Senin, 10 Desember 2007

Re: [psikologi_transformatif] Re: Mengapa kita tidak bisa lagi mentertawakan diri sendiri ?


Menertawakan diri sendiri ?

Huahahahahahahahahahahahaha ..............

Maka akan dimulai dengan, haaaai, dikau itu apa, siiiih ?
Profesor-profesor ?
Pada tidur, yah, bikin aturan saja, baru bisa kelar sebulan yang lalu. Kamu pakar-pakar ? Tidak bisa kerja, yaaaah ? Itu contoh gamblang. Tengok aja
di-mana2. Gak bereeeeeeees..........

Itu semua, kan salah semua !!!!!!!!!!!!!!!!!!
Itu salaaah, itu salaaaah pokoknya sualaaaah semua.
Tidak seperti saya ..............
Bikin kok tidak mengikuti aturan. Itu namanya mbalelo.
Kalau saya, kan, selalu mengikuti aturan.

Tengok aku.
Pada waktu aku masih kecil saja,
wuahahahahahahaha
Semua saya obrak abrik.
Habis, guobloooog semua.
Kucing garong semua.

Masih kecil, loh, saya, waktu itu. Ta a pii
hihihihohoho
lihat
berduereeet, tulisan saya
berdampingan ama yang udah beken-beken.

Huuuuuuu
Du u luuuu itu, yah
Semua kukritik
Apa itu ...........
Huh, pa  aasti katenye beletenye yang selalu beredar.
Huuuuuuuuu

Dan saya justify
Semua adalah para dog
Orang, sayaaaaa koooooook.

Gak pada mikiiiiiir, ya
MCK harus ada
Greenhouse harus ada ...................
efeknya ..............

Huahahahahahahahahahaha
huahahahahahahahahahaha
huahahahahahahahahahaha

( Efek dari Jakarta yang listriknya padam sebagian, gak nyala2, padahal sudah menggunakan sistem spindle canggih dari Electricite De France )


tuhantu_hantuhan <tuhantu_hantuhan@yahoo.com>

Quote: bahwa jika terjadi bencana alam besarrrrrrrrrrrrrrr r sekali, dan yang tertinggal adalah bangunan yang menjadi ikon kota, maka misalnya Paris mudah2an masih punya Eiffel, di Jakarta punya banyakkkkkkkkk sekali mall !!!!!!!..... ... lumayan kan? End of quote.
Tuhantu: Lha, kok Monas nggak disebut-sebut? Wakakaka...
Mbak Ratih, apa betul diatas itu adalah hal positif ? Kok, saya tangkap ada nada sinis? (cmiiw)... Kalau ´ya´, ditujuken kemana nih, sinisme tersebut? Budayawan? Sosiolog? Filsuf? Arsitekt? Planologi?.. . Kalau sinisme itu ditujukan buat mereka, udang saya minum kopi dong yah... Hehehehe...
Bagi saya, mau bangun mall, bioskop, dll. Nggak ada masalah selama ´aturan main´ sebuah kota itu nggak mbalelo. Text dan teori sudah sedemikian bertumpuk di perpustakaan ataupun di kampus-kampus. Lha, nengok keluar dari jendela kampus, apa yg diomongin dalam teori kok, faktanya nggak ada yang beres?... Contoh gamblang, kenapa undang-undang masalah tersebut baru terbit kurang lebih sebulan lalu? Kemana aja para pakar-pakar dan Professor Planologi di Jakarta itu, selama ini?
Ketika masih awal-awal jadi mahasiswa dulu (setelah mengobrak-abrik kantor senat mahasiswa) saya lalu punya akses ke majalah dinding. Sebelumnya, majallah dinding tersebut sering digunakan untuk mendiskreditkan arsitek lokal... (arsitek lokal, kucing dalam karung, katak dalam tempurung,dll. ) padahal jika kita telusuri, jatah proyek untuk bangunan-bangunan besar (bank, mall-mall, hotel, dll.) maupun fasilitas umum, dll. Arsitek lokal itu kebagian porsi paling kecil (paling skala inpres, proyek-proyek kabupaten, rumah jabatan bupati, dan semacamnya) Sementara jika kota tersebut menjadi rawan banjir, dsb. Justru diakibatkan oleh perencanaan- perencanaan mega-proyek, yang perencananya yg bukan lokal (paling jatah management pengawasan konstruksinya) ... Di situ juga kita bisa temukan elemen-elemen kostruksi yg tidak proporsional yg sudah terdisain dari sononya, demi mendongkrak cost konstruksi sehingga design fee juga terangkat. Contoh ini adalah ring-balk pada bagunan kantin di Unhas, misalnya. Perlukah ringbalk sedemikian besar hanya untuk menopang konstruksi atap di atasnya?... Jadi, semua profesi sebaiknya ´mentertawakan diri´ masing-masing. ..:-D... (tuh, kan saya tidak ´fanatik´ terhadap dunia arsitektur?)
Back to taufik, di majalah dinding tersebut, kemudian sering ditempelkan tulisan-tulisan saya berdampingan dengan gambar-gambar karya seorang arsitek (waktu itu, buku tentang karya ini tidak gampang ditemukan, atau barangkali tidak ada di toko-toko buku) Sebab arsitek tersebut, bukanlah tokoh populer dikalangan dosen dan mahasiswa, sehingga karya-karyanya tidak dibicarakan di kampus-kampus. .. Dimana karya-karya tokoh itu, adalah bangunan-bangunan yang berdampingan/ bersatu dengan lingkungan dan alam (earth sheltered architectural)
Lalu, belakangan saya diundang (mewakili Dinas Tata Kota) dalam sebuah seminar tentang perencanaan kota yg diadakan oleh Pasca Sarjana. (saat itu ada kasus gedung sebuah gedung restoran, yg tidak memenuhi persyaratan perparkiran) Dan dalam seminar tersebut, terungkap bahwa proyek tersebut bisa terus berjalan akibat ´katebelece´ (surat sakti) yg sering beredar di era orba...  Karena yg mengeluarkan IMB adalah Dinas Tata Kota (yg kebetulan waktu itu saya wakili) maka, saya mempertanyakan dalam seminar tersebut, kenapa tidak ada aturan setingkat undang-undang dimana IMB tidak bisa keluar jika tidak mengikuti aturan-aturan tertentu? ... Mengingat sebuah kota itu punya batas daya dukung tertentu dalam hal ekologis, bisnis, populasi, dll. Dan makanya pula dalam Planologi ada ketentuan yg mengikat mengenai green space.
Nah, disinilah dalam kasus Jakarta, Planologi itu saya istilahkan sebagai ´ParaDogma´... :-)... Realitas yg dibicarakan secara  teoritis pada ilmu perencanaan kota, tidak ada dalam kenyataan.
Jadi, pokok kritik saya (dalam Warkop Institute ) adalah ketersediaan green space dan public space dalam sebuah kota. Selain itu, warganya (apapun etnik, bangsa dan agamanya) tidak terasing dari roda kehidupan di kota tersebut. Warga bisa memahami secara jelas prosedur pengalihan asset kota kepada pihak ketiga, siapa yg diuntungkan, bagaimana pengelolaannya, dll. Jangan cuek-bebek.. . Warga punya akses untuk monitoring dan evaluasi (pengawasan) terhadap fungsi-fungsi public-sosial atas fasilitas umum-sosial pasca pelaksanaan konstruksi, dll... Bukan bersoal pada anti bangunan ini, atau anti bangunan itu...:-)...
Eniwei, kutipan dari blog ´JakartaButuhRevolus iBudaya´ saya paste kesini, sehubungan dengan thread ´mentertawakan diri´ dalam diskusi ini...
Ilustrasi sederhananya gini... Seorang -katakanlah- si A, menganjurkan kepada B, untuk mentertawakan diri (diri si B, maksudnya) sebagai upaya agar si B tidak fanatik terhadap buku/ajaran tertentu dari planet Pluto (katakanlah gitu). Pada saat melakukan anjuran tersebut, si A menenteng buku ajaran dari planet Mars.
Pertanyaan saya, sanggupkah pula si A mentertawakan dirinya sendiri? Apakah si A juga tidak ´fanatik´ terhadap buku/ajarannya dari planet Mars tersebut?...
Nah, saya masuk (dengan menyeret sebuah kutipan) tidak dengan meneteng buku dari planet tertentu, tetapi dengan memilah-milah pengertian ´diri´. Dalam hal ini, berdasarkan tempat dimana si A berpijak... Hikhikhikhik. .. (we are talking about transformatip psikologi... right?... :-D...
Be Fun
Tuhantu


--- In psikologi_transform atif@yahoogroups .com, "ratih ibrahim" <personalgrowth@ ...> wrote:
>
> bung Anwar,
> menurutku ga perlu pake duluan mana dari apa.....
> please dong ah.....
>
> tentang mall nih, tuhanku.... eh tuhantu...
> tempo2 ketika lunch meeting dengan beberapa klien bersama beberapa kolega
> saya,
> kami juga ngobrolin tentang pembangunan mall dan trade center yang
> "CIHUIIIIIII" banget jumlahnya itu.
> lepas dari segala pertimbangan dan keprihatinan yang begitu besar,
> mencoba untuk menemukan berbagai hal bisa dijadikan positif,
> kami bersetuju, bahwa jika terjadi bencana alam besarrrrrrrrrrrrrrr r sekali,
> dan yang tertinggal adalah bangunan yang menjadi ikon kota, maka misalnya
> Paris mudah2an masih punya Eiffel, di Jakarta punya banyakkkkkkkkk sekali
> mall !!!!!!!..... ... lumayan kan?
>
>
>
> On 12/8/07, tuhantu_hantuhan tuhantu_hantuhan@ ... wrote:
> >
> > Quote: namun demikian, saya sungguh percaya bahwa potensi
> > pikiran/kesadaran manusia selalu akan cukup untuk mengatasi setiap
> > permasalahan. karena sejatinya seluruh keberadaan dibentuk dari afirmasi.
> >
> > Tuhantu: Cuman kadang manusia cendrung membatasi potensi kesadaran dan
> > fikirannya sendiri, tanpa sengaja. Contoh, ketika seseorang mengajak Anda
> > berdiskusi dan mengatakan ´silakan baca bukunya, dan kita diskusikan isi
> > buku itu´.
> >
> > Lalu, waktu dihabiskan berbusa-busa berfikir berdasarkan text book
> > tersebut. Tapi bukan berdiskusi berdasarkan fenomena yang terjadi saat itu,
> > ditempat para diskuser tersebut berada, yg belum tentu sama dengan lokasi si
> > penulis buku yang mereka bicarakan.
> >
> > Akibatnya, cendrung kita membicarakan hal-hal yang sifatnya ´tangan ke
> > dua´, yakni hasil observasi si penulis buku. Padahal, ketika saat penulis
> > melakukan obeservasi, membereskan draft tulisan, berurusan masalah
> > kontrak-kontrak dgn percetakan, mengantar anak istrinya berbelanja dan
> > rekreasi. Apa yang tadi dia observasi akan tidak sama seperti sebelumnya.
> >
> > Sambil nulis ini, saya sedang membayangkan orang-orang pintar di Jakarta
> > sedang berdiskusi tentang isi buku yang di tulis oleh penulis yang
> > berdomisili di Planet Mars...
> >
> > Dan kulihat pula, seorang yang sedang dongkol sedang mengamati diskusi
> > tersebut, kemudian bergumam...
> >
> > ½Jakarta tidak butuh orang-orang pintar *yang saking pintarnya justru
> > tidak tahu kalau pembangunan mall dan trade center sudah melewati batas
> > sehingga tidak ada lagi kawasan hijau di Jakarta*. *Jakarta tidak butuh
> > orang-orang sok suci yang apabila bertemu masyarakat miskin selalu menyebut
> > nama Tuhan sembari menjanjikan peningkatan kesejahteraan padahal kalian tahu
> > kalau semua itu hanya bohong belaka. *½ (sumber: Gua Gak Butuh Lo, Monyet<http://jakartabutuh revolusibudaya. com/2007/ 10/19/gue- gak-butuh- lo-monyet/ #more-150>
> > )
> >
> > Sesuai thread diskusi ini (mentertawai diri sendiri) kira kira...
> > konteksnya cocok nggak?... Hikhikhikhikhik. ..
> >
> > Be Fun


Support the World Aids Awareness campaign this month with Yahoo! for Good


Sent from Yahoo! - a smarter inbox.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Your school could

win a $25K donation.

Y! Messenger

Want a quick chat?

Chat over IM with

group members.

Yahoo! Groups

Endurance Zone

b/c every athlete

needs an edge.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: