Selasa, 28 Agustus 2007

Re: Balasan: [psikologi_transformatif] Menikah?


hihihihi...kalo gak bertelur, ayam nya gak bisa nyeberang jalan, Lu,
keberataaaaaan telur.

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, lulu <lu2_mm@...>
wrote:
>
> ``Mengapa lebih banyak orang yang ingin menikah ketimbang yang
tidak?``
> ====
> mungkin untuk jawaban yang ini, kita harus melihat kembali diri
kita, dengan kata lain balikin lagi ama yang bersangkutan, dengan
tidak melihat gendernya, dan dengan seribu alasan yang mendasarinya
kenapa memilih satu diantara dua pertanyaan itu ..
>
> kalo melihat dari kacamata agama, mungkin `tuhan menciptakan
manusia secara berpasang2an` kita akan terpicu untuk melihat kalo
standard dari kebahagiaan itu adalah pernikahan, tapi benerkah
demikian ???
> kita jawab dari kacamata kita sendiri sebagai manuasia yang telah
memilih satu diantara dua pertanyaan itu...
> orang pasar turi sih pernah bilang... percuma uang banyak, akan
selalu menjadi yang paling rugi dan nelongso kalo gak menikah, la
wong ayam aja masih terus bertelur...!!!
>
> salam
> /Lu2
>
>
>
> Nana P <fe36smg@...> wrote:
>
http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/08/menikah.html
>
> Mengapa lebih banyak orang yang ingin menikah ketimbang yang tidak?
(masih merunut ke artikel yang sama Â`Istri yang Ingin IndependenÂ')
> Jawabannya adalah kultur patriarki yang mengagungkan perkawinan
masih lebih terkenal dibandingkan kacamata memahami diri sendiri—
misal seseorang pun bisa menggapai kebahagiaan yang hakiki dengan
hidup sendiri. Ayat Alquran yang mengatakan bahwa Allah menciptakan
makhluk hidup ini secara berpasangan diinterpretasikan secara Â`apa
adanyaÂ' tanpa melihat konteks mengapa ayat tersebut turun semakin
mengukuhkan pandangan bahwa melalui perkawinan lah seseorang akan
mencapai kebahagiaan yang hakiki di dunia ini. Juga mengartikannya
secara sempit, bahwa berpasangan berarti semua manusia diciptakan
memiliki pasangan di dunia ini. (Bukankah banyak orang yang keburu
meninggal sebelum menikah?)
> Dalam tulisan ini aku ingin menuliskan tentang dua temanku yang
lain, yang bisa dikategorikan Â`menikah dalam usia yang terlambatÂ',
sekitar pertengahan tiga puluh. Sebelum menikah, aku yakin mereka pun
terprovokasi Â`anggapanÂ' bahwa perkawinan akan membawa mereka ke
satu kehidupan yang paripurna. Keduanya mengenakan jilbab, yang
biasanya berkonotasi bahwa mereka memahami ajaran agama lebih
mendalam dibandingkan mereka yang telanjang kepala. :)
> Aku mulai dari seseorang yang kuberi nick Lia di sini. Dia pernah
memiliki seorang pacar, sekitar sepuluh tahun yang lalu. Semenjak
putus itu, dia tidak pernah memiliki pacar lain, karena tetap
berharap bahwa mantan pacarnya ini akan kembali kepadanya. Dulu dia
kukenal sebagai seseorang yang pro poligami. Mungkin dia benar-benar
mencintai mantan pacarnya yang telah menikahi perempuan lain itu
(cinta sejati ataukah cinta buta?) sehingga berkeyakinan bahwa dia
tidak keberatan untuk menjadi istri kedua. Sayang, si laki-laki ini
benar-benar menghilang dari kehidupannya.
> Setelah berkawan akrab dengankulah kutengarai dia mulai berpikir
bahwa poligami merupakan salah satu kejahatan manusia tingkat tinggi.
FYI, ini bukan ideku, melainkan ide seorang kawan lain yang beragama
Kristen namun menikahi seorang laki-laki Muslim yang berdarah Arab.
Mungkin juga karena akhirnya Lia mulai bosan menunggu sang mantan
pacar pujaan untuk kembali kepadanya, untuk menjadikannya sebagai
istri kedua.
> Aku mengenal Lia sebagai seorang perempuan yang (nampaknya)
menikmati kesendiriannya, sehingga tidak mudah terusik dengan
pertanyaan-pertanyaan jail orang sekitar, Â"Kapan kamu menikah?Â"
ataupun gunjingan orang, Â"Kasihan deh dia belum laku di usianya yang
telah lebih 30 tahun.Â" Namun mungkin anggapanku ini salah tatkala
satu hari aku mendengarnya berbicara kepada seorang rekan kerja,
Â"Eh, kenalin aja dia padaku.Â" Tatkala rekan kerjaku ini menawarkan
seorang laki-laki yang sedang mencari calon istri.
> Singkat kata tak lama setelah rekan kerja ini memperkenalkan Lia
kepada laki-laki tersebut, dia berkata padaku bahwa mereka akan
menikah. GUBRAK. Apakah diam-diam ternyata Lia pun mengidap penyakit
yang biasa menghinggapi para lajang perempuan di sekitarku—tidak
pede dengan kesendiriannya, dan termakan omongan orang bahwa
perkawinan akan membawanya ke gerbang kebahagiaan? Dia bilang setelah
shalat istikharah dia serasa mendapatkan petunjuk dari Allah bahwa
laki-laki itu dikirim oleh Allah untuk menjadi pendamping hidupnya.
> (FYI, aku tipe orang yang percaya bahwa Â`petunjukÂ' semacam itu
merupakan refleksi apa yang sebenarnya kita inginkan dari alam bawah
sadar. Dalam alam bawah sadarnya, Lia mungkin ingin segera menikah.
Dan keinginan ini muncul dalam mimpinya, ataupun menguasai
kesadarannya yang kemudian dia baca sebagai petunjuk dari Allah.)
> Setelah menikah, dan mendapati ternyata suaminya menderita
schizophrenia yang akut, pernah masuk ke rumah sakit jiwa selama
beberapa waktu, Lia merasa marah kepada keluarga suami yang menutup-
nutupi keadaan itu. Namun tatkala dia ingin menceraikan suaminya,
keluarga suami mengatakan, Â"Tolong jangan ceraikan dia saat ini,
tunggu sampai dia sembuh.Â" Setelah Lia berkonsultasi dengan dokter
yang pernah merawat suaminya, dia mengetahui bahwa kemungkinan sembuh
itu sangatlah kecil.
> Sekarang Lia tinggal di sebuah kota yang terletak di Jawa Timur,
(dia pindah kesana bulan April 2006, setelah mendapatkan pekerjaan
yang mapan disana) sedangkan suaminya tetap tinggal di Semarang. Lia
telah mengubur impiannya bahwa perkawinan akan membawanya ke satu
kehidupan yang penuh kebahagiaan.
> Temanku yang kedua, sebut saja namanya Uni. Berbeda dengan Lia yang
(dulu) nampak pede dengan kelajangannya, Uni selalu nampak ingin
segera menikah. Â`KacamataÂ" patriarki bahwa perkawinan akan membawa
seorang perempuan ke gerbang kebahagiaan membuatnya benar-benar ingin
segera dipinang oleh sang pangeran. Itulah sebabnya tatkala ada
seorang laki-laki yang melamarnya—meskipun berusia 9 tahun lebih
muda, dan jenjang pendidikan yang berada di bawahnya—Uni segera
menerimanya. Dia telah benar-benar gerah dengan pertanyaan usil orang-
orang sekitar, Â"Kapan kamu menikah?Â" Dengan menikah, dia berharap
bahwa dia akan segera mengakhiri Â`penderitaannyaÂ', tudingan sebagai
seseorang yang tidak diinginkan.
> Apa yang dia katakan tak lama setelah dia menikah? Â"Aku tertipu.
Kata orang menikah itu enaknya hanya 10%, sedangkan yang 90% uenak
banget. Kenyataannya? Yang 90% itu adalah perjuangan dan harapan.Â"
Di saat lain dia mengatakan, Â"Kata siapa pernikahan hanya membawa
kebahagiaan?Â" beberapa waktu lalu dia mengatakan, Â"Masih mending
tidak menikah, paling kita cuma merasa terganggu saja tatkala orang
dengan usilnya menanyakan kapan kita menikah. It was not a big deal.
Setelah menikah? Uh ... banyak sekali permasalahan yang timbul.Â" Hal
ini lebih diperburuk lagi dengan ucapan misoginis adiknya yang laki-
laki, Â"Udahlah mbak, diterima saja. Udah untung ada yang mau
menikahimu!Â" ucapan yang bisa dikategorikan KDRT, kekerasan secara
psikis, karena hal ini bisa menyebabkan hilangnya kepercayaan diri
seseorang.
> Tatkala Uni setengah menggugat ibunya yang dulu terus menerus
menyuruhnya segera menikah, ibunya mengatakan, Â"Masak dulu Ibu
menyuruhmu begitu?Â" dia tidak mau mengakuinya.
> Hal ini jelas terlihat bahwa Uni menikah karena dia masih
menggunakan Â`kacamataÂ' publik yang patriarki bahwa Â`menikah itu
harus dan perluÂ'. Tatkala dia mulai mencoba menggunakan
Â`kacamataÂ'nya sendiri untuk melihat dan memahami diri sendiri, dia
pun menyesal. Namun tatkala aku bercerita tentang kasus Lia
kepadanya, Uni mengatakan, Â"Aku masih lebih beruntung.Â"
> Akan bertahan berapa lama lagikah kacamata yang dipakai oleh kultur
patriarki untuk menilai sebuah perkawinan di Indonesia ini? Masih
sangat lama kukira. Di negara-negara Barat dimana kesadaran kaum
perempuan akan kesetaraan diri mereka dengan kaum laki-laki yang jauh
lebih tinggi dari Indonesia pun, masyarakatnya masih tetap
mengidolakan perkawinan.
> PT56 17.20 260807
>
>
> Minds are like parachutes, they only function when they are open.
> (Sir James Dewar)
> visit my blogs please, at the following sites
> http://afemaleguest.blog.co.uk
> http://afeministblog.blogspot.com
> http://afemaleguest.multiply.com
>
> THANK YOU
> Best regards,
> Nana
>
>
> ---------------------------------
> Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect. Join Yahoo!'s
user panel and lay it on us.
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di
Yahoo! Answers
>

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Instant smiles

Share photos while

you IM friends.

Yahoo! Groups HD

The official Samsung

Y! Group for HDTVs

and devices.

Endurance Zone

A Yahoo! Group

Learn how to

increase endurance.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: