Jumat, 07 Desember 2007

[psikologi_transformatif] paus ; ateisme memicu bentuk "kekejaman terbesar"..

Paus: Ateisme Memicu Bentuk "Kekejaman Terbesar" Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Kamis, 06 Desember 2007
Jangan jadi atheis. Mungkin begitu kira-kira maksud Paus. Sebab, Atheis memicu "kekejaman". Termasuk yang mengikuti Karl Marx
ImageHidayatullah.com--Paus Benediktus XVI dengan keras mengkritik ateisme dan menyalahkan ateisme karena membawa "bentuk kekejaman dan pelanggaran keadilan terbesar" yang pernah terjadi dalam sejarah. Demikian peryanyaan terbaru Paus dikutip sebuah media Kristiani.
Dalam masa encyclical kepausannya yang kedua, Paus juga mengkritik Kekristenan era modern, yang mengatakan bahwa fokus Kekristenan saat ini pada keselamatan individual telah mengabaikan pesan Yesus bahwa harapan Kristiani melibatkan keselamatan bagi semua.
Dalam dokumen 76 halaman berjudul "Spe Salvi," atau "Diselamatkan oleh Harapan," Benediktus berkata bahwa banyak orang menolak iman religius karena mereka menemukan prospek hidup kekal tidak menarik lagi.
Malah, mereka telah menaruh iman mereka pada pemikiran manusia dan kebebasan dengan harapan "kerajaan manusia" akan muncul.
Dalam analisa ilmiahnya, paus berusia 81 tahun itu mengatakan ide-ide ini bersumber dari dua periode pergolakan politil – revolusi Perancis dan Komunis.
Sementara Benediktus menitikberatkan pada Karl Marx dan ateisme abad 19 dan 20 yang ditimbulkan revolusinya, paus mengenali bahwa keduanya merespon ketidakadilan pada masa itu.
Marxisme, tulis Benediktus, telah meninggalkan "jejak kehancuran mengerikan" karena gagal menyadari bahwa bamusia tidak bisa "hanya produk kondisi-kondisi ekonomi belaka." Agar manusia dapat dibebaskan, ia juga memerlukan kasih Tuhan yang tidak bersyarat.
"Bukan suatu kebetulan kalau ide ini (Marxisme/Ateisme) menuntun pada bentuk kekejaman dan pelanggaran keadilan terbesar, malah, itu didasari pada kehakikian yang palsu dari klaimnya," tulisnya. "Sebuah dunia yang harus menciptakan keadilannya sendiri adalah dunia tanpa harapan."
Benediktus juga mengutip Vladimir Lenin, pendiri Uni Soviet, dan "fase lanjutan" dari kediktatoran yang Marx pandang diperlukan dalam revolusi.
"'Fase lanjutan' ini kita ketahui semua dengan sangat baik, dan kita juga tahu bagaimana itu kemudian berkembang, tidak mengantarkan dunia yang sempurna, namun meninggalkan jejak kerusakan yang mengerikan," tulis paus.
Berkomentar atas encyclical paus yang terbaru, Monsignor Robert Wister, professor sejarah gereja di Seton Hall University di Amerika Serikat, menjelaskan bahwa keprihatinan paus "adalah bahwa anda mempunyai kekuatan-kekuatan sekularisasi yang berusaha mengenyahkan agama dari kehidupan public dan pribadi."
"Di kebanyakan negara, Marxisme politik sudah mati [tapi] Marxisme filosofis masih hidup dan filosofis sekuler yang sering dilihat di Eropa dan Amerika Utara," kata Wister, menurut Associated Press.
Pada saat bersamaan, Benediktus juga terlihat kritis tentang cara Kekristenan moderm merespon jaman, mengatakan "kritik diri" seperti itu juga diperlukan.
"Kita harus menyadari bahwa Kekristenan modern, dihadapkan pada kesuksesan ilmu pengetahuan yang secara progresif menstruktur dunia, dalam batasan yang luas harus membatasi perhatiannya pada individual dan keselamatannya," tulis paus. "Dalam melakukannya, ilmu pengetahuan membatasi horison harapannya dan gagal mengenali kekurangan kebesaran tugasnya."
Konsep Kristiani mengenai harapan dan keselamatan, kata paus, tidak selalu individual-sentris.
Mengutip ayat dan teolog, Benediktus mengatakan keselamtan di gereja mula-mula dianggap "komunal" – ia mengilustrasikan poinnya dengan menggunakan kasus biarawan di Abad Pertengahan yang meliputi diri mereka dengan doa bukan hanya untuk keselamatan mereka sendiri tapi juga untuk orang lain.
"Bagaimana mungkin ide yang dikembangkan dari pesan Yesus diperdangkal secara individualistic dan hanya ditargetkan pada satu orang demi satu orang saja? Bagaimana kita tiba dalam interpretasi "keselamatan jiwa" ini untuk pergi dari tanggung-jawab bagi semua, dan bagaimana kita bisa menghasilkan proyek Kristiani sebagai pencarian keselamatan yang egois yang menolak ide melayani orang lain?" tanyanya.
Sementara mencari untuk memberikan jawaban, paus berkata ada jalan bagi orang berimana untuk belajar dan mempraktekkan harapan Kristiani yang sesungguhnya – dalam doa, dalam penderitaan, dalam mengambil tindakan dan dalam melihat Penghakiman Terakhir sebagai symbol harapan.
"Hanya Tuhan yang dapat menciptakan keadilan. Dan iman memberikan kita kepastinan bahwa Ia melakukannya. Citra Penghakiman Terakhir bukanlah hanya citra teror, tapi citra harapan; bagi kita itu mungkin citra harapan yang paling menentukan? Apakah itu juga bukan citra yang menakutkan? Saya akan berkata: itu adalah citra yang membangkitkan tanggung-jawab, sebuah citra, akan ketakutan yang Santa Hillary katakan saat dia berkata bahwa semua ketakutan kita mempunyai tempat dalam kasih. Tuhan adalah adil dan menciptakan keadilan."
Encyclical pertama dari Paus Benediktus adalah "Tuhan adalah kasih," yang dirilias tahun lalu. Yang ketiga diperkirakan berjudul "Iman," sebagaimana itu akan melengkapi tiga kebajikan teologika Kristiani – iman, harapan dan kasih


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Kickstart

Sign up today!

new professional

network from Yahoo!.

Y! Messenger

All together now

Host a free online

conference on IM.

Parenting Zone

Your home for

parenting information

on Yahoo! Groups.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: