Kamis, 27 September 2007

[psikologi_transformatif] Re: Dialog Jung - Philemon

Dear Friends,

Sebelum saya jawab pertanyaan Mas Harez, perkenankanlah saya
mengucapkan A LOT OF THANKS to MBAK SWASTINIKA yang pernah gave me a
chance to clarify my thoughts about INTUITION AND INSTINCT sometime
ago. Well, she gave me a chance even though, I believe, she didn't
even realize that she was part of a whole bunch of SYNCHRONICITY
taking place at that time and continuing until now. So much for that.

Now, for Jung's sop-called HIGHER SPIRIT called Philemon, I don't
have any other explanation or excuses to hold my personal view any
other than refering to many other people living in the past and even
today who CLAIM to have had SUCH SPIRITS. They claim that the
SPIRITS living in their own CONSCIOUSNESS as separate, clearly
identifiable in matters such as personality, vocabulary, and even
MOOD and other traits common to "fill" a living person.

Itu banyak, bahkan di Indonesia banyak yang klaim bahwa ada ROH
LELUHUR, JIN, atau bahkan MALAIKAI yang hidup di dalam dirinya,
memberikan BIMBINGAN dengan SUARA2 yang jelas dan berbeda dengan
yang dimiliki orang orang itu sendiri. Terkadang, si "Higher Self"
itu cuma muncul ketika orangnya sedang "Trance", terkadang bisa juga
muncul dalam keadaan Kontemplatif, terkadang bisa muncul anytime
tanpa ada aneh2. Banyak variasinya dan, nampaknya, yang cukup umum
adalah KLAIM bahwa yang ada di "dalam" diri itu adalah suatu
kepribadian yang berbeda dan, biasanya, memiliki KEARIFAN LEBIH
TINGGI dan KEKUATAN ROHANI LEBIH BESAR daripada yang dimiliki oleh
orang itu. Hmmm.... itu menurut yang aku amati.

So, to STATE IT POSITIVELY bahwa itu adalah bagian dari diri, dan
selayaknya disebut sebagai HIGHER SELF mungkin juga merupakan
suatu "klaim" yang masih perlu dibuktikan pula. So what ? Tapi
jangan aku yang buktiin deh, aku kan praktisi, dan bisanya cuma
bantu orang dengan memakai TERMINOLOGI yang as neutral as possible.
Biasanya aku lihat2 juga kok, kalo orangnya bisa menerima, aku
memakai istilah "Higher Self" tapi, kalo orangnya agak kental budaya
spesifiknya, aku akan pakai term yang diterima di budayanya itu.
Namun, lucunya, di Indonesia sekarang banyak juga orang yang
budayanya mixed (seperti aku juga). Jadi, mereka terkadang gak pasti
harus merujuk ITU sebagai apa. Sebagai JIN, sebagai SPIRIT, sebagai
HIGHER SELF, atau MALAIKAT ?

Teyus gimanah ? Teyus yang PRACTICAL AJA deh. Yang paling suka
istilah mana ? As long as the person is COMFORTABLE with a specific
term, I'll use it for THAT PERSON. And that person only.

Begini neh, cara pandang seorang praktisi. Abis gimana lageeh ?

Yours,
Leo

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "swastinika"
<swastinika@...> wrote:
>
>
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "sinagahp"
> <sinagahp@> wrote:
>
> Swas, jangan cuma duduk-duduk manis dong ah .... ha...ha...ha...
>
> Yee.. si Abang (kan gak mau dipanggil Pakde ;)), kunci jawabannya
udah
> dikeluarkan oleh Bang Harez, saya mau jawab apa lagi dong ;)?
>
> Anyway.. dulu saya juga sempat ragu, bener gak sih Philemon itu
> "spirit"? Jangan2 itu bagian dari diri sendiri (higher self?
conscience?
> atau apa?). Atau malah mungkin lebih parah lagi: jangan2 Jung
> berhalusinasi seperti John Nash
>
> Yang jadi patokan saya persis sama dengan yang sudah dikutip oleh
Bang
> Harez (maaf, saya nggak bawa bukunya ke kantor, jadi nggak ingat
edisi
> tahun berapa yang saya punya dan halaman berapa. Tapi yang saya
ingat
> tentang paragrafnya adalah seperti yang dikutip SHP):
>
> Philemon and other figures of my fantasies brought home to me the
> crucial insight that there are things in the psyche which I do not
> produce, but which produce themselves and have their own life.
Philemon
> represented a force which was not myself. In my fantasies I held
> conversations with him, and he said things which I had not
consciously
> thought. For I observed clearly that it was he who spoke, not
I. . .
> .Psychologically, Philemon represented superior insight. He was a
> mysterious figure to me. At times he seemed to me quite real, as if
> hewere a living personality. I went walking up and down the garden
with
> him, and to me he was what the Indians call a guru
>
> (versi online kutipannya ada di:
> http://www.psychoheresy-aware.org/jungleg.html
> <http://www.psychoheresy-aware.org/jungleg.html> )
>
> Yang saya tangkap adalah: Philemon itu mungkin sekali merupakan
fantasi
> Jung, tapi.. ia adalah fantasi dari sesuatu nyata yang tidak dapat
> benar2 dilihat oleh Jung. Jung benar2 punya "teman diskusi", yang
tidak
> bisa dia jelaskan, tapi bisa dia fantasikan. Fantasi ini yang
kemudian
> dinamakan Philemon, walaupun mungkin aslinya namanya bukan
Philemon :)
>
> Sebagai muslim saya percaya bahwa alam ruh itu terbagi 3, yaitu
> malaikat, ruh (manusia & hewan), serta jin. Dan seperti yang
disebutkan
> dalam Al Jinn (surat ke 72 dalam Al Quran), jin ini tidak identik
dengan
> setan. Jin ini seperti manusia saja layaknya; ada yang sholeh dan
ada
> yang tidak sholeh. Yang tidak sholeh itu yang (seperti juga setan)
> menggoda manusia. Tapi.. jin yang sholeh bisa saja "berteman"
dengan
> manusia to some degree, karena pada hakikatnya manusia bisa saja
> berkomunikasi dengan jin.
>
> Yang terbayang oleh saja: selalu ada kemungkinan bahwa Jung
sebenarnya
> punya "teman diskusi" seorang jin. Sebagai entitas yang berbeda,
sangat
> mungkin sekali jin ini mengajukan pertanyaan2 pada Jung yang
menajamkan
> teorinya. Pertanyaan2 yang tidak pernah terpikir atau tidak mungkin
> diproduksi oleh Jung sendiri. Namun.. sebagai seorang akademisi,
> pemikir yang hebat, mungkin susah juga bagi dirinya untuk
menterjemahkan
> "siapa" temannya. Oleh sebab itulah, walaupun he honestly said that
> Philemon is a force which was not himself, he referred to his
discussion
> with Philemon as "in my fantasies I held discussion.."
>
> Kenapa jin, bukan higher self? Well, menurut saya Jung cukup pintar
> untuk membedakan mana yang asalnya dari dia sendiri, dan mana yang
> bukan. Jadi saya positif thinking aja deh: kalau Jung bilang not
> himself, ya saya percaya.. hehehe.. Toh memang ada kemungkinan
lain dan
> masih bisa dijelaskan sebagai jin :)
>
> Dan terus terang.. saya agak khawatir akan kesehatan jiwa Jung
jika dia
> tidak bisa mengenali higher self-nya sendiri ;)
>
> Salam,
>
>
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "sinagahp"
> <sinagahp@> wrote:
> >
> > Mas Leo,
> >
> > Menurut anda adakah kemungkinan bahwa dialog yang DIANGGAP
terjadi
> > antara diri dengan "higher self" atau dengan roh yang berbeda di
dalam
> > diri itu sebenarnya dialog antara diri sendiri dengan sesuatu
> "entitas"
> > yang sebenarnya terpisah tetapi selalu berada (menempel) dekat-
dekat
> > (atau bahkan sangat dekat) dengan seseorang.
> >
> > Maksud saya, itu sesuatu yang sebenarnya sesuatu yang "berbeda",
jadi
> > "roh" lain bisa dipisahkan tetapi tidak menyebabkan kematian (roh
> sejati
> > manusia ybs tetap melekat dengan tubuh fisiknya). Dalam tradisi
> > keagamaan maupun budaya, kan ada tuh prosedur-prosedur pengusiran
> > roh-roh jahat dalam diri seseorang. Bahkan ada prosedur
memindahkan
> "roh
> > jahat" tersebut ke binatang misalnya (Babi di Alkitab, atau
kambing di
> > Bekasi).
> >
> > Mungkinkah yang mas anggap sebagai "higher self" itu adalah "roh
lain"
> > bukan "roh manusia ybs itu sendiri?
> >
> > salam,
> > harez
> >
> >
> >
> > --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "leonardo_rimba"
> > leonardo_rimba@ wrote:
> > >
> > > Dear Mas Harez and Other Friends,
> > >
> > > Memang Carl Gustav Jung itu seorang akademisi yang VERY HONEST.
> > > Menurut aku, si PHILEMON itu adalah HIGHER SELF darinya,
walaupun ia
> > > tidak mengatakannya sebagai "Higher Self". Apakah higher self
bisa
> > > diajak komunikasi ? Bisa aja, dan BANYAK YANG MENGALAMINYA.
Lalu,
> > > apakah "Higher Self" itu bisa "berwujud" macam-macam di dalam
Psyche
> > > orang yang "memilikinya", ya BISA SAJA.
> > >
> > > Banyak yang seperti itu mas,... bahkan banyak sekali ORANG
INDONESIA
> > > yang mengaku memiliki ROH BERBEDA yang berada di dalam
KESADARANNYA,
> > > dan bisa diajak BERKOMUNIKASI.
> > >
> > > So, apa bedanya dengan Mbah CG Jung ? Podo wae kan ? ---Saya
> sendiri,
> > > berbeda dengan kebanyakan orang, cenderung untuk melihat ROH DI
> DALAM
> > > PSYCHE seperti yang dinamakan Philemon oleh Mbah Jung itu
sebagai
> > > ARCHETYPE. Ho ho ho,,, archetype kan istilah yang dibuat oleh
Jung
> > > sendiri, tapi kok aku jadi gemar pake istilah itu. Hmm,..
mungkin
> > > Jung sendiri tidak realized bahwa konsep Archetype itu LUAR
BIASA
> > > KEGUNAANNYA. Archetype itu SUMBER ENERGI. Archetype itu
INDEPENDEN.
> > > Archetype itu seperti PETA JIWA yang menuntun manusianya untuk
> > > menapaki JALAN SPIRITUALITAS, BERTRANSFORMASI, menjadi MANUSIA
YANG
> > > LEBIH MANUSIAWI. That's the end and GOAL OF TRANSFORMATION.
> > >
> > > Semoga bisa nangkep what I mean yah, nulisnya cepet neh, gak
pake
> > > mikir, spontan aja,... jebret2, sepuluh jari en, I hope, nyang
> muncul
> > > itu INTUISI juga. Kalo bener kan OK tuh, langcung dayi alam
bawah
> > > saday, dibawa keluay seeyyyy seeeyyyy seeyyyyyy
> > >
> > > Yours,
> > > Leo
> > >
> > >
> > > --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "sinagahp"
> > > sinagahp@ wrote:
> > > >
> > > > Mas Leo,
> > > >
> > > > Pertama, saya ingin mengatakan bahwa saya sangat menghargai
> > > keterbukaan
> > > > anda dalam mengemukakan apa yang ada pada diri anda.
> > > >
> > > > Kedua, perkembangan dan perjalanan spiritual dan keimanan
bagi
> > > > sayabagaikan sebuah "misteri". Ada orang Islam, yang kemudian
> > > > menjadiKristen. Ada orang Kristen, yang kemudian menjadi
mualaf
> > > (Islam).
> > > > Adaorang Islam, yang kemudian menjadi Budha (pak Hudoyo kalau
> tidak
> > > > salah termasuk kategori yang ini). Ada yang Budha, kemudian
> menjadi
> > > > Islam.Ada Kristen yang menjadi Budha (Richard Gere kalau
tidak
> salah
> > > > termasuk kategori yang ini), dan sebaliknya. Seakan-akan
> > > > mengisyaratkan"panggilan" Sang Khalik berbeda dari seseorang
> dengan
> > > > orang yang lain. Fakta-fakta itulah yang menyebabkan saya
> menganggap
> > > > bahwa perkembangan dan perjalanan spiritual dan keimanan
bagaikan
> > > sebuah
> > > > "misteri".
> > > >
> > > > Ketiga, saya rasa memang kita (Mas Leo, saya, maupun rekan-
rekan
> > > yang
> > > > lain), tidak harus selalu sama. Pada satu hal mungkin kita
> > > sependapat,
> > > > pada lain hal mungkin berbeda atau bahkan bertentangan. Bagi
saya,
> > > > perbedaan tidak menjadi soal. Keberbedaan terkadang bisa
menjadi
> > > > kekuatan/kelebihan tersendiri. Yang tampaknya diperlukan
adalah
> > > kemauan
> > > > dan kemampuan untuk bisa saling menghargai perbedaan-
perbedaan
> yang
> > > ada.
> > > >
> > > > Saya sering merasa trenyuh, kalau ada orang menuding orang
lain
> > > > "berdosa, kotor, ... dsb", terus ujungnya mengatakan "anda
tidak
> > > akan
> > > > masuk surga, pasti tempatnya dineraka ...". Jangankan antar
umat
> > > > beragama, antar umat seagama pun hal itu cukup sering
terjadi.
> Yang
> > > satu
> > > > menuding dan menghakimi yang lain, dan kemudian mengambil
posisi
> > > > (he...he...he..., jangan ueneggg ya [;)] ) atau peran sebagai
> > > Tuhan,
> > > > menentukan siapa yang masuk "surga", siapa yang
masuk "neraka".
> > > > He...he...he... :)
> > > >
> > > > Saya merasa ketiga butir itu perlu saya kemukakan terlebih
dahulu,
> > > > sebelum kita melanjutkan diskusi kita tentang Jung dan
Philemon.
> > > > Mudah-mudahan apa yang saya kemukakan pada ketiga butir
tersebut,
> > > dapat
> > > > lebih menunjang pemahaman terhadap dasar-dasar pemikiran dan
> > > pendapat
> > > > saya.
> > > >
> > > > Baik Mas, saya rasa sudah cukup penjelasan saya. Mari kita
> lanjutkan
> > > > diskusi tentang Jung dan Philemon.
> > > >
> > > > leo:
> > > > > Menurut aku "Philemon" itu the Higher Spirit dari Carl
Gustav
> > > Jung.
> > > > > Satu sosok yang barangkali pernah muncul dalam KESADARAN
> > > > > (CONSCIOUSNESS) Jung di kala muda dan, konon, pernah
dilukiskan
> > > oleh
> > > > > Jung sendiri sebagai satu sosok orang tua yang bersayap.
Saya
> > > pernah
> > > > > melihat foto lukisannya itu. Jung sendiri yang membuatnya.
Di
> situ
> > > > > dilukiskan seorang tua yang berwajah tirus, berjenggot,
> berjubah,
> > > > > dan bersayap lengkap dengan bulu2 persis seperti gambar
malaikat
> > > > > dengan sayap ala burung garuda pancasila itu. Archaic ?
Well,
> yes,
> > > > > mao dibilang apa lagi. Gambaran yang muncul di mimpinya
Jung itu
> > > > > memang archaic dan rasanya dia ingin melukiskan sedapat
mungkin.
> > > > >
> > > > > So, what shall we deduce from that ? Deduksinya adalah
bahwa
> > > memang
> > > > > semua orang bermimpi. Bahkan Carl Gustav Jung itu
bermimpi, dan
> > > > > bahwa mimpi2 itu memang memiliki SIMBOL2, dan simbol2 itu
> > > bentuknya
> > > > > tidak seperti benda2 luxurious yang dipajang di mall2,
tetapi
> > > > > bentuknya ANTIK, UNIK, dan MENARIK. Kalau harus muncul
malaikat,
> > > ya
> > > > > muncullah. Dan kalau kemudian "malaikat" itu dinamakan si
> Philemon
> > > > > oleh orang yang memperoleh mimpi itu, so jadilah.
> > > >
> > > > harez:
> > > > Wah... anda benar-benar pengagum Jung rupanya. Pemahaman saya
> > > terhadap
> > > > Philemon agak berbeda dengan anda. Pada halaman depan situs
> yayasan
> > > > Philemon
> > > > ( http://www.philemonfoundation.org/index_flash.html ),
antara
> lain
> > > > dikutip perkataan Jung sebagai berikut:
> > > >
> > > > "Philemonand other figures of my fantasies brought home to
me the
> > > > crucialinsight that there are things in the psyche which i
do not
> > > > produce, butwhich produce themselves and have their own
life."
> > > >
> > > > Pada buku Memories, Dreams, Reflections (terjemahan Inggris
tahun
> > > 1963 -
> > > > Pantheon), pada halaman 183 antara lain Jung mengatakan:
> > > >
> > > > Philemonand other figures of my fantasies brought home to me
the
> > > > crucialinsight that there are things in the psyche which I
do not
> > > > produce,but which produce themselves and have their own life.
> > > > Philemonrepresented a force which was not myself. In my
fantasies
> I
> > > > heldconversations with him, and he said things which I had
not
> > > > consciouslythought. For I observed clearly that it was he who
> > > spoke, not
> > > > I. . . .Psychologically, Philemon represented superior
insight. He
> > > was
> > > > amysterious figure to me. At times he seemed to me quite
real, as
> if
> > > > hewere a living personality. I went walking up and down the
garden
> > > > withhim, and to me he was what the Indians call a guru.
> > > >
> > > > Dari perkataan tersebut, ada dua hal yang saya perhatikan,
yakni
> > > > perkataan "which i do not produce" dan pernyataan "and to me
he
> > > waswhat
> > > > the Indians call a guru". Dari kedua pernyataan tersebut,
secara
> > > > sepintas, saya mengintepretasikan bahwa Philemon jelas bukan
> fantasi
> > > > (karena tidak dibawah kontrol Jung), dan juga bukan "higher
self "
> > > di
> > > > dalam dirinya, melainkan sesuatu "di luar dirinya". Apakah
yang
> > > disebut
> > > > "guru" di kalangan orang India adalah sesuatu yang berada di
dalam
> > > diri?
> > > > Dalam pemahaman awam saya, guru adalah entitas yang berada
di luar
> > > diri
> > > > seseorang. :)
> > > >
> > > > Apakah memang benar demikian? Mohon penjelasan (kalau tidak
salah
> > > anda
> > > > kurang suka dengan istilah pencerahan), khususnya yang
berkaitan
> > > tentang
> > > > konsep guru caittya (Paramatman) dan kerabatnya. Apakah
memang
> tipe
> > > guru
> > > > demikian yang dimaksud oleh Jung ?
> > > >
> > > > Apakah guru yang demikian dapat diperoleh dengan proses
imajinasi
> > > aktif
> > > > (active imagination) Pertanyaan ini saya ajukan, karena saya
> pernah
> > > > membaca bahwa imajinasi aktifnya Jung bukanlah hipnosis,
> kontemplasi
> > > > maupun meditasi.
> > > >
> > > > Mohon penjelasan Mas. Terima kasih sebelumnya.
> > > >
> > > > salam,
> > > > harez
> > > >
> > > > NB:
> > > >
> > > > * Pembahasan uraian lainnya (Kabalah, dll), nanti ya Mas,
supaya
> > > > postingannya tidak panjang-panjang.
> > > > * Masukan dan partisipasi dari Swastinika maupun rekan-rekan
> > > yang
> > > > lain tentunya sangat diharapkan. Siapa tahu versi bukunya
lebih
> > > baru.
> > > > Swas, jangan cuma duduk-duduk manis dong ah ....
ha...ha...ha...
> > > [:p]
> > > >
> > >
> >
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Group get-together

Host a free online

conference on IM.

Yahoo! Groups

Your one stop

for beauty & fashion

tips and advice.

Endurance Zone

A Yahoo! Group

Learn how to

increase endurance.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: