Sabtu, 15 September 2007

[psikologi_transformatif] Re-Post: UNTUK JUSWAN

http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/9753
--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com,
Fri Aug 25, 2006 11:50 pm "pabrik_t" <pabrik_t@...> wrote:

KENALILAH MUSUHMU SEBELUM BERBICARA

(search saja nama nuruddin asyhadie di internet, dan tunggu lagi
buku-bukuku yang lain tahun depan)

--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "JUSWAN"
<juswan@> wrote:
>
> Bung Nuruddin Asyhadie,
>
>
>
> Wah wah wah akhirnya ternyata pemilik 'nick name' pabrik
tempe/tahu/taoco/taoge/tutut bung Nuruddin Asyhadie adalah seorang
mistikus besar yang sangat paham teori dan praktek spiritualitas
sejak bangku SD/SMP/SMA. Salut dah kalau begitu. Asal ingat saja:
tantangan itu datangnya dari anda dan bukan dari pihak kami. Fakta
bahwa seorang pakar spiritualitas sampai mengajukan tantangan fisik
dan non-fisik itu sendiri sudah merupakan suatu anomali. Mengapa?
Karena seseorang yang menantang pihak lain secara implisit
berpendapat bahwa "ia mempunyai suatu kelebihan yang tidak dimiliki
pihak lainnya". Dan agak sedikit tersinggung egonya karena manusia-
manusia tak tahu diri berotak kambing yang punya seupil pengetahuan
atau pengalaman yang jauh di bawah level kompetensi dirinya telah
berani-beraninya sesumbar di milis untuk mengajarkan sesuatu - entah
namanya ilmu atau entah namanya ngelmu - kepada masyarakat umum.
Tetapi setelah mengajukan tantangan fisik atau non-fisik (di milis)
pada penghujung tulisannya ia mengaku "bukan siapa-siapa, bukan apa-
apa" dan kembali di sini terjadi suatu anomali lagi dan
sebuah "contradictio in terminis". Mula-mula menantang orang dan
mengatakan orang berjiwa kerdil berotak kambing yang suka main "poor
me" kemudian mengatakan diri sendiri sebagai bukan siapa-siapa dan
bukan apa-apa. Jadi kesimpulannya kalau anda bukan mengidap virus
megalomania tentunya terkena sindrom "split personality".
>
>
>
> Di atas gunung ada gunung dan di atas awan ada awan, entah di atas
langit ada langit tidak sebab langit tak tampak di mana ujung
batasnya. Maka kami manusia kerdil ini menghaturkan hormat takzim
kepada guru besar pabrik-t dan menolak tantangan anda sekaligus
memohon maaf yang sebesar-besarnya karena tidak sadar bahwa di atas
gunung masih ada Mt. Everest.
>
>
>
> Kami tidak berpretensi untuk sesumbar tetapi hanya ingin
menyampaikan suatu cara peningkatan taraf berpikir dari cara
berpikir dengan satu belahan otak sehingga kemudian mampu berpikir
juga dengan kedua belahan otak. Itu saja, tidak lebih dan tidak
kurang. Selama ini semua hal-hal seperti ini dianggap sebagai hal-
hal yang metafisik, hal-hal yang dikuasai paranormal, dan hanya
dikembangkan di kalangan yang sangat terbatas dan sangat tertutup
yaitu pada perguruan-perguruan kebatinan tertentu.
>
> Menurut pandangan kami ini adalah sikap yang sangat EGO SENTRIS.
Semakin tinggi kemampuannya maka juga semakin ketara keegoisannya
karena hanya akan dinikmati sendiri dan oleh kalangan terbatas yaitu
para anggota seperguruannya saja. Tidak mau memperkenalkan produknya
secara massal kepada pasar. kursus seperti TM - SMC - NLP - ESQ dsb
juga hanya dipasarkan kepada golongan menengah ke atas yang mampu
membayar.
>
> Padahal anak-anak SD/SMP/SMA dan masyarakat umumpun perlu
diperkenalkan cara-cara untuk memanfaatkan kemampuan berpikir dengan
otak kanannya.
>
> Kalu ini terjadi maka mutu SDM bangsa kita anak meningkat 100%.
>
>
>
> Tujuan kami hanyalah de-mistifikasi ketrampilan-ketrampilan
tersebut sampai kepada tingkat pengenalan sebagai teknik dan
realitas biologi (neurologi). Kami tidak perduli dengan segala macam
mistifikasi hal-hal yang sebenarnya natural. Karena semua orang
memiliki dua belahan otak, semua mempunyai kelenjar-kelenjar
endokrin otak, lalu mengapa pemanfaatannya dijadikan sesuatu yang
mistik dan hanya untuk boleh/dapat dikuasai oleh segelintir manusia
yang kemudian menganggap dirinya atau dianggap oleh masyarakat
sebagai manusia sakti atau hebat seperti anda - yang merasa berhak
dan mampu menantang orang tanpa kenal pribadi kepada orangnya.
Persis perilaku para jago-jago silat di zaman baheula yang sangat
sakit hati bila ada kabar orang lain yang berani sedikit saja
sesumbar di rimba persilatan.
>
>
>
> Taruh kata yang kami perkenalan itu hanyalah ilmu CETEK dan mainan
orang-orang "nerotak kambing' sic! - paling tidak di mata para
begawan metafisik kawakan seperti anda paling tidak kami
memperkenalkannya SESUATU kepada semua pihak yang dapat
mengaksesnya - dan sengaja dibikin semaksimal mungkin dengan "bomb
mail" pada 2.000 mailing list Soal itu ilmu cetek atau tidak itu
urusan para ahli seperti anda untuk memperbaikinya dan membuatnya
lebih sempurna sesuai dengan versi anda dan bukan untuk
mencincangnya. Minimal keluarkanlah counter idea anda yang nyata-
nyata lebih tinggi tingkat ilmunya tanpa usah pakai acara menantang-
nantang.
>
>
>
> Soal sindiran soal pencantuman gelar Drs itu bukan berasal dari
saya. Saya selalu mengakhiri SEMUA tulisan saya dengan 'nick name'
Mang Iyus tanpa embel-embel. Nama asli saya juga tercantum pada e-
mail address sehingga tidak main petak umpet seperti kawan-kawan
lain - termasuk dari kalangan psikologi. Bahwa gelar itu kemudian
dicantumkan juga oleh para rekan lain mungkin karena petimbangan
bahwa masyarakat kita masih tebal karakter feodalisme. Saya sendiri
tidak pernah memakai gelar tersebut karena artinya "calon doktor"
dan saya malu sekali karena hampir menjelang 38 tahun setelah
perolehannya masih tidak ada kemajuan apa-apa, boro-boro jadi doktor
karena jadi master juga tidak becus.
>
>
>
> Jika mau dikatakan tantangan maka kami menantang anda untuk
membuat risalah sendiri - mau disebut ilmu terserah atau mau disebut
elmu juga terserah - tetapi wujudkan sesuatu yang NYATA yang bukan
hanya berwujud pertanyaan, kritikan, cemoohan yang tidak bermanfaat
apapun bagi masyarakat. Paling tidak kini telah datang para peminat
untuk belajar kompatiologi - entah itu ilmu atau klenik - dan sampai
sekarang belum ada yang komplain karena telah belajar kompatiologi
ilmu cetek itu.
>
> Jadi sebenarnya kami tidak perduli benar apakah kompatiologi mau
disebut memenuhi syarat sebagai ilmu atau tidak, namun kami bersama-
sama rekan yang mampu - orang-orang seperti anda misalnya -
membuatnya semakin memenuhi syarat sebagai ilmu. Mana yang belum
akan diisi secara bertahap dan kalaupun belum memenuhi syarat pada
saat ini bagi kami tidak masalah. Bahkan bila ada pihak yang ingin
menghapuskan ilmu ini juga tidak mengapa karena kami yakin suatu
isme - apapun itu - tidak pernah akan musnah bila masih saja ada
para peminat yang menghayatinya.
>
>
>
> Banyak sarjana termasuk strata tiga - kalau ditantang seperti
menyusun tesis sendiri - hanya akan menunda-nunda dengan alasan
kuno yang sama bahwa ilmu itu harus memenuhi syarat metodologi,
syarat sistematika, syarat koherensi, ontologi, epistemologi dan
semua matra logi-logi lainnya yang ujung-ujungnya ialah "tidak jadi
menulis apapun" juga kecuali "copy paste" perpustakaan yang telah
ada atau melalui proses "memetika" menularkan ilmu rahasia
perguruannya kepada para muridnya saja. Bagi masyarakat apa gunanya,
dan siapa yang perduli? Para dokter Indonesia diharapkan mampu
melakukan komunikasi empati kepada para pasiennya tetapi siapa yang
perduli? Apakah pemerintah juga perduli walaupun badan WHO ternyata
sangat perduli? Dan apakah anda sendiri perduli? Anda hanya sibuk
mengecam orang lain yang kebetulan cara-cara propagandanya anda
tidak sukai dan mencela bahwa makanan kalian itu tidak enak, kurang
bumbu, tidak memenuhi persyaratan hygienis sambil uncang-uncang kaki
makan tempe dan menyeruput kopi panas di Warung Alex di kawasan TIM.
Diharapkan dari guru spiritual seperti anda - paling tidak begitulah
kesan saya dari omongan anda yang menganggap kompatiologi cuma
mainan anak-anak - suatu pintu maaf yang selebar-lebarnya dan hati
yang seluas samudra.
>
>
>
> Mang Iyus
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> ----- Original Message -----
>
> From: pabrik_t
>
> To: psikologi_transformatif@yahoogroups.com
>
> Sent: Saturday, August 26, 2006 5:49 AM
>
> Subject: [psikologi_transformatif] Re: UNTUK VINCENT DAN PENJAGA
KOMPATIOLOGI LAGINYA
>
>
>
> YA INI TANTANGAN. TANTANGAN BAGI OMONG KOSONG. BAGI JIWA-JIWA
KERDIL
> YANG SELALU MENGGEMBORKAN DIRINYA SEBAGAI KORBAN.
>
> Mau mengajakku ketemu? atau menyuruhku ketemu? Rumuskan dahulu
> apa yang telah kupertanyakan baru bertemu denganku. Seperti
kubilang
> boleh lewat apa pun, fisik maupun non fisik. Secara fisik, aku ada
> di TIM setiap hari Jum'at di warung Alex, mulai pukul 16.00,
> SILAHKAN VINCENT ATAU KALIAN SEMUA DATANG.
>
> Non fisik boleh kapanpun, kalian boleh menggunakan mainan anak SMA
> atau SMP atau bahkan SD (telepati atau ngrogo sukmo), tahu kenapa
> kubilang mainan anak SMA? Semasa aku SD, SMP, dan SMA di surabaya
> hampir setiap hari, hampir setiap anak, memainkan permainan itu,
> mendiskusikan fenomena-fenomanya, kelemahan dan kekuatan jurus
baru
> dengan melihat power yang dihasilkannya, daerah mana yang kosong
> atau tidak terlindungi power, mana setan yang lebih hebat, penjaga
> kuburan mbah ratu (dijaga oleh jin panglima dan berpenampilan
> pocong) atau penjaga sebuah lapangan depan setasiun SCTV, di mana
> letak pengapesan mereka? Atau sesuatu yang lebih pragmatis,
> bagaimana bentuk dan harum dari "hati kecil" (demikianlah
> disebutnya, dan biasanya berbentuk bunga dan direfleksikan sebagai
> jati diri atau sifat-sifat) si A, apakah ia mencintaiku? (pih, aku
> selalu benci pertanyaan ini, meskipun aku harus selalu
menjawabnya,
> maklum itu pertanyaan favorit). Dengan permainan-permainan itu,
ada
> yang kemudian jatuh pada mistik, dan benar-benar jadi paranormal
> (beberapa teman hingga kini bekerja sebagai paranormal kepolisian
di
> surabaya) ada pula yang jatuh ke spiritual, mendalami lebih jauh
> ritus-ritus dan maknya, dan mencoba menjawab, mengapa dalam
meditasi
> budha orang tak boleh menutup mata, mengapa setelah meditasi harus
> mengusap wajah, telinga, dan sebagianya, dan mengapa bentuk-bentuk
> itu juga ada dalam Islam misalnya, ada pula yang mempertanyakan
> waktu, sebab dalam visi (terawangnya) ia melihat hal-hal yang
> terjadi di masa lalu atau masa depan, ada pula yang mempertanyakan
> identitas, "siapa aku?", beserta segenap pengamalan-pengalaman
yang
> di dapatkannya dalam meditasi.
>
> Hingga kini pun mereka sesekali melakukannya, saat terakhir
bertemu
> mereka, kami bermeditasi bersama untuk melihat apa yang terjadi
> dengan Indonesia, dan apa-apa yang musti dilakukan dan kapan
> bertindaknya, pusaka-pusaka penjaga negeri ada di mana atau siapa,
> haruskah diserahkan sekarang pada yang berhak, siapakah yang
berhak.
>
> Tetapi segala aktivitas itu tak pernah dilakukan di depan umum,
> apalagi digembar-gemborkan. Tiap-tiap mereka berusaha
> menyembunyikannya, hanya pada pertemuan-pertemuan tertentu, yang
> seakan-akan rahasia sifatnya, dan menjadi milik mereka sendiri,
cara
> mereka memandang, dan menjalani hidup (tentu saja itu termasuk
puasa-
> puasa mereka, tirakat-tirakat mereka, dari makan hanya kalau
> diberi , dengan terlebih dahulu melakukan penolakan pada nafsu
> sendiri, mempertanyakan apakah pemberian itu godaan atau bukan, si
> pemberi tahu nggak kalau si pertapa sedang kelaparan? jika tahu
maka
> ditolaknya mentah-mentah itu makanan, sampai makan dari tanaman
yang
> masak di pohon, lain tidak, itu pun harus dari pohon tak bertuan).
>
> SEMUA ITU, YAITU KEKUATAN YANG MEREKA PUNYAI SERTA JALAN YANG
MEREKA
> TEMPUH ADALAH URUSAN PRIBADI, TAK SESIAPA PUN BOLEH TAHU KECUALI
> ORANG-ORANG TERDEKAT MEREKA UNTUK MENJAGA JALAN ITU DAN
> MEREFLEKSIKAN BERSAMA, SEBAB JIKA SEMUA ORANG TAHU ITU MENGGANGGU
> KEIKHLASAN DALAM PROSES MEREKA.
>
> Mengapa kujabarkan seluruh permainan anak kecil ini, sebab
informasi-
> informasi yang disampaikan tentang kompatiologi atau apalah
namanya,
> bias dengan pengalaman-pengalaman spritual seperti itu, dengan
> sebuah ketergesaan untuk BERBICARA (sesuatu yang dalam tradisi
> spiritualitas biasanya dihindari dengan menggigit-hisap sebuah
> prinsip dari ZEN: "Kata-kata adalah setan!"), ketergesaan untuk
> MENGAJARI (yang seharusnya menjadi dialog tanpa batas, guru bisa
> menjadi murid, murid bisa menjadi guru, sehingga tak bisa dipungut
> biaya apapun, sebab satu sama lain saling menimba, tahuku
tergantung
> tahumu, keberadaanmu tergantung keberadaanku, juga sebaliknya,
> itulah hakekat ISUN,INSUN,INGSUNG="Aku dalam diriku, dirimu dalam
> diriku") dalam sebuah keselarasan NING NUNG NANG, reflesi-
> pencerahan-tindakan, cipta-rasa-karsa, persatuan pikiran-ucapan-
> perilaku (SABDA PANDITA RATU), sehingga ilmu tidak ada di menara
> gading, namun teterjemahkan dalam kehidupan.
>
> UJIAN BAGI SEBUAH JALAN SPIRITUALITAS ADALAH SEBERAPA BESAR IA
MAMPU
> BERDIAM DIRI ATAS KEBENARAN-KEBENARAN YANG DIDAPATKANNYA, SEBERAPA
> BESAR IA MAMPU MEMELIHARA KEHIDUPAN TANPA MENCINCINGKAN
> TANGAN,SEBERAPA MAMPU IA MELEPASKAN ANAK PANAH DAN MEMBIARKAN ANAK
> PANAH ITU MENJADI MILIK ANGIN, SEBAB JIKA TIDAK IA TERPEROSOK
> DALAM "AKU YANG MENGAKU-AKU", DALAM EGOSENTRISME. ITU JIKA
> KOMPATIOLOGI ATAU APAPUN NAMANAYA, INGIN MENJADI SEBUAH JALAN
> SPIRITUALITAS.
>
> Bagaimana jika Kompatiologi ingin menjadi sebuah logi? Ia harus
> punya sarat-sarat sebagai logi. Satu landasan ontologi bagi
> kebenaran dan keilmuannya, dua landasan epistemologi, yaitu
> bagaimana kebenaran dan ilmu itu dirumuskan, dan Etika, bagaimana
> ilmu itu dijalankan dalam prinsip-prinsip kebenarannya. Dengan
> demikian ia bisa diuji, bahkan jika ia didirikan dalam paradigma
> atau postulasi non identitas sekalipun. LOGI YANG TAK BISA DIUJI
TAK
> BISA DISEBUT LOGI.
>
> PESAN BUAT VINCENT, JANGAN SAMPAI "LIONG" MENJADI "CIONG"
>
> KALIAN INGIN MENGAJARIKU MEMPERGUNAKAN OTAK KIRI JUSWAN, LIHAT
> TENGKUKMU DAHULU. SESEORANG YANG TAK MAMPU MEMPERGUNAKAN OTAK KIRI
> TAK MAMPU MELIHAT TANDA DAN MENEMUKAN HUBUNGAN DARI BERBAGAI HAL,
> BAHKAN YANG TIDAK BERHUBUNGAN SAMA SEKALI, ITULAH ILMU LADUNI,
YANG SAMA ORANG-ORANG BEROTAK KAMBING DIREDUKSI SEMENAH-MENAH
> MENJADI "INDRA KEENAM"--JIKA KALIAN DATANG NANTI AKAN KUBOCORKAN
> SEDIKIT METODE LATIHANNYA, PALING TIDAK AKU BISA MELATIH KALIAN
> MEMPERGUNAKAN LANGKAH "TIGAAN".
>
> CAMKANLAH INI ADALAH SEBUAH TANTANGAN BAGI OMONG KOSONG. MENGERTI?
> Satu lagi, hapuslah "Drs"-mu itu buat apa dipasang-pasang, tidak
> risih?
>
> nuruddin asyhadie, bukan siapa-siapa, bukan apa-apa.
>
> --- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, "JUSWAN"
> <juswan@> wrote:
>
>
>
> .
>

--- End forwarded message ---

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Instant hello

Chat in real-time

with your friends.

Real Food Group

on Yahoo! Groups

What does real food

mean to you?

Popular Y! Groups

Is your group one?

Check it out and

see.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: