Kamis, 04 Oktober 2007

Balasan: [psikologi_transformatif] Fwd: [KomPati] Re: Generasi Pertama dan Kedua Dekon Kompatiologi (Pro: Nala Rat

pasti dong Lu....
itu dah sifat NAla...
kalau belum terpuaskan pertanyaan di hati ini...
pasti akan cari sampai dapat....
siapa sih ngga penasaran liat konflik yang begitu dahsyat dan
menggetarkan hati...eh! tahunya cuma dianggap hiburan oleh pihak
satunya, sedangkan pihak satu lagi serius banget...
*kacian deh loe!*...
Makanya itu Nala cari apa sih Kompatiologi????....
heboh banget..ternyata hasil kreatifitas si vincent doang, tanpa
literatur.....
ya sudahlah Lu...okeeeeeeeeee kita tersenyum aja bersama.....

smile with me
Nala

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, lulu <lu2_mm@...>
wrote:
>
> Wah...nala ...
> ternyata diaku disana toh ...
> gak puas hanya di psi_trans , kau ngejar vcl sampe ke milis
sebelah ..
> bener2 mau jadi korak centil juga ya ???
> btw gak papa sih ...
> sekalian pembelajaran yang ampuh dan jitu sekali buat nala yang
selalu bikin lu2 tersenyum, apalagi kalo kita udah curhat masalah
yang satu itu ..
> sekali lagi selamat ya Nala ...
> terus kejar siapapun yang memang belum kau kenal, sampe tujuan
dan apa yang ingin kamu tahu terjawabkan..yang penting kan just keep
your smile with me ..gimana ??
>
> salam manis
> /Lu2
>
>
> vincentliong <vincentliong@...> wrote:
>
http://tech.groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/2552
> --- In Komunikasi_Empati@yahoogroups.com, Thu Sep 6, 2007 1:26 pm
> "vincentliong" <vincentliong@> wrote:
>
> BAGIAN 01
>
> Vincent Liong wrote:
>
> Hal belajar pada binatang yang menurut anda:
> """""
> kesederhanaan, tidak menjadi serakah, tidak takut akan kekurangan,
> numpuk segala sesuatu......yang akhirnya menumbuhkan
> korupsi...misalnya)....dst...dst.....kurang lebih begitu....
> belajar pada binatang sebenarnya belajar pada alam, bagaimana
> "bersahabat" dengan alam, menghargai alam....yang akhirnya
menghargai
> kehidupan itu sendiri.....
> """""
> Itu adalah hasil akhir. Mengapa ilmu konfensional sulit mencapainya
> karena yang diajarkan adalah pendefinisian dan pembirokrasian
prilaku
> yang sama dengan hasil akhir, tetapi prosesnya tidak diteliti.
>
> Nala Ratih <nalaratih@> answer:
>
> hasil dan proses.....selalu menjadi perdebatan mana yang lebih
> penting. Dalam dunia pendidikan dua hal ini masih ( dan selalu)
> menjadi kontroversi, yang satu mengatakan bahwa hasil lebih
penting,
> yang satu lagi mengatakan bahwa proses jauh lebih
> penting.......seperti sekarang ini yang di ekspos adalah proses
lebih
> penting dibanding hasil karena bagaimana anak harus belajar melalui
> rangkaian metode tertentu....sehingga pada protes ketika kelulusan
> ditentukan oleh hasil.....keduanya sama pentingnya, yang beda
adalah
> fungsi dan tujuannya.....hasil penting karena akan menjadi ukuran
> keberhasilan orang tertentu setelah belajar sekian lama....proses
juga
> penting karena ada penghayatan, orang yang mengalami tidak akan
mudah
> lupa.....ini hanya dua hal yang berbeda dengan output yang beda
pula....
>
> Vincent Liong answer:
>
> Dalam pendidikan saat ini jargonnya memang proses tetapi dalam
> kenyataannya apa yang disebut proses based tsb bukan proses based
> melainkan result based juga. Mengapa demikian? Karena polanya
tetap:
> ikutilah metode yang benar maka hasilnya sesuai yang diharapkan.
> Proses based yang asli memiliki kebebasan memilih hasil sehingga
yang
> diajarkan hanya sebab akibat tekhnisnya saja bukan metode tertentu
> menuju hasil tertentu.
>
> BAGIAN 02
>
> Vincent Liong wrote:
>
> Nah, manusia juga memiliki sirkuit yang ada hubungan sebab akibat
yang
> cukup pasti satu dengan yang lain dalam system pemerosesan
> informasinya. Beda saklar pada manusia dengan saklar pada elektro
adalah:
> * Saklar elektro bekerja dengan menyambung dan memutus arus listrik
> sehingga random sampling binair-nya pada alat pengukur ada tidaknya
> arus listrik, contoh sbb:
> "010101110100010010100010111011111110".
> * Saklar pada sirkuit manusia bekerja dengan mengubah arah naik
atau
> turun, bukan ada arus atau tidak ada arus, sehingga random sampling
> binair-nya contoh sbb:
> "^v^^^^v^^^vvvv^v^^^^v^vvvvvvvvvvvvv^v^^^^^^^^^"
> "+-++++-+++----+-++++-+-------------+-+++++++++"
> Pada mata ini bekerja secara pararel dalam dua grafik terpisah:
Yang
> satu isinya terang-gelap intensitas cahaya yang diterima dan yang
satu
> lagi mengukur jarak jauh-dekat. Nah ini terjadi pada seluruh indra,
> juga perasaan, dlsb. Makin pintar individunya (manusia tumbuhan dan
> binatang) maka makin banyak jumlah grafik pararelnya yang
> masing-masing memiliki bahasa kontekstualnya sendiri-sendiri.
>
> Nala Ratih <nalaratih@> answer:
>
> yup...dalam sistem pemrosesan informasi(SPI) manusia yang terjadi
> dalam otak (sebenarnya lebih tepat adalah persepsi)..tidak sesimple
> binair dalam sistem komputer. Memang dalam SPI terjadi juga
pengkodean
> sehingga memory manusia pun tersusun rapi dan mana masuk kotak yang
> mana, sehingga jika sewaktu waktu dibutuhkan akan mudah
> dicari.....analogi yang cukup menarik....
>
> Vincent Liong answer:
>
> Menurut konmpatiologi, pada proses mempersepsi ada kumpulan sample
> berbeda yang digunakan untuk sebagai alat pembanding dalam
> mentranslate sample yang sifatnya binair. Memang hal ini terlalu
> simple, dan tentunya penjelasan versi psikologi dan kedokteran jauh
> lebih rumit tetapi tidak tekhnis. Masalahnya di ilmu psikologi dan
> kedokteran belum sampai memperlakukannya sebagai pengetahuan
> tekhnis-mekanistik, mereka baru sampai pada asumsi yang disepakati
> maka dari itu kontrolnya tidak sekuat dan sebebas kompatiologi
dalam
> proses dekonnya.
>
> BAGIAN 03
>
> Vincent Liong wrote:
>
> Kalau belum bisa memisahkan secara pararel maka belum lihai benar
> dalam penerapan ilmu kompatiologi-nya. Sebuah komputer yang canggih
> tentunya bisa untuk mengetik di Ms.Word sambil mendengar MP3 di
Winamp
> dan chatting Yahoo Messanger dan burn DVD dengan DVD-RW.
>
> Soal konflik tsb memang harus dilanjutkan berhubung itu ruang
pribadi
> yang diserang: Efek samping dan permainan cuci otaknya masih terus
> berlanjut. Jadi apa saya hanya diamkan? Nanti beresiko malah tambah
> parah. Lagi pula orang tsb harus menerima ganjaran atas
perbuatannya
> mengganggu keluarga saya, paling tidak nama baiknya harus ter-rusak
> untuk sementara waktu, sehingga di waktu yang akan datang tidak
> terlalu menggampangkan keluarga orang lain dan bermain olahraga
otak
> sebagai alasan agar boleh menterornya.
>
> Nala Ratih <nalaratih@> answer:
>
> ok Vincent...setiap konflik pasti ada sesuatu yang mau disampaikan
> oleh alam kehidupan...entah itu konflik yang disegaja maupun tidak
> sengaja...sehingga dalam mempersepsikan konflik itu sendiri menjadi
> sangat penting. Seperti pepatah cina mengatakan bahwa konflik itu
> mempunyai dua sisi seperti mata uang...seperti yin dan yang...sisi
> satu sedih sisi lainnya berkah.....sehingga manajemen konflik oleh
> diri sendiri menjadi sangat penting. menurut pendapatku kok setelah
> kamu kirimi sekian banyak artikel...kompatiologi mengajarkan hal
> tersebut...tapi kenapa kok ndak kamu pakai hal itu...dulu kamu
selalu
> mampu merubah hal negatif menjadi kekuatanmu...tapi sekarang ini
kok
> rasanya kamu sedang dikuasai oleh perasaan amarah....yang akan
merusak
> kamu sendiri.
> quote: orang tersebut harus menerima ganjaran...end of quote
> Vincent...kompatiologi kok sepertinya menajdi ndak berguna ketika
kamu
> punya pandangan seperti itu. Yang berhak mengatakan hal tersebut
> adalah "polisi" atau Tuhan (jika kamu percaya)....bukan manusia
yang
> merasa disakiti/dirugikan oleh orang lain........ini lah "binatang"
> dalam kehidupan hutan rimba....dan bukan esensi kompatiologi yang
> "membinatangkan manusia" istilahmu dan arti menurutmu.....jadinya
ya
> ndak konsisten (seperti kata mas Gito Fahmi)....jadinya binatang
> beneran yang menganut hukum rimba....bukan lagi hukum
> alam/kehidupan....dan itu berlaku untuk konflik apapun....karena
hukum
> rimba ini manusia menjadi seperti binatang (dalam arti
> lain....)...saling bunuh meski dengan alasan sekecil apapun...cubit
> balas cubit...sakit balas sakit.....dst..dst......
> lalu kemana "binatang" seperti yang dimaksud oleh kamu dan
> kompatiologi????? dan maaf kemampuan kompati mu juga menjadi
lemah...
>
> Vincent Liong answer:
>
> Sebagai manusia yang masih hidup di dunia belum hidup di akhirat
maka
> harus mampu bertanggungjawab pada hal-hal yang ada di dunia. Dalam
> kasu dengan mas Leonardo Rimba, Leo selalu memposisikan dirinya
tidak
> ada sebagai manusia hidup di dunia sehingga apapun tindakannya baik
> atau buruk dianggap tidak ada bahkan oleh dirinya sendiri. Mas Leo
> bisa memperhitungkan bahwa Vincent Liong kebinatangan dan naluriah
> tetapi lupa bahwa orang lain juga melihat skenarionya untuk membuat
> emosi Vincent Liong tidak stabil juga tidak kalah dari binatang,
> masalahnya apapun kritik terhadap Leo selalu ditanggapi dengan
kesan
> tidak tahu sehingga seolah-olah ketuhanan (tidak hidup di dunia
tetapi
> di akhirat), seorangd dewa bisa menurunkan malapetaka bagi manusia
> tetapi dari tempat yang jauh menontonnya tanpa bisa dipersalahkan
atas
> tindakannya.
>
> Misalnya ketika saya dijebak mas Leonardo Rimba untuk pergi dengan
bp.
> Sudjanto. Provokasi telah dilakukan sebelum pergi ke pihak pak
Sujanto
> dan dilanjutkan ketika pergi. Setiap kata-kata saya dijawab face to
> face dengan mengatakan bahwa itu semua dilakukan untuk membuat
error,
> gila, dlsb terhadap bp Sudjanto. Kompatiologi dikatakan dibuat
untuk
> menjatuhkan korban secara sengaja lalu kalau saya ralat
dikatakan "tuh
> defense khan namanya juga binatang". Jadi istilah insting dan
intuisi
> memang dibuat agar seseorang boleh ditindas tetapi harus menerima
> tanpa membela diri. Lalu kembali membahas hal-hal keTuhanan. Ini
> dilakukan sampai sampai Vincent dibentak-bentak oleh 3-4 orang
> sekaligus selama seminggu sampai ada omongan kalau bukan saya
anggap
> anak maka sudah saya gebukin, dlsb. Ini ditujukan agar sepulang
dari
> perjalanan, ketika di Jakarta Vincent tidak bisa menahan emosi
> sehingga ngambek di maillist, adi bhisa digunakan untuk iklan lagi
> oleh Leo.
>
> Nah untuk kasus pacar saya Cornelia Istiani, mereka (Pabrik_T) mau
> bermain seolah-olah tidak bersalah tetapi cuciotak terus dijalankan
> dan efek sampingnya terus bermunculan. Lalu seperti alasan Leo "tuh
> defense khan namanya juga binatang, manusia itu harus pasrah" ini
> dilakukan agar memaksa saya menerima untuk ditindas dan terus
> membiarkan dirinya untuk ditindas kalau tidak maka binatang. Mereka
> boleh menindas tetapi saya harus pasrah katanya. Kalau anda juga
> menagggap demikian, sorry mendingan saya dianggap binatang saja
karena
> saya masih perlu memperjuangkan hak azazi saya sendiri sebagai
manusia.
>
> Mereka (Leo, Pabrik_T) khan memposisikan diri sebagai makhluk
setengah
> dewa maka itu selalu pakai cara pura-pura tidak tahu tetapi memaksa
> orang lain dengan menggunakan isu insting, naluriah, futi, dlsb
agar
> orang tidak boleh mempertahankan haknya. Ngomong soal hak maka
> dikatakan naluriah itu mempertahankan wilayah "Hak"maka itu namanya
> binatang bukan manusia. Hanya "Dewa"yang boleh sewenang-wenang
> terhadap "manusia" yang tidak boleh membela diri kecuali dirinya
> "binatang".
>
> Ttd,
> Vincent Liong
> Jakarta, Kamis, 6 September 2007
>
> Email sebelumnya...
> e-link:
http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/2550
> --- In Komunikasi_Empati@yahoogroups.com, nala ratih <nalaratih@>
> wrote:
> >
> > halo Vincent,
> > respon ku warna biru dibawah ini
> >
> > vincentliong <vincentliong@> wrote:
> > e-link:
> http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/2539
> > nala ratih <nalaratih@> wrote:
> >
> > Vincent Liong answer:
> >
> > Hal belajar pada binatang yang menurut anda:
> > """""
> > kesederhanaan, tidak menjadi serakah, tidak takut akan
kekurangan,
> > numpuk segala sesuatu......yang akhirnya menumbuhkan
> > korupsi...misalnya)....dst...dst.....kurang lebih begitu....
> > belajar pada binatang sebenarnya belajar pada alam, bagaimana
> > "bersahabat" dengan alam, menghargai alam....yang akhirnya
menghargai
> > kehidupan itu sendiri.....
> > """""
> > Itu adalah hasil akhir. Mengapa ilmu konfensional sulit
mencapainya
> > karena yang diajarkan adalah pendefinisian dan pembirokrasian
prilaku
> > yang sama dengan hasil akhir, tetapi prosesnya tidak diteliti.
> > Nala:
> > hasil dan proses.....selalu menjadi perdebatan mana yang lebih
> penting. Dalam dunia pendidikan dua hal ini masih ( dan selalu)
> menjadi kontroversi, yang satu mengatakan bahwa hasil lebih
penting,
> yang satu lagi mengatakan bahwa proses jauh lebih
> penting.......seperti sekarang ini yang di ekspos adalah proses
lebih
> penting dibanding hasil karena bagaimana anak harus belajar melalui
> rangkaian metode tertentu....sehingga pada protes ketika kelulusan
> ditentukan oleh hasil.....keduanya sama pentingnya, yang beda
adalah
> fungsi dan tujuannya.....hasil penting karena akan menjadi ukuran
> keberhasilan orang tertentu setelah belajar sekian lama....proses
juga
> penting karena ada penghayatan, orang yang mengalami tidak akan
mudah
> lupa.....ini hanya dua hal yang berbeda dengan output yang beda
pula....
> >
> > Dalam penelitian dan pendidikan kompatiologi saya samasekali
tidak
> > membahas satupun hasil akhir tsb. Mengapa? Karena bila saya
> > membahasnya maka pengguna sama seperti ilmu kebanyakan akan
> meloncati dan menghindari apa yang namanya proses pemerosesan
> informasi, tiba-tiba sim-salabim hasil yang seharusnya adalah
demikian
> > Nala:
> > kompatiologi memfokus kan diri pada proses....itu bagus memang
> karena dengan proses orang diajak menjelajahi dan mengalami yang
benar
> benar sesuai dengan kondisi sehari-hari--bukan
> buatan/artifisial...sehingga ada penghayatan yang memang diperlukan
> sehingga si pelaku/orang tersebut akan mendapatkan insight
> sendiri,.....dan itu yang akan mengubah kehidupan orang
> tersebut...begitukah??? kalo boleh dibilang kompatiologi mendekati
> jaman US di tahun kuda gigit besi....jamannya john dewey dan
> skinner....dengan situated learning-nya, sehingga dalam belajar
orang
> pelakunya diharapkan enjoy bukan sekedar fun saja.....that's good
and
> interesting....
> >
> > Nah mengamati proses pembentukan ilmu kompatiologi bisa melihat
dari
> > sejarah pembentukan ilmu elektro dan ilmu teknik komputer. Ilmu
> > elektro bermula dari satu kegiatan sederhana yaitu saklar yang
> > menyambung atau memutus arus listerik. Komputer tahap awal berisi
> > banyak sirkuit susunan saklar yang dihubungkan dengan kabel
secara
> > manual satu demi satu. Maka dari itu komputer pertama kali
dibuat bisa
> > sebesar rumah, lalu terus berkembang hingga akhirnya diciptakan
robot
> > yang bekerja di pabrik untuk membuat perangkat komputer lebih
kecil,
> > rumit, dipadatkan karena robot tsb memiliki tingkat akurasi yang
jauh
> > lebih kecil toleransi kesalahan / ketidaktepatannya.
> > Nala:
> > ok...i c
> >
> > Nah, manusia juga memiliki sirkuit yang ada hubungan sebab
akibat yang
> > cukup pasti satu dengan yang lain dalam system pemerosesan
> > informasinya. Beda saklar pada manusia dengan saklar pada elektro
> adalah:
> > * Saklar elektro bekerja dengan menyambung dan memutus arus
listrik
> > sehingga random sampling binair-nya pada alat pengukur ada
tidaknya
> > arus listrik, contoh sbb:
> > "010101110100010010100010111011111110".
> > * Saklar pada sirkuit manusia bekerja dengan mengubah arah naik
atau
> > turun, bukan ada arus atau tidak ada arus, sehingga random
sampling
> > binair-nya contoh sbb:
> > "^v^^^^v^^^vvvv^v^^^^v^vvvvvvvvvvvvv^v^^^^^^^^^"
> > "+-++++-+++----+-++++-+-------------+-+++++++++"
> > Pada mata ini bekerja secara pararel dalam dua grafik terpisah:
Yang
> > satu isinya terang-gelap intensitas cahaya yang diterima dan
yang satu
> > lagi mengukur jarak jauh-dekat. Nah ini terjadi pada seluruh
indra,
> > juga perasaan, dlsb. Makin pintar individunya (manusia tumbuhan
dan
> > binatang) maka makin banyak jumlah grafik pararelnya yang
> > masing-masing memiliki bahasa kontekstualnya sendiri-sendiri.
> > Nala:
> > yup...dalam sistem pemrosesan informasi(SPI) manusia yang terjadi
> dalam otak (sebenarnya lebih tepat adalah persepsi)..tidak sesimple
> binair dalam sistem komputer. Memang dalam SPI terjadi juga
pengkodean
> sehingga memory manusia pun tersusun rapi dan mana masuk kotak yang
> mana, sehingga jika sewaktu waktu dibutuhkan akan mudah
> dicari.....analogi yang cukup menarik....
> > Konflik yang terjadi antara kompatiologi dengan ilmu lain terjadi
> > karena: Ilmu lain ngotot pada pendefinisian dan pembirokrasian
prilaku
> > yang sama dengan hasil akhir, tetapi prosesnya tidak diteliti.
> > Kompatiologi ngotot pada penguasaan sirkuit elektronya manusia
yang
> > bisa bebas dimanipulasi dan diubah-ubah rumusnya.
> > Nala:
> > tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan di indoensia sedang
terjadi
> krisis, masing-masing berpegang pada keyakinan sendiri, mana yang
> lebih baik...tanpa di dukung oleh penelitian yang mencerminkan
bahwa
> sistem A misalnya tidak bagus karena ini ini ini
> ini........dst......tapi bicara pendidikan secara umum memang susah
> karena begitu besar kepentingan yang berperan serta....dan
> kompatiologi jika mampu memberi warna baru dalam kancah meotde
> pengajaran...itu bagus saja. akan saling melengkapi...toh kompati
kan
> informal..
> >
> > Vincent Liong selalu memisahkan antara hal pribadi dengan
> > pekerjaannya. Buktinya selama konflik terjadi di waktu yang sama
> > Vincent Liong masih menulis dengan netral tidak terbawa emosi.
> > Kadang-kadang malah Vincent Liong iseng membuat suatu tulisan
tentang
> > masalah pribadi sendiri yang sifatnya seperti mendongeng, lalu
> > dianalisa secara netral dan dibuat lucu agar ada pengetahuan
yang bisa
> > disampaikan ke publik (bukan sekedar bela siapa) sehingga publik
turut
> > mendapat hikmah dari kejadian tsb.
> > Nala:
> > ok saja jika masalah pribadi di sharing dengan tujuan berbagi dan
> syukur syukur ada yang terinspirasi......
> >
> > Kalau belum bisa memisahkan secara pararel maka belum lihai benar
> > dalam penerapan ilmu kompatiologi-nya. Sebuah komputer yang
canggih
> > tentunya bisa untuk mengetik di Ms.Word sambil mendengar MP3 di
Winamp
> > dan chatting Yahoo Messanger dan burn DVD dengan DVD-RW.
> >
> > Soal konflik tsb memang harus dilanjutkan berhubung itu ruang
pribadi
> > yang diserang: Efek samping dan permainan cuci otaknya masih
terus
> > berlanjut. Jadi apa saya hanya diamkan? Nanti beresiko malah
tambah
> > parah. Lagi pula orang tsb harus menerima ganjaran atas
perbuatannya
> > mengganggu keluarga saya, paling tidak nama baiknya harus ter-
rusak
> > untuk sementara waktu, sehingga di waktu yang akan datang tidak
> > terlalu menggampangkan keluarga orang lain dan bermain olahraga
otak
> > sebagai alasan agar boleh menterornya.
> > Nala:
> > ok Vincent...setiap konflik pasti ada sesuatu yang mau
disampaikan
> oleh alam kehidupan...entah itu konflik yang disegaja maupun tidak
> sengaja...sehingga dalam mempersepsikan konflik itu sendiri menjadi
> sangat penting. Seperti pepatah cina mengatakan bahwa konflik itu
> mempunyai dua sisi seperti mata uang...seperti yin dan yang...sisi
> satu sedih sisi lainnya berkah.....sehingga manajemen konflik oleh
> diri sendiri menjadi sangat penting. menurut pendapatku kok setelah
> kamu kirimi sekian banyak artikel...kompatiologi mengajarkan hal
> tersebut...tapi kenapa kok ndak kamu pakai hal itu...dulu kamu
selalu
> mampu merubah hal negatif menjadi kekuatanmu...tapi sekarang ini
kok
> rasanya kamu sedang dikuasai oleh perasaan amarah....yang akan
merusak
> kamu sendiri.
> > quote: orang tersebut harus menerima ganjaran...end of quote
> > Vincent...kompatiologi kok sepertinya menajdi ndak berguna ketika
> kamu punya pandangan seperti itu. Yang berhak mengatakan hal
tersebut
> adalah "polisi" atau Tuhan (jika kamu percaya)....bukan manusia
yang
> merasa disakiti/dirugikan oleh orang lain........ini lah "binatang"
> dalam kehidupan hutan rimba....dan bukan esensi kompatiologi yang
> "membinatangkan manusia" istilahmu dan arti menurutmu.....jadinya
ya
> ndak konsisten (seperti kata mas Gito Fahmi)....jadinya binatang
> beneran yang menganut hukum rimba....bukan lagi hukum
> alam/kehidupan....dan itu berlaku untuk konflik apapun....karena
hukum
> rimba ini manusia menjadi seperti binatang (dalam arti
> lain....)...saling bunuh meski dengan alasan sekecil apapun...cubit
> balas cubit...sakit balas sakit.....dst..dst......
> > lalu kemana "binatang" seperti yang dimaksud oleh kamu dan
> kompatiologi????? dan maaf kemampuan kompati mu juga menjadi
lemah...
> >
> > smile with me
> > Nala
> >
> >
> > Ttd,
> > Vincent Liong
> > Jakarta, Kamis, 6 September 2007
> >
> > Email sebelumnya...
> > e-link:
http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/2539
> > --- In Komunikasi_Empati@yahoogroups.com, nala ratih <nalaratih@>
> > wrote:
> >
> > Mas Tinta
> > sejauh pengamatan saya....tujuan awal kompati adalah "perubahan"
dalam
> > arti bahwa seseorang mampu menjadi diri sendiri, punya
> > selfcontrol...meski istilah yang digunakan sangat norak (yang
akhirnya
> > menimbulkan pengertian salah di banyak orang),
yaitu "membinatangkan
> > manusia"......ini sangat menarik sebenarnya....
> > kebetulan saya menyukai discovery channel...sehingga sedikit
banyak
> > saya belajar dunia binatang (mungkin malah berguru pada
binatang).....
> > dalam pemahaman saya...yang dimaksudkan vincent adalah manusia
kembali
> > pada kesederhanaan, tidak menjadi serakah, tidak takut akan
kekurangan
> > (sehingga mesti numpuk segala sesuatu......yang akhirnya
menumbuhkan
> > korupsi...misalnya)....dst...dst.....kurang lebih begitu....
> > belajar pada binatang sebenarnya belajar pada alam, bagaimana
> > "bersahabat" dengan alam, menghargai alam....yang akhirnya
menghargai
> > kehidupan itu sendiri.....paling tidak itulah kehidupan binatang
yang
> > berjalan selaras dengan kehidupan sekitarnya dengan ekosistem
yang
> > terjaga rapi......
> > hal ini berbeda dengan para filsuf lain yang memandang "rendah"
> > binatang, sehingga manusia harus mampu mengatasi
> > kebinatangannya....tapi apa yang terjadi????? silakan di
rfleksikan
> > sendiri.....
> >
> > Semua ilmu memang punya perjalanannya sendiri.........pro kontra
itu
> > biasa, dinamika yang mesti disikapi dengan fleksibel bukan
> > dendam.......setuju dengan mas tinta bahwa yang penting action
> > selanjutnya apa bukan terpaku pada apa yang sudah
> > lewat/"perang"....dengan menuntut orang lain minta maaf....(ini
rada
> > konyol...)...
> > vincent yang dulu tak peduli apa kata orang lain...yang penting
dia
> > maju dengan prinsip yang jelas tidak merugikan orang
lain....sekarang
> > vincent mudah terprovokasi oleh orang lain....dulu vincent bocah
nakal
> > yang mampu jadi leader.......
> >
> > so Vincent.....tetaplah jadi "bocah nakal" seperti biasanya....
> > pohon kalo makin tinggi makin keras angin meniupnya....
> >
> >
> > smile with me
> > Nala
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > ---------------------------------
> > Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo!
Travel.
> >
>
> --- End forwarded message ---
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di
Yahoo! Answers
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

All together now

Host a free online

conference on IM.

Yahoo! Groups

Endurance Zone

Communities for

increased fitness.

Yahoo! Groups

Dog Zone

Connect w/others

who love dogs.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: