Sabtu, 29 Desember 2007

[psikologi_transformatif] Di Balik Gemulainya Penari Lengger

Di Balik Gemulainya Penari Lengger

"Lengger tak melulu urusan tontonan hiburan, padanya hadir tuntunan
berisi ajaran falsafati yang berguna bagi hidup individu dan sosial,"

Cobalah resapi tiga macam gending pembuka pentas lengger, yaitu
ricik-ricik, sekar gadhung, dan eling-eling. Ricik-ricik atau hujan
gerimis mengingatkan manusia pada hakikat masa kecil. "Seperti gerimis
yang membasahi bumi pun tak sanggup, seperti itu manusia saat kecil,"
katanya, kemarin.

Sekar gadhung mengibaratkan manusia sebagai bunga gadhung, sejenis
umbi yang mengandung racun berbahasa. Namun, jika diolah secara baik,
umbi itu bisa menjadi aneka 'nyamikan' yang lezat. Manusia dipadankan
dengan gandhung, artinya bergantung pada bagaimana proses pengajarannya.

"Sehingga di Banyumas ada ujaran, aja nganti salah barute. Artinya,
jangan sampai salah mendidik anak, karena salah-salah dia menjadi
memiliki sifat jahat yang meracuni orang lain," ungkapnya.

Di sisi lain, sekar gadhung adalah wujud idealisasi pribadi manusia.
Bunga adalah "paesan" atau sesuatu yang indah dilihat. "Jangan sampai
manusia itu bunga yang indah dilihat, tapi memendam racun umbi
gadhung," katanya.

Nah, gendhing Eling-eling, sesuai dengan namanya, menunjukkan filsafat
terpenting orang Jawa. Ajaran untuk selalu ingat pada yang menghidupi,
ingat pada sangkan paran atau asal dan tujuan. "Ini ajakan untuk
mengingat Tuhan," katanya.

Cuma masalahnya, memang menjadi lain ketika orang hanya melihat
lengger sebagai tontonan, tanpa menghiraukan adanya tuntunan di balik
lenggak-lenggoknya. Sekarang, tinggal memilih, mau pakai mata
"sensasi" atau mata "makrifat". Mangga kersa
http://ariefbudi.wordpress.com

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Reconnect with

college alumni.

Y! Messenger

Instant smiles

Share photos while

you IM friends.

Official Samsung

Yahoo! Group for

supporting your

HDTVs and devices.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: