Kamis, 18 Oktober 2007

[psikologi_transformatif] Re: Pemetaan (Range and Scale),,Pada Sistem Pengobatan Komplementer

SEBERAPA MAMPU PARA TERDEKON MENERIMA "INFORMASI SEMIOTIK" DAN
BAGAIMANA MENGUJI BAHWA "INFORMASI YANG DITERIMA BENAR", BUKAN
PROYEKSI DARI PENDEKON?

Ini sebagai bahan renungan dan perbaikan kompatiologi:

hoeget wijaya: pas aku ke jakarta
hoeget wijaya: ikutan dekon
hoeget wijaya: malamnya diare berat saya
hoeget wijaya: lha wong teh model2 di suruh minum
hoeget wijaya: ngga iso makan enak krn mencret sampe besoknya
hoeget wijaya: hahahhahahha
hoeget wijaya: iyo
hoeget wijaya: buat saya ngga masuk akal iku
hoeget wijaya: mosok teh di campur
hoeget wijaya: trus feeling pengen rasa apa
hoeget wijaya: situasi apa
hoeget wijaya: ada yg lebih penting lagi pak
hoeget wijaya: pas saya dekon kan dg salah ayah boss saya
hoeget wijaya: you know what
hoeget wijaya: without medical check first
hoeget wijaya: even just asking
hoeget wijaya: padahal sang ayah punya diabetes
hoeget wijaya: pas minum bermacam macam teh
hoeget wijaya: mata nya langsung merah dan mengantung
hoeget wijaya: saya langsung sms ke boss saya
hoeget wijaya: ngantung pak
hoeget wijaya: spt bengkak
hoeget wijaya: dan merah
hoeget wijaya: saya sendiri edan edanan pas dekok iku
hoeget wijaya: tak campur yg asem dan manis
hoeget wijaya: krn iseng saja
hoeget wijaya: cuman pas melihat ayah nya boss aku spt itu
hoeget wijaya: panik juga saya
hoeget wijaya: lha klo setelah dekon trus bablas
hoeget wijaya: ?
hoeget wijaya: krn gula nya tdk terkontrol

pabrik_t
"aku yang mengaku-aku"

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, Vincent Liong
<vincentliong@...> wrote:
>
> Note: forwarded message attached.
>
>
> Send instant messages to your online friends
http://au.messenger.yahoo.com
> >
> >
> > Pemetaan (Range and Scale)
> >
> > Pada Sistem Pengobatan Komplementer
> >
> >
> >
> > Istilah Pengobatan Komplementer diperkenalkan oleh biarawan Bruder
> > Yanuar Husada, SS.CC. (d/h Jan Heuts) seorang herbalis, tepatnya
> > "complementary healer" yang memakai media obat-obatan herbal
khususnya
> > dedaunan (folium). Pada tanggal 9 September 2007 beliau merayakan 50
> > tahun hidup membiara. Sekaligus dirayakan 25 tahun pengobatan
> > komplementer dan 5 tahun terakhir dalam naungan suatu lembaga yaitu
> > Yayasan Yanuar Husada.
> >
> >
> >
> > Komplementer maksudnya bersifat melengkapi. Dengan demikian ia tidak
> > memposisikan metode pengobatannya sebagai sisi lawan daripada sistem
> > pengobatan Barat. Namun demikian tetap saja sifat pengobatannya ialah
> > holistik (menyeluruh) dan subyektif. Holistik : dalam arti hal itu
> > tidak hanya berkaitan dengan matra fisik pasien, tetapi juga matra
> > psikis dan spiritualnya. Subyektif : merujuk pada makna bahwa
> > pengobatan itu disesuaikan dengan kebutuhan nyata subyek tersebut
pada
> > waktu tertentu dan bukan berlaku untuk semua pasien pada sembarang
> > waktu lainnya.
> >
> > Subyektif : juga berarti pengobatan itu mulai dari infomasi semiotik
> > yang disampaikan oleh fisik pasien itu sendiri tentang kekurangan
atau
> > disfungsi yang dialaminya. Karena berangkat dari informasi semiotik
> > dari tubuh pasien itu sendiri maka dari seorang penyembuh
komplementer
> > seperti bruder Yan mutlak dibutuhkan suatu kepekaan intuisi yang
mampu
> > menerima, membaca, serta menafsirkan informasi semiotik tersebut.
> >
> >
> >
> > Saat seorang pasien datang dengan keluhan simtomatis tertentu maka
> > penyembuh segera mencoba menangkap sinyal-sinyal dari tubuhnya yang
> > memberikan informasi semiotik tertentu. Dari kisah bapak Andri
> > Kristian pernah datang kepada bruder Yan datang satu keluarga dengan
> > anak bayi yang sakit-sakitan terus dan tidak bisa tidur tenang.
Kepada
> > orang tua bayi tersebut alih-alih diberi resep ternyata hanya satu
> > kalimat pada kertas resep yang berbunyi: "Terlalu banyak warna merah
> > di sekitar tempat tidur ." 1)
> >
> > Dengan mengubah tata warna di kamar bayi tersebut maka "penyakit"
aneh
> > itupun sembuh. Mana mungkin pada pengobatan medis hal seperti itu
> > dapat terjadi. Kepada bayi tersebut mungkin malah akan diberikan obat
> > penenang supaya ia dapat tidur. Jika terjadi demikian, maka kepada
> > bayi tersebut telah diberikan "racun" yang sebenarnya sama sekali
> > tidak dibutuhkan oleh tubuh si bayi.
> >
> >
> >
> > Teori dasar yang dianut oleh penyembuh komplementer ini ialah bahwa
> > "... semua yang ada, yang hidup dan berkembang mengeluarkan getaran".
> > 2) Getaran ini dapat dideteksi oleh mereka yang memiliki kepekaan
khusus.
> >
> > Menurut fisika kuantum tentu penjelasan ini tidak keliru. Setiap
benda
> > apapun memiliki sel dan inti sel sub-atomik. Di dalam inti sel itu
> > terdapat getaran dan bukan massa (disebut sebagai non-mass neutrino)
> > 3). Getaran tersebut dikatakan "memiliki kecerdasan" yang lebih
> > tepatnya disebut sebagai "membawa suatu informasi" tertentu.
Informasi
> > yang dibawa tersebut bersifat semiotik dan hanya dapat ditangkap dan
> > dimengerti maknanya oleh mereka yang memiliki kepekaan khusus. Memang
> > ada yang mampu "merasakan getaran" tersebut namun tidak "mampu
> > memahami" makna semiotikanya. Namun, biasanya mereka yang mampu
> > merasakan getaran tersebut "dapat dibimbing" untuk mampu menafsirkan
> > makna semiotikanya. Juga karena untuk keperluan itu tidak diperlukan
> > pertama-tama "kecerdasan rasional" (otak kiri) melainkan jenis
> > kecerdasan yang lain yaitu "kecerdasan intuitif" (otak kanan) yang
> > sifatnya lebih reseptif; daripada aktif mencari solusi sintesis dari
> > pertarungan data tesis dan antitesis. Itulah sebabnya mengapa para
> > shaman 4) sudah sejak dari zaman dahulu kala mampu memahami makna
> > semiotik seperti itu walaupun perkembangan kecerdasan rasional sama
> > sekali masih belum memadai.
> >
> > Ketrampilan ini disebut "radiestesi" yang berasal dari dua kata.
> > Yaitu, radio yanga artinya "sinar" (rays) atau "getaran" dan
"estesia"
> > artinya "merasakan". Seorang "radiesteet" mampu menerima dan
merasakan
> > getaran yang dipancarkan oleh suatu benda atau makhluk hidup.
> >
> >
> >
> > Dalam rangka penyembuhan maka kemampuan untuk mendeteksi disfungsi
> > atau defisiensi pada organ merupakan syarat mutlak. Seorang dokter
> > memiliki alat stethoscope untuk "mendengar" detak jantung, udara di
> > paru-paru atau udara di lambung. "Mendengar" mulainya detak jantung
> > pada saat jantung menguncup (sistolik) dan hilangnya detak jantung
> > pada saat jantung mengendur (diastolik). Dari situ dokter menentukan
> > kondisi seseorang pada skala detak jantung seseorang antara range
> > angka tertinggi dan angka terendah (umpamanya dari 220 maksimal
sampai
> > 50 minimal). Misalnya seorang pasien berada pada skala 150 -- 100
yang
> > artinya ia mengidap penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi.
> > Seorang penyembuh komplementer yang handal tanpa alat stethoscope
> > langsung dapat membaca informasi semiotika yang disampaikan oleh
tubuh
> > pasien dan mengatakan detak jantungnya antara 150 -- 110 dan karena
> > itu ia terkena hipertensi. Pada zaman dahulu mana mungkin seorang
> > shaman mempunyai alat yang namanya stethoscope? Tentu saja tidak.
> > Namun ia mampu pula mengamati "aura" merah muka pasiennya,
menonjolnya
> > nadi di pelipis dsb. Maka iapun mungkin akan memberikan daun "kumis
> > kucing" yang bersifat diuretik (bersifat melancarkan kencing) kepada
> > pasiennya sehingga tekanan darahnya menurun. Dari mana datangnya
> > "kearifan lokal" (local genius) seperti itu? Tentunya dari kemampuan
> > membaca informasi semiotika baik dari tubuh pasien itu sendiri maupun
> > dari daun obat. Kemudian dibaca juga kesesuaian/ keserasian tubuh
> > pasien dengan jenis ramuan tertentu. Tidak selamanya keduanya
> > kompatibel. Ada jenis obat yang sama-sama mempunyai unsur terapeutik
> > yang sejalan namun belum tentu tepat untuk pasien tertentu. Dalam hal
> > ini ternyata para dokterpun melakukan terapi secara "trial and
> > error". Bila pasien tidak cocok dengan jenis preparat tertentu maka
> > pada kunjungan berikutnya obatnya diganti. Sayangnya juga tanpa
> > kepastian akan kesesuaian antara obat pengganti tersebut dengan
pasien
> > yang bersangkutan. Pihak pabrikan di Indonesia belum ada -- setahu
> > penulis -- yang pernah melakukan "absorbability test" preparat yang
> > dikeluarkan pabriknya. Belum tentu obat-obat yang diketemukan di
> > negara Barat pasti sesuai untuk digunakan untuk pasien orang lokal di
> > sini karena perbedaan lingkungan, keunikan etnik, iklim dsb. Selain
> > itu pabrikan lokal juga tidak pernah melakukan "post marketing test"
> > yaitu dengan mengambil sampel secara random di sembarang Apotik atau
> > Toko Obat yang menjual produknya dan kemudian menguji ulang khasiat
> > obat tersebut. Kebanyakan pabrik hanya merasa perlu menyesuaikan cara
> > produksi obatnya sesuai ketentuan DepKes (CPOB). Di luar itu segala
> > test lainnya dianggap sebagai pemborosan uang saja. Jarang ada yang
> > peduli apakah obatnya memang dapat diserap atau tidak oleh para
> > pemakai obat mereka. Pabrik obat adalah instusi komersial.
> >
> >
> >
> > Cara menentukan bagian tubuh mana yang membutuhkan perhatian
dilakukan
> > dengan menentukan range organ-organ tubuh manusia dengan skala 1
> > sampai 10, umpamanya. Dalam range itu skala 1 ialah sistem peredaran
> > darah, 2 sistem pernapasan, 3 sistem syaraf, 4 sistem pencernaan dan
> > ekskresi, 6 sistem reproduksi, 7 sistem filtrasi, 8 sistem hormon, 9
> > sistem otot, kulit dan tulang, 10 sistem lain-lainnya. Skala ini
> > ditentukan berbeda-beda (artinya tidak harus sama) antara seorang
> > penyembuh dengan lainnya.
> >
> > Sebelum memasuki sistem range dan skala ini terlebih dulu ditentukan
> > apakah tubuh mendapat gangguan skala 1 sifatnya internal atau skala 2
> > yaitu eksternal. Gangguan seperti "terlalu banyak warna merah" di
atas
> > sifatnya termasuk skala 2. Sehingga tubuh tidak memerlukan pengobatan
> > apapun kecuali "pengaturan kembali" atau harmonisasi warna (colour
> > healing) di kamar bayi tersebut. Umpamanya dengan dominasi warna biru
> > muda yang sejuk sebagai pengganti warna merah. Namun tidak selalu
> > harus demikian. Bagi anak-anak yang penakut dan tidak bisa tidur
> > nyenyak karena takut hantu dan sebagainya, justru diperlukan dominasi
> > warna merah di sana.
> >
> > Setelah diketemukan sistem organ mana yang membutuhkan penanganan
> > selanjutnya dibuat range yang baru. Misalnya dalam sistem pernapasan
> > ditentukan range dan skala tersendiri. Mulai dari skala 1 hidung, 2
> > tenggorokan, 3 trachea dan bronchioli, 4 paru-paru kiri, 5 paru-paru
> > kanan, dengan variasi 4a 4b, 5a 5b untuk paru-paru bagian atas dan
> > bawah, dst. Pembuatan skala dapat diteruskan seperlunya misalnya
> > apakah gangguan itu 1 sifatnya internal atau 2 sifatnya eksternal.
> > Paru-paru luka infeksi (tuberculosis) berbeda dengan paru-paru
> > kemasukan gas beracun, nikotin, terserang kanker, tumor atau jamur.
> >
> >
> >
> > Tahap selanjutnya ialah menentukan obat yang sesuai dengan kebutuhan
> > tubuh pasien tersebut. Misalnya untuk indikasi penyakit tertentu
> > terdapat 10 variasi preparat. Maka dicari kesesuaian preparat mana
> > dengan kebutuhan pasien pada saat itu. Kemudian ditentukan dosis
> > pemakaiannya. Dibuat range antara 1 hari sampai 40 hari misalnya.
> > Sehingga obat dapat disediakan untuk jangka waktu yang tepat dan
tidak
> > ada yang terbuang. Bahkan seorang penyembuh komplementer dapat
> > "membaca" apakah pasien akan menghabiskan obatnya atau berhenti
> > setengah jalan. Biasanya penyembuh menolak memberikan obat kepada
> > pasien yang "dibaca" tidak akan menghabiskan obat sepanjang masa
> > terapinya. Ia dinilai tidak sungguh-sungguh berniat utnuk sembuh.
Juga
> > ditentukan skala 1 untuk obat kering dalam kapsul atau bubuk, dan
> > skala 2 untuk obat cair yang harus diseduh dengan air panas (rebusan).
> >
> >
> >
> > Dalam pengobatan komplementer masalah "absorbability" obat sangat
> > penting. Mereka yakin bahwa ada semacam "katup-katup" pada dinding
> > usus manusia yang terbuka dan tertutup secara siklikal pada jam-jam
> > tertentu. Maka beberapa obat diberikan selang beberapa saat sebelum
> > makan atau sesudah makan, atau sebelum tidur. Maka mereka membutuhkan
> > informasi semiotik dari tubuh pasien yaitu pada jam-jam berapa
> > tubuhnya akan mampu menyerap ramuan. Di luar jam-jam tersebut maka
> > ramuan itu akan "menumpang lewat" saja dan keluar melalui sistem
buang
> > air besar atau kecil. Untuk itu ditentukan range 1 untuk siang yaitu
> > jam 6.00 pagi sampai jam 6.00 sore dan range 2 yaitu selewat jam 6.00
> > sore sampai 12.00 malam.
> >
> > Dalam masing-masing range ditetapkan skala per jam atau mendetail per
> > menit. Misalnya 15 menit sebelum atau 15 menit sesudah makan.
> >
> > Dalam pengobatan medis hanya ditentukan bahwa obat harus diminum 1
> > sampai 4 kali dalam sehari dan tidak ditentukan jamnya. Sebelum atau
> > sesudah makan tanpa disebutkan berapa menitnya. Mengapa? Karena
mereka
> > tidak mengenal sistem range dan skala seperti itu.
> >
> >
> >
> > Dalam sistem "dekon kompatiologi" penyembuhan komplementer sama
sekali
> > tidak membutuhkan obat sesungguhnya seperti obat paten atau obat
jamu.
> > Yang diperlukan hanyalah "perlambang" atau isyarat semiotik untuk
> > menyeimbangan kembali defisiensi tertentu. Misalnya, pasien dengan
> > gangguan maag dilambangkan dengan kelebihan "acid" atau rasa asam.
> > Maka diberikan konternya yaitu perlambang rasa manis atau kalau mau
> > ilmiah "lambang antasid" seperti "sedikit" cairan atau bubuk
> > polisyloxan dsb. Partikel sub-atomik hanya memerlukan "informasi"
> > (baru) atau "memori" (informasi lama) tentang obat tertentu. Ia
> > sesungguhnya tidak membutuhkan obat dalam pengertian fisik yang
> > mutlak. Oleh karena itu kerap kali cukup diberi dengan "air putih"
> > yang dimasukkan afirmasi "memori" atau "informasi" yang dibutuhkan
> > termasuk juga sugestinya.
> >
> >
> >
> > Dengan demikian maka ilmu kedokteran Barat tidak dapat disamakan
> > dengan pengobatan alternatif manapun. Maka memang tepatlah dikatakan
> > bahwa pengobatan alternatif itu sifatnya komplementer. Saling mengisi
> > sifatnya. Apa yang dapat dilakukan oleh kedokteran medis misalnya
> > memberi zat aktif, infusi dan injeksi tidak dapat dan tidak boleh
> > dilakukan oleh pengobatan komplementer. Sebaliknya, apa yang dapat
> > dilakukan oleh penyembuhan komplementer banyak yang tidak mampu
> > dilakukan oleh ilmu medis Barat. Umpamanya kemampuan untuk membaca
> > secara intuitif sinyal semiotik yang dipancarkan oleh tubuh pasien
itu
> > sendiri, terutama bila pasien tersebut tidak dapat atau kehilangan
> > kemampuan berkomunikasi secara verbal. Misalnya, bagaimana mendengar
> > keluhan simtomatik dari seorang bayi, seorang bisu tuli, seorang
> > setengah waras, seorang yang pingsan, seorang autis, seorang yang
> > mengidap amnesia atau "dementia mentis", pikun dsb? Keduanya
> > dibutuhkan tetapi tetap saja metode penyembuhan komplementer sifatnya
> > lebih klasik (sudah eksis sejak zaman purba) dan lebih terjangkau
oleh
> > rakyat kecil terutama di daerah terpencil.
> >
> >
> >
> > Jakarta, 18 Oktober 2007.
> >
> > Cum misericordia et compassione,
> >
> > Mang Iyus
> >
> > Rujukan:
> >
> > 1) "Tugasku Adalah Panggilanku", Buku Kenangan Perayaan 50 th hidup
> > membiara, edisi khusus, hlm. 101,102.
> >
> > 2) ibid. hlm.37.
> >
> > 3) Nigel Hawkes, Neutrino Discovery Could Solve Massive Cosmological
> > Riddle, News America Digital Publishing, June 5, 1958.
> >
> > 4) Core Shamanisme, Wikipedia,
http://en.wikipedia.org/wiki/Core_Shamanism
> >
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Quick file sharing

Send up to 1GB of

files in an IM.

Yahoo! Groups

Cat Zone

Connect w/ others

who love cats.

Yahoo! Groups

Real Food Group

Share recipes

and favorite meals.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: