Minggu, 18 November 2007

Bls: Bls: [psikologi_transformatif] Re: Maslow, etc (was: Jiddu Krishnamurti...)

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, Tomy T <tomigant@...> wrote:
kerancuan yang sering saya lihat ya....satu teori (budaya, pendapat dst...) di teropongi oleh salah satu teori yang belum tentu pas. misalnya...orang ateis meneropongi yang orang beragama, kultur barat meneropongi kultur asia, al qur'an meneropongi kitap suci dst....kalau yang meneropongi paham yang diteropongi sich gapapa...ini dia membawa hukumnya sendiri dan berbicara tentang hukum yang lain....jaka sembung bawa golok dong, kalaupun ada mungkin di paksa-paksakan, ya ga mas?


harez:
Setahu saya, gagasan/teori yang dikembangkan dalam suatu kondisi (misalkan budaya) tertentu, perlu juga diuji apakah dapat berlaku dalam kondisi lain (misalnya budaya lain). Sebagai contoh, dari kajian yang dilakukan Chung (1969), Yang (2003) dan Huitt (2004) tergambar bahwa hirarki kebutuhan Maslow banyak mendapatkan kritik, antara lain yaitu:

  • Urutan kebutuhan dalam hirarki berbeda dari satu individu ke individu lain, terutama dari satu budaya ke budaya lainnya;
  • Perubahan/pergerakan dari satu tingkat kebutuhan ke tingkat di atasnya hanyalah suatu kecenderungan saja, bukan kepastian. Perubahan tujuan hidup dan cita-cita seseorang dapat mengakibatkan perubahan pada struktur kebutuhannya;
  • Sulit untuk mengoperasionalkan konstruk aktualisasi diri, sehingga sukar untuk menguji teori Maslow (kritik ini terutama berasal dari mereka yang menganut postivisme ilmiah).
Berdasarkan kajian dan kritik-kritik tersebut, kita dapat mengetahui bahwa teori Maslow mengalami sejumlah masalah untuk dapat digeneralisasi dan dianggap berlaku universal. :)

salam,
harez

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, Tomy T <tomigant@...> wrote:
>
> Mas Jusuf,
> akhirnya ketemu juga kita. saya juga bukan pengagum Maslow. karena Mas Jusuf mengatakan persoalannya bukan yang mana lebih benar...saya sangat setuju dan tersenyum mas. karena soal teori, kita harus lihat konteks, jaman dimana teori itu keluar dan berkembang....kanga enak kalau kalau kita tafsirkan seenak kita :)
> saya sich ngaku aja....pernah belajar filsafat timur termasuk konfusius, tapi memang pastilah saya ga tahu apa-apa di bandingkan denga mas Jusuf. dan saya enggak punya keberatan apapun ttg terori konfusius yang mas katakan itu....:). dan saya tidak meragukan hal itu, hanya saja saya merasa kurang 'srek', kalau konfusius di hadapkan dengan Maslow, terlebih teori Maslow yang mas Jusuf ambil ttg piramid. kerancuan yang sering saya lihat ya....satu teori (budaya, pendapat dst...) di teropongi oleh salah satu teori yang belum tentu pas. misalnya...orang ateis meneropongi yang orang beragama, kultur barat meneropongi kultur asia, al qur'an meneropongi kitap suci dst....kalau yang meneropongi paham yang diteropongi sich gapapa...ini dia membawa hukumnya sendiri dan berbicara tentang hukum yang lain....jaka sembung bawa golok dong, kalaupun ada mungkin di paksa-paksakan, ya ga mas?
> Konfusius dari timur, filsafat barat juga begitu ko mas, awalnya ilmu untuk mereka adalah "keutamaan" (aretè) yang harus diraih dalam hidup. keutamaan itu adalah kalòs (yang indah, cakep,bagus dst) dan agathòs (yang baik). dalam perjalanan waktu aretè ini berkembang sesuai dengan situasi jaman nya...kadang keutamaan itu di lihat dari seorang petani, pahlawan perang, seorang pengajar, dst... sekarang aja aretè itu ga tau lagi apa? bahkah J.Maritain dalam bukunya "pendidikan dalam persimpangan" mengemukakan keberataannya....kalau mansuia dididik dari kecil dalam persaingan menuju spesialisasi apa bedanya dengan hewan? hewan adalah makhluk spesialisasi, bukan manusia. karena manusia itu adalah makhluk multi dimensional. hanya mau bilang aja mas....manusia juga sekarang terus belajar ko....cuma menjadi spesialisasi!(jadi hewan dong :) ). makanya ada si pengagum mikrosop nya seperti mas bilang, karena memang itu spesialisasinya....ahahahah, hati hati
> dengan spesialisasi mas....:)
> wah...dah ngelantur kemana nich.....
> tomy
>
>
>
>
>
>
> ----- Original Message ----
> From: Jusuf Sutanto jusuf_sw@...
> To: psikologi_transformatif@yahoogroups.com
> Sent: Sunday, November 18, 2007 2:53:25 AM
> Subject: Bls: Bls: [psikologi_transformatif] Re: Maslow, etc (was: Jiddu Krishnamurti...)
>
> Mas Tommy,
> Inti ajaran Konfusius adalah supaya manusia mau terus belajar sampai mati.
> Karena itu ajarannya bisa ketemu dengan ajaran apa saja asal orangnya mau terus belajar karena ilmu pengetahuan adalah hanya seperti mikroskop untuk mengamati suatu phenomena.
> Yang menjadi masalah adalah banyak ilmuwan lalu menjadi pengagum mikroskop sehingga lupa tugas pokoknya adalah untuk memahami phenomena.
> Lalu terperosok dalam debat soal mikroskop siapa yang paling bagus feature2 nya lengkap.
> Hal ini terjadi juga di negara China sehingga akhirnya dicerahkan oleh Deng Xiao Ping dengan kata-kata bersayapnya :
> " mau kucing hitam, putih, kuning, polos atau belang, yang penting adalah apakah bisa menangkap tikus ?"
>
> Perhatikan ajaran Konfusius berikut ini :
>
> Learning to be human
> Learning for the sake of the self
> self is not as isolated atom
> Self is not as single, separate individuality
> Self as a being of relationship
> Self as centre of relationship
> Self develops continuously
> Ever-expanding process
> Ever-growing network of human relatedness.
> A truly Self realization !
> Jadi kalau Maslow sampai pada closed ended idea yang kemudian disempurnakan, pendekatan Konfusius adalah pengembangan manusia nya sendiri supaya mau terus belajar seumur hidup , kesimpulan yang open ended dan terus berkembang yang hanya berhenti saat mati.
> Karena itu masalahnya bukan siapa yang lebih benar antara konsep Maslow dan Konfusius, tapi menunjukkan bagaimana Maslow sebagai orang yang mau terus menyempurnakan pendapatnya seperti diajarkan Konfusius.
> Artinya Maslow tidak membuat konsepnya sebagai berhala yang bertahta di pikirannya.
>
> Salam,
> Jusuf Sutanto
>
>
> ----- Pesan Asli ----
> Dari: Tomy T tomigant@yahoo. com>
> Kepada: psikologi_transform atif@yahoogroups .com
> Terkirim: Jumat, 16 November, 2007 9:22:00
> Topik: Re: Bls: [psikologi_transfor matif] Re: Maslow, etc (was: Jiddu Krishnamurti. ..)
>
>
> Mas SPH...salah memahami "kurang srek" itu juga ga papa kok, ga ngaruh ko tuk siapapun.... :)
> tapi kl ditanya kira-kira gini kurang sreknya, Mas JS tuh bahas Maslow dr kacamata Konfusiusnya, yang di"kacamatai" itu terutama ttg teori piramid maslow....ini aja dah ga kena! (aq dah jwb seblumnya dgn contoh teori buah buahan dibahas dari teori perikanan) tapi beberapa orang (psikolog kali?) malah membalasnya dengan teori piramid tsb. untung ada mas SHP menyebut ada teori Maslow ttg peak experinces ( juga ttg values, religion yg mas SHP ga sebut), tapi Mas SHP ga menyebut satu dua kalimat ttg peak experinces tsb (jd muncul pertanyaan dalam hati, mas SHP dah baca pa belum? pa dah lupa? ato?)
> malah saya lihat mas SHP membalas dengan ayat ayat dll .... :). padahal Maslow dalam bukunya itu juga menyebut sendiri seperti apa yang di tolak pak JS itu.....bahwa Maslow juga membahas ttg ...""pengalaman 'mistik/religius' yang adalah sebuah pengalaman sakral, ilahi, tak terlukiskan, abadi, ke-ber-satuan dengan yang universal, ....dst
> gitu ga sreknya..... :) (kayek kemaren mas SHP, waktu bahas Jung di sini dengan orang orang psikolog kali...dah lupa aq....gimanaya kemaren)
> intinya?.... ayoooo mas SHP sekarang dah baca ya? ahahahah
> sama sama terimakasih nya mas SHP (sebelumnya juga) :)
> tomy
>
>
> ----- Original Message ----
> From: sinagahp sinagahp@yahoo. com>
> To: psikologi_transform atif@yahoogroups .com
> Sent: Friday, November 16, 2007 2:55:45 AM
> Subject: Bls: [psikologi_transfor matif] Re: Maslow, etc (was: Jiddu Krishnamurti. ..)
>
>
>
> Uppsss... maaf Mas Tomy dan rekan-rekan lainnya, kepencet send, tanpa merespons.
>
> Ma kasih atas masukannya Mas Tomy. Walaupun demikian, supaya saya tidak-tidak salah memahami apa yang Mas Tomy maksudkan, saya mohon penjelasan tentang "kurang srek" yang Mas Tomy maksudkan. Halaman 45-60 kan panjang Mas :). Terima kasih sebelumnya :)
>
> salam,
> harez
>
>
> --- In psikologi_transform atif@yahoogroups .com, Tomy T tomigant@ wrote:
> >
> > nimbrung ah.......
> > Mas SPH or Mbak Swas....kayeknya sich cara anda menerangkan Maslow tuk pak Jusuf jg kurang 'srek', ga tahu juga kalau anda dah baca bukunya Maslow A.H, Religions, Values, and Peak-experinces, Harmondsworth (1986) (seperti mas SPH kasi petunjuk) persisnya dilihat halaman 45-60 ok. (lalu pertanyaannya yang 'srek' itu gimana? ahahahah, tapi master katenye..... :) )
> > Mas Jusuf yang anda tafsirkan itu ga salah...hanya saja ga sederhana itu (wah ini maksudnya opo ya....). untuk mengerti Maslow kan harus tahu latar-belakang teorinya dan sampai dimana sampai teorinya. teori yang mana? misalnya kalau teorinya yang berbicara soal jeruk, mangga, pepaya...ya maunya ditafsirkan dari ilmu buah buah- an...ya kan? karena kalau di tafsirkan menurut ilmu perikanan kan nanti ga pas dia....:). sering kali orang mengambil teori seseorang demi kepentingannya tanpa melihat ide dasar dari si pembuat teori tsb
> > pada hlm 55 ktnya kira kira gini mengikuti kata Rudolf Otto, "pengalaman 'mistik/religius' adalah sebuah pengalaman sakral, ilahi, tak terlukiskan, abadi, ke-ber-satuan dengan yang universal, ....dst
> > nah....Bapak Jusuf coba aja dulu baca buku itu...apa kata Maslow ttg nilai B, pengalaman keagamaan-pengalama n mistik dst...baru coba di lihat dari kaca mata konfusius... gt.... :)
> > duh...sory kl nimbrung dan ga bisa nulis lama...i'm sorry
> > tomy
> >

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

new professional

network from Yahoo!.

Y! Messenger

Quick file sharing

Send up to 1GB of

files in an IM.

Summer Shape-up

on Yahoo! Groups

Trade weight loss

and swimsuit tips.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: