberhasilan pemberantasan korupsi di Singapura dan China justru berhasil karena mempergunakan pendekatan carrot and stick.

salam,
harez


--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, Jusuf Sutanto <jusuf_sw@...> wrote:
>
> Pak Harez,
> Apakah anda pernah mendengar nama Peter Senge , pakar manajemen The Learning Organization ?
> Itulah sistem manajemen yang mengajak ' dari raja sampai rakyat jelata supaya mau terus belajar '
> Sistem manajemen ini berdasarkan konsep Konfusianism yang tentu kental dengan psikologi transpersonal dan transformatif.
> Ini yang saya mau ajak Fakultas Psikologi di Indonesia karena melalui ini kompetensi yang anda pelajari bisa disalurkan.
> Konfusianism bersifat universal dan bisa diterima oleh siapa saja karena bukan agama.
> Melalui cara ini barangkali kita bisa mengembangkan The Learning Nation sehingga masalah KKN bisa diatasi seluruh bangsa, bukan hanya urusan penegak hukum saja..
> Solusi ini lebih berbudaya daripada sekedar stick and carrot, meski kita perlu law enforcement juga ya !
>
> Salam,
> Jusuf Sutanto
>
> ----- Pesan Asli ----
> Dari: sinagahp sinagahp@...
> Kepada: psikologi_transformatif@yahoogroups.com
> Terkirim: Sabtu, 27 Oktober, 2007 8:59:38
> Topik: [psikologi_transformatif] Re: Carrot and Stick > P. Jusuf
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Pak Jusuf Yth.,
>
> Terima kasih untuk pembukaan cakrawala yang pak Jusuf berikan :)
>
> Pada dasarnya, saya menangkap ada dua hal yang perlu diperhatikan dari tulisan bapak tersebut.
> 1. Perlunya pembinaan diri dan sumbangsih psikologi untuk itu.
> 2. Sumbangsih psikologi (ie. solusi konseptual) untuk pemberantasan korupsi.
>
> JS:
> > Komunitas psikologi, bukan sosial politik atau hukum sehingga merasa awam
> > untuk memberikan solusi konseptual bagaimana sistem memberantas KKN.
>
> harez:
> Sekitar satu tahun yang lalu, saya pernah menelusuri skripsi, tesis dan disertasi di F.Psi.UI. Saya hanya menemukan satu skripsi (Dede Andarso) dan satu tesis (Adrianus Meliala) yang mengkaji tentang korupsi. Hal tersebut tampaknya sejalan dengan apa yang pak Jusuf kemukakan ... :) :( Setelah itu saya belum pernah menelusurinya lagi.
>
> Dari kedua kajian tersebut, saya relatif tidak menemukakan solusi konseptual yang komprehensif tentang pemberantasan korupsi. Keduanya lebih merupakan studi eksploratif/ deskriptif.
>
> Karenanya, saya tertarik dengan gagasan carrot dan stick yang dikemukakan oleh Kwik Kian Gie ini.
>
> Ditunggu pencerahannya lebih lanjut pak Jusuf. Khususnya mengenai prinsip-prinsip kearifan timur yang mendasari gagasan "Carrot & Stick" serta prinsip "reward & punishment" sebagaimana yang saya kemukakan pada tulisan saya yang terdahulu. Terima kasih sebelumnya
>
> salam,
> harez
>
> NB:
> Ajaran kuno Kitab Thay Hak / The Great Learning :
> > Dengan hati yang lurus , akan dapat membina dirinya sehingga dapat
> > membereskan rumahtangganya dan setelah itu mengatur negaranya
> > sehingga tercapailah damai di dunia.
>
> Rasanya koq agak "loncat" ya pak, dari tingkat keluarga, langsung ke negara. Lebih afdol rasanya kalau ada tingkatan di bawah negara. Misal rumah tangga, lingkungan/komunita s, baru negara. Apa aslinya memang begitu pak ?
>
> ============ ========= ========= ========= ========= ========= ===
>
> --- In psikologi_transform atif@yahoogroups .com, Jusuf Sutanto jusuf_sw@ wrote:
> >
> >
> > Mas Harez,
> > Anda mulai membawa angin segar dengan melontarkan issue baru yang sangat penting spy kita tidak terus menerus ngurusin orang yang bernafas dalam lumpur seperti anjing yang mengerubuti tulang.
> > Sebagai langkah pembukaan dialog ini saya mencoba membuka cakrawala spy kita bisa semakin memahami masalahnya.
> > Jika dan hanya jika masalahnya sdh dipahami, maka jawabannya sdh ada di dalamnya seperti ' di dalam biji sudah ada pohon '. Banyak seminar yang gagal karena sebelum masalahnya jelas, kita sudah beradu mulut untuk mencari penyelesaiannya.
> > Kita bisa mengacu pada ajaran kuno Kitab Thay Hak / The Great Learning sbb. :
> >
> > " Orang zaman dulu yang hendak menggemilangkan kebajikan yang bercahaya pada tiap umat di dunia,
> > Ia lebih dulu berusaha mengatur negaranya ; untuk mengatur negerinya ia lebih dulu membereskan rumah tangganya.
> > Untuk membereskan rumah tangganya , ia lebih dulu membina dirinya.
> > Untuk membina dirinya, ia lebih dulu meluruskan hatinya.
> > Untuk meluruskan hatinya , ia lebih dulu memantapkan tekadnya.
> > Untuk memantapkan tekadnya, ia lebih dulu mencukupkan pengetahuannya.
> > Dan untuk mencukupkan pengetahuannya, ia meneliti hakikat tiap perkara.
> >
> > Dengan meneliti hakikat tiap perkara, maka cukuplah pengetahuannya.
> > Dengan cukup pengetahuannya, ia dapat memantapkan tekadnya
> > Dengan memantapkan tekadnya, akan dapat meluruskan hatinya.
> > Dengan hati yang lurus , akan dapat membina dirinya sehingga dapat membereskan rumahtangganya dan
> > setelah itu mengatur negaranya sehingga tercapailah damai di dunia.
> >
> > Karena itu dari raja sampai rakyat jelata, ada satu kewajiban yang sama yaitu mengutamakan pembinaan diri sebagai pokok.
> > Adapun dari pokok yang kacau itu, tidak akan pernah dihasilkan penyelesaian yang teratur baik,
> > karena hal itu seumpama menipiskan benda yang seharusnya tebal dan menebalkan benda yang seharusnya tipis.
> > Hal ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi "
> >
> > Komunitas psikologi, bukan sosial politik atau hukum sehingga merasa awam untuk memberikan solusi konseptual bagaimana sistem memberantas KKN.
> > Yang bisa dikerjakan dan justeru sangat penting adalah membina orang supaya bisa memahami masalahnya secara benar dan membina dirinya seperti yang diajarkan oleh kearifan kkuno di atas.
> > Betapapun sempurnanya sebuah senjata, akhirnya sangat tergantung pada the man behind the gun !
> > (Bersambung )
> >

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Send pics quick

Share photos while

you IM friends.

Cat Fanatics

on Yahoo! Groups

Find people who are

crazy about cats.

Real Food Group

Share recipes,

restaurant ratings

and favorite meals.

.

__,_._,___

Re: [psikologi_transformatif] Re: Carrot and Stick > P. Jusuf

Pak Harez,
Apakah anda pernah mendengar nama Peter Senge , pakar manajemen The Learning Organization ?
Itulah sistem manajemen yang mengajak ' dari raja sampai rakyat jelata supaya mau terus belajar '
Sistem manajemen ini berdasarkan konsep Konfusianism yang tentu kental dengan psikologi transpersonal dan transformatif.
Ini yang saya mau ajak Fakultas Psikologi di Indonesia karena melalui ini kompetensi yang anda pelajari bisa disalurkan.
Konfusianism bersifat universal dan bisa diterima oleh siapa saja karena bukan agama.
Melalui cara ini barangkali kita bisa mengembangkan The Learning Nation sehingga masalah KKN  bisa diatasi seluruh bangsa, bukan hanya urusan penegak hukum saja..
Solusi ini lebih berbudaya daripada sekedar stick and carrot, meski kita  perlu law enforcement juga ya  !

Salam,
Jusuf Sutanto

----- Pesan Asli ----
Dari: sinagahp <sinagahp@yahoo.com>
Kepada: psikologi_transformatif@yahoogroups.com
Terkirim: Sabtu, 27 Oktober, 2007 8:59:38
Topik: [psikologi_transformatif] Re: Carrot and Stick > P. Jusuf


Pak Jusuf Yth.,

Terima kasih untuk pembukaan cakrawala yang pak Jusuf berikan :)

Pada dasarnya, saya menangkap ada dua hal yang perlu diperhatikan dari tulisan bapak tersebut.
1. Perlunya pembinaan diri dan sumbangsih psikologi untuk itu.
2. Sumbangsih psikologi (ie. solusi konseptual) untuk pemberantasan korupsi.

JS:
> Komunitas psikologi, bukan sosial politik atau hukum sehingga merasa awam
> untuk memberikan solusi konseptual bagaimana sistem memberantas KKN.


harez:
Sekitar satu tahun yang lalu, saya pernah menelusuri skripsi, tesis dan disertasi di F.Psi.UI.  Saya hanya menemukan satu skripsi (Dede Andarso) dan satu tesis (Adrianus Meliala) yang mengkaji tentang korupsi. Hal tersebut tampaknya sejalan dengan apa yang pak Jusuf  kemukakan ... :) :(  Setelah itu saya belum pernah menelusurinya lagi.

Dari kedua kajian tersebut, saya relatif tidak menemukakan solusi konseptual yang komprehensif tentang pemberantasan korupsi. Keduanya lebih merupakan studi eksploratif/ deskriptif.

Karenanya, saya tertarik dengan gagasan carrot dan stick yang dikemukakan oleh Kwik Kian Gie ini.

Ditunggu pencerahannya lebih lanjut pak Jusuf. Khususnya mengenai prinsip-prinsip kearifan timur yang mendasari gagasan "Carrot & Stick" serta prinsip "reward & punishment" sebagaimana yang saya kemukakan pada tulisan saya yang terdahulu. Terima kasih sebelumnya

salam,
harez

NB:
Ajaran kuno Kitab Thay Hak / The Great Learning :
> Dengan hati yang lurus , akan dapat membina dirinya sehingga dapat
> membereskan rumahtangganya dan setelah itu mengatur negaranya
> sehingga tercapailah damai di dunia.

Rasanya koq agak "loncat" ya pak, dari tingkat keluarga, langsung ke negara. Lebih afdol rasanya kalau ada tingkatan di bawah negara. Misal rumah tangga, lingkungan/komunita s, baru negara. Apa aslinya memang begitu pak ?

============ ========= ========= ========= ========= ========= ===

--- In psikologi_transform atif@yahoogroups .com, Jusuf Sutanto <jusuf_sw@...> wrote:
>
>
> Mas Harez,
> Anda mulai membawa angin segar dengan melontarkan issue baru yang sangat penting spy kita tidak terus menerus ngurusin orang yang bernafas dalam lumpur seperti anjing yang mengerubuti tulang.
> Sebagai langkah pembukaan dialog ini saya mencoba membuka cakrawala spy kita bisa semakin memahami masalahnya.
> Jika dan hanya jika masalahnya sdh dipahami, maka jawabannya sdh ada di dalamnya seperti ' di dalam biji sudah ada pohon '. Banyak seminar yang gagal karena sebelum masalahnya jelas, kita sudah beradu mulut untuk mencari penyelesaiannya.
> Kita bisa mengacu pada ajaran kuno Kitab Thay Hak / The Great Learning sbb. :
>
> " Orang zaman dulu yang hendak menggemilangkan kebajikan yang bercahaya pada tiap umat di dunia,
> Ia lebih dulu berusaha mengatur negaranya ; untuk mengatur negerinya ia lebih dulu membereskan rumah tangganya.
> Untuk membereskan rumah tangganya , ia lebih dulu membina dirinya.
> Untuk membina dirinya, ia lebih dulu meluruskan hatinya.
> Untuk meluruskan hatinya , ia lebih dulu memantapkan tekadnya.
> Untuk memantapkan tekadnya, ia lebih dulu mencukupkan pengetahuannya.
> Dan untuk mencukupkan pengetahuannya, ia meneliti hakikat tiap perkara.
>
> Dengan meneliti hakikat tiap perkara, maka cukuplah pengetahuannya.
> Dengan cukup pengetahuannya, ia dapat memantapkan tekadnya
> Dengan memantapkan tekadnya, akan dapat meluruskan hatinya.
> Dengan hati yang lurus , akan dapat membina dirinya sehingga dapat membereskan rumahtangganya dan
> setelah itu mengatur negaranya sehingga tercapailah damai di dunia.
>
> Karena itu dari raja sampai rakyat jelata, ada satu kewajiban yang sama yaitu mengutamakan pembinaan diri sebagai pokok.
> Adapun dari pokok yang kacau itu, tidak akan pernah dihasilkan penyelesaian yang teratur baik,
> karena hal itu seumpama menipiskan benda yang seharusnya tebal dan menebalkan benda yang seharusnya tipis.
> Hal ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi "
>
> Komunitas psikologi, bukan sosial politik atau hukum sehingga merasa awam untuk memberikan solusi konseptual bagaimana sistem memberantas KKN.
> Yang bisa dikerjakan dan justeru sangat penting adalah membina orang supaya bisa memahami masalahnya secara benar dan membina dirinya seperti yang diajarkan oleh kearifan kkuno di atas.
> Betapapun sempurnanya sebuah senjata, akhirnya sangat tergantung pada the man behind the gun !
> (Bersambung )
>
> ----- Pesan Asli ----
> Dari: sinagahp sinagahp@...
> Kepada: psikologi_transform atif@yahoogroups .com
> Terkirim: Sabtu, 27 Oktober, 2007 12:08:25
> Topik: [psikologi_transfor matif] Carrot and Stick
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Rekan-rekan Yth.,
>
>
>
> Salah satu gagasan yang banyak dikenal untuk memberantas KKN adalah
>
> gagasan "Carrot & Stick" yang dikemukakan oleh Kwik Kian Gie. Gagasan
>
> ini terkait erat dengan prinsip "reward" dan "punishment" (lihat
>
> http://www.goodgove rnance-bappenas. go.id/publikasi_ files/reformasi_ birok\
>
> rasi.pdf ).
>
>
>
> Adakah prinsip-prinsip kearifan timur yang mendasari gagasan "Carrot &
>
> Stick" serta prinsip "reward & punishment" tersebut ?
>
>
>
> Mohon pencerahan dari Pak Jusuf Sutanto dan rekan-rekan yang lain.
>
> Terima kasih sebelumnya.
>
>
>
> salam,
>
> harez
>
>




Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Official Samsung

Yahoo! Group for

supporting your

HDTVs and devices.

Popular Y! Groups

Is your group one?

Check it out and

see.

Real Food Group

Share recipes

and favorite meals

w/ Real Food lovers.

.

__,_._,___

Re: [psikologi_transformatif] Re: Psikologi ala Pak Jusuf Sutanto - Bagian 2

Mbak Swas,

Saya berangkat dari tuntutan publik saat sekarang ini.
Sedangkan anda melihat dari betapa sulitnya  mendidik mahasiswa psikologi dengan input SMU yang sdh demikian.
Kalau standarnya ditinggikan, maka takut pada kabur ; kalau standarnya que sera-sera ya tentu ada konsekuensinya.
Pareto anda dengan saya berbeda, tapi karena saya rasa sepakat mau menyelesaikan persoalan bangsa ini, mengankat martabatnya di tengah pergaulan bangsa, maka di sinilah landasan untuk kerjasama, sehingga kita tidak perlu ikut2 an main timpuk2an.

FW Taylor (1856-1915) bapak Scientific Management menempatkan manusia sebagai sub-ordinate dari mesin sehingga menimbulkan revolusi sosial sehingga tahun 1948  lahir Universal Declaration of Human Rights.
Posisi manusia dalam industri harus diurus oleh bagian Personalia yang biasanya SH.
Kemudian meningkat menjadi HRD dan sekarang Human Capital Development sejalan dengan proses globalisasi.

Tapi kalau manager produksi, pemasaran, utility, keuangan mempunyai Job Spec yang jelas sehingga prestasinya bisa diukur, maka kepala HCD ini masih serba kabur : apakah mengurus sistem penggajian, membuat KKB, mengorganisir training dsb sudah cukup untuk menilai kinerjanya ? Inilah yang sampai saat ini belum jelas. Sementara itu taken for granted posisi ini hrs dipimpin oleh psikolog.
Informasi berikut ini barangkali bisa dipakai untuk menjelaskan  tugas HCD :

" Awal agustus saya hadir dalam pengukuhan profesor ahli rheumatik di  Salemba.  Pada  pidato penutupannya memberikan pesan  pada rekan sejawat dan yang sedang menempuh studi spesialisasi dengan metafor menarik sbb. :
Ada seorang anak muda yang rajin sekali mencari ilmu pengetahuan, sebut saja namanya Fulan.
Ia belajar pada satu guru terkenal sudah berjalan dua tahun. Pada suatu pagi, gurunya berkata : " Fulan, coba ambilkan buku yang ada di dekat jendela ! ". Ia menjawab : " Guru, jendela yang mana ?". Sang guru marah dan berkata : " kau ini sdh dua tahun di sini kok jendela saja tidak tahu !". Fulan menjawab : " Guru saya kesini kan untuk mempelajari ilmu guru, bukan untuk melihat yang lain-lain !". Gurunya kontan marah dan berkata : " Kamu boleh pulang besok karena sudah lulus "
======
Dunia telah berkembang semakin interdepeden, mengglobal, kait mengkait antara kehidupan yang satu dengan yang lainnya, sedangkan cara kita mengetahui masalah (the way we know things) melalui ilmu pengetahuan menjadi semakin terfragmentasi, terpilah-pilah, terkotak-kotak dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang semakin sempit, meski dengan alasan yang bisa difahami, yaitu supaya semakin efektif. Karena itu setiap disiplin tidak akan bisa memahami, apalagi memecahkan realitas hidup, malahan seringkali menjadi tawanan (prisoner) dari apa yang dipelajarinya, bukannya menjadi seorang true master yang mempunyai kebebasan penuh dalam menggunakannya. (VISI BARU KEHIDUPAN. Penerbit PPM )

Inilah mutu lulusan perguruan tinggi kita. Masalah belum terasa ketika dia bekerja di perusahaan kecil /menengah dimana pemiliknya ikut aktif sehari-hari. Tapi menjadi masalah serius bagi perusahaan besar yang punya cabang dimana-mana.
Alih2 mensukseskan program perusahaan, yang terjadi direksinya malah sibuk mengurus orang berkelahi.
Terjadilah office politics yang saling menjegal.
Pertanyaannya dapatkah pimpinan HCD yang psikolog itu mengatasi soal ini ?
Pendidikan yang bagaimana yang diperlukan untuk menghasilkan pimpinan HCD yang cakap ?
=======
Karena the show must go on, maka dengan segala kendala yang ada di fakultas, bagaimana para staf pengajarnya mengantisipasi tantangan ini  ?

(Bersambung )

Salam,
Jusuf Sutanto

----- Pesan Asli ----
Dari: was_swas <was_swas@yahoo.com>
Kepada: psikologi_transformatif@yahoogroups.com
Terkirim: Sabtu, 27 Oktober, 2007 4:34:17
Topik: [psikologi_transformatif] Re: Psikologi ala Pak Jusuf Sutanto - Bagian 2

Terima kasih atas sharingnya, Pak. Saya sambung ya:

Saya garis bawahi tulisan Bapak: "namun hanya bisa dijawab oleh mereka yang mau terus menerus belajar"

Inilah kenyataan dalam sistem pendidikan dasar kita, pelajar dibiasakan mencatat dan menghafal. Akibatnya, harapan mereka ketika kuliah pun adalah mencatat and menghafal. Jika kita menggunakan pendekatan lain, misalnya seperti yang Bapak contohkan, maka saya yakin yang mau berusaha dan berhasil adalah mereka2 yang mau terus menerus belajar ;-).

Sisanya? Lebih besar kemungkinan untuk berhenti dan cari fakultas lain saja daripada mendapatkan pencerahan :) Alasannya? Kuliah kok nggak jelas tujuannya apa :)

Apa yang Bapak jabarkan itu bukan hal baru. Saya tahu ada beberapa dosen di fakultas psikologi (rata2 dosen muda berusia kurang dari 40thn) yang melakukannya. Simulasi seperti yang Bapak jabarkan itu sudah diterapkan belasan thn lalu oleh beberapa dosen. Kajian pop-culture seperti yang Bapak ajukan itu sudah muncul sejak belasan tahun lalu. Media email, milis, bahkan blog dan Y!M sudah digunakan beberapa dosen muda untuk sarana mengajar, konsultasi, dan memberikan bimbingan :)

Hasilnya? Hanya mereka yang mau belajar yang antusias mengikuti program seperti ini. Di fakultas tersebut, cukup berimbang jumlah mahasiswa yang kemudian memilih dosen lain (untuk mata kuliah yang sama) yang menggunakan pendekatan konservatif. Itu karena mereka punya pilihan dosen lain. Kalau mereka tidak punya pilihan dosen lain, seberapa besar probabilitasnya mereka tidak memilih fakultas lain? Fakultas yang bisa menjawab dengan lebih gamblang tentang: jika lulus, dapat ijazah, bisa melamar kerja sebagai apa?

Ini yang saya katakan pada Bapak: mungkin Bapak sangat mengerti tentang minyak, tapi ketika bicara tentang air, tampak bahwa Bapak belum selesai menggali sumur ;)

Saya rasa sungguh terlambat jika cara seperti ini baru diterapkan di perguruan tinggi. Lebih tidak efektif lagi ketika hanya diterapkan di bidang tertentu. Didikan seperti ini harusnya diterapkan pada tingkat pendidikan dasar, sehingga ketika seseorang masuk ke lingkungan universitas dia tidak akan terjebak menjadi sekedar "kolektor ilmu". Karena cara berpikirnya sudah berkembang dan siap untuk mau terus belajar tidak dibatasi jumlah tatap muka di kelas saja ;)

Dan benarkah dengan internet kita bisa mengarahkan mahasiswa bahwa "kita tidak dibatasi oleh besaran SKS, karena dengan adanya internet, kita bisa komunikasi tujuh hari seminggu dan 24 jam sehari dikurangi waktu tidur saja" ;)? Apakah semua mahasiswa mampu membayar internet 7x24 jam seminggu ;)? Jika mahasiswa dan dosen punya anggaran/fasilitas internet gratis seperti beberapa universitas di luar Indonesia sih iya :) Tapi untuk situasi Indonesia sekarang ini, apa yang Bapak katakan ini masih di awang2. Boro2 membayar akses internet 7x24 jam seminggu.. lha wong yang mau bayar kuliah saja sering terbentur masalah biaya ;).

Workshop intensif sih boleh2 saja :) Namun untuk sampai pada workshop seperti itu, mungkin sebaiknya dimulai dengan pemikiran yang lebih matang terlebih dahulu :)

>

Mengasah manusia dengan manusia boleh2 saja. Tapi mengasah manusia tanpa membekalinya dengan persiapan sama dengan menyuruhnya bunuh diri :) Benar2 misi survival of the fittest saja :)

Apakah membaca buku tebal tidak ada gunanya? Sebelumnya kita sudah sepakat, bukan, bahwa yang utama adalah mengerti keseluruhan, bukan menghafal ayat, namun ayat harus juga dibaca untuk mengerti keseluruhan. Naah.. fungsi membaca buku tebal ini seperti membaca ayat. Itu modal/persiapannya untuk "mengasah" diri dengan manusia lain. Kalau kemudian seseorang memilih berhenti pada sekedar membaca buku tebal saja, tidak menggunakannya sebagai senjata untuk saling mengasah dengan manusia lain, ya kalau saya bilang sih itu pilihan sendiri. Bukan salah pendidikan di perguruan tinggi :) Setidaknya, kesalahan mungkin lebih banyak di parenting style atau gaya pendidikan formal dasarnya :)

Salam,




Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Groups

Endurance Zone

Communities for

increased fitness.

HDTV Support

on Yahoo! Groups

Help with Samsung

HDTVs and devices

Best of Y! Groups

Check out the best

of what Yahoo!

Groups has to offer.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] God has a sense of humor

 
God has a sense of humor..
 
A man was sick and tired of going to work every day
while his wife stayed at home. He wanted her to see
what he went through so he prayed, "Dear Lord, I go to
work every day and put in 8 hours while my wife
merely stays at home.
 
I want her to know what I go through, so please create a
trade in our bodies".
 
God, in His infinite wisdom, granted the man's wish.
The next morning, sure enough, the man awoke as a
woman. He arose, cooked breakfast for his mate,
awakened the kids, set out their school clothes, fed them
breakfast, packed their lunches, drove them to school,
came home; and picked up the dry cleaning, took it to
the cleaners and stopped at the bank to draw out money
to pay the power bill and telephone bill, drove to the
power company and the phone company and paid the
bills, went grocery shopping, came home and put away
the groceries. He cleaned the cat's litter box and bathed
the dog. Then it was already 1:00 p.m. and he hurried to
make the beds, do the laundry, vacuum, dust, and sweep
and mop the kitchen floor.
 
He ran to the school to pick up the kids and got into an
argument with them on the wayhome. He set out
cookies and milk and got the kids organized to do their
homework, then set up the ironing board and watched
TV while he did the ironing.
 
At 4:30 PM he began peeling potatoes and washed
greens for salads, breaded the pork chops and snapped
fresh beans for supper.After supper, he cleaned the
kitchen, ran the dishwasher, folded laundry, bathed the
kids, and put them to bed.
 
At 9:00 PM he was exhausted and though his chores
weren't finished, he went to bed where he was expected
to make love, which he managed to get through without
complaint.
 
The next morning he awoke and immediately knelt by
the bed and said, "Lord, I don't know what I was
thinking. I was so wrong to envy my wife's being able to
stay home all day.
 
Please, O please, let us trade back". The Lord, in his
infinite wisdom, replied, "My son, I feel you have
learned your lesson and I will be happy to change things
back to the way they were. You'll have to wait 9
months, though. You got pregnant last night"!!!
 
-------------

Bukan tulisan saya, dapatnya beberapa tahun yang lalu, sumbernya lupa :)
 
salam,
harez
 

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Files to share?

Send up to 1GB of

files in an IM.

Food Lovers

Real Food Group

on Yahoo! Groups

find out more.

Yahoo! Groups

Cat Zone

Connect w/ others

who love cats.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Carrot and Stick > M.Edy

 
Ha...ha....ha... :)

Ide kreatif tuh Mas Edy, "merumuskan ulang" isi sumpah . Isi sumpah bisa kita kembangkan rame-rame, agar punya "efek jera" yang "dahsyat".

salam,
harez


--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "Edy Susanto" <aldo_richard@...> wrote:
>
> bang harez...
>
> saya punya usul , untuk mengatasi kkn . mulailah dengan merubah
> kalimat sumpah jabatan yang dibaca.
>
> sebutkan bunyi hukuman dalam sumpah jabatannya . seperti
> "saya akan mengundurkan diri jika terlibat korupsi dan bekerja
> sebagai penyapu jalanan selama 1 tahun sebagai tanda maap kepada
> rakyat, jika saya mengelak saya rela di pukuli rakyat di jalan sampai
> mati "
>
> sumpah jabatan , harus di baca di lapangan dan disaksikan oleh
> masyarakat umum.
> dan keluarganya juga harus disumpah untuk ikut menegakkan keadilan.
>
>
> moment itu harus di rekam. sewaktu waktu bisa jadi bukti di pengadilan.
>
> secara kejiwaan , saya yakin akan berdampak.
>
> kalau urusan kenaikan gaji . sampeyan lebih taulah...
>
> salam,
> edy
> pekalongan
>
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, Jusuf Sutanto
> jusuf_sw@ wrote:
> >
> >
> > Mas Harez,
> > Anda mulai membawa angin segar dengan melontarkan issue baru yang
> sangat penting spy kita tidak terus menerus ngurusin orang yang
> bernafas dalam lumpur seperti anjing yang mengerubuti tulang.
> > Sebagai langkah pembukaan dialog ini saya mencoba membuka cakrawala
> spy kita bisa semakin memahami masalahnya.
> > Jika dan hanya jika masalahnya sdh dipahami, maka jawabannya sdh ada
> di dalamnya seperti ' di dalam biji sudah ada pohon '. Banyak seminar
> yang gagal karena sebelum masalahnya jelas, kita sudah beradu mulut
> untuk mencari penyelesaiannya.
> > Kita bisa mengacu pada ajaran kuno Kitab Thay Hak / The Great
> Learning sbb. :
> >
> > " Orang zaman dulu yang hendak menggemilangkan kebajikan yang
> bercahaya pada tiap umat di dunia,
> > Ia lebih dulu berusaha mengatur negaranya ; untuk mengatur negerinya
> ia lebih dulu membereskan rumah tangganya.
> > Untuk membereskan rumah tangganya , ia lebih dulu membina dirinya.
> > Untuk membina dirinya, ia lebih dulu meluruskan hatinya.
> > Untuk meluruskan hatinya , ia lebih dulu memantapkan tekadnya.
> > Untuk memantapkan tekadnya, ia lebih dulu mencukupkan pengetahuannya.
> > Dan untuk mencukupkan pengetahuannya, ia meneliti hakikat tiap perkara.
> >
> > Dengan meneliti hakikat tiap perkara, maka cukuplah pengetahuannya.
> > Dengan cukup pengetahuannya, ia dapat memantapkan tekadnya
> > Dengan memantapkan tekadnya, akan dapat meluruskan hatinya.
> > Dengan hati yang lurus , akan dapat membina dirinya sehingga dapat
> membereskan rumahtangganya dan
> > setelah itu mengatur negaranya sehingga tercapailah damai di dunia.
> >
> > Karena itu dari raja sampai rakyat jelata, ada satu kewajiban yang
> sama yaitu mengutamakan pembinaan diri sebagai pokok.
> > Adapun dari pokok yang kacau itu, tidak akan pernah dihasilkan
> penyelesaian yang teratur baik,
> > karena hal itu seumpama menipiskan benda yang seharusnya tebal dan
> menebalkan benda yang seharusnya tipis.
> > Hal ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi "
> >
> > Komunitas psikologi, bukan sosial politik atau hukum sehingga merasa
> awam untuk memberikan solusi konseptual bagaimana sistem memberantas KKN.
> > Yang bisa dikerjakan dan justeru sangat penting adalah membina
> orang supaya bisa memahami masalahnya secara benar dan membina dirinya
> seperti yang diajarkan oleh kearifan kkuno di atas.
> > Betapapun sempurnanya sebuah senjata, akhirnya sangat tergantung
> pada the man behind the gun !
> > (Bersambung )
> >
> > ----- Pesan Asli ----
> > Dari: sinagahp sinagahp@
> > Kepada: psikologi_transformatif@yahoogroups.com
> > Terkirim: Sabtu, 27 Oktober, 2007 12:08:25
> > Topik: [psikologi_transformatif] Carrot and Stick
> >

> >
> > Rekan-rekan Yth.,
> >
> >
> >
> > Salah satu gagasan yang banyak dikenal untuk memberantas KKN adalah
> >
> > gagasan "Carrot & Stick" yang dikemukakan oleh Kwik Kian Gie. Gagasan
> >
> > ini terkait erat dengan prinsip "reward" dan "punishment" (lihat
> >
> > http://www.goodgove rnance-bappenas. go.id/publikasi_
> files/reformasi_ birok\
> >
> > rasi.pdf ).
> >
> >
> >
> > Adakah prinsip-prinsip kearifan timur yang mendasari gagasan "Carrot &
> >
> > Stick" serta prinsip "reward & punishment" tersebut ?
> >
> >
> >
> > Mohon pencerahan dari Pak Jusuf Sutanto dan rekan-rekan yang lain.
> >
> > Terima kasih sebelumnya.
> >
> >
> >
> > salam,
> >
> > harez
> >

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Instant hello

Chat in real-time

with your friends.

Yahoo! Groups

Real Food Group

Share recipes

and favorite meals.

Featured Y! Groups

and category pages.

There is something

for everyone.

.

__,_._,___