Minggu, 18 November 2007

Re: Balasan: [psikologi_transformatif] Mas Edy -- > ngumbah angkoro :)


membaca urain mbak swas ,
saya pikir perbedaan istilah "terapi" menurut saya(orang awam ) dan
orang psikologi(belajar teori/ensiklopedia ) berbeda.

kalau begitu saya istilahkan terapi marah ini dengan " ngumbah angkoro
" atau " membersihkan sampah marah terpendam dan menanam bunga kesabaran".

(waduh kalo di istilahkan kejadian di atas,apa namanya saya tidak
tahu, tapi itu yang dimaksud masuk ke memori pikiran )

saya membimbing orang agar dia mampu menghapus "sampah marah
terpendamnya dan menggantinya dengan nilai nilai baru dengan metode
menanam pohon kesabaran di dalam imajinasinya "(point :MERINGANKAN
BEBAN )

( ini sesuai dengan prinsip dalam agama islam yang saya anut :
nasehat menasehati dalam kesabaran. mengganti yang buruk dengan yang
baik )

kemudian latihan afirmasi dalam meditasi ringan ,posisi menghayal
/visualisasi sambil mengucap afirmasi
yang intinya memotivasi dia untuk merubah marahnya menjadi kesabaran ,
dan menyakinkan dirinya (sugesti ) ada kesabaran yang terus tumbuh
dalam dirinya
(ini merancang ulang memori /pola pikir sesorang )

dengan pola pikir berganti maka perilaku dia dalam merespon tindakan
marahnya akan berbeda. (point. PERILAKU YANG DI GARAP lewat memori )

bagaimana mbak swas :-)

tentang ibarat lumpur lapindo saya tidak setuju ,
bagi saya marah terpendam masa lalu (akumulasi ) ibarat pohon yang
berakar kuat di halaman rumah.ada buah dan daunnya .

saya membimbing orang untuk merontokkan daunnya ,menebangnya sendiri
membakarnya dan mematikan akarnya. di matikan dengan menancapkan paku
beracun di akarnya.

lalu menanam benih pohon kesabaran....dan merawatnya. sehingga setelah
i minggu latihan saya menyuruh orang untuk menanam pohon dan memberi
nama pohon itu sesuai dengan nama pohon kesabaran yang dia tanam dalam
imajinasi "ngumbah angkoro " bersama saya. (dan mendukung kampanye
eduli global warming )

sehingga ketika dia mengingat nama pohon kesabaran dia kan ingat
sabar. dan setiap dia lihat pohon dia diingatkan (ini konsep dzikir )

perkara dimasa depan benih kemarahan tumbuh lagi ,
ya boleh "ngumbah angkoro " lagi....
namanya manusia hidup... kotoran akan ada tapi jangan lupa bersih 2
terus. dan apakah membantu membuang "kotoran daun 1 gerobak " yang
dari halaman rumah orang ,itu dianggap sia sia ?

atau ada yang bilang buat apa menyapu toh pohon itu terus tumbuh
daunnya. teori yang benar hancurkan pohonnya orang tolol.
he..4x

kalau di hancurkan oksigen kita berkurang dan CO2 tidak ada yang menyerap.
(bagi saya marah adalah emosi yang juga bisa digunakan untuk mencapai
tujuan. bos marah karyawan jadi giat bekerja. istri marah suami pulang
tepat waktu , dll. tapi sampah marah yang membusuk bertahun tahun
harus di bersihkan... )

hmm...pendapat orang bebas bebas saja... :-)

namun yang terpenting dalam "ngumbah angkoro " adalah akar dari
problem orang menjadi suka memendam marah atau tidak bisa mengontrol
marah adalah pola pikir dia dalam menanggapi keadaan.

jadi saya tidak menyelesaikan masalah (dari luar) orang tersebut ,
tapi membantu orang tersebut (dari dalam ) merubah respon dia terhadap
keadaan.
melalui
" olah cipta "

sedikit informasi :
sebenarnya para kyai (ulama islam )di kampung saya , menggunakan
metode tertentu untuk merubah perilaku sesorang , dan dia itu tidak
belajar teori psikoanalisa atau freud. bahkan yang disemarang itu ada
yang merubah preman yang kasar sama istri menjadi orang yang sayang
dan santun sama keluarga.

dan tujuan racikan metode saya ini memang tidak mengacu pada teori
teori psikologi dan apa harus setiap orang mengekor pada pendapat
pakar psikologi ??

lalu sebaiknya saya ini menamakan metode saya
"olah roso " atau " racikan bumbu kesabaran " sehingga tidak di
kaitkan dengan psikologi atau berdamai dengan teori psikologi dan
menyebutnya self healing.

sehingga tidak perlu ijin dan di anggap menyalahi teori freud.

saya pikir2 di kampus psikologi ada ribuan mahaisiswa yang lebih tau
teori dan harusnya bisa meracik sesuatu hal yang lebih baik dari
saya dan bisa aplikatif( di praktekkan )

ada komentar mbak swas dan rekan rekan...
silahkan....

salam,
edy
pekalongan

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, as as
<as2004as_as@...> wrote:
>
> Napa pula harus marah, to, mBak ?
> Apa ada yang bilang egp ?
> Apa ada yang menyepelein ?
> Apa gak dianggep ?
> Apa tidak di manusiakan ?
> Kalau memang demikian, mBak.
> Sampaikan simpatiku, mBak.
> Semoga kuat menerima cobaan itu.
> Dan sabar.
> Hidup masih panjang, mBak
> Janganlah diisi dengan tangis, mBak
> Meski mungkin tak kuat menerima.
> Semoga ditolong sama Tuhan, mBak
> Siapa lagi yang bisa menolong, mBak ?
> Bila berhal seperti itu
> Hanya Tuhan, mBak
> Tempat kita berlindung, mBak
> Tempat kita menangis, mBak
> Sampaikan rasa simpatiku, mBak
>
> was_swas <was_swas@...> wrote:
> Mas Edy, kalau saran yang Mas berikan pada Jeng Lulu itu memang
lebih tepat dikatakan sebagai teknik meredakan emosi :)
> Sedangkan untuk Terapi Marah sendiri.. well.. agak tricky
menjawabnya, namun saya coba ya :)
> > yang jelas yang di hancurkan bukanlah emosi marahnya , namun
sisa sisa
> > marah terpendam MASA LALU di memori pikiran secara keseluruhan bukan
> > bagian per bagian.
> >
> > kemaran terpendam masa lalu ,apakah itu bisa di sebut tetap ??
> Kalau Mas bicara tentang marah yang terpendam masa lalu, maka
menurut saya kita harus bicara tentang psikoanalisa. Dan teori Freud
tentang "represi" serta "defense mechanism" paling tepat untuk
dijadikan acuan pembahasan.
> Freud banyak bicara tentang pengalaman traumatis dan bagaimana
individu menghadapinya. Menurut Freud, pengalaman itu direpresikan
hingga ke alam bawah sadar. Untuk menghadapinya, manusia akan
menampilkan berbagai mekanisme pertahanan diri. Mekanisme pertahan
diri ini yang membuat seseorang bisa seolah2 berfungsi dengan baik
walaupun sebenarnya masih menyimpan dan menumpuk emosi negatif (salah
satunya mungkin kemarahan) terhadap apa yang terkait dengan pengalaman
traumatisnya.
> Terapi2 yang bertumpu pada pendekatan psikoanalisa menempatkan
"persepsi individu terhadap pengalaman traumatis" sebagai kondisi
menetap yang harus diubah. Dengan mengubah kondisi ini, emosi negatif
yang tertumpuk itu akan hilang. Jadi, bukan emosi negatif yang
tertumpuk itu yang dijadikan target untuk dihilangkan, melainkan akar
permasalahannya. Emosi negatif itu adalah simtom yang menyertainya.
> Kalau sekarang Mas Edy bertanya apakah kemarahan terpendam itu bisa
dikatakan menetap, well.. dengan patokan psikoanalisa: tidak. Itu
adalah reaksi dari suatu akar masalah. Ibaratnya, marah terpendam ini
adalah lumpur Lapindo. Dikuras dan dibuang ke tempat lain pun akan
muncul kembali karena kondisi buruk yang menetap tidak terselesaikan :)
> Ada satu alasan lagi yang saya soroti dalam penjabaran Mas Edy:
sisa-sisa marah terpendam masa lalu DI MEMORI PIKIRAN. Kembali saya
berpatokan pada psikoanalisa: suatu pengalaman traumatis yang
direpresikan tidak tersimpan dalam memori pikiran yang dapat diakses.
Memang tidak benar2 hilang dari pikiran, tapi sudah diblokade
sedemikian rupa sehingga tidak disadari, apalagi diingat.
> > prosesnya adalah menghapus timbunan marah terpendam masa lalu
.dengan
> > rileksasi , visualisasi pikiran , menggambar dan sugesti , di tambah
> > musik dan kopi sbg entertainment.
> > memakan waktu 60 sampai 90 menit. bisa individual atau massal 15
orang.
> >
> > kemudian menanamkan nilai kesabaran ke dalam memori pikirannya melalui
> > visualisasi ,dan menggambar yang di dahului juga dengan rileksasi dan
> > membimbing ke alam setengah sadar.
> > karena kalau ada memori masa lalu yang di hapus dalam pikiran , harus
> > ada yang di isikan ke dalamnya.
> > kemudian di sertai latihan meditasi sambil mengucap afirmasi selama 1
> > minggu setelah terapi.
> Proses ini sedikit banyak mirip dengan hypnotherapy yang saya tahu.
Tapi.. yang harus Mas Edy ingat, hypnotherapy itu tujuannya lebih
untuk mengubah pola perilaku :). Mereka tidak meng-claim menghancurkan
sisa2 kemarahan terpendam masa lalu, mereka hanya mengubah pola yang
sekarang :). So.. kalau dari sudut psikologi, ini lebih dekat kepada
behavioristik. Ranah mereka adalah perilaku nyata; bukan memory, bukan
consciousness.
> Ini yang membingungkan dari pendekatan Mas Edy: at the same time
Anda membicarakan objective dan masalah yang khas psikoanalisa, tapi
ranah garapannya adalah ingatan, dan kemudian dalam email berikutnya
bertanya tentang hypnotherapy yang sebenarnya lebih dekat pada
behavioristik (meskipun dengan teknik hipnosis) :)
> Well.. kalau berdasarkan apa yang saya tangkap dari penjelasan Mas
Edy, mungkin ada baiknya Mas Edy kembali ke titik awal: merumuskan
tujuan dan racikannya. Kali ini mungkin dengan lebih banyak mengobrol
dengan Art Therapist yang sudah berpengalaman, dan mempelajari ulang
tentang psikoanalisa. Memang benar bahwa Art Therapy itu "menggunakan
seni karena kata kata saja kadang tidak cukup", tapi intinya adalah
lebih pada terapi itu sendiri, bukan pada penggunaan art-nya.
Penggunaan art itu lebih berupa alternatif cara lain dibandingkan
kata2, tapi tetap yang paling utama adalah merumuskan apa yang hendak
diubah dan bagaimana mengubahnya :)
> Dan walaupun saya nggak mendalami art therapy, sejauh yang saya
tahu Art Therapy ini dekat sekali dengan psikoanalisa. Seperti yang
tergambar dalam situs yang Mas Edy berikan sendiri (situs Marty
Levinson) yang banyak bicara tentang alam bawah sadar (bukan
memory/ingatan, yang masuk dalam alam sadar) seperti dreams.
> Atau, kalau nggak mau pakai psikoanalisa, mungkin Mas Edy perlu
mencari tautan yang lebih jelas antara kemarahan terpendam, ingatan,
dan seni sebagai sarana pengubahannya :).
> Salam,
>
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "edy_pekalongan"
<edy_pekalongan@> wrote:
> >
> >
> > mbak swas
> > terima kasih atas masukannya .dan mohon saran lanjutannya....
> > untuk saran kepada mbak lulu itu bukan proses terapi marah dengan
> > menggambar itu hanya tips kecil meredakan emosi sesaat.
> >
> > kalau lebih tepat di sebut tehnik self healing. gak tahu juga...
> > yang jelas yang di hancurkan bukanlah emosi marahnya , namun sisa sisa
> > marah terpendam MASA LALU di memori pikiran secara keseluruhan bukan
> > bagian per bagian.
> >
> > kemaran terpendam masa lalu ,apakah itu bisa di sebut tetap ??
> >
> >
> > prosesnya adalah menghapus timbunan marah terpendam masa lalu .dengan
> > rileksasi , visualisasi pikiran , menggambar dan sugesti , di tambah
> > musik dan kopi sbg entertainment.
> > memakan waktu 60 sampai 90 menit. bisa individual atau massal 15
orang.
> >
> > kemudian menanamkan nilai kesabaran ke dalam memori pikirannya melalui
> > visualisasi ,dan menggambar yang di dahului juga dengan rileksasi dan
> > membimbing ke alam setengah sadar.
> >
> > karena kalau ada memori masa lalu yang di hapus dalam pikiran , harus
> > ada yang di isikan ke dalamnya.
> > kemudian di sertai latihan meditasi sambil mengucap afirmasi selama 1
> > minggu setelah terapi.
> >
> > saya sendiri kadang bingung ini lebih tepat di sebut emosional healing
> > atau terapi ??
> >
> > mohon masukannya....
> >
> >
> > salam,
> > edy
> > pekalongan
>
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Reconnect with

college alumni.

Y! Messenger

Instant hello

Chat in real-time

with your friends.

Yahoo! Groups

Get info and support

on Samsung HDTVs

and devices.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: