Jumat, 05 Oktober 2007

[psikologi_transformatif] Re: Balasan: GUGUR GUNUNG > Donny KN-->Swas

Selamat sore, DKN :)

Jodoh kok bertiga.. poligami dong.. HAHAHAHA..  Senang membaca jawaban Anda di bawah ini. Saya mutilasi ya..  sesuai topik :)

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, don kenow <donkenow@...> wrote:
> Mungkin jawabannya adalah : proses.

> di Reiki, setelah attunement mesti mempraktekkan self healing selama 21 hari berturut-turut dan tidak boleh ada bolongnya. Kalau bolong, maka diulang lagi dari pertama (jadi hari pertama lagi). Kenapa 21 hari, jawabannya saya dapatkan bukan dari Reiki tapi dari sumber lain yang menyebutkan bahwa 21 hari berturut-turut diperlukan untuk menanamkan suatu kebiasaan , untuk menanam sesuatu dalam sub cons. 

Betul sekali! Saya setuju bahwa intinya adalah proses (seperti yang kita bahas kemarin ya.. tentang "tantrum" ;)).  Dan proses itu memiliki batasan2nya. Dalam Reiki, yang memang bergerak pada "healing", selama 21 hari harus mempraktekkan "self-healing". 

> Ijinkan saya cerita di Aikido yang prinsipnya sedikit sama dengan penggetaran garpu tala ini. (ujung2nya ke Aikido, dasar ! :-), maap ya, abis lebih ngerti sih
> :-) )

Nggak papa..  memang kalau menerangkan harus pakai yang "ngerti" sih.. Jangan sampai pakai yang nggak dikuasai ;)

> Saya dan sensei saya sampai pada kesimpulan bahwa konsep blending, hara to hara/center to center, connected to attacker itu kalau cuma dijelaskan secara teori ke seseorang tanpa orang itu tidak pernah merasakannya dari orang yang telah mengalami rasa aikido tersebut maka sampai "botakpun" orang itu tidak akan mengerti apa itu aikido (blending dstnya).
>
> Sensei saya, berangkat dari ki connection dengan murid2nya, setelah sebelumnya dengan sensei-senseinya, sekarang malah jadi mirip paranormal gitu... :-) maksudnya, dia bisa tahu hati kita. Dia bisa tahu siapa yang lagi bengong di dojo.

Saya tidak tahu persis Aikido itu seperti apa, not my area of expertise :) Tapi sekilas yang saya tangkap tentang Aikido, sebagai martial art Aikido ada kemiripan dengan seni bela diri dengan tenaga dalam. Untuk yang terakhir ini saya ada pengalaman walaupun nggak seberapa ;)

Dari pengalaman yang nggak seberapa itu, ditambah penjelasan DKN sendiri kepada Bude Ratih beberapa waktu lalu (= kalau diperagakan dengan jurus2 akan lebih mudah dipahami) saya bayangkan bahwa konsep blending yang DKN ceritakan ini "dilatih" dengan melibatkan juga latihan jurusnya selama beberapa waktu. It will be hard (if not impossible) to separate the philosophical background with the actual technique you will you :)

CMIIW, ya.. :) Sampai di sini apakah arah berpikir saya benar?

Jika memang arah berpikir saya benar, maka saya akan kembali ke pertanyaan mendasar:

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, don kenow <donkenow@...> wrote:
> Kata Rio, setelah ritual dekon itu ada proses untuk memakai/menerapkan tebak-tebakan secara terus menerus selama 2 minggu, untuk pembiasaan.

Pertanyaan mendasarnya adalah: bagaimana melatih empati dengan "tebak2an"? Berempati, apalagi mampu berkomunikasi secara empati itu jauh lebih luas daripada sekedar menebak. Dan parameter kesahihan tebakan kita apa, jika yang ditebak adalah (misalnya) isi buku?

Saya dan seorang teman saya sama2 membaca Madame Bovary (G. Flaubert) sekian belas tahun lalu, dan sampai sekarang kami berdua masih berbeda pendapat mengenai apakah Madame Bovary ini pelacur atau pathetically romantic woman :). Saya punya teman lain yang berbeda pendapat tentang tokoh Kitty dalam The Painted Veil (buku karya W. Somerset Maughan yang sudah difilmkan): apakah Kitty ini pada dasarnya tidak setia, atau semata2 karena Charles Townsend muncul at the right time and the right moment? Itu baru "menebak" kondisi perasaan, harapan, keinginan dari sebuah tokoh fiktif lho.. hehehe..  apalagi untuk "menebak" manusia asli.

Why? Karena kondisi "jiwa" manusia itu kompleks; sebuah perilaku (nyata) yang sama bisa disebabkan oleh ribuan skenario yang berbeda. Jadi.. berempati dengan manusia lain itu tidak pernah semudah tebak2an :)

Dari yang DKN ceritakan, Rio menguasai Aikido, tapi dia mungkin punya limited knowledge tentang apa itu komunikasi dan apa itu empati. Oleh karena itu, sangat alamiah jika Rio kemudian mengasosiasikan pengalamannya dengan pengalaman dalam Aikido. Bahwa "tebak2an" adalah "jurus" empati, dan berlatih tebak2an equals to berlatih empati. We cannot blame him (and you) for having this belief :)

Tapi.. untuk orang2 yang sudah punya pengetahuan/pengalaman lebih luas dengan empati, punya pengetahuan/pengalaman lebih luas dengan kompleksitas manusia, hal ini menjadi catatan dan pertanyaan tersendiri :)

Kalau pakai pengandaian DKN tentang Reiki, ibaratnya dalam 21 hari itu bukan latihan self-healing, tapi latihan dancing :). Dancing (sebagai olahraga) memang memiliki efek menyembuhkan. Tapi bukan itu kan yang ingin diraih dengan Reiki ;)?

Anyway.. saya sudahi diskusi sampai di sini ya :) I've put all my thought and my way of thinking here.. dan dengan pengandaian Reiki itu, rasanya kita sudah sampai pada pemahaman yang lebih sama :)

Salam,

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Best of Y! Groups

Check out the best

of what Yahoo!

Groups has to offer.

Special K Challenge

on Yahoo! Groups

Find shape-up

tips and tools.

Yoga Resources

on Yahoo! Groups

Take the stress

out of your life.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: