Kamis, 27 September 2007

[psikologi_transformatif] Re: Dialog Jung - Philemon

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "sinagahp" <sinagahp@...> wrote:

Swas, jangan cuma duduk-duduk manis dong ah .... ha...ha...ha...

Yee.. si Abang (kan gak mau dipanggil Pakde ;)), kunci jawabannya udah dikeluarkan oleh Bang Harez, saya mau jawab apa lagi dong ;)?

Anyway.. dulu saya juga sempat ragu, bener gak sih Philemon itu "spirit"? Jangan2 itu bagian dari diri sendiri (higher self? conscience? atau apa?). Atau malah mungkin lebih parah lagi: jangan2 Jung berhalusinasi seperti John Nash

Yang jadi patokan saya persis sama dengan yang sudah dikutip oleh Bang Harez (maaf, saya nggak bawa bukunya ke kantor, jadi nggak ingat edisi tahun berapa yang saya punya dan halaman berapa. Tapi yang saya ingat tentang paragrafnya adalah seperti yang dikutip SHP):  

Philemon and other figures of my fantasies brought home to me the crucial insight that there are things in the psyche which I do not produce, but which produce themselves and have their own life. Philemon represented a force which was not myself. In my fantasies I held conversations with him, and he said things which I had not consciously thought. For I observed clearly that it was he who spoke, not I. . . .Psychologically, Philemon represented superior insight. He was  a mysterious figure to me. At times he seemed to me quite real, as if hewere a living personality. I went walking up and down the garden with him, and to me he was what the Indians call a guru

(versi online kutipannya ada di: http://www.psychoheresy-aware.org/jungleg.html)

Yang saya tangkap adalah: Philemon itu mungkin sekali merupakan fantasi Jung, tapi.. ia adalah fantasi dari sesuatu nyata yang tidak dapat benar2 dilihat oleh Jung. Jung benar2 punya "teman diskusi", yang tidak bisa dia jelaskan, tapi bisa dia fantasikan. Fantasi ini yang kemudian dinamakan Philemon, walaupun mungkin aslinya namanya bukan Philemon :)

Sebagai muslim saya percaya bahwa alam ruh itu terbagi 3, yaitu malaikat, ruh (manusia & hewan), serta jin. Dan seperti yang disebutkan dalam Al Jinn (surat ke 72 dalam Al Quran), jin ini tidak identik dengan setan. Jin ini seperti manusia saja layaknya; ada yang sholeh dan ada yang tidak sholeh. Yang tidak sholeh itu yang (seperti juga setan) menggoda manusia. Tapi.. jin yang sholeh bisa saja "berteman" dengan manusia to some degree, karena pada hakikatnya manusia bisa saja berkomunikasi dengan jin.

Yang terbayang oleh saja: selalu ada kemungkinan bahwa Jung sebenarnya punya "teman diskusi" seorang jin. Sebagai entitas yang berbeda, sangat mungkin sekali jin ini mengajukan pertanyaan2 pada Jung yang menajamkan teorinya. Pertanyaan2 yang tidak pernah terpikir atau tidak mungkin diproduksi oleh Jung sendiri.  Namun.. sebagai seorang akademisi, pemikir yang hebat, mungkin susah juga bagi dirinya untuk menterjemahkan "siapa" temannya. Oleh sebab itulah, walaupun he honestly said that Philemon is a force which was not himself, he referred to his discussion with Philemon as "in my fantasies I held discussion.."

Kenapa jin, bukan higher self? Well, menurut saya Jung cukup pintar untuk membedakan mana yang asalnya dari dia sendiri, dan mana yang bukan. Jadi saya positif thinking aja deh: kalau Jung bilang not himself, ya saya percaya.. hehehe.. Toh memang ada kemungkinan lain dan masih bisa dijelaskan sebagai jin :)

Dan terus terang.. saya agak khawatir akan kesehatan jiwa Jung jika dia tidak bisa mengenali higher self-nya sendiri ;)

Salam,


--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "sinagahp" <sinagahp@...> wrote:
>
> Mas Leo,
>
> Menurut anda adakah kemungkinan bahwa dialog yang DIANGGAP terjadi
> antara diri dengan "higher self" atau dengan roh yang berbeda di dalam
> diri itu sebenarnya dialog antara diri sendiri dengan sesuatu "entitas"
> yang sebenarnya terpisah tetapi selalu berada (menempel) dekat-dekat
> (atau bahkan sangat dekat) dengan seseorang.
>
> Maksud saya, itu sesuatu yang sebenarnya sesuatu yang "berbeda", jadi
> "roh" lain bisa dipisahkan tetapi tidak menyebabkan kematian (roh sejati
> manusia ybs tetap melekat dengan tubuh fisiknya). Dalam tradisi
> keagamaan maupun budaya, kan ada tuh prosedur-prosedur pengusiran
> roh-roh jahat dalam diri seseorang. Bahkan ada prosedur memindahkan "roh
> jahat" tersebut ke binatang misalnya (Babi di Alkitab, atau kambing di
> Bekasi).
>
> Mungkinkah yang mas anggap sebagai "higher self" itu adalah "roh lain"
> bukan "roh manusia ybs itu sendiri?
>
> salam,
> harez
>
>
>
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "leonardo_rimba"
> leonardo_rimba@ wrote:
> >
> > Dear Mas Harez and Other Friends,
> >
> > Memang Carl Gustav Jung itu seorang akademisi yang VERY HONEST.
> > Menurut aku, si PHILEMON itu adalah HIGHER SELF darinya, walaupun ia
> > tidak mengatakannya sebagai "Higher Self". Apakah higher self bisa
> > diajak komunikasi ? Bisa aja, dan BANYAK YANG MENGALAMINYA. Lalu,
> > apakah "Higher Self" itu bisa "berwujud" macam-macam di dalam Psyche
> > orang yang "memilikinya", ya BISA SAJA.
> >
> > Banyak yang seperti itu mas,... bahkan banyak sekali ORANG INDONESIA
> > yang mengaku memiliki ROH BERBEDA yang berada di dalam KESADARANNYA,
> > dan bisa diajak BERKOMUNIKASI.
> >
> > So, apa bedanya dengan Mbah CG Jung ? Podo wae kan ? ---Saya sendiri,
> > berbeda dengan kebanyakan orang, cenderung untuk melihat ROH DI DALAM
> > PSYCHE seperti yang dinamakan Philemon oleh Mbah Jung itu sebagai
> > ARCHETYPE. Ho ho ho,,, archetype kan istilah yang dibuat oleh Jung
> > sendiri, tapi kok aku jadi gemar pake istilah itu. Hmm,.. mungkin
> > Jung sendiri tidak realized bahwa konsep Archetype itu LUAR BIASA
> > KEGUNAANNYA. Archetype itu SUMBER ENERGI. Archetype itu INDEPENDEN.
> > Archetype itu seperti PETA JIWA yang menuntun manusianya untuk
> > menapaki JALAN SPIRITUALITAS, BERTRANSFORMASI, menjadi MANUSIA YANG
> > LEBIH MANUSIAWI. That's the end and GOAL OF TRANSFORMATION.
> >
> > Semoga bisa nangkep what I mean yah, nulisnya cepet neh, gak pake
> > mikir, spontan aja,... jebret2, sepuluh jari en, I hope, nyang muncul
> > itu INTUISI juga. Kalo bener kan OK tuh, langcung dayi alam bawah
> > saday, dibawa keluay seeyyyy seeeyyyy seeyyyyyy
> >
> > Yours,
> > Leo
> >
> >
> > --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "sinagahp"
> > sinagahp@ wrote:
> > >
> > > Mas Leo,
> > >
> > > Pertama, saya ingin mengatakan bahwa saya sangat menghargai
> > keterbukaan
> > > anda dalam mengemukakan apa yang ada pada diri anda.
> > >
> > > Kedua, perkembangan dan perjalanan spiritual dan keimanan bagi
> > > sayabagaikan sebuah "misteri". Ada orang Islam, yang kemudian
> > > menjadiKristen. Ada orang Kristen, yang kemudian menjadi mualaf
> > (Islam).
> > > Adaorang Islam, yang kemudian menjadi Budha (pak Hudoyo kalau tidak
> > > salah termasuk kategori yang ini). Ada yang Budha, kemudian menjadi
> > > Islam.Ada Kristen yang menjadi Budha (Richard Gere kalau tidak salah
> > > termasuk kategori yang ini), dan sebaliknya. Seakan-akan
> > > mengisyaratkan"panggilan" Sang Khalik berbeda dari seseorang dengan
> > > orang yang lain. Fakta-fakta itulah yang menyebabkan saya menganggap
> > > bahwa perkembangan dan perjalanan spiritual dan keimanan bagaikan
> > sebuah
> > > "misteri".
> > >
> > > Ketiga, saya rasa memang kita (Mas Leo, saya, maupun rekan-rekan
> > yang
> > > lain), tidak harus selalu sama. Pada satu hal mungkin kita
> > sependapat,
> > > pada lain hal mungkin berbeda atau bahkan bertentangan. Bagi saya,
> > > perbedaan tidak menjadi soal. Keberbedaan terkadang bisa menjadi
> > > kekuatan/kelebihan tersendiri. Yang tampaknya diperlukan adalah
> > kemauan
> > > dan kemampuan untuk bisa saling menghargai perbedaan-perbedaan yang
> > ada.
> > >
> > > Saya sering merasa trenyuh, kalau ada orang menuding orang lain
> > > "berdosa, kotor, ... dsb", terus ujungnya mengatakan "anda tidak
> > akan
> > > masuk surga, pasti tempatnya dineraka ...". Jangankan antar umat
> > > beragama, antar umat seagama pun hal itu cukup sering terjadi. Yang
> > satu
> > > menuding dan menghakimi yang lain, dan kemudian mengambil posisi
> > > (he...he...he..., jangan ueneggg ya [;)] ) atau peran sebagai
> > Tuhan,
> > > menentukan siapa yang masuk "surga", siapa yang masuk "neraka".
> > > He...he...he... :)
> > >
> > > Saya merasa ketiga butir itu perlu saya kemukakan terlebih dahulu,
> > > sebelum kita melanjutkan diskusi kita tentang Jung dan Philemon.
> > > Mudah-mudahan apa yang saya kemukakan pada ketiga butir tersebut,
> > dapat
> > > lebih menunjang pemahaman terhadap dasar-dasar pemikiran dan
> > pendapat
> > > saya.
> > >
> > > Baik Mas, saya rasa sudah cukup penjelasan saya. Mari kita lanjutkan
> > > diskusi tentang Jung dan Philemon.
> > >
> > > leo:
> > > > Menurut aku "Philemon" itu the Higher Spirit dari Carl Gustav
> > Jung.
> > > > Satu sosok yang barangkali pernah muncul dalam KESADARAN
> > > > (CONSCIOUSNESS) Jung di kala muda dan, konon, pernah dilukiskan
> > oleh
> > > > Jung sendiri sebagai satu sosok orang tua yang bersayap. Saya
> > pernah
> > > > melihat foto lukisannya itu. Jung sendiri yang membuatnya. Di situ
> > > > dilukiskan seorang tua yang berwajah tirus, berjenggot, berjubah,
> > > > dan bersayap lengkap dengan bulu2 persis seperti gambar malaikat
> > > > dengan sayap ala burung garuda pancasila itu. Archaic ? Well, yes,
> > > > mao dibilang apa lagi. Gambaran yang muncul di mimpinya Jung itu
> > > > memang archaic dan rasanya dia ingin melukiskan sedapat mungkin.
> > > >
> > > > So, what shall we deduce from that ? Deduksinya adalah bahwa
> > memang
> > > > semua orang bermimpi. Bahkan Carl Gustav Jung itu bermimpi, dan
> > > > bahwa mimpi2 itu memang memiliki SIMBOL2, dan simbol2 itu
> > bentuknya
> > > > tidak seperti benda2 luxurious yang dipajang di mall2, tetapi
> > > > bentuknya ANTIK, UNIK, dan MENARIK. Kalau harus muncul malaikat,
> > ya
> > > > muncullah. Dan kalau kemudian "malaikat" itu dinamakan si Philemon
> > > > oleh orang yang memperoleh mimpi itu, so jadilah.
> > >
> > > harez:
> > > Wah... anda benar-benar pengagum Jung rupanya. Pemahaman saya
> > terhadap
> > > Philemon agak berbeda dengan anda. Pada halaman depan situs yayasan
> > > Philemon
> > > ( http://www.philemonfoundation.org/index_flash.html ), antara lain
> > > dikutip perkataan Jung sebagai berikut:
> > >
> > > "Philemonand other figures of my fantasies brought home to me the
> > > crucialinsight that there are things in the psyche which i do not
> > > produce, butwhich produce themselves and have their own life."
> > >
> > > Pada buku Memories, Dreams, Reflections (terjemahan Inggris tahun
> > 1963 -
> > > Pantheon), pada halaman 183 antara lain Jung mengatakan:
> > >
> > > Philemonand other figures of my fantasies brought home to me the
> > > crucialinsight that there are things in the psyche which I do not
> > > produce,but which produce themselves and have their own life.
> > > Philemonrepresented a force which was not myself. In my fantasies I
> > > heldconversations with him, and he said things which I had not
> > > consciouslythought. For I observed clearly that it was he who
> > spoke, not
> > > I. . . .Psychologically, Philemon represented superior insight. He
> > was
> > > amysterious figure to me. At times he seemed to me quite real, as if
> > > hewere a living personality. I went walking up and down the garden
> > > withhim, and to me he was what the Indians call a guru.
> > >
> > > Dari perkataan tersebut, ada dua hal yang saya perhatikan, yakni
> > > perkataan "which i do not produce" dan pernyataan "and to me he
> > waswhat
> > > the Indians call a guru". Dari kedua pernyataan tersebut, secara
> > > sepintas, saya mengintepretasikan bahwa Philemon jelas bukan fantasi
> > > (karena tidak dibawah kontrol Jung), dan juga bukan "higher self "
> > di
> > > dalam dirinya, melainkan sesuatu "di luar dirinya". Apakah yang
> > disebut
> > > "guru" di kalangan orang India adalah sesuatu yang berada di dalam
> > diri?
> > > Dalam pemahaman awam saya, guru adalah entitas yang berada di luar
> > diri
> > > seseorang. :)
> > >
> > > Apakah memang benar demikian? Mohon penjelasan (kalau tidak salah
> > anda
> > > kurang suka dengan istilah pencerahan), khususnya yang berkaitan
> > tentang
> > > konsep guru caittya (Paramatman) dan kerabatnya. Apakah memang tipe
> > guru
> > > demikian yang dimaksud oleh Jung ?
> > >
> > > Apakah guru yang demikian dapat diperoleh dengan proses imajinasi
> > aktif
> > > (active imagination) Pertanyaan ini saya ajukan, karena saya pernah
> > > membaca bahwa imajinasi aktifnya Jung bukanlah hipnosis, kontemplasi
> > > maupun meditasi.
> > >
> > > Mohon penjelasan Mas. Terima kasih sebelumnya.
> > >
> > > salam,
> > > harez
> > >
> > > NB:
> > >
> > > * Pembahasan uraian lainnya (Kabalah, dll), nanti ya Mas, supaya
> > > postingannya tidak panjang-panjang.
> > > * Masukan dan partisipasi dari Swastinika maupun rekan-rekan
> > yang
> > > lain tentunya sangat diharapkan. Siapa tahu versi bukunya lebih
> > baru.
> > > Swas, jangan cuma duduk-duduk manis dong ah .... ha...ha...ha...
> > [:p]
> > >
> >
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Group get-together

Host a free online

conference on IM.

Real Food Group

Share recipes,

restaurant ratings

and favorite meals.

Yahoo! Groups

Get info and support

on Samsung HDTVs

and devices.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: