Minggu, 10 Februari 2008

[psikologi_transformatif] APsyA, "Psikologi Asia", dan Pengukuhan Guru Besar

APsyA, apakah itu?

Buat yg belum sempat mengikuti, artikel di bawah ini mungkin dapat menambah sekadar wawasan.

Kita juga mengucapkan selamat atas Pengukuhan Guru Besar Prof. Darmanto Jatman (Undip) baru-baru ini.


Juneman

Falsafah Jawa Mulai Dilupakan
Minggu, 13/01/2008

SEMARANG (SINDO) – Budayawan Darmanto Jatman (Pak Dar) resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Psikologi Universitas Diponegoro kemarin.

Pak Dar berharap, psikologi Jawa dapat menjadi awal lahirnya satu wacana psikologi Indonesia yang lebih fungsional. Selain Darmanto, Mudjahirin Thohir kemarin juga dikukuhkan menjadi Guru Besar Ilmu Antropologi Budaya Fakultas Sastra Undip.

Sementara itu, karena alasan kesehatan, Darmanto tidak menyampaikan pidato pengukuhannya. Pidato itu dituangkan dalam sebuah buku yang diberikan kepada setiap tamu undangan berikut sebuah buku karangannya berjudul "Darmanto Jatman Bilang Sori Gusti". Dalam pidato pengukuhan yang berjudul "Ilmu Jawa Kaum Pribumi",Darmanto menceritakan usahanya untuk mengemas mata kuliah Psikologi Jawa.

Sebelumnya, dia telah memperkenalkan psikologi kebudayaan dan psikologi lintas budaya di beberapa fakultas psikologi yang dia rintis. Darmanto berharap, psikologi Jawa lebih membumi menuju ke kehidupan cultural- spiritual humanistic. Pasalnya, menurut Darmanto, keasyikan masyarakat psikologi Indonesia untuk mengimpor psikologi modern membuat wacana tentang pembumian psikologi tidak berkembang, bahkan sampai lebih dari dua dekade.

Padahal menurutnya, psikologi modern yang berkiblat pada negara barat, lebih diajarkan dan dipraktikkan di perkotaan untuk kalangan menengah atas. Sementara, kawruh pribumi hidup di kampung atau dusun-dusun. Bagi sebagian orang dan para pengagum hasil karyanya, Darmanto Jatman adalah sosok langka.

Ciri khas yang selalu dapat ditemui di hampir seluruh hasil karya sastranya yaitu multilingualisme, yaitu penggunaan banyak ragam bahasa.Sosok karismatik yang sederhana dan bersahaja tersebut juga diakui sebagai seorang yang multikulturalisme. Pak Dar adalah penerima gelar profesor psikolog pertama Undip.

Saat pengukuhan kemarin, Pak Dar hanya bisa duduk di atas kursi roda karena belum sembuh total akibat stroke. Pak Dar tidak henti-hentinya menerima ucapan selamat dari para tamu undangan yang terdiri atas sivitas akademika Undip, seniman, budayawan, keluarga, dan kerabat dekatnya.Kendati demikian, keadaan tersebut tidak mengurangi perasaan bahagia yang terpancar dari senyumannya.

Meskikesehatannya membaik, namun Pak Dar belum bisa mengucapkan kata secara lancar. Ia hanya bisa mengucapkan kata-kata pendek, seperti kalimat terima kasih dengan lirih kepada setiap tamu undangan yang bersalaman dengannya. Akibat penyakit stroke yang dideritanya sejak Juni 2007 itu, Pak Dar hanya bisa menggerakkan tangan kirinya. Prof Dar sempat meneteskan air mata dan terharu saat adik kandungnya, Soehartini memberikan selamat atas gelar baru yang disandangnya.

"Saya hanya mengucapkan selamat dan mendoakannya semoga Tuhan memberikannya mukjizat agar ia dapat menulis lagi,"kata Soehartini seusai acara pengukuhan di Auditorium Undip kemarin. Rektor Undip Prof Susilo Wibowo mengakuterkesandengan Darmanto Jatman yang mengajak setiap orang untuk mulai memperhatikan dan melestarikan falsafah Jawa.

Kata dia,falsafah Jawa saat ini sudah mulai dilupakan. "Prof Dar mengajak kita untuk mempelajari kehidupan melalui falsafah Jawa.Karena tanpa mempelajari kehidupan, bagaimana kita bisa tahu masalah kematian," jelasnya. Sementara penganugerahan gelar profesor kepada Darmanto Jatman dinilai oleh banyak kalangan sebagai suatu kewajaran dan memang sudah sepantasnya.

"Saya bangga dan bahagia karena beliau (Darmanto) adalah salah satu tokoh yang merintis berdirinya Fakultas Psikologi Undip. Namun, kenapa pemberian gelar itu baru sekarang.Kenapa tidak dari dulu, saat beliau masih sehat," ungkap Hastaning Sakti, dosen Fakultas Psikologi Undip yang mengaku mengagumi sosok Darmanto Jatman.

Senada dengan Hastaning, salah satu murid sekaligus kerabat dekat Darmanto Jatman, Triyanto Triwikromojuga menyayangkan pemberian gelar profesor yang dinilainya sangat terlambat. Menanggapi hal tersebut, Prof Susilo Wibowo mengungkapkan bahwa pemberian gelar profesor sepenuhnya adalah kewenangan dari presiden. "Undip itu sudah mengusulkan sejak 2005,tapi SK Pak Dar baru turun pada 27 Juli 2007, sebulan sebelum beliau pensiun,"katanya.

Kendati demikian, kata dia, sebelum SK itu turun, UNDIP itu sudah menganggap Pak Dar sebagai guru besar. Hanya, Pak Dar sering menolaknya,"tambahnya. Sri Muryati, istri Darmanto Jatman, mengaku bahwa suaminya tidak melakukan persiapan khusus untuk menghadiri acara pengukuhannya sebagai guru besar.

"Saya tidak tahu kenapa Pak Dar itu tidak begitu tertarik dengan pengukuhannya.Namun, kami kan tetap harus datang untuk menghormati mereka yang memberi gelar tersebut,"jelas Sri. Belum ada rencana pasti yang akan dilakukan pascapemberian gelar profesor ini. Menurut Sri Muryati, Prof Dar akan banyak menghabiskan waktunya di Pakem Sleman. (sari septiyaningtias)

---

Barat Kurang Pahami Karakter Lokal
Psikologi Asia untuk Asia


Jakarta, Kompas - Pendekatan psikologi yang dikembangkan di Amerika maupun Eropa ternyata tidak sepenuhnya dapat diterapkan di negara-negara Asia. Masyarakat Asia memiliki kekhasan dan berkembang semakin kompleks.

Psikolog Prof Dr Sarlito Wirawan Sarwono, Selasa (15/8) kepada wartawan di Jakarta mengemukakan bahwa meningkatnya peran masyarakat Asia dalam tatanan sosial dan perekonomian global, baik dalam konteks positif maupun negatif.

Dalam konteks positif, China, Korea, dan Malaysia melesat mengikuti keunggulan Jepang dalam bidang ekonomi dan produksi. Terorisme di Indonesia dan kegagalan demokrasi di Filipina, merupakan contoh dalam konteks negatif.

"Kenyataan itu telah membuka kesadaran para pakar psikologi di seluruh dunia bahwa masyarakat Asia harus dilihat dari kacamata Asia. Tidak bisa lagi menggunakan pendekatan-pendekatan psikologi yang dikembangkan di Barat," papar Sarlito.

Psikologi dengan cara pandang Asia, kata Sarlito, diharapkan dapat terwujud dengan terbentuknya Asian Psychologist Associations (APsyA) yang dideklarasikan setahun lalu. Organisasi profesi psikolog berbasis regional ini, selama tiga hari (18-20 Agustus 2006) menyelenggarakan kongres pertamanya di Bali, dengan tema Asian Solidarity in Diversity: Towards a Better Quality of Life in Asia.

Menurut Raymond D Fowler dari American Psychologist Associations (APA), kemampuan psikolog Asia untuk melihat kasus-kasus psikologi dengan kacamata Asia akan menyamakan kedudukan APsyA dengan asosiasi-asosiasi psikolog regional yang sudah lebih dulu terbentuk di Eropa, Timur Tengah, dan Amerika. Keberadaan APsyA akan melengkapi ilmu-ilmu psikologi yang memahami karakter manusia dari tempat asal mereka sendiri (indigenous psychology).

Khusus di Indonesia, kata Sarlito yang juga sebagai Presiden APsyA, psikologi yang khas untuk mengatasi permasalahan masyarakat Indonesia mulai dirasakan pentingnya sejak 1998. "Para psikolog yang turun ke lapangan menemukan bahwa instrumen teori atau paradigma yang selama ini digunakan tidak pas untuk mengatasi masalah di Indonesia," tutur Sarlito.

Psikologi terorisme

Kongres pertama APsyA di Bali dijadwalkan suatu simposium tentang psikologi terorisme di Asia. Simposium menampilkan tim Sarlito Wirawan Sarwono dan Komandan Detasemen Khusus 88 Anti Teror, Bekto Suprapto. Bekto akan menguraikan bagaimana Densus 88 berhasil menangani berbagai kasus terorisme di Indonesia.

Sarlito beserta timnya akan memaparkan temuannya tentang skema kognitif pelaku teror di Indonesia hingga mampu memunculkan pembelajaran untuk melakukan kekerasan dan bahkan bom bunuh diri. (LAM)



Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:

http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:

http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/join

(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:psikologi_transformatif-digest@yahoogroups.com
mailto:psikologi_transformatif-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
psikologi_transformatif-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: