Senin, 03 Desember 2007

[psikologi_transformatif] Mohon pencerahan Romo.! (Koreksi atas terjemahan Bahiya-sutta)

Dari: "Yendra" <yendra@drivehq.com>

Namo Buddhaya.!

Romo Hudoyo, saya berusaha memahami isi Bahiya Sutta yang pernah Romo sampaikan dalam millis ini.
Terkadang saya dapat menyadari keadaan melihat (dengan mata tentunya) tanpa menilai. Ketika mata melihat, stimulus itu saya biarkan saja tanpa respon apapun, dan ini hanya kadang-kadang saja saya mampu seperti itu (pada umumnya saya terjebak dalam dualisme, suks-tidak suka dst).
Tetapi mengapa kalau dengan pikiran saya sama sekali belum bisa seperti yang dikatakan: "Apa yang dikenal oleh pikiran, hanya ada yang dikenal, tanpa ada Aku hadir, disana, disini maupun diantaranya".
Dalam pikiran saya, saya tidak bisa memisahkan pikiran dari ego. Sepertinya Pikiran = Ego. Mohon pencerahannya...!

Mettacitena,
Yendra
=======================================
HUDOYO:

Wah, terima kasih banyak, posting Anda merupakan koreksi atas terjemahan Bahiya-sutta yang biasa saya tampilkan.

Anda benar, pikiran ADALAH ego/atta, karena praktis pikiran dan ego itu muncul bersama-sama dan lenyap bersama-sama (Mulapariyaya-sutta, MN 1). Jadi terjemahan, "Di dalam yang terpikir, hanya ada yang terpikir," sebenarnya salah. Itulah kelemahannya kalau saya menerjemahkan dari bahasa Inggris (terjemahan Thanissaro Bhikkhu), padahal belum tentu terjemahan Inggris itu sendiri pas.

Setelah saya runut kembali ke teks aslinya, ternyata bunyinya adalah demikian:

"Di.t.the di.t.thamatta.m bhavissati,
sute sutamatta.m bhavissati,
mute mutamatta.m bhavissati,
vi~n~naate vi~n~naatamatta.m bhavissatii" - ti.

Diterjemahkan oleh Thanissaro Bhikkhu:

"In reference to the seen, there will be only the seen.
In reference to the heard, only the heard.
In reference to the sensed, only the sensed.
In reference to the cognized, only the cognized."

(Perhatikan: 'vi~n~naate' diterjemahkannya menjadi 'cognized', PENGENALAN, suatu fungsi dari PIKIRAN, padahal bukan itu maksudnya.)

(1) di.t.the = yang terlihat, berkaitan dengan indra penglihatan;
(2) sute= yang terdengar, berkaitan dengan indra pendengaran;
(3) mute = yang tercerap/terasa oleh indra penciuman, pengecapan & perabaan.

Jadi #1 s.d. #3 berkaitan dengan kelima indra.

(4) vi~n~naate = yang muncul dalam kesadaran, yang tersadari (sebelum dikenali oleh PIKIRAN).

Dalam psikologi Buddhis, vi~n~naana (kesadaran, consciousness) ada enam, yakni: lima kesadaran yang masing-masing berkaitan dengan kelima indra, ditambah 'kesadaran batin' yang obyeknya adalah 'bentuk-bentuk batin'.

Jadi pada baris keempat, di dalam kata 'vi~n~naate' sebenarnya tercakup kembali #1 s.d. #3 di atas, ditambah apa yang muncul dalam batin itu sendiri, yakni "bentuk-bentuk batin" (sankhara), termasuk ingatan, dsb.

Jadi terjemahan tuntunan Sang Buddha dalam Bahiya-sutta itu perlu diperbaiki. Mungkin begini:

"Dalam yang terlihat, hanya ada yang terlihat;
dalam yang terdengar, hanya ada yang terdengar,
dalam yang tercerap (oleh indra yang lain), hanya ada yang tercerap,
dalam apa yang muncul dalam kesadaran, hanya ada itu."

Dengan kata lain, tidak ada PIKIRAN / PENGENALAN / AKU yang menanggapi semuaitu.

Mungkin ada tejemahan yang lebih pas?

Salam,
Hudoyo

PS:
(1) kata Pali untuk 'pikiran', 'berpikir' adalah: vitakka, vitakketi; vicaara, vicaareti (dari Kamus Inggris - Pali oleh Buddhadatta). Ini jelas fungsi dari ego/atta.

(2) Saya baru tahu, bahwa nasehat Sang Buddha kepada Bahiya di atas juga diulangi persis sama kepada Malunkyaputta dalam Malunkyaputta-sutta (Samyutta-nikaya, 35,95).

Bahiya adalah seorang pertapa yang bukan siswa Sang Buddha dan tidak pernah belajar Dhamma seperti Empat Kesunyataan Mulia dsb. Namun begitu ia mendengar petunjuk Sang Buddha di atas, ia langsung menjadi 'arahat' (tanpa lewat Sotapatti dsb), dan tanpa harus belajar Dhamma lebih dulu.

Di lain pihak, Malunkyaputta adalah seorang bikkhu siswa Sang Buddha, yang ditahbiskan menjadi bhikkhu pada usia tuanya. Setelah mendengar petunjuk Sang Buddha di atas, ia masih harus berlatih untuk menerapkannya, dalam meditasi sendirian di hutan, sehingga pada akhirnya ia pun menjadi arahat.

Jadi, tampaknya petunjuk vipassana yang saya anggap paling murni ini bukan hanya ditujukan kepada Bahiya SAJA, sebagaimana dipahami oleh sementara kalangan. Sementara kalangan berpendapat bahwa Bahiya "pantas menerimanya", karena ia sudah mencapai sekurang-kurangnya jhana keempat; sedangkan di lain pihak ajaran kepada Bahiya ini dikatakan "belum tentu cocok untuk orang lain". Ternyata Sang Buddha juga memberikan ajaran vipassana murni ini kepada Malunkyaputta, seorang bhikkhu tua yang tidak memiliki kelebihan apa-apa, yang menyadari bahwa "dirinya sudah tua, lanjut usia, renta, tinggal menunggu saat kematian saja."

Jadi, tampak jelas bahwa ajaran vipassana murni ini oleh Sang Buddha ditujukan kepada spektrum manusia yang cukup luas, bukan hanya untuk orang-orang "istimewa" saja.

Hudoyo

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Reconnect with

college alumni.

Y! Messenger

Instant hello

Chat over IM with

group members.

Parenting Groups

on Yahoo! Groups

Single Parenting

to managing twins.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: