Selasa, 20 November 2007

[psikologi_transformatif] Dualisme, Politik Adu Domba & Tawuran

Dualisme, Politik Adu Domba & Tawuran

Nama Penulis: Vincent Liong
Tempat, Hari & Tanggal: Jakarta, Jumat, 2 November
2007

Bicara tentang tawuran antar pelajar jadi ingat cerita
guru pelajaran sejarah saya ketika SLTP di Pangudi
Luhur Jakarta pernah bercerita mengenai pendidikan
PETA jaman penjajahan Jepang. PETA (PEmbela Tanah Air)
adalah pelatihan semi militer yang diadakan oleh
penjajah Jepang terhadap para pemuda di Indonesia
dengan harapan untuk cadangan pasukan memerangi sekutu
bila dibutuhkan. Di PETA tidak diajarkan pelatihan
militer penuh dengan senjata sungguhan, banyak latihan
kedisiplinan, baris-berbaris, dlsb.

Pada suatu hari di kelas kami saat itu guru pelajaran
sejarah tsb sempat bercerita mengenai acara
pertandingan antar cabang PETA dengan cara sbb; Sebuah
bendera yang mewakili cabang PETA di masing-masing
wilayah kekuasaan dinaikkan, lalu antara kelompok yang
satu dengan yang lain saling bertempur untuk merebut
bendera musuh dan mempertahankan bendera cabang
PETA-nya sendiri.

Pertarungan, perlombaan merebut bendera musuh dan
mempertahankan bendera wilayah sendiri mengakibatkan
adanya dualisme di pemikiran para peserta perlombaan
beregu tsb, kalah dan menang adalah dualisme yang
bersifat absolut; kalah total atau memang total.
Semangat yang membara menyebabkan bendera lebih
penting daripada yang nyata-nyata di dunia real, apa
yang diyakini di pikiran tentang yang didapatkan dan
yang kita kehilangan menjadi begitu menggugah emosi.
Emosi lebih penting bahkan daripada urusan makan,
keselamatan, dlsb.

Hal semacam pola pengajaran budaya rebut-merebut
bendera ini berlanjut dalam budaya pendidikan di
negara kita ini; Tiap orangtua mengajarkan anaknya
untuk rangking pertama dengan konsekwensi sekian
banyak anak di kelas tidak rangking pertama, termasuk
yang rangking kedua. Tiap orangtua yang anaknya jauh
sekali dari ranging pertama mengajarkan anaknya untuk
rangking sepuluh besar dengan konsekwensi ada sekian
banyak anak yang tidak rangking sepuluh besar. Hal ini
berbeda sekali dengan sekolah international atau di
luar negeri yang negaranya bukan negara berbudaya
kolonialisme macam negara kita Indonesia; tetap
menjalankan permainan kehidupan dengan tetap hidup ;
jauh lebih penting daripada menang perlombaan sehingga
mendapat euphoria emosionalnya.

Ini alasan yang sama mengapa tawuran yang
dipublikasikan mengakibatkan peningkatan jumlah
frekwensi tawuran, karena pemberitaan tawuran akan
menjadi reward bagi pemenang dan punishment bagi yang
kalah, yang tentunya harus dibalaskan dendamnya agar
beban emosinya lepas.

Nah usaha untuk membentuk realita baru di alam pikiran
yang belum tentu berhubungan dengan realita di dunia
nyata (fisik) menghasilkan keterpecahan antara dua
dunia ini. Dalam dunia pikiran selalu ada satu
konsekwensi diantara dualisme menang atau kalah, benar
atau salah ala pertandingan yang memiliki konsekwensi
reward (kebanggaan & kesenangan) & punishment (rasa
malu, kesedihan & kekecewaan) yang berlaku di alam
pikiran (keyakinan) saja. Dalam dunia nyata hanya ada
satu konsekwensi yaitu yang sifatnya grey area; tidak
ada menang tanpa kekalahan juga tidak ada kalah tanpa
kemenangan, tidak ada kebenaran tanpa kesalahan dan
tidak ada salah tanpa kebenaran; grey area membuat
segalanya terkandung dalam satu diri yaitu komposisi,
karakteristik; seperti komposisi segelas minuman yang
terdiri dari berbagai macam bahan dasar baik yang
dekat atau berlawanan sifatnya,tidak ada sebuah zat
yang bisa diproses hingga 100% murni kadarnya, kalau
mendekati 100% mungklin masih bisa.

Permainan yang memiliki konsekwensi emosional menang
atau kalah, benar atau salah maka bisa disebut sebagai
perlombaan, tetapi permainan yang tidak bisa
menghasilkan konsekwensi diantara menang atau kalah,
benar atau salah adalah hanya permainan, dan tidak
bisa disebut perlombaan. Permainan yang telah
bertransformasi menjadi perlombaan membuat anda
melupakan, tidak mau tahu, tutup mata pada pada hal
yang tidak memiliki dualisme, segalanya yang menyatu
dalam satu diri bernama komposisi, karakteristik.

Untuk membuat orang disibukkan oleh emosinya sehingga
lupa konsekwensi yang ada di dunia nyata selalu ada
sebab-akibatnya sehingga tidak pernah bisa bersifat
mutlak maka budaya perlombaan itu perlu. Kolonialisme
selalu menanamkan budaya perlombaan pada negara
jajahannya agar dengan siasat adu-domba, sibuk
berlomba lupa untuk tetap menjalankan permainan yang
berjudul 'tetap hidup'.

Seorang pendekon-kompatiologi murid saya, Arioputro
Nugroho menerapkan kompatiologi untuk menyetir mobil.
Katanya kompatiologi membuat kegiatan menyetir menjadi
tidak terlalu terkontrol tetapi tidak terlalu lepas
kontrol. Ini sangat berbeda dengan pola menyetir orang
yang selalu full of control, maka ketika ada kerusakan
seperti ban tiba-tiba pecah, maka tindakan prefentif
yang terlalu berusaha untuk keep full of control malah
dapat mengakibatkan kecelakaan terjadi. Kalau pada
orang, misalnya kompatiolog yang terbiasa grey area
;maka agak terkontrol tidak terasa berbeda jauh dengan
agak lepas kontrol, tidak ada batas yang memisahkan
keduanya sehingga reaksi atas suatu masalah bisa
dilakukan tidak secara mengagetkan. Tidak seperti full
of control yang bila sedikit saja keluar dari
perhitungan semula bisa mengubah full of control
berbalik ke lawannya yaitu totally lost control karena
tidak ada perhitungan yang bersifat lebih relatif.

Kesepakatan diam-diam antar peserta permainan sehingga
yang terjadi: sama-sama untung/menang dan sama-sama
rugi/kalah di porsinya masing-masing.

Ttd,
Vincent Liong
Jakarta, Jumat, 2 November 2007

Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Be a career mentor

for undergrads.

Y! Messenger

Instant smiles

Share photos while

you IM friends.

Yahoo! Groups

Special K Challenge

Learn how others are

shedding the pounds.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: