Jumat, 07 Desember 2007

Bls: [psikologi_transformatif] Mengapa kita tidak bunuh diri?

Kehidupan adalah Milik dari yang Menyelamatkan

Suatu hari seorang bocah bernama Siddharta berjalan-jalan di hutan bersama sepupunya Devadatta yang membawa busur dan anak panah bersamanya. Ketika melihat seekor angsa sedang terbang di atas kepalanya, ia mengarahkan anak panahnya dan membidik……dan kena ! Kedua anak itu lari cepat-cepat menuju tempat angsa itu jatuh di semak-semak dan Siddharta lebih dulu menemukannya .

    Angsa itu ternyata masih hidup dan dengan lembut ia mencabut anak panah itu dari sayapnya. Ia merobek bajunya untuk membalut lukanya supaya arahnya berhenti mengalir. Lalu memetik beberapa daun dan meremasnya menjadi cairan dan membubuhkan pada lukanya seraya mencoba menenangkan burung itu dari ketakutan dan memberinya air minum dari labu yang ada di pinggangnya.

    Ketika itu Devadatta tiba dan mengklaim bahwa angsa itu miliknya. Siddharta menolak dan berkata " Kalau kamu telah membunuhnya, itu memang milikmu. Tapi ia hanya terluka dan karena aku yang menyelamatkan hidupnya, maka ia menjadi milikku ". Kedua anak itu beradu mulut tanpa kesudahan sehingga kasusunya dibawa ke pengadilan orang-orang bijak.         Setelah diceriterakan duduk persoalannya akhirnya diputuskan : suatu kehidupan haruslah menjadi milik seseorang yang mencoba menyelamatkannya. Suatu kehidupan tidak dapat diklaim oleh orang yang semata-mata mencoba menghancurkannya. Karena itu burung itu menjadi milik Siddharta ".

            Dalam versi yang berbeda, kita mengenal kisah dari Timur Tengah mengenai bagaimana Nabi Sulaiman memberikan kebijakan yang efektif pada dua orang ibu yang sedang bertengkar saling mengklaim sebagai ibu sesungguhnya dari seorang bayi. Sang ibu sejati rela mengorbankan anaknya sendiri untuk dimiliki orang lain asal bisa hidup, ketimbang memiliki anak yang sudah mati. Karena itu semua agama seyogyanya mempunyai misi utama yang sama , yaitu menjadi Rahmat bagi seluruh alam semesta, hamemayu hayuning bawana.
    Inilah hakikat Psikologi Transformatif dan Transpersonal !


----- Pesan Asli ----
Dari: anrew_kuruw <anrew_kuruw@yahoo.co.id>
Kepada: psikologi_transformatif@yahoogroups.com
Terkirim: Jumat, 7 Desember, 2007 8:00:50
Topik: [psikologi_transformatif] Mengapa kita tidak bunuh diri?

Saya 3 hari lalu baru membeli buku berjudul "Chairil Anwar, sebuah
pertemuan" tulisan Arief Budiman.
Salah satu bagian yg menarik buat saya adalah saat Chairil memandang
hidup sebagai sesuatu yg absurd. Lantas Arief Budiman, sang penulis
buku mengaitkannya dengan Albert Camus. Lantas menanyakan, kalau
memang hidup itu absurd, mengapa kita tidak bunuh diri saja?

Apakah bunuh diri bisa jadi jalan keluar? Mengapa semua agama melarang
manusia untuk bunuh diri?




Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

Find great recruits

for your company.

Y! Messenger

All together now

Host a free online

conference on IM.

Connect w/Parents

on Yahoo! Groups

Get support and

share information.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: