Sabtu, 05 Januari 2008

[psikologi_transformatif] Mohon pamit sampai Kamis 10 Jan

Teman-teman sekalian,

Berhubung saya harus pergi ke Bandarlampung selama 3 hari untuk urusan kantor, dengan ini saya mohon pamit sampai Kamis 10 Januari 2008 yad.

Salam,
Hudoyo

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Your school could

win a $25K donation.

Y! Messenger

All together now

Host a free online

conference on IM.

Yahoo! Groups HD

The official Samsung

Y! Group for HDTVs

and devices.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Pengalaman Meditasi

Dari: seorang pemeditasi vipassana versi Mahasi & MMD

Bpk Hudoyo yg baik,

Saya ingin menanyakan ttg pengalaman meditasi saya.
Seperti pernah saya ceritakan sebelumnya,saya belajar
vipassana mulai dari metode Mahasi.Saya pernah
mengikuti retreat Mahasi 3X dan MMD Akhir Pekan 2X.
Sejak ikut MMD I,saya sudah tdk labeling dalam setiap
meditasi duduk.Tapi dalam retreat Mahasi,saya masih
labeling dalam meditasi jalan & kegiatan sehari-hari.
Dalam retreat Mahasi awal november kemarin,selama 12
hari,saya memberanikan diri utk mencoba full tdk
labeling,baik dalam meditasi duduk,meditasi
jalan,maupun dalam kegiatan sehari-hari.
Ternyata banyak pengalaman yang saya dapatkan,terutama
dlm meditasi jalan & kegiatan sehari-hari,diantaranya:
- Ketika dlm meditasi jalan,saya pernah merasakan
sensasi yg sangat nyaman.Setiap gerakan terasa begitu
alamiah & lambat.Mata tdk bisa membuka penuh,karena
kelopak mata menurun perlahan,menutupi setengah
pandangan.Sensasi di mata juga sangat
nikmat.Sensasi-sensasi ini persis seperti yg pernah
saya rasakan ketika mengalami piti dalam meditasi
duduk.
- Begitu juga ketika makan siang,saya pernah merasakan
sensasi yg sangat nyaman juga,yaitu ketika mengunyah.
Gerakan mengunyah terasa semakin lambat.Jika
sebelumnya saya biasa mengunyah dg mata tertutup,saat
itu kelopak mata seolah-olah membuka dg sendirinya
perlahan-lahan,sampai setengah pandangan.Sensasi di
mata juga sangat nikmat.Makanan yg ada di dalam mulut
jadi tdk ada rasanya sama sekali.Gerakan mengunyah
terus melambat,sampai seolah-olah akan berhenti.
Pertanyaan saya:
Apakah mungkin mengalami piti selain dlm meditasi
duduk?
- Saya juga pernah mengalami dalam meditasi jalan,saya
sampai pada suatu moment ketika tdk ingin berhenti.
Seperti ingin berjalan terus.Jadi saya membuat rute
melingkar (dalam bangunan stupa di Vihara
Banjar),bukan rute bolak-balik.Ketika itu kaki
bergerak seperti otomatis.Seperti tdk ada kehendak
dari saya,terus dan terus berjalan.Sampai akhirnya
saya sadar ketika lonceng waktu makan siang berbunyi.
Yang membuat saya masih bingung sekarang,apakah ketika
itu kesadaran saya lemah,sehingga saya tdk bisa
menyadari setiap kehendak utk melangkah?
Tapi ketika itu saya bisa menyadari dg baik
sensasi-sensasi yg ada.
Pengalaman ini sempat saya tanyakan kepada praktisi yg
lebih senior.Menurutnya,itu karena saya tdk
labeling,sehingga tdk bisa menyadari kehendak yg
muncul.
Bagaimana menurut Pak Hudoyo?
Terimakasih.

Salam,
(W)
==========================
HUDOYO:

Rekan W, yg baik,

Dari penuturan Anda saya mendapat kesan bahwa 'pencatatan' (labeling) dalam pengamatan badan & batin ini tidak perlu lagi bagi Anda. Malah tampaknya dalam taraf Anda sekarang, labeling itu malah menjadi penghambat bagi perkembangan Anda selanjutnya. Ini terbukti dari ketika Anda melepaskan labeling sama sekali dalam retret vipassana versi Mahasi Sayadaw yang Anda ikuti pada awal November 2007 lalu, justru Anda mendapatkan berbagai pengalaman ketika meditasi jalan & melakukan kegiatan sehari-hari.

Perasaan nikmat dan bahagia yang Anda alami ketika melakukan meditasi jalan & melakukan kegiatan sehari-hari menunjukkan muncul 'piti' & 'sukham'. Memang kedua perasaan itu bisa muncul dalam posisi apa pun juga, tidak terbatas pada posisi duduk saja.

Yang sangat menarik adalah pengalaman yang Anda tuturkan:

"Saya juga pernah mengalami dalam meditasi jalan,saya
sampai pada suatu moment ketika tdk ingin berhenti.
Seperti ingin berjalan terus.Jadi saya membuat rute
melingkar (dalam bangunan stupa di Vihara
Brahmavihara),bukan rute bolak-balik.Ketika itu kaki
bergerak seperti otomatis.Seperti tdk ada kehendak
dari saya,terus dan terus berjalan.Sampai akhirnya
saya sadar ketika lonceng waktu makan siang berbunyi.
Yang membuat saya masih bingung sekarang,apakah ketika
itu kesadaran saya lemah,sehingga saya tdk bisa
menyadari setiap kehendak utk melangkah?
Tapi ketika itu saya bisa menyadari dg baik
sensasi-sensasi yg ada."

Beberapa ungkapan yang saya catat adalah: "tidak ingin berhenti", "membuat rute melingkar, bukan bolak-balik", "kaki bergerak seperti otomatis", "seperti tidak ada kehendak", "tidak bisa menyadari kehendak untuk melangkah", "bisa menyadari dengan baik sensasi-sensasi yang ada", "berjalan terus, sampai akhirnya sadar ketika lonceng waktu makan berbunyi."

Kesan saya: pada saat itu kesadaran Anda cukup baik--bukan lemah--bahkan saya rasa sangat baik. Anda tidak menyadari adanya kehendak untuk melangkah, karena MEMANG TIDAK ADA KEHENDAK LAGI (kehendak dari si aku/pikiran). Anda membuat rute melingkar, karena tidak mau "repot" dengan munculnya kehendak untuk berhenti & berbalik ketika Anda sampai pada ujung-ujung suatu rute yang lurus; Anda bermaksud menghindari bolak-balik (yang membutuhkan pikiran, kehendak & si aku) pada rute yang lurus. Anda tidak sadar akan waktu sama sekali; ini disebabkan karena PIKIRAN ANDA BERHENTI sama sekali selama berjalan itu.

Nah, dari semua aspek itu saya dapat menyimpulkan bahwa selama beberapa waktu (beberapa jam?)--selama Anda melakukan meditasi jalan itu--Anda berada dalam keadaan SAMADHI, yang disebut KHANIKA-SAMADHI (samadhi dari saat ke saat tanpa satu obyek yang fixed). Di situ tidak ada si aku, tidak ada pikiran, tidak ada kehendak, tidak ada waktu; yang ada hanyalah tubuh ini yang terus berfungsi dengan seluruh indranya. Keadaan ini sangat langka dialami orang dalam keadaan meditasi jalan, biasanya hanya dialami pada meditasi duduk.

Rekan W, "perrjalanan" meditasi Anda sudah sangat jauh. Jangan hiraukan praktisi yang "lebih senior" itu, kalau Anda tidak mau mengalami timbulnya keraguan yang tidak perlu. Tampaknya praktisi yang "lebih senior" itu masih melekat pada labeling, entah sampai kapan. Padahal Chanmyay Sayadaw sendiri pernah berkata: "Labeling is not vipassana"; maksud beliau, labeling harus runtuh kalau tidak diperlukan lagi.

Sampai jumpa pada retret MMD Seminggu menjelang Nyepi yad (tgl 29 Feb s.d. 8 Mar 2008) di Brahmavihara-arama, Bali.

Salam,
Hudoyo

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Find great recruits

for your company.

Y! Messenger

Instant hello

Chat in real-time

with your friends.

Women of Curves

on Yahoo! Groups

see how women are

changing their lives.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Patung Budha dengan penis & buah zakar

Dari: "sunari" <sunari@ssp.co.id>

Koh Daniel, menulis ; "patung Buddha dengan penis adalah suatu pengungkapan
seni".

Menurut perkiraan saya, si pembuat adalah seminan yang lagi berusaha mencari
nama, agar namanya lebih dikenal, agar lebih mendapatkan perhatian khalayak
dan tiada peduli dengan cara apapun, walaupun nurani dia telah memberitahu
bahwa perbuatan semacam itu adalah tidak benar.

Memang kadangkala karena ketidak tahuan (gelap batin) seseorang melakukan
perbuatan yang berakibat fatal bagi dirinya sendiri, Buddha sebagai makhluk
suci dan dalam ketinggian spiritualnya tentu tidak mempermasalahkan hal yang
demikian, namun dialam semesta ini bukankah ada 'mekanisme alam', atau
hierarki hierarki yang mengurusi segala hal urusan manusia?

Kita yang hidup dalam masyarakat yang berbudaya, bila kita tidak rela jika
wujud kedua orang tua kita yang kita hormati dipatungkan seperti itu, tentu
lebih tidak sepantasnya lagi mempatungkan seorang Buddha dalam wujud
demikian.

Berbeda dengan rupang2 dharmaphala vajrayana (?) yang serem-serem [dan juga
parno; yab-yum?] yang agaknya ditujukan demi tujuan untuk pengajaran;
melepas keterikatan pada wujud dan penampakan lahiriah/jasadiah.

~~

Posted by: "Suchamda"

Thu Jan 3, 2008 7:07 pm (PST)

Menurut saya, patung Buddha dengan penis adalah suatu pengungkapan
seni atas sisi lain yang telah menjadi beku dalam benak orang.
Pencairan itu memang mengagetkan, meresahkan, dan menyinggung.
Buat saya sendiri, saya bisa menikmati rupa itu.
Yang menjadi masalah, adalah kita akan menebak-nebak apa motivasi
orang yang membuat itu : seni? pelecehan? harsh joke? spiritual?
Ketidakpastian inilah yang menjadi masalah. Disamping itu, karena
banyak orang yang membeku dalam simbol rupa tersebut belum siap untuk
menerima itu, tentu saja hal itu sama saja dengan penghinaan.

Meskipun sejujurnya saya sama sekali tidak tersinggung, malah kagum
dan merenunginya secara spiritual, akan tetapi saya merasa terdorong
juga untuk mendukung mayoritas dari ekspektasi massa. Saya sudah
menulis dan mengirimkan petisi tsb. :

"It is a beautiful and artistic statue. Buddha also has a penis and
testicles because he is human. But the statue of Buddha is also a
representation of spirituality and a figure that is respected by
Buddhist community. Therefore, l'art pour l'art freedom imposed on
religious symbol can create a potency of disharmony and friction among
people who is not ready. As a civilized govt then you should also
manage those people's expectation in order to promote harmony and a
mutual respect among citizens.

S

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Your school could

win a $25K donation.

Green Groups

on Yahoo! Groups

share your passion

for the planet.

Dog Groups

on Yahoo! Groups

discuss everything

related to dogs.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Mukjijat

Dari: "Agung Eko Hartanto" <agungeka@yahoo.com>

Mukjijat

Menjelang Natal kemarin tepatnya tanggal 7 Desember
2007 saya berjalan kekantor dari stasiun kereta.
Udaranya cerah dan sejuk, saya jalan kaki dengan
ceria.
Sekitar jam 10.20 pagi, saya membelok 66th street,
route yang saya sukai karena banyak kedai kopi
dan nonik nonik cantik. Ah ... sebentar lagi sampai
di kantor, dan pikiran itu terpotong oleh raungan
sirene pemadam kebakaran dan ambulans dan polisi,
belasan jumlahnya. Ini mengingatkan kejadian
September 11, udara cerah dan sejuk dan bunyi sirene.
Ada apa saya pikir? Ternyata ada satu bangunan
tinggi yang diblokir. Bangunan tinggi ini letaknya
berseberangan sedikit kekiri dari tempat saya olahrasa

dan kurang lebih 125 meter dari kantor saya.
Lima menit sebelum aku datang, ada dua
orang kakak adik, yang bekerja sebagai pembersih
kaca jendela pencakar langit, jatuh di pelataran
beton! Yang satu mati (adik), dan yang lainnya
badannya
hancur berantakan dan diharapkan tidak hidup, karena
mereka jatuh dari ketinggian lantai 47!!! Sang
kakak langsung dibawa kerumah sakit (kompleks
tempat saya bekerja merupakan konsentrasi hospital
hospital terkenal).

Hari ini setelah sekian kali dioperasi, sang kakak
bangun dari komanya dan bisa bicara, dan semua
dokter mengatakan bahwa dia akan sembuh dan bisa
jalan lagi. Meskipun demikian SEMUA dokter tidak
bisa menerangkan orang bisa selamat setelah badannya
hancur terbanting dipelataran beton dari lantai
47 ... suatu miracle telah terjadi dimuka saya.
Saya mensyukuri dengan genangan air mata, karena
doa saja tidak cukup.

salam

********************
Window washer talking after 47-story fall

'If you are a believer in miracles, this would be
one,' says doctor
The Associated Press
updated 8:46 a.m. ET, Fri., Jan. 4, 2008


NEW YORK - Doctors say they have never seen anything
like it: A window washer who fell 47 stories from the
roof of a Manhattan skyscraper is now awake, talking
to his family and expected to walk again. Alcides
Moreno, 37, plummeted almost 500 feet in a Dec. 7
scaffolding collapse that killed his brother.

Somehow, Moreno lived, and doctors at New
York-Presbyterian Hospital/Weill Cornell Medical
Center announced Thursday that his recovery has been
astonishing. He is scheduled to undergo his 10th
surgery Friday.

He has movement in all his limbs. He is breathing on
his own. And on Christmas Day, he opened his mouth and
spoke for the first time since the accident.

His wife, Rosario Moreno, cried as she thanked the
doctors and nurses who kept him alive.

"Thank God for the miracle that we had," she said. "He
keeps telling me that it just wasn't his time."

Dr. Herbert Pardes, the hospital's president,
described Moreno's condition when he arrived for
treatment as "a complete disaster."

Both legs and his right arm and wrist were broken in
several places. He had severe injuries to his chest,
his abdomen and his spinal column. His brain was
bleeding. Everything was bleeding, it seemed.

Miraculous recovery
In those first critical hours, doctors pumped 24 units
of donated blood into his body — about twice his
entire blood volume.

They gave him plasma and platelets and a drug to
stimulate clotting and stop the hemorrhaging. They
inserted a catheter into his brain to reduce swelling
and cut open his abdomen to relieve pressure on his
organs.

Moreno was at the edge of consciousness when he was
brought in. Doctors sedated him, performed a
tracheotomy and put him on a ventilator.

His condition was so unstable, doctors worried that
even a mild jostle might kill him, so they performed
his first surgery without moving him to an operating
room.

Nine orthopedic operations followed to piece together
his broken body.

Yet, even when things were at their worst, the
hospital's staff marveled at his luck.

Incredibly, Moreno's head injuries were relatively
minor, for a fall victim. Neurosurgeon John Boockvar
said the window washer also managed to avoid a
paralyzing spinal cord injury, even though he suffered
a shattered vertebra.

"If you are a believer in miracles, this would be
one," said the hospital's chief of surgery, Dr. Philip
Barie.

New York-Presbyterian has treated people who have
tumbled from great heights before, including a patient
who survived a 19-story fall, but most of those tales
end sadly.

The death rate from even a three-story fall is about
50 percent, Barie said. People who fall more than 10
stories almost never survive.

"Forty-seven floors is virtually beyond belief,"
Pardes said.

Science may never be able to explain what protected
Moreno when the platform he and his brother were using
atop an Upper East Side apartment tower broke free and
fell to the ground.

Edgar Moreno, 30, of Linden N.J., died instantly. He
was buried in Ecuador, where the brothers were from.

'I didn't know he could speak'
Alcides Moreno, whom his wife described as strong and
athletic, may have clung to his scaffolding platform
as it dropped. It is possible that the metal platform
offered him some protection, although doctors said
they were unsure how.

An investigation into the cause of the accident is
ongoing.

Rosario Moreno said her husband was conscious during
the fall but remembers little. She said he didn't need
to be told that his brother had died.

The injured window washer spent about three weeks on a
ventilator, unable to speak, and initially his only
means of communicating with his family was by touch.

"He wanted to touch my face, touch my hair," Rosario
Moreno said.

She would take his hand and hold it to her skin. Then,
one day, he reached out and touched one of the nurses.

Rosario Moreno said that when she heard about it, she
jokingly lectured her husband to keep his hands to
himself. He answered in English, "What did I do?"

"It stunned me," she said, "because I didn't know he
could speak."

There is still a rough road ahead for the tough New
Jersey man, a father of three children, ages 14, 8 and
6.

He was scheduled to undergo another spinal surgery on
Friday, and he will need another operation to
reconstruct his abdominal wall. There is a chance he
will develop complications, even life-threatening
ones, during the months ahead.

Lifelong injuries
Moreno will remain in the hospital for at least a few
more weeks, doctors said. After that, he will need
extensive physical rehabilitation. It may be another
year before doctors know how much he will improve.

The medical staff was guarded Thursday about his
prospects for returning to a normal life. Doctors said
they believe he will walk, but they also suggested
that some of his injuries are likely to be lifelong.

"We're optimistic for a very substantial recovery,
eventually," Barie said

Rosario Moreno said she knows this much for sure: His
days as a window washer are over.

"I told him," she said, "you're not going back to work
there."

*******************

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Find great recruits

for your company.

Yahoo! Groups

Dog Zone

Connect w/others

who love dogs.

Endurance Zone

on Yahoo! Groups

Communities about

higher endurance.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Re: Patung Budha dengan penis & buah zakar

Dari: Daniel <daniel3552@gmail.com>

Menurut saya, patung Buddha dengan penis adalah suatu pengungkapan
seni atas sisi lain yang telah menjadi beku dalam benak orang.
Pencairan itu memang mengagetkan, meresahkan, dan menyinggung.
Buat saya sendiri, saya bisa menikmati rupa itu.
Yang menjadi masalah, adalah kita akan menebak-nebak apa motivasi
orang yang membuat itu : seni? pelecehan? harsh joke? spiritual?
Ketidakpastian inilah yang menjadi masalah. Disamping itu, karena
banyak orang yang membeku dalam simbol rupa tersebut belum siap untuk
menerima itu, tentu saja hal itu sama saja dengan penghinaan.

Meskipun sejujurnya saya sama sekali tidak tersinggung, malah kagum
dan merenunginya secara spiritual, akan tetapi saya merasa terdorong
juga untuk mendukung mayoritas dari ekspektasi massa. Saya sudah
menulis dan mengirimkan petisi tsb. :

"It is a beautiful and artistic statue. Buddha also has a penis and
testicles because he is human. But the statue of Buddha is also a
representation of spirituality and a figure that is respected by
Buddhist community. Therefore, l'art pour l'art freedom imposed on
religious symbol can create a potency of disharmony and friction among
people who is not ready. As a civilized govt then you should also
manage those people's expectation in order to promote harmony and a
mutual respect among citizens.

S
==============================
HUDOYO:

>Menurut saya, patung Buddha dengan penis adalah suatu pengungkapan
>seni atas sisi lain yang telah menjadi beku dalam benak orang.
>Pencairan itu memang mengagetkan, meresahkan, dan menyinggung.
>Buat saya sendiri, saya bisa menikmati rupa itu. ... sejujurnya saya sama sekali tidak tersinggung, malah kagum
>dan merenunginya secara spiritual,
---------------------
Tampaknya selera seni Anda sangat berbeda dengan selera seni saya.

Saya tidak melihat sedikit pun nilai seni dalam patung Buddha dg penis itu.

Tidak ada orisinalitas sama sekali, karerna patung Buddha-nya sendiri dibeli dari Thailand. Lain halnya kalau pematungnya menciptakan sendiri patung Buddha lalu diberinya penis & testicles, mungkin saya masih akan mempertimbangkan nilai seninya. Tapi memberi penis & testicles pada sebuah patung Buddha yang dibuat untuk membangunkan kesadaran spiritual, hanya memberi kesan sensasionalisme kalau tidak pelecehan.

Semua patung Buddha di seluruh dunia dibuat untuk menggugah kesadaran spiritual dalam diri penontonnya, terlepas dari apakah ia beragama Buddha atau tidak. Tetapi pematung ini rupanya tidak bisa melihat hal itu; yang ada dalam kesadarannya hanyalah tubuh Siddhartha di balik jubah tipisnya yang pas, yang diimajinasikannya apa yang ada di balik jubah tipis itu dan kemudian diwujudkannya dalam "karya seni"-nya itu.

Mengambil kontras dari budaya lain, sekalipun juga menampilkan tubuh telanjang lengkap dengan penis segala, saya bisa menikmati nilai spiritual dari lukisan Michelangelo tentang penciptaan Adam di langit-langkit kapel Sistine di Vatikan.
Saya bisa menikmati--bahkan secara spiritual--lekuk-lekuk tubuh David dalam pahatan karya Michelangelo, Donatello, Bernini atau Verrocchio.
Saya bisa menikmati nilai-nilai spiritual dalam karya seni-karya seni orisinal yang berkaitan dengan Yesus Kristus seperti "Yesus Christ Superstar" (1973), "The Last Temptation of Christ" (1988), atau "The Passion of Christ" (2004).

Tapi saya tidak melihat sedikit pun nilai seni dari patung Buddha dg penis tsb. Harap diingat, bahwa dalam seni lukis dan seni pahat dari mana pun juga tidak pernah ditampilkan penis yang sedang ereksi. Penis yang sedang ereksi hanya terdapat dalam produk-produk pornografis.

Tentang "apa motivasi si pematung" ybs, beruntung ada beberapa informasi yang membuat saya tidak perlu menebak-nebak lagi, alih-alih merasa pasti akan motif si pematung. Pertama, pernyataan pemilik art gallery yang secara enteng menyatakan patung Buddha dg penis itu "Buddha with fruit offering". Kedua, judul news dari situs resmi art gallery itu: "Beatles are bigger than Buddha", ketika ia memberitakan bahwa patung itu akan dipindah ke belakang. (Ini mengingatkan saya akan seorang anak kecil yang bersungut-sungut sambil dengan terpaksa memenuhi permintaan ayahnya (polisi).) -- Jelas sekali motivasi si pematung, yang setali tiga uang dengan pemilik art gallery, adalah: sensasionalisme, yang menghasilkan "karya seni" yang bombastic, lurid, sultry, pompous, narcissistic, pretentious, turgid, ostentatious, overblown.

Salam,
Hudoyo

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Your school could

win a $25K donation.

Real Food Group

Share recipes,

restaurant ratings

and favorite meals.

Connect w/Parents

on Yahoo! Groups

Get support and

share information.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] OOT: FWD: Kesurupan

Dari: aurora_2805@yahoo.com

ada yang bisa menjelaskan fenomenal tentang kesurupan gak? krn gw
curiga kesurupan tu cuma pura2. biasanya dilakukan untuk mencari
perhatian..

============================
HUDOYO:

Silakan baca di Wikipedia:

- Demonic possession
- Spirit possession
- Demonology
- Exocism
- Abduction phenomenon
- The Exorcism of Emily Rose (sebuah film berdasarkan kisah nyata)
- Dorothy Talbye Trial
- dll

Saya rasa informasi itu cukup untuk memenuhi kebutuhan Anda.

Salam,
Hudoyo

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Your school could

win a $25K donation.

Y! Messenger

Want a quick chat?

Chat over IM with

group members.

Yahoo! Groups

Wellness Spot

A resource for living

the Curves lifestyle.

.

__,_._,___

[psikologi_transformatif] Info Buku Meditasi Vipassana

Dari: "Andrew Budiman Santoso" <aw1412@yahoo.com>

Numpang info nih Pak Hud.

Telah terbit buku "Usaha, Kesadaran Penuh dan Yogi" dari Sayadaw U
Pandita. Buku ini merupakan berisi kumpulan tanya jawab dan saran yang
diberikan oleh Sayadaw U Pandita kepada para yogi mancanegara dalam
diskusi Dhamma yang diadakan setiap minggu di Pusat Meditasi
Panditarama Yangoon.

Peserta milis yang berminat untuk mendapatkannya bisa sms saya alamat
lengkap (beserta kode pos kalau bisa) dan telpon rumah. Biaya kirim
gratis.

Buku lainnya "Meditasi Buddhis" yang disusun oleh Jagara. Buku ini
merupakan sebuah catatan retret meditasi Vipassana dibawah bimbingan
Bhikkhu Sujiva. Buku ini terbagi dalam 3 bagian yaitu Instruksi dasar,
Kutipan & saran, dan intisari dari ceramah-ceramah malam yang
diberikan selama retret berlangsung.

Kedua penulis merupakan pembimbing Vipassana tradisi Mahasi Sayadaw
yang telah berpengalaman membimbing retret vipassana di mancanegara.
Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian.

Pemesanan lebih dari 1 buku juga boleh.

Salam,
Andrew
HP. 085237277074

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Find great recruits

for your company.

Yahoo! Groups

Be a Better Planet

Share with others

Help the Planet.

HDTV Support

on Yahoo! Groups

Help with Samsung

HDTVs and devices

.

__,_._,___