Selasa, 11 September 2007

[psikologi_transformatif] Re: The Power of Harmony

catatan: Maka sikap seorang ksatria Jawa dalam menghadapi kejahatan
adalah: berserah diri sepenuhnya kepada Hyang Agung (surrender
totally unto God)
---

pak yohan
ksatria jawa kuno yang mana ini.... ??

sebagai orang jawa .. saya membenci dan tidak menyetujui tindakan
kejahatannya..bukan manusianya. yang dilakukan adalah berusaha
memberi pengajaran agar tindakan jahat itu di robah dengan merobah
manusianya. bisa dengan di lawan dengan dilumpuhkan secara fisik .
di nasehati .dll.

"kekuatan cintakasih mengalahkan kejahatan "

salam,

edy
pekalongan-jawa tengah

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "yohanes sutopo"
<ysutopo@...> wrote:
>
> The Power of Harmony
>
>
>
> Bagi orang Jawa harmoni adalah kebenaran tertinggi. Dalam
literatur kebatinan Jawa: seluruh alam raya ini, dari yang paling
kecil hingga yang paling besar, dari yang paling kasar hingga yang
tidak kasat mata, semua terangkum dalam satu kesatuan harmoni yang
maha besar, yaitu: Hyang Agung. Hyang Agung yang memberi nafas
kehidupan kepada setiap makhluk. "...Hyang Agung adi linuwih ingkang
paring pengayoman dumateng sagung dumadi."
>
> Dari pendekatan sains, kekuatan harmoni ini dapat dipahami dengan
melihat bahwa setiap benda di jagat raya, planet-planet, bintang-
bintang, komet, asteroid, batu-batu meteor, selalu bergerak di dalam
garis lintasan atau orbit-nya yang sesuai dengan Hukum Harmoni.
Seperti yang pernah diungkapkan oleh Prie GS dalam essay-nya di
Smart FM: Hukum Harmoni ini begitu dahsyatnya, sehingga jika ada
sebuah benda langit yang menyalahi garis edarnya, sebuah meteor
misalnya, dan memasuki atmosfir bumi, maka meteor itu akan habis
terbakar sebelum menyentuh permukaan bumi. Begitulah Hukum Harmoni
itu mengatur dan memelihara kehidupan.
>
> Filosofi Jawa sepenuhnya percaya dan bersandar pada kekuatan
Harmoni ini, termasuk dalam menghadapi kejahatan. Dalam
spiritualitas orang Jawa, perbuatan yang jahat disebut sebagai
perbuatan yang ala (jelek), sesuatu yang tidak estetis, yang
melanggar Hukum Harmoni. Tidak ada kata khusus dalam bahasa Jawa
yang berarti jahat (evil), yang ada adalah kata ala atau elek, yang
secara harafiah berarti jelek atau sesuatu yang tidak selaras.
Kejahatan dipandang sebagai pelanggaran terhadap Harmoni... dan
seperti batu meteor yang melanggar garis edarnya dan memasuki
atmosfir bumi, dia akan habis terbakar oleh kekuatan Harmoni yang
memelihara kehidupan.
>
> Maka sikap seorang ksatria Jawa dalam menghadapi kejahatan adalah:
berserah diri sepenuhnya kepada Hyang Agung (surrender totally unto
God). Maka tak akan ada kejahatan yang dapat mengalahkannya. Bahkan
para Kurawa yang berjumlah seratus orang itupun dapat dikalahkan
oleh Pandhawa Lima yang hanya berjumlah lima orang. Sikap berserah
diri sepenuhnya pada Hyang Agung ini diungkapkan dalam sebuah
semboyan yang sangat terkenal, yang merupakan puncak spiritualitas
orang Jawa: "Sura sudira jayanikang rat syuh brasta tekaping ulah
dharmastuti", yang kemudian diteruskan dalam ungkapan bahasa Jawa
baru: "Suradira jayaningrat lebur dening Pangastuti."
>
>
>
> Salam,
> www.catatanrenungan.blogspot.com
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Group get-together

Host a free online

conference on IM.

Beauty & Fashion

on Yahoo! Groups

Share style tips

and advice.

Yahoo! Groups

Get info and support

on Samsung HDTVs

and devices.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: