Kamis, 18 Oktober 2007

[psikologi_transformatif] Re: (Nanya semiotik itu apa?)Pemetaan (Range and Scale),,

Perkenalkan, saya Renny. Saya kuliah di Fakultas Psikologi
Universitas Surabaya, semester 3. Sudah tiga bulan saya jadi member
milis ini. Banyak istilah yang saya enggak ngerti. Kayak
istilah "semiotik" di tulisan Mang Iyus ini.

Renny bingung dengan penggunaan kata "semiotik". Apa yang 'semiotik'
ini sama dengan 'simptomatik'?

Oya ini kalimat2 yg ada kata 'semiotik' yang saya ngga ngerti
maksudnya. Bisa minta tolong dijelaskan?

...infomasi semiotik yang disampaikan oleh fisik pasien
menangkap sinyal-sinyal dari tubuhnya yang memberikan informasi
semiotik tertentu.

....Getaran tersebut dikatakan "memiliki kecerdasan" yang lebih
tepatnya disebut sebagai "membawa suatu informasi" tertentu.
Informasi yang dibawa tersebut bersifat semiotik dan hanya dapat
ditangkap dan dimengerti maknanya oleh mereka yang memiliki kepekaan
khusus.

...Memang ada yang mampu "merasakan getaran" tersebut namun
tidak "mampu memahami" makna semiotikanya. Namun, biasanya mereka
yang mampu merasakan getaran tersebut "dapat dibimbing" untuk mampu
menafsirkan makna semiotikanya.

....Itulah sebabnya mengapa para shaman 4) sudah sejak dari zaman
dahulu kala mampu memahami makna semiotik seperti itu walaupun
perkembangan kecerdasan rasional sama sekali masih belum memadai.

....Seorang penyembuh komplementer yang handal tanpa alat stethoscope
langsung dapat membaca informasi semiotika yang disampaikan oleh
tubuh pasien dan mengatakan detak jantungnya antara 150 – 110

...Tentunya dari kemampuan membaca informasi semiotika baik dari
tubuh pasien itu sendiri maupun dari daun obat.

....Yang diperlukan hanyalah "perlambang" atau isyarat semiotik untuk
menyeimbangan kembali defisiensi tertentu

....Sebaliknya, apa yang dapat dilakukan oleh penyembuhan
komplementer banyak yang tidak mampu dilakukan oleh ilmu medis Barat.
Umpamanya kemampuan untuk membaca secara intuitif sinyal semiotik
yang dipancarkan oleh tubuh pasien itu sendiri, terutama bila pasien
tersebut tidak dapat atau kehilangan kemampuan berkomunikasi secara
verbal

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, Vincent Liong
<vincentliong@...> wrote:
>
> Note: forwarded message attached.
>
>
> Send instant messages to your online friends
http://au.messenger.yahoo.com
> >
> >
> > Pemetaan (Range and Scale)
> >
> > Pada Sistem Pengobatan Komplementer
> >
> >
> >
> > Istilah Pengobatan Komplementer diperkenalkan oleh biarawan
Bruder
> > Yanuar Husada, SS.CC. (d/h Jan Heuts) seorang herbalis, tepatnya
> > "complementary healer" yang memakai media obat-obatan herbal
khususnya
> > dedaunan (folium). Pada tanggal 9 September 2007 beliau merayakan
50
> > tahun hidup membiara. Sekaligus dirayakan 25 tahun pengobatan
> > komplementer dan 5 tahun terakhir dalam naungan suatu lembaga
yaitu
> > Yayasan Yanuar Husada.
> >
> >
> >
> > Komplementer maksudnya bersifat melengkapi. Dengan demikian ia
tidak
> > memposisikan metode pengobatannya sebagai sisi lawan daripada
sistem
> > pengobatan Barat. Namun demikian tetap saja sifat pengobatannya
ialah
> > holistik (menyeluruh) dan subyektif. Holistik : dalam arti hal
itu
> > tidak hanya berkaitan dengan matra fisik pasien, tetapi juga
matra
> > psikis dan spiritualnya. Subyektif : merujuk pada makna bahwa
> > pengobatan itu disesuaikan dengan kebutuhan nyata subyek tersebut
pada
> > waktu tertentu dan bukan berlaku untuk semua pasien pada
sembarang
> > waktu lainnya.
> >
> > Subyektif : juga berarti pengobatan itu mulai dari infomasi
semiotik
> > yang disampaikan oleh fisik pasien itu sendiri tentang kekurangan
atau
> > disfungsi yang dialaminya. Karena berangkat dari informasi
semiotik
> > dari tubuh pasien itu sendiri maka dari seorang penyembuh
komplementer
> > seperti bruder Yan mutlak dibutuhkan suatu kepekaan intuisi yang
mampu
> > menerima, membaca, serta menafsirkan informasi semiotik tersebut.
> >
> >
> >
> > Saat seorang pasien datang dengan keluhan simtomatis tertentu
maka
> > penyembuh segera mencoba menangkap sinyal-sinyal dari tubuhnya
yang
> > memberikan informasi semiotik tertentu. Dari kisah bapak Andri
> > Kristian pernah datang kepada bruder Yan datang satu keluarga
dengan
> > anak bayi yang sakit-sakitan terus dan tidak bisa tidur tenang.
Kepada
> > orang tua bayi tersebut alih-alih diberi resep ternyata hanya
satu
> > kalimat pada kertas resep yang berbunyi: "Terlalu banyak warna
merah
> > di sekitar tempat tidur ." 1)
> >
> > Dengan mengubah tata warna di kamar bayi tersebut maka "penyakit"
aneh
> > itupun sembuh. Mana mungkin pada pengobatan medis hal seperti itu
> > dapat terjadi. Kepada bayi tersebut mungkin malah akan diberikan
obat
> > penenang supaya ia dapat tidur. Jika terjadi demikian, maka
kepada
> > bayi tersebut telah diberikan "racun" yang sebenarnya sama sekali
> > tidak dibutuhkan oleh tubuh si bayi.
> >
> >
> >
> > Teori dasar yang dianut oleh penyembuh komplementer ini ialah
bahwa
> > "... semua yang ada, yang hidup dan berkembang mengeluarkan
getaran".
> > 2) Getaran ini dapat dideteksi oleh mereka yang memiliki kepekaan
khusus.
> >
> > Menurut fisika kuantum tentu penjelasan ini tidak keliru. Setiap
benda
> > apapun memiliki sel dan inti sel sub-atomik. Di dalam inti sel
itu
> > terdapat getaran dan bukan massa (disebut sebagai non-mass
neutrino)
> > 3). Getaran tersebut dikatakan "memiliki kecerdasan" yang lebih
> > tepatnya disebut sebagai "membawa suatu informasi" tertentu.
Informasi
> > yang dibawa tersebut bersifat semiotik dan hanya dapat ditangkap
dan
> > dimengerti maknanya oleh mereka yang memiliki kepekaan khusus.
Memang
> > ada yang mampu "merasakan getaran" tersebut namun tidak "mampu
> > memahami" makna semiotikanya. Namun, biasanya mereka yang mampu
> > merasakan getaran tersebut "dapat dibimbing" untuk mampu
menafsirkan
> > makna semiotikanya. Juga karena untuk keperluan itu tidak
diperlukan
> > pertama-tama "kecerdasan rasional" (otak kiri) melainkan jenis
> > kecerdasan yang lain yaitu "kecerdasan intuitif" (otak kanan)
yang
> > sifatnya lebih reseptif; daripada aktif mencari solusi sintesis
dari
> > pertarungan data tesis dan antitesis. Itulah sebabnya mengapa
para
> > shaman 4) sudah sejak dari zaman dahulu kala mampu memahami makna
> > semiotik seperti itu walaupun perkembangan kecerdasan rasional
sama
> > sekali masih belum memadai.
> >
> > Ketrampilan ini disebut "radiestesi" yang berasal dari dua kata.
> > Yaitu, radio yanga artinya "sinar" (rays) atau "getaran"
dan "estesia"
> > artinya "merasakan". Seorang "radiesteet" mampu menerima dan
merasakan
> > getaran yang dipancarkan oleh suatu benda atau makhluk hidup.
> >
> >
> >
> > Dalam rangka penyembuhan maka kemampuan untuk mendeteksi
disfungsi
> > atau defisiensi pada organ merupakan syarat mutlak. Seorang
dokter
> > memiliki alat stethoscope untuk "mendengar" detak jantung, udara
di
> > paru-paru atau udara di lambung. "Mendengar" mulainya detak
jantung
> > pada saat jantung menguncup (sistolik) dan hilangnya detak
jantung
> > pada saat jantung mengendur (diastolik). Dari situ dokter
menentukan
> > kondisi seseorang pada skala detak jantung seseorang antara range
> > angka tertinggi dan angka terendah (umpamanya dari 220 maksimal
sampai
> > 50 minimal). Misalnya seorang pasien berada pada skala 150 -- 100
yang
> > artinya ia mengidap penyakit hipertensi atau tekanan darah
tinggi.
> > Seorang penyembuh komplementer yang handal tanpa alat stethoscope
> > langsung dapat membaca informasi semiotika yang disampaikan oleh
tubuh
> > pasien dan mengatakan detak jantungnya antara 150 -- 110 dan
karena
> > itu ia terkena hipertensi. Pada zaman dahulu mana mungkin seorang
> > shaman mempunyai alat yang namanya stethoscope? Tentu saja tidak.
> > Namun ia mampu pula mengamati "aura" merah muka pasiennya,
menonjolnya
> > nadi di pelipis dsb. Maka iapun mungkin akan memberikan
daun "kumis
> > kucing" yang bersifat diuretik (bersifat melancarkan kencing)
kepada
> > pasiennya sehingga tekanan darahnya menurun. Dari mana datangnya
> > "kearifan lokal" (local genius) seperti itu? Tentunya dari
kemampuan
> > membaca informasi semiotika baik dari tubuh pasien itu sendiri
maupun
> > dari daun obat. Kemudian dibaca juga kesesuaian/ keserasian tubuh
> > pasien dengan jenis ramuan tertentu. Tidak selamanya keduanya
> > kompatibel. Ada jenis obat yang sama-sama mempunyai unsur
terapeutik
> > yang sejalan namun belum tentu tepat untuk pasien tertentu. Dalam
hal
> > ini ternyata para dokterpun melakukan terapi secara "trial and
> > error". Bila pasien tidak cocok dengan jenis preparat tertentu
maka
> > pada kunjungan berikutnya obatnya diganti. Sayangnya juga tanpa
> > kepastian akan kesesuaian antara obat pengganti tersebut dengan
pasien
> > yang bersangkutan. Pihak pabrikan di Indonesia belum ada --
setahu
> > penulis -- yang pernah melakukan "absorbability test" preparat
yang
> > dikeluarkan pabriknya. Belum tentu obat-obat yang diketemukan di
> > negara Barat pasti sesuai untuk digunakan untuk pasien orang
lokal di
> > sini karena perbedaan lingkungan, keunikan etnik, iklim dsb.
Selain
> > itu pabrikan lokal juga tidak pernah melakukan "post marketing
test"
> > yaitu dengan mengambil sampel secara random di sembarang Apotik
atau
> > Toko Obat yang menjual produknya dan kemudian menguji ulang
khasiat
> > obat tersebut. Kebanyakan pabrik hanya merasa perlu menyesuaikan
cara
> > produksi obatnya sesuai ketentuan DepKes (CPOB). Di luar itu
segala
> > test lainnya dianggap sebagai pemborosan uang saja. Jarang ada
yang
> > peduli apakah obatnya memang dapat diserap atau tidak oleh para
> > pemakai obat mereka. Pabrik obat adalah instusi komersial.
> >
> >
> >
> > Cara menentukan bagian tubuh mana yang membutuhkan perhatian
dilakukan
> > dengan menentukan range organ-organ tubuh manusia dengan skala 1
> > sampai 10, umpamanya. Dalam range itu skala 1 ialah sistem
peredaran
> > darah, 2 sistem pernapasan, 3 sistem syaraf, 4 sistem pencernaan
dan
> > ekskresi, 6 sistem reproduksi, 7 sistem filtrasi, 8 sistem
hormon, 9
> > sistem otot, kulit dan tulang, 10 sistem lain-lainnya. Skala ini
> > ditentukan berbeda-beda (artinya tidak harus sama) antara seorang
> > penyembuh dengan lainnya.
> >
> > Sebelum memasuki sistem range dan skala ini terlebih dulu
ditentukan
> > apakah tubuh mendapat gangguan skala 1 sifatnya internal atau
skala 2
> > yaitu eksternal. Gangguan seperti "terlalu banyak warna merah" di
atas
> > sifatnya termasuk skala 2. Sehingga tubuh tidak memerlukan
pengobatan
> > apapun kecuali "pengaturan kembali" atau harmonisasi warna
(colour
> > healing) di kamar bayi tersebut. Umpamanya dengan dominasi warna
biru
> > muda yang sejuk sebagai pengganti warna merah. Namun tidak selalu
> > harus demikian. Bagi anak-anak yang penakut dan tidak bisa tidur
> > nyenyak karena takut hantu dan sebagainya, justru diperlukan
dominasi
> > warna merah di sana.
> >
> > Setelah diketemukan sistem organ mana yang membutuhkan penanganan
> > selanjutnya dibuat range yang baru. Misalnya dalam sistem
pernapasan
> > ditentukan range dan skala tersendiri. Mulai dari skala 1 hidung,
2
> > tenggorokan, 3 trachea dan bronchioli, 4 paru-paru kiri, 5 paru-
paru
> > kanan, dengan variasi 4a 4b, 5a 5b untuk paru-paru bagian atas
dan
> > bawah, dst. Pembuatan skala dapat diteruskan seperlunya misalnya
> > apakah gangguan itu 1 sifatnya internal atau 2 sifatnya
eksternal.
> > Paru-paru luka infeksi (tuberculosis) berbeda dengan paru-paru
> > kemasukan gas beracun, nikotin, terserang kanker, tumor atau
jamur.
> >
> >
> >
> > Tahap selanjutnya ialah menentukan obat yang sesuai dengan
kebutuhan
> > tubuh pasien tersebut. Misalnya untuk indikasi penyakit tertentu
> > terdapat 10 variasi preparat. Maka dicari kesesuaian preparat
mana
> > dengan kebutuhan pasien pada saat itu. Kemudian ditentukan dosis
> > pemakaiannya. Dibuat range antara 1 hari sampai 40 hari misalnya.
> > Sehingga obat dapat disediakan untuk jangka waktu yang tepat dan
tidak
> > ada yang terbuang. Bahkan seorang penyembuh komplementer dapat
> > "membaca" apakah pasien akan menghabiskan obatnya atau berhenti
> > setengah jalan. Biasanya penyembuh menolak memberikan obat kepada
> > pasien yang "dibaca" tidak akan menghabiskan obat sepanjang masa
> > terapinya. Ia dinilai tidak sungguh-sungguh berniat utnuk sembuh.
Juga
> > ditentukan skala 1 untuk obat kering dalam kapsul atau bubuk, dan
> > skala 2 untuk obat cair yang harus diseduh dengan air panas
(rebusan).
> >
> >
> >
> > Dalam pengobatan komplementer masalah "absorbability" obat sangat
> > penting. Mereka yakin bahwa ada semacam "katup-katup" pada
dinding
> > usus manusia yang terbuka dan tertutup secara siklikal pada jam-
jam
> > tertentu. Maka beberapa obat diberikan selang beberapa saat
sebelum
> > makan atau sesudah makan, atau sebelum tidur. Maka mereka
membutuhkan
> > informasi semiotik dari tubuh pasien yaitu pada jam-jam berapa
> > tubuhnya akan mampu menyerap ramuan. Di luar jam-jam tersebut
maka
> > ramuan itu akan "menumpang lewat" saja dan keluar melalui sistem
buang
> > air besar atau kecil. Untuk itu ditentukan range 1 untuk siang
yaitu
> > jam 6.00 pagi sampai jam 6.00 sore dan range 2 yaitu selewat jam
6.00
> > sore sampai 12.00 malam.
> >
> > Dalam masing-masing range ditetapkan skala per jam atau mendetail
per
> > menit. Misalnya 15 menit sebelum atau 15 menit sesudah makan.
> >
> > Dalam pengobatan medis hanya ditentukan bahwa obat harus diminum
1
> > sampai 4 kali dalam sehari dan tidak ditentukan jamnya. Sebelum
atau
> > sesudah makan tanpa disebutkan berapa menitnya. Mengapa? Karena
mereka
> > tidak mengenal sistem range dan skala seperti itu.
> >
> >
> >
> > Dalam sistem "dekon kompatiologi" penyembuhan komplementer sama
sekali
> > tidak membutuhkan obat sesungguhnya seperti obat paten atau obat
jamu.
> > Yang diperlukan hanyalah "perlambang" atau isyarat semiotik untuk
> > menyeimbangan kembali defisiensi tertentu. Misalnya, pasien
dengan
> > gangguan maag dilambangkan dengan kelebihan "acid" atau rasa
asam.
> > Maka diberikan konternya yaitu perlambang rasa manis atau kalau
mau
> > ilmiah "lambang antasid" seperti "sedikit" cairan atau bubuk
> > polisyloxan dsb. Partikel sub-atomik hanya memerlukan "informasi"
> > (baru) atau "memori" (informasi lama) tentang obat tertentu. Ia
> > sesungguhnya tidak membutuhkan obat dalam pengertian fisik yang
> > mutlak. Oleh karena itu kerap kali cukup diberi dengan "air
putih"
> > yang dimasukkan afirmasi "memori" atau "informasi" yang
dibutuhkan
> > termasuk juga sugestinya.
> >
> >
> >
> > Dengan demikian maka ilmu kedokteran Barat tidak dapat disamakan
> > dengan pengobatan alternatif manapun. Maka memang tepatlah
dikatakan
> > bahwa pengobatan alternatif itu sifatnya komplementer. Saling
mengisi
> > sifatnya. Apa yang dapat dilakukan oleh kedokteran medis misalnya
> > memberi zat aktif, infusi dan injeksi tidak dapat dan tidak boleh
> > dilakukan oleh pengobatan komplementer. Sebaliknya, apa yang
dapat
> > dilakukan oleh penyembuhan komplementer banyak yang tidak mampu
> > dilakukan oleh ilmu medis Barat. Umpamanya kemampuan untuk
membaca
> > secara intuitif sinyal semiotik yang dipancarkan oleh tubuh
pasien itu
> > sendiri, terutama bila pasien tersebut tidak dapat atau
kehilangan
> > kemampuan berkomunikasi secara verbal. Misalnya, bagaimana
mendengar
> > keluhan simtomatik dari seorang bayi, seorang bisu tuli, seorang
> > setengah waras, seorang yang pingsan, seorang autis, seorang yang
> > mengidap amnesia atau "dementia mentis", pikun dsb? Keduanya
> > dibutuhkan tetapi tetap saja metode penyembuhan komplementer
sifatnya
> > lebih klasik (sudah eksis sejak zaman purba) dan lebih terjangkau
oleh
> > rakyat kecil terutama di daerah terpencil.
> >
> >
> >
> > Jakarta, 18 Oktober 2007.
> >
> > Cum misericordia et compassione,
> >
> > Mang Iyus
> >
> > Rujukan:
> >
> > 1) "Tugasku Adalah Panggilanku", Buku Kenangan Perayaan 50 th
hidup
> > membiara, edisi khusus, hlm. 101,102.
> >
> > 2) ibid. hlm.37.
> >
> > 3) Nigel Hawkes, Neutrino Discovery Could Solve Massive
Cosmological
> > Riddle, News America Digital Publishing, June 5, 1958.
> >
> > 4) Core Shamanisme, Wikipedia,
http://en.wikipedia.org/wiki/Core_Shamanism
> >
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
SPONSORED LINKS
Y! Messenger

Quick file sharing

Send up to 1GB of

files in an IM.

Yahoo! Groups

Going Green

Share your passion

for the planet.

Dog Fanatics

on Yahoo! Groups

Find people who are

crazy about dogs.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: