Sabtu, 03 November 2007

[psikologi_transformatif] Re-Post: KEBENARAN PSIKOLOGI/PSIKOLOGI KEBENARAN

Subject: KEBENARAN PSIKOLOGI/PSIKOLOGI KEBENARAN
From Audifax
DDT: Tue Oct 11, 2005 5:45 pm
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/2065
--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, audifax -
<audivacx@...> wrote:

KEBENARAN PSIKOLOGI/PSIKOLOGI KEBENARAN

OLEH:

AUDIFAX

BTW, ketika mulai berkembang aliran transformatif, yang sering jadi
pertanyaan dalam diri saya, apakah hal ini merupakan perkembangan
progresif dari psikologi atau justru kemunduran (kembali ke alam
filsafat)? Ataukah hal ini karena imbas dari berkembangnya aliran new
age akhir-akhir ini?[1]

Kutipan di atas diposting oleh Nur Agustinus member di "milis
psikologi" (psikologi@yahoogoups). Sayang, beliau hanya memposting
pertanyaan tersebut di "milis psikologi", meski ada pertanyaan beliau
mengenai apa yang disebutnya sebagai "aliran transformatif". Tetapi
tak apa, ada sesuatu yang saya rasa bisa diangkat sebagai pembelajaran
bagi kita semua di milis ini.

Kalimat Sdr. Nur Agustinus itu, memperkuat tesis yang saya kemukakan
pada esei berjudul: `Psikologi Positif: Sebuah Kegenitan Baru?; yaitu:

Dalam pendidikan psikologi Indonesia, pelajaran filsafat hampir di
semua perguruan tinggi Cuma sebagai tempelan. Para mahasiswanya pun
mungkin banyak yang tidak tahu apa hubungan dan kegunaan pelajaran
filsafat[2].

Pada arus mainstream psikologi di Indonesia, bisa jadi
pelaku-pelakunya cuma memelajari secara parsial atau yang pada
beberapa diskusi saya istilahkan sebagai bergenit-genit saja. Ungkapan
Nur Agustinus itu mungkin salah satu contoh yang parah ketika
mengatakan bahwa dengan memelajari filsafat, berarti mundur ke masa
lampau. Dalam ungkapannya itu terkandung makna yang menurut saya
menjadi chauvinisme psikologi, bahwa seakan psikologi adalah ilmu masa
kini dan filsafat ilmu masa lampau yang bisa juga diimplikasikan
psikologi sudah lebih maju dari filsafat.

Saya rasa orang-orang filsafat akan menertawakan ungkapan Nur
Agustinus itu. Apalagi jika ternyata mereka tahu bahwa aliran-aliran
Neo-psikoanalisa justru lebih dikuasai oleh orang-orang di Fakultas
Filsafat ketimbang orang-orang Fakultas Psikologi. (Mungkin akan lebih
lucu lagi kalau beliaunya ternyata tak menguasai filsafat, ilmu yang
menurutnya kalah maju dari psikologi). Saya sendiri sebagai seorang
yang belajar psikologi merasa sungguh ironis pernyataan itu karena
menandakan yang mengucapkan tak menguasai sama sekali keterkaitan
antara filsafat dan psikologi. Padahal, Filsafat justru adalah ilmu
yang paling dekat dengan psikologi serta memberi kontribusi besar bagi
pemahaman akan psikologi itu sendiri.

Sayang, psikologi justru cenderung memahami ilmunya secara parsial dan
tak melihat keterkaitannya dengan filsafat. Bahkan sebagian tak tahu
bahwa pemikiran-pemikiran psikologi tak hanya berkembang dari
pemikiran filsafat, tapi juga hingga saat ini berkembang bersama
pemikiran filsafat. Tokoh-tokoh psikoanalisa, humanistik, hingga
psikologi transpersonal banyak yang tak bisa dibadakan lagi dengan
filsafat. Ironisnya, biasanya orang-orang psikologi lantas mencari
gampangnya dengan mengatakan itu filsafat sebagai pembenaran
ketakmampuan mereka mengikuti rumitnya pemikiran-pemikiran baru itu.
Psikologi lantas hanya bergenit-genit dengan trend, misalnya Hypnosis
yang begitu menjadi kegenitan setelah Romy Rafael (yang bukan
psikolog) menunjukkan kepiawaiannya bermain-main dengan psike di depan
hidung para psikolog. Sebelum ini ada NLP. Dan bila ditelusuri lagi
ada sejumlah kegenitan lain yang terus menerus muncul tapi tak pernah
dipahami hingga mendalam. Mirip dengan kegenitan-kegenitan
ABG yang mengucapkan berbagai kata-kata baru yang sebenarnya tak ada
artinya, seperti: "Kacian dech loe", So What gitu Loh"; yang
sebenarnya tak ada artinya tapi membuat keranjingan mengucapkan.

Ketika dihadapkan pada argumen seperti ini, orang-orang psikologi ini
biasanya bersembunyi di balik premis "kebebasan memilih". Mau
bergenit-genit atau mendalami sampai ke akarnya adalah sebuah pilihan
bebas bagi siapa saja. Tak ada yang melarang, bebas-bebas saja. Pun
bebas-bebas saja mengklaim psikologi lebih maju dri filsafat.
Melarikan ke arah premis "kebebasan memilih" sebenarnya merupakan
pelarian, karena masalahnya memang bukan perlu dilarang atau bebas,
bukan pula masalah hak-kewajiban. Hanya orang bodoh (dan tengah lari
dari kebodohannya) yang melarikan pemikiran-pemikiran pada esei ini
pada premis "kebebasan memilih". Dan itulah Inti permasalahannya,
kualitas sebagai "manusia psikologi" yang tercermin dari ulahnya.
Klaim-klaim atas psikologi itulah yang akan membuat terlihat seperti
apa kualitas seseorang.

Psikologi seperti tergambar dalam kutipan pernyataan Nur Agustinus,
adalah psikologi yang terjebak dalam klaim kebenaran yang meletakkan
ilmunya lebih baik dari ilmu lain (setidaknya satu sudah jelas
ditemukan, yaitu menganggap lebih maju dari filsafat). Ini adalah
klaim-klaim yang justru mematikan mereka dalam kebenaran-kebenaran
palsu. Sosok-sosok yang menekuni psikologi semacam ini, tak lebih dari
pesolek-pesolek yang bergenit-genit dengan berbagai "make-up
psikologi" sembari berdiri di pinggir arus keramaian dunia industri;
menunggu panggilan dari para pelanggan yang ingin hasratnya akan
"kebenaran" dipuaskan oleh kegenitan-kegenitan yang dipertontonkan
sang psikolog.

Padahal kebenaran tak pernah bisa dibuat seseorang. Kebenaran justru
menemukan kesejatiannya dalam pencarian, dalam upaya pembelajaran
plural yang tak terkotak-kotak. Psikologi membutuhkan perubahan dalam
"gaya"menginterpretasi kebenaran. Jika dalam psikologi ada "gaya"
dalam menginterpetasi kebenaran, maka gaya itu semestinya plural
sehingga siapapun yang diinterpretasi oleh orang psikologi, tak mati
dalam universalitas dan keuniversalan keyakinan yang mengungkung.
Kebenaran yang selalu diletakkan dalam pencarian dan kerendahatian
bahwa manusia, termasuk ilmuwan psikologi, perlu untuk selalu belajar,
karena keterbatasan dirinya. Kebenaran dalam psikologi, hanya bisa
didapatkan dengan cara memahami Psikologi Kebenaran.

Bagaimana cermatan anda?

---------------------------------

CATATAN-CATATAN:

[1] Posting tanggal 10 Oktober 2005 pukul 8:13 amOnline Documents:
http://groups.yahoo.com/group/psikologi/message/23260

[2] Audifax; (2005); Psikologi Positif: Sebuah kegenitan baru?; Online
documents:
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/1909


---------------------------------
Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.

--- End forwarded message ---

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Cat Groups

on Yahoo! Groups

Share pictures &

stories about cats.

Yahoo! Groups

Get info and support

on Samsung HDTVs

and devices.

Wellness Spot

Embrace Change

Break the Yo-Yo

weight loss cycle.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: